p-Index From 2021 - 2026
9.405
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Teknik ITS Journal of Educational, Health and Community Psychology Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi Jurnal Psikologi Perseptual Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual ABDIMAS SILIWANGI JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Psikologi Konseling: Jurnal Kajian Psikologi dan Konseling PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Jurnal Psikologi : Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan Jurnal Sains Riset Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Society : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Bidik : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Journal of Comprehensive Science PSYCOMEDIA: Jurnal Psikologi Journal of Scientific Research, Education, and Technology Journal Community Service Consortium SUKMA: Jurnal Penelitian Psikologi Innovative: Journal Of Social Science Research Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa Kultura: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Mutiara: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Jurnal Pengabdian Sosial International Journal Multidisciplinary Journal of Psychology and Social Sciences JIMMI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin Jurnal Psikologi Atribusi: Jurnal Pengabdian Masyarakat ARINI: Jurnal Ilmiah dan Karya Inovasi Guru PESHUM JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia Ngaliman Journal of Educational Studies International Journal of Social and Political Sciences
Claim Missing Document
Check
Articles

Efektivitas Psikoedukasi Manajemen Stres Pada Rescuer Sulistyaningrum, Budiari; Arifiana, Isrida Yul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37109

Abstract

Tim rescue merupakan kelompok profesi dengan paparan risiko tinggi yang berpotensi mengalami stres kerja akibat intensitas tuntutan tugas serta keterlibatan langsung dalam situasi darurat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas program psikoedukasi manajemen stres sebagai intervensi promotif dan preventif dalam meningkatkan pemahaman serta keterampilan pengelolaan stres. Rancangan penelitian menggunakan desain pretest posttest pada sejumlah anggota tim rescue yang mengikuti sesi psikoedukasi disertai diskusi reflektif. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan skor pada pengukuran setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi, yang mengindikasikan bertambahnya pemahaman terkait konsep stres dan strategi coping adaptif. Selain itu, partisipan memperlihatkan peningkatan kesadaran diri terhadap indikator stres serta kesiapan untuk mengimplementasikan teknik pengelolaan stres secara aplikatif. Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi manajemen stres berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan mental dan memperkuat kapasitas coping adaptif pada tim rescue.
Kesejahteraan Psikologis dan Perilaku Pengidolaan Pada Gen Z Penggemar K-Wave Meldini Syah Rian Nisti; Suroso; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract K-wave, or Hallyu, is a cultural phenomenon from South Korea that encompasses music, film, drama, language, cosmetics, and fashion, which has spread globally. Most of its fans are females aged 15-25, who make K-wave a part of fan’s personal identity. This phenomenon often involves celebrity worship , which can have positive effects, such as enhancing self-care, stress management, and life satisfaction, all of which are related to psychological well-being. This quantitative study involves 358 K-wave fans in Indonesia, with 192 respondents meeting the sample criteria. Data were collected through questionnaires on psychological well-being  and celebrity worship . The analysis results show a significant positive relationship between the two variables (rxy = 0.341; p < 0.01), where fans who engage in healthy celebrity worship  tend to feel more connected to the culture and celebrities fan’s admire, thereby strengthening various dimensions of psychological well-being .   Keywords: Celebrity Worship; Generation Z; K-wave; Pscyhological Well-being .     Abstrak K-wave, atau Hallyu, adalah fenomena budaya Korea Selatan yang mencakup musik, film, drama, bahasa, kosmetik, dan fashion, yang telah mendunia. Sebagian besar penggemarnya adalah perempuan berusia 15-25 tahun yang menjadikan K-wave bagian dari identitas diri. Fenomena ini sering melibatkan pengidolaan terhadap selebriti , yang dapat memberikan dampak positif, seperti meningkatkan self-care, manajemen stres, dan kepuasan hidup, yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis . Penelitian kuantitatif ini melibatkan 358 penggemar K-wave di Indonesia, dengan 192 responden yang memenuhi kriteria sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai kesejahteraan psikologis  dan pengidolaan terhadap selebriti . Hasil analisis menunjukkan hubungan positif signifikan antara kedua variabel (rxy = 0,341; p < 0,01), di mana penggemar pengidolaan terhadap selebriti  yang sehat cenderung merasa lebih terhubung dengan budaya dan selebriti yang individu kagumi, serta memperkuat dimensi kesejahteraan psikologis .   Kata kunci: Pengidolaan terhadap selebriti ; Generasi Z; K-wave; Kesejahteraan psikologis .
Konflik Peran Ganda dan Keterikatan Kerja Karyawan Perempuan dalam Setting Industri Nadziro Kamalia; Niken Titi Pratitis; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis research aims to determine the relationship between work family conflict and work engagement among female employees in the industrial sector. Role conflict refers to the condition where individuals experience pressure due to conflicting demands between work and family. Meanwhile, work engagement is a positive state in which individuals possess energy, dedication, and full focus in carrying out their work. This study employs a quantitative method with a correlational design. The sampling technique was conducted through purposive sampling, involving 122 female employees who work in the industrial sector and have dual roles. The research instruments use a role conflict scale based on the theory of Greenhaus and Beutell (1985) and a work engagement scale based on the theory of Bakker and Schaufeli (2004). The data obtained were analyzed using Pearson Product Moment correlation tests. The results indicate a significant positive relationship between work family conflict and work engagement among female employees in the industrial sector. This indicates that the higher the role conflict experienced, the higher the work engagement of female employees. Time-based, pressure-based, and behavior-based role conflicts are the main factors influencing work engagement, which consists of the aspects of vigor, dedication, and absorptionKeywords: Work Family Conflict;Work Engagement;Female Employees in the IndustryAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik peran ganda dan keterikatan kerja pada karyawan perempuan di sektor industri. Konflik peran ganda merupakan kondisi di mana individu mengalami tekanan akibat tuntutan peran yang bertentangan antara pekerjaan dan keluarga. Sementara itu, keterikatan kerja adalah kondisi positif di mana individu memiliki energi, dedikasi, dan fokus penuh dalam melaksanakan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 122 karyawan perempuan yang bekerja di sektor industri dan memiliki peran ganda. Instrumen penelitian ini menggunakan skala konflik peran ganda yang disusun berdasarkan teori Greenhaus dan Beutell (1985) serta skala keterikatan kerja berdasarkan teori Bakker dan Schaufeli (2004). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konflik peran ganda dan keterikatan kerja pada karyawan perempuan di sektor industri. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konflik peran ganda yang dialami, maka semakin tinggi juga keterikatan kerja karyawan perempuan. Konflik peran berbasis waktu, tekanan, dan perilaku menjadi faktor utama yang memengaruhi keterikatan kerja yang terdiri dari aspek vigor, dedication, dan absorption.Kata kunci: Konflik Peran Ganda; Keterikatan Kerja; Karyawan Perempuan di Sektor Industri
Kecerdasan Emosional dalam Melihat Perilaku Prososial Remaja di Surabaya Wisnu Prima Atmaja; Suroso; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescence is an important stage of development in the formation of the ability to manage emotions and build positive social relationships. This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and prosocial behavior in adolescents in Surabaya. This study uses a quantitative research method with a correlational approach. The subjects of the study were grade VIII students at SMP Negeri 27 Surabaya who were selected using the Cluster Random Sampling technique. Data collection was carried out using the emotional intelligence scale and prosocial behavior scale that had been tested for validity and reliability. Data analysis was carried out using the Product Moment correlation technique. The results showed that there was a positive and significant relationship between emotional intelligence and prosocial behavior. This finding indicates that the higher the emotional intelligence possessed by adolescents, the higher their tendency to behave prosocially. This study is expected to be an input for schools, teachers, and parents to pay more attention to the development of emotional intelligence as an effort to foster prosocial behavior in adolescents. Keywords: Adolescent; Emotional Intelligence; Prosocial Behavior Abstrak Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang penting dalam pembentukan kemampuan mengelola emosi dan membangun hubungan sosial yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku prososial pada remaja di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 27 Surabaya yang dipilih dengan teknik Cluster Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala kecerdasan emosional dan skala perilaku prososial yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku prososial. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki remaja, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk berperilaku prososial. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah, guru, dan orang tua untuk lebih memperhatikan pengembangan kecerdasan emosional sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan perilaku prososial pada remaja. Kata kunci: Kecerdasan Emosional; Perilaku Prososial; Remaja
Kemampuan Problem Solving pada Mahasiswa Tingkat Akhir: Bagaimana Peranan Critical Thinking Mohammad Rizki Annabil; Niken Titi Pratitis; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Final year students face a variety of challenges ranging from academic challenges, psychological and emotional challenges, and self-management challenges. Problem solving ability is important for final year students to solve all these challenges. In order for problem solving ability to be effective, critical thinking is needed which is an important factor in problem solving. This study aims to determine the relationship between critical thinking and problem solving ability in final year students. This type of research is quantitative correlation. The population of this study were final year students of Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya totaling 2338 consisting of students from generation 2018 to 2022. The research sample was determined through the Krejcie table with a total of 201 students. The sampling method used Snowball sampling with Spearman Rank Correlation data analysis technique. The results show a positive correlation between critical thinking and problem-solving Ability. Keywords: Critical Thinking; Problem Solving Ability, Final year students. Abstrak Mahasiswa tingkat akhir berbagai macam tantangan mulai dari tantangan akademis, tantangan psikologis dan emosional, dan tantangan manajemen diri. Kemampuan problem solving menjadi penting bagi mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesakain semua tantangan tersebut. Agar kemampuan problem solving menjadi efektif diperlukan critical thinking yang faktor penting dalam penyelesaian masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara critical thinking dengan kemampuan problem solving pada mahasiswa tingkat akhir. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berjumlah 2338 terdiri dari mahasiswa Angkatan 2018 hingga 2022. Sampel penelitian ditentukan melalui tabel krejcie dengan berjumlah 201 mahasiswa. Metode pengambilan sampel menggunakan Snowball sampling dengan teknik analisis data Spearman Rank Correlation. Hasil terdapat hubungan positif antara critical thinking dan kemampuan problem solving. Kata kunci: Critical Thinking; Kemampuan Problem solving; Mahasiswa Tingkat Akhir.
Implementasi Psikoedukasi Teenage dan Sex Education pada Remaja Firnanda Dewi Nurhaliza; Aisya Dwi Rohmawati; Retno Larasati Widi; Nataniel Wellem Tabalena; Shofi Risqia Rachma; Esther Gabriella Putri; Prisma Endah Melanie; Isrida Yul Arifiana; Sayidah Aulia UI Haque
Jurnal Psikologi Atribusi : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): Pemberdayaan Masyarakat melalui Pendekatan Psikoedukasi dan Pendampingan (Septe
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/rpvwym36

Abstract

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang signifikan, sehingga menjadikan remaja kelompok yang rentan terhadap berbagai permasalahan, termasuk pelecehan seksual. Tingginya dorongan seksual yang belum diimbangi dengan kematangan kontrol diri, minimnya pendidikan kesehatan reproduksi, serta pengaruh lingkungan dan media digital menjadi faktor utama meningkatnya kasus pelecehan seksual pada remaja. Data nasional menunjukkan peningkatan signifikan kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun, baik yang terjadi di lingkungan sekolah, ruang publik, maupun media daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena pelecehan seksual pada remaja, bentuk-bentuk yang sering terjadi, serta pentingnya edukasi sebagai upaya pencegahan. Sasaran kegiatan ini adalah remaja sebagai kelompok berisiko, serta institusi pendidikan sebagai lingkungan strategis dalam pencegahan kekerasan seksual. Proses pelaksanaan dilakukan melalui kajian literatur dan analisis data sekunder dari berbagai laporan nasional serta penelitian terdahulu yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelecehan seksual pada remaja terjadi dalam bentuk verbal, nonverbal, dan daring, yang berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif dan penguatan sistem perlindungan di lingkungan pendidikan terbukti menjadi langkah penting dalam menekan risiko terjadinya pelecehan seksual. Manfaat kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai urgensi pencegahan kekerasan seksual pada remaja. Kesimpulan kegiatan ini menegaskan bahwa upaya preventif melalui edukasi, dukungan sistemik, dan regulasi yang tegas sangat diperlukan untuk melindungi remaja dari berbagai bentuk pelecehan seksual.
Self-Awareness dan Resiliensi dengan Kesejahteraan Psikologis pada Mahasiswa Relawan di Surabaya Bella Tri Prastiningsih; Isrida Yul Arifiana; Mamang Efendy
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i3.17016

Abstract

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan relawan sosial memberikan pengalaman yang bermakna tetapi juga dapat menciptakan tuntutan emosional yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor internal yang mendukung kesejahteraan psikologis relawan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kesadaran diri dan ketahanan dengan kesejahteraan psikologis di kalangan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan relawan sosial di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan terdiri dari 125 relawan mahasiswa yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala kesejahteraan psikologis, kesadaran diri, dan ketahanan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi berganda, dan uji parsial dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran diri dan ketahanan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kesejahteraan psikologis. Secara bersamaan, kesadaran diri dan ketahanan berkontribusi sebesar 95,7% terhadap kesejahteraan psikologis di kalangan relawan mahasiswa. Analisis parsial menunjukkan bahwa kedua variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, dengan ketahanan menunjukkan pengaruh yang lebih kuat. Studi ini menyimpulkan bahwa kesadaran diri dan ketahanan merupakan faktor penting dalam mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan sukarelawan sosial.
Orientasi Masa Depan pada Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir Aisyah Isnaini; Niken Titi Pratitis; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the association between future orientation and work readiness among final year students. Future orientation is defined as an individual's ability to set goals, expectations, and strategies to achieve a desired future. Work readiness, on the other hand, reflects the individual's abilities, skills, and attitudes in meeting the demands of the professional world. This research applies a quantitative approach with a correlational design. The subjects were 311 final year students from various universities. The sampling technique used was incidental sampling. The instruments applied in this study were a future orientation scale and a work readiness scale. Data were analyzed using the Pearson correlation technique with the help of statistical software. The findings revealed a significant positive relationship between future orientation and work readiness. These results indicate that students with a stronger future orientation tend to be more prepared to enter the workforce. Therefore, future orientation can be considered an important aspect in supporting students’ career readiness. Keywords: career planning, final year students, future orientation, job transition, work readiness. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara orientasi masa depan dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Orientasi masa depan menggambarkan sejauh mana individu mampu menetapkan tujuan, harapan, dan strategi dalam mencapai masa depan yang diinginkan. Kesiapan kerja mencerminkan kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan individu dalam menghadapi tuntutan dunia kerja secara profesional. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 311 mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala orientasi masa depan dan skala kesiapan kerja. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara orientasi masa depan dan kesiapan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan orientasi masa depan yang lebih kuat cenderung memiliki kesiapan kerja yang lebih tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah orientasi masa depan merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja, serta dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan program pembinaan karir di perguruan tinggi. Kata kunci: karier, kesiapan kerja, mahasiswa tingkat akhir, orientasi masa depan, transisi kerja.
Kecemasan Kompetitif pada Atlet Karate Remaja: Studi Kasus Komunitas Porbikawa Jawa Timur Jip, Princess Velina; Arifiana, Isrida Yul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37394

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kecemasan kompetitif pada atlet karate remaja dalam konteks komunitas olahraga serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Permasalahan utama yang ditemukan adalah munculnya kecemasan kompetitif, khususnya pada aspek somatik, yang berdampak pada penurunan performa saat bertanding. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui wawancara terstruktur, observasi, serta pemberian alat ukur Competitive State Anxiety Inventory-2. Subjek penelitian berjumlah dua belas atlet karate remaja yang aktif mengikuti kompetisi. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar atlet berada pada kategori sedang pada aspek kecemasan somatik, ditandai dengan gejala fisik seperti ketegangan tubuh, keringat dingin, dan rasa mual menjelang pertandingan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan kompetitif merupakan permasalahan psikologis yang perlu ditangani secara komprehensif melalui pendekatan psikologis pada level individu dan lingkungan pendukung atlet.
The Role of Emotion Regulation and Moral Identity in Teachers’ Prosocial Behavior in Inclusive Schools Isrida Yul Arifiana; Muhammad Ghazali Bagus Ani Putra; Meizola Leviana; Intan Nuraini Rahmawati; Galih Iftikhar
Journal of Educational Studies Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/jes.v4i1.2699

Abstract

Prosocial behavior among teachers is influenced by factors such as emotion regulation and moral identity. This study aims to examine the relationships among emotion regulation, moral identity, and prosocial behavior among teachers in inclusive schools. The research employed a quantitative, non-experimental, correlational design. A total of 110 teachers from inclusive schools in East Java participated in this study, selected through convenience sampling. Data were collected using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), the Self-Importance of Moral Identity Scale, and the Prosocialness Scale for Adults (PSA). Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results showed that emotion regulation and moral identity are simultaneously significantly related to prosocial behavior. Both emotion regulation and moral identity were found to have a positive, significant relationship with prosocial behavior. The coefficient of determination indicated that both variables accounted for 20.8% of the variance in prosocial behavior. These findings suggest that teachers’ ability to manage emotions and internalize moral values plays an important role in fostering prosocial behavior. Strengthening emotional and moral aspects is essential to support positive social interactions in inclusive educational settings.
Co-Authors Abad Gading Admadja, Elang Aisya Dwi Rohmawati Aisyah Isnaini Aisyah, Yatin Amanah, Nur Izzah Andini, Karina Ayu Anggraeni, Nadinda Via Aninditha Azzahra Anrilia Ema Mustikawati Ningdyah Ardianto, Johosua Alvin Aristasari, Deby Indah Ayuningrum, Nara Garini Baroroh, Kiki Anniyatul Bella Tri Prastiningsih Billah, Muhammad Asyiiq Camelia Aditya Maharani de Jong, Elvira Dea Manolini Putri Deny, Ridho Deva Easter Nethania Dewi, Lusi Cahyanti Kusuma Dhita Amalya Diah Sofiah Diah Sofiah, Diah Dutahatmaja, Angga Dyan Evita Santi Efendy, Mamang Eko April Ariyanto, Eko April erlinda , Nadia Aulia Esther Gabriella Putri Evi Dwi Andani Faizah Oktaviani Fatmawati, Laily Endah Fatwa, Ajang Nur Fauzi, Diah Puspitasari Fauzul Adim Ubaidillah Firnanda Dewi Nurhaliza Fulgentius Danardana Murwani Galang Arga Marendha Galih Iftikhar Ghofar , Achmedza Aziz Hanurawan, Fattah Herlidanara, Aldo Jeremia I Gusti Ayu Agung Noviekayati Imanuel Hitipeuw Intan Nuraini Rahmawati Janata Saprida Jip, Princess Velina Kayiz Ismail Kurnia Sri Dewi Kusumandari, Rahma Leonadi, Tino Linda Kurniawati, Linda Luqyana Marsha Firdaus Makhfufa, Mita Amaliya Manta, Dedy Ardito Putra Maslukha, Khoirum Maula Nafi maulana, rachmad Maulani, Anindya Aryo Mawarni, Richa Vivi Lianti Iga Meizola Leviana Meldini Syah Rian Nisti Mohammad Rizki Annabil Muflihah, Yusrida Muhammad Farid Muhammad Farid Muhammad Ghazali Bagus Ani Putra Muhammad Rizky Nabilla, Firdausiah Salfa Nadziro Kamalia Nanda, Nabela Febika Areta Nataniel Wellem Tabalena Naufal Ridho Kushernanda Niken Titi Pratitis Niken Titi Pratitis Niken Titi Pratitis Niken Titi Pratitis Ningsih, Yuniati Nirmala Yunita Halim Nita Dwi Anggraeni Nur Fatwa, Ajang Pramodha Wardhani Regita Ariadi Prasetyo, Galang Adi Pratiwi, Noorhaliza Prima Permatasari Prisma Endah Melanie PUTRI WULANDARI Putri, Dilla Asiska Ananda Putri, Intan Maulidha Alifia Rahayuningtyas, Yuninda Purwita Rahma Kusumandari Retno Larasati Widi Rizal, Saiful Rizaldo Febriansyah Rizky Putri Zaini Rizkya Dwijayanti Rizkya Dwijayanti Rose, Angelica Putricia Axl Rossa Ayu Eka Lestari Salindri Anita Rahman Sandraini, Ika Santi, Dyan Evita Saputro, Harjo Sari, Nella Dinda Sayidah Aulia UI Haque Septiani Putri, Sri Indah Shofi Risqia Rachma Siswoyo Siswoyo Siti Padila Ode Aru Suhadianto, Suhadianto Sulistyaningrum, Budiari Suroso Suroso Suroso Suroso Suroso Suroso Suroso Suroso Suroso, Drs. Suroso, Drs. Suroso Suryaningsih, Endah Tazky, Amanda Tony Dwi Susanto Ubaidillah, Fauzul Adim Vika Amalia Azzahra Wardani, Fitriani Pramudya Wati, Sukma Winanda, Emilia Wisnu Prima Atmaja Wiwin Widiasih Wulandari, Amila Suci