Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Farmaka

POTENSI KITOSAN DALAM SISTEM PENGHANTARAN OBAT TERTARGET PADA ORGAN PARU HATI GINJAL DAN KOLON TIARA DIMAS HAPSARI; IRMA MELYANI PUSPITASARI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.57 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17838

Abstract

Sistem penghantaran obat tertarget dapat memperbaiki segi farmakokinetik dan biodistribusi obat, sehingga efek terapi yang dihasilkan lebih optimal dengan efek samping yang minimal. Dalam formulasinya, dibutuhkan suatu molekul pembawa yang dapat mengantarkan obat pada target spesifik. Kitosan merupakan polimer kationik alam yang dapat dikembangkan sebagai pembawa dalam sistem penghantaran obat karena sifat fisikokimia dan biologis yang unik, yaitu mucoadhesive, biocompatible, bio-degradable, tidak toksik, imunogenisitas yang rendah, dan kemampuan untuk mengantarkan obat pada target spesifik. Tujuan dari review ini adalah untuk mengetahui potensi kitosan sebagai pembawa dalam sistem penghantaran obat tertarget pada organ paru, hati, ginjal dan kolon. Metode dalam penyusunan review artikel yang digunakan ini adalah dengan penelusuran pustaka melalui mesin pencari Google. Berdasarkan hasil penelusuran, didapatkan 18 jurnal yang menunjukkan bahwa kitosan berpotensi sebagai pembawa untuk mengantarkan obat pada organ paru, hati, ginjal dan kolon. Pada masing-masing organ, kitosan memiliki mekanisme yang berbeda dalam perannya sebagai pembawa.
FARMAKOTERAPI DEPRESI DAN PENGARUH JENIS KELAMIN TERHADAP EFIKASI ANTIDEPRESAN AJENG RATNA NINGTYAS; Irma Melyani Puspitasari; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5601.292 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17522

Abstract

Depresi merupakan penyakit yang berhubungan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyerta berupa perubahan pola tidur dan nafus makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, dan tidak berdaya serta bunuh diri. Menurut WHO, terdapat 322 juta orang penderita depresi. Depresi menjadi penyebab utama bunuh diri yaitu 800.000 per tahun. Pengobatan depresi dengan menggunakan obat antidepresan. Review artikel ini bertujuan untuk mengetahui farmakoterapi yang tepat untuk mengobati depresi dan mengetahui pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antidepresan. Metode yang digunakan dalam review artikel ini adalah studi literature. Studi literature dilakukan dengan cara mencari jurnal, e-book, dan situs web yang membahas tentang farmakoterapi depresi dan pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antidepresan. Kriteria tahun penerbitan yang dikumpulkan adalah 10 tahun terakhir. Dari hasil studi literature didapatkan 17 jurnal, 5 e-book, dan 1 situs web. Dari studi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa farmakoterapi depresi yang paling sering digunakan dan lini pertama adalah SSRI dan SNRI. Terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antidepresan.Kata Kunci: Depresi, Pengobatan, Farmakoterapi, Antidepresan
Farmakoterapi Gangguan Anxietas HILDA VILDAYANTI; Irma Melyani Puspitasari; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.536 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17446

Abstract

Gangguan anxietas merupakan gangguan yang paling umum terjadi yang berkaitan dengan mental, emosional dan perilaku. Gangguan anxietas ditandai dengan kecemasan yang berlebihan dan tidak realistis mengenai suatu hal. Menurut survei epidemiologi, sepertiga penduduk dunia dipengaruhi oleh gangguan anxietas selama masa hidupnya. Penentuan jenis gangguan anxietas diperlukan untuk memastikan pengobatan yang sesuai dengan jenis gangguannya. Review artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai perkembangan pengobatan yang digunakan pada penderita gangguan anxietas berdasarkan tipe gangguannya. Sumber data yang digunakan untuk dijadikan referensi pada review artikel ini terdiri dari 20 jurnal ilmiah, 5 textbook, dan 2 website resmi yaitu National Institute of Mental Health dan Ministry of Health. Pengobatan untuk gangguan anxietas mencakup berbagai antidepresan (SSRIs, SNRIs, TCAs, dan MAOIs), anti-anxietas (benzodiazepin dan buspiron), serta β-blockers. Berdasarkan beberapa guideline, SSRIs direkomendasikan sebagai first-line terapi untuk sebagian besar gangguan anxietas.Kata kunci: Gangguan Anxietas, Tipe Anxietas, Farmakoterapi
EFEK SAMPING PENGGUNAAN WARFARIN DAN KOMBINASI WARFARIN DENGAN OBAT LAIN RESTU AMELIA APRIYANDI; IRMA MELYANI PUSPITASARI; NORISCA ALIZA PUTRIANA
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.27608

Abstract

ABSTRAKWarfarin merupakan salah satu obat yang digunakan untuk mengobati dan mencegah trombosis dalam berbagai keadaan klinis.Penggunaan obat ini dapat menyebabkan permasahan apabila digunakan dalam dosis yang tidak tepat. Masalah yang timbul dari penggunaan warfarin adalah akibat dari variasi respon antar individu, sehingga sulit untuk mendapatkan dosis yang tepat bagi setiap pasien. Hal ini menyebabkan efek samping obat. Artikel merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui berbagai efek samping yang ditimbulkan akibat penggunaan warfarin pada studi klinis dalam 5 tahun terakhir. Pencarian literatur menggunakan basis data elektronik PubMed dilakukan pada bulan Mei 2020. Dua belas studi diidentifikasi dari 116 studi yang ditemukan. Efek samping yang ditimbulkan akibat penggunaan warfarin pada studi klinis diantaranya yaitu terjadi perdarahan, nekrosis kulit, vaskulitis leukositoklastik,  gangguan ginjal, dan eosinophilia. Perdarahan merupakan efek samping yang paling banyak terjadi.Kata Kunci: Warfarin, efek samping, perdarahan, studi literatur ABSTRACTWarfarin is a drug used to treat and prevent thrombosis in a variety of clinical settings. The use of this drug can cause problems when used in the wrong dosage. Problems arising from the use of warfarin are the result of variations in responses between individuals, making it difficult to get the right dose for each patient. This causes the side effects of the drug. The article is a literature study that aims to find out various side effects caused by the use of warfarin in clinical studies in the last 5 years. A literature search using the PubMed electronic database was conducted in May 2020. Twelve studies were identified from 116 studies found. Side effects caused by the use of warfarin in clinical studies include bleeding, skin necrosis, leukocytoclastic vasculitis, kidney disorders, and eosinophilia. Bleeding is the most common side effect.Kata Kunci: Warfarin, Side Effect, Bleeding, Literatur Study
FARMAKOTERAPI GANGGUAN BIPOLAR UZLIFATUL ZANNAH; IRMA MELYANI PUSPITASARI; RANO KURNIA SINURAYA
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5200.403 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17466

Abstract

Gangguan bipolar merupakan salah satu penyakit psikiatri kronis yang menyebabkan perubahan suasana hati yang tidak normal. Gangguan bipolar ditandai dengan adanya episode mania atau hipomania disertai episode depresi. Menurut WHO, pada tahun 2004 gangguan bipolar mempengaruhi sekitar 29,5 juta individu. Gangguan bipolar bersifat kambuhan sehingga diperlukan pengobatan jangka panjang untuk mencapai keberhasilan terapi. Obat – obat utama yang digunakan dalam pengobatan gangguan ini adalah agen mood stabilizer, antipsikotik dan antidepresan. Pada studi ini dibahas mengenai farmakoterapi gangguan bipolar. Data-data yang digunakan diperoleh dengan penelusuran melalui internet. Berdasarkan hasil review dari 25 sumber data yang didapatkan berupa jurnal ilmiah, e-book dan guideline yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association dan NIMH. Litium merupakan agen lini pertama yang digunakan dalam pengobatan gangguan bipolar.Kata kunci: Bipolar, farmakoterapi, mood stabilizer, antipsikotik, antidepresan
Adverse Drug Events Pengunaan Valproat pada Penelitian Klinis Angela Aprilia Karyadi; Irma Melyani Puspitasari
Farmaka Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i2.32814

Abstract

Valproat adalah obat antiepilepsi generasi pertama yang banyak digunakan, terutama pada pengobatan epilepsi dan gangguan bipolar. Valproat memiliki spektrum aktivitas yang sangat luas, memiliki efikasi yang baik, dan secara farmakoekonomi efektif karena aman dan murah. Namun, adverse drug events (ADE) telah dilaporkan sehubungan dengan penggunaan asam valproat, baik sebagai monoterapi atau politerapi dengan obat antiepilepsi lain atau obat antipsikotik. Sebanyak 14 artikel yang memuat uji klinis dari berbagai jenis valproat serta turunannya yang meliputi asam valproat, sodium valproat, divalproat, divalproex sodium (asam valproat 1:1 sodium valproat), serta bentuk semi-sodium lainnya dari valproat telah dikumpulkan. Artikel-artikel tersebut memuat valproat sebagai obat uji, obat pembanding, serta ajuvan. Adverse drug events valproat adalah kenaikan berat badan, dehidrasi, disfungsi hati, gangguan pada sistem saraf berupa somnolen dan rasa kantuk, gangguan latensi P300 dan P100, tremor, akathisia, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, gangguan menstuasi, gangguan saluran pernapasan, serta gangguan kulit berupa kerontokan rambut dan alopecia. Gangguan metabolik berupa kenaikan berat badan adalah ADE yang paling sering ditemukan dalam pemakaian valproat.
Perbedaan Kadar Apolipoprotein (APO AI, APO AII, APO B, APO CII, DAN APO CII) Pada Subjek Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dan Tidak Terkontrol Wakhid Rizka Saputra; Irma Melyani Puspitasari; Dwi Yuniati Daulay
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42270

Abstract

Diabetes melitus penyakit metabolik yang sering disertai dengan komplikasi. Kondisi hiperglikemia kronis pada DM Tipe 2 dapat meningkatkan intraselular ROS dan menurunkan fungsi mitokondria untuk melepaskan ATP sehingga akan mengganggu sekresi insulin. Mekanisme peningkatan stress oksidatif akibat kondisi hiperglikemia dapat menyebabkan komplikasi baik mikrovaskular maupun makrovaskular. Pada DM Tipe 2 dapat terjadi dislipidemia yang ditandai dengan konsentrasi trigliserida plasma yang tinggi, HDL yang rendah, dan meningkatnya konsentrasi small dense LDL. Penyebab utama dislipidemia adalah peningkatan asam lemak bebas dari sel lemak yang mengalami resitensi insulin. Apolipoprotein penting dalam menjaga integritas struktural dan kelarutan lipoprotein dan memainkan peran penting dalam ikatan dengan reseptor lipoprotein dan regulasi enzim tertentu dalam metabolisme lipoprotein. Pada penelitian ini ingin dilihat hubungan kadar HbA1c dengan Apolipoprotein pada subjek diabetes melitus tipe 2 terkontorol dan tidak terkontrol. Penelitian dilakukan pada bulan Juni - Juli 2019 di laboratorium Klinik Prodia Kramat Jakarta, Wastukencana Bandung, dan Semarang. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar apolipoprotein pada diabetes terkontrol dan tidak terkontrol dengan berturut turut Apo B (p=0.003*), Apo CII (p=0.010*), Apo CIII (p=0.042*) sehingga dapat digunakan sebagai penanda komplikasi.
Review : Efek Samping Obat Antituberkulosis Oral Lini Pertama Pada Anak Khairunnisa, Shintani Ayunda; Puspitasari, Irma Melyani
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46054

Abstract

World Health Organization (WHO) melaporkan tingginya tingkat kematian pada anak (<15 tahun) akibat tuberkulosis pada tahun 2021. Tingginya kasus disebutkan karena akses yang buruk terhadap diagnosis dan pengobatan. Pengobatan tuberkulosis memerlukan penggunaan obat antituberkulosis (OAT) dalam jangka panjang, namun pembahasan tentang efek samping OAT tersebut terhadap anak jarang dibahas. Penulisan artikel review ini bertujuan untuk mengetahui efek samping OAT lini pertama pada anak untuk mencegah risiko efek samping serius hingga kematian pada anak akibat penggunaan OAT lini pertama. Artikel review ini disususn dari artikel, jurnal, atau laporan kasus terkait efek samping OAT lini pertama pada anak yang telah terbit pada situs Sciencedirect, Pubmed-NCBI, dan Google Scholar. Berdasarkan artikel yang ditinjau, didapatkan bahwa efek samping serius OAT lini pertama pada anak jarang terjadi, dengan efek samping yang paling banyak dilaporkan adalah hepatoksisitas. Walaupun kejadian efek samping pada anak jarang dilaporkan, tenaga kesehatan tetap harus waspada terhadap kemungkinan efek samping tersebut melalui follow up rutin pasien.
Suplemen Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Thurfah, Jihan Nurul; Puspitasari, Irma Melyani; Alfian, Sofa Dewi
Farmaka Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i2.37399

Abstract

Tidur adalah bagian penting dari rutinitas manusia untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Tidur dapat mengalami gangguan yang meningkatkan risiko beberapa penyakit medis dan mental. Gangguan tidur dapat diobati dengan obat golongan sedatif (penenang), selain itu terapi tambahan dapat digunakan untuk memperbaiki gangguan tidur. Artikel ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan merangkum jenis, dosis, dan efektivitas suplemen yang dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan. Pencarian literatur menggunakan basis data elektronik PubMed. Sebanyak 11 studi diidentifikasi dari 36 studi yang ditemukan. Empat dari enam suplemen menghasilkan efek signifikan terhadap penurunan gangguan tidur, yaitu melatonin, zat besi, carnosine, dan resveratrol, sedangkan vitamin D dan DHA (docosahexaenoic acid) tidak menghasilkan efek yang diharapkan. Dengan demikian, suplemen-suplemen di atas dapat digunakan sebagai terapi alternatif atau terapi tambahan untuk gangguan tidur.
PERSEPSI, PENGETAHUAN, DAN SIKAP MAHASISWA TERHADAP GANGGUAN KESEHATAN JIWA: REVIEW ARTIKEL DHEANDA, HILALLYA MAURIZKA; Puspitasari, Irma Melyani; Sinuraya, Rano Kurnia; Witriani, Witriani
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.27356

Abstract

Masalah kesehatan jiwa telah diidentifikasi oleh World Health Organization (WHO) sebagai prioritas pembangunan global. Stigma dan sikap yang negatif terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa masih banyak ditemukan di antara mahasiswa kesehatan dan jurusan lainnya. Hal ini jika terus dibiarkan dapat mempengaruhi perawatan mahasiswa yang menderita gangguan kesehatan jiwa. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai persepsi, pengetahuan dan sikap tentang gangguan kesehatan jiwa pada mahasiswa dan membandingkan apakah terdapat pengaruh kultur budaya yang mempengaruhi tiga aspek tersebut. Metode dalam penyusunan artikel ini dilakukan dengan penelusuran pustaka melalui database elektronik PubMed dengan kata kunci “perception, knowledge, attitude,  student, mental illness “ pada April 2020. Sebanyak 14 artike dari berbagai negara dengan rentang waktu publikasi 10 tahun terakhir didapatkan dari total 305 artikel pada pencarian awal. Sebanyak  6 dari 8 artikel menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki persepsi yang baik, 1 dari 3 artikel menunjukkan mahasiswa mempunyai tingkat pengetahuan yang baik dan 7 dari 9 artikel menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki sikap yang positif. Mahasiswa di negara maju cenderung memiliki tingkat persepsi, pengetahuan, dan sikap yang lebih baik.Kata kunci: gangguan kesehatan jiwa, mahasiswa, persepsi, pengetahuan, sikap.