Articles
APLIKASI MULTISENSOR SLM DISERTAI SISTEM DATA LOGGER BERBASIS ARDUINO UNO SEBAGAI ALAT UKUR KEBISINGAN
Azen Ramadan;
Alex Harijanto;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebisingan dapat terjadi diwilayah perkotaan padat penduduk. Sebagai contoh misalnya di SMP Negeri 2 Jember yang letaknya di wilayah perkotaan dimana kebisingan sering menggangu proses belajar mengajar di sekolah. Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji tingkat kebisingan rata-rata di SMP Negeri 2 Jember pada pagi, siang dan malam hari. Pemerintah menetapkan tingkat intensitas bunyi di tempat pendidikan non-kebisingan adalah 45-55 dB. Metode pengukuran tingkat intensitas suara di tempat pendidikan pagi, siang dan malam dibutuhkan alat untuk merekam data pada pagi, siang dan malam hari. Arduino adalah kombinasi antara perangkat keras dan perangkat lunak dengan persyaratan sumber daya rendah, yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan objek (jumlah fisik) di sekitarnya. Modul sensor suara mikrofon Keyes-037 adalah detektor suara dengan sensitivitas tinggi. SKU-316412 adalah sistem pencatatan data yang dilengkapi dengan kartu SD yang mampu menyimpan data 32 MB sampai 8 GB. Arduino dan kedua modul tersebut dapat dirakit menjadi alat ukur dan intensitas perekaman suara untuk ditempatkan di SMP Negeri 2 Jember.
LKS BERBASIS VIRTUAL LAB UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI ELASTISITAS DAN HUKUM HOOKE
Ratih Hendrawati;
Sri Handono Budi Prastowo;
Supeno Supeno
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sekolah, guru, dan siswa memegang peran penting dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran senantiasa terjadi kegiatan interaksi antara dua unsur manusia yaitu siswa sebagai pihak belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan media pembelajaran yang dicetak dan dikemas sedemikian rupa, sehingga siswa diharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan LKS berbasis Virtual Lab. Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Dalam penelitian ini, penentuan daerah penelitian menggunakan purposive sampling area. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan ketersediaan sekolah sebagai tempat penelitian di SMA Muhammadiyah 3 Jember pada kelas XI IPA. Teknik pengambilan yang dipakai dalam penentuan sampel ini adalah teknik purposive sampling area. Pengambilan sampel untuk menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen dilakukan dengan menggunakan uji homogenitas pada populasi. Uji homogenitas menggunakan uji One Way Anova pada SPSS (Statisical Package for Sosial Science). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pre-test dan post-test. Metode analisis data hasil belajar menggunakan Normalized Gain (Ng). Berdasarkan penelitian yang dilakukan setelah adanya LKS berbasis Virtual Lab dengan materi Elastisitas dan Hukum Hooke mengalami peningkatan.
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI MOMENTUM, IMPULS DAN TUMBUKAN MELALUI TES DIAGNOSTIK EMPAT TAHAP PADA SISWA SMA KELAS XII
Sri Handono Budi Prastowo;
Alfi Hidayat;
Bambang Supriadi
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Miskonsepsi atau kekeliruan konsepsi merupakan fenomena yang hingga kini menjadi penghambat dalam pengajaran fisika maupun sains lainnya, karena keberadaannya dipercaya dapat mengganggu pada proses asimilasi pengetahuan-pengetahuan baru pada benak para siswa, terutama pada pembelajaran fisika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis miskonsepsi yang terjadi pada siswa pada pokok bahasan momentum, impuls dan tumbukan serta menentukan besar persentase miskonsepsi siswa. Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian analisis deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 4 SMA Muhammadiyah 3 jember dan siswa kelas XII IPA 3 SMAN 1 Arjasa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis CRI (Certanty of Response Index) dan analisis tes diagnostik empat tahap berupa kombinasi jawaban four-tier test. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, di SMA Muhammadiyah 3 Jember terdapat 12 % siswa miskonsepsi, 84 % tidak paham konsep, 2 % paham konsep dan 2 % error, sedangkan pada SMAN 1 Arjasa terdapat 16 % siswa miskonsepsi, 71 % siswa tidak paham konsep, 11 % paham konsep dan 2 % error. Adapun jumlah rata-rata persentase siswa yang mengalami miskonsepsi dari dua sekolah tersebut adalah sebesar 14 %.
KEMAMPUAN MENYELESAIKAN WELL STRUCTURED PROBLEM DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MATERI TEORI RELATIVITAS DI SMA
Lupita Rahayu;
Sri Handono Budi Prastowo;
Bambang Supriadi
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Proses pembelajaran fisika memerlukan kemampuan intelektual. Indikator dari perilaku intelektual adalah kemampuan menyelesaikan masalah. Kemampuan menyelesaikan masalah merupakan keterampilan intelektual yang di nilai sebagai hasil belajar yang penting dan signifikan dalam proses pembelajaran. Dengan mengetahui kemampuan menyelesaikan masalah maka siswa bisa menilai diri sebagai motivasi untuk berubah menjadi yang lebih baik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dn wawancara. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA SMA. Intrumen test yang digunakan adalah tes berbentuk soal well structured problem.hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan well structured problem pada indicator mengenali masalah sebanyak 41% mampu mengenali masalah dengan sangat baik. Pada indicator merencanakan strategi 28,43 mampu menerapkan strategi dengan baik. Pada indicator menerapkan strategi 10,78% siswa yang mampu menerapkan strategi dengan kategori cukup. Dan hanya 0,98% siswa yang mampu menyelesaikan masalah dengan kategori kurang.
PERAN BAHAN AJAR MULTIMEDIA INTERAKIF TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS) SISWA KELAS X SMA
Sri Handono Budu Prastowo;
Isma Alfia Novita;
Sri Wahyuni
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Keterampilan Proses Sains (KPS) merupakan metode ilmiah yang di dalamnya melatihkan langkah-langkah untuk menemukan sesuatu melalui eksperimen dan percobaan (Sartika, 2015). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui KPS siswa setelah menggunakan bahan ajar fisika berbasis multimedia interaktif pada pokok bahasan momentum dan impuls di SMA. Sebelum digunakan dalam pembelajaran, bahan ajar fisika berbasis multimedia interaktif terlebih dahulu divalidasi oleh dosen ahli dan telah dikategorikan sebagai bahan ajar yang cukup valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar fisika berbasis multimedia interaktif diketahui Rata-rata KPS dari setiap aspek yaitu 75,7% sehingga dapat dikategorikan siswa memiliki KPS yang sangat baik.
ANALISIS PENGARUH STRATEGI SCAFFOLDING KONSEPTUAL DALAM MODEL PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
Muhammad Amiruddin;
Srihandono Budi Prastowo;
Trapsilo Prihandono
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Strategi scaffolding merupakan praktik yang didasarkan pada konsep Vigotsky mengenai zona ofproximal development (zona perkembangan terdekat). Penerapan strategi scaffolding dalampembelajaran berarti guru memberikan sejumlah bantuan kepada siswa yang sedang dalam kesulitandan kemudian menghilangkan bantuan tersebut, segera setelah siswa dirasa mampu menyelsaikannyasendiri. Dalam praktik pelaksanaan strategi scaffolding, guru bisa memadukannya dengan modelmodel pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Penelitianini merupakan studi literatur, yaitu dengan merangkum dan mereview beberapa penelitian yangpernah dilakukan dengan tujuan untuk mendekripsikan serta menginterpretasikan informasi yangrelevan terkait penerapan strategi scaffolding konseptual dalam model pembelajaran terhadap hasilbelajar siswa. Dari pencarian litertur, didapatkan 3 buah penelitian terkait penerapan strategiscaffolding konseptual yang dipadukan dalam 3 model pembelajaran yang berbeda. Penelitianpertama menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI), penelitian kedua menggunakanmodel pembelajaran Think-Pair-Share (TPS), dan penelitian ketiga menggunakan modelpembelajaran Student Teams-Achievement Devinisions (STAD). Berdasarkan hasil analisis literaturtersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi scaffolding konseptual dalam modelpembelajaran memberi pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa.Kata Kunci: ZPD, Strategi Scaffolding Konseptual, Model Pembelajaran, Hasil Belajar
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI ELASTISITAS PADA SISWA KELAS XI DI SMAN 4 JEMBER
Silmi Lailatun Nisa;
Sri Handono Budi Praswoto;
Eny Setyowati
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami oleh siswa kelas XI di SMA Negeri 4 Jember khusunya pada materi Elastisitas. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI MIPA 1 yang berjumlahkan 35 orang. Penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2019/2020. Data penelitian diperoleh dari pemberian soal tes pemahaman konsep Elastisitas yang berupa soal essay sebanyak 6 soal yang dilengkapi dengan CRI (Certainty of Response Index). Penggunaan CRI dalam penelitian adalah CRI dengan index 0-5 (skala enam). Perolehan data penelitian dapat diketahui bahwa sebanyak 26 % siswa mengalami miskonsepsi, sebanyak 18 % siswa mengalami tidak pahamnya konsep Elastisitas dan sebanyak 56 % siswa telah memahami konsep Elastisitas. Berdasarkan data, miskonsepsi yang dialami oleh yaitu: (a) membedakan benda elastis dan plastis, (b) menentukan modulus Young, (c) menentukan beban yang menggantung di susunan pegas campuran, (d) menentukan energy potensial pegas, dan (e) menyusun sendiri susunan pegas secara campuran. Berdasarkan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan informasi tentang miskonsepsi yang dialami oleh siswa pada pokok bahasan Elastisitas serta dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melanjutkan penelitian ini.Kata Kunci : miskonsepsi, elastisitas, CRI (Certainty of Response Index)
ANALISIS PENGUASAAN KONSEP MEDAN MAGNET DI SEKITAR KAWAT BERARUS PADA SISWA KELAS XII SMA DI KABUPATEN JEMBER
Nur Sofi Hidayah;
Sudarti .;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penguasaan konsep diperlukan pada setiap materi sebelum mengarah pada materi selanjutnya, maka diperlukan konsep-konsep pembelajaran yang tersusun secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan konsep medan magnet di sekitar kawat berarus; dan mendeskripsikan minat belajar siswa terhadap penguasaan konsep medan magnet di sekitar kawat berarus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tempat penelitian ditentukan menggunakan purporsive sampling area yang diambil satu kelas pada kelas XII SMA semester ganjil pada tahun ajaran 2017/2018. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes, dan metode angket. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) penguasaan konsep berdasarkan materi medan magnet di sekitar kawat berarus 56,67% siswa yang dapat menguasai konsep fisika medan magnet di sekitar kawat berarus, 43,33% siswa kurang menguasai konsep fisika medan magnet di sekitar kawat berarus, dan tidak ditemukan siswa yang tidak menguasai konsep fisika medan magnet di sekitar kawat berarus;Â penguasaan konsep berdasarkan indikator penguasaan konsep mengingat (C1), memahami (C2),mengaplikasikan (C3), dan menaganalisis (C4) lebih unggul daripada indikator penguasaan konsep mengevaluasi (C5), dan membuat (C6) yang dapat dikatakan masih dalam kategori rendah atau siswa tidak menguasai konsep pada indikator tersebut ; (2) minat belajar siswa mempengaruhi penguasaan konsep medan magnet di sekitar kawat berarus.
KETIDAKPASTIAN MOMENTUM ATOM DEUTERIUM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETIDAKPASTIAN HEISENBERG PADA BILANGAN KUANTUM n ≤ 3
Bagus Hadi Saputra;
Bambang Supriadi;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Deuterium merupakan salah satu isotop atom hidrogen yang memiliki sifat kuantum mirip denganatom hidrogen dengan susunan sederhana, sehingga dalam penyelesaiannya dapat diselesaikan denganpersamaan Schrodinger dalam koordinat bola. Kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukandengan pasti, yang dapat ditentukan adalah probabilitas menemukan elektron sebagai fungsi jarak dariinti atom. Probabilitas menemukan elektron didalam atom dapat diketahui berdasarkan fungsigelombang radialnya. Penelitian ini bertujuan menentukan ketidakpastian momentum denganpendekatan ketidakpastian Heisenberg atom deuterium pada bilangan kuantum (n ≤ 3). Jenispenelitian ini adalah penelitian non eksperimen berupa pengembangan teori yang sudah ada. Hasilpenelitian berupa (1) simulasi distribusi probabilitas radial yang memberikan informasi keberadaanelektron dalam atom deuterium, serta menunjukkan bahwa semakin jauh keberadaan elektron dari inti,maka semakin kecil peluang ditemukannya elektron dalam atom deuterium (2) data distribusiketidakpastian momentum bergantung pada bilangan kuantum utama (n) dan bilangan kuantumazimuth, serta jarak elektron dari inti atom. Semakin meningkat jarak elektron dari inti atompada bilangan kuantum utama dan azimuth yang sama, maka akan menghasilkan kenaikan simultandalam ketidakpastian posisi radial serta menghasilkan penurunan simultan dalam ketidakpastianmomentum radial, sehingga semakin kecil ketidakpastian (semakin besar kepastian) dalam mengukurposisi yang tepat, semakin tidak akurat momentum partikelnya.Kata kunci: Pendekatan Ketidakpastian Heisenberg, Ketidakpastian Momentun Atom Deuterium,Bilangan Kuantum n ≤ 3.
PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN LKPD BERBASIS DISCOVERY LEARNING DISERTAI DIAGRAM V UNTUK MEMBELAJARKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Laily Ramadhanty;
Sri Handono Budi Prastowo;
Yushardi Yushardi
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Berpikir kreatif (creative thinking) merupakan proses berpikir seseorang yang berorientasi untuk memunculkan suatu gagasan atau ide baru yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order Thinking Skills). Kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan berpikir yang berbeda, responsif (peka terhadap permasalahan), dan memberikan solusi yang tidak biasa dengan cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Ketercapaian tujuan pembelajaran yang sesuai merupakan salah satu indikator membelajarkan kemampuan berpikir kreatif. Indikator kemampuan berpikir kreatif meliputi fluency thinking (berpikir lancar), originality thinking (berpikir kebaruan), elaborate ability (keterampilan mengelaborasi), dan flexibility thinking (berpikir luwes). Namun, realita yang terjadi di sekolah menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran kurang menekankan pada kemampuan berpikir kreatif. Salah satu upaya untuk membelajarkan kemampuan berpikir kreatif dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. Peneliti memberikan solusi dengan menyusun LKPD berbasis discovery learning berbantuan diagram V. Diagram V yakni suatu alat bantu yang membantu peserta didik untuk mengkonstruksi pemahaman terkait pengetahuan yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti menggunakan metode deskriptif yang dilakukan di kelas XI MIPA SMA terkait tahapan-tahapan penyusunan LKPD dan diagram V dalam upaya membelajarkan kemampuan berpikir kreatif, kesimpulan yang diperoleh yakni LKPD berbasis discovery learning berbantuan diagram V dapat membelajarkan kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran fisika.Kata Kunci: diagram V, kemampuan berpikir kreatif, LKPD Discovery Learning, pembelajaran