Claim Missing Document
Check
Articles

Mallekke’ Toja: Pengambilan Air dari Tujuh Sumur Arajang di Kabupaten Bone Hesti Andriani; Susmihara, Susmihara; Hasaruddin, Hasaruddin
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i1.6652

Abstract

Studi ini mendokumentasikan kekayaan budaya lokal yang selama ini tersembunyi di Kabupaten Bone. Ini akan membantu pemerintah lokal untuk lebih memperhatikan keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia dengan mendukung dan mendorong pertumbuhan budaya di seluruh Indonesia di era globalisasi, khususnya di Kabupaten Bone. Diharapkan penelitian ini akan memberi tahu masyarakat luas bahwa masyarakat setempat memiliki banyak pesona budaya yang patut dilihat oleh dunia. Fokus penelitian ini adalah eksistensi dan perkembangan budaya di tengah arus modernisasi. Data dikumpulkan melalui observasi, rekam, catat, dokumentasi, dan wawancara dengan analisis deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi dan perkembangan ritual mallekke’ toja dapat dilakukan dengan cara yaitu: Pelestarian melalui generasi muda, adaptasi dengan teknologi dan media sosial, penyelenggaraan acara kebudayaan oleh pemerintah dan komunitas, integrasi dengan kegiatan kehidupan modern, makna sosial dan spiritualitas yang relevan, pemberdayaan komunitas adat, kesadaran global tentang pentingnya pelestarian budaya.
Sejarah Islam Masa Modern di Mesir (Pembaharu di Bidang Pendidikan) Andriani, Hesti; Susmihara, Susmihara
Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan Vol 16 No 1 (2024): Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-qalam.v16i1.2958

Abstract

This article discusses the history of modern Islam in Egypt as well as reformers in the field of education. This research uses library research with a qualitative approach. Egypt only became an Islamic city when Umar became caliph. Over time, Egypt experienced development in the modern era, marked by the emergence of reforming figures. Renewal in Islam is a necessity in life to overcome the life problems that society needs at that time. This reform was carried out by reforming figures who proved that Islam can answer society's problems in all times and Islamic teachings can make a positive contribution to every era's development. Educational reform was pioneered by figures with their own ideas about education, including: Muhammad Ali Pasha, Al-Tahtawi, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afgany, Ali Mubarak, Thaha Husain, and so on.
REFLEKSI TERHADAP PENJAJAHAN BANGSA BARAT DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN NEGARA-NEGARA ISLAM Hutagaluh, Oskar; Syukur, Syamzan; Susmihara, Susmihara
Borneo : Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2023): BORNEO: Journal of Islamic Studies
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/borneo.v3i2.1598

Abstract

This research sets out the problems faced by Muslims. So great was the struggle of Muslims in fighting for Islam, but this could not be achieved by Muslims because the three major Islamic empires experienced decline in various fields, such as politics, military, economics, science, and culture. This study aims to reflect on western colonization in Islamic countries and then explore the positive side. This study applies a qualitative method. The approach used is the historical approach. Based on this research, it was revealed that the decline that occurred in the Islamic world was caused by the Islamic kingdoms no longer having militant rulers and tough militaries, resulting in rebellions that were difficult to control. Meanwhile, the progress experienced by Western nations was due to developments made in the fields of science and civilization, which were previously neglected during the advancement of the three great Islamic empires, especially the Ottoman Empire. The value of reflection from this research is that Muslims will return to glory if they are able to master all lines, be they military, science, culture, economics, politics, or other strategic fields.
Rekonstruksi Islam Modern di Lebanon: Interaksi antara Agama, Negara, dan Gerakan Sosial Muh. Ilham Majid Dohe; Susmihara
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2556

Abstract

Kajian ini membahas dinamika sejarah Islam modern di Lebanon sebagai hasil interaksi kompleks antara kolonialisme, struktur politik sektarian, dan perubahan sosial internal komunitas Muslim. Latar belakang penelitian didasarkan pada kenyataan bahwa sejak berakhirnya kekuasaan Ottoman dan awal Mandat Prancis, Lebanon membentuk sistem politik konfensional yang membagi kekuasaan berdasarkan agama. Struktur ini, meskipun dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan politik, justru melahirkan sekterianisme dan ketimpangan sosial yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri proses pembentukan negara Lebanon, mengidentifikasi tokoh serta gerakan kunci dalam perkembangan Islam modern, dan menganalisis kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, serta pendidikan Islam di Lebanon kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode historis-deskriptif dengan pendekatan kualitatif, melalui telaah literatur terhadap sumber-sumber akademik dan dokumen sejarah modern Timur Tengah. Hasil kajian menunjukkan bahwa tokoh-tokoh seperti Sayyid Musa al-Sadr, Muhammad Husayn Fadlallah, dan Hassan Nasrallah berperan penting dalam membentuk kesadaran politik dan sosial umat Islam, khususnya komunitas Syiah. Gerakan Amal dan Hezbollah menjadi instrumen utama transformasi sosial dan politik. Lembaga Islam seperti al-Mabarrat Foundation dan Imam Sadr Foundation turut memperkuat peran pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Kesimpulannya, Islam modern Lebanon merupakan bentuk negosiasi antara tradisi dan modernitas yang menjadikan agama tidak sekadar sistem keyakinan, tetapi juga fondasi moral dan sosial dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan di tengah realitas politik sektarian.
Rekonseptualisasi Wilāyat al-Faqīh dalam Sistem Teokrasi Modern Iran: Kajian Kritis atas Legitimasi Ideologis, Stabilitas Politik, dan Tantangan Global Kontemporer A. M. Nur Atma Amir; Abdul Rahim Yunus; Susmihara
JSI: Jurnal Sejarah Islam Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Sejarah Islam
Publisher : Progam Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji ketahanan dan fleksibilitas sistem Wilāyat al-Faqīh sebagai model pemerintahan teokratis dalam konteks Republik Islam Iran. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana sistem ini mempertahankan legitimasi ideologisnya di tengah tekanan globalisasi dan tuntutan modernitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kepustakaan dengan analisis wacana kritis serta triangulasi data dari dokumen, wawancara, dan media digital. Hasil menunjukkan bahwa pendidikan agama meningkatkan partisipasi politik, sementara sanksi ekonomi, embargo teknologi, dan transformasi sosial pascarevolusi menciptakan tantangan serius bagi legitimasi Wilāyat al-Faqīh. Sistem ini tetap mampu menjaga stabilitas politik melalui otoritas religius, namun menghadapi resistensi dari kelompok muda dan digital natives. Kesimpulan menyatakan bahwa Wilāyat al-Faqīh merupakan sistem ideologis yang adaptif namun memerlukan reformasi partisipatif untuk menjawab tuntutan kontemporer.
Persentuhan Unsur-Unsur Historis, Budaya Lokal, dan Islam dalam Ritual Asyura di Desa Pallantikang Kec. Pattallassang Kab. Gowa Rahmawati; Nurlidiawati; Susmihara; Nuraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 13 No 02 (2025): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v13i02.61710

Abstract

The main problem discussed is how the harmony between historical elements, local culture, and Islam so that it gives birth to a new culture that reflects the harmony and alignment of the three? Next, it is broken down into sub-problems: 1) What is the background of the Ashura ritual in Pallantikang village? 2) What is the symbolic meaning in the Ashura ritual in Pallantikang village and 3) what is the reality of the harmony of historical elements, local traditions, and Islamic values ​​in the Ashura ritual of the community in Pattallassang village, Pattallassang sub-district, Gowa regency? This type of research is classified as qualitative with the research approach used being a historical, anthropological, sociological, and religious approach. Primary sources were obtained from religious and community leaders. While secondary data were obtained from related reading materials. The data collection methods were observation, interviews, and documentation. The results of the study show that the historical element is inseparable from the issue of a major disaster and epidemic that will hit the community so that there is an initiative to take preventive measures (tolak bala'), so coinciding with the day of ashura the community performs the ritual to ward off bala' until today this history is believed from generation to generation. The red and white porridge served during rituals symbolizes life. The reality of the interaction between these three elements lies in the ingredients used, the stories associated with them, the readings read, and the strong beliefs.   Pokok masalah yang dibahas adalah bagaimana keserasian antara unsur-unsur historis, budaya lokal, dan Islam sehingga melahirkan budaya baru mencerminkan keserasian dan keselarasan dari ketiganya? Selanjutnya di breakdown menjadi sub masalah: 1) Bagaimana latar belakang ritual asyura di desa Pallantikang? 2) Bagaimana makna simbolik dalam ritual asyura di desa Pallantikang dan 3) bagaimana bentuk realitas keserasian unsur historis, tradisi lokal, dan nilai Islam dalam ritual asyura masyarakat di desa Pattallassang kecamatan Pattallassang kabupaten Gowa? Jenis penelitian ini tergolong kualitatif dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan historis, antropologi, sosiologi, dan agama. Sumber primer diperoleh dari tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sedangkan data sekunder didapatkan dari bahan bacaan yang terkait. Metode pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur historisnya adalah tidak terlepas dari adanya isu akan adanya bencana besar dan wabah yang akan melanda masyarakat sehingga ada inisiatif untuk melakukan pencegahan (tolak bala’), maka bertepatan dengan hari asyura masyarakat melakukan ritual tolak bala’ hingga hari ini sejarah tersebut diyakini dari generasi ke generasi. Bubur warna merah putih yang disajikan saat ritual sebagai simbol kehidupan. Realitas persentuhan dari ketiga unsur tersebut terletak bahan yang digunakan, kisah yang dikaitkan, bacaan yang dibaca, serta keyakinan yang kuat.
Transformasi Sosial-Politik Dakwah Nabi Muhammad: Analisis Sosio-Historis Mekah-Madinah Andi Alif Afwan; Amrudin; Susmihara; Syamzan Syukur
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Publisher : LP3M INSTITUT KH YAZID KARIMULLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/aladalah.v4i2.1818

Abstract

Studies on the Prophet Muhammad’s da‘wah commonly approach the Meccan–Medinan period through normative-theological perspectives or descriptive historical narratives, leaving the socio-political dimension of transformation and its relevance to contemporary leadership insufficiently explored. This article aims to analyze the transformation of the Prophet Muhammad’s da‘wah from Mecca to Medina as a process of socio-political change using a socio-historical approach. This study employs qualitative library research, drawing on primary sources such as the Qur’an, hadith, and classical sirah literature, as well as secondary sources from contemporary scholarly works. Data are analyzed descriptively and analytically by reconstructing historical contexts and examining shifts in social structures, power relations, and prevailing values in Meccan and Medinan society.The findings reveal that the Meccan da‘wah functioned as a moral and social transformation movement that challenged tribalism, social inequality, and the legitimacy of the Quraysh elite, while simultaneously laying the ideological foundation of the early Muslim community. This transformation reached its institutional form in Medina through the formation of a plural and organized political community, as reflected in the Charter of Medina. The study argues that the success of the Prophet’s da‘wah was not solely religious but also socio-political, embodied in a model of prophetic leadership grounded in moral exemplarity, consultation (shura), justice, and social compassion. This article contributes to socio-political Islamic studies by offering a socio-historical interpretation of prophetic da‘wah and highlighting its relevance for contemporary leadership and governance.
Dampak dan Relevansi Dinamika Politik Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Konflik Politik yang Terjadi di Negara-Negara Muslim Era Moderen Nini Ismayani; Susmihara; Umar Sulaiman
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/mwj1qt81

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan dampak dinamika politik pemerintahan Ali khususnya setelah berakhirnya masa khulafaur rasyidin yaitu masa kepemimpinan Muawiyah di Dinasti Umayyah yang mengubah sistem pemerintahan dari bentuk demokrasi menjadi monarki, 2) menganalisis relevansi dinamika politik pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib dengan konflik politik yang terjadi di negara-negara muslim era moderen. Dalam menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan historis (sejarah), pendekatan politik, dan pendekatan agama. Penelitian ini tergolong library research dengan data deskriptif kualitatif yang dikumpulkan dengan mengutip, menyadur, dan menganalisis dengan menggunakan analisis isi (content analysis) terhadap literatur yang representatif dan mempunyai relevansi dengan masalah yang dibahas, kemudian mengulas, dan menyimpulkannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik politik pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib berakibat berdampak terhadap perubahan sistem pemerintahan dari bentuk khilafah menjadi dinasti. Dinamika politik tersebut ternyata memiliki relevansi dengan pemerintahan di negara-negara muslim era moderen seperti di Irak dan di Indonesia yang mengalami konflik politik yang sama yaitu berawal dari krisis legitimasi kekuasaan. 
POLITIK SIMBOLIK DAN KEKUASAAN: PEREBUTAN KALOMPOANG DAN INTERVENSI INGGRIS DI SULAWESI SELATAN 1812–1816 Susmihara; Nuraeni; Jusmiati; Muh. Ilham Majid Dohe
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2025): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i1.15101

Abstract

Penelitian ini mengkaji Politik Simbolik dan Kekuasaan: Perebutan Kalompoang dan Intervensi Inggris Di Sulawesi Selatan 1812–1816, dengan tujuan memahami pola kolonialisme adaptif yang terbentuk melalui interaksi politik dan simbolik antara kekuatan kolonial dan elite lokal. Pendekatan historis-politik digunakan untuk menganalisis sumber arsip kolonial Inggris-Belanda serta naskah lontarak yang merekam konflik dan diplomasi antar-kerajaan. Metode analisis historis dan tematik diterapkan untuk mengidentifikasi struktur kekuasaan, strategi kolonial, serta makna simbolik Kalompoang sebagai sumber legitimasi politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan Inggris bersifat oportunistik, memanfaatkan konflik lokal dan simbol adat untuk memperkuat pengaruhnya, namun gagal menciptakan stabilitas karena lemahnya pemahaman terhadap sistem sosial dan spiritual masyarakat Bugis-Makassar. Intervensi kolonial mempercepat transformasi ekonomi menuju perdagangan bebas, tetapi juga memicu fragmentasi sosial dan resistensi simbolik. Kesimpulannya, kekuasaan Inggris di Sulawesi Selatan merupakan bentuk kolonialisme negosiasional yang mencerminkan keseimbangan antara dominasi dan adaptasi. Studi ini menegaskan pentingnya analisis simbol dan budaya politik lokal dalam memahami dinamika kolonialisme di Indonesia Timur serta membuka ruang bagi kajian lanjutan tentang diplomasi adat dan ekonomi kolonial di wilayah maritim Nusantara.
The Significance of Lontara Bilang as Local Historiography in the Kingdom of Gowa Susmihara Susmihara; Nuraeni S; Lidya Megawati; Ahmad Habib Akramullah
Tarikhuna: Journal of History and History Education Vol 7, No 1 (2025): May 2025
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/thje.v7i1.11034

Abstract

As a living archive of the past, Indonesian history serves as a bridge connecting the past and present to reveal the wisdom and diversity of its people across the archipelago. South Sulawesi, as an integral part of this historical inheritance, has developed its own distinct narrative, including the existence of the Gowa Kingdom as a preserver of ancient traditions. Therefore, this research aims to further investigate and promote the Lontara Bilang script to enhance and broaden awareness of the history and values inherent in the cultural heritage of South Sulawesi, particularly within the context of the Gowa Kingdom. This research is a qualitative exploration employing descriptive analysis techniques. Data were collected through library research, involving the analysis of materials from library sources. The research process comprised Heuristics, Source Criticism, Interpretation and Historiography. The finsings of this investigation indicate that the significance of Lontara Bilang extends beyond its use in writing within the kingdom. More significantly, Lontara Bilang has played a crucial role in maintaining, reinforcing and preserving Gowa’s rich and historic cultural identity. The preservation of Lontara Bilang, as a custodian of the history and cultural heritage of the people of the archipelago, particularly the people of Gowa, must be preserved for the future. It should serve as a cultural symbol that embodies the unique identity of the people of South Sulawesi, especially Makassar or the Kingdom of Gowa at that time. Therefore, Lontara Bilang provodes a solid foundation and reference for the development of knowledge and science in the future.