cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 1,116 Documents
Gambaran Histopatologi Kauda Epididimis Domba yang Disimpan pada Suhu 4ºC dalam Dulbecco’s Modified Eagle Medium Faisal Amri Satrio; Sri Estuningsih; Ni Wayan Kurniani Karja
Jurnal Veteriner Vol 22 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.674 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.2.175

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerusakan jaringan kauda epididimis domba selama empat hari penyimpanan dengan atau tanpa DMEM pada suhu 4ºC. Sebanyak 15 pasang kauda epididimis dikoleksi dari tempat pemotongan hewan dan disimpan dengan cara salah satu dari setiap pasang kauda epididimis dimasukan ke dalam DMEM dan bagian lainnya disimpan tanpa menggunakan DMEM. Preparat histopatologi jaringan kauda epidimis dilakukan setelah penyimpanan pada suhu 4ºC (H-0), lalu dilanjutkan setelah penyimpanan pada suhu 4ºC selama 24 jam (H-1), 48 jam (H-2), 72 jam (H-3), dan 96 jam (H-4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapsula kauda epididimis secara nyata mengalami penebalan pada H-2 untuk penyimpanan tanpa DMEM dan H-4 untuk penyimpanan menggunakan DMEM (P<0,05). Kerusakan epitel kauda epididimis mengalami peningkatan mulai H-1, namun jumlah kerusakan di H-4 pada penyimpanan menggunakan DMEM lebih sedikit dibandingkan tanpa menggunakan DMEM (P<0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyimpanan kauda epididimis pada suhu 4ºC menggunakan DMEM dapat mengurangi tingkat kerusakan epitel kauda epididimis hingga jam ke-96 dan memperlambat kerusakan kapsula kauda epididimis hingga jam ke-48.
Respons Adaptif Kambing Perah Sapera Dara Terhadap Stres Panas Akibat Perubahan Kuantitas Pakan Fitra Aji Pamungkas; Bagus Priyo Purwanto; Wasmen Manalu; Ahmad Yani; Riasari Gail Sianturi
Jurnal Veteriner Vol 22 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.094 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.2.216

Abstract

This study aimed to evaluate the adaptive response of young sapera dairy goats on heat stress due to changes in feed quantities. Four young sapera dara dairy goats was kept in individual cages measuring 1.6 × 1.0 m2. Feeding in the form of concentrate and silage, respectively 800 g/day (A), 500 g/day (B), 200 g/day (C), and without feeding (D). The study design used Latin squares 4x4 with observed parameters including environmental conditions, physiological and haematological responses. The results showed that the air temperature, humidity, and wind speed in the cage were 20.94-31.59 °C, 47.19-99.20 %, and 1.81-2.02 m/ sec, respectively. Physiological and haematological responses of the four groups indicated that skin temperature, respiratory rate, and haematological parameters did not show significant differences (P>0.05), while body and rectal temperature, and heart rate showed differences (P<0.05) only at several points of observation, especially between groups A and D. In general, the rectal temperature and heart rate of 38.5-39.3 °C and 72.0-99.5 times per minute were still within the normal range. The physiological and haematological response values of group D that were lower than another groups indicated that reducing feed intake would reduce the metabolic heat generated in an effort to maintain the body’s thermal balance and the adaptive response of goats. This indicates that the young sapera dairy goat has the adaptive ability to heat stress due to changes in feed quantity.
Deteksi Antibodi Terhadap Rabies pada Anjing Lepasan Berdasarkan Topografi Wilayah di Kabupaten Badung, Bali Sayu Raka Padma Wulan Sari; I Gusti Ngurah Kade Mahardika; I Wayan Masa Tenaya
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.668 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.398

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase anjing lepasan yang memiliki antibodi protektif terhadap virus rabies berdasarkan topografi wilayah tempat tinggal anjing di Kabupaten Badung. Lokasi pengambilan sampel, yaitu di Kecamatan Mengwi (Desa Mengwi, Mengwitani, Sempidi) yang mewakili wilayah perkotaan, Kecamatan Petang (Desa Pangsan, Petang, Belok) yang mewakili wilayah pegunungan dan Kecamatan Kuta Selatan (Desa Jimbaran, Ungasan, Tanjung Benoa) yang mewakili wilayah pantai. Objek penelitian adalah 90 ekor anjing lepasan dengan umur di atas tiga bulan. Sampel serum diuji menggunakan kit enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Rata-rata titer antibodi anjing lepasan terhadap virus rabies di Kabupaten Badung adalah 0,24±0,31 IU/mL. Persentase anjing lepasan yang memiliki antibodi terhadap virus rabies (e” 0,1 IU/mL) adalah 100%. Sementara itu, persentase anjing lepasan yang mempunyai antibodi protektif terhadap virus rabies (e” 0,5 IU/mL) adalah 11,1%. Persentase anjing yang memiliki antibodi dan yang memiliki antibodi protektif terhadap virus rabies di masing-masing wilayah topografi tidak berbeda nyata. Penelitian ini memberikan fakta bahwa semua anjing lepasan yang dijadikan sampel di tiga wilayah topografi Kabupaten Badung memiliki antibodi rabies, dan hanya 11,1% anjing lepasan yang memiliki antibodi protektif terhadap virus rabies. Perlu strategi dari pemerintah untuk memfokuskan sasaran vaksinasi pada anjing lepasan, mengingat wilayah jelajah anjing lepasan lebih luas sehingga penularan rabies oleh anjing lepasan kemungkinan akan sangat besar. Hal ini perlu dilakukan untuk mencapai keberhasilan dalam pemberantasan rabies di Kabupaten Badung.
Pemberian Ekstrak Akar Pasak Bumi Meningkatkan Kualitas Spermatozoa Domba Waringin Amalia Sutriana; Mira Ayu Lestari Hasibuan; Nurhazimah Nurhazimah; Teuku Armansyah; Tongku Nizwan Siregar; Budianto Panjaitan; Hafizuddin Hafizuddin; Arman Sayuti; Dwinna Aliza; Rosmaidar Rosmaidar
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.503 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.3.317

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) terhadap peningkatan konsentrasi testosteron domba Waringin. Dalam penelitian ini digunakan dua ekor domba waringin jantan berumur ±4 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan pola bujur sangkar latn 2 x 2 sehingga hewan percobaan diberi perlakuan 20 mL akuades per oral sebagai kontrol (P1) dan 20 mL larutan yang mengandung 45 mg/kg bobot badan ekstrak pasak bumi yang diberikan per oral (P2). Perlakuan diberikan selama enam hari pada pukul 09.00 WIB. Pada bulan ke-1 domba pertama mendapat perlakuan P1 sedangkan domba kedua mendapat perlakuan P2. Sebaliknya, pada bulan ke-2 domba pertama mendapat perlakuan P2 sedangkan domba kedua mendapat perlakuan P1. Koleksi darah untuk pemeriksaan konsentrasi hormon testosteron dilakukan lima jam setelah pemberian ekstrak akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack). Analisis konsentrasi testosteron dilakukan menggunakan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) yang diukur pada hari 1, 3 dan 6. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam pola bujur sangkar latin. Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa volume semen, motilitas spermatozoa, viabilitas spermatozoa dan abnormalitas spermatozoa pada domba yang diberikan ekstrak akar pasak bumi (E. longifolia Jack) menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol namun konsentrasi testosteron tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P>0,05). Disimpulkan bahwa pemberian ekstrak akar pasak bumi meningkatkan kualitas spermatozoa namun tidak menyebabkan peningkatan konsentrasi hormon testosteron pada domba waringin.
Hubungan Karakteristik Morfologi Tubuh dengan Bobot Badan Ayam Bangkok Jantan Hastuti Hastuti; Junaedi Junaedi; Arfandika Putra
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.433 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.360

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antar morfologi tubuh dengan bobot ayam Bangkok jantan, sebagai salahsatu bahan pertimbangan dalam menyeleksi dan menduga bobot badan ternak ayam Bangkok. Materi penelitian adalah Ayam Bangkok jantan sebanyak 30 ekor, umur 12 bulan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif (pengukuran). pengambilan sampel ayam Bangkok dilaksanakan dengan purposive sampling. Variabel yang diamati yaitu panjang shank (PS), Lebar Dada (LeDa), Lingkar shank (LiSi), Panjang Dada (PaDa), Panjang tibia (TiBi), Tinggi pundak (TiPu), Lingkar tibia (TiPi), Panjang Punggung (PaBa), Lingkar Dada (LiDa), Bobot Badan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan analisis data menggunakan analisis regresi – korelasi. Nilai korelasi yang sangat lemah menunjukkan hampir tidak adanya korelasi antara variabel yang diamati, dari hasil penelitian ini didapatkan ada 3 variabel yang menunjukkan korelasi sangat lemah yaitu, bobot badan dengan panjang shank (0,20), panjang tibia (0,08) dan panjang badan (0,21). Korelasi yang rendah antara bobot badan dengan panjang shank, panjang tibia dan panjang badan mengindikasikan bahwa parameter tesebut tidak bisa menduga bobot badan pada ayam Bangkok jantan.
Urine Chemistry Profile of Captive Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) in Bali Elephant Camp, Carangsari, Petang, Badung, Bali Theresa Utami; I Nengah Wandia; Nyoman Sadra Dharmawan
Jurnal Veteriner Vol 22 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.293 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.2.298

Abstract

Sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus) is the biggest land mammals in Indonesia in criteria A2c category Critically Endangered (CR) dan Appendix I in Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES). Considering the importance of conservation and health maintenance of Sumatran elephants, various diagnostic tests must be carried out to determine the health status of elephants ranging from physical examination to blood chemistry test and urinalysis.The aim of this study was to obtain the chemical profile of the Sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus) which is captive in the Bali Elephant Camp, Carangsari, Petang, Badung Regency, Bali. The urine sample taken is mid stream (middle emission) urine. Sampling was carried out 5 times for 2 weeks with 2-3 days distance between samples taken and the dipstick test was carried out twice in one sample. Based on the results of this study, it can be concluded that of the 8 Sumatran elephants maintained at the Bali Elephant Camp all are 100% negative for glucose. Meanwhile, protein levels were found in 5 individuals (62.5%) in the range 0-2000. Positive bilirubin and hematuria were found in one individual (12.5%). Ketone levels are found in the range 0-160 in 7 individuals. A total of 84.7% of urobilinogen data (mg / dL) is 0.2. The pH value is in the range of 6-9, while the value of density is in the range 1-1,020. Leukocyte level (Leu / µL) is worth 70 (91.3%).
Kefir Susu Kambing dengan Penambahan Ekstrak Etanol Kembang Telang (Clitoria ternatea) Berpotensi Kuat sebagai Antioksidan dan Antibakteri Zuraida Hanum; Cut Aida Fitri; Yurliasni Yurliasni
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.296 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.406

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat kembang telang (Clitoris ternatea) pada fermentasi kefir susu kambing sebagai antioksidan dan antibakteri penyebab jerawat, Proponibacterium acnes. Kembang telang yang digunakan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 50 °C selama delapan jam dan selanjutkan dilakukan perendaman di dalam larutan etanol 97% dengan metode maserasi diulang sebanyak tiga kali. Hasil maserasi diektraksi dan dianalisis kandungan fitokimia serta aktivitas antioksidan. Perlakuan kefir susu kambing dengan penambahan ekstrak etanol kembang telang, diamati nilai antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini menggunakan Rancangan Split Plot Design yang terdiri dari dua faktor. Faktor A, ekstrak kembang telang (2,5% dan 5%), Faktor B, penambahan kefir (2,5%, 5%, dan 7,5%), sehingga terdapat enam kombinasi perlakuan yang masing-masing terdiri dari tiga ulangan, sehingga diperoleh 18 unit satuan percobaan pada penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh komponen fitokimia dari kembang telang terdiri dari alkaloid, saponin, flavonoid, terpenoid, steroid, Tannin. Komponen fitokimia yang diperoleh memperlihatkan potensi kembang telang sebagai antibakteri dan antioksidan. Kandungan aktivitas antioksidan pada kembang telang termasuk dalam kategori kuat sebanyak 97%. Nilai antioksidan tertinggi dari penggunaan 2,5% ekstrak etanol kembang telang dan 2,5% persen kefir sebesar 73%. Nilai antibakteri berkisar antara 8,17 mm-9,50 mm dan digolongkan kategori penghambatan yang kuat > 6 mm. Nilai antibakteri tertinggi diperoleh dari penambahan 2,5% ekstrak etanol kembang telang dan 5% persen kefir. Simpulan dari penelitian ini, penambahan kembang telang pada kefir susu kambing berpotensi sebagai antioksidan dan antibakteri P. acnes.
Uji Biokompatibilitas Serbuk Limbah Cangkang Cue (Faunus ater) Sebagai Bahan Implan Tulang (Bone Graft) pada Kelinci Astri Wulandari; Erwin Erwin; Rusli Rusli; Amiruddin Amiruddin; Sugito Sugito; Ummu Balqis; Mustafa Sabri; Sri Wahyuni
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.163 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.324

Abstract

Bahan implan tulang (bone graft) berbahan dasar alam saat ini mulai banyak dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji biokompatibilitas serbuk limbah cangkang cue (Faunus ater) sebagai kandidat bahan implan tulang pada kelinci berdasarkan pengamatan gambaran klinis otot, densitas radiografi, histopatologi tulang dan otot. Penelitian ini menggunakan enam ekor kelinci jantan berusia 8-10 bulan dengan bobot badan 1,5-2,0 kg. Tindakan bedah dilakukan secara steril dan aseptis dengan membuat defek area diaphysis tulang femur berdiameter 5 mm mencapai sumsum tulang. Kelompok perlakuan I (P1) diinfiltrasi NaCl 0,9% dan kelompok perlakuan II (P2) diberikan serbuk cangkang cue sebanyak 0,25 g. Pengamatan radiografi dilakukan pada hari ke-15, 30, 45, dan 60 setelah perlakuan dengan mengamati integrated density area implan dan area sekeliling implan. Hari ke-60 setelah perlakuan, semua kelinci dikorbankan nyawanya degan cara dieutanasi untuk pembuatan sediaan histopatologi dalam parafin blok. Integrated density material implan dan area sekeliling implan menunjukkan densitas radiopaque yang berbeda siginifikan antar kelompok perlakuan dan berfluktuasi di antara waktu pengamatan dengan perbedaan signifikan. Pengamatan histopatologi otot sekitar implan menunjukkan sel inflamasi, nekrosis dan jaringan ikat, sedangkan tulang sekitar implan menunjukkan proliferasi jaringan ikat, neovaskularisasi, proliferasi bone marrow, pertumbuhan tulang baru dan sel inflamasi. Serbuk cangkang cue memiliki biokompatibilitas yang baik dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi bone graft.
Kualitas dan Tingkat Maturasi Oosit Kucing Domestik dari Ovarium yang Disimpan dalam Waktu dan Media yang Berbeda Ni Wayan Helpina Widyasanti; Ni Wayan Kurniani Karja; Ekayanti Mulyawati Kaiin; Mohamad Agus Setiadi
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.188 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat maturasi oosit kucing domestik yang disimpan dalam waktu dan media yang berbeda. Ovarium yang diperoleh setelah ovaryohisterectomy disimpan dalam tabung steril dan cara penyimpanannya dibagi menjadi tiga perlakuan , yaitu: 1) tanpa media, 2) berisi NaCl 0,9% atau 3) berisi PBS. Ovarium tersebut kemudian dibawa ke laboratorium dengan termos yang berisi NaCl 0,9% dengan suhu 35-37°C atau dengan cooler box suhu 4°C. Sampel ovarium suhu 4°C kemudian disimpan dalam refrigerator dengan suhu 4°C selama 24 dan 48 jam. Oosit dari ovarium yang dibawa dengan suhu suhu 35-37°C dikoleksi dalam waktu di bawah enam jam setelah sampai di laboratorium. Pada akhir penyimpanan, oosit dikoleksi dan dievaluasi kualitasnya. Selanjutnya, oosit dimaturasi dan dievaluasi tingkat maturasinya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan morfologinya kualitas oosit kucing tidak dipengaruhi oleh waktu dan jenis media selama penyimpanan (P>0,05). Tingkat maturasi oosit untuk mencapai tahap MII mulai menurun (P<0,05) pada ovarium yang disimpan tanpa media maupun dengan PBS pada 24 jam periode penyimpanan, sedangkan oosit yang berasal dari ovarium yang disimpan dengan NaCl 0,9% mulai menurun (P<0,05) pada 48 jam periode penyimpanan. Simpulan pada penelitian ini adalah penyimpanan ovarium dengan atau tanpa media selama 48 jam tidak memengaruhi morfologi oosit kucing namun memengaruhi tingkat maturasi oosit kucing.
Pengimbuhan Fitobiotik dan Probiotik Meningkatkan Rasio Konversi Pakan dan Menurunkan Persentase Lemak Abdomen Ayam Pedaging Agustina Dwi Wijayanti; Antasiswa Windraningtyas Rosetyadewi; Ida Fitriana; Anggi Muhtar Pratama
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.987 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.303

Abstract

Phytobiotic is a derivative compound from plants that have the benefits as medicine or growth promoter. The compound had studied on it’s beneficial effect as growth promoter in poultry. This study has deducted to know the effect of Macleaya cordata extract and Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus debrueckii susp. bulgaricus, Lactobacillus rhamnosus, Enterococcus faecium, dan Streptococcus salivarius susp. Thermophilus as feed additive products toward the feed convertion rate (FCR) and the percentage of abdominal lipid. The 60 of day old chick were maintained and devided into four groups consist of 15 chicken each (n=5, r=3). Group A treated with phytobiotic (Macleaya extract) 0.125 mg/kg of feed, group B treated with probiotic Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus debrueckii susp. bulgaricus, Lactobacillus rhamnosus, Enterococcus faecium, dan Streptococcus salivarius susp. Thermophilus (probiotic product) 0 ,100 mg/kg of feed, group C treated with both phytobiotic and probiotic dose of 0,075 mg/kg dan 0,050 mg/kg of feed, respectively, and group K which no additives in feed. Body weight measurement did in every week. At day- 30 the broilers were euthanized and abdominal lipid weighted. The body weight and abdominal lipid measurements were analizyd with one way ANOVA, FCR values evaluated descriptively. The results showed that FCR of group A,B,C were better than control group (K) (A=1.21;B=1.20;C=1.26;K=1.32). The body weight between groups had no significant difference (P> 0.05), meanwhile the weight of abdominal lipid of group A,B,C, were lower (P<0.05) than control group (K). The percentage of abdominal lipid compare to body weight of group B and C were lower than K. It concluded that supplementation of Macleaya cordata extract and Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus debrueckii susp. bulgaricus, Lactobacillus rhamnosus, Enterococcus faecium, dan Streptococcus salivarius susp. Thermophilus had benefits to reduce the abdominal lipid in broilers and gave the better FCR values.

Page 93 of 112 | Total Record : 1116


Filter by Year

2000 2024