Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Dosis PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) Pada Sistem Tanam Monokultur dan Tumpangsari Simbolon, Menak; Tyasmoro, Setyono Yudo; Sugito, Yogi; Herlina, Ninuk
Produksi Tanaman Vol. 10 No. 9 (2022): Terbitan Bulan September
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.protan.2022.010.09.07

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya produksi di bidang pertanian, salah satunya yaitu produksi tomat. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan interaksi dosis PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) pada sistem tanam monokultur dan tumpangsari terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi (split plot) dengan dua faktor yaitu sistem tanam sebagai petak utama dan konsentrasi PGPR sebagai anak petak dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah perlakuan sistem tanam yang terdiri dari 2 taraf, yiatu: K1 = Monokultur, K2 = Tumpangsari. Faktor kedua adalah perlakuan konsentrasi PGPR (Plant Growth Promting Rhizobacteria) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: P0 = 0 ml PGPR/liter air, P1 = 5 ml PGPR/liter air, P2 = 10 ml PGPR/liter air , P3 = 15 ml PGPR/liter air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PGPR dengan konsentrasi 15 ml/L pada sistem tanam monokultur menunjukkan hasil pertumbuhan dan hasil tanaman tomat lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian PGPR pada sistem tanam tumpangsari menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang berbeda dengan pemberian PGPR pada sistem tanam monokultur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada masing-masing perlakuan PGPR pada sistem tanam monokultur dan tumpangsari memberikan pengaruh secara nyata pada seluruh parameter pengamatan. Semakin banyak konsentrasi yang diberikan, maka hasil produksi semkain tinggi. Pemberian PGPR 15 ml/L pada sistem tanam monokultur memberikan hasil yang terbaik pada pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Pemberian dosis PGPR pada setiap perlakuan sistem tanam monokultur menunjukkan peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat dibandingkan dengan setiap perlakuan sistem tanam tumpangsari.
Pengaruh Jarak Tanam dan Defoliasi Terhadap Pembentukan Iklim Mikro dan Pertumbuhan serta Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata) Wicaksono, Cahyo Agum; herlina, ninuk
Produksi Tanaman Vol. 11 No. 12 (2023): Desember
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.protan.2023.011.12.01

Abstract

Tanaman jagung manis (Zea mays L. saccharata) merupakan komoditas pangan yang populer di Indonesia. Laju produksi tanaman jagung manis masih rendah di angka 6-8ton/ha. Penyebab rendahnya produksi tanaman ini adalah terjadinya mutual shading sehingga laju fotosintesis tanaman menjadi kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh defoliasi dan jarak tanam terhadap pembentukan iklim mikro, pertumbuhan dan hasil pada tanaman jagung manis varietas janisa dan untuk menentukan jenis defoliasi dan jarak tanam yang sesuai pada tanaman jagung manis varietas Janisa. Hipotesis dari penelitian adalah jarak tanam yang berbeda membutuhkan tingkat defoliasi yang berbeda untuk mendapatkan pembentukan iklim mikro dan pertumbuhan yang baik serta hasil yang tinggi pada tanaman jagung manis varietas Janisa. Penelitian dilakukan di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2022. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi terhadap 9 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan interaksi jarak tanam dan defoliasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap luas daun, panjang tongkol dan diameter tongkol tetapi berpengaruh nyata pada pembentukan iklim mikro, dan hasil tanaman. Penggunaan jarak tanam 50cm x 35cm memberikan hasil panen per hektar sebesar 6,08ton ha-1 lebih tinggi 33,04% dibandingkan dengan jarak tanam 70cm x 35cm dengan hasil 4,57ton ha-1. Defoliasi bunga jantan dan 2 daun bendera serta defoliasi 2 daun bawah dapat meningkatkan penerimaan cahaya matahari pada bagian tengah tanaman jagung manis varietas Janisa, tetapi tidak dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil dari tanaman jagung manis varietas Janisa.
Pendampingan Pengelolaan Kebun Jatikerto Dalam Rangka Mempersiapkan Perubahan Musim Herlina, Ninuk; Arifin, Arifin; Hariyono, Didik; Suminarti, Nur Edy; Fajriani, Sisca; Prasetianto, Mushoffan
TRI DHARMA MANDIRI: Dissemination and Downstreaming of Research to the Community (Journal of Community Engagement) Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : SMONAGENES Research Center, Univeritas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtridharma.2021.001.02.84

Abstract

Universitas Brawijaya memiliki dua Agrotecnopark (ATP), salah satunya adalah ATP Jatikerto. Kawasan ATP Jatikerto seluas sekitar 15 hektar tersebut difungsikan sebagai kebun percobaan dan pendidikan. Lokasi ATP yang berada di dataran rendah memungkinkan daerah tersebut terdampak oleh perubahan atau pergeseran musim akibat pemanasan global yang mempengaruhi produktivitas tanaman, sehingga hasil panen terkadang kurang memuaskan. Oleh sebab itu pengetahuan dan kegiatan antisipatif terhadap pergeseran musim perlu diketahui oleh pengelola kebun ATP Jatikerto. Tidak optimalnya tindakan antisipatif yang dilakukan menunjukkan kurangnya pemahaman tentang perubahan musim dan iklim. Untuk menanggapi kebutuhan pengelola kebun terhadap kurangnya informasi terkait perubahan iklim dan pergeseran musim, maka tim KJF Laboratorium Klimatologi FP UB melakukan pengabdian masyarakat di ATP Jatikerto. Pengabdian masyarakat dilakukan dengan memberikan penyuluhan dan pendampingan kegiatan budidaya tanaman di kebun untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pengelola kebun terkait tindakan untuk mengansipasi pergeseran musim. Dari penyuluhan dan pendampingan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan tanaman di kebun Jatikerto untuk mengantisipasi perubahan  musim sudah baik dan dilakukan secara intensif dengan penerapan aplikasi mulsa organik (jerami padi, batang jagung dan daun turi) serta pemberian pupuk organik (pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam dan pupuk kandang kambing).
Kajian Tingkat Naungan Paranet dan Jumlah Pemberian Air Terhadap Lingkungan Mikro, Pertumbuhan, dan Hasil Tanaman Bawang Daun (Allium fistulosum L.) di Dataran Menengah Izdiha, Vicannisya Fairuz; Herlina, Ninuk
Plantropica: Journal of Agricultural Science Vol. 10 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Bawang daun (Allium fistulosum L.) merupakan salah satu komoditas yang sering dikonsumsi dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Tanaman bawang daun umumnya ditanam di dataran tinggi. Adanya perubahan iklim yang terjadi dapat mempengaruhi produksi tanaman bawang daun. Diperlukan inovasi teknologi untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim dan mampu meningkatkan produksi dengan memperluas penanaman tanaman bawang daun di dataran menengah hingga rendah, salah satunya melalui manipulasi lingkungan dengan menggunakan naungan atau paranet. Tingkat naungan akan mempengaruhi laju transpirasi dan serapan air oleh tanaman. Kebutuhan air tanaman yang tidak dinaungi lebih tinggi dikarenakan suhu tinggi akan mempercepat proses transpirasi. Oleh karena itu, pemberian air harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan lingkungan mikro yang paling optimal bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang daun di dataran menengah dan untuk menentukan jumlah pemberian air yang tepat pada tingkat naungan tertentu. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Agustus 2022 di lahan percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur (520 mdpl). Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi. Petak utama berupa perbedaan tingkat naungan yaitu tanpa naungan (S0), naungan 50% (S1), dan naungan 75% (S2). Sedangkan untuk anak petak merupakan jumlah pemberian air yang terdiri dari 300 mm/musim (W0), 350 mm/musim (W1), dan 400 mm/musim (W2). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F) taraf 5%, apabila terdapat interaksi yang nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara tingkat naungan dan jumlah pemberian air mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman bawang daun terutama pada jumlah daun, luas daun, serta iklim mikro tanaman yaitu pada kelembaban tanah.
Utilization of Paranet and Amount of Baglog Tearing Toward Enlargement of Cap and Total Fresh Weight of Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus) Satyaningtyas, Marcelina Melvyn Gita; Herlina, Ninuk
Plantropica: Journal of Agricultural Science Vol. 9 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2024.009.2.10

Abstract

White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is a type of popular mushroom in Indonesia. Some market demands require a wide cap size because it can add to the aesthetic value of the product and consumer satisfaction in consuming white oyster mushroom chips, especially the mushroom cap. This increased demand is not matched by high productivity so that farmers cannot meet market demand. This study aims to determine best treatment combination between amount of baglog tearing and paranet layer, to optimize oxygen levels by providing suitable humidity conditions for paranet layer, and to test the effectiveness of baglog tearing treatment, by giving paranet layer with proper tearing effectiveness is expected to increase the diameter of fruit cap and total fresh weight of mushrooms. This research was conducted at Kumbung Griya Jamur, Agriculture Faculty, Brawijaya University, Pucangsongo Village, Tumpang District, Malang Regency, East Java in January - April 2019. Method of this research used was a  Split Plot Design also the data were tested using ANOVA and 5% BNJ real test. The results of this study indicated that the best fruit cap diameter was produced in 2-layers paranet with the treatment of 1- layer tearing of 9.33 cm, which increased the fruit cap diameter by up to 86% compared to the 3-layer paranet treatment without tearing. The best total fresh weight was obtained from 2-layer paranet with a value of 877.2 g, which increased the total fresh weight by up to 19% when compared to the 1-layer paranet and 2-layer paranet treatment.
Ultilization of Shade as Microclimate Modification on Growth and Yield of Two Broccoli Varieties (Brassica oleracea var. italica) Cahyarani, Putri Amanda; Herlina, Ninuk; Prasetianto, Mushoffan
Plantropica: Journal of Agricultural Science Vol. 9 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2024.009.2.03

Abstract

     Broccoli (Brassica oleracea var. italica) is a plant with high economic value which is widely cultivated in Indonesia. Due to unfavorable environmental factors and improper cultivation methods, the supply of broccoli fluctuates, thus efforts must be made to boost production by altering the environment, adopting the use of paranets, and choosing the appropriate type. The study was carried out from February to April 2023 at an elevation of 460 meters above sea level in the Jatimulyo experimental field, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya, Lowokwaru District, Malang City, East Java. Two treatments variety and shade were used in the study's nested design. Green magic and Lucky are among the primary plot variations, while no shade, 25% shade, 50% shade, and 75% shade are among the subplot variations related to shade.. The findings demonstrated that 25% shade was the ideal amount of cover to provide broccoli plants with the microenvironments they needed to growth and yield. Compared to the Lucky variety, which had a yield loss of 178.91 g.plant-1 (43.62%), the Green Magic variety was more suited to planting on medium plains, which Green magic loss of 22.26 g.plant-1 (6.99%).
Pengaruh Waktu Tanam Kubis (Brasssica oleraceae L. var capitata) dan Cabai (Capsicum annum L.) Terhadap Efisiensi Penggunaan Lahan Pada Sistem Tumpangsari Herlina, Ninuk; Hariyono, Didik; Tri Margawati, Dayu
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.625 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.2.111-119

Abstract

ABSTRACT The aim of this research was to determine the effects of planting time of cabbage on the growth and yield of cabbage and chilli and to determine the value of Land Equivalent Ratio (LER) in intercropping. The research was carried out in Juni to November 2015 at the Ngoran village, Nglegok district, Blitar. The methods used a Randomized Block Design, with 7 levels of  planting time of cabbage, that is : P1 = Intercropping, cabbage planted 28 days before the chilli. P2 = Intercropping, cabbage planted 14 days before the chilli. P3 = Intercropping, cabbage and chilli are planted in the same time. P4 = Intercropping, cabbage planted 14 days after the chilli. P5 = Intercropping, cabbage planted 28 days after the chilli. P6 = cabbage monoculture and P7 = chilli monoculture.  The results showed the time of planting cabbage did not significantly affect to growth and yield of chilli. Intercropping with cabbage planted 14-28 days before and after the chilli and cabbage plants are grown alongside chilli were able to increase the productivity of land. The highest LER in the treatment cabbage planted 28 days before the chilli (1.91).Keywords : intercropping cabbage and chilli, land equivalent ratio and planting time ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mendapatkan waktu tanam kubis dan cabai yang tepat sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis dan cabai dalam sistem tumpangsari serta menentukan nilai NKL (Nisbah Kesetaraan Lahan). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2015 di Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 7 perlakuan waktu tanam kubis, yaitu: P1 = Tumpangsari, kubis ditanam 28 hari sebelum cabai, P2 = Tumpangsari, kubis ditanam 14 hari sebelum cabai, P3 = Tumpangsari, kubis ditanam bersamaan dengan cabai, P4 = Tumpangsari, kubis ditanam 14 hari setelah cabai, P5 = Tumpangsari, kubis ditanam 28 hari setelah cabai, P6 = Penanaman kubis monokultur dan P7 = Penanaman cabai monokultur. Hasil penelitian menunjukkan waktu tanam kubis tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman cabai. Tumpangsari cabai dengan kubis yang ditanam 14-28 hari sebelum dan sesudah cabai serta kubis yang ditanam bersamaan dengan cabai mampu meningkatkan produktivitas lahan. NKL tertinggi terdapat pada perlakuan waktu tanam kubis 28 hari sebelum cabai, yaitu sebesar 1.91. Kata kunci: nisbah kesetaraan lahan (NKL), tumpangsari cabai dan kubis dan waktu tanam
Pengaruh Jenis Mulsa dan Tinggi Bedengan terhadap Lingkungan Mikro Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.): The Effect of Types of Mulch and Bed Height on Micro Environment, the Growth and Yield of Shallots (Allium ascalonicum L.) Arinda, Mita; Herlina, Ninuk
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.16.1.1-8

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman pertanian bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap kekeringan karena memiliki akar pendek, namun juga tidak dapat tumbuh dengan baik di lahan yang tergenang air. Upaya manipulasi lingkungan dapat dilakukan dengan pemberian mulsa dan pengaturan tinggi bedengan untuk memperbaiki tata udara tanah, serta mengoptimalkan suhu dan kelembaban tanah. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan jenis mulsa dan tinggi bedengan terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januar-April 2023 di Desa Menggare, Slahung, Ponorogo Jawa Timur. Penelitian menggunakan RAK dengan 9 kombinasi perlakuan jenis mulsa dan tinggi bedengan (tanpa mulsa, jerami dan MPHP (mulsa plastik hitam perak) pada ketinggian bedengan 30, 40 dan 50 cm) yang diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa jerami dan MPHP dapat menurunkan suhu tanah pada kedalaman 10 cm 1.5-3.0 oC dan 1.84 oC. Perlakuan MPHP pada ketinggian 40 cm dan 50 cm serta mulsa jerami pada ketinggian 50 cm meningkatkan produksi umbi masing-masing sebesar 29.9%, 34.6%, dan 31.9% dibandingkan dengan perlakuan tanpa mulsa pada ketinggian 30 cm yang menghasilkan 9.28 ton ha-1. Kata kunci: bawang merah, lingkungan mikro, MPHP, suhu tanah
GROWTH AND YIELD OF EGGPLANT (Solanum melongena L.) ON VARIOUS COMBINATIONS OF N-SOURCE AND NUMBER OF MAIN BRANCH Maghfoer, Mochmammad Dawam; Soelistyono, Roedy; Herlina, Ninuk
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 36, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v36i3.428

Abstract

This research was conducted to increase production of eggplants through combination of N-source and number of main branch has done onthe field of andosol in Poncokusumo - Malang, 600 m asl, pH 5.4, from August to December 2013. The experiment used a Randomized Complete Block Design with 2 factors and 3 replications. Factor 1 was proportion of inorganic - organic N fertilizer (138 kg N ha-1): 100% Urea, 75% Urea + 25% goat manure, 50% Urea + 50% goat manure, and 25% Urea + 75% goat manure. Factor 2 was number of main branches: 1, 2 and 3 main branches. Results showed that there was no interaction effect between treatment combinations of organic-inorganic sources of N and the number of main branches to all observed variables. Treatment using the combination of 75% Urea + 25% goat manure increased the plant growth and gave the highest fruit yield (49.20 t ha-1) in comparison with combination using other fertilizers and 100% Urea. The lowest was derived from the application of 100% Urea, 35.61 t ha-1. Cultivation of eggplant with 3 main branches has resulted better growth and fruit yield than 1 and 2 main branches, 50.85, 47.91 and 30.79 t ha-1, respectively.Keywords: eggplant, goat manure, main branch, urea
STUDI PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleorotus ostreatus) PADA MEDIA TUMBUH GERGAJI KAYU SENGON DAN BAGAS TEBU Ginting, Alan Randall; Herlina, Ninuk; Tyasmoro, Setyono Yudo
Produksi Tanaman Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah mendapatkan komposisi substrat serbuk gergaji kayu sengon dan bagas tebu yang ideal untuk pertumbuhan hasil jamur tiram putih yang optimum dan mengetahui produktivitas jamur tiram putih pada substrat alternatif dari komposisi serbuk gergaji kayu sengon dan bagas tebu. Berdasarkan hasil penelitian maka semua komposisi media tumbuh antara serbuk gergaji kayu sengon dan bagas tebu dapat dijadikan alternatif media tumbuh jamur tiram putih, substrat bagas tebu dapat dijadikan substrat alternatif pengganti substrat yang sering digunakan petani yaitu serbuk gergaji kayu sengon karena memiliki nilai rata-rata total bobot segar yang tidak berbeda nyata, penggunaan substrat dengan bagas tebu lebih menguntungkan pada perlakuan B (Serbuk kayu gergaji sengon 70% dan bagas tebu 10%), D (Serbuk kayu gergaji sengon 50% dan bagas tebu 30%), E (Serbuk kayu gergaji sengon 40% dan bagas tebu 40%), F (Serbuk gergaji kayu sengon 30% dan bagas tebu 50%), dan I (Serbuk kayu gergaji sengon 0% dan bagas tebu 80%)  karena biaya produksi lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi baglog yang sering digunakan petani yaitu pada perlakuan A (Serbuk kayu gergaji sengon 80% dan bagas tebu 0%), dan intensitas panen pada perlakuan B, D, E, F, I yaitu 4 kali panen, sehingga dapat mengurangi biaya tenaga kerja.
Co-Authors Affandi, Mochammad Ali Agus Suryanto Agus Suryanto Aini Nurul Aini, Nurul Aisyah, Yarda Aisyah, Yarda Aji, Mochamad Bayu Akbar, Helmi Dzikrulloh Akbar, Helmi Dzikrulloh Alan Randall Ginting Alfulaila, Nur Alfulaila, Nur Andari, Sandra Yuri Andari, Sandra Yuri Andika Fajar Darmawan Anggorowati, Dian Anggorowati, Dian Ariesna, Fitria Dewi Ariffin Ariffin Ariffin, Ariffin Ariffin, Arifin Arifin Arifin Arinda, Mita Ashari, Hasim Aziiz, Abdul Aziiz, Abdul Azizah, Nur Bambang Guritno Basuki, Nur Cahya, Jamil Eko Cahya, Jamil Eko Cahyaningtyas, Anisa Cahyaningtyas, Anisa Cahyarani, Putri Amanda Darmawan, Andika Fajar Devi Wahyu Elisabeth Dewanti, Pradnya Cahya Dewanti, Pradnya Cahya Dewi Indah Srirejeki, Dewi Indah Didik Hariyono Dominiko, Theo Andre Dominiko, Theo Andre Dwi Yamika, Wiwin Sumiya Eko Susanto Eko Widaryanto Elisabeth, Devi Wahyu Filaprasetyowati, Naning Ekasari Fitria Dewi Ariesna fitriyani, Widya Fitriyani, Widya Ginting, Alan Randall Hari Putra, Julian Pratama Hari Putra, Julian Pratama Hariyani Hariyani, Hariyani Hariyani, Hariyani Haryono, Didik Haryono, Didik Hasim Ashari Hendrawati, Risma Kris Hidayat, Taufiqur Rochman Idafitra, Fetty Laila Idafitra, Fetty Laila Idha, Mega Elfaziarni Idha, Mega Elfaziarni Istih Farianti, Nur Laili Istih Farianti, Nur Laili Izdiha, Vicannisya Fairuz Karima, Siti Sukma Karuniawan Puji Wicaksono Kelana, Muhammad Kenanga Arum Novi Salasa Khoir, Mochammad Shofarul Khoir, Mochammad Shofarul Koesriharti Koesriharti Lilik Mufarrikha Lilik Setyobudi Margawati, Dayu Tri Margawati, Dayu Tri Mauidzotussyarifah, Mauidzotussyarifah Mauidzotussyarifah, Mauidzotussyarifah Medha Baskara Moch. Dawam Maghfoer Mochammad Ali Affandi Mochammad Dawam Maghfoer Mochammad Nawawi Mochmammad Dawam Maghfoer Mohammad Ainun Multazam Monica, Silva Monica, Silva Mudji Santosa Mudji Santoso Mufarrikha, Lilik Multazam, Mohammad Ainun Mushoffan Prasetianto Muthahara, Eva Muthahara, Eva Naning Ekasari Filaprasetyowati, Naning Ekasari Nawawi, Mochammad Ni’matillah, Zulfa Alif Ni’matillah, Zulfa Alif Nindy Ayu Wanna Septian, Nindy Ayu Novi Salasa, Kenanga Arum Nugroho, Agung Nugroho, Agung Nugroho, Agung Nugroho, Dhenys Bagus Nugroho, Dhenys Bagus Nujuma, Laila Nur Nujuma, Laila Nur Nur Azizah Nur Basuki Nur Edy Suminarti Nurcahya, Athariq Ozzy Nurcahya, Athariq Ozzy Nurlaila Nurlaila Nurlaila, Nurlaila Pahlevi, Rivaldi Akbar Pahlevi, Rivaldi Akbar Pangesti, Febrina Dwi Pangesti, Febrina Dwi Permatasari, Zatalini Putri Permatasari, Zatalini Putri Pinasthika, Widya Rambaradellangga, Arryng Rambaradellangga, Arryng Rasendriya, Rafi Roedy Soelistyono Roedy Sulistyono Santoso, Mudji Saragih, Desmon Rivaldi Saragih, Desmon Rivaldi Satyaningtyas, Marcelina Melvyn Gita Setianingsih, Eva Setianingsih, Eva Setiatma, Faiz Tyas Setiatma, Faiz Tyas Setyaningrum, Retna Setyaningrum, Retna Setyobudi, Lilik Setyono Yudo Tyasmoro Shoumi, Eko Rahmat Shoumi, Eko Rahmat Simbolon, Menak Sisca Fajriani Sitanggang, Boy Nanto Sitawati Sitawati Siti Sukma Karima Srirejeki, Dewi Indah Sudiarso Sudiarso Sudiarso, Sudiarso Sulistyono, Roedy Sumeru Ashari Susanto, Eko Susanto, Mochammad Fahmi Suwitnyo, Hadi Suwitnyo, Hadi Taufiqur Rochman Hidayat Titin Sumarni Tri Margawati, Dayu Twisty Tjahyani, Retno Wulan Twisty Tjahyani, Retno Wulan Valentine, Kartika Valentine, Kartika Velayati, Novel Akbar Velayati, Novel Akbar Wahyuningsih, Etty Wahyuningsih, Etty Waluyo, Bhakti Waluyo, Bhakti Wanna Septian, Nindy Ayu Wicaksono, Cahyo Agum Widianto, Faris Aditya Widyaswari, Erningtyas Widyaswari, Erningtyas Wiwin Sumiya Dwi Yamika Wulandari, Cahaya Wulandari, Cahaya Yogi Sugito Yosandy AM, Dimas Sanda Onggy Yosandy AM, Dimas Sanda Onggy