Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata) PADA TUMPANGSARI DENGAN TANAMAN KANGKUNG (Ipomea reptans) Wanna Septian, Nindy Ayu; Aini, Nurul; Herlina, Ninuk
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.305 KB) | DOI: 10.21776/193

Abstract

Baby corn atau jagung semi merupakan salah satu produk dari tanaman jagung manis yang nilai ekonomisnya tinggi. Keuntungan lain memproduksi baby corn ialah waktu panen yang singkat. Kendala yang dialami petani baby corn ialah rendahnya produktivitas karena sarana produksi seperti pupuk dan pestisida harganya semakin tinggi. Penggunaan bahan organik sebagai pengganti pupuk kimia dan optimalisasi lahan dengan pola tanam tumpangsari bisa menjadi solusi dari permasalahan yang dihadapi petani baby corn. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui jenis dan komposisi bahan organik yang bisa menggantikan pupuk anorganik pada budidaya baby corn yang ditanam tumpangsari dengan kangkung ini telah dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2011 di Desa Dadaprejo, Batu. Penelitian ini menggunakan RAK yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu A = 100% pupuk anorganik; B = 100% kompos kotoran sapi; C = 50% kompos kotoran sapi + 50% paitan (Tithonia diversifolia); D = 50% kompos kotoran sapi + 50% orok – orok (Crotalaria juncea); E = 25% kompos kotoran sapi + 75% paitan (Tithonia diversifolia); F = 25% kompos kotoran sapi + 75% orok – orok (Crotalaria juncea). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk anorganik, kotoran sapi serta kombinasi kotoran sapi dan pupuk hijau dengan komposisi yang berbeda-beda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis yang dipanen muda dan kangkung. Analisis R/C ratio menunjukan bahwa pada aplikasi 50% kompos kotoran sapi + 50% paitan (Tithonia diversifolia) memiliki nilai R/C ratio tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya yaitu 2,26. Kata kunci : Baby Corn, Kompos Kotoran Sapi, Paitan (Tithonia diversifolia), Orok – Orok (Crotalaria juncea)
APLIKASI PGPR DAN DEKAMON SERTA PEMANGKASAN PUCUK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) TIPE TEGAK Srirejeki, Dewi Indah; Maghfoer, Mochammad Dawam; Herlina, Ninuk
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.082 KB) | DOI: 10.21776/204

Abstract

Produksi buncis yang berfluktuasi dan cenderung masih rendah mengakibatkan kebutuhan baik di dalam maupun untuk tujuan ekspor masih belum terpenuhi. Penambahan nutrisi dalam melakukan budidaya buncis merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil buncis dilapang. Penambahan nutrisi dapat diberikan berupa pupuk organik maupun pupuk hayati (Plant Growth Promotor Rhizobacteria) atau dengan penambahan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi ZPT (PGPR dan Dekamon) serta pemangkasan pucuk terhadap produktivitas buncis tipe tegak. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Desa Tumpang Kecamatan Talun Kabupaten Blitar dengan ketinggian tempat 200 m diatas permukaan laut dan dimulai pada bulan Juni hingga Agustus 2012. Metode penelitian yang digunakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ZPT serta pemangkasan pucuk memberikan respon terhadap produktivitas tanaman buncis tegak. Aplikasi PGPR tanpa pemangkasan pucuk mampu menghasilkan bobot segar polong per hektar sebesar 15,41 ton ha-1 atau meningkat sebesar 62,39% dibandingkan tanpa PGPR dan Dekamon serta pemangkasan pucuk.  Perlakuan tanpa ZPT, pemangkasan pucuk umur 14 dan 28 hst dapat meningkatkan bobot segar polong per tanaman dan per hektar sebesar 54,16% dan 42,89 % dibandingkan tanpa pemangkasan pucuk. Aplikasi PGPR dapat meningkatkan produktivitas tanaman buncis apabila tanpa dilakukan pemangkasan pucuk, jika dilakukan pemangkasan pucuk saat umur 14, 21, dan 28 hst aplikasi PGPR serta Dekamon tidak dapat meningkatkan produktivitas buncis. Kata kunci: buncis tipe tegak, PGPR, Dekamon, Pemangkasan Pucuk, Produksi
PENGATURAN TEKNIK APLIKASI BERBAGAI SUMBER BAHAN ORGANIK PADA BUDIDAYA MENTIMUN (Cucumis sativus L.) Nujuma, Laila Nur; Herlina, Ninuk; Ariffin, Arifin
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/295

Abstract

Terbatasnya ketersediaan air merupakan permasalahan budidaya di lahan kering, sehingga diperlukan teknologi yang mampu mengkonservasi air tanah untuk mem-pertahankan kandungan air tanah pada budidaya mentimun. Bahan organik me-rupakan salah satu alternatif yang mampu mempertahankan kandungan air tanah. Bahan organik dapat diaplikasikan dengan cara ditebar maupun dicampur dengan ta-nah. Penelitian ini bertujuan mendapatkan teknik aplikasi dari berbagai sumber bahan organik yang mampu mempertahankan kandungan air tanah, sehingga dapat men-dukung pertumbuhan dan produksi men-timun. Penelitian dilaksanakan di rumah plastik, Desa Kepung, Kabupaten Kediri pada ketinggian 132 m dpl dengan tipe tanah regosol, dimulai pada bulan Januari hingga Maret 2013. Metode penelitian yang digunakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 10 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan ialah, P1 (Pupuk kandang sapi diaplikasikan de-ngan cara di-tebar), P2 (Pupuk kandang sapi di-aplikasikan dicampur dengan tanah), P3 (Ampas tebu diaplikasikan dengan cara ditebar), P4 (Ampas tebu diaplikasikan dicampur dengan tanah), P5 (Sekam padi diaplikasikan dengan cara di-tebar), P6 (Sekam padi diaplikasikan dicampur dengan tanah), P7 (Sekam bakar diaplikasikan dengan  cara ditebar), P8 (Sekam bakar di-aplikasikan dicampur dengan tanah), P9 (Jerami padi diaplikasikan dengan cara ditebar), dan P10 (Jerami padi di-aplikasikan dicampur dengan tanah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik aplikasi bahan organik pupuk kandang sapi, ampas tebu, sekam padi, sekam bakar, dan jerami padi yang diaplikasikan dengan cara ditebar maupun dicampur dengan tanah memiliki kemampuan mempertahankan kandungan air tanah yang sama pada bu-didaya mentimun, terbukti dari kelembaban yang relatif stabil.
RESPON TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) PADA BERBAGAI TINGKAT KETEBALAN MULSA JERAMI PADI Anggorowati, Dian; Soelistyono, Roedy; Herlina, Ninuk
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 5 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.232 KB) | DOI: 10.21776/306

Abstract

Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan salah satu jenis buah yang banyak mengandung zat – zat  yang berguna bagi tubuh antara lain vitamin C, vitamin A(karoten) dan mineral. Tanaman tomat membutuhkan kondisi lingkungan berupa suhu maupun kelembaban tanah yang sesuai, untuk dapat mengoptimalkan pertumbuhan tomat diperlukan adanya modifikasi kondisi lingkungan tumbuh baik berupa suhu tanah maupun kelembaban tanah dengan menggunakan teknologi budidaya tanaman yang tepat salah satunya dengan menggunakan mulsa organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh mulsa jerami pada pertumbuhan dan hasil tanaman tomat dan menentukan tingkat ketebalan mulsa yang dapat memberikan respon terhadap produktifitas tanaman tomat. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, Jawa Timur pada bulan Juni sampai Agustus 2014, dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan ketebalan mulsa jerami padi dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan mulsa tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap parameter pertumbuhan, tetapi memiliki hasil yang berbeda nyata pada parameter hasil. Pemberian mulsa jerami padi dengan ketebalan 4,5 cm dapat menekan pertumbuhan gulma sebesar 59,71%  dan menurunkan suhu tanah pada pagi dan siang hari masing – masing sebesar 5,30% dan 1,68%, sehingga dapat menghasilkan jumlah buah sebanyak 21,24 buah atau meningkat sebesar 103,83% dan bobot segar sebesar 1,81 kg atau meningkat sebesar 98,90% dibandingkan tanpa pemberian mulsa jerami padi.
KAJIAN IKLIM MIKRO PADA POLA TANAM TUMPANGSARI TANAMAN STROBERI (Fragaria sp.) DAN TANAMAN SELADA (Lactuca sativa) SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDUA TANAMAN Waluyo, Bhakti; Herlina, Ninuk; Soelistyono, Roedy
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 8 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/343

Abstract

Kondisi cuaca saat ini sudah tidak menentu lagi. Sudah saatnya dipikirkan pertanian dengan memperhitungkan iklim. Kondisi iklim harus diperhitungkan dengan me-lakukan sebuah penelitian kajian iklim mikro untuk budidaya tanaman. Salah satu produk pertanian yang prospektif untuk di-kembangkan adalah komoditi hortikultura, terutama buah-buahan seperti stroberi. Nilai jual buah stroberi cukup tinggi, sehingga banyak petani yang ingin mem-budidayakannya. Tanaman stroberi di-budidayakan secara monokultur. Budidaya secara monokultur kurang efisien dalam penggunaan lahan dan cahaya matahari. Dengan demikian, Penulis men-gombinasikan tanaman stroberi dan selada dengan pola tanam tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi iklim mikro yang sesuai untuk tanaman stroberi dari pengaruh waktu tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil. Penelitian dilaksanakan pada  Maret sampai dengan  Agustus 2014, bertempat di Bumiaji, Kota Batu, pada ketinggian 890 m dpl. Penelitian ini menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) 9 perlakuan dengan tiga kali  ulangan. (P1): Selada ditanam 21 hari sebelum stroberi, (P2): Selada ditanam 14 hari sebelum stroberi, (P3): Selada ditanam 7 hari sebelum stroberi, (P4): Selada ditanam bersamaan dengan stroberi, (P5): Selada ditanam secara monoultur, (P6): Stroberi ditanam secara monokultur, (P7): Selada ditanam 7 hari setelah stroberi, (P8): Selada ditanam 14 hari setelah stroberi, (P9): Selada ditanam 21 hari setelah stroberi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit selada ditanam 21 hari sebelum penanaman bibit stroberi memiliki kondisi iklim mikro yang baik, Nilai Kesetaraan Lahan tertinggi, jumlah buah terbanyak dan bobot komsumsi tertinggi tumpangsari tanaman selada dengan stroberi Sedangkan bobot segar total buah per tanaman tertinggi yaitu bibit selada ditanam 7 hari setelah penanaman bibit stroberi.
PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA SEBAGAI ZPT TERHADAP ADAPTASI 3 VARIETAS TANAMAN KAILAN (Brassica oleraceae Var. acephala) DI DATARAN RENDAH Setyaningrum, Retna; Herlina, Ninuk; Basuki, Nur
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/352

Abstract

Kailan (Brassica oleraceae Var. acephala) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis relatif tinggi. Produksi kailan mengalami pasang surut pada beberapa tahun terakhir ini dikarenakan menurunnya luas lahan pertanian di dataran tinggi. Sebagai upaya peningkatan produksi kailan, perlu dilakukan suatu upaya intensifikasi dan ekstensifikasi dengan menanam kailan didataran rendah dan upaya diversifikasi dengan memilih varietas yang memiliki daya adaptasi luas serta meningkatan kualitas menggunakan ZPT, yang berasal dari bahan alami salah satunya air kelapa. Penelitian yang ditujukan untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa sebagai ZPT pada tiga varietas kailan, yang telah dilaksanakan di Desa Baron, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk pada bulan April-Juni 2013.      Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor. Faktor 1 berupa dosis pemberian air kelapa 0% (kontrol), 25%, 50%, 75%, dan 100%. Faktor 2 berupa 3 varietas kailan yaitu Round Leaf, OP dan Nova. Penelitian diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan adanya interaksi antara dosis pemberian air kelapa dengan varietas yang diteliti. Perlakuan ZPT air kelapa dengan konsentrasi 25% memberikan hasil terbaik pada varietas Round Leaf dan Nova, sedangkan pada varietas OP membutuhkan pemberian konsentrasi 75% air kelapa untuk memperoleh pertumbuhan dan hasil yang terbaik. Varietas Nova memiliki daya adaptasi paling baik di dataran rendah dibandingkan varietas Round Leaf dan OP.
PENGARUH PENAMBAHAN CAHAYA PADA 3 VARIETAS KRISAN (Chrysanthemum morifolium) TIPE SPRAY Dewanti, Pradnya Cahya; Guritno, Bambang; Herlina, Ninuk
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/354

Abstract

Tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium) merupakan salah satu komo-ditas tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomi dan estetika tinggi (Berlindaswati, 2000). Peningkatan per-tumbuhan dan kualitas tanaman krisan perlu dilakukan dengan perlakuan varietas dan lama pe-nambahan cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan lama penambahan cahaya yang tepat sehingga menghasilkan tanaman krisan dengan kualitas baik. Penelitian dilakukan pada bulan November 2013 – Februari 2014 di Desa Sumber-gondo, Batu. Percobaan meng-gunakan Rancangan Petak Terbagi dengan 3 kali ulangan. Petak utama ialah lama pe-nambahan cahaya, terdiri dari 0, 2, 4 dan 6 jam per hari. Anak petak ialah varietas, ter-diri dari Reagen White, Reagen Yellow dan Stroika. Hasil penelitian menun-jukkan tidak terjadi interaksi nyata antara varietas dan lama penambahan cahaya ter-hadap jumlah bunga, lama kesegaran bunga, panjang dan diameter tangkai. Lama penambahan ca-haya 4 jam per hari meng-hasilkan jumlah bunga 24.80 kuntum dan panjang tangkai 90.56 cm (kualitas AA). Penambahan ca-haya 6 jam per hari mengha-silkan jumlah bunga 25.08 kuntum dan panjang tangkai bunga 99.34 cm (kualitas AA) yang lebih panjang dibandingkan dengan penambahan cahaya 2 jam per hari dan tanpa pe-nambahan cahaya. Varietas Stroika meng-hasilkan kualitas bunga lebih unggul di-bandingkan Reagen White dan Reagen Yellow karena memiliki panjang dan diameter tangkai 85.76 cm dan 6.01 mm (kualitas AA). Varietas Reagen White dan Reagen Yellow memiliki panjang tangkai 79.19 cm dan 77.73 cm (kualitas A), diameter tangkai 6.96 mm dan 6.11 mm (kualitas AA).
KOMPETISI GULMA KREMAH (Alternanthera sessilis) DENGAN TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleraceae var. botrytis L.) PADA BERBAGAI TINGKAT PEMUPUKAN NITROGEN Suwitnyo, Hadi; Widaryanto, Eko; Herlina, Ninuk
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/381

Abstract

Masalah yang sering muncul dalam kegiatan budidaya yaitu keberadaan gulma yang tumbuh di area tanaman budidaya. Salah satu gulma yang mendominasi di area tumbuh tanaman kubis bunga yaitu gulma kremah. Keberadaan gulma kremah di area tanaman kubis bunga dapat menyebabkan kompetisi nutrisi terutama unsur nitrogen. Peningkatan dosis pupuk nitrogen pada tanaman kubis bunga dapat dilakukan sebagai salah satu metode pengendalian gulma kremah yang hidup berdampingan dengan tanaman kubis bunga. Tujuan dari penelitian untuk mempelajari kemampuan bersaing tanaman kubis bunga dengan gulma kremah pada berbagai tingkat pemupukan nitrogen. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalimanis, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan ulangan 3 kali. Faktor pertama populasi gulma dengan taraf K0 = 0 tumbuhan m-2, K45 = 45 tumbuhan m-2, K90 = 90 tumbuhan m-2 dan K135 = 135 tumbuhan m-2 faktor ke dua dosis pupuk niterogen dengan taraf N35 = 35 kg N ha-1 N70 = 70 kg N ha-1 dan N105 = 105 kg N ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetisi tanaman kubis bunga dan gulma kremah terjadi pada umur pengamatan 20 hst. Penambahan dosis pupuk nitrogen 35 kg N ha-1 hingga 105 kg N ha-1 mampu meningkatkan competitive ability tanaman kubis bunga sebesar 12,19 %. Pemupukan nitroegen yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga 105 kg N ha-1 dan populasi gulma kremah yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga adalah 0 tumbuhan m-2 hingga 45 tumbuhan m-2.
PENGARUH PEMBERIAN PGPR (Plant Growth Promoting Rizhobacteria) DAN PUPUK KOTORAN KELINCI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Wahyuningsih, Etty; Herlina, Ninuk; Tyasmoro, Setyono Yudo
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/418

Abstract

Akar menentukan kemampuan tanaman untuk menyerap nutrisi dan air, pertumbuhannya ditentukan oleh area daun yang aktif melakukan fotosintesis karena akar bergantung pada penangkapan energi olehdaun. Penghambat peningkatan produksi bawang merah adalah daerah perakaran tanaman kekurangan mikro-organisme menguntungkan yang dapat menyebabkan tanaman menjadi terserang berbagai macam penyakit akar. Alternatif lain pengendalian penyakit pada tanaman bawang merah salah satunya dapat dilakukan dengan penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) pada media pupuk hayati pada tanaman bawang merah.Penambahan bahan organik berupa kotoran kelinci dapat bermanfaat sebagai alternatif penyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman bawang merah. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan hubungan antara PGPR(Plant Growth Promoting Rhizobacteria)dan pupuk kotoran kelinci terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan bulan Februari-April 2015 di Dusun Areng-areng Desa Dadaprejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang terletak pada ketinggian 600 mdpl diatas permukaan laut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial) yang terdiri dari 12 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil Penelitian menunjukkan adanya interaksi pada fase pertumbuhan tanaman parammeter panjang tanaman, jumlah daun dan luas daun. Sedangkan pada komponen hasil menunjukkan adanya interaksi pada parameter bobot segar umbi, bobot kering umbi matahari, diameter umbi dan produksi/ha.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.) AKIBAT PEMBERIAN BIOURIN SAPI DAN KASCING Nugroho, Dhenys Bagus; Maghfoer, Mochammad Dawam; Herlina, Ninuk
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/419

Abstract

Tanaman selada (Lactuca sativa L.) adalah sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Pengembangan budidaya selada mempunyai prospek yang bagus, karena dapat meningkatkan pendapatan petani dan sumber gizi masyarakat. Pemanfaatan urin sapi dan kascing sebagai pupuk merupakan alternatif  yang dapat dilakukan sebagai pemanfaatan dan pengelolaan limbah peternakan agar dapat bersinergi dengan lingkungan. Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh konsentrasi biourin sapi dan kascing yang tepat yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Percobaan dalam polibag dilaksanakan di Greenhouse pada bulan September – November 2014  di lahan GAPOKTAN Pertanian Organik Kecamatan Sukun Kota Malang, dengan ketinggian tempat ± 500 dpl dan suhu udara rata-rata adalah 19-30ºC. Adapun perlakuan adalah sebagai berikut : P0 : 0% biourin sapi + 0% kascing ( Kontrol), P1 : 15% biourin sapi + 0  kascing, P2 : 15% biourin sapi +  10% kascing, P3 : 15% biourin sapi + 20% kascing, P4 : 15% biourin sapi + 30% kascing, P5 : 30% biourin sapi + 0% kascing , P6 : 30% biourin sapi + 10% kascing, P7 : 30% biourin sapi + 20% kascing, P8 : 30% biourin sapi + 30% kascing. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) dengan taraf nyata 5%.Pemberian biourin sapi dan tanpa kascing tidak dapat meningkatkan pertumbuhan selada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan pemberian 30% bourin sapi + 30% kascing mampu meningkatkan bobot segar konsumsi dari 6,42 g tan-1 menjadi 32,87 g  tan-1.
Co-Authors Affandi, Mochammad Ali Agus Suryanto Agus Suryanto Aini Nurul Aini, Nurul Aisyah, Yarda Aisyah, Yarda Aji, Mochamad Bayu Akbar, Helmi Dzikrulloh Akbar, Helmi Dzikrulloh Alan Randall Ginting Alfulaila, Nur Alfulaila, Nur Andari, Sandra Yuri Andari, Sandra Yuri Andika Fajar Darmawan Anggorowati, Dian Anggorowati, Dian Ariesna, Fitria Dewi Ariffin Ariffin Ariffin, Ariffin Ariffin, Arifin Arifin Arifin Arinda, Mita Ashari, Hasim Aziiz, Abdul Aziiz, Abdul Azizah, Nur Bambang Guritno Basuki, Nur Cahya, Jamil Eko Cahya, Jamil Eko Cahyaningtyas, Anisa Cahyaningtyas, Anisa Cahyarani, Putri Amanda Darmawan, Andika Fajar Devi Wahyu Elisabeth Dewanti, Pradnya Cahya Dewanti, Pradnya Cahya Dewi Indah Srirejeki, Dewi Indah Didik Hariyono Dominiko, Theo Andre Dominiko, Theo Andre Dwi Yamika, Wiwin Sumiya Eko Susanto Eko Widaryanto Elisabeth, Devi Wahyu Filaprasetyowati, Naning Ekasari Fitria Dewi Ariesna Fitriyani, Widya fitriyani, Widya Ginting, Alan Randall Hari Putra, Julian Pratama Hari Putra, Julian Pratama Hariyani Hariyani, Hariyani Hariyani, Hariyani Haryono, Didik Haryono, Didik Hasim Ashari Hendrawati, Risma Kris Hidayat, Taufiqur Rochman Idafitra, Fetty Laila Idafitra, Fetty Laila Idha, Mega Elfaziarni Idha, Mega Elfaziarni Istih Farianti, Nur Laili Istih Farianti, Nur Laili Izdiha, Vicannisya Fairuz Karima, Siti Sukma Karuniawan Puji Wicaksono Kelana, Muhammad Kenanga Arum Novi Salasa Khoir, Mochammad Shofarul Khoir, Mochammad Shofarul Koesriharti Koesriharti Lilik Mufarrikha Lilik Setyobudi Margawati, Dayu Tri Margawati, Dayu Tri Mauidzotussyarifah, Mauidzotussyarifah Mauidzotussyarifah, Mauidzotussyarifah Medha Baskara Moch. Dawam Maghfoer Mochammad Ali Affandi Mochammad Dawam Maghfoer Mochammad Nawawi Mochmammad Dawam Maghfoer Mohammad Ainun Multazam Monica, Silva Monica, Silva Mudji Santosa Mudji Santoso Mufarrikha, Lilik Multazam, Mohammad Ainun Mushoffan Prasetianto Muthahara, Eva Muthahara, Eva Naning Ekasari Filaprasetyowati, Naning Ekasari Nawawi, Mochammad Ni’matillah, Zulfa Alif Ni’matillah, Zulfa Alif Nindy Ayu Wanna Septian, Nindy Ayu Novi Salasa, Kenanga Arum Nugroho, Agung Nugroho, Agung Nugroho, Agung Nugroho, Dhenys Bagus Nugroho, Dhenys Bagus Nujuma, Laila Nur Nujuma, Laila Nur Nur Azizah Nur Basuki Nur Edy Suminarti Nurcahya, Athariq Ozzy Nurcahya, Athariq Ozzy Nurlaila Nurlaila Nurlaila, Nurlaila Pahlevi, Rivaldi Akbar Pahlevi, Rivaldi Akbar Pangesti, Febrina Dwi Pangesti, Febrina Dwi Permatasari, Zatalini Putri Permatasari, Zatalini Putri Pinasthika, Widya Rambaradellangga, Arryng Rambaradellangga, Arryng Rasendriya, Rafi Roedy Soelistyono Roedy Sulistyono Santoso, Mudji Saragih, Desmon Rivaldi Saragih, Desmon Rivaldi Satyaningtyas, Marcelina Melvyn Gita Setianingsih, Eva Setianingsih, Eva Setiatma, Faiz Tyas Setiatma, Faiz Tyas Setyaningrum, Retna Setyaningrum, Retna Setyobudi, Lilik Setyono Yudo Tyasmoro Shoumi, Eko Rahmat Shoumi, Eko Rahmat Simbolon, Menak Sisca Fajriani Sitanggang, Boy Nanto Sitawati Sitawati Siti Sukma Karima Srirejeki, Dewi Indah Sudiarso Sudiarso Sudiarso, Sudiarso Sulistyono, Roedy Sumeru Ashari Susanto, Eko Susanto, Mochammad Fahmi Suwitnyo, Hadi Suwitnyo, Hadi Taufiqur Rochman Hidayat Titin Sumarni Tri Margawati, Dayu Twisty Tjahyani, Retno Wulan Twisty Tjahyani, Retno Wulan Valentine, Kartika Valentine, Kartika Velayati, Novel Akbar Velayati, Novel Akbar Wahyuningsih, Etty Wahyuningsih, Etty Waluyo, Bhakti Waluyo, Bhakti Wanna Septian, Nindy Ayu Wicaksono, Cahyo Agum Widianto, Faris Aditya Widyaswari, Erningtyas Widyaswari, Erningtyas Wiwin Sumiya Dwi Yamika Wulandari, Cahaya Wulandari, Cahaya Yogi Sugito Yosandy AM, Dimas Sanda Onggy Yosandy AM, Dimas Sanda Onggy