cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,804 Documents
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Responsive Feeding Pada Balita Stunting Lisa Ramadhani; Desmawati Desmawati; Rinang Mariko
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59101

Abstract

Abstrak Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan/panjang badan anak menurut umur (TB/U atau PB/U) dibawah -2 Standar Deviasi (SD). Penyebab stunting antara lain meliputi kekurangan gizi oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan gizi dengan responsive feeding. Responsive feeding dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pekerjaan, variasi asuhan dan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik responsive feeding pada balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Dadok Tunggul Hitam. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 71 ibu yang memiliki balita stunting dan dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pekerjaan (p-value = 0,000), variasi asuhan (p-value = 0,001) dan dukungan sosial (p-value = 0,000). Faktor yang paling dominan adalah pekerjaan dengan nilai OR = 6,997. Kesimpulan penelitian ini adalah status pekerjaan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan responsive feeding pada balita stunting. Disarankan agar puskesmas memberikan edukasi kepada orang tua terkait pertimbangan pekerjaan dan praktik responsive feeding guna mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Kata Kunci: Asupan makan, Balita, Gizi, responsive feeding, stunting Abstract Stunting is a condition in which a child’s height/length-for-age (HFA/LFA) is below -2 Standard Deviations (SD). One of the causes of stunting is malnutrition; therefore, efforts to improve nutrition through responsive feeding are needed. Responsive feeding is influenced by various factors, including employment status, caregiving variation, and social support. This study aimed to determine the factors associated with responsive feeding practices among stunted toddlers in the working area of the Dadok Tunggul Hitam Community Health Center. This study was a quantitative study using a cross-sectional approach. The sample consisted of 71 mothers with stunted toddlers selected using a consecutive sampling technique. Data were collected using questionnaires, while data analysis was performed using the chi-square test and logistic regression. The results of the chi-square test showed significant relationships between employment status (p-value = 0.000), caregiving variation (p-value = 0.001), and social support (p-value = 0.000) with responsive feeding practices. The most dominant factor was employment status with an OR value of 6.997. In conclusion, employment status was the most dominant factor associated with responsive feeding among stunted toddlers. It is recommended that community health centers provide education to parents regarding employment considerations and responsive feeding practices to support optimal child growth and development. Keywords: Intake, Toddlers, Nutrition, Responsive feeding, Stunting
Pengaruh Edukasi Suportif Terhadap Kemandirian Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas PB Selayang II Medan Meilinda Nainggolan; Wardiyah Daulay; Siti Zahara Nasution; Zulhaida Lubis; Evi Karota
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59135

Abstract

Peningkatan jumlah lansia berhubungan dengan meningkatnya risiko penurunan kemampuan fungsional, terutama dalam melakukan Activities of Daily Living (ADL), yang dapat menyebabkan ketergantungan dan menurunkan kualitas hidup. Upaya mempertahankan kemandirian lansia memerlukan intervensi keperawatan yang tidak hanya berfokus pada pemberian informasi, tetapi juga pada pemberdayaan melalui dukungan emosional dan pelatihan keterampilan. Edukasi suportif merupakan pendekatan keperawatan yang mengintegrasikan pemberian informasi, dukungan emosional, motivasi, dan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi suportif terhadap kemandirian lansia berdasarkan skor Activities of Daily Living (ADL) di wilayah kerja Puskesmas PB Selayang II Medan. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pre-test–post-test delayed treatment control group. Sampel berjumlah 88 responden yang terdiri atas kelompok intervensi (44 orang) dan kelompok kontrol (44 orang) dengan teknik purposive sampling. Pengukuran kemandirian dilakukan menggunakan Katz Index of Independence in Activities of Daily Living. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney karena data tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro–Wilk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor ADL kelompok intervensi meningkat dari 3,07 ± 0,789 menjadi 4,09 ± 1,007 dengan perbedaan bermakna (p<0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna dari 3,14 ± 0,668 menjadi 3,14 ± 0,632 (p=1,000). Uji Mann–Whitney menunjukkan adanya perbedaan perubahan skor ADL yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok (p=0,000), dengan rerata perubahan lebih tinggi pada kelompok intervensi (1,02 ± 0,73) dibandingkan kelompok kontrol (0,00 ± 0,37). Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi suportif berpengaruh terhadap peningkatan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan berpotensi menjadi intervensi keperawatan komunitas berbasis pemberdayaan pada pelayanan kesehatan primer.
Pengaruh Manajemen Diri Berbasis Dukungan Keluarga Terhadap Kecemasan dan Kesepian Pada Lansia dengan Hipertensi: Studi Quasi-Experimental Dewi Fortuna Grace Dayanty Napitupulu; Jenny Marlindawani Purba; Evi Karota; Kiking Ritarwan; Siti Zahara Nasution
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59137

Abstract

Hipertensi pada lansia merupakan masalah kesehatan kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan mental emosional seperti kecemasan dan loneliness yang berpotensi menurunkan kualitas hidup serta menghambat pengendalian penyakit. Intervensi psikososial dengan pendekatan keluarga sangat dibutuhkan oleh lansia untuk mengatasi masalah psikososial sehingga mereka dapat mencapai kualitas hidup yang baik meskipun mengalami hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh manajemen diri berbasis dukungan keluarga terhadap kecemasan dan loneliness pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Medan Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Jumlah responden sebanyak 84 orang yang terdiri dari kelompok intervensi (n=42) dan kelompok kontrol (n=42) dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian meliputi Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7), UCLA Loneliness Scale Version 3, dan Family Support Scale (FSS). Analisis data menggunakan paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kecemasan pada kelompok intervensi berkurang secara signifikan dari (Mean=11,21; SD=3,159) menjadi (Mean=5,93; SD=1,488), dibandingkan dengan kelompok kontrol dari (Mean=12,79; SD=4,508) menjadi (Mean=11,69; SD=2,236) setelah mengikuti manajemen diri berbasis dukungan keluarga. Rerata loneliness pada kelompok intervensi berkurang dari (Mean=40,69; SD=7,703) menjadi (Mean=33,67; SD=5,299), dibandingkan dengan kelompok kontrol dari (Mean=44,12; SD=9,696) menjadi (Mean=38,00; SD=4,768). Terdapat pengaruh manajemen diri berbasis dukungan keluarga terhadap kecemasan dan loneliness pada kelompok intervensi (p=0,000). Pada kelompok kontrol tidak ditemukan pengaruh bermakna terhadap kecemasan (p=0,113), sedangkan pada variabel loneliness masih ditemukan perubahan bermakna (p=0,000). Terdapat perbedaan nilai rerata kecemasan dan loneliness antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah mengikuti manajemen diri berbasis dukungan keluarga (p=0,000; p<0,05) dan (p=0,000; p<0,001). Manajemen diri berbasis dukungan keluarga terbukti memberikan dampak positif dalam membantu lansia dengan hipertensi mengatasi kecemasan dan loneliness serta mencegah terjadinya gangguan mental emosional.
Hubungan Parenting Stress Dengan Perkembangan Anak Usia 6-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Belimbing Christina Desbella B. Putriani; Rinang Mariko; Rini Gusya Liza; Afdal Afdal; Yuniar Lestari; Netti Suharti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59172

Abstract

Usia 6–59 bulan merupakan periode krusial dalam tumbuh kembang anak yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan psikososial keluarga. Parenting stress merupakan faktor pascakelahiran yang dapat dimodifikasi dan berperan penting terhadap kualitas perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan parenting stress. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran dengan pendekatan kuantitatif (cross sectional) dan kualitatif (wawancara mendalam). Penelitian ini menggunakan two stage sampling (proportional random sampling untuk pemilihan posyandu dan konsekutif sampling untuk mendapatkan 206 pasangan ibu-anak usia 6-59 bulan). Data dikumpulkan melalui instrumen Denver II dan wawancara dengan kuesioner. Penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam yang dilakukan kepada 11 informan. Uji kuantitatif menggunakan chi-square dan uji kualitatif menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan stres pengasuhan dengan perkembangan anak diperoleh nilai p<0,05. Dalam penelitian ini, parenting stress memiliki peluang 2,234 kali lebih besar untuk mengalami perkembangan tidak sesuai. Hasil kualitatif dari faktor dominan menghasilkan tiga tema utama, yaitu gangguan interaksi akibat stres pengasuhan, persepsi beban dalam pengasuhan anak serta dampak yang terlihat pada perilaku dan perkembangan anak. Temuan ini memperkuat bahwa stres pengasuhan mempengaruhi kualitas interaksi dan praktik pengasuhan sehari-hari. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara stres pengasuhan dengan perkembangan anak usia 6-59 bulan secara kuantitatif dan kualitatif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang fokus pada dukungan psikososial ibu dan optimalisasi praktik pengasuhan. Kata Kunci: Stres Pengasuhan; Stimulasi Anak; Perkembangan balita; penelitian campuran
Formulasi dan Uji Stabilitas Salep Ekstrak Kunyit Untuk Penyembuhan Luka Sayat Tikus Rahmadani Rahmadani; Minda Sari Lubis; Rafita Yuniarti; Supiyani Supiyani; Gabena Indrayani Dalimunthe; Haris Munandar Nasution
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59178

Abstract

Pendahuluan: Luka sayat merupakan kerusakan jaringan yang dapat menimbulkan infeksi apabila tidak ditangani dengan tepat. Penggunaan bahan alam sebagai alternatif terapi luka semakin berkembang, salah satunya kunyit (Curcuma longa L.) yang mengandung kurkumin dan minyak atsiri dengan aktivitas antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Namun, formulasi sediaan topikal yang stabil masih menjadi tantangan dalam pengembangan produk herbal. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan salep ekstrak kunyit serta mengevaluasi stabilitas fisik dan efektivitasnya terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental laboratorium. Populasi penelitian adalah tikus putih jantan (Rattus norvegicus), dengan sampel sebanyak 15 ekor yang dibagi secara acak menjadi tiga kelompok perlakuan. Metode sampling dilakukan secara simple random sampling. Variabel penelitian meliputi karakteristik fisik salep, stabilitas sediaan, dan lama penyembuhan luka sayat. Salep diformulasikan dalam beberapa konsentrasi ekstrak kunyit dan dilakukan uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan stabilitas selama penyimpanan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan pengukuran diameter luka setiap hari. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan uji ANOVA.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi salep ekstrak kunyit memiliki bentuk semi padat, homogen, pH sesuai kulit, dan stabil selama penyimpanan. Kelompok perlakuan dengan salep ekstrak kunyit menunjukkan penyembuhan luka lebih cepat dibandingkan kontrol, ditandai dengan penurunan diameter luka yang signifikan.Simpulan: Salep ekstrak kunyit memiliki stabilitas fisik yang baik dan efektif mempercepat penyembuhan luka sayat pada tikus putih.
Formulasi Gel Antiseptik Sediaan Obat Luka Dari Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Rahmadani Rahmadani; Ferina Septiani Damanik; Cut Intan Annisa Puteri; Lilik Septiana
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59179

Abstract

Pendahuluan: Luka merupakan kerusakan jaringan yang rentan mengalami infeksi akibat kontaminasi mikroorganisme sehingga diperlukan sediaan antiseptik yang efektif dan aman. Rimpang kunyit memiliki kandungan kurkumin, flavonoid, dan minyak atsiri yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, dan mempercepat penyembuhan luka sehingga berpotensi diformulasikan dalam bentuk gel antiseptic. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan gel antiseptik sediaan obat luka dari ekstrak etanol rimpang kunyit serta mengevaluasi mutu fisik dan aktivitas antiseptiknya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium menggunakan desain post test only. Populasi penelitian adalah sediaan gel ekstrak etanol rimpang kunyit dengan sampel berupa tiga formula konsentrasi ekstrak yaitu 5%, 10%, dan 15% yang dibuat menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Variabel penelitian meliputi mutu fisik gel dan aktivitas antiseptik. Pengumpulan data dilakukan melalui uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Data dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan antarformula.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki bentuk semi padat, homogen, berwarna kuning kecoklatan, dan berbau khas kunyit. Nilai pH gel berada pada rentang 5,2–6,1 sehingga sesuai dengan pH kulit. Formula dengan konsentrasi ekstrak 15% memberikan daya hambat terbesar terhadap Staphylococcus aureus dibandingkan formula lainnya. Simpulan: Ekstrak etanol rimpang kunyit dapat diformulasikan menjadi gel antiseptik sediaan obat luka dengan mutu fisik yang baik dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab infeksi luka. Formula 15% menunjukkan efektivitas terbaik sebagai gel antiseptik luka.
Dampak Intervensi Dukungan Psikososial Berbasis Keperawatan Terhadap Penurunan Gejala Depresi Postpartum: Suatu Systematic Review Adea Putri Pramesti Sukmaning Ayu; Faizah Betty Rahyuningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59180

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Depresi postpartum merupakan masalah kesehatan mental yang sering dialami ibu setelah melahirkan dan berdampak pada stabilitas emosional, kualitas hidup, serta hubungan ibu–bayi. Variasi jenis intervensi psikososial yang dilakukan perawat menghasilkan temuan berbeda sehingga diperlukan sintesis bukti terbaru untuk memperkuat rekomendasi klinis. Metode: Systematic review ini disusun mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, CINAHL, Scopus, dan ScienceDirect untuk publikasi 2016–2026. Studi inklusi mencakup RCT, quasi-eksperimental, dan studi observasional yang menilai efektivitas intervensi dukungan psikososial oleh perawat. Kualitas studi dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Tools dan dianalisis secara deskriptif-tematik. Hasil: Enam studi memenuhi kriteria inklusi. Intervensi psikososial konseling suportif, evidence-based nursing, CBT kelompok, psychoeducation, Thinking Healthy Programme, dan Ratu’s Model secara konsisten menurunkan skor depresi postpartum serta meningkatkan coping, dukungan sosial, dan bonding ibu-bayi. Simpulan: Intervensi psikososial berbasis keperawatan terbukti efektif dalam mencegah dan mengurangi depresi postpartum. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk uji coba multicenter, memperpanjang follow-up, serta mengembangkan intervensi digital. Kata Kunci: Depresi postpartum, dukungan psikososial, intervensi keperawatan, kesehatan maternal, kesehatan mental postnatal Abstract Background: Postpartum depression is a mental health condition commonly experienced by mothers after childbirth and can affect emotional stability, quality of life, and mother–infant bonding. Variations in the types of psychosocial interventions delivered by nurses have resulted in inconsistent findings, indicating the need for an updated synthesis of evidence to strengthen clinical recommendations. Methods: This systematic review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Literature searches were performed in PubMed, CINAHL, Scopus, and ScienceDirect for publications from 2016 to 2026. Included studies comprised randomized controlled trials, quasi-experimental designs, and observational studies evaluating the effectiveness of nurse-led psychosocial support interventions. Study quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Tools, and data were analyzed descriptively and thematically. Results: Six studies met the inclusion criteria. Nurse-led psychosocial interventions—such as supportive counseling, evidence-based nursing, group CBT, psychoeducation, the Thinking Healthy Programme, and Ratu’s Model—consistently reduced postpartum depression scores and improved coping, social support, and mother–infant bonding. Conclusion: Nurse-led psychosocial interventions are effective in preventing and reducing postpartum depression. Future research is recommended to conduct multicenter trials, extend follow-up periods, and develop digital nurse-led interventions. Keywords: Postpartum depression, psychosocial support, nursing intervention, maternal health, postnatal mental health
Pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise Terhadap Fungsi Pernapasan (RR DAN APE) Pada Lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat Tri Wahyuni; Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Parliani Parliani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59183

Abstract

Latar Belakang: Penurunan fungsi paru merupakan konsekuensi alami proses penuaan pada lansia yang sering ditandai dengan perubahan frekuensi napas (Respiratory Rate/RR) dan penurunan Arus Puncak Ekspirasi (APE). Diaphragmatic Breathing Exercise (DBE) merupakan intervensi non-farmakologis yang berpotensi memperbaiki mekanika ventilasi paru. Tujuan: Mengetahui pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise terhadap fungsi pernapasan (RR dan APE) pada lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain Quasi-Experiment dengan rancangan Pretest-Posttest with Control Group. Sampel berjumlah 46 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dibagi menjadi kelompok intervensi (n=23) dan kelompok kontrol (n=23). Kelompok intervensi diberikan DBE selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran menggunakan peak flow meter untuk APE dan observasi visual untuk RR. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test.Hasil: Setelah 4 minggu intervensi, kelompok intervensi menunjukkan penurunan rerata RR yang signifikan (p < 0,001) dan peningkatan rerata APE yang signifikan (p < 0,001). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Uji antar kelompok menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai akhir RR (p = 0,002) dan APE (p < 0,001) antara kedua kelompok. Kesimpulan: Diaphragmatic Breathing Exercise berpengaruh signifikan dalam menurunkan frekuensi pernapasan (RR) dan meningkatkan Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada lansia. Intervensi ini direkomendasikan sebagai program rehabilitasi rutin di panti sosial.
Profile of Hydrogen Peroxide (H2O2) Levels in Hyperglycaemic Wistar Rats (Rattus novergicus) After Olive Oil (Olea europaea) Administration Yorencia Akmal; Husnil Kadri; Almurdi Almurdi; Ety Yerizel; Roza Mulyana; Erlina Rustam
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59195

Abstract

Objective: Objective: To examine the effect of olive oil on hydrogen peroxide ROS levels that cause diabetes mellitus/hyperglycaemia in Wistar rats after being induced with the diabetogenic substance alloxan over a period of 14 days. Hydrogen peroxide (H2O2) is one indicator of ROS (Reactive Oxygen Species) to determine the state of cell oxidative stress. The increase in ROS in the body is caused by an imbalance between ROS and anti-oxidant enzymes, so that triggers biological cell damage, including oxidation of carbohydrates, proteins, fats, DNA. Oxidation of β-pancreas cells causes a decrease in the sensitivity of cell tissue to insulin, so that blood glucose concentrations increase. Blood sugar levels ≥ 200 mg/dL indicate chronic diabetes mellitus or hyperglycaemia. Olive oil contains secondary metabolite compounds such as phenolic and can neutralise H2O2 in blood serum. Methods: This study used 24 male Wistar rats, and grouped into three groups, namely negative control (K-), positive control (K+) and treatment (P) with observation for 14 days. Results: from the results of statistical analysis based on the Mann Whitney test and Kruskal Wallis test, the average difference was obtained at p ≤ 0.05. From the data analysis showed the effect of olive oil antioxidants in reducing H2O2 levels gave significantly different effects on each group, respectively, K (-) 4.838 mmol/mL, K (+) 20.888 mmol/mL and P 18.193 mmol/mL. Conclusion: Olive oil administration has an effect on reducing hydrogen peroxide (H2O2) levels in hyperglycaemic Wistar rats.
Role of VSSC Gene as a Marker of Sarcoptes scabiei Resistance to Permethrin: A Narrative Review Nidya Ulfa; Gita Dwi Prasasty; Dalilah Dalilah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59198

Abstract

Scabies, a common dermatological condition, poses a growing challenge in disease management because of the increasing reports of treatment failure. This phenomenon is linked to the declining effectiveness of permethrin, which is the recommended first-line scabicidal agent in many countries. To investigate this, a comprehensive literature review was conducted by searching for publications between 2015 and August 2025 in scientific databases, such as PubMed, Cochrane Library, and Web of Science. The focus was on reports of drug resistance in Sarcoptes scabiei infections and the potential of VSSC gene mutations as markers of permethrin resistance. The voltage-sensitive sodium channel (VSSC) gene is a crucial molecular marker for detecting permethrin resistance in S. scabiei. Mutations in this gene can alter the structure of the sodium channel, which is the target of permethrin, thereby reducing its binding affinity and allowing the mites to survive. Consequently, the early identification and monitoring of VSSC gene mutations are crucial. This approach not only enables the rapid detection of resistant S. scabiei populations but also guides the development of more appropriate treatment strategies, such as selecting alternative acaricides or more effective combination therapies. In addition to resistance, this review also identifies other factors causing treatment failure, known as pseudo-resistance.