Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Concursus Tindak Pidana Pembunuhan dan Penganiayaan Berat (Suatu Tinjauan Kriminologi) Amalia, Maisarah; Kahfi, Ashabul; Sastrawati, Nila
Alauddin Law Development Journal (ALDEV) Vol 5 No 1 (2023): ALDEV
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aldev.v5i1.20911

Abstract

Tindak pidana concursus pembunuhan disertai penganiayaan berat yang dilakukan seseorang sangatlah meresahkan masyarakat, dalam kasus ini membuktikan bahwa tidak selamanya faktor utama penyebab kejahatan terjadi dipengaruhi dari faktor keluarga, rendahnya pendidikan bahkan lingkungan masyarakat sekitar. Tetapi yang menjadi faktor utama dalam kasus ini adalah faktor kejiwaan dan sakit hati yang menimbulkan rasa dendam. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah penyebab terjadinya tindak pidana concursus pembunuhan disertai penganiayaan berat dan upaya penanggulangannya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif yang disajikan dalam bentuk yuridis empiris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab terjadinya tindak pidana concursus pembunuhan disertai penganiayaan berat ini meliputi faktor yang berpengaruh secara langsung yaitu faktor sakit hati dan kejiwaan, serta faktor yang berpengaruh secara tidak langsung yaitu faktor lingkungan masyarakat sekitar, rendahnya pendidikan, serta faktor keluarga. Dan upaya yang dilakukan oleh kepolisian yaitu, upaya pre-emtive, upaya preventif, serta upaya represi.
Heavy Parliamentary v. Heavy Executive: Ambiguity of Power in Indonesian Constitutional Practices Mukhlis, Muhammad Mutawalli; Wahab, Harlida Abdul; Paidi, Zulhilmi; Sastrawaty, Nila; Hasan, Haslinda
Jurnal Media Hukum Vol 31, No 2 (2024): December
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmh.v31i2.21703

Abstract

The history of the Indonesian constitution has implemented Parliamentary and Presidential systems at different times. However, in practice it creates ambiguity in system implementation. The presidential system currently implemented is experiencing a dilemma due to regulation and separation of powers which tends to still have a parliamentary nuance. This research is library research that examines and explores regulatory documents, books, journals and other scientific works that are relevant to the topic of discussion. The results of data collection were analyzed in depth and then presented descriptively analytically. This article aims to provide ideas for building a concrete government system based on the shift in power functions that has occurred. This article concludes the need to issue a Law on the Presidential Institution which contains concrete limits on the powers of the President and the DPR. The President's capacity as head of government is limited by the party coalition in parliament. Therefore, it is necessary to redefine the roles and relationships between the President, DPR and political parties, clarify the checks and balances mechanism, and support the effectiveness of concrete and proportional government.
Auguste Comte dan Kontribusinya terhadap Kajian Sosiologi Dakwah Anwar, Alfiansyah; Musafir Pababbari; Nila Sastrawati; Musdalifa Ibrahim
SOSIOLOGIA : Jurnal Agama dan Masyarakat Vol 2 No 1 (2023): Sosiologia : Jurnal Agama dan Masyarakat
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/sosiologia.v2i1.5937

Abstract

The sociology of da'wah is a field of science that studies social interaction in the context of the spread of religion and da'wah. In its development, the contribution of an important figure in sociological thinking became very significant. One of the figures who made a major contribution to the study of the sociology of preaching was Auguste Comte. One of the main concepts put forward by Auguste Comte was the three-stage concept of law. This research basically aims to provide in-depth insight and a wider understanding of the relationship between sociology and da'wah or the relationship between society and the spread of Islam, as well as the importance of using scientific methods in analyzing the role of da'wah in society. This research uses a library method with a library study approach, by collecting data from reading books, articles from journals, the internet, or other written literature as a basis for writing in this research. The findings in this research refer to Auguste Comte's law of three stages, namely: The first stage is the "theological stage", preachers at this stage use religious beliefs and explanations of supernatural powers in spreading religious teachings to society. The second stage “metaphysical stage” marks the transition from explanations of supernatural powers to more abstract explanations. Preachers at this stage use a more rational approach and are based on philosophical thinking to explain and preach about the Islamic religion to the public. And the third "positive stage" is a transition from rational philosophical-based explanations, which are more rational or scientific. Preachers at this stage use a scientific approach in preaching to spread the religion of Islam. The preachers explain and analyze the impact of religion on social life, the relationship between religion and political, economic, cultural power and the dynamics of social change related to religion
Heavy Parliamentary v. Heavy Executive: Ambiguity of Power in Indonesian Constitutional Practices Mukhlis, Muhammad Mutawalli; Wahab, Harlida Abdul; Paidi, Zulhilmi; Sastrawaty, Nila; Hasan, Haslinda
Jurnal Media Hukum Vol. 31 No. 2: December 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmh.v31i2.21703

Abstract

The history of the Indonesian constitution has implemented Parliamentary and Presidential systems at different times. However, in practice it creates ambiguity in system implementation. The presidential system currently implemented is experiencing a dilemma due to regulation and separation of powers which tends to still have a parliamentary nuance. This research is library research that examines and explores regulatory documents, books, journals and other scientific works that are relevant to the topic of discussion. The results of data collection were analyzed in depth and then presented descriptively analytically. This article aims to provide ideas for building a concrete government system based on the shift in power functions that has occurred. This article concludes the need to issue a Law on the Presidential Institution which contains concrete limits on the powers of the President and the DPR. The President's capacity as head of government is limited by the party coalition in parliament. Therefore, it is necessary to redefine the roles and relationships between the President, DPR and political parties, clarify the checks and balances mechanism, and support the effectiveness of concrete and proportional government.
Dominasi Pendapatan Istri dalam Perspektif Maslahah (Analisis Relasi Suami dan Istri di Ulumanda, Kabupaten Majene) Iskandar; Kurniati; Nila Sastrawaty; Abdul Wahid Haddade; Abd Syatar
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 6 No 1 (2025): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v6i1.383

Abstract

Tujuan pokok penelitian adalah untuk menganalisis Dominasi Pendapatan Istri dalam Perspektif Hukum Islam (Analisis Relasi Suami dan Istri di Ulumanda, Kabupaten Majene), Tujuan khusus, yaitu: 1) Untuk mengetahui realitas sosial peran istri dan suami dalam mencari nafkah 2) Untuk mengetahui dampak dominasi pendapatan istri terhadap dinamika relasi suami dan istri 3) Untuk mengetahui Pandangan Maslahah mengenai dampak dominasi pendapatan istri dalam relasi suami dan istri. Jenis penelitian ini tergolong penelitian kualitatif (field research) dengan pendekatan yang digunakan adalah teologis-normatif syar’i dan yuridis empiris. metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan penelusuran referensi. Teknik pengolahan data dan analisis data dilakukan dengan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan, 1) Realitas pendapatan istri dalam rumah tangga membawa berbagai konsekuensi sosial yang memengaruhi dinamika keluarga dan pandangan masyarakat. Realitas sosial yang sering muncul diantaranya adalah perubahan peran domestik dalam rumah tangga, 2) Dampak dominasi pendapatan istri dalam rumah tangga dapat menimbulkan dampak negatif dan positif. 3) Pandangan Maslahah Mursalah tentang relasi suami istri diatur dengan prinsip keadilan, tanggung jawab, dan saling melengkapi. Namun, dominasi pendapatan istri dalam keluarga dapat memengaruhi dinamika, terutama jika tidak ada pemahaman yang mendalam tentang hak dan kewajiban masing-masing pasangan.
The Transformation of Communal Spirituality: A Phenomenological Study of the Sowing of Religious Literacy and Ideology in Tabbae, Benteng Tellue Village, Bone Regency Nurhalisa, Nurhalisa; Halim, Wahyuddin; H, Darmawati; Sastrawaty, Nila; Muslim, Asrul
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 19, No. 5 : Al Qalam (September 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v19i5.4743

Abstract

This study highlights the spiritual transformation experienced by the Tabbaqé community, located in Benteng Tellue Village, Amali District, Bone Regency, known as the "Texas Village." This study aims to understand the transformation that occurs in the community's daily behavior that is influenced by the religious dimension. The type of research used is field research using historical, phenomenological, and ethnographic approaches. This study reveals the background of the formation of negative stigma against the Tabbae community and their self- and collective identity. This study also highlights how the spirituality of the Tabbaqé community both in the past and in the present and the important role of religious leaders in transforming religious life patterns. This study shows that religious literacy plays a significant role in changing the negative stigma attached to the Tabbaqé community using stigma theory. It was found that changes in the community's social identity occurred through a process of negotiation of meaning between individuals and external groups. The previously entrenched stigma began to erode with increased understanding of religion and better spiritual practices. Meanwhile, from the perspective of tazkiyah an-nafs, the spiritual transformation that occurs helps people purify their souls to build collective awareness in living a life that is more based on religious values.
Hukum Sebagai Sistem Integrasi : Pertimbangan Nilai “Keperawanan” dalam Kasus Perkosaan Sastrawati, Nila
Al-Daulah : Journal of Criminal Law and State Administration Law Vol 1 No 1 (2012): (December)
Publisher : Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v1i1.1464

Abstract

Pada dasarnya perkosaan adalah bentuk kekerasan primitive yang terjadi pada semua tingkatan masyarakat manapun dimana perempuan ditempatkan pada posisi korban. Demikian pula dengan persepsi masyarakat terhadap peristiwa pemerkosaan termasuk pandangan masyarakat terhadap korban perkosaan tersebut. Berbagai pandangan yang terdiri dari beberapa dugaan atau asumsi, seringkali perkosaan lebih merupakan semacam kutukan pada perempuan. Artinya, perempuan bukan hanya jadi korban fisik pelaku perkosaan tetapi kadangkala di aniaya secara publik. Pendapat di atas muncul karena saat orang diminta tanggapan mengenai kasus perkosaan, maka pertama- tama orang cenderung terlebih dahulu mengupas “siapa” korban perkosaan tersebut. Seorang korban biasanya oleh public dinilai kualitas personalnya lewat pertanyaan yang cenderung menghakimi seperti apakah “ia perempuan baik- baik” atau perempuan yang kurang lebih “pantas untuk diperkosa”
Simbolisme dalam Pencitraan Partai Politik Sastrawati, Nila
Al-Daulah : Journal of Criminal Law and State Administration Law Vol 4 No 1 (2015): (June)
Publisher : Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v4i1.1499

Abstract

Simbol dan politik merupakan dua entitas yang tak dapat dipisahkan. Instrumen-insturmen yang digunakan dalam politik khususnya partai politik tidak terlepas dari symbol-simbol dengan pemaknaan yang disepakati sebagai makna yang melingkupi symbol yang dihadirkan. Simbol tampil dan hadir dengan sendirinya, tetapi dicitrakan menjadi entitas yang luar biasa sehingga mampu menjadi pemikat dalam  mencapai tujuan partai politik.
PERSONAL BRANDING DAN KEKUASAAN POLITIK DI KABUPATEN LUWU UTARA Sastrawati, Nila
Al-Daulah : Journal of Criminal Law and State Administration Law Vol 6 No 2 (2017): (December)
Publisher : Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v6i2.4882

Abstract

Penelitian Personal Branding dan Kekuasaan Politik di Kabupaten Luwu Utara merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang berfokus pada Brand personality sangat terkait dengan modalitas yang dimiliki kontestan selain modalitas politik atau dukungan partai politik. Dalam memperoleh data penelitian, dilakukan wawancara terkait respon masyarakat terhadap personal branding yang dilakukan kontestan politik. Selain wawancara, studi dokumen khususnya penelitian terdahulu sangat membantu dalam melengkapi data yang dibutuhkan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontestan politik sangat dipengaruhi modalitas dalam membangun brand personalitynya. Modalitas tersebut meliputi modalitas sosial, modalitas ekonomi, dan modalitas kultural. Modalitas sosial terkait dengan intensitas interaksi kontestan dengan konstituennya. Modalitas ekonomi terkait dengan kepemilikan. Asumsi yang terbangun dalam masyarakat bahwa calon pemimpin yang mapan memiliki peluang membantu masyarakat dengan mudah serta tidak menggantungkan kepentingan pada pihak sponsor. Kontestan yang membangun jaringan lebih besar dengan sponsor akan membagi kekuasaan berdasarkan besarnya cost atau biaya yang dikeluarkan. Modalitas kultural terkait dengan tindakan, prilaku dan latar belakang pendidikan.  Respon masyarakat terhadap personal branding yang ditawarkan masyarakat dapat dicermati dari; pertama, kecerdasan mengelola potensi wilayah yang dituangkan dalam visi dan misi unggulan. Kedua, kemampuan komunikasi dengan pendekatan humanis. Ketiga, kemampuan mengelola emosi konstituen khususnya bagi kalangan perempuan.
RELASI GENDER DALAM PENGAMBILAN KEBIJAKAN STRATEGIS PARTAI PADA PARTAI ISLAM Sastrawati, Nila
Al-Daulah : Journal of Criminal Law and State Administration Law Vol 2 No 1 (2013): (June)
Publisher : Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v2i1.4897

Abstract

Sistem internal partai tidak terlepas dari relasi yang terbangun antara  identitas perempuan dan identitas laki-laki. Bryan menjelaskan bahwa dalam teori sosialisasi, perbedaan laki-laki dan perempuan dibentuk oleh variasi budaya, dan dalam analisis conversational menunjukkan perbedaan dalam pola gangguan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bermuatan penggunaan kekuatan. Di dalam organisasi dimana laki-laki dan perempuan memperjuangkan sebuah kekuasaan, komunikasi yang terjalin tetap mengandung muatan kekuasaan laki-laki. Dalam konteks ini, postmodernism menempatkan lakilaki dan perempuan dengan “ide identitas laki-laki yang plural” dan ide identitas perempuan yang plural”, bukan pada tataran “kesamaan laki-laki dan perempuan”.