Claim Missing Document
Check
Articles

Dampak Kebijakan Domestik terhadap Ketersediaan Jagung untuk Bahan Baku Industri Pengolahan di Indonesia Veralianta Br Sebayang; Bonar Marulitua Sinaga; nFN Harianto; I Ketut Kariyasa
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n2.2019.141-155

Abstract

EnglishMaize is a strategic commodity for Indonesia. In line with the consumption pattern, the domestic demand for maize has changed from previously dominated by household consumption to presently dominated by raw material for feed and food processing industries. The maize demand of the processing industry increases rapidly, outpaced   domestic production growth, that makes Indonesia must import maize in an increasing amount. This study aims to determine the impact of government policy on maize production which is the input of the maize processing industry. The analysis was conducted using an econometric simultaneous equation system model which was estimated with the two stages least squares technique using time series data of 1985-2017. The results show that the maize harvest area is negatively related with labor wage and urea price, and is positively related with the maize farm price. Maize productivity is positively related with quantity of urea fertilizer and hybrid seeds. but negatively related with composite seeds. The scenario of subsidizing urea prices and hybrid seed, raising import tariffs can increase the availability maize for processing industries as indicated by increasing domestic production and decreasing maize imports.IndonesianJagung termasuk komoditas strategis untuk Indonesia. Seiring dengan perubahan pola konsumsi, permintaan jagung dalam negeri berubah dari sebelumnya didominasi oleh konsumsi rumah tangga menjadi kini didominasi oleh bahan baku industri pengolahan pakan dan pangan.  Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri pengolahan meningkat pesat, bahkan melampaui peningkatan produksi jagung dalam negeri, sehingga Indonesia terpaksa mengimpor jagung dalam jumlah yang terus meningkat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak kebijakan pemerintah terhadap produksi jagung yang menjadi input industri pengolahan jagung. Metode analisis yang digunakan ialah model ekonometrika sistem persamaan simultan yang diduga dengan teknik two stages least squares memakai data deret waktu 1985-2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas areal panen jagung berhubungan negatif dengan upah buruh tani dan harga pupuk urea, sebaliknya, berhubungan positif terhadap harga jagung di tingkat petani. Produktivitas jagung berhubungan positif dengan volume penggunaan pupuk urea dan benih hibrida, namun berhubungan negatif dengan benih komposit. Skenario kebijakan subsidi harga pupuk urea, subsidi harga benih hibrida, dan kenaikan tarif impor dapat meningkatkan ketersediaan bahan baku industri pengolahan dan peternak mandiri sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan produksi dalam negeri dan penurunan impor jagung.
Kredit Ketahanan Pangan dan Energi: Implementasi dan Persepsi oleh Petani Padi Iman Widhiyanto; Nunung Nuryartono; nFN Harianto; Hermanto Siregar
Analisis Kebijakan Pertanian Vol 15, No 2 (2017): Analisis Kebijakan Pertanian
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.664 KB) | DOI: 10.21082/akp.v15n2.2017.99-112

Abstract

Agricultural sector is the government’s priority through fiscal policies. One of the policies implemented is the interest rate subsidy for Food and Energy Security Credit Program (KKP-E). Some Banks had been appointed and in collaboration with the government to provide KKP-E. KKP-E program had lower interest rate than the market rate and it was expected that the farmers could access it. KKP-E was intended to meet the needs of agricultural equipment and farm inputs purchase. Since the program rolled out from 2008 to 2015, the implementation of KKP-E was below the credit limit. This study aimed to analyze the KKP-E implementation, farmers’ perspectives of KKP-E, and change from KKP-E to KUR (People’s Business Credit) for Agricultural Sector. Results of the study showed that KKP-E disbursement was relatively low. KKP-E distribution channels needed enhancement and the credit could not satisfy all farm business. Farmers did not receive KKP-E from the bank on time. Continuity of subsidized credit was important for farmers. Basic scheme of KKP-E program should be applied to KUR for Agricultural Sector. The government and the Banks need to be more actively in socializing the program, to improve financial education, to utilize more advanced technology, and to simplify bureaucracy. AbstrakPemerintah berusaha untuk membangun sektor pertanian melalui berbagai instrumen kebijakan fiskal. Salah satu kebijakan yang telah digulirkan adalah subsidi bunga Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E). Pemerintah bekerjasama dengan bank pelaksana menyediakan KKP-E. Petani diharapkan dapat mengakses KKP-E karena tingkat bunganya lebih rendah dari pasar. KKP-E digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembelian peralatan pertanian dan input usaha taninya. Sejak digulirkan pada tahun 2008 sampai dengan 2015, realisasi penyaluran KKP-E masih jauh di bawah plafon kredit, dan realisasi subsidi bunga tidak efisien pada tahun-tahun awal digulirkannya subsidi bunga KKP-E. Penelitian ini bermaksud menganalisis secara diskriptif implementasi KKP-E, perspektif usaha tani terhadap KKP-E, dan perubahan KKP-E menjadi KUR (Kredit Usaha Rakyat) sektor pertanian. Data di lapangan menunjukkan bahwa jangkauan KKP-E masih rendah, saluran distribusi KKP-E perlu ditambah, terjadi fungibility penggunaan KKP-E, pinjaman KKP-E belum dapat memenuhi semua kebutuhan usaha tani, dan pencairan KKP-E masih lama dan tidak tepat waktu. Usaha tani menginginkan agar skim kredit dengan subsidi bunga dapat dilanjutkan di masa yang akan datang. Kemudahan-kemudahan yang ada pada KKP-E hendaknya diterapkan pada KUR sektor pertanian. Pemerintah bersama bank pelaksana perlu lebih masif melakukan sosialisasi dan edukasi keuangan dengan memanfaatkan teknologi yang lebih maju dan menyederhanakan birokrasi. 
Permintaan Pangan Sumber Karbohidrat di Indonesia Prasmita Dian Wijayati; nFN Harianto; Achmad Suryana
Analisis Kebijakan Pertanian Vol 17, No 1 (2019): Analisis Kebijakan Pertanian
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.968 KB) | DOI: 10.21082/akp.v17n1.2019.13-26

Abstract

Rice is the main staple food for Indonesian population. At the same time, per capita consumption of wheat products has increased annually.  One of main government policies related to food consumption is to accelerate food and nutrition diversification based on local food sources. Objective of this study was to understand demand for various carbohydrate food sources at household level by introducing socio-economic variables such as household size, wife working status, and characteristics of household head. This research used Susenas 2017 data at national level.  Demand for food was estimated by the AIDS model.  Rice was still as the most favorable carbohydrate source for Indonesian people. Bread and processed food were categorized as luxurious; while rice, wheat flour, cereals, and roots were as normal goods. Own-price demand elasticity for rice, wheat flour, cereals, and roots were elastic, meanwhile for bread and prepared foods were inelastic. Reducing per capita rice consumption, among others, should be conducted by increasing knowledge and awareness of household members of the importance of food consumption diversification. The government should be aware of the continuing increase in wheat flour imports in line with national economic growth due to high income elasticity for bread and processed food. AbstrakPangan sumber karbohidrat yang merupakan pemasok utama energi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari penduduk Indonesia masih didominasi oleh beras.  Bersamaan dengan itu, konsumsi pangan/kapita berasal dari gandum meningkat setiap tahunnya. Di fihak lain, Indonesia memiliki beragam pangan lokal sumber karbohidrat. Salah satu kebijakan utama pemerintah terkait konsumsi pangan adalah mempercepat diversifikasi pangan dan gizi berbasis pangan lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui permintaan pangan berbagai komoditas sumber karbohidrat di tingkat rumah tangga dengan memasukkan variabel sosial ekonomi yaitu jumlah anggota rumah tangga, status istri bekerja, dan karakterestik kepala keluarga. Penelitian ini menggunakan data Susenas tahun 2017 untuk tingkat nasional dari BPS. Permintaan pangan dianalisis dengan menggunakan model AIDS. Hasil analisis mengkonfirmasi bahwa beras masih menjadi komoditas sumber karbohidrat yang paling diminati masyarakat. Roti dan makanan jadi merupakan golongan pangan mewah sedangkan beras, terigu, padi-padian, serta umbi merupakan barang normal. Elastisitas harga sendiri untuk permintaan komoditas beras, terigu, padi-padian, dan umbi bersifat inelastis sedangkan roti dan makanan jadi tergolong elastis. Dari hasil penelitian ini disarankan upaya pengurangan konsumsi beras/kapita diantaranya dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran anggota rumah tangga mengenai manfaat diversifikasi pangan dan gizi untuk memelihara hidup sehat dan produktif. Pemerintah perlu mewaspadai berlanjutnya peningkatan impor terigu sejalan dengan  pertembuhan ekonomi nasional karena roti dan makanan jadi memiliki elastisitas pendapatan yang tinggi.
ANALISIS POSISI PASAR INDONESIA PADA PASAR REFINED PALM OIL (RPO) DI NEGARA IMPORTIR Risnayanti Ulfa Aulia; Harianto Harianto; Tanti Novianti
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 27 No 1 (2019): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.139 KB) | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v27i1.56

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Adanya kebijakan hilirisasi sawit menyebabkan Indonesia lebih banyak mengekspor produk turunan dalam bentuk Refined Palm Oil (RPO) dibandingkan Crude Palm Oil (CPO). Indonesia juga menghadapi kompetisi dengan Malaysia sebagai eksportir RPO di beberapa negara importir seperti China, India, Rusia dan Amerika Serikat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetisi antara Indonesia dan Malaysia di beberapa pasar negara importir RPO. Model yang digunakan adalah Almost Ideal Demand System (AIDS). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan harga RPO Indonesia lebih elastis di pasar India dan Amerika Serikat, sedangkan harga RPO Malaysia lebih elastis di pasar Rusia. Meskipun RPO asal Indonesia dan Malaysia saling bersubstitusi, tetapi posisi Indonesia lebih diuntungkan dibandingkan Malaysia jika negara-negara importir tersebut meningkatkan pengeluaran untuk impor RPO karena akan meningkatkan share impor dari Indonesia.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PERDAGANGAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA DI NEGARA IMPORTIR UTAMA Rizki Amalia; Harianto Harianto Harianto; Amzul Amzul Rifin
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 27 No 3 (2019): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.288 KB) | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v27i3.89

Abstract

As one of the largest producers in the world, Indonesia has an interest in increasing the share of palm kernel oil exports which are being faced with negative issues from vegetable oil producer countries towards the palm oil industry and its derivatives; on the other hand maintaining the availability of domestic PKO as industrial raw material. This study aims to analyze the factors that influence the performance of Indonesia's palm kernel oil trade. The study used dynamic simultaneous equations and consist of 18 behavioral and 25 identities equations using time series data from 1990 to 2017 . The estimation results indicate that changes in the supply of Indonesian palm kernel oil exports to the main export destination countries are responsive to changes in palm kernel oil mature area, technology improvement, and downstream dummy policies. Meanwhile, the demand of the main importers of palm kernel oil is responsive to changes in world palm oil prices, per capita income of the country's, and world crude oil prices. The downstream policy accompanied by improvements in technology, infrastructure, and the business climate is needed to improve the efficiency of the domestic palm kernel oil industry and reduce dependence on exports.
Arsitektur Strategi Pengembangan Bisnis Pelabuhan Darat Michael Jourdan; Lukman M. Baga; Harianto Harianto
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik (JMTRANSLOG) Vol 5, No 3 (2018): NOVEMBER
Publisher : Institut Transportasi dan Logistik Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54324/j.mtl.v5i3.262

Abstract

The purpose of this study is to identify internal and external factors that influence CDP business development, formulate business development strategies, and design CDP strategic architecture. Cikarang Dry Port (CDP) is a land port designed to support export and import activities and supply chains in the Jabodetabek and Cikarang regions. The precise business development strategy to optimize resources and opportunities for the CDP business environment is important to develop. The method of this research is descriptive analysis and purposive sampling. The analytical tools used include internal and external analysis and SWOT. The results show that the IFE and EFE values obtained are 3.03 and 3.07. Its main strength is the availability of land port’s capacity with a score of 0.56. The external factors that provide significance relative to the success of dry port development are internet usage and applications on smartphones that scored 0.32. The regulation on expansion and business development of the Kalibaru Port (Newport Priok Container Terminal) is the biggest threat of 0.06 and 0.04.
ANALISIS KERAGAAN EKONOMI RUMAHTANGGA: STUDI KASUS PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT DI PANGALENGAN BANDUNG SELATAN Tjipta Purwita; Harianto Harianto; Bonar M. Sinaga; Hariadi Kartodiharjo
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2009.6.1.53-68

Abstract

Pulau Jawa dihuni oleh lebih dari 60 persen penduduk Indonesia. Redistribusi penduduk dan penguasaan lahan yang tidak seimbang menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan yang menimbulkan banjir, tanah longsor, dan bencana kekeringan. Salah satu solusi untuk mengatasi tekanan lingkungan tersebut adalah program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Penelitian ini menganalisis : (1) karakteristik ekonomi rumahtangga petani PHBM, (2) aspek institusi terkait dengan kontrak kerjasama kemitraan PHBM, (3) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan rumahtangga petani terkait produksi, alokasi waktu tenaga kerja, pendapatan dan pengeluaran, serta (4) simulasi dampak perubahan faktor eksternal maupun internal terhadap perilaku ekonomi rumatangga. Hasil penelitian ekonomi rumahtangga di Pangalengan dengan pendekatan ekonometrik menunjukkan bahwa program PHBM belum sepenuhnya mampu mengatasi masalah kemiskinan, khususnya pada kasus PHBM Kopi, tetapi berhasil mengatasi masalah perambahan areal pada hutan-lindung. Kebijakan ekonomi dan penguatan kelembagaan diperlukan untuk mendukung implementasi program PHBM di hutan-lindung.
Analisis Penawaran dan Permintaan Kayu Bulat untuk Pemenuhan Kebutuhan Industri Kayu Lapis, Kayu Gergaji dan Pulp di Indonesia Erwinsyah Erwinsyah; Harianto Harianto; Bonar M. Sinaga; Bintang C.H. Simangunsong
Sosio e-Kons Vol 9, No 2 (2017): Sosio e-Kons
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.48 KB) | DOI: 10.30998/sosioekons.v9i2.1942

Abstract

ABSTRACT In the last three decades the forestry sector has been given an important contribution to the economy of Indonesia, and during the period year 1993-2005, it contributed from 1.7 to 3.1 percent. To maintain this contribution, it is needed to have a continuation raw material input, Roundwood. Some studies showed that the supply of raw material for wood-based primary industries such as plywood, sawn timber, and pulp in Indonesia are still continuing. Therefore it needs to know the characteristic supply and demand of the wood-based industry by predicting the elasticity. This paper will discuss elasticity supply and demand of the input market of Roundwood from natural and plantation forests and output market of plywood, sawn timber and pulp. Data used for this study is time series, from the year 1995 until the year 2009. The estimation of the econometric model used in this study was simultaneous (2SLS) equation or ordinary least squares (OLS) if the 2SLS model is not working. Data processed by the Rats processing program. All predicted parameter then evaluated and checked in accordance with the economic theory. However, not all predicted elasticity resulted from this study were used. For those could not use that data taken from references. Demand elasticity of Roundwood from natural forests and plantation forests are mostly priced inelastic.Keywords: wood-based industry, supply, demand, estimation of econometric models, elasticity.  ABSTRAK Dalam tiga dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan kontribusi penting bagi perekonomian Indonesia, dan selama rentang waktu tahun 1993-2005, memberikan kontribusi 1.7 sampai 3.1 persen. Untuk mempertahankan nilai ini, diperlukan keberlanjutan penyediaan kebutuhan bahan baku, kayu bulat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku bagi industri primer berbasis kayu seperti kayu lapis, kayu gergaji dan pulp di Indonesia masih berjalan. Oleh karena itu perlu untuk diketahui kharakteristik penawaran dan permintaan industri primer berbasis kayu melalui nilai penduga elastisitasnya. Penelitian ini akan membahas mengenai elastisitas penawaran dan elastisitas permintaan pasar input kayu bulat yang berasal dari hutan alam dan hutan tanaman, dan pasar output kayu lapis, kayu gergaji dan pulp. Data yang digunakan dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2009. Model dugaan ekonometrik yang digunakan dalam penelitian ini adalah persamaan simultan (2SLS) atau ordinary least squares (OLS) apabila 2SLS tidak dapat digunakan. Pengolahan data menggunakan program RATS. Keseluruhan nilai parameter dugaan selanjutnya dievaluasi dan diperiksa berdasarkan teori ekonomi. Namun demikian, tidak semua nilai dugaan elastisitas yang dihasilkan dalam penelitian ini digunakan. Nilai yang tidak dapat digunakan kemudian dicari nilai penggantinya yang diperoleh dari berbagai referensi. Elastisitas permintaan permintaaan kayu bulat yang berasal dari hutan alam dan hutan tanaman adalah inelastis.Kata kunci: industri berbasis kayu, penawaran, permintaan, model dugaan ekonometrik, elastisitas
Posisi Daya Saing dan Kinerja Ekspor Kopi Indonesia Di Pasar Global Doni Sahat Tua Manalu; Harianto Harianto; Suharno Suharno; Sri Hartoyo
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.885 KB) | DOI: 10.21776/ub.jepa.2019.003.04.18

Abstract

Satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia adalah kopi, sebagian besar produksi kopi Indonesia ditujukan untuk ekspor. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis posisi daya saing dan kinerja ekspor kopi Indonesia di pasar global. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data time series ekspor kopi dalam kurun waktu sepuluh tahun yaitu mulai tahun 2007-2017 dengan menganalisis negara tujuan ekspor terbesar yaitu USA, Jerman, Jepang. Metode Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamis (EPD) digunakan masing-masing untuk menganalisis keunggulan komparatif dan kinerja ekspor kopi Indonesia di pasar global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif di pasar global berdasarkan metode RCA, kemudian berdasarkan metode EPD diperoleh bahwa produk kopi Indonesia tergolong pada posisi rising star di negara tujuan ekspor USA sedangkan di negara Jerman dan Jepang diperoleh bahwa posisi pasar kopi Indonesia pada posisi lost opportunity.
Dampak Kebijakan Tarif Terhadap Perdagangan MInyak Sawit Dunia Yosephine Vincensia Sinaga; Bonar M Sinaga; Harianto Harianto
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2020.004.01.18

Abstract

Perubahan kebijakan tarif dapat mempengaruhi kinerja ekspor dan impor minyak sawit di pasar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan tarif terhadap perdagangan minyak sawit Indonesia. Analisis menggunakan model ekonometrika dalam bentuk persamaan simultan yang terdiri dari 17 persamaan struktural dan 8 persamaan identitas. Estimasi menggunakan metode Two Stage Least Squares (2SLS) dengan data time series tahun 1991-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan negara India, Uni Eropa, dan China membatasi volume impor dengan menaikkan tarif impor, sedangkan Malaysia menurunkan tarif ekspor untuk  meningkatkan  volume ekspor dan Indonesia mengantisipasi dengan menurunkan tarif ekspor minyak sawit yang akan berdampak terhadap peningkatan devisa ekspor  dan penurunan penerimaan pemerintah dari tarif ekspor minyak sawit Indonesia
Co-Authors A. Faroby Falatehan Abd. Rasyid Syamsuri Achmad Suryana Ahmad Zainuddin Alghif Aruni Nur Rukman Amzul Rifin Annisa Fitri Antik Suprihanti Arham Rivai Arief Daryanto Arief Daryanto Astari Miranti Bintang C. H. Simangunsong Bonar M Sinaga Bonar M. Sinaga Bonar M. Sinaga Bonar M. Sinaga Bonar M. Sinaga Bonar Marulitua Sinaga Bonar Marulitua Sinaga Bonar Marulitua Sinaga Bungaran Saragih Dahlia Nauly Dedi Budiman Hakim Devi Agustia Dian Hafizah, Dian Dominicus Savio Priyarsono Dudi Septiadi Dwi Ajeng Kartini Apriliyanti Dwi Rachmina Edy Siswanto Eka Dewi Satriana Eka Monika Manihuruk Erliza Noor Erwinsyah Erwinsyah Erwinsyah, Erwinsyah Fitria Virgantari Freshty Yulia Arthatiani Gita Vinanda Gita Vinanda Hariadi Kartodiharjo Hartoyo Hartoyo Heny Kuswanti Suwarsinah Hermanto Siregar Hutagaol, Manuntun Paruliah I Ketut Kariyasa Iman Widhiyanto Joko Adrianto Kuntjoro Kuntjoro Kusmaria Lukman M. Baga Lukytawati Anggraeni M. Parulian Hutagaol Maharani Tristi Manalu, Doni Sahat Tua Maria Trisanti Saragih Meily Andriani Meylani Lestari Michael Jourdan Moeljopawiro, Sugiono Muh Saiful Djafri Muhamad Emil Rachman Muhamad Yunus Muhammad Fadil Hidayat Muhammad Firdaus Nandika Aisya Pratiwi Novia Fitri Yanti Saragih Nuni Anggraini Nunung Kusnadi Nunung Nuryartono Nurul Iski Prasmita Dian Wijayati Ratna Winandi Ratna Winandi Asmarantaka Ratna Winandi Asmarantaka Ratna Winandi Asmarantaka Reni Kustiari Risnayanti Ulfa Aulia Risnayanti Ulfa Aulia Rita Nurmalina Rita Yuliana Rizki Amalia Rizma Aldillah Santun R.P. Sitorus Saragih, Edwin S Sebayang, Veralianta Br Sherley Siseraf Pamusu Sinaga, Bonar M. Siti Yuliaty Chansa Arfah Sonitia Verawati Sinaga Sri Hartoyo Sri Hery Susilowati Sri Utami Kuntjoro Stevana Astra Jaya Suharno Suprehatin Suprehatin Surya Abadi Sembiring Susilowati, Sri Hery Tanti Novianti Tjipta Purwita Yahdi Zaky Yosephine Vincensia Sinaga Yundari, Yundari Yusman Syaukat