Claim Missing Document
Check
Articles

KOALISI PETANI MERICA DI DESA SAMBAHULE KECAMATAN BAITO KABUPATEN KONAWE SELATAN Cici Hartiani; Syamsumarlin Syamsumarlin; Ashmarita Ashmarita
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.955 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.589

Abstract

The purpose of this study is to find out and describe the horizontal coalition and vertical coalition built by pepper farmers in Sambahule Village, Baito District, South Konawe Regency. The informants in this study are 8 pepper farmers in the village of Sambahule. Data collection is done by using field research. Data collection of this study used the techniques of direct observation and in-depth interviews. Data analysis is qualitative descriptive. The results show that (1) Horizontal coalitions built by pepper farmers in Sambahule Village, namely cooperation between farmers and fellow farmers (2) Vertical coalitions built by pepper farmers in Sambahule Village, namely coalition with government, means traders production, collecting traders, and NGOs with farmers in Sambahule Village.
PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG TRADISI PERMAINAN KANTOLA DI DESA BEA KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA Nurdin Anton; Wa Ode Sifatu; Ashmarita Ashmarita
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.039 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.599

Abstract

This research aims to understand the forms of kantola tradition and people's understanding, especially those in Bea Village towards these traditional entities. Data collection is done through observation, in-depth interviews, and study of documents and literature. The results of this study indicate that the tradition of kantola games carried out periodically is an introduction to growing awareness of the community that opens opportunities for growth, and the development of traditions including the kantola tradition which is increasingly squeezed by global cultural products. Kantola has meaning that is useful in the daily lives of local people. Innovation opens opportunities for understanding the heritage of past traditions that are able to answer current issues. Preservation can be formulated as a sense of self and the strength of one's own culture, cultural awareness must be grown to give appreciation to local cultures that lead to cultural resilience.
HAJI DAN PESTA (Studi Pengaruh Tren Busana Muslim terhadap Identitas Haji di Desa Mataiwoi Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan) Nurjannah Nurjannah; Wa Ode Sitti Hafsah; Ashmarita Ashmarita
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 3 (2019): Volume 8 Nomor 3, Oktober 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i3.816

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui trend busana Muslim di Desa Mataiwoi dan untuk mengetahui busana Muslim mengubah identitas Haji dalam pesta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah materialisme budaya dari Marvin Harris (1979). Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa trend busana muslim mampu mengubah identitas seorang haji. Identitas yang dimaksud disini adalah identitas busana haji yang kemudian ditinggal dengan beralih menggunakan busana muslim yang saat ini menjadi trend. Busana muslim ini juga merubah cara pandang masyarakat sekitar, dengan hilangnya identitas busana haji maka berubah pula perlakuan masyarakat sekitar terhadap haji.
KACANG GORENG DAN AJANG PENCARIAN JODOH Wa Ode Rosdiana; La Ode Topo Jers; Ashmarita .
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 1 No 2 (2017): Volume 1 Nomor 2, Juli - Desember 2017
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.529 KB)

Abstract

Tradisi penjualan kacang goreng (rapo-rapo) atau biasa dikenal dengan kacang jodoh yang dilakukan oleh gadis-gadis Kelurahan Wandoka Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi yang berlangsung satu kali setahun pada Bulaan Ramadhan, merupakan salah satu tradisi unik sehingga dilakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pencarian jodoh dengan menjual kacang goreng, dan mengetahui persepsi terhadap perempuan yang mendapatkan jodoh dengan cara menjual kacang goreng di Kelurahan Wandoka Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode Etnografi dengan pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (Indepth interview). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses menemukan jodoh dengan menjual kacang goreng ini, diawali dengan tahap pengenalan yaitu, melakukan transaksi jual beli kacang goreng, serta melakukan komunikasi bersifat budaya seperti saling lempar pantun atau lantunan syair yang diungkapkan sesuai isi hati guna membangun hubungan yang lebih dekat. Selanjtnya berlangsung pada pemakaian daun pacar (patirangga), sebagai bentuk kasih sayang mereka sehingga dapat saling mengenang satu sama lain. kedekatan seperti itu, berlanjut pada sebuah pernikahan yang menjadi akhir dari sebuah perkenalan. Hal demikian menuai persepsi dalam masyarakat. Perempuan yang mencari jodoh dengan cara tersebut merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat dan telah diwariskan secara turun temurun. Menurut masyarakat yang pernah menjalankanya menjadi sebuah hiburan untuk dapat bertemu dengan kerabat yang telah lama menjalin hubungan tali silaturahmi, sehingga dapat menyatukan kembali tali persaudaraan diantara sesama. Kata Kunci: kacang goreng, pencarian jodoh.
DINAMIKA PETANI TRANSMIGRAN JAWA Nur Atia Setiawati; Wa Ode Sifatu; Ashmarita .
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 1 No 2 (2017): Volume 1 Nomor 2, Juli - Desember 2017
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.106 KB)

Abstract

Kondisi pertanian transmigran Demak di Desa Langgea saat ini mulai mengalami involusi pertanian karena masuknya teknologi modern dalam bidang pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana dinamika kepemilikan lahan pertanian pada masyarakat transmigran Jawa di desa Langgea. Serta bagaimana bentuk involusi pertanian masyarakat transmigran Jawa di Desa Langgea. Teori yang digunakan untuk membaca data adalah teori involusi pertanian menurut (Clifford Geertz, 1974). Metode pengumpulan data menggunakan metode etnografi yang menekankan pada pengamatan terlibat, wawancara mendalam, menafsirkan dan menganalisis berbagai informasi, data dianalisis dari awal penelitian secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika kepemilikan lahan petani di Desa Langgea diperoleh dari pembagian pemerintah saat bertransmigrasi, melalui transaksi jual beli kepada sesama transmigran maupun melalui pembagian lahan dari orang tua, dan diolah secara individu. Petani di Desa Langgea memiliki permasalahan-permasalahan yang terkait dengan involusi pertanian. Luas lahan petani transmigran Jawa belum mengalami perkembangan yang signifikan. Dengan masuknya teknologi-teknologi modern pada sektor pertanian, sebaiknya petani Desa Langgea mengasah keterampilan atau kreativitas dibidang lainnya sehingga tidak bergantung dengan profesi buruh yang selama ini menjadi alternatif masyarakat sebagai penghasilan tambahan. Kemudian, agar pemerintah menghimbau dan mendampingi masyarakat untuk bersama-sama membuka peluang kerja di Desa Langgea. Kata kunci: dinamika, Langgea, petani jawa transmigran.
UPACARA PERAN DUA KERAJAAN DALAM MEMPERTAHANKAN MALABOT TUMPE/TUMBE DI SULAWESI TENGAH Nurhani nurhani; Wa Ode Sifatu; Ashmarita Ashmarita
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 2 No 1 (2018): Volume 2 Nomor 1 Januari-Juni 2018
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.862 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dua kerajaan dalam mempertahankan serta peran dua karajaan dalam pelaksanaan upacara malabot tumpe/tumbe, dan yang menghambat sebagian masyarakat Banggai sehingga tidak lagi ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan upacara malabot tumbe. Teori yang digunakan adalah pemikiran Radcliffe Brown tentang struktural fungsionalisme dengan metode etnografi. Hasil Penelitian: Kerajaan Banggai dan Kerajaan Matindok telah mencari legitimasi hukum atas kepemilikian tanah adat di daerah tepatnya di hutan bakiriang sehingga burung maleo terpelihara dengan baik sehingga upacara tumpe/tumbe tetap di laksanakan, kerajaan matindok mengantar telur burung maleo kepada kerajaan Banggai kemudian kerajaan Banggai Menjemput telur tersebut dan membagikan kepada yang berhak, namun masuknya budaya luar, adanya pekerjaan, adanya kecemburuan sosial, dan kurangnya pemahaman terhadap budaya sendiri mengakibatkan turunnya partisipasi masyarakat kerajaan Banggai dalam pelaksanaan upacara malabot tumbe. Kesimpulan: Hubungan kerajaan Banggai dan kerajaan Matindok dalam mempertahankan upacara malabot tumpe/tumbe sangatlah erat dan saling mempunyai keterikatan antara satu sama lain karena upacara malabot tumpe/tumbe adalah warisan budaya leluhur yang harus dipertahankan dan dilestarikan oleh dua kerajaan tersebut
GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA DESA ANGGOROBOTI KECAMATAN LAEYA KABUPATEN KONAWE SELATAN Ece Febrianti; Ashmarita Ashmarita; Akhmad Marhadi
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 3 No 2 (2019): Volume 3 Nomor 2 Juli - Desember 2019
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.642 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v3i2.970

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan gaya kepemimpinan Kepala Desa Anggoroboti Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan. Dan mengetahui Faktor apa yang mendukung gaya kepemimpinan Kepala Desa Anggoroboti. Penelitian ini menggunakan teori gaya kepemimpinan Robert J House (1996). Dengan menggunakan metode etnografi dan pendekatan kualitatif berupa deskripsi mendalam, dengan pengumpulan data, dengan pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indepth interview).Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gaya Kepemimpinan Kepala Desa Anggoroboti Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan lebih dominan menggunakan gaya kepemimpinan secara disiplin kepada masyarakat serta bawahannya dalam memberikan arahan dan perintah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka, dimana kepala desa selalu mementingkan asas musyawarah dengan masyarakat dan bawahannya. Dan kepala desa memiliki sikap yang luwes dalam kepemimpinannya serta menempatkan dirinya sebagai motivator untuk masyarakat dan perangkatnya dalam melaksanakan sutau kegiatan dan sebagainnya. Faktor-faktor yang mendukung gaya kepemimpinan kepala desa terdiri dari beberapa diantaranya: kepala desa dalam hal gaya kepemimpinanya selalu suka menolong masyarakat yang membutuhkan bantuannya dari segi apapun. Kepala juga memiliki jiwa kekerabatan yang cukup baik dalam melakukan interaksi bersama masyarakat dan bawahannya. Selain itu kepala desa memiliki pengalam kerja yang cukup baik dalam bekerja serta menjalin hubungan yang cukup baik terhadap keluarga dan masyarakat Desa Anggoroboti. Dimana kepala desa dalam hal gaya kepemimpinanya selalu ditunjangi dengan factor ekonomi yang mencukupi dalam melaksanakan kepemimpinannya sebagai seorang kepala desa dalam mengikut sertakan masyarakat dalam setiap kegiatan.
PERSEPSI MASYARAKAT TOLAKI TERHADAP PERCERAIAN DI DESA PEWUTAA KECAMATAN ANGATA KABUPATEN KONAWE SELATAN Akhmad Marhadi; Dinar Karni Josultin; Ashmarita Ashmarita
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 4 No 2 (2020): Volume 4, Nomor 2, Juli - Desember 2020
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.54 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v4i2.986

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tolaki terhadap perceraian, penyebab terjadinya perceraian pada masyarakat tolaki dan kondisi-kondisi sosial budaya masyarakat tolaki yang menyebabkan perceraian. Teori yang digunakan untuk membaca data penelitian ini adalah Berger dan Luckman dalam Heddy Shri Ahimsa putra tentang fenomenologis. Metode penelitian ini mengunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan terlibat (Participant Observation) dan wawancara mendalam (Indepth Interview). Hasil dari penelitian ini menunjukan, berdasarkan persepsi masyarakat tolaki terhadap perceraian di Desa Pewutaa, adanya unsur ketidak mampuan untuk membina keluarga lagi dalam satu keluarga untuk hidup bersama, ketidak ingin melanjutkan hidup bersama pasangannya, disebabkan terjadinya perceraian salah satunya perceraian ini merupakan aib keluarga yang di pandang tidak baik dimata orang-orang diluar sana, disebabkan oleh kemiskinan yang dimana salah satu dari pasangan tersebut sudah tidak sanggup lagi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka, sementara kebutuhan meningkat, kondisi ekonomi yang tidak memenuhi suatu kebutuhan keluarga, disebabkan akses transfortasi yang sekarang ini makin berkembang pesat dan masuk dalam kalangan masyarakat yang sudah berkeluarga sehingga akses trasfortasi ini dapat menjadi kondisi sosial budaya masyarakat yang menyebabkan perceraian.
RITUAL POAGO PADA MASYARAKAT DESA TALAGA BESAR KECAMATAN TALAGA RAYA KABUPATEN BUTON TENGAH Fani Fani; Erens Elvianus Kodooh; Ashmarita Ashmarita
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5 Nomor 1, Januari - Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.167 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1095

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan ritual poago dan perubahan yang terjadi dalam ritual poago. penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik pengamatan terlibat (participation observation) dan wawacara mendalam (indepth interview). Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pelaksanaan ritual poago terdiri beberapa tahap yaitu tahap persiapan pada tahapan persiapan merupakan tahap penyampaian informasi bahwa akan diadakannya ritual poago ke pada masyarakat agar masyarakat tidak melakukan kegiatan yang dapat mengundang keributan, tahap pelaksanaan yaitu di awali dengan niat membaca surah Al Fateha, selanjutnya membaca ayat kursi sebanyak 7.777 kali, kemudian membaca doa tolak bala dan meninggalkan masjid sambil memakan gula aren, tahap penutup pada tahap penutup masyarakat tidak ada yang melakukan kegiatan yang dapat mengundang keributan selama 4 hari 4 malam. Sedangkan perubahan yang terjadi dalam ritual poago antara lain adalah tempat pelaksanaan, waktu, pelaku dan bahan-bahan dalam ritual poago, perubahan ini disebabkan bebebrapa faktor yaitu faktor pendidikan dan faktor agama.
RITUAL CUCURA(PESTA PANEN) SEBAGAI UNGKAPAN RASA SYUKUR PADA SANGIA DI DESA LANGERE KECAMATAN BONEGUNU KABUPATEN BUTON UTARA Firna Firna; Ashmarita Ashmarita
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5 Nomor 2, Juli - Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.657 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1276

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui proses ritual Cucura (pasta panen) sebagai ungkapan rasa syukur pada sangia di Desa Langere Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara dan untuk mengetahui fungsi ritual cucura (pesta panen) sebagai ungkapan rasa syukur pada sangia penelitian ini menggunakan teori Sruktural Fungsionalme oleh Radcliffe Brown. Adapun metode peneltian menggunakan deskriptif kualitatif dan pengumpulan data di lakukan melalui pengamatan (observasi), dan wawancara mendalam (Indepth Interview). Adapun hasil penelitian ini yaitu: Ritual ini masih dilaksanakan karena masyarakat percaya kepada Laode Pepago dan masyarakat meyakini ia sebagai tokoh yang dianggap sebagai sangia. Menurut kepercayaan setempat dia adalah sangia yang dipercayai sebagai penguasa kampung oleh karena itu, diadakanlah ritual, dimana didalam ritual tersebut ada persembahan atau sesajen yang disimpan diatas loteng agar terhindar dari penyakit yaitu haroa di rumah sangia yaitu diruang tamu dan pengerahan sesajen diatas loteng (Monsurako) makanan diatas loteng dimaknai sebagai penawar/obat untuk masyarakat, yang memakan ketupat terhindar dari sesuatu yang menyebabkan terjadinya gangguan pada mahluk hidup seperti penyakit menular. Haroa ini di tunjukan kepada sangia serta semua masyarakat Desa Langere sebagai wujud rasa syukur terhdap penguasa kampung yang telah memberikan kesuburan lahan, rezki, kesehatan, dan amalan supaya kampung diberkati atau keselamatan kampung. Fungsi ritual cucura ada tiga poin yaitu fungsi meminta keberkahan dan meminta kesehatan, fungsi mempererat keakakraban saling silahtuhrahmi, dan fungsi untuk keselamatan kampung.