Claim Missing Document
Check
Articles

Modal Sosial Masyarakat dalam Pengembngan Wisata Lombongo (Studi di Desa Lombongo Kecamatan Suwawa Tengah Kabupaten Bone Bolango) Citra Tune; Rudy Harold; Sahrain Bumulo
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi modal sosial masyarakat dalam pengembangan Wisata Lombongo di Desa Lombongo, Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango, terutama di tengah penurunan jumlah pengunjung dan melemahnya partisipasi masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan pemerintah desa, Dinas Pariwisata, pengelola wisata, Kelompok Sadar Wisata, pelaku usaha, karang taruna, serta masyarakat sekitar. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat dalam pengembangan Wisata Lombongo belum berfungsi secara optimal. Kepercayaan antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola wisata mengalami penurunan karena minimnya perbaikan fasilitas, lemahnya pengelolaan, serta belum adanya tindakan yang mampu membangun kembali keyakinan masyarakat. Norma sosial, terutama gotong royong dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan serta fasilitas wisata, juga semakin melemah seiring menurunnya jumlah pengunjung dan manfaat ekonomi yang diterima masyarakat. Jaringan sosial antara pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola, Kelompok Sadar Wisata, dan masyarakat sebenarnya telah terbentuk, tetapi belum didukung koordinasi dan komunikasi yang efektif. Lemahnya ketiga unsur modal sosial tersebut berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat, kurang terawatnya kawasan wisata, dan belum optimalnya pengembangan Wisata Lombongo. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kepercayaan, revitalisasi kelembagaan, pembagian peran yang jelas, dan kolaborasi berkelanjutan agar pengembangan wisata dapat berjalan lebih efektif.
Adaptasi Sosial Masyarakat Petani Garam dalam Menghadapi Perubahan Iklim di Desa Siduwonge Kecamatan Randangan Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo Eliska Andris; Dewinta Rizky. R. Hatu; Sahrain Bumulo
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10327

Abstract

Eliska Andris Nim 281419016, 2026” Adaptasi Sosial Masyarakat Petani Garam Dalam Menghadapi Perubahan Iklim Di Desa Siduwonge Kecamatan Randangan Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo Skripsi Jurusan Sosisologi Fakultas Ilmu Sosial, Universtitas Negeri Gorontalo 2026, dibawah bimbingan Ibu Dewinta Rizky R. Hatu, S.Sos., M.Sos selaku pembimbing 1, dan bapak Sahrain Bumulo, S.Sos, M.Si selaku pembimbing 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk adaptasi sosial masyarakat petani garam dalam menghadapi perubahan iklim di Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato. Perubahan iklim yang ditandai dengan ketidakpastian musim dan curah hujan yang tinggi memberikan dampak signifikan terhadap proses produksi garam yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, khususnya intensitas sinar matahari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat petani garam melakukan berbagai bentuk adaptasi sosial untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Adaptasi tersebut meliputi diversifikasi mata pencaharian, penguatan solidaritas sosial, serta pemanfaatan jaringan sosial dalam menghadapi tekanan ekonomi. Selain itu, modal sosial seperti kepercayaan, norma, dan kerjasama antar masyarakat memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan sosial. Masyarakat juga memanfaatkan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam menghadapi situasi sulit.Kesimpulannya, adaptasi sosial yang dilakukan oleh masyarakat petani garam tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dipengaruhi oleh kondisi pendidikan, struktur sosial, serta dukungan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah dan pihak terkait dalam meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat melalui pelatihan, akses teknologi, serta penguatan kelembagaan lokal.
Hambatan Sosial Budaya dalam Pelaporan Kekerasan Seksual di Kabupaten Pohuwato Rahmat Ladiku; Dewinta Rizky R. Hatu; Sahrain Bumulo; Sabrina Nadia
Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2026): Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sjppm.v3i3.590

Abstract

Sexual violence is often underreported because reporting decisions are shaped not only by the availability of formal services but also by social relations, stigma, trust, and local norms. This article analyzes socio-cultural barriers that influence the reporting of sexual violence in Pohuwato Regency, with empirical attention to Marisa and Buntulia Districts. The study uses a descriptive qualitative approach based on field data collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and documentation. Informants were selected purposively from the local women and child protection service, district government, and community elements relevant to the reporting and handling process. The data were reduced, organized thematically, and interpreted through an interactive qualitative analysis. The findings identify four interrelated barriers. First, limited public understanding of the role and reporting mechanism of UPTD PPA weakens institutional trust. Second, fear of stigma and social consequences makes prospective reporters delay or reconsider formal reporting. Third, the social standing and familiarity of perpetrators may produce disbelief toward victims and strengthen social pressure. Fourth, norms that frame sexual violence as a private family matter encourage informal settlement and may interrupt formal reporting. These mechanisms help explain why official case figures cannot automatically be treated as the full magnitude of sexual violence. Strengthening reporting therefore requires not only accessible institutions but also continuous community education, trusted local protection networks, confidential victim-centered services, and interventions that challenge social pressure against victims.
Co-Authors A. Hatu, Rauf Adahati, Fadjrin S. Adam , Yundrawaty Adelina Usman Ahmad Ali Alhasni, Sakinah Andriana Muhiba Apajulu, Selvin Bilfadliyanto Bangga Bilondatu, Muh. Nabiel Citra Tune Damalante, Gina Dare Ojo Omonijo Delvi Suleman Dewinta Rizky R. Hatu Djunu, Sri Suryaningsih Duto, Mawar Anggraini Eduart Wolok Eliska Andris Fitrah Bau Funco Tanipu Gobel, Dita Inda Sari Gobel, Septiani van Hanasi, Raihan A. Haris Singgili harold, Rudi Harold, Rudy Harun Blongkod Hatu, Dewinta Rizky. R. Hatu, Rauf A Hermanto, Winda Hizran Patila Hunawa, Rohit Hunto, Beni Alwin Ismail, Yahya Ismail Itani, Rifanto Jefriyanto Saud Kadir, Muhamad Khairun K. Kasim, Mamang Ladiku, Rahmat Lasanudin, Rio Adiaksa Latare, Sainudi Macpal, Rahmawati Malae, Andris K. Marsela Madi Matuwala, Misna Mobilingo, Rapli Moh Fahrezi Arumasi Muhammad Mukhtar Muslima Musa Nadia Naru, Pikran Nibras K. Laya Nihali, Erik Noval Talani Nur Indah Hasan Nur Jafar Paludai, Moh. Sahrul Paranggi, Salma Paris, Vicky Maulana Pomontolo, Iswan Pritika Dukalang Rahma Melana Rahmat Ladiku Rahmat Ladiku Rahmatiah Rahmatiah Rauf A Hatu Rauf A. Hatu Rauf A. Hatu Ridwan Ibrahim Ridwan Ibrahim Ridwan Ibrahim Rumanbi , Wira Pratama Sabrina Nadia Safriyanto Dako Sainudin Latare Satingi, Prasetyo Siska Irhamnawati Pulogu Soeryo Adiwibowo Sofyan Sjaf Suleman, Fadli Suleman, Zein Suparmin Fathan Syahruddin Tangahu, Moh. Fajar Tegila, Ling Liana Vanya Dyah Pitaloka M.A.C. Wungguli, Nuraisyah Ramadani Yowan Tamu Yustika Paudi Zul Fikar Ahmad Zulham Sirajuddin