cover
Contact Name
Ixsir Eliya
Contact Email
ixsir@mail.uinfasbengkulu.ac.id
Phone
+6282377219160
Journal Mail Official
disastra@mail.uinfasbengkulu.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu Jl. Raden Fatah Kel. Pagar Dewa Kec. Selebar Kota Bengkulu, Indonesia
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : 26553031     EISSN : 26557851     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/disastra.v6i1
Core Subject : Education,
Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia concerns about theoretical studies or research on Indonesian literature, linguistics, Indonesian Language Learning and Teaching, literacy, and BIPA (Bahasa Indonesian bagi Penutur Asing) or Teaching Indonesian to Speakers of Other Languages. This journal receives publications from teachers, observers, and researchers of Indonesian language teaching and literature.
Articles 181 Documents
Development of Poketun Application (Augmented Reality-Based Pocket Book of Pantun) to Improve Children’s Literacy Skills and Literary Appreciation Ahmad Syaeful Rahman; Ahmad Bahtiar
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.9166

Abstract

This study aims to develop Poketun (Pocket Book Pantun Based on Augmented Reality) as an interactive digital medium to enhance elementary school students’ reading literacy and literary appreciation. The research adopted a research and development (R&D) design with a qualitative approach, based on the 4D development model (Define, Design, Develop, Disseminate). Data were collected through observation, interviews, documentation, and expert validation, and were subsequently analyzed descriptively. The results revealed that students’ initial reading literacy and pantun appreciation were still low; most students merely memorized pantun without understanding their aesthetic and moral values. The Poketun application was then designed with thematic pantun content, AR visualization, audiovisual features, and interactive tools that support both reading and composing pantun. Expert validation indicated that the application was feasible to use, with suggestions for improvement such as simplifying navigation, adding more diverse pantun, and providing offline access. Classroom implementation showed positive responses: students were more enthusiastic, motivated to read, and better able to grasp the meaning of pantun. Teachers also reported that the application enriched learning variation and reduced students’ boredom. The novelty of this study lies in integrating AR with literary learning, in contrast to previous studies that mostly focused on science or mathematics. Theoretically, the study expands the discourse on reading literacy and children’s literary appreciation in digital contexts, while practically, it offers innovative learning media and contributes to preserving local cultural heritage.
Integrasi Teknologi Artificial Intelligence (AI) pada Bahan Ajar Bahasa Indonesia untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Nafri Yanti; Arono Arono; Edi Susanto; Noermanzah Noermanzah; Sandy Muhammadiansyah; Anggi Rosita
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8613

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam bahan ajar digital interaktif terhadap hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods). Partisipan merupakan 90 mahasiswa yang berasal dari program studi yang mewakili bidang saintek (Farmasi) dan soshum (Manajemen) pada mata kuliah MKWK Bahasa Indonesia, serta mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dalam mata kuliah keterampilan menyimak. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert, observasi aktivitas kelas, dan wawancara semi-terstruktur dengan mahasiswa dan dosen. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa memberikan respon positif terhadap integrasi bahan ajar berbasis AI, dengan skor rata-rata tinggi pada aspek kognitif (26,27), afektif (26,14), dan psikomotorik (25,82) dari skor maksimal 30. Platform Teachy, MagicSchool, dan ClassPoint terbukti membantu meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dosen dan institusi pendidikan tinggi disarankan untuk lebih proaktif dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam proses pembelajaran, disertai pelatihan teknis dan pedagogis yang memadai.
Kesantunan dan Tindak Tutur Asertif dalam Interaksi Antara Mahasiswa dan Dosen Selama Proses Bimbingan Skripsi Abdul Aziz Al-Khumairi
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8686

Abstract

Penelitian ini menganalisis pola kesantunan berbahasa dan tindak tutur asertif mahasiswa dalam proses bimbingan skripsi di IAIN Curup menggunakan kerangka Maksim Kesantunan Geoffrey Leech dan Hak Asertif Manuel J. Smith. Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ini melibatkan mahasiswa dan dosen pembimbing melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan dominasi tipologi konformis (40-50%) yang ditandai dengan kesopanan tinggi namun kurangnya asertivitas, diikuti tipologi diplomat (25-35%), asertif (10-15%), dan pasif (5-15%). Penerapan maksim kesantunan cenderung berlebihan terutama pada maksim kearifan (85%), kedermawanan (55-60%), dan kesepakatan (75-80%), sementara implementasi hak asertif masih terbatas oleh norma sosial-budaya yang mengutamakan harmoni dan hierarki. Temuan ini mengindikasikan perlunya pengembangan model komunikasi akademik yang mengintegrasikan nilai kesantunan lokal dengan praktik komunikasi asertif untuk mendukung pembelajaran efektif tanpa mengorbankan rasa hormat dalam budaya akademik Indonesia. Keywords: Linguistic Politeness, Assertive Speech Acts, Thesis Supervision, Academic Communication, Communication Typology
Teacher Commands and Prohibitions in Classroom Interaction: An Ethnopragmatic Analysis of Liberal and Conservative Indonesian Language Teachers Agus Purnomo Ahmad Putikadyanto; Asep Setiadi
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.9693

Abstract

This study examines directive speech acts in the form of commands and prohibitions used by Indonesian language teachers with liberal and conservative ideological orientations in classroom learning interactions. The study employs a qualitative research design with an ethnographic approach. The data were obtained from the utterances of seven liberal- and conservative-oriented teachers across four educational institutions at different levels (junior and senior high schools) in Malang City. The selection of teachers from different educational levels was intended to represent variations in pedagogical practices based on students’ developmental stages, while Malang City was chosen due to its diversity of educational institutions and academic cultures that allow for the emergence of varied ideological orientations and directive speech strategies, particularly commands and prohibitions. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal clear differences in the use of directive speech acts of commands and prohibitions between liberal and conservative teachers. Liberal-oriented teachers tend to employ indirect directive strategies that emphasize politeness, dialogue, and learner autonomy, thereby creating a more egalitarian and participatory classroom atmosphere. In contrast, conservative-oriented teachers more frequently use direct and explicit directive speech to maintain order, discipline, and clarity of instruction. Both groups demonstrate communicative flexibility by adjusting directive strategies to situational demands, indicating that the use of commands and prohibitions is dynamic and context-dependent. These findings affirm that directive speech acts of commands and prohibitions reflect teachers’ cultural values and ideological orientations and have important implications for the success of Indonesian language learning in the classroom.
Reorientasi Kurikulum Tadris Bahasa Indonesia Berbasis Analisis Kebutuhan untuk Menjawab Tantangan Pendidikan Era Modern Maria Botifar; Zelvi Iskandar; Yanti Sariasih
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8332

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa model kurikulum Tadris Bahasa Indonesia berbasis analisis kebutuhan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pengembangan yang mengadopsi pengembangan Borg dan Gall dengan implementasinya hanya pada tiga tahap pengembangan saja, yaitu tahap analisis kebutuhan, tahap analisis dokumen yang ada, dan tahap pengembangan produk. Sementara untuk tahap pengembangan produk kurikulum mengadopsi model Richard dengan empat tahap pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa analisis kebutuhan mahasiswa terhadap kurikulum Tadris Bahasa Indonesia menyangkut ilmu kebahasaan, kesastraan, pendidikan dan pengajaran, metodologi penelitian, pengembangan literasi, teknologi dan komunikasi, serta ilmu moderasi beragama. Analisis kebutuhan dosen terhadap kurikulum Tadris Bahasa Indonesia meliputi relevansi antara tujuan kurikulum dengan visi misi Prodi Tadris Bahasa Indonesia dan  pola sebaran mata kuliah. Adapun  analisis kebutuhan pengguna lulusan terhadap kurikulum Tadris Bahasa Indonesia menyangkut penekanan pada aspek kompetensi kepribadian pemahaman kode etik profesi guru hingga evaluasi pembelajaran. Selanjutnya, pada tahap analisis situasi memuat pembelajaran abad 21, pendidikan Islam berbasis moderasi beragama, dan kurikulum merdeka belajar. Hasil analisis dokumen Kurikulum Tadris Bahasa Indonesia meliputi beberapa problematika terkait mata kuliah yang masih tumpang tindih, tidak mendukung perkembangan teknologi, tidak sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak mendukung kompetensi keilmuan, dan beberapa mata kuliah yang dapat dipadukan. Rancangan draft kurikulum Tadris Bahasa Indonesia berbasis analisis kebutuhan ini dilakukan melalui empat tahapan, yaitu tahap analisis kebutuhan, tahap analisis situasi, tahap capaian pembelajaran lulusan, dan tahap organisasi materi.
Representasi Wacana Oposisi dalam Media Online Indonesia: Analisis Linguistik Kritis Roger Fowler Ngatma'in Ngatma'in; Suhailee Sohnui
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.8718

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konstruksi narasi kelompok oposan dan strategi linguistik kelompok oposan dalam membangun narasi. Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK), secara spesifik menggunakan model Linguistik Kritis Roger Fowler, untuk mengungkap konstruksi ideologis dan makna tersembunyi dalam wacana oposan. Objek kajian berupa wacana yang bersumber dari studi dokumen media cetak dan daring multi-sumber (Koran Tempo, Majalah Tempo, pks.id, KBA news, Liputan6.com, dan Kompas.com) dalam rentang tahun 2016 hingga 2025. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan mengidentifikasi unit-unit linguistik kritis (leksikal, gramatikal, tema, dan retorika) yang kemudian melalui proses kodifikasi data. Keabsahan data dipastikan melalui triangulasi data antar-sumber media yang berbeda, serta verifikasi validitas yang mencakup konvergensi, kecocokan, cakupan, dan detail linguistik. Penelitian ini menemukan bahwa konstruksi narasi oleh kelompok oposan merupakan proses kompleks yang melibatkan strategi nonlinguistik dan linguistik yang cermat dan terencana. Secara strategis, kelompok oposan berupaya memobilisasi narasi dengan mengembangkan tema-tema yang relevan dengan isu publik (korupsi atau ketidakadilan), memilih ragam saluran komunikasi yang paling efektif, memanfaatkan momentum peristiwa terkini, dan membangun kredibilitas yang kuat sebagai fondasi. Implikasi dari temuan ini terhadap wacana politik adalah peningkatan polarisasi dan kontestasi pesan, di mana pihak oposan mampu mendominasi agenda publik melalui bingkai yang mereka tetapkan. Sebagai saran untuk penelitian lanjutan, penting untuk melakukan analisis resepsi publik guna memahami bagaimana strategi linguistik ini diterima oleh beragam lapisan masyarakat.
Distribution of Women’s Ideology in Indonesian Islamic Novels: A Study Based on Erik Olin Wright’s Class Theory Afkar, Taswirul; Hermawan, Wawan; Mardiana, Wiwik
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.10781

Abstract

This study aims to analyze the distribution of women’s ideologies in Indonesian Islamic novels through four dimensions of Erik Olin Wright’s class theory—class structure, class formation, class consciousness, and class struggle—strengthened by the perspectives of agency, intersectionality, and Bourdieu’s concept of cultural capital. The method employed is a qualitative approach with a content analysis design. The research data consist of narrative excerpts, dialogues, and events that represent class positions, forms of capital, and negotiation strategies of female characters. The data sources are four commercially published novels: Hati Suhita, Perempuan Berkalung Sorban, Assalamualaikum Beijing, and Dalam Mihrab Cinta. The findings show that stratification is primarily shaped by religious-cultural capital and symbolic capital, placing women in contradictory class locations: they gain recognition of social status but are constrained in authority and decision-making. Class formation shifts through experiences of life in Islamic boarding schools, marriage, education, and diasporic contexts. Class consciousness develops from acceptance toward a critical reading of gendered religious authority, while class struggle appears in the form of negotiation, identity affirmation, education/writing, and cross-positional solidarity. In conclusion, Wright’s framework is effective for comparatively mapping the dynamics of women’s class positions and is relevant as a pedagogical tool in literature learning to foster critical literacy and gender awareness.
The Development of Digital Indonesian Folklore as An Instrument for Fostering Character in Literature Learning I Wayan Numertayasa; I Nengah Sueca; Ni Made Kemba Rianti
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.10709

Abstract

This study aims to develop a prototype of digital folklore for character building in literature education. This study employs a Research and Development (R&D) approach based on Borg and Gall’s model. The model is adapted and simplified into several stages, focusing on product development, expert validation, and product revision based on expert feedback, and employs two data analysis techniques: qualitative descriptive analysis and descriptive statistical analysis. The findings reveal that literature learning requires digital folklore to shape students' character effectively. Furthermore, the development of digital folklore for character building in literature education is deemed valid. Thus, it can be concluded that digital folklore is beneficial for literature learning and essential for character development. It is therefore recommended that teachers incorporate digital folklore into literature lessons to support character building. Additionally, further research is encouraged to develop existing Indonesian folklore.
Ketimpangan Linguistik di Ruang Kelas: Analisis Wacana Kritis terhadap Konstruksi Dosen tentang Kecakapan Akademik Mahasiswa Multibahasa I Gede Gita Wiastra; Ni Putu Parmini; I Wayan Sumahardika; I Wayan Agus Wiratama; I Gst Agung Ayu Nova Dwi Marhaeni
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.10780

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi kecakapan akademik mahasiswa multibahasa dari perspektif dosen, representasi ketimpangan linguistik dalam konstruksi kecakapan akademik mahasiswa multibahasa, dan dampak konstruksi diskursif dosen terhadap partisipasi dan pembentukan identitas akademik mahasiswa multibahasa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengadopsi Analisis Wacana Kritis dalam perspektif Fairclough. Sumber data dikonstruksi dari wawancara semi-terstruktur dengan dosen dan mahasiswa di IKIP Saraswati. Data tersebut kemudian dianalisis dengan memanfaatkan konsep modalitas linguistik, konstruksi identitas pembelajar, serta pembedaan antara kompetensi bahasa akademik dan kemampuan kognitif, guna mengkaji dinamika relasi kuasa dan proses legitimasi bahasa dalam konteks praktik akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosen mengonstruksi kecakapan akademik terutama melalui indikator performa lisan, seperti kelancaran, keruntutan, dan kejelasan argumentasi. Konstruksi tersebut merepresentasikan ketimpangan linguistik karena bahasa akademik dominan diposisikan sebagai standar legitimasi, sementara variasi bahasa mahasiswa multibahasa cenderung dinilai kurang memadai. Mahasiswa multibahasa memaknai wacana tersebut sebagai tekanan simbolik yang membatasi partisipasi dan memengaruhi pembentukan identitas akademik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa akademik berfungsi sebagai mekanisme seleksi simbolik yang mereproduksi ketimpangan di ruang kelas sehingga diperlukan praktik pedagogis yang lebih inklusif.
Representasi Bali dalam Sastra Melayu Tionghoa dan Implikasinya Bagi Pembelajaran Sastra di Perguruan Tinggi I Made Sujaya; I Kadek Adhi Dwipayana
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.10773

Abstract

Artikel ini mengkaji representasi Bali dalam Sastra Melayu Tionghoa (SMT) melalui tiga roman periode kolonial, yaitu Brangti (1934) karya Romano alias Liem Khing Hoo, Lejak (1935), dan Dewi Kintamani (1954) karya Soe Lie Piet. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Bali dibayangkan, dinarasikan, dan dikonstruksi secara ideologis oleh pengarang peranakan Tionghoa yang menulis dari luar pengalaman kultural Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan analisis tekstual berlandaskan kajian budaya dan perspektif pascakolonial. Analisis difokuskan pada latar cerita, konstruksi tokoh, penggambaran adat, serta posisi ideologis yang termuat dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bali pada awalnya direpresentasikan melalui pandangan eksotis terutama melalui tubuh perempuan, kekakuan adat, dan penegasan keasingan budaya namun sekaligus diposisikan sebagai ruang kemurnian moral dan kedalaman spiritual. Seiring perkembangan narasi, representasi tersebut bergerak menuju konstruksi yang lebih kompleks dan ambivalen, di mana Bali tidak lagi sekadar objek eksotisme, melainkan ruang negosiasi identitas, perjumpaan lintas etnis, dan pembentukan rasa kepemilikan simbolik. Artikel ini berargumen bahwa SMT menghadirkan konstruksi identitas Bali yang polifonik, bergerak dari eksotisme kolonial menuju narasi “menjadi Bali” sebagai horizon etis dan kultural. Kajian ini memperkaya historiografi sastra Indonesia dengan menegaskan kontribusi SMT dalam wacana multikulturalisme dan identitas budaya.Temuan ini memiliki implikasi pedagogis karena roman-roman SMT dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sastra Indonesia untuk mengembangkan literasi multikultural dan pembacaan kritis terhadap representasi kolonial.