Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Karakteristik Penderita Epilepsi di Bangsal Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2018 Khalvia Khairin; Laura Zeffira; Rifkind Malik
Health and Medical Journal Vol 2, No 2 (2020): HEME July 2020
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.963 KB) | DOI: 10.33854/heme.v2i2.453

Abstract

Latar Belakang: Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai adanya bangkitan yang terjadi secara berulang akibat terganggunya fungsi otak yang disebabkan oleh muatan listrik yang abnormal pada neuron-neuron otak. Epilepsi memiliki dua kategori kejang yaitu kejang fokal dan kejang umum. Insiden epilepsi diperkirakan lebih banyak terdapat pada negara berkembang daripada negara maju. Pada tahun 2017, jumlah kasus epilepsi anak di Sumatera Barat terutama di RSUP Dr. M. Djamil Padang ada 1081 kasus pada rawat jalan dan satu kasus rawat inap dan diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik penderita epilepsi di bangsal anak RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2018. Metode: Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross sectional. Sumber data dari data sekunder yang berasal dari rekam medis. Sampel dipilih dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Didapatkan dari 65 sampel yang menderita epilepsi yaitu usia 0-5 tahun sebanyak 37 orang (56,9%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 39 orang (60%), tidak memiliki riwayat epilepsi keluarga sebanyak 62 orang (95,4%), gambaran EEG gelombang sharp wave dan spike sebanyak 30 orang (46,2%), tipe kejang generalized sebanyak 57 orang (87,7%) dan asam valproat sebagai salah satu penatalaksanaan epilepsi sebanyak 32 orang (49,2%). Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penderita epilepsi terbanyak adalah usia 0-5 tahun dengan jenis kelamin laki-laki serta tidak memiliki riwayat epilepsi dalam keluarga. Tipe gambaran EEG yaitu gelombang sharp wave dan spike, tipe kejang umum dengan penatalaksanaan terbanyak asam valproat.
EVALUASI ADHERENSI PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI ERA PANDEMI COVID-19 Asri Muliani; Dita Hasni; Rifkind Malik
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.1198

Abstract

Latar belakang : Tercapainya keberhasilan pengobatan diabetes melitus tipe 2 sangat berkaitan dengan adherensi pasien dalam minum obat. Tujuan : Untuk mengetahui evaluasi adherensi dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 pada pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di era pandemi covid-19 di Puskesmas Ikur Koto Padang periode Maret 2020 - November 2020. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah pasien diabetes melitus yang berobat di Puskesmas Ikur Koto tahun 2020 dengan 45 sampel menggunakan teknik total sampling. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase dan pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi 25.0. Hasil: Usia paling banyak adalah 56-65 tahun yaitu 19 orang (42,2%) dan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan yaitu 34 orang (75,6%). Usia 36-45 tahun adherensi rendah sebanyak 4 orang (80%), sedang sebanyak 1 orang (20%) dan tidak ada adherensi tinggi. Pada usia 46-55 tahun adherensi rendah sebanyak 5 orang (41,7%), sedang sebanyak 2 orang (16,7%) dan tinggi 5 orang (41,7%). Usia 56-65 tahun adherensi rendah sebanyak 8 orang (42,1%), sedang 4 orang (21,1%) dan tinggi sebanyak 7 orang (36,8%) dan pada usia >65 tahun adherensi rendah sebanyak 6 orang (66,7%), sedang 1 orang (11,1%) dan tinggi 2 orang (22,2%), Jenis kelamin laki-laki adherensi rendah sebanyak 10 orang (90,9%), sedang tidak ada dan tinggi sebanyak 1 orang (9,15). Pada perempuan dengan adherensi rendah sebanyak 13 orang (38,2%), sedang 8 orang (23,5%) dan tinggi sebanyak 13 orang (38,2%) dan Pendidikan SD adherensi rendah sebanyak 17 orang (60,7%), sedang 5 orang (17,9%) dan tinggi 6 orang (21,4%). Pendidikan SMP dengan adherensi rendah sebanyak 1 orang (20%), sedang tinggi masing-masing 2 orang (40%). Pada pendidikan SMA adherensi rendah sebanyak 5 orang (41,7%), sedang 1 orang (8,3%) dan tinggi sebanyak 6 orang (50%). Kesimpulan : Usia paling banyak adalah 56-65 tahun dan jenis kelamin paling banyak adalah perempuan, kategori semua usia terbanyak adherensi rendah di era pandemi covid-19, pada kedua jenis kelamin adherensi juga rendah di era pandemi covid-19 dan pada pendidikan adherensi juga rendah di era pandemi covid-19
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT ISLAM SITI RAHMAH TAHUN 2017 Veni Syafrianti; Prima Adelin; Rifkind Malik; Khomeini Khomeini
In Proses
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.727 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis yang mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian. Prevalensi hipertensi di Indonesia pada pasien umur ≥ 18 tahun adalah 25,8% sedangkan prevalensi di Sumatera Barat sebesar 22,6% dan merupakan lima penyakit terbanyak pada tahun 2014. Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko diantaranya adalah usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, status gizi, dan riwayat merokok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran faktor risiko pasien hipertensi di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kategorik yang dilakukan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Padang pada bulan April 2018 sampai Februari 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling dan didapatkan sampel sebanyak 100 orang. Data univariat dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Pada penelitian ini didapatkan gambaran pasien hipertensi tertinggi pada usia 56-65 tahun/usia lansia akhir dengan jenis kelamin perempuan, memiliki riwayat keluarga hipertensi, status gizi normal dan riwayat merokok negatif.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Stunting Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 4-13 Tahun Muhammad Rizki Saputra; Rifkind Malik; Betty Fitriyasti; Sri Wahyuni; Suharni Suharni
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 1 (2023): Vol 17 No. 01 JANUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i1.4000

Abstract

Stunting adalah suatu kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan yang menyebabkan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya. Kondisi ini akibat dari masalah gizi kronis yaitu kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama. Untuk mengatasi msalah stunting sangat berhubungan dengan kesadaran keluarga tentang gizi. Pengetahuan ibu mempengaruhi konsumsi pangan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang stunting dengan kejadian stunting pada anak usia 4-13 tahun di Puskesmas Gunung Kota Padang Panjang. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah ibu dan anak usia 4-13 tahun yang mengunjungi Puskesmas Gunung Padang Panjang sebanyak 30 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Accidental Sampling. Hasil penelitian ini yaitu pengetahuan ibu terbanyak tentang stunting pada anak usia 4-13 tahun di Puskesmas Gunung Kota Padang Panjang tergolong baik. Frekuensi kejadian stunting pada anak usia 4-13 tahun terbanyak di Puskesmas Gunung Kota Padang Panjang yaitu tidak stunting. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan kejadian stunting pada anak usia 4-13 tahun di Puskesmas Gunung Kota Padang Panjang (p=0,301). Kesimpulan penelitian ini yaitu tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang stunting dengan kejadian stunting pada anak usia 4-13 tahun di Puskesmas Gunung Kota Padang Panjang. Kata Kunci: Stunting, pengetahuan ibu, gizi, anak, Padang Panjang.
Efek Infusa Daun Kunyit terhadap Kematian Larva Nyamuk Aedes Aegypti Instar III Rahma Triyana; Heru Herbianto; Muhammad Ivan; Melya Susanti; Prima Adelin; Yuni Handayani; Ruhsyahadati Ruhsyahadati; Rifkind Malik
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i5.9972

Abstract

ABSTRACT The Aedes mosquito causes nearly 390 million people to be infected each year. Handling of dengue can be carried out by eradicating Aedes aegypti mosquito larvae through the application of insecticides and Turmeric which has the potential as a natural larvicide. The aim of this study was to determine the effect of turmeric leaf infusion on the mortality of Aedes aegypti mosquito larvae. The scope of this study covers the field of parasitology, especially the entomology section. This study was conducted in February 2020 - March 2020 at the Biomedical Laboratory of Baiturahmah University. The type of research used was experimental through the Post Test Only Control Group Design method. The affordable population in this study were 3rd instar larvae of Aedes aegypti obtained from colonization results at the Health Entomology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University (f.140), the total sample required was 420 larvae, data analysis used the kruskall-wallis test and probit test. Based on the research results, after giving 1%, 2%, 4%, 8% and 16% concentration of turmeric leaf infusion in 1, 2, 3, 4 and 24 hours there was no mortality of Aedes Aegypti larvae or 0%, after giving the leaf infusion concentration turmeric by 30% in 1, 2, 3 and 24 hours, the mortality of Aedes Aegypti larvae is 2.5%, after giving the concentration of turmeric leaf infusion of 50% in 1, 2, 3 and 24 hours, the mortality of Aedes Aegypti larvae is 1, 25%, after giving the concentration of turmeric leaf infusion of 60% within 1, 2, 3 and 24 hours, the mortality of Aedes Aegypti larvae is 6.25%, after giving the concentration of turmeric leaf infusion of 100% within 1, 2, 3 and 24 The mortality of Aedes Aegypti larvae is 8.5%, after giving a 100% concentration of turmeric leaf infusion  within 1, 2, 3 and 24 hours, the mortality of Aedes Aegypti larvae is 17.5%, there is a comparison of the effectiveness of larvicides between turmeric leaf infusion and larvicide commercial (abate). sig 0.003 <0.05 and the average mortality rate of Aedes aegypti larvae at all concentrations of turmeric leaves (100%, 80%, 60%, 50% and 30%) had a significant difference with positive control (abate) (p <0, 05) and the probit results show that the LC50 value of the larvicide infusion of turmeric leaves is 169.281 with intervals of 125.889 and 1822.476 and the LC99 value of the larvicide infusion of turmeric leaves is 573.233 with an interval of 252.901 to 673585.866 and a very potent concentration of killing Aedes aegypti larvae is 100% with an average lethal rate of Aedes aegypti mosquito larvae, namely 3.5. There is a comparison of larvicide effectiveness between turmeric leaf infusion and commercial larvicide (abate). sig 0,000 <0.05. Keywords: Aedes Aegypti Larvae, Turmeric Leaf Infusion, LC 50, LC 99  ABSTRAK Nyamuk Aedes mengakibatkan nyaris 390 juta orang terinfeksi tiap tahunnya, Penanganan DBD mampu dilaksanakan melalui cara membasmi larva nyamuk Aedes aegypti melalui pemberian insektisida dan Kunyit yang berpotensi sebagai larvasida alami.Tujuan penelitian untuk mengetahui efek infusa daun kunyit terhadap kematian larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini mencakup bidang ilmu Parasitologi khususnya bagian Entomologi. Penelitian dilaksanakan pada februari – maret 2020 di Laboratorium Biomedik Universitas Baiturahmah Padang. Jenis penelitian yang digunakan ialah Eksperimental melalui metode Post Test Only Control Grup Design. Populasi terjangkau penelitian ini adalah larva Aedes aegypti instar III yang di dapat dari hasil kolonisasi di Laboratorium Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (f.140), total sampel yang dibutuhkan adalah 420 ekor larva, analisa data menggunakan uji kruskall-wallis dan uji probit. Berdasarkan hasil penelitian, setelah pemberian konsentrasi infusa daun kunyit sebesar 1%, 2%, 4%, 8% dan 16% dalam waktu 1, 2,  3, 4 dan 24 jam tidak ada mortalitas larva Aedes Aegypti atau 0%, setelah pemberian konsentrasi infusa daun kunyit sebesar 30% dalam waktu 1, 2, 3 dan 24 jam mortalitas larva Aedes Aegypti adalah 2,5%, setelah pemberian konsentrasi infusa daun kunyit sebesar 50% dalam waktu 1, 2, 3 dan 24 jam mortalitas larva Aedes Aegypti adalah 1,25%, setelah pemberian konsentrasi infusa daun kunyit sebesar 60% dalam waktu 1, 2, 3 dan 24 jam mortalitas larva Aedes Aegypti adalah 6,25%, setelah pemberian konsentrasi infusa daun kunyit sebesar 100% dalam waktu 1, 2, 3 dan 24 jam mortalitas larva Aedes Aegypti adalah 8,5%, setelah pemberian konsentrasi infusa daun kunyit sebesar 100% dalam waktu 1, 2, 3 dan 24 jam mortalitas larva Aedes Aegypti adalah 17,5%, dan rata-rata kematian larva Aedes aegypti pada seluruh konsentrasi daun kunyit (100%, 80%, 60%, 50% dan 30%) memiliki perbedaan yang signifikan dengan kontrol positif (abate) (p<0,05) dan hasil probit menunjukkan nilai LC50 dari larvasida infusa daun kunyit adalah 169,281 dengan interval 125,889  dan 1822,476 dan nilai LC99 dari larvasida infusa daun kunyit adalah 573,233 dengan interval 252,901 sampai 673585,866 serta konsentrasi yang amat ampuh mematikan larva nyamuk Aedes aegypti adalah 100% dengan rata-rata mematikan larva nyamuk Aedes aegypti yakni 3,5. Terdapat perbandingan efektivitas larvasida antara infusa daun kunyit dengan larvasida komersil (abate). sig 0,000 < 0,05. Kata Kunci: Larva Aedes Aegypti, Infusa Daun Kunyit, LC 50, LC 99
Overview of the quality of life of meningioma patients operated at Dr. M. Djamil Padang year 2019 Nurwiyeni Nurwiyeni; Rifkind Malik; Diah Rahmawati
Science Midwifery Vol 11 No 3 (2023): August: Midwifery and Health Sciences
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v11i3.1281

Abstract

Meningioma is a primary brain tumor originating from leptomeningen meningothelial (arachnoid) cells. These tumors can occur anywhere along the path of the arachnoid cells, are usually attached to the inner surface of the dura mater and are generally slow growing. Treatment of meningioma patients that lasts a long time has a high morbidity effect, usually leading to a weak condition and even depression. The suffering will encourage the patient to determine attitude. This will affect the quality of life of the patient itself. The purpose of this study was to describe the quality of life of meningioma patients who were operated on at Dr. M. Djamil Padang in 2019. The scope of this research is neuro-psychiatry and neurosurgery. Research was conducted in July 2021. The type of research is descriptive categorical. The reachable population in the study were meningioma patients at Dr. M. Djamil Padang in 2019 as many as 30 samples using the total sampling technique. Univariate data analysis was presented in the form of a frequency distribution and data processing using the computerized SPSS program IBM version 25.0. The results of this study explained that the most age was 45-64 years, namely 18 people (60.0%), the most sex was female, namely 17 people (56.7%), the most family history was none, namely 22 people (73.3 %), and the most quality of life is bad, namely 20 people (66.7%). The conclusion of this study is that the most age is 45-64 years, the most gender is female, the most family history is non-existent, and the most quality of life is poor.
Skrining Status Gizi Pada Remaja Rifkind Malik; Ruhsyahadati Ajisman; Alief Dhuha; Annisa Lidra Maribeth; Rahma Triyana; Muhammad Rizki Saputra
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 10 : November (2023): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Non-communicable diseases are one of the causes of disability and death in the world which are often found in developing countries, one of the factors is a change in diet that is high in fat, processed meat, high in salt and sugar but low in fiber. The aim of this social empowerment project is to screen the nutritional status of teenagers. The method is carried out sequentially starting from registration, then continuing with measuring height and weight. The results of this social empowerment project are that the majority are female, the majority are 18 years old and the majority's nutritional status is normal. During this screening, nutritional imbalances were also found to be high, so it is necessary to increase education and outreach regarding good and balanced nutrition to avoid various non-communicable diseases in the future.
Kegiatan Edukasi untuk Mencegah Gangguan Kesehatan Mental di Pesantren Al-Falah Mutiara Anissa; Resti Rahmadika Akbar; Rifkind Malik; Widia Sari
ABDIMASKU : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 7, No 1 (2024): JANUARI 2024
Publisher : LPPM UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62411/ja.v7i1.1639

Abstract

Stres adalah kondisi yang akan selalu dihadapi sehari-hari oleh manusia mulai dari bayi sampai dewasa. Survey The American Psychological Association (APA) melaporkan bahwa stres tertinggi dijumpai pada remaja. Pesantren banyak di isi oleh anak yang berusia antara 12-17 tahun atau yang disebut dengan santri dan termasuk kelompok remaja. Setiap tahunnya 5-10% mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberikan edukasi mekanisme koping dan cara belajar mengatasi emosi dan stres. Metode kegiatan dimulai dengan persiapan tim dalam menyiapakn materi dan menyiapkan kuis untuk menilain pemahaman peserta pengabdian. Pada tahap pelaksanaan dimulai dengan edukasi kemudian dilanjutkan dengan evaluasi pemahaman menggunakan quizis. Hasil dari pengabdian ini adalah peserta cukup memahami dengan nilai rata-rata 46% dan tingkat penyelesaian soal mencapai 72% dari 59 peserta. Dengan pengabdian ini diharapkan peserta dapat mengatasi emosi dan stres serta mengetahui kapan harus mendatangi ahli.
Relationship Between Education Level, Age and Knowledge of Pregnant Women with Antenatal Care Status Fegita, Primadella; Hikmah, Miftahul; Malik, Rifkind
Scientific Journal Vol. 1 No. 2 (2022): SCIENA Volume I No 2, March 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.294 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i2.41

Abstract

Background: Maternal mortality in Indonesia was still quite high. To reduce the mortality rate of the government made a health care program for pregnant women, namely antenatal care services (ANC). Education, knowledge and age of mothers were one of the determinants of maternal death. The purpose of this study was to determine the relationship of formal education levels, maternal age and level of knowledge with health to ANC. Method: Observational analytic research type with a cross-sectional approach, using primary data, namely quizerer and secondary book data KIA. Data were analyzed univariate and bivariate using Spearman Rho test. Results: Univariate analysis, pregnant women with a higher education level of 7 people (21.9%), while 8 people (25.0%), 17 people (53.1%); Pregnant women with the same high and low knowledge level, 50%; Mother's age <20 years and> 35 years 10 people (31.3%) and mothers age 20-35 years 22 people (68.8%); Pregnant women with a complete ANC status of 15 people (46.9%), and 17 people were incomplete (53.1%); Spearman Rho Bivariat Test, the relationship of the level of formal education and the level of maternal knowledge with ANC P <0.05, while maternal age relations with ANC P> 0.05. Conclusion: The majority of pregnant women with low educated with the age range of 20-35 years. There was a significant and direct relationship between the level of education and the level of knowledge with ANC status.
Karakteristik Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Gemilastari, Ranti; Zeffira, Laura; Malik, Rifkind; Tri Septiana, Vina
Scientific Journal Vol. 3 No. 1 (2024): SCIENA Volume III No 1, January 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i1.125

Abstract

Pendahuluan : Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tidak hanya menyebabkan angka kematian bayi tetapi juga pada masalah kesehatan lainnya. Bayi BBLR memiliki peluang kematian delapan kali lebih besar dibandingkan dengan bayi tidak BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kejadian BBLR di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Padang Tahun 2018-2021 berdasarkan indikator usia kehamilan, jenis kelamin, usia ibu, paritas, status gizi, ANC, cara persalinan, dan jarak kelahiran. Tujuan : Untuk mengetahui kejadian bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di RSI Siti Rahmah Padang. Metode : Analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi observasional. Populasi pada penelitian ini yaitu ibu yang memiliki bayi BBLR di RSI Siti Rahmah Padang yang sudah mendapat perawatan. Teknik pengambilan sampel didalam penelitian ini menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 42 orang. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebesar 83.3% dan BBLSR sebesar 16.7%. Distribusi frekuensi usia kehamilan ibu terbanyak adalah tidak berisiko yaitu 20 orang (42.9%), jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki yaitu 23 orang (65.7%), usia ibu terbanyak adalah tidak berisiko yaitu 23 orang (65.7%), paritas terbanyak adalah berisiko yaitu 20 orang (57.1%), status gizi ibu (LILA) terbanyak adalah KEK yaitu 21 orang (60%), ANC terbanyak adalah tidak lengkap yaitu 23 orang (65.7%), jenis persalinan terbanyak adalah SC yaitu (91.4%), jarak kelahiran terbanyak adalah berisiko <2 tahun yaitu 14 orang (40%). Kesimpulan : Prevalensi BBLR adalah 83.3%, dengan kebanyakan bayi laki-laki (67.5%) dan ibu berusia 20-35 tahun (65.7%) mengalami kondisi ini. Faktor risiko termasuk status gizi ibu, frekuensi pemeriksaan kehamilan yang rendah, dan metode persalinan. BBLSR terjadi pada 16.7% kasus, dengan bayi perempuan dan ibu dengan pemeriksaan kehamilan 0-3 kali lebih berisiko. Data menunjukkan pentingnya pemantauan kehamilan dan nutrisi ibu untuk mengurangi risiko BBLR dan BBLSR.