Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Perbedaan Tingkat Stres antara Mahasiswa yang Merokok dengan Mahasiswa yang Tidak Merokok Saat Mengerjakan Skripsi Muhammad Althaf Novandri; Amin Akbar
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/kyngwd46

Abstract

This study aims to determine the differences in stress levels between students who smoke and students who do not smoke when working on their theses at the undergraduate program (S1) of Padang State University. This study uses purposive sampling techniques with a sample of 389 respondents. Based on the results of the study, it can be confirmed that there are significant differences in stress levels between students who smoke and students who do not smoke in working on their theses. Students who smoke consistently show higher stress levels than non-smokers. This confirms that smoking behavior is significantly associated with increased levels of perceived stress in the face of academic challenges. These findings support Lazarus and Folkman's transactional stress theory, which emphasizes the role of cognitive appraisal and coping strategies in understanding individual stress responses. Furthermore, the results of this study clearly support Cohen's perception-of-stress concept, which states that stress is influenced by an individual's perception of control and situational pressure. Therefore, non-smoking students have a more adaptive perception of control, resulting in lower levels of stress than smokers.
Sportivitas dan Komunikasi: Sebagai Upaya Pencegahan Konflik dalam Olahraga di Kepulauan Mentawai Eko Purnomo; Amin Akbar; Nina Jermaina; Pringgo Mardesia
Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 25, No 2 (2025): Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sb.06450

Abstract

Urgensi dari program ini terletak pada pentingnya sportivitas dan komunikasi yang efektif dalam mencegah konflik dalam olahraga di Kepulauan Mentawai. Dalam konteks masyarakat yang rentan terhadap ketegangan dalam kompetisi, pengembangan nilai-nilai ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan adil. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sportivitas dan teknik komunikasi dalam olahraga, serta untuk mengurangi potensi konflik selama pertandingan. Metode yang digunakan dalam program ini meliputi sosialisasi, pelatihan interaktif, simulasi kasus konflik, penerapan teknologi edukasi, dan pendampingan langsung dalam kompetisi lokal. Program ini melibatkan pelatih, atlet, guru olahraga, dan tokoh masyarakat sebagai mitra utama. Hasil yang dicapai menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan komunikasi peserta, pengurangan konflik dalam kompetisi lokal, serta penerapan prinsip fair play dan sportivitas yang lebih baik. Evaluasi menunjukkan bahwa 85% peserta melaporkan perbaikan dalam keterampilan komunikasi dan penerapan sportivitas. Kesimpulannya, program ini berhasil menciptakan budaya olahraga yang lebih positif dan harmonis di Kepulauan Mentawai. Implikasinya adalah pentingnya keberlanjutan program melalui integrasi materi dalam kurikulum sekolah, untuk memastikan nilai-nilai ini terus diterapkan dalam jangka panjang.
Ketika Likes Menentukan Harga Diri: Eksplorasi Kualitatif Tentang Validitas Eksternal Di Instagram Pada Generasi Z Rizkiqa Tria Fanesha; Rizal Kurniawan; Amin Akbar; Aflah Zakinov Irta
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1260

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu membangun identitas diri dan memperoleh pengakuan sosial. Pada Generasi Z, fitur likes di Instagram tidak lagi dipandang sebagai sekadar bentuk apresiasi terhadap unggahan, tetapi juga sebagai simbol penerimaan sosial yang berpotensi memengaruhi harga diri. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana Generasi Z memaknai likes sebagai bentuk validasi eksternal serta bagaimana pengalaman tersebut berhubungan dengan dinamika harga diri mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Thematic Analysis. Data diperoleh melalui kuesioner terbuka yang disebarkan kepada 336 responden Generasi Z pengguna aktif Instagram. Analisis dilakukan mengikuti enam dari tahapan Braun dan Clarke (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman memperoleh likes menghasilkan berbagai respons psikologis, mulai dari munculnya emosi positif, meningkatnya rasa percaya diri, perasaan dihargai, hingga munculnya persepsi bahwa diri mereka diterima oleh lingkungan sosial digital. Sebaliknya, tidak memperoleh likes memunculkan pengalaman emosional berupa kekecewaan, keraguan terhadap diri sendiri, kecemasan sosial, serta kecenderungan melakukan evaluasi terhadap kualitas diri maupun konten yang diunggah. Hasil ini menunjukkan bahwa likes memiliki fungsi sebagai bentuk validasi eksternal yang dapat memperkuat maupun melemahkan evaluasi diri individu. Meskipun demikian, tingkat pengaruhnya dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam membangun sumber harga diri yang berasal dari dalam diri.
KONTRIBUSI CAREER DECISION MAKING SELF-EFFICACY TERHADAP CAREER INDECISION PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR D-III UNIVERSITAS NEGERI PADANG Hakim, Arief Rahman; Akbar, Amin
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 No. 03, September 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.58886

Abstract

This research aims to analyze the contribution of career decision making selfefficacy to career indecision in final year students of the Diploma III (D-III) programat Padang State University. This type of research is a correlational quantitativeresearch with sampling techniques using proportionate stratified random sampling.The population in this research is final year students of D-III State University ofPadang with a sample of 150 respondents. Data collection used the Career decisionmaking self-efficacy (CDMSE) scale and the Career Indecision scale. Data analysisuses classical assumption tests and simple linear regression analysis assisted bythe SPSS program version 20 for Windows. The results of hypothesis testingshowed a significant negative contribution of career decision making self-efficacy tocareer indecision with a significance value of 0.000 (p < 0.05). The value of thedetermination coefficient (R-square) obtained was 0.173, which means that thecareer decision making self-efficacy variable made an effective contribution of17.3% to career indecision, while the remaining 82.7% was explained by otherfactors outside this study model. These results indicate that increasing students'self-confidence in making career decisions can significantly reduce their level ofuncertainty in determining their post-graduation future.
PENGARUH SELF-DISCLOSURE KEPADA CHATBOT AI DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA GENERASI Z: PERAN MEDIASI PERCEIVED EMPATHY Silvina Sari, Anisa; Mardianto; Akbar, Amin; Rizal Kurniawan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 No. 03, September 2026 Produce
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.60719

Abstract

Technological advancements have given rise to a generation that is increasingly connected to artificial intelligence (AI). AI chatbots are used not only to obtain information but also as a medium for self-disclosure to gain emotional relief and support related to psychological well-being. However, the effect of self-disclosure to AI chatbots on psychological well-being still requires further clarification, particularly when considering the mediating role of perceived empathy. The purpose of this study is to examine the effect of self-disclosure to AI chatbots on psychological well-being among Generation Z and to test the mediating role of perceived empathy. This study employs a quantitative approach using an explanatory research design involving 437 AI users. Data were collected using Ryff’s Psychological Well-Being Scale (RPWB), the Wheeless Self-Disclosure Scale (WSDS), and the Perceived Empathy Trust Scale (PETS), and were analyzed using simple linear regression and PROCESS Model 4. The results indicate that self-disclosure to an AI chatbot does not significantly affect psychological well-being (p > 0.05). However, perceived empathy mediated the effect of self-disclosure on psychological well-being (BootLLCI = 0.006; BootULCI = 0.051). These findings suggest that perceived empathy is an important mechanism that explains the influence of self-disclosure to AI chatbots on psychological well-being. This study has implications for AI chatbot developers to consider designing chatbots that can respond more empathetically and relevantly to support users’ psychological well-being.
Konstruksi Motivasi Fungsional dan Estetika dalam Pengambilan Keputusan Perawatan Ortodontik: Studi Sosiokultural pada Masyarakat Sumatera Barat Fuccy Utamy Syafitri; Amin Akbar; Muhammad Noufal
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1499

Abstract

Perawatan ortodonti kini tidak hanya menjadi kebutuhan medis, tetapi juga bagian dari konstruksi estetika diri yang dipengaruhi oleh faktor psikososial dan gender. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan urgensi gender dalam melakukan pengambilan keputusan untuk melakukan perawatan ortodonti. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan mengeksplorasi dan mengungkap esensi pengalaman partisipan terkait fenomena yang dialami secara langsung dalam konteks kehidupan mereka. Sebanyak 20 orang turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat cara pandang dan motif seseorang melakukan perawatan ortodonti, dimana perempuan menjalani perawatan ortodonti, yang sebagian besar bukan karena masalah fungsional pada gigi, tetapi karena alasan estetika yang dan berujung pada kepercayaan diri. Sebaliknya, laki-laki lebih banyak terdorong melakukan pemasangan behel karena kebutuhan fungsional dan profesional, seperti tuntutan pekerjaan atau adanya malfungsi oral. Peningkatan kepercayaan diri setelah pemasangan behel secara signifikan dirasakan oleh perempuan, bahkan turut berdampak pada aspek relasional dan sosial. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap kebutuhan ortodonti tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan psikologis. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam memahami perilaku kesehatan gigi berbasis gender.
CAREER DECISION-MAKING SELF-EFFICACY AMONG DIPLOMA III VOCATIONAL STUDENTS: A GENDER DIFFERENCE ANALYSIS AT PADANG STATE UNIVERSITY Amin Akbar; Arief Rahman Hakim
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 3 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i3.8821

Abstract

Career decision-making self-efficacy is an important factor for vocational students because confidence in making career decisions can influence career readiness and the transition from education to the workforce. This study aimed to examine gender differences in career decision-making self-efficacy among final-year Diploma III students at Universitas Negeri Padang. A quantitative comparative design was employed involving 150 students (61 males and 89 females) selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using the Career Decision-Making Self-Efficacy Scale developed and analyzed using descriptive and inferential statistics. The findings revealed a significant gender difference in career decision-making self-efficacy, with male students reporting higher levels of confidence in making career decisions than female students. These results indicate that gender is associated with variations in career decision-making confidence among final-year vocational students. Practically, the findings highlight the need for career guidance programs that strengthen career confidence and decision-making skills, particularly for students who may experience lower levels of career self-efficacy.