cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaconmw@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi, STIKES Mandala Waluya Kendari Jalan A.H Nasution No. G-37, Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
ISSN : 24426032     EISSN : 25989979     DOI : 10.35311
Core Subject : Health,
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia merupakan jurnal (Open Journal System) untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia telah memiliki ISSN cetak : 2442 - 6032 dan ISSN online : 2598-9979 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia terbit 2 kali setahun (Bulan Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
Cost Effectiveness Analysis of Antibiotics in Appendicitis Surgery Patients at Kediri City Hospital Restyana, Anggi; Admaja, Wika; Wibisono, Adi
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.617

Abstract

Pre and post-appendicitis guideline therapy include broad-spectrum antibiotics before surgery, appendectomy (laparoscopic or open), and follow-up antibiotics post-surgery in complicated cases of appendicitis. The incidence of appendicitis is estimated to be around 100 cases per 100,000 people per year, with a consistent incidence rate in Western countries and an increasing trend in developing regions. In Indonesia, there are 24.9 cases of acute appendicitis per 10,000 people. The use of antibiotics in appendicitis surgery has been widely used. In most studies, it is known that the most widely used types of prophylactic antibiotics are second or third generation cephalosporins or a combination of metronidazole, either given as a single dose, two or three doses. However, there has been no research on direct comparisons between antibiotics. Most studies have not found significant differences in the incidence of SSI. In Indonesia, health financing uses the National Health Insurance system which requires cost-effective therapy. This study aims to determine the cost-effectiveness between the use of cefoperazone-metronidazole and ceftriaxone. The perspective in this study uses the perspective of health care facilities. Costs are observed in two classes of care and effectiveness is measured through the incidence of Surgical Wound Infection. The results of cefoperazone-metronidazole antibiotic therapy compared to ceftriaxone in insurance patients obtained an ICER value of Rp 94,380.68,-. So the use of cefoperazone-metronidazole antibiotics will incur additional costs of Rp 94,380.68,- per increase in therapy outcomes. While in the analysis of the cost-effectiveness of cefoperazone-metronidazole antibiotic therapy compared to ceftriaxone in non-insured patients, the average cost was lower with higher effectiveness with cefoperazone-metronidazole antibiotic therapy than using therapy with ceftriaxone antibiotics. Thus, cefoperazone-metronidazole antibiotics can be considered as the main choice in non-insured patient therapy. In this study, no relationship was found between demographic factors, type of appendicitis and class of care on the incidence of surgical wound infections.
Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dengan Variasi Gelling Agent Wahidah, Siti; Saputri, Gusti Ayu Rai; Nofita, Nofita
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.623

Abstract

Daun asam jawa adalah tanaman yang mengandung senyawa aktif flavonoid yang terbukti memiliki antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan kulit dengan memberikan efek melembabkan, melindungi kulit dari sinar matahari dan mencerahkan kulit. Gel merupakan sediaan semipadat yang mempunyai kemampuan pelepasan obat yang baik, mudah dibersihkan dengan air, dan mempunyai kemampuan penyebaran yang baik dikulit. Sediaan gel membutuhkan basis agar mendapatkan stabilitas dan kompatibilitas yang tinggi, toksisitas yang rendah, serta waktu kontak dengan kulit. Gelling agent dipilih karena memiliki pengaruh yang besar terhadap absorbsi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik sediaan gel ekstrak daun asam jawa dengan variasi gelling agent karbopol 940 dan HPMC. Penelitian ini dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil rendemen daun asam jawa yang didapatkan sebanyak 11,28%. Sediaan gel dibuat dalam lima formulasi dengan masing-masing variasi konsentrasi gelling agent. Analisis data menggunakan Repeated Measures Anova dan data evaluasi mutu fisik pada uji daya sebar, daya lekat dan viskositas didapatkan hasil Sig ?0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan, dan pada uji pH didapatkan hasil Sig ?0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Formulasi yang stabil pada gel ekstrak etanol daun asam jawa yaitu F2 dan F3. F2 dengan konsentrasi karbopol 940 0,5% dan HPMC 0,25%, dan F3 dengan konsentrasi karbopol 0,75% dan HPMC 0%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gel ekstrak etanol daun asam dengan variasi gelling agent yang memenuhi syarat evaluasi fisik sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah F2 dan F3.
Formulasi Mucoadhesive Edible Film Ekstrak Etanol Buah Kapulaga (Amomum compactum Sol. Ex Maton) Sebagai Antihalitosis Susanti, Susanti; Endah, Srie Rezeki Nur; Nofriyaldi, Ali; Indri, Eneng; Adlina, Salsabila
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.625

Abstract

Ekstrak etanol buah kapulaga diketahui mempunyai aktivitas antibakteri yang baik terhadap Streptococcus mutans penyebab halitosis, sehingga cocok diformulasikan ke dalam sediaan oral, salah satunya sediaan Mucoadhesive edible film. Tujuan dari penelitian ini untuk membuat formulasi sediaan Mucoadhesive edible film ekstrak etanol buah kapulaga dan untuk mengetahui aktivitasnya terhadap bakteri Streptococcus mutans. Sediaan Mucoadhesive edible film dibuat menjadi 4 formula yaitu F0 (basis), F1 (ekstrak etanol buah kapulaga 2%), F2 (ekstrak etanol buah kapulaga 4%), dan F3 (ekstrak etanol buah kapulaga 6%). Evaluasi sediaan Mucoadhesive edible film meliputi uji organoleptis, uji ketebalan, uji keseragaman bobot, uji pH dan uji waktu hancur. Uji aktivitas antibakteri sediaan mucoadhesive edible film menggunakan sediaan klorheksidin 0,2% sebagai pembanding, dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol buah kapulaga dengan konsentrasi 2%, 4% dan 6% dapat diformulasikan menjadi sediaan mucoadhesive edible film yang memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan. Hasil uji aktivitas antibakteri sediaan Mucoadhesive edible film memberikan diameter rata-rata daya hambat sebesar F1 (9,03 mm), F2 (7,10 mm), dan F3 (6,30 mm) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan analisis varian satu arah (ANOVA) menunjukan hasil p-value 0,00< 0,05) yang menunjukan adanya perbedaan yang signifikan.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Endofit Penghasil Antimikroba Asal Daun Mangrove Rhizopora apiculata Asal Kota Palopo Annisa, Rahmawati Nur; Sakaria, Fajria Sari; Umar, Anugrah; Ibrahim, Nurul Fahmi; Rahmat, Muh. Alif
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.629

Abstract

Mangrove adalah ekosistem yang kaya akan senyawa bioaktif dan merupakan ekostem bagi komunitas mikroorganisme penghasil antimikroba. Salah satu tumbuhan mangrove ang menjadi tempat hidup bagi bakteri endofit yaitu Rhizopora apiculata. Penelitian ini bertujuan pada pencarian dan identifikasi bakteri endofit asal daun mangrove R. apiculata yang dapat dijadikan sebagai sumber antimikroba. Isolasi bakteri endofit dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran hingga 10-5 lalu ditanam di media NA. Identifikasi bakteri endofit mengacu pada karakteristik makroskopis, mikroskopis, dan profil biokimia yang sesuai dengan panduan identifikasi Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Aktivitas antimikroba diuji menggunakan metode difusi cakram. Tiga isolat bakteri endofit, yakni RaWT1, RaWT2, dan RaWT3, berhasil diisolasi dari daun mangrove R. apiculata asal kec. Wara Timur Kota Palopo dan telah berhasil diidentifikasi sebagai genera Bacillus spp., Pseudomonas spp., dan Staphylococcus spp.. Hasil uji menunjukkan bahwa ketiga isolat bakteri memiliki spektrum aktivitas antimikroba yang berbeda. Isolat RaWT1 memiliki aktivitas yang kuat hanya terhadap E. coli ATCC-25922 dengan besar zona hambat 11.12 mm, sementara isolat RaWT2 dan RaWT3 lebih aktif terhadap S. aureus dengan diameter zona hambat berturut-turut yaitu 10.08 mm dan 10.83 mm yang tergolong dalam spektrum moderat.
Analisis Kandungan Vitamin C dan Antioksidan dalam Sediaan Masker Gel Peel Off Ekstrak Kulit Pisang Ambon dan Pisang Kepok Nofita, Nofita; Putri, Salma Gustia; Syafitri, Shela; Tutik, Tutik; Amalia, Putri
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.630

Abstract

Kulit buah pisang mempunyai kandungan gizi yang cukup lengkap salah satunya vitamin C dan antioksidan, kulit pisang dapat dijadikan sediaan kosmetik yaitu masker gel peel-off. Masker gel peel off merupakan salah satu kosmetik yang banyak digunakan untuk memberikan perawatan wajah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan vitamin C pada ekstrak kulit pisang ambon dan pisang kepok, mengetahui kandungan vitamin C dan antioksidan dalam sediaan masker gel peel off ekstrak kulit pisang ambon dan pisang kepok. Uji skrining fitokimia ekstrak kulit pisang ambon dan pisang kepok didapatkan hasil positif mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, fenolik, dan sponin. Uji kualitatif ekstrak kulit pisang dilakukan dengan menambahkan NaOH 10% dan FeSO4 5% menghasilkan uji positif dengan hasil uji berwarna kuning.Uji kuantitatif atau penentuan kadar vitamin C pada ekstrak kulit pisang dan sediaan masker gel peel off dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil menunjukkan kadar vitamin C pada ekstrak kulit pisang ambon 23,785 mg AAE/g, pisang kepok 36,399 mg AAE/g. Kadar vitamin C pada sediaan masker gel peel off F1 193,285 mg AAE/g; F2 221,613 mg AAE/g; F3 251,756 mg AAE/g; F4 208,110 mg AAE/g; F5 280,439 mg AAE/g dan F6 323,391 mg AAE/g. Uji antioksidan metode penelitian Spektrofometri UV-Vis dengan menggunakan DPPH didapatkan hasil yaitu kulit pisang kepok formulasi 5% memiliki IC50 lebih tinggi dibandingkan masker dari kulit pisang ambon formulasi 5%. Analisis data menggunakan metode kruskal wallis nilai sig sebesar 0,005 (sig  0,05), dilajutkan dengan uji post hoc Mann Whitney perbandingan antar kelompok asym.sig  0,05 artinya terdapat perbedaan dalam setiap kelompok formulasi.
Formulasi dan Uji Toksisitas Sirup Ekstrak Daun Sawo (Manilkara zapota L.) terhadap Infeksi Bakteri Penyebab Diare Syachriyani, Syachriyani; Firmansyah, Firmansyah; Duppa, Taufiq
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.642

Abstract

Upaya penanganan diare menggunakan daun Sawo diperlukan sediaan yang mudah dikonsumsi khususnya pasien yang kesulitan menelan obat seperti tablet karena meninggalkan rasa pahit ditenggorokan, sehingga peneliti menghadirkan suatu alternatif sediaan sirup memiliki rasa manis, beraroma sedap dan memiliki warna menarik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sirup ekstrak daun Sawo memiliki aktivitas terhadap bakteri penyebab diare dan dilakukan uji toksisitas subakut, subkronis untuk mengetahui keamanannya. Metode penelitian ini dilakukan dengan formulasi sirup ekstrak daun Sawo, uji stabilitas sediaan dengan metode Cycling test, dan uji aktivitas antibakteri metode difusi cakram. Selanjutnya dilakukan uji toksisitas subakut metode OECD, uji subkronik dengan parameter kadar Kreatinin dan Blood urea nitrogen (BUN). Hasil penelitian aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kelompok kontrol negatif dengan semua kelompok perlakuan dimana ? = 0,000 < 0,05, kelompok perlakuan sirup ekstrak daun Sawo 5 % berbeda sangat signifikan dengan kelompok perlakuan sirup ekstrak daun Sawo 10 % dan sirup ekstrak daun Sawo 15 % dimana ? = 0,000 < 0,05. Kemudian aktivitas antibakteri pada Staphylococcus aureus tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan sirup ekstrak daun Sawo 5 % dengan kelompok kontrol positif dimana ? > 0,05. Berdasarkan hasil pengamatan uji toksistas terhadap uji subakut dan uji subkronis menunjukkan bahwa tidak adanya indikasi toksisitas bahan uji terhadap hewan uji tikus. Kesimpulan yaitu sirup ekstrak daun Sawo memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab diare dan tidak toksik.
Uji Efektivitas Penyembuhan Luka Film Forming Gel Gentamisin pada Model Tikus Diabetes Zainal, Tuti Handayani; Nisa, Michrun; Hikma, Nurul; Astrid, Astrid; Arifin, Andi Ardiansyah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.646

Abstract

Gentamisin paling banyak digunakan sebagai terapi infeksi pada ulkus diabetikum yaitu kelainan neurologi dan penyakit pembuluh darah arteri perifer yang merusak jaringan kulit terdalam dan menyebabkan infeksi, ulserasi, dan kerusakan kulit. Film Forming gel gentamisin memiliki keunggulan memiliki efek terapeutik, secara estetis lebih menarik bagi pasien, karakteristik yang tidak lengket, lebih oklusif dan dapat dirancang untuk menyediakan pelepasan obat yang berkelanjutan sehingga frekuensi penggunaan seminimal mungkin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan kadar gentamisin yang terjerap dalam polimer dan efektifitas penyembuhan luka diabetikum pada model tikus.  Tikus dibuat diabetes dengan induksi aloksan kemudian dibuat luka pada bagian punggung. Hewan uji dibagi dalam tujuh kelompok dan mendapatkan perlakuan basis film forming gel, salep gentamisin, film forming gel gentamisin dengan variasi polimer PVP dan PVA F1 (4: 10), F2 (3:11) dan F3 (2:12). Pengukuran kadar film forming gel menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan efektifitas penyembuhan luka dilakukan dengan mengukur panjang luka dan lama penymbuhan. Hasil menunjukkan bahwa kandungan kadar film forming gel gentamisin pada F1 1,19 µg/mL, F2 1,80 µg/mL dan F3 1,44 µg/mL, efektifitas penyembuhan luka pada F 1 sembuh pada hari H-5, F2 H-6, F3 H-7 dan salep gentamisin H-10. Kesimpulan bahwa formula yang paling efektif terhadap luka diabetikus adalah F3 dengan konsentrasi PVP 2% dan PVA 12%.
Aktivitas Peningkatan Fagositosis Sel Makrofag oleh Ekstrak Etanol Buah Etlingera rubroloba A.D. Poulsen Pada Mencit Yang Distimulasi Antigen Mtb Badia, Esti; Yulianti, Sri Samrina; Rusli, Nirwati; Jabbar, Asriullah; Malaka, Muhammad Hajrul; Sahidin, Idin; Ilyas Y., Muhammad
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.649

Abstract

Peningkatan aktivitas fagositosis sel makrofag sangat dibutuhkan oleh penderita penyakit tubekulosis (TB) untuk melawan invasi patogenitas dari bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb) dan mengatasi keparahan infeksi sehingga pengobatan akan lebih optimal. Pengoptimalan fagositosis sel makrofag dengan pemberian imunostimulator dari tumbuhan seperti buah Etingera rubroloba A.D Poulsen penting diungkap. Buah diyakini sebagai imunostimulator berdasarkan penggunaan empiris oleh masyarakat Sulawesi Tenggara untuk memelihara daya tahan tubuhnya serta menyembuhkan penyakit infeksi demam typhoid, dan secara ilmiah terbukti sebagai imunomodulator, antiinflamasi dan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan aktivitas buah E. rubroloba meningkatkan aktivitas fagositosis sel makrofag pada penyakit TB. Jenis penelitian ini eksperimental menggunakan 30 ekor mencit jantan yang terdiri dari kelompok normal (tanpa infeksi Mtb), kelompok negatif (Na.CMC 0.5% + infeksi Mtb), kelompok positif (ekstrak meniran komersial + infeksi Mtb), kelompok ekstrak dosis 200 mg/kg BB + infeksi Mtb, kelompok ekstrak dosis 300 mg/kg BB + infeksi Mtb, kelompok ekstrak dosis 400 mg/kg BB + infeksi Mtb. Hewan uji diberikan perlakuan selama 7 hari dan pada hari ke-8 diinfeksi antigen Mtb (Esat-6)  secara intra perintonium. Peningkatan fagositosis sel makrofag dihitung dengan mikroskop, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis statistik one way ANOVA dan uji post hoc tukey. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol buah E.rubroloba terbukti meningkatkan aktivitas fagositosis sel makrofag pada mencit distimulasi Mtb yang berbeda signifikan dengan kontrol negatif (P<0.05). Penelitian ini berhasil mengungkap informasi ilmiah baru dari tumbuhan E.rubroloba sebagai imunostimulator pada infeksi TB, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen imunostimulator baru pada penyakit TB.
Gambaran Nilai Utilitas Kesehatan Anak dengan Malnutrisi : Studi pada Kasus Stunting, Wasting, dan Underweight di Indonesia Bahar, Muh. Akbar; Galistiani, Githa Fungie; Eliyanti, Uzma; Mohi, Abdul Rafik
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.656

Abstract

Kondisi malnutrisi seperti stunting, wasting, dan underweight tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Namun, data mengenai nilai utilitas kesehatan anak dengan malnutrisi di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai nilai utilitas kesehatan pada anak-anak di Indonesia yang mengalami stunting, wasting, dan underweight yang dibandingkan dengan anak sehat. Desain penelitian adalah cross sectional yang dilakukan di Kota Makassar dan Kabupaten Banyumas dari bulan Juli 2024 hingga Agustus 2024 pada anak usia > 2 hingga 5 tahun dengan atau tanpa malnutrisi (stunting, wasting atau underweight). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner EQ-5D-5L yang diisi melalui wawancara langsung (face-to-face interview) ke orang tua atau wali dari anak. Hasil pengukuran kuesioner EQ5D-5L dikonversi menjadi nilai utilitas menggunakan value-set EQ5D-5L untuk populasi Indonesia. Data dari 174 anak balita berhasil dikumpulkan dan dibagi menjadi empat kelompok: anak sehat (n=36), stunting (n=55), wasting (n=30), dan underweight (n=53).  Hasil analisis menunjukkan bahwa anak balita sehat memiliki nilai utilitas yang signifikan lebih tinggi (0,85 ± 0,11) dibandingkan dengan anak stunting (0,76 ± 0,13), underweight (0,74 ± 0,18), dan wasting (0,72 ± 0,17), dengan nilai p = 0,003. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kelompok anak dengan gangguan gizi (p > 0,05). Anak balita dengan malnutrisi cenderung memiliki nilai utilitas kesehatan yang lebih rendah dibandingkan anak sehat. Namun, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada nilai utilitas kesehatan antar kelompok anak yang mengalami malnutrisi.
Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) terhadap Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans Trisnaputri, Dian Rahmaniar; Isrul, Muhammad; Hazan, Neli; Ida Fitriah, Wa Ode; Syafrie, Firhani Anggriani; Alani, Fitriani W.
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.658

Abstract

Antimikroba adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan memiliki kemampuan menghambat aktivitas mikroorganisme lain, meskipun dalam jumlah kecil. Salah satu tanaman yang dapat berpotensi sebagai antimikroba adalah rimpang temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi aktivitas antimikroba ekstrak etanol rimpang temu hitam terhadap Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli, dan Candida albicans. Penelitian ini merupakan penelitian analitik laboratorium yang menggunakan metode ekstraksi maserasi dengan pelarut etanol 96%. Skrining fitokimia dilakukan dengan menggunakan reagen pendeteksi dan pengujian aktivitas antimikroba dengan metode sumuran. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistik One Way Anova. Ekstrak etanol rimpang temu hitam mengandung metabolit senyawa flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Hasil uji aktivitas antimikroba dari ekstrak etanol rimpang temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) dengan konsentrasi 15%, 20% dan 25% memiliki aktivitas terhadap Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli dengan rata-rata zona hambat pada Staphylococcus epidermidis konsentrasi 15% sebesar 15,87 mm, 20% sebesar 16,33 mm dan 25% sebesar 18,6 mm yang tergolong daya hambat kuat. Sedangkan pada Escherichia coli konsentrasi 15% sebesar 13,3 mm, 20% sebesar 13,73 mm dan 25% sebesar 14,06 mm yang tergolong daya hambat kuat, dan tidak memiliki aktivitas terhadap Candida albicans. Konsentrasi yang memiliki aktivitas paling baik terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli adalah konsentrasi 25%. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan melakukan uji aktivitas antimikroba yang berbeda.