Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM ISMAIL RAJI’ AL-FARUQI Akhmad Mamba’ul ‘Ulum; Eva Dewi; Djefrin E. Hulawa; Alwizar
Al-Ihda' : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 17 No. 1 (2022): Mei : Al-Ihda': Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : STAI Nurul Falah Airmolek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55558/alihda.v17i1.94

Abstract

Wilayah normativitas agama dan ilmu pengetahuan menjadi studi yang selalu menarik untuk dikaji. Pandangan para pemikir ketika memandang agama dan ilmu pengatahuan sangat bervariasi. Sebagian mereka meyakini bahwa wilayah agama terpisah dari ilmu pengetahuan, sebagian yang lain meyakini agama dan ilmu pengatahuan menjadi satu dan tidak dapat terpisahkan. Artikel ini mencoba menjelaskan posisi agama dan ilmu pengetahuan dalam pandangan Ismail Raji Al Faruqi. Al Faruqi berasumsi bahwa ilmu pengetahuan modern memicu adanya perdebatan wahyu dan akal di kalangan umat muslim. Oleh karena itu, Al Faruqi berpendapat bahwa diperlukan sebuah konsep Islamisasi Ilmu pengetahuan yang bertumpuh pada kekuatan tauhid. Pengetahuan Islami selalu menitik beratkan keterpaduan kosmos, keterpaduan kebenaran dan ilmu pengetahuan serta kesatuan kehidupan. Dalam hal islamisasi ilmu pengetahuan Al Faruqi menawarkan landasan objek rencana kerja islamisasi ilmu pengetahuan sebagai berikut: 1) Menguasai disiplin ilmu pengetahuan modern, 2) Menguasai khazanah keislaman, 3) Menentukan relevansi Islam dan hubungannya pada tiap bidang ilmu pengetahuan modern, 4) Mencari metode untuk melakukan sintesis antara spesifikasi keislaman dengan ilmu pengetahuan modern, dan 5) membawa pemikiran Islam pada arah pemenuhan pola sunatullah/ketentuan Allah.
POLA PENDIDIKAN MASA RASULULLAH FASE MEKKAH DAN MADINAH Adek Saputra; Eva Dewi; Djefrin E. Hulawa; Alwizar
Al-Ihda' : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 16 No. 2 (2021): Oktober: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : STAI Nurul Falah Airmolek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55558/alihda.v16i2.95

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali gambaran strategi, sumber gagasan, Rasulullah dalam mensukseskan pelaksanaan proses pendidikan Islam. Penelitian deskriptif berdasarkan tinjauan literatur dengan membaca dan mempelajari bahan teoritis dari sumber yang berhubungan dengan penelitian. Dengan hadirnya Rasulullah maka terjadilah perubahan, perubahan yang terjadi bukan hanya pada perilaku manusia melainkan pada cara pandang dan sistem pendidikan yang dibawa oleh Rasulullahlm. Pelaksanaan pendidikan pada masa Rasulullah berdasarkan petunjuk dan bimbingan langsung dari Allah SWT. Pendidikan di Makkah menitikberatkan pada pembinaan akidah, akhlak serta tauhid kepada masyarakat Arab, sedangkan pendidikan di Madinah lebih menitikberatkan pada pembinaan Sosial dan politik. Dengan harapan pola pendidikan pada masa Rasulullah sebagai solusi untuk menghadapi pendidikan Islam saat ini.
MODEL PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PERSEPEKTIF ABDURRAHMAN WAHID DAN AMIN RAIS Rahmayani Siregar; Alwizar; Djefrin E.Hulawa
Al-Ihda' : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 19 No. 2 (2024): Oktober: Al-Ihda': Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : STAI Nurul Falah Airmolek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55558/alihda.v19i2.167

Abstract

Abdurrahman Wahid, yang lebih dikenal sebagai Gus Dur, adalah tokoh muslim Indonesia yang lahir pada 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Pada masa Orde Baru, Gus Dur adalah salah satu kritikus utama rezim Soeharto. Dia memainkan peran penting dalam gerakan reformasi dan demokratisasi Indonesia. Pemikiran Gus Dur mengenai pendidikan Islam, yaitu pembelajaran haruslah membebaskan pemikiran manusia dari belenggu-belenggu tradisionalis yang kemudian ingin didaur ulang dengan melihat pemikiran kritis yang terlahir oleh Barat modern. Amin Rais adalah seorang politikus, intelektual, dan tokoh Islam Indonesia yang lahir pada 26 Juni 1944 di Sulawesi Selatan. Dia dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi Indonesia dan memiliki peran penting dalam perubahan politik Indonesia pada era pasca-Orde Baru. Amin Rais menyuarakan pandangan bahwa pendidikan Islam di Indonesia harus menjadi sarana untuk membangun karakter yang kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Baginya, pendidikan Islam harus mendorong kesadaran akan identitas keislaman yang kokoh dan kritis, serta mengembangkan kecerdasan spiritual dan intelektual yang seimbang.
Kaidah-Kaidah Kebahasaan dan Aplikasinya dalam Menafsirkan Al-Qur’an Dani, Rahmat; Yusuf, Kadar M.; Alwizar
Al-Jadwa: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2023): September
Publisher : Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/aljadwa.v3i1.1087

Abstract

This research aims to find out what rules need to be understood in interpreting the Al-Qur'an. The research method used is literature review. The rules of interpretation are a mufassir's tool in understanding the meaning of the Qur'an. The rules of Tafsir are also closely related to the rules of the Arabic language which are one of the foundations for interpreting the Al-Qur'an. Therefore, mastery of linguistic rules is very necessary in interpreting the Al-Qur'an so that the meaning of the Al-Qur'an verses is not misinterpreted. There are several linguistic rules in interpreting the Qur'an that need to be carefully considered, including: Isim Dhamir, Nakirah and Ma'rifah, repetition of words, questions and answers, number of syartiyah. The linguistic rules in interpreting the Al-Qur'an mentioned above are concise rules that need to be mastered by a mufassir when wishing to interpret the Al-Qur'an.
KAIDAH BAHASA DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR'AN Sukron Jamil; Alwizar
Al-Ihda' : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 20 No. 1 (2025): Mei: Al-Ihda': Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : STAI Nurul Falah Airmolek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55558/alihda.v20i1.265

Abstract

Abstract The interpretation of the Al-Qur'an is a scientific endeavor that requires a profound mastery of Arabic linguistic rules to accurately comprehend the messages of revelation. This study explores the linguistic principles underlying Al-Qur'an interpretation, including the use of pronouns (isim dhamir), the distinction between definite (ma’rifah) and indefinite (nakirah) nouns, singular (mufrad) and plural (jama’) forms, and the concept of synonyms that are often misunderstood. The research discusses the importance of understanding nouns (isim) and verbs (fi’il) in terms of time, attributes, and meaning. A qualitative descriptive approach is employed to analyze data from Al-Qur'an verses and tafsir literature. The findings reveal that mastery of linguistic principles not only enhances the accuracy of interpretation but also ensures the relevance of the Al-Qur'an message in modern contexts. This study makes a significant contribution to the development of Al-Qur'an exegesis, particularly in fostering a comprehensive and structured hermeneutics of the Al-Qur'an.
Konsep Pengajaran Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari Alwi, Wildan; Alwizar; Kadar; Mubarok, M. Naelul
IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 01 (2022): IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Tarbiyah, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/865rp225

Abstract

This research aims to determine the concept of Islamic education, and the contribution of KH. Hasyim Asy'ari, so the author finds the shortcomings and strengths in Educational thinking according to KH. Hasyim Asy'ari. The research method used in this study is the Library Research method, which is a series of activities related to the method of collecting library information, reading and writing and processing research material. The data analysis technique that the author uses in this research is content analysis or what is often referred to as content analysis. This content analysis is used to compare one research with other research according to this article. It is a research that uses library sources from articles and journals to obtain research information. This research has a problem formulation including, How is the concept of Islamic education according to KH. Hasyim Asy'ari? and How the contribution of KH. Hasyim Asy'ari in the development of education today. The results of this study define the thinking of KH. Hasyim Asy'ari so that it produces a concept of Islamic education and the contribution of KH. Hasyim Asy'ari
The Concept of Knowledge: The Essence of Knowledge (Ilm, Hikmah, and Ayat) Setyawan, Roby; Alwizar; Kadar M. Yusuf
The Future of Education Journal Vol 4 No 6 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i6.683

Abstract

This article explores the essence of knowledge from an Islamic perspective by highlighting key concepts such as ‘ilm (knowledge), ḥikmah (wisdom), and āyah (signs). Through a qualitative approach and literature review, this study examines how the Qur’an, along with classical and contemporary exegeses, interprets and integrates these concepts within the framework of Islamic epistemology. The findings indicate that knowledge in Islam encompasses not only rational and empirical aspects, but also spiritual and moral dimensions, positioning it as a means to attain well-being in both this world and the hereafter.
The Concept of Human Potentials: Qalb, ‘Aql, Fu’ad, A’yun, and Al-Udzun Firma, Heldi Firma; Kadar; Alwizar
The Future of Education Journal Vol 4 No 6 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i6.720

Abstract

This study aims to examine the concept of human potentials from the perspective of the Qur’an, specifically those related to qalb, ‘aql, fu’ad, a’yun, and al-uzun. Understanding these potentials forms a crucial foundation in Islamic education, considering that human beings, as subjects of education, are endowed with innate capacities (fitrah) to develop both spiritually and intellectually. Using a literature review approach, this research identifies that each potential has a specific function that supports the perfection of human beings as khalifah (vicegerents) on earth. Qalb functions as the center of inner consciousness, ‘aql as the faculty of reasoning, fu’ad as the core of conviction and inner reflection, a’yun as the visual perception tool essential for learning, and al-uzun as the auditory receptor influencing understanding and internalization of knowledge. This study highlights the importance of developing these potentials within an integrated Islamic educational framework, aiming to nurture individuals who are faithful, knowledgeable, and morally upright.
Kaedah Mantuq dan Mafhum sebagai Strategi Pemahaman Teks Al-Qur'an dan Hadis dalam Pendidikan Agama Islam Siti Halimatus Sa’adah; Alwizar
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 2 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i2.1195

Abstract

Pemahaman terhadap teks al-Qur'an dan hadis merupakan salah satu kompetensi penting dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Kaedah mantuq dan mafhum sebagai bagian dari kajian ushul fikih memberikan pendekatan logis dan sistematis dalam menafsirkan makna yang tersurat (mantuq) dan makna yang tersirat (mafhum) dari suatu teks. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan kaedah mantuq dan mafhum dapat digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap isi ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan hadis. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan kaedah ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami hukum-hukum Islam, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kontekstual. Oleh karena itu, integrasi kaedah mantuq dan mafhum dalam pembelajaran PAI penting dilakukan untuk membentuk peserta didik yang memahami agama secara mendalam, rasional, dan aplikatif. Integrasi kaedah mantuq dan mafhum dalam pembelajaran PAI menjadi langkah strategis untuk membentuk pemahaman mendalam dan kontekstual terhadap teks al-Qur’an dan hadis, serta mendorong pengembangan kompetensi berpikir kritis dan reflektif peserta didik dalam menghadapi dinamika zaman
Kaidah Nasakh Berdasarkan Tinjauan Teoritis dan Implementasinya dalam Penafsiran Al-Qur'an Cita Suci; Alwizar
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 2 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i2.1205

Abstract

Nasakh merupakan salah satu konsep penting dalam studi tafsir dan ushul fiqh, terutama dalam merespons ayat-ayat Al-Qur’an yang tampak bertentangan secara hukum. Kehadirannya menjadi solusi metodologis terhadap dinamika pewahyuan yang berlangsung secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kaidah nasakh secara teoritis dan mengevaluasi bagaimana kaidah tersebut diimplementasikan dalam penafsiran Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research), dengan menelusuri literatur primer dan sekunder dari buku-buku ushul fiqh, serta jurnal ilmiah terkait, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi dan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaidah nasakh memiliki definisi, dasar hukum, serta syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk menetapkan suatu ayat sebagai nasikh atau mansukh. Terdapat beragam pembagian dan bentuk nasakh dalam khazanah keilmuan Islam. Implementasi kaidah ini dalam penafsiran Al-Qur’an tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh pendekatan mufasir. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, misalnya, menolak gagasan bahwa ada ayat yang dibaca namun sudah tidak berlaku hukumnya, dan lebih memilih pendekatan harmonisasi dibanding pembatalan mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa nasakh harus diterapkan secara kritis dan kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kaidah nasakh penting dalam menjaga relevansi hukum Islam dengan perkembangan zaman