Claim Missing Document
Check
Articles

Penegakan Hukum di Indonesia dan Kebijakan Telegram terhadap Pembajakan Film dan Drama di Aplikasi Telegram Frontieka Ayu Rahmanto; Rahmanto, Frontieka Ayu; Fauziyah, Hanifah; Pramesti, Noviana; Maghfirani, Syakira; Setiawati, Diana
Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains Vol 3 No 03 (2024): Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jhhws.v3i03.1374

Abstract

Penggunaan internet sebagai sarana hiburan seperti menonton film dan drama bisa dilakukan dengan mudah seperti mengaksesnya secara daring melalui internet. Namun pada kenyataannya, masyarakat lebih menyukai menonton film dan drama secara illegal. Salah satunya melalui Aplikasi Telegram yang di dalamnya terdapat fitur percakapan public channel yang dapat digunakan untuk mengakses video dengan jangkauan yang luas tanpa batas ruang dan waktu serta tidak berbayar. Film maupun drama merupakan karya sinematografi yang dilindungi oleh hak cipta. Pembajakan tersebut dapat dilihat bahwasannya kesadaran masyarakat terkait hak kekayaan intelektual masih sangatlah rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan hukum di Indonesia dalam melindungi sebuah karya sinematografi dan juga sikap dari aplikasi Telegram sebagai penyedia platform dalam melakukan perlindungan terkait hak cipta atas pembajakan film dan drama pada aplikasinya. Metode yuridis normatif menjadi metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Dilakukan kajian lebih rinci terkait bagaimana aturan yang berkaitan dalam menyikapi pembajakan film dan drama tersebut. Hasil dari penelitian ini bahwa penegakan hukum mengenai pembajakan terhadap film dan drama di Indonesia diatur dalam pasal 25 UU ITE dan UU Hak Cipta dimana pengenaan sanksinya diatur pada pasal 113 ayat 4 UU Hak Cipta. Selain itu UU Hak Cipta menjelaskan upaya pencegahan pembajakan dengan dilakukannya pengawasan oleh Pemerintah mengenai hal-hal yang melanggar hak cipta ataupun hak terkait. Telegram sebagai penyedia platform juga memberikan pelayanan berupa hak aduan atas pelanggaran hak cipta yang kemudian ditindaklanjuti dengan menghapus akses tersebut dari aplikasi Telegram.
Geographical Indications and Maqāṣid al-Sharī‘ah: Realizing Intellectual Property as an Instrument of Economic Justice Saputro, Triyono Adi; Isman; Setiawati, Diana; Alam, Azhar; Febriandika, Nur Rizqi
Al-Muamalat: Jurnal Ekonomi Syariah Vol. 12 No. 2 (2025): July
Publisher : Department of Sharia Economic Law, Faculty Sharia and Law, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/am.v12i2.51236

Abstract

Intellectual Property (IP) protection in Indonesia remains primarily oriented toward individual and capitalist interests, thereby failing to reflect the values of distributive justice fully. This research aims to analyze Geographical Indications (GIs) as an instrument of economic justice from the perspective of Maqāṣid al-Sharī‘ah. The study employs a normative legal research method, utilizing both conceptual and legislative approaches. Data were gathered through a literature review of primary, secondary, and tertiary legal sources, which were then analyzed qualitatively to examine the relationship between the principles of positive law and the values of Maqāṣid al-Sharī‘ah. The findings indicate that the principles of Maqāṣid al-Sharī‘ah, such as hifz al-mal (protection of property), hifz al-nafs (protection of life), and hifz al-'aql (protection of intellect), provide a strong philosophical foundation for the reconstruction of a just and inclusive IP system. GIs' protection not only provides legal recognition of product origins but also serves as an instrument for the economic empowerment of local communities and the equitable distribution of financial benefits. Incorporating Sharia values into IP policies can broaden the moral, social, and ecological dimensions of a sustainable creative economy. This research recommends reformulating national IP policies by incorporating the principles of Maqāṣid al-Sharī‘ah, strengthening the role of producer communities in GIs governance, and fostering quadruple-helix collaboration among government, academia, industry, and communities. In this way, GIs can serve as an instrument of economic justice and contribute to achieving sustainable development goals.
The Legal Isomorphism in Indonesian Constitutional Amendment: Interplay Between Foreign Influence and National Identity Azhari, Aidul Fitriciada; Rizka, Rizka; Setiawati, Diana; Almira, Sekar Diah Ayu; Salmande, Ali
Jurnal Hukum Vol 41, No 4 (2025): Jurnal Hukum
Publisher : Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/jh.v41i4.44109

Abstract

The post-authoritarian reform era in Indonesia (starting in 1998) was characterized by a push to democratize the state system, leading to the adoption of several foreign, democratic, or "globalized" constitutional concepts. This process demonstrates legal isomorphism where Indonesia aligned its constitutional framework with prevailing international democratic standards. This article analyses the patterns of legal isomorphism in the Indonesian constitutional amendment by examining the dynamic interplay between foreign influence and national identity. For that reason, the research aims to determine a legal isomorphism that can harmonize and balance both foreign influences and the desire for a national identity in the constitutional amendment in Indonesia. To achieve these objectives, the study employed a qualitative research method with a socio-legal and comparative law approach. The research finds three distinct patterns of coercive legal isomorphism concerning the constitutional amendment process in Indonesia. Meanwhile, comparatively, a mimetic isomorphism regarding unamendable provisions of basic structure can be considered for harmonizing and making a balance between foreign influences and national identity in the constitutional amendment. The novelty of this research lies in its identification and classification of legal isomorphism patterns within Indonesia’s constitutional amendments, providing a new perspective on how external legal influences interact with national identity. This study contributes to the broader discourse on constitutional development by offering a framework for analysing the complex relationship between global legal trends and domestic constitutional transformations.
Strategi Lembaga Keuangan Syariah Dalam Menghadapi Tantangan Regulasi dan Persaingan Pasar Global : Analisis Kepatuhan Syariah dan Inovasi Produk Elvia Ghina Nismara; Yasmin Safinatunnajah; Linda Rose Rohidah; Ika Sahwa Damayanti; Zukrufi Ashof Almaunah; Diana Setiawati
JURNAL ILMIAH EKONOMI DAN MANAJEMEN Vol. 3 No. 12 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jiem.v3i12.7445

Abstract

Abstrak. This researchaims to analyze the strategies implemented by Sharia Financial Institutions(SFIs) in maintaining compliance with Islamic law principles amidnational and international regulatory dynamics, as well as examining efforts toadjust products and services to remain competitive in the global market. Using a qualitative descriptive method based on secondary data through a literature review, this study explores regulatory harmonization, sharia compliance mechanisms, product innovation, and improving the quality of human resources askey factors in facing global challenges. The results showthat LKS implement various strategies such as harmonizing Sharia standardswith international provisions, strengthening the role of the Sharia Supervisory Board (DPS),digitizing services, and innovating Sharia-based products. In addition,improving SDI competency through training, certification, and institutional cooperationis an important effort in maintaining competitiveness without neglectingsharia principles. This study concludes that the strategies and innovationscarried out by LKS are complementary in ensuring sharia compliancewhile strengthening the position of the sharia financial industry in the global market. Keywords: Sharia Financial Institutions, Sharia Compliance, National and International Regulations, Product Innovation, Human Resources, Global Market
THE ROLE OF MUHAMMADIYAH IN THE HALAL PRODUCT SUPPLY CHAIN HALAL CERTIFICATION SELF DECLARE Mutimatun Ni'ami; Diana Setiawati; Karisma Cakraningrat; Taufiq Taufiq
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 22 No. 001 (2023): Pena Justisia (Special Issue)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v22i2.3814

Abstract

AbstractIndustri makanan merupakan usaha yang menarik minat masyarakat, baik ketika pandemi maupun ketika keadaan mendekati masa normal seperti ini. Tidak mengherankan jikaUMKM dibidang kuliner jumlah nya sangat banyak. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki Jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sehingga Pemerintah tidak ragu untuk menetapkan Visi Pusat Halal Dunia 2024 ini. Upaya akselerasi sertifikasi halal dilakukan dengan sertifikasi Halal Self Declare dimana pelaku UMKM menyatakan produknya halal dengan proses pendampingan dari BPJPH dan penetapan halal oleh Komisi fatwa MUI. Dalam salah satu syarat self declare ini, apabila dalam produknya menggunakan bahan daging maka disyaratkan pembelian di Rumah Potong Hewan (RPH) yang bersertifikat. Persyaratan ini menjadi kendala tersendiri bagi pelaku UMKM mengingat belum banyak tersedia Juru Sembelih Halal (Juleha) dan RPH bersertifikat halal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peluang bagi Muhammadiyah untuk ikut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan produk halal tersebut (supply chain). Metode penelitian ini adalah degan menggunakan model penelitian sosio legal dan pendekatan yuridis empiris. Responden dalam penelitian ini adalah pelaku UMKM kec, kartasura dan para Pimpinan Lembaga yaitu PDM Kota Surakarta, MUI Kota Surakarta dan Dinas Pertanian Kota Surakarta. Dalam upaya menakar peluang Muhammadiyah menyediakan Juleha dan mendirikan RPH bersertifikat Halal. Hasil yang diperolah adalah Muhammadiyah memiliki peluang dalam menyediakan juru sembelih hewan (juleha) di kecamatan kartasura. Dari data yang diperoleh bahwa UMKM merasakan kesulitaan memenuhi persyaratan tersebut, disatu sisi jika diminta mengganti bahan tanpa menggunakan daging maka akan merubah minat masyarakat akan produknya. Disamping itu diperoleh data bahwa 85% RPH belum memiliki sertifikat Halal. Oleh karena itu penelitian ini menjadi penting dalam mendukung upaya pemerintah menjadikan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia di tahun 2024 ini.Keywords: Self Declare, Supply Chain, Muhammadiyah, Halal
Digitalisasi Ekonomi Syariah di Indonesia: Tantangan Kepatuhan Syariah Dalam Era Financial Technology Anadila, Kharisma Tsalsabila; Pancawati, Angelina; Setiawati, Diana
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4588

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis regulasi hukum ekonomi syariah di Indonesia mengatur perkembangan financial technology (fintech) berbasis syariah serta menilai tingkat kepatuhan syariah di lembaga keuangan syariah. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan komparatif, dengan data yang diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum sekunder di Indonesia seperti pada Penerjemahan Syariah Fatwa DSN-MUI, Kepatuhan Regulatoris POJK & PBI, dan Infrastruktur Hukum (UU ITE dan Perbankan Syariah) dan bahan hukum primer yang relevan. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menafsirkan norma hukum yang berlaku dan mengidentifikasi kebutuhan pembaruan hukum ekonomi fintech dalam menghadapi perkembangan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan secara pemahaman komprehensif bahwa regulasi fintech syariah di Indonesia ditopang oleh kerangka hukum ganda: Fatwa DSN-MUI yang menentukan standar kepatuhan syariah, dan peraturan OJK (POJK) terkait Inovasi Keuangan Digital (IKD) yang menyediakan kerangka legal dan pengawasan operasional. Integrasi regulasi ini berhasil mewajibkan kepatuhan syariah sejak tahap perizinan. Meskipun demikian, terdapat tiga tantangan utama dalam implementasi kepatuhan syariah: (1) Adaptasi Akad; (2) Pengawasan Syariah; (3) Literasi dan Perlindungan Konsumen. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini menekankan mengenai pentingnya harmonisasi regulasi antara otoritas keuangan, lembaga, dan pelaku industri. Penelitian ini merekomendasikan pembaruan kerangka hukum ekonomi Syariah yang lebih responsif terhadap inovasi teknologi yang terus berkembang, sekaligus menjamin kepastian hukum dan integritas prinsip syariah
Legal Analysis of Online Sales Transactions from the Perspective of Sharia Economic Law: Validity, Legitimacy, and Implementation Challenges Aulia Rahma Hafizha; Hanifa Khoirunnisa; Salma Nur Halizah; Della Puspitasari; Ahmadzaki Fadhila; Diana Setiawati
Al Urwah : Sharia Economics Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Sharia Governance and Sustainable Finance
Publisher : Takaza Innovatix Labs Ltd.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61536/alurwah.v3i2.369

Abstract

Perkembangan teknologi informasi di Indonesia mendorong meningkatnya transaksi jual beli melalui e-commerce yang menawarkan kemudahan, namun juga menimbulkan tantangan baru terkait kejelasan akad, kepastian hukum, dan risiko transaksi. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan mengkaji Al-Qur’an, Hadis, regulasi nasional, serta Fatwa DSN-MUI No. 146 Tahun 2021 untuk menilai keabsahan transaksi elektronik menurut hukum Islam. Kajian difokuskan pada pemenuhan rukun dan syarat jual beli, transparansi informasi, perlindungan konsumen, serta kesesuaian mekanisme pembayaran dan pengiriman dengan prinsip syariah. Hasil penelitian diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan literatur dan rekomendasi penguatan regulasi transaksi digital berbasis syariah.
The Role of Islamic Financial Institutions in the Development of MSMEs: An Analysis of Financing and Mentoring for Islamic-Based Micro-Enterprises in West Java Diana Setiawati; Nayla Putri Aryani; Mozart Tiasylva Syah Nuhandika; Arifkha Gita Zahara; Berliana Azizah; Kanaya Ayodya Indra Prasta; Indah Ayu Dewi Maharani
Al Urwah : Sharia Economics Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Sharia Governance and Sustainable Finance
Publisher : Takaza Innovatix Labs Ltd.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61536/alurwah.v3i2.387

Abstract

MSMEs play a vital role in the Indonesian economy, yet they still face challenges in accessing financing and managing their businesses. Islamic Financial Institutions (IFIs) offer a financing alternative that is not only based on the principles of fairness and profit-sharing, but also prioritizes social sustainability and Sharia compliance. This study aims to analyze the selection and feasibility assessment mechanisms of micro-enterprises implemented by these institutions, as well as to examine the financing and mentoring models implemented to support MSME sustainability. The research method employed a qualitative approach through library research with content analysis of various literature sources related to Islamic financing and MSME empowerment. The results indicate that these institutions implement a selection mechanism based on the Sharia-compliant 5C concept, encompassing character, capacity, capital, business conditions, and collateral, with an emphasis on moral aspects and Sharia compliance. The financing models used include mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, and qardhul hasan, combined with business mentoring such as management training, Islamic business ethics development, and field monitoring. This integrated approach has been proven to improve financial discipline, business sustainability, and social benefits for MSMEs. Thus, LKS functions not only as a capital provider but also as an agent for empowering the community's economy based on the principles of maqasid sharia.
Prinsip Hukum Islam Terhadap Investasi Berbasis Pasar Modal: Upaya Menghindari Spekulasi dan Maisir Dalam Ekonomi Syariah Ghaizka Figo Alfaeza; Evan Yusuf Priyokusumo; M. Aldeon Putra Adi Surya; Edho Setyawan; Alif Budhi Santosa; Bella Nova Silvia; Diana Setiawati
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 6 No. 1: Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v6i1.8735

Abstract

The Islamic capital market in Indonesia has experienced rapid growth in line with the increasing awareness among Muslims of the importance of investing according to Islamic principles. As part of the national financial system, the Islamic capital market introduces instruments such as Islamic stocks, sukuk, and sharia mutual funds based on the values of justice, transparency, and the prohibition of riba (usury), gharar (uncertainty), and maysir (speculation or gambling). However, challenges remain in ensuring that all investment activities fully comply with sharia principles and are free from speculative elements commonly found in conventional markets. This study aims to examine: (1) how Islamic law regulates investment activities in the Islamic capital market, and (2) the fundamental differences between the Islamic and conventional capital markets in terms of legal principles, instruments, and economic objectives. The research employs a juridical-normative method with a qualitative approach, drawing on legal literature, fatwas issued by the National Sharia Council (DSN-MUI), and relevant capital market regulations in Indonesia. A descriptive analysis is used to assess the implementation of sharia principles in investment practices. The results indicate that the Islamic capital market emphasizes justice, transparency, and social welfare, while the conventional capital market prioritizes financial profit. In conclusion, the Islamic capital market serves not only as a halal investment platform but also as a reflection of an ethical, just, and sustainable Islamic economic system
A Comparative Study of Paternity Leave Regulations in Indonesia and Australia: (A Labor Law Perspective) Diana Setiawati; Mashari, Hanif Bagus; Apriansah, Rizki
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.2835

Abstract

Paternity leave is a special entitlement granted to male employees to take time off from work to accompany their spouses during pregnancy, childbirth, and the early stages of childcare. The existence of paternity leave plays an important role in balancing opportunities between men and women, thereby fostering a gender-friendly workplace environment. In Indonesia, the right to paternity leave has been regulated under Law No. 13 of 2003 concerning Manpower and Law No. 4 of 2024 concerning Maternal and Child Welfare during the First 1,000 Days of Life. Meanwhile, in Australia, paternity leave is comprehensively regulated under the Fair Work Act 2009. This research aims to provide a comparative analysis of paternity leave regulations in Indonesia and Australia from a labor law perspective. The study adopts a normative juridical method with a comparative approach, relying on primary and secondary legal materials obtained through a literature study. The findings reveal that Indonesia provides only limited entitlements to paternity leave, both in terms of duration and implementation, with weak legal protection. In contrast, Australia offers a more developed framework under the Fair Work Act 2009, which includes longer leave duration, the possibility of extensions, and structured payment schemes. These provisions reflect Australia’s stronger commitment to gender equality, family welfare, and the recognition of fathers’ roles in child-rearing. The study concludes that Indonesia’s regulatory framework requires harmonization with international standards, particularly by adopting key aspects of the Australian model. Strengthening the legal protection of paternity leave in Indonesia is essential to promote gender equality in the workplace and within the family, while also supporting fathers’ active participation in childcare.
Co-Authors a Widya Margaretha, Karelina Adriansyah Pradipta, Rifanov Afifah Hapsari Afdah Aflit Nuryulia Praswati Ahmad Agung Febrianto Ahmad Agung Febrianto Ahmad Fausi Ahmad Fauzan Ahmadzaki Fadhila Aidul Fitriciada Azhari Ainanur Faizah, Fatimah Al Fairuz, Muhammad Ranadhif Al Jawi Putri, Prisitina Alaysia, Amaylia Noor Alif Budhi Santosa Almira, Sekar Diah Ayu Alsyad Dedin Ryan Syahputra Althea Rinanda, Rima Anadila, Kharisma Tsalsabila Anggraeni, Chintya Anisahaq, Nabila Apriansah, Rizki Arief Budiono Ariffudin Nur Fadly Rosyid Arifkha Gita Zahara Assadath, Frido Davi Aulia Rahma Hafizha Ayu Astutik, Zulfiana Azhar Alam Baehaqi Bayu Aji Fadiansyah Bella Nova Silvia Benanda Bunga Natasha Berliana Azizah Carisa Maharani Chammellia Annastasya Melati4 Chintya Anggraeni Chrisna Bagus Edhita Praja Cindy Laksintya, Amelinda Della Puspitasari Dian Novitasari Dian Novitasari Anggraeni Dick Tjandra, Billie Dwi, Cindy Edho Setyawan Eka Saputri, Nurani Elvia Ghina Nismara Endah, Qori Enno Haya Gladya Naranta Enno Haya Gladya Naranta Evan Yusuf Priyokusumo Fadhila, Dhea Salsa Fajriansi, Andi Fanny Martdianty Farid, Achmad Miftah Fauziyah, Hanifah Febriani, Hanifah Frensiska Ardhiyaningrum Frontieka Ayu Rahmanto Frontieka Ayu Rahmanto Galang Andi Sunarto Ganeva, Irvan Ghaizka Figo Alfaeza Ghalib Rizki Luthfianto Hakim, Hary Abdul Hanifa Khoirunnisa Hanifah Fauziyah Hanifah Febriani Harjuna Nurfattah Hary Abdul Hakim Hasby Yoga, Fahmi Adam Haszmi Alfateh Hisanah Putri Ariyanto, Amelia Ibrahim Sholahudin Ika Sahwa Damayanti Indah Ayu Dewi Maharani Indah Maulani Irma Salvia Nisrina Isman Kanaya Ayodya Indra Prasta Karisma Cakraningrat Kevin Kurnia Yuli Ardikha Kinanthi Mukti, Berliana Latifah Kurniasih Linda Rose Rohidah M. Aldeon Putra Adi Surya Maghfirani, Syakira Mahendra Jaya Gumilang Mahfudz Rizal Setiawan Marsheila Audrey Nuralisha Mashari, Hanif Bagus Maulana Putra, Rafie Mira Eka Erlina Mozart Tiasylva Syah Nuhandika Mukti Fajar ND Mur Febianti, Selvi Mutimatun Ni'ami Nabila Ikbal Narusweta, Arasyel Noor Vinki Nayla Putri Aryani Nike Cahyaningrum Nilam Arum Sari Nirwa Rizkyana, Elsa Nirwago Danar P Noviana Pramesti Nur Andriyani Nur Fadilah Syahraya, Muhammad Nur Hidayah Nur Isa Herda A Nur Rizqi Febriandika Nuria Siswi Enggarani Nurmalitasari, Safira Pancawati, Angelina Pangaribuan, Leviadi Panji Nagaro Panji Nagaro Permata Dewi, Tyas Perwithosuci, Winny Pramesti, Noviana Presetiyo, Wibowo Heru Putri Dwi Arianti Putri Dwi Arianti Putri, Aulia Aninda Ektya Putri, Erna Putri, Thaasafina Sitasari Qusay Alya Difatta Rahma Rini Khalisa Firdausi Rahma Syifa Az Zahra Rahmanto, Frontieka Ayu Raihanita Raihanita Raka Dhamang Pangaribawan Rakhmat Dian Hidayat Rakhmat Dian Hidayat Ramadhani, Ichinoty ramadhani, zulfa Rika Septiani Rima Mila Wati Ristiana, Lisa Ristiani, Najwa Alya Riyandi Riyandi Rizka Rizka, Rizka Rizki Andriyanto, Aditya Rofi Aulia Rahman S Soepatini Sabrina Diyang A.P Sabrina Diyang Awandi Putri Saif Maulana Putra Susila Salma Nur Halizah Salmande, Ali Sandy, Fadillah Saptafasya, Viola Puti Saputro, Triyono Adi Shabrina, Kania Putri Soepatini Sopyan, Hisma Yuliet Abu Spaltan, Bita Gadsia Suarnianti, Suarnianti Suharso Suharso Syahputra, Adam Syakira Maghfirani Taufiq Taufiq Tiara Vergita Mahanani Triyono Triyono Tsalsabila Anadila, Kharisma Tyas, Erni Wardani, Lusyka Widya Wibowo, Rio Pradita Widya Ayu Khairunnisa Yanita, Salma Yasmin Safinatunnajah Yati Nurhayati Yuliana, Khozin Zahra Difa Setyawan, Charlintang Zainab Diva Amanda Zuhdi, Syaifuddin Zukrufi Ashof Almaunah Zulfiani Ayu Astutik