Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Fakta-fakta Ilmiah dalam Peristiwa Arkeologi dan Sejarah (Telaah Kemukjizatan Al-Qur'an) : Scientific Facts in Archaeological and Historical Events (an Examination of The Miracles of The Qur'an) Gampang Dadiyono; Halimah Basri; Ahmad Mujahid
AL-QIBLAH: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab Vol. 4 No. 1 (2025): AL-QIBLAH: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/qiblah.v4i1.1992

Abstract

This research aims to reveal scientific facts that support the miraculousness of the Qur'ān in this modern era. With the development of technology and science, humans have greater opportunities to prove the accuracy of the Qur'an from various scientific perspectives. The research method used is library research by reviewing books related to the research. The results of this study indicate that the miracle of the Qur'an (i'jazul Qur'an) is proven not only through language and legal aspects, but also through scientific and historical facts revealed in this holy book. Archaeological discoveries such as the existence of the people of 'Ad and Tsamud, the body of Pharaoh, as well as the story of Prophet Ibrahim and Ashabul Kahfi, provide concrete evidence that reinforces the truth of the Qur'an from a historical and scientific point of view. This research emphasizes that the Qur'ān is not only relevant as a spiritual guide, but is also able to answer the challenges of modern rationality, confirming its position as a miracle that surpasses human capabilities and is relevant throughout the ages.
C KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER PERSPEKTIF AL-QUR'AN: Pendidikan Karakter, Ayat-Ayat Al-Quran tentang Pendidikan Karakter, Tujuan Pendidikan Karakter Mei, Reski; Rofia Masrifah; Muhammad Yusuf; Ahmad Mujahid
Journal of Public Policy Analys Vol 1 No 2 (2023): December
Publisher : Business Finance Analyst Co.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to understand the issue of character education in Indonesia. Because up to this day, character issues in Indonesia continue to be a sharp focus of various groups. Various negative character traits have been prominently displayed by Indonesian society, often justified as if they were acceptable. There are numerous contemporary issues that we see, and it seems like they will never cease, such as the increasing prevalence of narcotics, even though many offenders are sentenced to death, bullying in schools, sexual crimes against students, online sexual transactions involving students, domestic violence, and more. This research discusses the Concept of Character Education According to the Quran, which explores several pieces of literature, books, and journals. In this research, data is gathered from books and journals related to the phenomenon of character education issues. References related to character education are based on the Quran, which encompasses the interpretation and instillation of values from an early age that align with family, school, and the environment. This study employs various methods, including case studies, literature analysis, and an analysis of the interpretation of Quranic verses related to the research topic. To gather data, the author collects, reads, and analyzes relevant discussions for the research. Character Education According to the Quran emphasizes the very important role that character education plays in shaping individuals with ethical values, morality, and good behavior. Thus, the significance of character education according to the Quran not only includes the formation of individual values but also contributes to the development of a better society in accordance with Islamic principles. In the Quran's perspective, character education is the path to moral perfection and social well-being.
PENAFSIRAN SURAH ATH-THÛR AYAT 6 (AL-BAHR AL-MASJÛR) DALAM PERSPEKTIF TAFSIR KLASIK DAN SAINS MODERN Mahbubah Hasanah; Miffah Khadijah; Nasriah Ramadhan; Feni Andri Mulyani; Ahmad Mujahid
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makna “al-bahr al-masjūr” dalam Surah At-Tur ayat 6 telah menarik perhatian para mufasir dari masa klasik hingga era modern. Kajian ini menelaah penafsiran ayat tersebut dengan menggunakan pendekatan tafsir klasik dan pendekatan ilmiah modern. Melalui metode studi kepustakaan, tulisan ini mengeksplorasi berbagai penafsiran dari ulama klasik seperti Ath-Thabari dan Al-Qurthubi yang menjelaskan “laut yang menyala” sebagai laut yang penuh, menyala-nyala, atau bahkan laut yang telah kehilangan airnya. Dalam perkembangan modern, makna ini memperoleh dimensi ilmiah melalui penemuan-penemuan terkait aktivitas vulkanik di dasar laut, gunung api bawah laut, dan fenomena geotermal di kedalaman samudra. Penemuan magma dengan suhu melebihi 1000°C di bawah lautan, yang tidak mampu menguapkan seluruh air laut, menjadi bukti ilmiah yang mendukung penafsiran al-masjūr sebagai “laut yang menyala.” Penafsiran ilmiah ini semakin diperkuat oleh pandangan para sarjana seperti Tantawi Jauhari dan Zaghlul an-Najjar yang mengaitkan ayat-ayat kauniyyah dengan realitas kosmologis dan geologis. Dengan demikian, integrasi antara tafsir klasik dan sains modern tidak hanya memperkaya pemahaman terhadap ayat tersebut, tetapi juga menunjukkan bahwa Al-Qur’an memuat petunjuk yang selaras dengan fenomena alam yang baru terungkap di era teknologi masa kini.
Kehidupan di Luar Angkasa dalam al-Qur’an: Studi Komparatif antara Tafsir Tanthawi Jauhari dan Tafsir Kemenag Muhammad Romadoni; Ahmad Mustafa Kamal; Muhammad Afnan; Ahmad Mujahid
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji penafsiran ayat-ayat al-Qur'an tentang kehidupan luar angkasa melalui pendekatan komparatif antara Tafsir al-Jawāhir karya Tanthawi Jauhari dan Tafsir Ilmi Kementerian Agama (Kemenag) RI. Fokus penelitian adalah analisis terhadap metode, perspektif, dan implikasi kedua tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah terkait eksistensi makhluk di luar bumi, khususnya QS. ar-Ra’d: 15, an-Nahl: 49, asy-Syūrā: 29, dan at-Talāq: 12. Metode yang digunakan adalah library research dengan pendekatan komparatif (muqāran), menggabungkan analisis teks tafsir dan konteks perkembangan sains modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanthawi Jauhari cenderung progresif dan spekulatif, mengaitkan ayat-ayat dengan teori astronomi klasik-modern serta membuka kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar bumi. Sementara itu, Tafsir Ilmi Kemenag lebih hati-hati, menekankan keselarasan ayat dengan temuan ilmiah tanpa klaim pasti tentang kehidupan ekstraterestrial. Perbedaan utama terletak pada keberanian Tanthawi dalam mengintegrasikan sains dan spiritualitas, sedangkan Kemenag menjaga keseimbangan antara wahyu dan kehati-hatian ilmiah. Kedua tafsir sepakat bahwa al-Qur'an mendorong eksplorasi alam semesta sebagai bukti kebesaran Allah.
ANALISIS KRITIS TERHADAP PENAFSIRAN Q.S. AL-SYU’ARÂ` AYAT 154-158 SEBAGAI MANFAAT AIR LIUR UNTA Ahmad Qhodiri; Mohd. Aamiin Abbas; Muhammad Yazid; Ahmad Mujahid
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kritis penafsiran terhadap Q.S. Al-Syu’arâ` ayat 154–158 yang mengaitkan mukjizat unta Nabi Shalih dengan manfaat air liur unta sebagai agen antibakteri. Penafsiran ini muncul dalam kerangka tafsir sains yang berupaya mengintegrasikan teks wahyu dengan temuan ilmiah kontemporer. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi pustaka, kajian ini menelaah berbagai sumber tafsir klasik dan modern serta literatur ilmiah mengenai potensi biologis air liur unta. Salah satu penafsiran yang dianalisis adalah pendapat Sulaimân bin Shâlih al-Qar’âwî yang menyatakan bahwa unta Nabi Shalih berperan sebagai penetral wabah melalui air liurnya. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun air liur unta mengandung bakteri Bacillus yang memproduksi senyawa antibakteri, klaim bahwa ayat tersebut mendukung manfaat terapeutik air liur unta tidak memiliki dasar tekstual yang kuat dalam Al-Qur’an. Lebih jauh, sifat resistensi bakteri dalam air liur unta terhadap berbagai antibiotik menimbulkan kekhawatiran akan potensi penyebaran resistensi antimikroba. Dengan demikian, artikel ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam mengintegrasikan tafsir dan sains agar tidak terjebak dalam reduksionisme ilmiah yang mengaburkan makna asli teks wahyu. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya wacana tafsir interdisipliner dalam studi keislaman kontemporer.
Gunung Sebagai Pasak Bumi: Telaah Interdisipliner antara Tafsir Al-Qur’an dan Ilmu Geologi Mubarak, Muhammad Rizki; Nur Rahmad Teguh Septiadi; Ahmad Reza Aditya; Ahmad Mujahid
Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 1 No. 3 (2025): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jsiat.v1i3.185

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep gunung dalam Al-Qur’an, khususnya istilah rawāsiya yang menggambarkan gunung sebagai pasak bumi, serta membandingkannya dengan prinsip isostasi dalam geologi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna rawāsiya melalui metode tafsir tahlili, mengkaji fungsi gunung dari aspek teologis dan geologis, serta membandingkan konsep gunung sebagai penstabil bumi dengan teori isostasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), dengan mengombinasikan tafsir klasik dan kontemporer serta literatur ilmiah geologi. Kajian ini menelaah pandangan mufasir seperti Fakhruddin Al-Razi, HAMKA, Asy-Sya’rawi, dan Sayyid Qutb, lalu dikaitkan dengan konsep geofisika tentang kestabilan kerak bumi. Hasil studi menunjukkan bahwa gunung memiliki struktur akar yang menghunjam ke dalam litosfer dan berfungsi sebagai kompensasi massa terhadap mantel. Fenomena ini sejalan dengan penyebutan rawāsiya dalam Al-Qur’an yang menekankan fungsi stabilisasi bumi. Kajian ini menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memahami ayat kauniyah serta membuka ruang integrasi antara wahyu Islam dan ilmu pengetahuan kontemporer.
Psikoedukasi Etika Berkomunikasi Dengan Kawan Disabilitas Dalam Bentuk Poster Di PT Bumi Karsa Hilwa Anwar; Abdul rahmat; Ahmad Mujahid; Nur Ainunnisa
Gudang Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): GJPM - Januari
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjpm.v4i1.1905

Abstract

Kegiatan psikoedukasi tentang etika dan cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas dilakukan di PT Bumi Karsa sebagai upaya meningkatkan pemahaman karyawan terhadap komunikasi inklusif di lingkungan kerja. Berdasarkan hasil need assessment melalui penyebaran kuesioner dan observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar karyawan masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan rekan penyandang disabilitas. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim BKP melaksanakan intervensi psikoedukasi menggunakan media poster karena mampu menyampaikan informasi secara ringkas, visual, dan mudah dipahami. Poster memuat materi mengenai pengertian disabilitas, jenis-jenis disabilitas, serta etika komunikasi yang tepat. Poster dipasang pada area strategis dan diunggah melalui portal internal perusahaan. Hasil observasi lanjutan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman karyawan mengenai komunikasi inklusif, ditandai dengan respons positif serta meningkatnya kepercayaan diri karyawan dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Secara keseluruhan, kegiatan psikoedukasi ini efektif dalam memperluas wawasan karyawan, mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih inklusif, dan memberikan pengalaman pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa BKP dalam merancang intervensi berbasis kebutuhan lapangan.
Sufistic Values in the Story of the Meeting of the Prophet Moses and the Prophet Khidir in the Qur'an Hamsah Awing; Rahmi Damis; Ahmad Mujahid; Nurchamidah; Fakih Hamdani; Muhammad Hamsah
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v9i1.2728

Abstract

This study examines the Sufi values ​​contained in the story of the meeting of the Prophet Moses and the Prophet Khidr as immortalized in the Qur'an, Surah Al-Kahf, verses 65-82. Through a Sufi hermeneutic approach, this study analyzes the esoteric dimensions of the story, including the concept of fana' fi al-syaikh, etiquette in pursuing the spiritual path, and the transformation of consciousness through surrender to the guidance of a spiritual teacher. The method used is textual analysis with an interpretative-qualitative approach to the text of the Qur'an and classical Sufi interpretations. The results of the study show that this story contains fundamental Sufi values ​​in the form of: (1) the concept of seeking laduni knowledge as knowledge obtained directly from Allah, (2) the importance of adab and tawadhu' in the student-teacher relationship, (3) the meaning of spiritual patience (sabr) in facing inner trials, and (4) the transformation from rational knowledge ('aql) to intuitive knowledge (kashf). These findings contribute to a deeper understanding of the Sufi dimension in the Qur'an and its relevance for the development of contemporary Islamic spirituality.
Tasawuf Qur’ani sebagai Terapi Spiritual terhadap FOMO di Era Digital Aslam Habibi; Norhidayat; Ahmad Mujahid
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1518

Abstract

The phenomenon of Fear of Missing Out (FOMO) in digital culture is generally examined through psychological and sociological approaches, while studies on tasawwuf (Islamic mysticism) remain largely normative and have not yet been formulated as a systematic therapeutic framework. This study aims to analyze Qur’an-based tasawwuf as a psychospiritual therapeutic paradigm for addressing FOMO-related anxiety as a symptom of the crisis of inner orientation in modern humanity. The research employs a descriptive qualitative method through library research, utilizing a thematic-contextual hermeneutical approach to relevant Qur’anic verses, combined with critical engagement with classical and contemporary tasawwuf literature. The findings indicate that Qur’anic tasawwuf functions not merely as a form of spiritual ethics, but as a psychospiritual therapeutic framework operating through the reconstruction of life-meaning orientation from external validation toward Divine consciousness, the regulation of digital narcissistic impulses through mujahadah and riyadhah, and the management of existential anxiety through the internalization of tawakkul, qana‘ah, and dhikr. Conceptually, this study proposes that FOMO represents a manifestation of nafs al-ammarah within the digital context, whereas Qur’anic tasawwuf serves as a transformative process toward al-nafs al-muthmainnah. This study affirms the relevance of Qur’anic tasawwuf as a contextual and applicable spiritual therapeutic approach to addressing human anxiety in the digital era.
Relasi Guru-Murid dalam Q.S. al-Kahf 66-70: Analisis Tasawuf Ibn ‘Ajībah terhadap Isu Feodalisme Pesantren Muhammad Rajib Habiburrahman; Norhidayat; Ahmad Mujahid
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1543

Abstract

The teacher-student relationship in the Islamic educational tradition, especially in Islamic boarding schools, is often perceived as a hierarchical structure that restricts freedom of thought, especially by groups outside the tradition who do not understand the meaning of khidmah, tabarruk, and adab ta'ẓīm al-'ilm. This study reviews this relationship through the analysis of Q.S. al-Kahf verses 66-70 using Ibn 'Ajībah's approach to Sufism in Al-Baḥr al-Madīd. The research method used is a literature study with content analysis techniques on the interpretation of Ibn 'Ajībah, then compared with literature on pesantren feudalism and anthropological studies on kiai authority. The results of the study show that the stories of Moses and Khidr represent a balanced dialectic between obedience and critical reason, Ibn 'Ajībah distinguishes between the taslīm in the mental realm and the space of questioning in the realm of birth. These findings confirm that the authority of teachers in the Sufistic perspective is not hierarchical dominance, but rather the result of a depth of knowledge and spiritual guidance. Thus, the accusation of feudalism against pesantren needs to be understood more proportionately through the ethical framework of teacher-student relations that opens up a space for dialogue without abandoning manners.