cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
PROFIL KLINIKOPATOLOGI KARSINOMA SEL BASAL DI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG TAHUN 2016-2021 Retnani, Diah Prabawati; Anugrah Putri, Deka Miftalia; Putri, Berlian Anggraeni
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.03.4

Abstract

Karsinoma sel basal (KSB) merupakan karsinoma keratinosit dengan insiden tertinggi, terutama pada populasi kulit putih. Insiden karsinoma jenis ini meningkat setiap tahun. Penelitian epidemiologi tentang profil klinikopatologi kasus KSB di RSUD dr. Saiful Anwar Malang belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil klinikopatologi kasus KSB di RSUD dr. Saiful Anwar Malang periode tahun 2016 sampai dengan tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui jumlah kasus KSB di RSUD dr. Saiful Anwar selama tahun 2016 sampai dengan tahun 2021. Data diperoleh dari rekam medis biopsi spesimen dari Instalasi Patologi Anatomi RSUD dr. Saiful Anwar Malang. Data biopsi spesimen tersebut meliputi jenis kelamin, usia, lokasi, dan tipe histopatologi serta tingkat rekurensi yang dibagi menjadi rendah dan tinggi. Terdapat 66 kasus biopsi kulit yang terdiri dari 35 laki-laki dan 31 perempuan. Rentang usia yang memiliki kejadian KSB tertinggi adalah antara usia 61-70 tahun. Area predileksi kanker yang paling banyak adalah hidung. Tipe histopatologi terbanyak yang ditemukan pada kelompok dengan angka rekurensi rendah adalah tipe nodular, dan pada kelompok dengan angka rekurensi tinggi adalah tipe basosquamous.
EFEK PEMBERIAN THYMOQUINONE TERHADAP JUMLAH SEL MAKROFAG PADA PARU TIKUS YANG DIINFEKSI BAKTERI Mycobacterium tuberculosis Angelina, Aina; Iskandar, Agustin; Rambe, Annisa Fadhila Aurelia; Kusuma, Ihda Dian; Dewi, Rose Khasana; Olivianto, Ery
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.03.1

Abstract

Penyakit tuberkulosis merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Hal ini karena  banyaknya kasus resistensi OAT. Imunomodulator dapat meningkatan sistem imun dan membantu pengobatan tuberkulosis. Thymoquinone adalah salah satu komponen aktif dari jintan hitam yang dapat digunakan sebagai imunomodulator. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek thymoquinone terhadap jumlah sel makrofag pada paru tikus (Rattus norvegicus) model tuberkulosis yang diamati secara mikroskopis. Tikus dibagi menjadi sepuluh kelompok yaitu lima kelompok perlakuan 14 hari dan lima kelompok perlakuan 21 hari. Tikus diinokulasi oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis  secara intra-trakeal. Thymoquinone diberikan per oral pada kelompok perlakuan dengan tiga dosis berbeda (25 µg/kgBB, 50 µg/kgBB, dan 75 µg/kgBB).  Pengamatan jumlah sel makrofag dilakukan dengan pulasan imunohistokimia menggunakan antibodi CD68. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian thymoquinone pada dosis 50 µg/kgBB dapat meningkatkan jumlah sel makrofag pada paru tikus model TB. Hasil analisis oneway ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan pada kelompok perlakuan 21 hari (p =  0,007;α < 0,05) sedangkan pada kelompok perlakuan 14 hari tidak didapatkan perbedaan signifikan. Kesimpulan penelitian ini ialah pemberian thymoquinone selama 21 hari dapat meningkatkan jumlah sel makrofag pada paru tikus yang diinokulasi bakteri Mycobacterium tuberculosis.
PROFIL FAKTOR RISIKO DAN GAMBARAN DERMOSKOPI LESI AWAL KEGANASAN KULIT Yuniaswan, Anggun Putri; Widiatmoko, Arif; Ekasari, Dhany Prafita; Hidayat, Deriel Elka
Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2023.010.04.5

Abstract

Keganasan kulit merupakan salah satu jenis keganasan yang paling sering terjadi. Gambaran lesi awal keganasan kulit seringkali tidak spesifik sehingga terlambat dikenali. Konfirmasi keganasan kulit dapat dilakukan dengan pemeriksaan dermoskopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi profil faktor risiko dan gambaran dermoskopi lesi awal keganasan kulit. Penelitian bersifat deskriptif observasional dengan metode total sampling dari survei yang dilakukan pada masyarakat awam. Variabel faktor risiko yang dianalisis meliputi tempat kerja (di dalam atau luar ruangan), durasi paparan sinar matahari, penggunaan tabir surya atau pelindung lain terhadap sinar matahari. Responden berjumlah 559 orang dengan 9  responden memiliki hasil pemeriksaan dermoskopi yang mengarah pada keganasan kulit. Kecurigaan diagnosis mengarah pada melanoma maligna ditemukan pada 8 responden (88,89%) dan 1 responden (11,11%) ke arah karsinoma sel basal. Sebanyak 33,3% (3 responden) dari kelompok dengan pemeriksaan dermoskopi mengarah pada keganasan memiliki tahi lalat yang mudah berdarah. Sebanyak 76% responden terpapar sinar matahari dengan durasi 1-2 jam per hari, tidak rutin menggunakan tabir surya (52,1%) dan alat pelindung lain terhadap sinar matahari (58,1%). Berdasarkan analisis Chi square tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada masing-masing faktor risiko antara kelompok responden dengan dermoskopi yang mengarah ke keganasan dan normal. Pada studi ini disimpulkan bahwa durasi paparan sinar matahari dan penggunaan tabir surya tidak berbeda secara signifikan antara kelompok keganasan dengan kelompok normal. Tahi lalat yang mudah berdarah merupakan lesi awal keganasan kulit yang tersering dijumpai dan dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan dermoskopi sebagai skrining awal.  
HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN A1C DAN NON ARTERITIK ANTERIOR ISKEMIK OPTIK NEUROPATI PADA PASIEN SINDROMA METABOLIK Prayitnaningsih, Seskoati; Rahman, Yeni; Hamid, Aulia Abdul; Rosandi, Rulli
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.01.2

Abstract

Kebutaan merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan diperkirakan akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hemoglobin A1c (HbA1c) adalah komponen hemoglobin yang berikatan dengan glukosa dan dapat memprediksi penyakit mikrovaskuler pada pasien diabetes. HbA1c juga diharapkan dapat menjadi biomarker untuk Neuropati Optik Iskemik Anterior Anterior (NAAION) pada pasien sindrom metabolik (SM). Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara HbA1c dan NAAION. Penelitian ini melibatkan 45 pasien yang dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol (15 pasien, 30 mata), kelompok pasien SM tanpa NAAION (15 pasien, 30 mata), dan kelompok pasien SM dengan NAAION (15 pasien, 22 mata). Evaluasi saraf optik meliputi retinal nerve fiber layer (RNFL) dari OCT, sensitivitas kontras dari tes Pelli Robson, dan penilaian cacat lapang pandang (VFD) dari perimetri Humprey. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Kruskal-Wallis dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar HbA1c berbeda secara signifikan di antara ketiga kelompok (p = 0,000). Kadar HbA1c rata-rata adalah 5,37% untuk kelompok kontrol, 6,75% untuk pasien MetS tanpa NAAION, dan 7,99% untuk pasien MetS dengan NAAION. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara HbA1c dan defek lapang pandang (p = 0,000, r = -0,568), dan antara HbA1c dan sensitivitas kontras (p = 0,000, r = -0,524). Akan tetapi, terdapat korelasi positif yang signifikan antara HbA1c dan RNFL.
KORELASI PROFIL HEMATOLOGI DAN TROMBOPOIETIN DENGAN TERJADINYA PERDARAHAN PADA PASIEN SIROSIS HEPATIS Firani, Novi Khila; Fatonah, Siti; Wardhani, Shinta Oktya; Supriono; Gonius, Andry; Mustofa Aidid
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.03.2

Abstract

Sirosis hepatis adalah penyakit kronis hati yang ditandai adanya fibrosis hati yang dapat menyebabkan abnormalitas fungsi hati baik pada metabolisme maupun sintesis faktor koagulasi. Perdarahan akut saluran cerna atas merupakan akibat hipertensi portal dan kegagalan fungsi hati memproduksi faktor pembekuan darah pada sirosis hepatis. Belum diketahui bagaimana korelasi parameter hematologi dan trombopoietin dengan terjadinya perdarahan pasien sirosis hepatis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi kadar hemoglobin, leukosit, trombosit dan trombopoietin dengan terjadinya perdarahan pada pasien dengan sirosis hepatis. Desain studi ini adalah observasional analitik pada pasien sirosis hepatis yang dirawat di RSUD dr. Saiful Anwar Malang, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis statistik menggunakan uji komparasi dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian didapatkan sejumlah 35 orang pasien sirosis hepatis. Kadar trombopoietin yang lebih tinggi pada pasien sirosis yang mengalami perdarahan dibandingkan pasien sirosis tanpa perdarahan. Kadar hemoglobin lebih rendah pada pasien sirosis yang mengalami perdarahan dibandingkan yang tanpa perdarahan. Terdapat ko relasi yang bermakna antara kadar hemoglobin (r = -0,653; p < 0,05) dan kadar trombopoietin (r = 0,355; p < 0,05) dengan terjadinya perdarahan pasien sirosis hepatis. Tidak ada perbedaan yang signifikan kadar leukosit dan trombosit pada pasien sirosis yang mengalami perdarahan dan tanpa perdarahan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi perdarahan pada pasien sirosis hepatis berkorelasi dengan penurunan kadar hemoglobin dan peningkatan kadar trombopoietin.
JUMLAH MONOSIT, KADAR INTERLEUKIN-6, DAN KADAR FAKTOR PENGHAMBAT MIGRASI MAKROFAG LEBIH TINGGI PADA KONDISI PREEKLAMPSIA DENGAN SEPSIS Rahardjo, Bambang; Mustofa, Edy; Sanggelorang, Margie Cassie; Wati, Linda Ratna
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.1

Abstract

Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg, proteinuria, dan edema, yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Penyebab terjadinya preeklampsia tidak diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan terkait dengan respons inflamasi sistemik. Monosit dan makrofag yang telah distimulasi oleh endotoksin akan menghasilkan interleukin-6 (IL-6) yang dapat  memicu respons inflamasi berlebih, dan mungkin memainkan peran sentral dalam respons inflamasi pada preeklampsia dan sepsis.  Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah sel monosit, kadar IL-6, dan kadar macrophage migration inhibitory factors (MIF) pada preeklampsia dan preeklamsia dengan sepsis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional. Sampel darah dikumpulkan dari partisipan di RSUD dr. Saiful Anwar Malang dan Bangil yang dikategorikan dalam kelompok normotensif, preeklampsia, dan preeklampsia dengan sepsis. Sel monosit dinilai pada hitung darah lengkap dengan metode flow cytometry. Kadar IL-6 dan kadar MIF dinilai menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel monosit, kadar IL-6, dan MIF pada kelompok preeklampsia dengan sepsis secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol (p < 0,001) dan preeklampsia (p < 0,001).  Didapatkan hubungan yang signifikan antara jumlah monosit dengan  kadar IL-6 (r = 0,781; p < 0,001), jumlah monosit dengan kadar MIF (r = 0,798; p < 0,001), dan kadar IL-6 dengan kadar MIF (r = 0,654; p = 0,003)  pada kelompok preeklampsia dengan sepsis. Pada kondisi preeklamsia dengan sepsis, peningkatan jumlah sel monosit dan MIF dapat memicu peningkatan kadar IL-6.
Laporan Kasus: FENITOIN SEBAGAI PENYEBAB DRUG REACTION WITH EOSINOPHILIA AND SYSTEMIC SYMPTOMS PADA PASIEN EPILEPSI: TANTANGAN DIAGNOSIS DAN ETIOLOGI Brahmanti, Herwinda; Pratita, Raras
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.04.7

Abstract

Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom (DRESS) merupakan adverse-drug reaction (ADR) yang ditandai dengan erupsi eritematosa, demam, kelainan hematologi dan keterlibatan organ dalam. Sindrom DRESS sering disebabkan oleh obat (antibiotik, anti inflamasi non steroid, obat anti epilepsi, dan anti HIV), namun juga dapat disebabkan oleh koinfeksi virus (Human Herpes Virus-6/HHV-6). Tujuan penulisan kasus ini adalah untuk menambah kewaspadaan klinis mengenai kemungkinan terjadinya ADR saat pemberian terapi pada pasien. Pada kasus ini, seorang perempuan usia 19 tahun dengan keluhan bercak kemerahan disertai gatal di seluruh tubuh. Keluhan dirasakan 2 minggu setelah mengkonsumsi obat fenitoin. Demam 1 hari sebelum munculnya bercak merah serta didapatkan adanya bengkak pada kedua kelopak mata. Pemeriksaan  laboratorium menunjukkan adanya eosinophilia dan peningkatan fungsi liver. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium lalu dilakukan pemeriksaan skoring DRESS dengan memakai RegiSCAR didapatkan skor total 5 dengan kesimpulan probable DRESS. Pasien didiagnosis dengan DRESS akibat obat yang dicurigai sebagai penyebab yaitu fenitoin. Pasien mendapat terapi oral methylprednisolone dan menghentikan konsumsi fenitoin. Pada pemantauan hari ke-8 didapatkan adanya perbaikan. Methylprednisolon kemudian diturunkan secara bertahap. Sindrom DRESS memiliki gambaran manifestasi klinis yang serupa dengan penyakit lain. Penegakan diagnosis dan etiologi sangat penting untuk menentukan tatalaksana yang tepat dan menekan mortalitas.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN DERAJAT KEPARAHAN SINDROMA PRAMENSTRUASI MAHASISWI TINGKAT AKHIR SARJANA KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA DI MASA PANDEMI COVID-19 Maulidya, Ajeng Khamara; Gumanti, Kentri Anggarina; Kurnianingsih, Nia
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.04.4

Abstract

Pandemi Corona Virus Diseases-19 (COVID-19) memberikan perubahan yang signifikan bagi dunia pendidikan termasuk pembelajaran di perguruan tinggi. Penyesuaian strategi pembelajaran baru memberikan tekanan stres bagi mahasiswa. Dampak tersebut sangat bermakna pada mahasiswa kesehatan di tahun terakhir. Stres dapat berpengaruh terhadap timbulnya sindrom pramenstruasi berupa sejumlah gejala fisik dan psikis mengganggu yang muncul sebelum dan selama menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan derajat keparahan sindrom pramenstruasi pada mahasiswi tingkat akhir Program Studi Sarjana Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sejumlah 72 responden dari mahasiswa yang terdaftar di tingkat akhir Program Studi Sarjana Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, mengisi kuesioner yang terdiri dari data sosiodemografi, instrumen Perceived Stress Scale (PSS) dan Shortened Premenstrual Assesment Form (SPAF). Statistik deskriptif dilakukan untuk analisis data sosiodemografi, klasifikasi derajat stres dan sindrom pramenstruasi. Uji Korelasi rank Spearman digunakan untuk analisis hubungan kedua variabel. Sejumlah 66,7% responden berada dalam kategori stres sedang. Sindrom pramenstruasi derajat berat dialami oleh 50% responden. Tingkat stres berhubungan dengan derajat keparahan sindrom pramenstruasi (p = 0,000, r = 0,698). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres maka tingkat gejala sindrom pramenstruasi yang dialami menjadi semakin berat.
Tinjauan Literatur: KARAKTERISTIK GAIT PADA PASIEN OBESITAS: LAPORAN KASUS BERBASIS BUKTI Wijaya, Pratama Wicaksana; Kurniarobbi, Jull; Laily, Inarota
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.04.8

Abstract

Obesitas atau kondisi kelebihan berat badan telah berkembang menjadi epidemi. Secara khusus, kelebihan massa tubuh diketahui berpengaruh pada biomekanik gerak dan aktivitas hidup sehari-hari, seperti berjalan, berdiri, dan membungkuk. Gangguan gait atau cara seseorang berjalan dapat berpengaruh pada kualitas hidup dan membatasi kemandirian pribadi. Laporan ini bertujuan untuk melakukan telaah kritis untuk melihat apakah ada perbedaan karakteristik gait pada pasien dewasa dengan obesitas apabila dibandingkan dengan pasien dengan berat badan normal. Pencarian literatur komprehensif dilakukan secara daring pada tanggal 29 Maret hingga 30 Maret 2023 menggunakan kata kunci yang sesuai pada basis data PubMed, Embase, dan Cochrane Library. Semua abstrak dan judul dari hasil pencarian awal disaring, ditinjau, dan dinilai menggunakan instrumen telaah kritis oleh The Joanna Briggs Institute (JBI). Lima studi cross sectional memenuhi kriteria inklusi dan dianggap memenuhi syarat untuk laporan kasus ini. Pada pasien obesitas double support time dan double support stance ratio lebih besar, dengan lebar langkah dan irama lebih sedikit. Pasien dengan obesitas juga memiliki perbedaan kinematik sendi seperti fleksi lutut yang lebih kecil dan gerakan pergelangan kaki yang lebih sempit. Karakteristik kinetik berbeda secara statistik dengan sendi lutut dan pergelangan kaki yang menerima peningkatan gaya berbeda. Berdasarkan studi dapat disimpulkan bahwa pasien dewasa dengan obesitas memiliki karakteristik gait yang khusus jika dibandingkan dengan kondisi normal. Karakteristik gait dapat digunakan sebagai informasi dalam menentukan diagnosis, memilih rekomendasi terapi dan menilai evaluasi serta monitoring pasien obesitas.
HUBUNGAN ASUPAN SERAT DAN LAMA SAKIT DENGAN DERAJAT LUKA KAKI DIABETIK Ariestiningsih, Ayuningtyas Dian; Hariyanto, Amalia Maharani Nuril; Putri, Ni Made Dilla Agustini; Azizah, Fitria Rizki Nur; Ningtias, Harwinda Ajeng Ayu
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.04.3

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronik yang apabila tidak terkontrol, dapat menyebabkan komplikasi, salah satunya adalah neuropati (gangguan saraf) dengan manifestasi terseringnya adalah luka kaki diabetik dengan derajat luka 0 sampai dengan 5. Faktor yang dapat memengaruhi derajat luka kaki diabetik di antaranya asupan serat dan lama sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan serat dan lama sakit dengan derajat luka diabetisi. Rancangan penelitian menggunakan cross-sectional dengan total sampling sebanyak 15 responden di klinik Pedis Care Kota Malang. Data yang diperoleh dilakukan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan serat tergolong kurang, lama sakit paling banyak lebih dari 5 tahun, dan derajat luka kaki diabetik paling banyak pada grade 1. Tidak terdapat hubungan asupan serat dengan derajat luka kaki diabetik (p = 0,640). Terdapat hubungan lama sakit dengan derajat luka kaki diabetik (p = 0,003). Simpulan penelitian ini adalah derajat luka kaki diabetik tidak dipengaruhi oleh asupan serat, namun dipengaruhi oleh lama sakit DM.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2024): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 2 (2021): Majalah Kesehatan Vol 8, No 1 (2021): Majalah Kesehatan Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Vol 5, No 4 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran Vol 4, No 4 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 3 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 2 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 4, No 1 (2017): MAJALAH KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN Vol 3, No 4 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 3 (2016): MAJALAH KESEHATAN Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 4 (2014) Vol 1, No 3 (2014) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue