Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pemberontakan PRRI dan Permesta: Ketegangan Politik Di Awal Orde Lama (1957-1958) Dayani, Subhan Rizki; Rohayati, Tati; Sujana, Ahmad Maftuh
WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 3 (2025): WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/wathan.v2i3.357

Abstract

Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Semesta) merupakan dua gerakan separatis yang mencerminkan puncak ketegangan politik dan militer di awal masa Orde Lama, khususnya pada periode 1957–1958. Artikel ini mengkaji latar belakang kemunculan kedua gerakan tersebut, yang dipicu oleh ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan politik dan ekonomi pemerintah pusat di Jakarta, serta dominasi kekuatan militer tertentu dalam tubuh Angkatan Darat. Melalui pendekatan historis dan analisis politik, tulisan ini menggambarkan dinamika konflik antara pusat dan daerah, peran aktor-aktor militer dan sipil, serta respons pemerintah dalam menanggulangi ancaman disintegrasi. Pemberontakan ini bukan hanya soal pengaruh regional, melainkan juga
DINASTI SELJUK DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM Alawiah, Tuti; Sofiatunnaziah, Sofiatunnaziah; Burhanudin, Burhanudin; Sujana, Ahmad Maftuh
Istoria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah Universitas Batanghari Vol 9, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/istoria.v9i2.255

Abstract

In the 11th century CE, the Islamic world faced a critical period marked by the decline of the Abbasid Caliphate, political fragmentation, and external pressures from non-Muslim powers. The Seljuk Dynasty, originating from the Oghuz Turks, emerged as a transformative force that reshaped the political and social landscape of the Islamic world. Under leaders such as Tughril Beg and Alp Arslan, the Seljuks consolidated power in Persia and Iraq, reinforced the authority of the Abbasid Caliphate, and expanded Islamic influence into Anatolia. The dynasty not only acted as a savior against external threats but also served as an internal unifier through administrative reforms, the establishment of educational institutions (such as the Nizamiyah Madrasahs), and the promotion of scientific development. This article aims to analyze the Seljuk Dynasty’s contributions to the medieval Islamic world, the factors behind their rise, and the dynamics of their eventual decline leading to political fragmentation. Utilizing historical approaches and analysis of primary and secondary sources, this study highlights the crucial role of the Seljuks in shaping classical Islamic civilization.
Tragedi Mei 1998: Bara Krisis Moneter, Api Sentimen Rasial, dan Jejak Reformasi yang Terbakar Aziz, Muhammad Ijlal; Mildan, Jidan; Hikam, Muhammad Wifqil; Sujana, Ahmad Maftuh
Jimmi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin Vol. 2 No. 3 (2025): JIMMI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/jimmi.v2i3.346

Abstract

Jakarta sebagai jantung Indonesia, menjadi saksi bisu trauma mendalam akibat peristiwa berdarah Mei 1998. Krisis moneter yang melanda Asia, memicu ketidakpuasan meluas terhadap pemerintahan Orde Baru dan berujung pada kerusuhan, penjarahan, serta kekerasan yang meninggalkan bekas luka mendalam pada masyarakat, khususnya etnis Tionghoa. Penulisan ini menganalisis penyelesaian sosial, politik, dan ekonomi dari insiden tersebut, serta mengkaji upaya penyembuhan luka kolektif yang dilakukan oleh beberapa warga Jakarta. Metode analisis berupa kajian terhadap rangkaian peristiwa, pola penyebaran kerusuhan, peran provokator, serta respons aparat keamanan, juga meninjau implikasi pasca-kerusuhan terhadap reformasi politik dan ekonomi di Indonesia. Peristiwa Mei 1998 merupakan titik balik penting dalam sejarah Indonesia, mengakhiri pemerintahan otoriter dan membuka jalan bagi demokratisasi serta perubahan sosial-politik yang mendalam.
Kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq dalam Masa Transisi Pasca Wafatnya Nabi Muhammad Abdilah, Aida; Sujana, Achmad Maftuh; Muflihah, Elya; Putri, Eka Dalilah; Suhanda, Iyu Ibda Amaria; Ramadhan, Fairuz Kenzy
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 4 No 3: Oktober (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v4i3.1752

Abstract

Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah pertama umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 11 H (632 M), merupakan periode defenitif yang menguji fondasi negara Islam. Terpilihnya beliau di tengah krisis suksesi kepemimpinan politik di Saqifah Bani Sa’idah segera diikuti oleh tantangan-tantangan eksistensial. Beliau dihadapkan pada gelombang masif kemurtadan (Riddah) di berbagai suku Arab, penolakan sistem pembayaran zakat, dan kemunculan nabi-nabi palsu seperti Musailamah al-Kadzdzab. Menyadari bahwa membiarkan pembangkangan terhadap zakat adalah bentuk penolakan terhadap hukum Islam, Abu Bakar mengambil sikap yang sangat tegas dan tidak kompromi, melancarkan Perang Riddah yang berhasil mengembalikan stabilitas dan keutuhan politik umat. Di bidang militer eksternal, beliau juga  menunjukkan ketegasan strategis dengan melanjutkan amanah Nabi untuk mengirim pasukan Usamah bin Zaid ke wilayah Syam. Selain pemulihan keamanan, kontribusi paling transformatif beliau terletak pada kebijakan keagamaan. Atas usulan para sahabat setelah jatuhnya banyak penghafal dalam Perang Yamamah, Abu Bakar menginisiasi penghimpunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam satu mushaf, sebuah tindakan yang esensial dan strategis untuk menjaga kemurnian dan keaslian sumber utama ajaran Islam. Secara tata kelola, pemerintahan Abu Bakar dibangun di atas nilai-nilai musyawarah (syura), keadilan, dan kesederhanaan, menjadikannya teladan kepemimpinan yang berorientasi pada pengabdian. Meskipun masa jabatannya singkat, kepemimpinan Abu Bakar berhasil mengatasi periode krisis, mengokohkan akidah umat, dan meletakkan pilar-pilar administrasi yang kokoh bagi kekhalifahan  Rasyidin berikutnya. Metode penelitian yang dipakai dalam artikel ini adalah metode kepustakaan (library research). Pendekatan ini dilakukan dengan mengkaji berbagai sumber tertulis yang relevan, untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai peristiwa dan kebijakan pada awal masa kekhalifahan. Terdiri dari buku ilmiah, jurnal, artikel akademik, dan kajian modern yang membahas aspek sejarah, sosial, politik, dan keagamaan pada masa Khulafaur Rasyidin. dalam artikel ini mendapatkan hasil bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq terpilih sebagai Khalifah pertama (al-Khulafa al-Rasyidin) melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah, mengatasi krisis suksesi pasca wafatnya Nabi. Masa kepemimpinannya berlangsung singkat (sekitar 2 tahun 3 bulan). Beliau menetapkan prinsip fundamental bahwa ketaatan rakyat hanya berlaku selama khalifah menaati Allah dan Rasul-Nya, mencerminkan sistem politik musyawarah (syura) dalam kerangka syariat, bukan kekuasaan mutlak. Etika kepemimpinannya menonjolkan kesederhanaan, keadilan, dan amanah, menolak hidup mewah dan memprioritaskan kesejahteraan rakyat.
Pesantren Sukamanah pada Kepemimpinan K.H ZAINAL Mustofa Sebagai Benteng Jihad Islam Pada Tahun 1927-1944 M Hakim, Faiha Kamila Kharisma; Anggraeni, Lia; Abdiyatuzzahro, Devi; Sujana, Ahmad Maftuh
Invention: Journal Research and Education Studies Volume 6 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : CV. PUSDIKRA MITRA JAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/invention.v6i1.2439

Abstract

Islam telah memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia sejak kedatangannya. Berbagai teori menjelaskan asal-usul Islam di Nusantara, termasuk teori Gujarat, Mekah, dan Persia. Kedatangan Islam membawa perubahan signifikan dalam aspek sosial dan pendidikan, terutama melalui sistem pesantren yang menjadi pusat pembelajaran agama. Sebelum Islam, pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha dan terbatas pada kalangan bangsawan. Dengan hadirnya Islam, pesantren berkembang sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan agama, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Selain sebagai pusat pendidikan, pesantren juga berperan dalam dakwah dan perlawanan terhadap kolonialisme. Contoh nyata adalah Pesantren Sukamanah di bawah pimpinan K.H. Zaenal Mustafa yang menentang kebijakan Jepang. Hingga kini, pesantren tetap menjadi bagian penting dari sistem pendidikan Islam di Indonesia.
KOMITMEN NAHDATUL ULAMA TERHADAP ISU PALESTINA: DARI ERA KOLONIAL SAMPAI KONTEMPORER Abel Octavia Suman; Heni Fitrotul Zulhizah; Dea Safitri; Achmad Maftuh Sujana
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas komitmen Nahdlatul Ulama (NU) terhadap isu Palestina dari era kolonial hingga era kontemporer. Sejak awal berdirinya pada 1926, NU telah menunjukkan perhatian terhadap perjuangan rakyat Palestina sebagai bagian dari solidaritas keumatan dan kemanusiaan. Sikap NU terhadap Palestina pertama kali tampak secara resmi pada 12 November 1938, ketika Ketua Umum PBNU Mahfudz Shiddiq menyerukan dukungan terhadap rakyat Palestina yang mengalami penindasan oleh Zionisme. Komitmen ini terus berlanjut dan berkembang dalam konteks sosial-politik Indonesia yang dinamis, mulai dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi. Dalam perspektif NU, negara memiliki kewajiban fakultatif untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan, termasuk dalam merespons isu kemanusiaan global. NU mengedepankan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah, prinsip musawwah (kesetaraan), dan nilai-nilai Hak Asasi Manusia dalam merespons konflik Palestina. Di era kontemporer, NU menyesuaikan strategi perjuangannya dengan konteks global melalui diplomasi, penelitian, kolaborasi lintas organisasi, dan narasi perdamaian berbasis nilai-nilai tradisional. Kajian ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya konsisten, tetapi juga adaptif dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina sepanjang sejarahnya. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan historis, yang bertujuan untuk pemahaman yang komprehensif mengenai komitmen nahdatul ulama mengenai isu-isu palestina dari era kolonial sampai era kontemporer.
Integrasi Nilai-Nilai Sejarah Dan Hukum Dalam Kepemimpinan Khalifah Ali Bin Abi Thalib Muhamad Rezky; Nadiyatu Rahmah; Nafisa Dwi Suryaningtias; Desty Malika; Achmad Maftuh Sujana
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2514

Abstract

Penelitian ini membahas integrasi nilai-nilai sejarah dan hukum dalam kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib, salah satu tokoh utama dalam sejarah Islam yang dikenal karena komitmennya terhadap keadilan dan kebenaran. Melalui metode studi literatur (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini menelaah bagaimana Ali menggabungkan nilai-nilai sejarah kenabian dengan prinsip hukum Islam dalam sistem pemerintahannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ali menegakkan keadilan hukum tanpa diskriminasi, menerapkan prinsip syura (musyawarah), dan menolak segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Integrasi antara sejarah dan hukum tersebut melahirkan tatanan pemerintahan yang berlandaskan moralitas, kejujuran, dan kesetaraan sosial. Nilai-nilai hukum Ali tetap relevan di era modern karena sejalan dengan prinsip rule of law, pemerintahan yang bersih, dan perlindungan hak asasi manusia
Peran sosial perempuan pada zaman Rasulullah SAW hingga zaman modern Khoirul Anisa; Achmad Maftuh Sujana; Latifah Fitria; Nailah Rahmania; Hailala Najwa Isba
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 3 (2025): Thirteenth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas peran sosial perempuan dalam Islam dari zaman Rasulullah SAW hingga era modern dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi pustaka. Fokus kajian diarahkan pada perubahan kedudukan perempuan, kontribusinya dalam dakwah, pendidikan, dan aktivitas sosial keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak masa awal Islam, perempuan telah memiliki peran strategis dalam membangun moral dan intelektual masyarakat, sebagaimana ditunjukkan oleh Siti Khadijah dan Aisyah R.A. Di Indonesia, peran tersebut dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti Nyai Nur Chadijah dan Siti Walidah Ahmad Dahlan melalui pendidikan dan pemberdayaan umat. Pada era modern, perempuan tampil sebagai pendakwah dan pendidik yang memanfaatkan teknologi digital dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, peran sosial perempuan dalam Islam bersifat dinamis dan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman, namun tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat Islam.
Kajian historis etika kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam Peradaban Intelektual Islam Nasywa Khairunnisa; Achmad Maftuh Sujana; Riffati Hikmi Mori; Azwa Naila Fath; Hanifara Dyasti Rahayu
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 3 (2025): Thirteenth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara historis etika, moral, dan intelektual kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam konteks pembentukan peradaban Islam awal. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini menelusuri nilai-nilai kepemimpinan yang tercermin dalam prinsip keadilan sosial, kejujuran politik, dan kebijaksanaan hukum, serta dimensi moral seperti keberanian, keikhlasan, dan integritas diri. Hasil kajian menunjukkan bahwa Khalifah Ali memadukan kekuatan akal, spiritualitas, dan moralitas dalam mengelola pemerintahan, menjadikannya model kepemimpinan yang berorientasi pada kebenaran dan kemaslahatan umat. Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk diterapkan pada sistem pemerintahan modern, pendidikan karakter, dan pengembangan peradaban intelektual kontemporer. Dengan demikian, kepemimpinan Ali bin Abi Thalib menjadi simbol harmonisasi antara ilmu, iman, dan akhlak sebagai dasar kemajuan peradaban Islam.
Pengaruh model pendidikan terpadu Masjid Nabawi terhadap pembentukan karakter generasi pertama muslim Sabila Sofiannisa; Achmad Maftuh Sujana; Najmudin; Leni Amelia; Seliyana Heryani; Muhammad Eka Anwaril Ikhsan
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 3 (2025): Thirteenth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara sistematis bukti-bukti empiris mengenai model pendidikan terpadu yang diterapkan di Masjid Nabawi oleh Nabi Muhammad ﷺ serta pengaruhnya terhadap pembentukan karakter generasi pertama Muslim (para Sahabat). Dengan menggunakan pendekatan tinjauan sistematis, penelitian ini menganalisis sumber-sumber Islam klasik, karya ilmiah kontemporer, dan studi-studi historis untuk mengidentifikasi komponen-komponen utama pendidikan yang dipraktikkan di Masjid Nabawi, meliputi pendidikan spiritual, pengembangan intelektual, pelatihan moral, pemberdayaan sosial, dan pembentukan kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran terpadu yang menggabungkan bimbingan spiritual, pendampingan (mentorship), keteladanan Nabi, serta keterlibatan komunitas secara signifikan membentuk para Sahabat menjadi generasi yang memiliki integritas kuat, ketangguhan, kepedulian, dan kemampuan kepemimpinan strategis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model Masjid Nabawi tetap relevan bagi pendidikan Islam modern dan menawarkan kerangka holistik untuk program pembinaan karakter.