Claim Missing Document
Check
Articles

METODE KALIBRASI IN-FLIGHT KAMERA DIGITAL NON-METRIK UNTUK KEPERLUAN CLOSE-RANGE PHOTOGRAMMETRY Hidayat, Husnul; Cahyono, Agung Budi; Avicenna, Mohammad
GEOID Vol. 12 No. 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i2.1532

Abstract

Perkembangan perangkat lunak yang tersedia dan turunnya harga kamera digital non-metrik membuat metode Close Range Photogrammetry (CRP) menjadi salah satu teknik alternatif untuk diterapkan pada pekerjaan-pekerjaan survey dan pengukuran seperti penentuan dimensi fisik maupun penyajian informasi visual objek yang cepat dan akurat. Untuk itu dilakukan sebuah uji coba dengan menggunakan metode CRP dalam aplikasi pengukuran titik kontrol. Pada penelitian ini dilakukan analisa pengukuran titik kontrol sampling dengan metode terestris serta pengukuran titik kontrol dengan metode CRP menggunakan Kamera Sony Exmor. Pengambilan data foto udara untuk CRP dilakukan dengan 9 orientasi pengambilan foto pada saat pemotretan udara dan setelah itu dilakukan kalibrasi kamera In-Flight dengan menggunakan bundle adjustment self calibration yang menghasilkan parameter IOP (Interior Orientation Parameter) dan EOP (Exterior Orientation Parameter). Dari hasil pengujian kamera memiliki nilai RMS sebesar 0.56 piksel pada tahap kalibrasi In-Flight. Titik sampling yang dihasilkan dengan metode CRP dibandingkan dengan hasil titik sampling metode terestris menghasilkan RMS sebesar 0.104 m, yang berpengaruh terhadap pergeseran pada titik sampling foto, di mana pergeseran linier terbesar terjadi pada titik sampling CRP koordinat Y sebesar 0.187 m dan koordinat X sebesar 0,173 m sehingga dapat disimpulkan bahwa metode CRP dapat digunakan untuk pemetaan skala besar dengan area yang relatif kecil.
ANALISIS KETINGGIAN MODEL PERMUKAAN DIGITAL PADA DATA LiDAR (LIGHT DETECTION AND RANGING) (Studi Kasus: Sei Mangkei, Sumatera Utara) Cahyono, Agung Budi; Duantari , Novita
GEOID Vol. 12 No. 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i2.1535

Abstract

Model Permukaan Digital (DTM) adalah gambaran model relief rupabumi tiga dimensi (3D) yang menyerupai keadaan sebenarnya di dunia nyata (real world). Terdapat beberapa sumber data dalam pembentukan DTM, salah satu sumber data yang digunakan untuk membuat data ini adalah menggunakan data LiDAR (Light Detection and Ranging). Salah satu metode untuk pembentukan DTM dengan data LiDAR adalah menggunakan Triangular Irregular Network (TIN). Untuk membandingkan digunakan metode fotogrametri melalui stereoplotting data foto udara. Ketinggian yang dihasilkan dari kedua data kemudian dilakukan analisis perbedaan ketinggiannya. Penelitian ini mengambil studi kasus di daerah Sei Mangkei, Sumatera Utara. Sei Mangkei merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pengolahan masing-masing data yaitu data LiDAR dan foto udara hingga mendapatkan data ketinggian dan kontur. Dari ketinggian dan kontur yang dihasilkan, kemudian dilakukan analisis perbandingan hasil yang diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan kontur data LiDAR tergantung pada model TIN yang dihasilkan. Kontur LiDAR lebih rapat dan menampilkan banyak titik hasil perekaman LiDAR yang tidak semua diperlukan. Sedangkan, kontur data foto udara sangat tergantung pada pembuatan breakline dan masspoint pada proses stereoplotting sehingga hanya kontur yang diperlukan saja yang tergambar. Hal tersebut membuat kontur dari foto udara lebih mudah polanya. Pengambilan sampel menghasilkan selisih rata-rata paling besar atau perbedaan yang signifikan antara data LiDAR dan foto udara yaitu vegetasi sebesar 0,640 m. Sedangkan, untuk jalan memiliki rata-rata paling kecil sebesar 0,218 m karena jalan termasuk area yang terbuka sehingga mudah untuk menentukan ground atau tanah.
ANALISA PETA DESA SKALA 1:5000 BERDASARKAN PERATURAN KEPALA BIG NOMOR 3 TAHUN 2016 (Studi Kasus: Desa Beran Kabupaten Ngawi) Cahyono, Agung Budi; Zulkarnain, Nizar
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1541

Abstract

Dalam rangka mewujudkan amanat nawacita dibutuhkan Peta Desa sebagai rujukan bagi Kementrian/Lembaga serta Pemerintah Daerah dalam program pembangunan. Peta desa adalah peta tematik bersifat dasar yang berisi unsur dan informasi batas wilayah, infrastruktur transportasi, toponim, perairan, sarana prasarana, penutup lahan dan penggunaan lahan yang disajikan dalam peta citra, peta sarana dan prasarana, serta peta penutup lahan dan penggunaan lahan. Hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 6 Tahun 2016 tentang Desa, yang menjelaskan bahwa Desa merupakan subjek dari pembangunan. Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa merupakan peraturan yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial untuk mengatur pembuatan sebuah Peta Desa. Dengan terbitnya aturan tersebut maka dilakukan analisa terhadap Peta Desa Beran yang digunakan sebagai media peningkatan status dari desa menjadi kelurahan. Analisa dilakukan terhadap ukuran muka peta, interval grid peta, spesifikasi tata letak, pewarnaan simbol peta, spesifikasi penulisan informasi peta, dan keefektifan simbol yang digunakan pada Peta Desa Beran, Kabupaten Ngawi. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ukuran muka peta dan susunan/spesifikasi tata letak informasi peta desa yang digunakan oleh Peta Desa Beran masih belum sesuai dengan Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa. Terdapat pula tiga objek di lapangan yang simbolnya tidak diatur dalam Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa, yaitu Yayasan, Panti, dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Selain itu simbol yang ditampilkan pada Peta Desa Beran sebagai pengganti objek yang ada di lapangan terlalu banyak, dikarenakan tidak semua objek pada simbol tersebut dimiliki oleh Desa Beran.
APLIKASI GOOGLE MAPS API UNTUK PEMBUATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) BERBASIS WEB USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DI KABUPATEN BLITAR) Cahyono, Agung Budi; Fadhila, Amelia
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1566

Abstract

Pengembangan produk UMKM berbasis pariwisata saat ini sedang menjadi fokusan pemerintah Kabupaten Blitar untuk meningkatkan pembangunan ekonomi. Dalam mewujudkan dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas (UMKM) yang mandiri dan berkembang, diperlukan sebagai media pendukung yang nantinya dapat berguna sebagai alat untuk mensejajarkan UMKM yang ada di Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan data spasial berupa Koordinat lokasi, alamat dan data non spasial berupa data dan informasi pendukung berupa nama UMKM, Kategori, Jenis Produk, Alamat, Kontak atau nomor telefon, Pemilik atau penanggung jawab, dan foto UMKM. Basisdata yang dibuat pada PHPMyAdmin pada WebGIS ini dibangun berdasarkan data tabular dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Blitar, serta hasil penelitian lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah WebGIS Usaha Mikro Kecil da Menengah (UMKM) Kabupaten Blitar yang menyajikan informasi mengenai lokasi, atribut, , serta dilengkapi dengan fitur pencarian dan menambah informasi UMKM. Sedangkan dari hasil analisa data didapatkan hasil 908 UMKM yang memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) telah memiliki tempat usaha yang tetap, dengan 60 Usaha Mikro Lokasi Koordinat Terdefinisi (UMKT)dan 848 Usaha Mikro Lokasi Koordinat Belum Terdefinisi (UMKBT). Untuk UMKM yang memiliki Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) berjumlah 741 Usaha, dengan 39 merupakan UMKT dan 702 UMKBT. TRANSLATE with xEnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian   TRANSLATE with COPY THE URL BELOW BackEMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack
ANALISIS PEMODELAN 3D CANDI JAWI MENGGUNAKAN WAHANA QUADCOPTER DAN TERESTRIAL LASER SCANNER (TLS) Yuwono, Yuwono; Pratomo, Danar Guruh; Cahyono, Agung Budi; Mulyono, Yulita Eka Rana
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1577

Abstract

Perkembangan teknologi masa kini semakin beragam dan terus berkembang. Mengikuti perkembangan teknologi, peralatan survei, dan pemetaan terus berinovasi dari tingkat manual sampai dengan menekan satu tombol semua selesai. Hal ini merupakan suatu keuntungan sekaligus kemudahan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu contoh perkembangan teknologi alat survei dan pemetaan ialah munculnya quadcopter dan Terestrial Laser Scanner (TLS). Belakangan ramai diketahui quadcopter dan TLS bukan hanya untuk pemetaan terestris saja, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai alat akusisi data untuk keperluan pemodelan 3D suatu objek. Keberadaan alat ini sangat membantu untuk dokumentasi dan pengarsipan. Kedua alat tersebut dipraktikkan untuk mengukur bangunan cagar budaya yang bertujuan agar diperoleh model tiga dimensi dengan tujuan akhir hasilnya dapat disimpan sebagai arsip, digunakan sebagai media penelitian dan dapat dimanfaatkan jika sewaktu-waktu bangunan tersebut rusak atau roboh dan memerlukan rekonstruksi ulang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pengukuran dengan dua alat tersebut dikerjakan pada sebuah candi di Jawa Timur yang dikenal sebagai Candi Jawi. Pengukuran Candi Jawi meliputi pemotretan dengan quadcopter, pengamatan Ground Control Point (GCP), pengukuran Independent Check Point (ICP), dan pemindaian candi dengan Terestrial Lasser Scanner (TLS). Hasil yang diperoleh ialah model tiga dimensi hasil data quadcopter RMSe X, Y, Z sebesar 0,017 meter, 0,017 meter, dan 0,018 meter. Sementara besar nilai RMSe model tiga dimensi hasil olahan point cloud TLS untuk X, Y, dan Z ialah 0.056 meter, 0,066 meter, dan 1,44 meter. Kedua model dari kedua alat menunjukkan hasil yang relatif kecil karena bernilai kurang dari 0,5 meter dan memenuhi syarat Level of Detail (LoD) 3 untuk konsep visualisasi eksterior model bangunan, kecuali pada nilai Root Mean Square Error (RMSe) Z model 3D data point cloud TLS.
Studi Pembuatan Peta Informasi Bidang Tanah (PIBT) Dengan Partisipasi Masyarakat Menggunakan Peta Dasar Dari Pemetaan Fotogrametri Metode Foto Format Kecil Budisusanto, Yanto; Widodo, Anggoro Wahyu; Cahyono, Agung Budi
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1582

Abstract

Peta Informasi Bidang Tanah (PIBT) merupakan peta hasil dari kegiatan pemetaan bidang tanah melalui partisipasi masyarakat dalam pengumpulan datanya[3]. Peta ini berisi informasi mengenai 1 (satu) atau lebih bidang tanah yang memuat posisi bidang tanah dan informasi tentang bidang tanah tersebut beserta nama pemiliknya atau subyek yang menguasai bidang tanah tersebut. Dalam pembuatan peta informasi bidang tanah ini dilakukan dengan peta dasar yang didapatkan melalui pemetaan fotogrametri dengan metode foto format kecil menggunakan wahana drone jenis quadcopter. Pada peta dasar (orthophoto), RMS Error nilai pergeseran pada proses  georeferencing sebesar 4,671 cm. Untuk uji akurasi planimetrik dihasilkan RMSEr sebesar 0,099 m dan pada uji CE90 memiliki ketelitian 1:1000 kelas 1. Penggalian informasi mengenai data pertanahan dilakukan dengan masyarakat desa setempat (pemetaan partisipatif). Dari hasil PIBT diketahui bahwa Desa Pojok didominasi oleh areal persawahan (bidang tanah sawah) dengan total luas 128,597 hektar yang terdiri dari bidang tanah sebanyak 615 bidang dan daerah pemukiman (bidang tanah pekarangan) dengan total luas 69,378 hektar yang terdiri dari 1.443 bidang.
TOP.AR - TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY UNTUK MEDIA PEMBELAJARAN BENTUK TOPOGRAFI 3 DIMENSI PERMUKAAN BUMI Cahyono, Agung Budi; Deviantari, Udiana Wahyu; Supradita, Danu
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1585

Abstract

Augmented Reality (AR) merupakan teknologi visualisasi yang saat ini sedang marak dikembangkan dalam bidang game, hiburan maupun teknologi. Dalam bidang pendidikan, teknologi augmented reality masih belum terlalu banyak penggunanya. Di bidang kebumian kemampuan berfikir spasial - menggambarkan bentuk, posisi, dan orientasi objek - membuat dan membaca peta serta memvisualisasikan proses hubungan antara representasi 2D dan objek 3D dalam tiga dimensi adalah penting untuk memahami proses seperti fenomena yang terjadi di bumi seperti elevation model dan garis kontur. Para peneliti telah menggunakan berbagai model - model fisik, virtual, dan augmented reality (AR) dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir spasial. Sistem dan algoritma perangkat ini telah dibuat dan dikembangkan tahun 2014 oleh tim UC Davis dalam pameran Advancing Earth Science Education, American Geophysical Union (Reed et all, 2014). Sistem yang besifat open-source ini selanjutnya banyak diterapkan dan digunakan di banyak negara terbukti menjadi media pembelajaran yang menarik. Dengan alat ini diharapkan para pendidik/guru/dosen/peneliti dapat memberikan metode pembelajaran yang menarik dan interaktif kepada pelajar/mahasiswa di laboratorium maupun dikelas. Sedangkan bagi masyarakat luas dapat dipamerkan pada exhibition/museum. Diharapkan dengan sistem ini akan lebih memahami ilmu bumi yang dalam implikasinya dapat disertakan dalam visualisasi pengelolaan ekosistem atau landskap misalnya serta proses sains bumi dengan visualisasi tiga dimensi dari bentu garis kontur, sungai, danau, lembah serta pegunungan.. Penelitian ini menghasilkan seperangkat alat dengan material lokal dan dinamai Topography Augmented Reality (Top.AR). Topography Augmented Reality (Top.AR) adalah sebuah sistem yang terdiri dari komputer, sensor, projector dan media pasir yang memungkinkan pengguna secara visual dapat membuat topographic surface model secara real time. Sistem ini akan memperlihatkan degradasi warna karena perbedaan ketinggian, bentuk dan kerapatan garis kontur serta simulasi gerakan air dimuka bumi. Dengan sistem ini mahasiswa khususnya dibidang kebumian akan belajar konsep elevation surface model seperti dalam teori di bidang geodesi/geomatika, geografi, lanskap/tata ruang, geologi/mining atau hidrologi. Produk ini ideal untuk digunakan sebagai alat pembelajaran/pameran/peraga langsung di kelas, pameran teknologi maupun museum dalam rangka proses pembelajaran tentang ilmu kebumian.
METODE HYDRO ENFORCEMENT DATA LIDAR UNTUK PEMBUATAN DIGITAL TERRAIN MODEL OBYEK PERAIRAN PADA PETA RUPA BUMI INDONESIA SKALA 1:5000 Febriana, Elisya; Cahyono, Agung Budi
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1591

Abstract

Dalam membuat obyek perairan dari hasil akuisisi LiDAR diperlukan metode untuk membuat permukaan air lebih baik. Salah satu metode pembuatan DTM pada daerah perairan pada pengolahan data LiDAR adalah hydro enforcement. LiDAR (Light Detection and Ranging) merupakan sistem dari Airborne Laser Scanning (ALS). Di Indonesia masih jarang yang menggunakan gelombang hijau dalam pengambilan data LiDAR, sehingga gelombang infra merah menghasilkan nilai elevasi yang terbiaskan karena tidak dapat menembus kedalaman perairan. Dalam pembuatan DTM dibutuhkan kualitas DTM sesuai kontrol kualitas di petunjuk pelaksanaan pembuatan DTM hydro enforcement dari Badan Informasi Geospasial. Pengolahan DTM menggunakan metode hydro enforcement dimulai dari draping terrain badan perairan, menghilangkan mass point dalam perairan hingga pembentukkan breakline untuk badan perairan sesuai hasil draping yang mempunyai interval antar point cloud di badan perairan adalah 0.5 meter. Kemudian melakukan proses macro hydro enforcement pada software pengolahan LiDAR. Hasil penelitian ini menunjukkan kualitas DTM dengan metode hydro enforcement memberikan visualisasi yang baik untuk perencanaan infrakstruktur dalam pembuatan irigasi, pintu air dan memberikan detail yang baik untuk pembuatan unsur hipsografi dalam Peta RBI skala 1:5000. Namun demikian, metode hydro enforcement ini masih terdapat kekurangan dari segi akurasi, sehingga perlu dilakukan pengambilan data lapangan
ANALISIS PEMODELAN 3 DIMENSI BANGUNAN BERSEJARAH MENGGUNAKAN FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT (STUDI KASUS: MAUSOLEUM DINGER, JAWA TIMUR) Falahesa, Dean Ahmed; Cahyono, Agung Budi; Hidayat, Husnul
GEOID Vol. 15 No. 2 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v15i2.1657

Abstract

The Dinger Mausoleum is a tomb with a Dutch architectural style that was used to store the body of a Dutch national named Jan Dinger and has been designated as a cultural heritage building by the Batu City Government. This tomb with its status as a cultural heritage must be tried to preserve and preserve its original form in accordance with Law No. 11 of 2010 concerning Cultural Heritage. In this study, conservation efforts were carried out by documenting the tomb in the form of a 3D reconstruction model. Documentation activities are carried out by acquiring data and creating 3D models from Dinger Mausoleums both from the outside (exterior) and from inside (interior) considering that the tomb is in the form of a building which means it has space inside, using close-range photogrammetric methods. The 3D model that has been formed is then analyzed for the level of accuracy of the data acquisition and tomb modeling process. An analysis of the level of suitability in the 4th order class (LoD4) is also carried out because 3D modeling includes the interior of the tomb building. The results of the data acquisition took the form of exterior photos and photos of the interior of the Dinger Mausoleum, and the results of the analysis of the RMSE values were less than 0.2 m, thus fulfilling the Level of Detail 4 criteria (LOD 4).
Studi Pembuatan DTM Menggunakan Metode Slope Based Filtering dan Grid Based Filtering (Studi Kasus: Kelurahan Wonokromo Dan Lontar, Kota Surabaya) Wirantiko, Mahardi; Handayani, Hepi Hapsari; Cahyono, Agung Budi
GEOID Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v16i1.1668

Abstract

Digital Terrain Model (DTM) merupakan model medan digital yang memuat informasi ketinggian permukaan tanah (bare earth surface) tanpa terpengaruh oleh vegetasi atau fitur buatan manusia lainnya, sedangkan  Digital Surface Model (DSM) merupakan representasi permukaan bumi yang memuat lebih banyak informasi ketinggian termasuk semua objek yang berada di atas permukaan bumi seperti vegetasi, gedung, dan fitur lainnya. Perlu dilakukan percepatan dalam penyediaan informasi geospasial, dalam hal ini DTM sebagai unsur pembentuk peta topografi skala besar. Untuk itu diperlukan metode pembentukan DTM yang lebih efektif. Sehingga tujuan pada penelitian ini adalah mengkaji metode yang dapat menghasilkan DTM secara otomatis dan menghasilkan DTM turunan yang mendekati akurat. Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk dikaji yaitu Slope Based Filtering (SBF) atau metode penyaringan berbasis lereng dan Grid Based Filtering (GBF) atau Metode Penyaringan Berbasis Grid. Terdapat dua daerah yang diteliti. Pada area pertama yaitu lokasi yang memiliki karakteristik daerah padat penduduk sehingga terdapat banyak bangunan yang saling berhimpit, area tersebut berlokasi di Kelurahan Wonokromo, Surabaya Selatan. Pada area kedua yaitu lokasi yang memiliki karakteristik terbuka, sedikit pemukiman dan banyak medan datar dan kosong, area tersebut berlokasi di Kelurahan Lontar, Surabaya Barat. Hasil data dari kedua metode tersebut kemudian dibandingkan terhadap DTM Stereoplotting yang digunakan sebagai referensi. Perbandingan tersebut berupa geomorfologi atau visualisasi, dan ketelitian geometri vertikal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan metode Slope Based Filtering memiliki keakuratan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Grid Based Filtering. Hal tersebut dibuktikan oleh hasil klasifikasi pengolahan data menggunakan delapan parameter pada masing-masing metode. Rata-rata RMS Error yang diperoleh di Wonokromo lebih kecil yaitu 0,605 meter dibandingkan dengan Kelurahan Lontar sebesar 1,605 m. Kelurahan Wonokromo memiliki rata-rata skala ketelitian peta 1: 2.500 sedangkan Kelurahan Lontar memiliki rata-rata kelas ketelitian peta 1: 5.000. Secara visual geomorfologi yang dihasilkan dari metode SBF lebih halus dibandingkan dengan GBF yang masih kasar. Digital Terrain Model (DTM) is a digital terrain model that only contains ground level information (bare earth surface) without being affected by vegetation or other man-made features. While Digital Surface Model (DSM) is a representation of the earth's surface that contains more height information including all objects that are located on the surface of the earth such as vegetation, buildings, and other features. It is necessary to accelerate the provision of geospatial information, in this case DTM as an element of forming large-scale topographic maps. For this reason, a more effective DTM formation method is needed. The study was conducted to examine methods that can produce DTM automatically, in order to obtain a fast and efficient mapping method. In this study the method used are Slope Based Filtering (SBF) and Grid Based Filtering (GBF) method. Those approaches are applied in two different characteristics of study area. In the first area, which is a location that has characteristics of densely populated areas so that there are many buildings that coincide with each other, the area is located in Wonokromo Sub-District, South Surabaya. The second area has characteristics of open space with few settlements and a lot of barelands. The area is located in Lontar Village, West Surabaya. The results of the data processing based on two methods are then compared to the Stereoplotting DTM used as a reference. The comparison is performed as geomorphology analysis or visualization, and vertical geometry accuracy. The results of this study indicate that SBF method has a higher accuracy compared to the one of GBF. This is revealed by the results of the classification of data processing using eight parameters in each method. The average of RMS Error obtained in Wonokromo is smaller that is 0.605 meters compared to Lontar Village of 1.605 m. Wonokromo has an average map accuracy scale of 1: 2,500 while Lontar which has an average map accuracy class of 1: 5,000. Visually, the geomorphology produced from the SBF method is finer than the GBF which is still rough.
Co-Authors ., Nurwatik Abdul Rozak Abdul Rozak Achmad Thirmidzi Adittiyo Darmawan Adittiyo Darmawan, Adittiyo Agneszia Anggi Ashazy Agus Wibowo Agus Wibowo Ahmad Solihuddin Al Ayyubi Akhmad Barizil Hak Ali, Hanif Alif Fariq'an Setiawan Anggoro Wahyu Widodo Anindya N Rafitricia Antasari, Intan Yulia Arinda Kusuma Wardani Asfi Dian Ahmadi Ashazy , Agneszia Anggi Aulia Hafizh S Avicenna, Mohammad Ayuli Serlia A’yun, Qurrata Bambang Sapto Pratomosunu Bangun Muljo Sukojo Bangun Muljo Sukojo, Bangun Muljo Bisma Satria Nugraha Budisusanto, Yanto Chali Matussa Diyah Chali Matussa Diyah Chatarina Nurdjati S Cherie Bhekti Pribadi, Cherie Bhekti Danu Supradita Dean Ahmed Falahesa Dedy Trisasongko Desviachmad Caprilio Putra Wicaksana Sumartono Deviantari , Udiana Wahyu Dinimiar Fitrah Saraswati Diyah , Chali Matussa Diyah, Chali Matussa Duantari , Novita Dwi Budi Martono Elisya Febriana Fadhila, Amelia Fakhrusy Luthfan Mahfuzh Falahesa, Dean Ahmed Febriana, Elisya Febriana, Elisya FG., Ricko Andrew Filsa Bioresita, Filsa Firman Prasetyo G., Oktavianto Gatot Cakra Wiguna Hak, Akhmad Barizil Hana Tazkiyatunnisa Hanif Ali Hariyanto, Irena Hana Hepi Hapsari Handayani Hepi Hapsari Handayani, Hepi Hapsari Hidayat, Husnul Husnul Hidayat, Husnul I Nengah Surati Jaya Ike Agustuti Sriwiyanti Intan Yulia Antasari Jaelani , Lalu Muhamad Khomsin Khomsin Khomsin, Khomsin Komang Bayu Angga Sardana Krisna, Trismono Candra Kurniawan, Surya Mahendra , Yudo Miftahul Riski Mochamad Machfud Mochamad Machfud, Mochamad Mochammad Imron Awalludin Mohammad Avicenna Mohammad Rohmaneo Darminto Muhammad Fikri Anshari Muhammad Fikri Anshari, Muhammad Fikri Muhammad Firdaus Muhammad Hafizh Muzaky Muhammad Rohmaneo Darminto Mulyono, Yulita Eka Rana Munawar Kholil Munawar Kholil Noorlaila Hayati, Noorlaila Novita Duantari Nuri Rahmawati Nurul Hidayah Nurwatik , Nurwatik Nurwatik Nurwatik Oghy Octori Pratomo, Danar Guruh Prihadi, Sofan Qurrata A’yun Rahmawat, Nuri Rakhmat Budiman Ramadhan, Alfi Syahril Rifqi Ulinnuha S , Chatarina Nurdjati S, Aulia Hafizh Selfi Naufatunnisa Shylvimira Anandicha Setiawan Sofan Prihadi Sriwiyanti , Ike Agustuti Supradita, Danu Surya Kurniawan Syariz, Muhammad Aldila T. , Agnes Rusnalia Tazkiyatunnisa , Hana Teguh Hariyanto, Teguh Trismono Candra Krisna Udiana Wahyu Deviantari Udiana Wahyu Deviantari Udiana Wahyu Deviantari, Udiana Wahyu Ulinnuha, Rifqi Wahyu Tri Oktafiana Webie Ni Maja Dj Widodo, Anggoro Wahyu Widodo, Anggoro Wahyu Wirantiko, Mahardi Yanto Budisusanto, Yanto Yudi Wahyudi Yudi Wahyudi Yudo Mahendra Yugie Nanda Pranata Yuwono Yuwono , Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono