Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

HUBUNGAN DURASI MENDERITA HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN RETINOPATI HIPERTENSI DI RSUD DR. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG PERIODE 2017-2020 Jyoti Krisna Murti; Rani Himayani; Hanna Mutiara; Muhammad Yusran
MAJORITY Vol 11 No 2 (2023): MAJORITY
Publisher : Majority

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension in Indonesia increase every year until in 2018 reached 34.1%. Long duration hypertension cause organ damage, hypertensive retinopathy is one of them. Hypertensive retinopathy shows changes in retinal vascularity such as narrowing and sclerosis in response to increased pressure of blood. The purpose of this study was to determine the relationship between the duration of hypertension and event of hypertensive retinopathy in RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung Period 2017-2020. This study used an observational analysis research method with a cross sectional approach. The research subjects consisted of 168 samples. Sampling method using total sampling. Data on the duration of hypertension and the event of hypertensive retinopathy were taken from medical records. The analytical test used is the chi-square test. This study that of the 168 respondents with hypertension, 53.0% were aged 40-60 years. Patients with hypertension are male as much as 65.5%. Patients with hypertension degree 2 as much as 71%. Based on the duration of suffering from hypertension, the most common duration was 61.3%. As many as 72.6% of hypertensive patients did not experience hypertensive retinopathy, while 27.4% had hypertensive retinopathy. The results of chi-Square analysis showed that there was a significant relationship between the duration of suffering from hypertension and the incidence of hypertensive retinopathy (p = 0.000). There is a significant relationship between the duration hypertension and event of hypertensive retinopathy in RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung period 2017-2020
UJI DAYA PROTEKSI EKSTRAK METANOL BUAH PARE (Momordica charantia L.) SEBAGAI REPELAN TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti Ajeng Fitria N; Hanna Mutiara
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 7 No 1 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.1 Edisi Januari - A
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v7i1.380

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Salah satu cara pencegahan penularan penyakit DBD adalah menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan repelan. Repelan yang beredar umumnya mengandung senyawa kimia yang dapat bersifat korosif sehingga upaya pencarian senyawa alami sebagai repelan lebih diutamakan. Buah Pare memiliki kandungan zat aktif alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin yang dapat berperan sebagai repelan. Dengan demikian perlu untuk mengetahui daya proteksi serta Effective Time 50% (ET50) dan Effective Concentration 50% (EC50) ekstrak metanol buah pare sebagai repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode rancangan acak lengkap mengikuti anjuran pedoman World Health Organization Pesticides Evaluation Scheme (WHOPES) yang dilakukan dari bulan November hingga Desember 2017. Kelinci yang telah diolesi losio ekstrak metanol buah pare konsentrasi 0%, 12,5%, 25%, dan 50% dimasukkan ke dalam kurungan berisi 25 ekor nyamuk Aedes aegypti dewasa lalu diujikan dengan menghitung jumlah nyamuk yang hinggap selama 3 menit selama 6 jam. Daya proteksi masing-masing ekstrak metanol buah pare dianalisis. Ekstrak metanol buah pare konsentrasi 12,5%, 25% dan 50% memberikan rerata daya proteksi sebesar 49,41%, 67,05% dan 65,38% dengan ET50 terdapat pada satu jam pertama dengan EC50 sebesar 9,8%. Kata Kunci: Aedes aegypti, daya proteksi, ekstrak metanol buah pare, repelan
Pemeriksaan Kadar HbA1c pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Obesitas Guntur Sulistio; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 4 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus (DM) termasuk penyakit tak menular dengan prevalensi yang cukup tinggi di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 2025 penderita DM angkanya mencapai 333 juta jiwa. Diabetes Melitus Tipe 2 mempunyai dua faktor penyebab yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin karena sel beta pankreas mulai terganggu fungsinya. Diabetes Melitus dilihat dari dua hal yaitu GDS dan pemeriksaan Glycate Hemoglobin (HbA1c). Pemeriksaan kadar HbA1c dapat memberikan informasi tentang kontrol glikemik pasien selama 2-3 bulan sebelumnya. Meningkatnya penderita DM Tipe 2 disebabkan oleh peningkatan obesitas, kurang aktivitas fisik, kurang mengonsumsimakanan yang berserat, merokok, dan mengonsumsi makanan tinggi lemak. Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Hemoglobin A1c merupakan komponen minor paling besar dari sel darah manusia, normalnya 4% dari total hemoglobin A. Ketertarikan pada HbA1c dimulai pada saat Rahbar menemukanpeningkatan komponen tersebut sebanyak dua sampai tiga kali lipat pada pasien diabetes. Obesitas adalah akumulasi lemak secara berlebihan atau abnormal dalam tubuh sehingga dapat mengganggu kesehatan. Obesitas pada usia dewasa muda berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian penyakit jantung koroner, hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetesmelitus, dan gangguan metabolik. Ada perbedaan signifikan antara kadar HbA1c pada pasien DM dewasa yang obesitas dan tidak obesitas. [J Agromed Unila 2015; 2(4):430-432]Kata Kunci: diabetes melitus,HbA1c, obesitas
Psoriasis Vulgaris Pada Laki-laki 46 Tahun Kurnia Fitri Aprilliana; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Psoriasis adalah suatu penyakit inflamasi kulit bersifat kronis residif, dapat mengenai semua umur yang ditandai dengan plak kemerahan yang ditutupi oleh sisik yang tebal berwarna putih keperakan dan berbatas tegas. Umumnya lesi psoriasis berdistribusi secara simetris dengan predileksi terutama di daerah siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral, gluteal dan genitalia. Seorang laki-laki berusia 46 tahun datang ke Poli Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah H AbdulMoeloek dengan keluhan timbul bercak kemerahan di seluruh tubuh sejak 4 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada regio kapitis, trunkus posterior, abdominalis, ekstremitas superior dextra et sinistra, ekstremitas inferior dextra et sinistra tampak plak eritema multiple berdistribusi sebagian diskret dan konfluen dengan permukaan ditutupiskuama putih berlapis-lapis disertai papula-papula sekitar lesi dan terdapat ekskoriasi. Pasien didiagnosis dengan Psoriasis Vulgaris dengan anjuran dilakukan pemeriksaan manipulasi yaitu tes Tetesan Lilin, tes Auzpits dan Fenomena Kobner. Pasien mendapat terapi metilpredinolon tablet 8 mg per oral tiap 12 jam dan ceterizin tablet 10 mg tiga kali sehari bila gatal serta pengobatan topikal berupa pemberian Benoson cream 10 gram tiga kali sehari dan diberikan edukasi mengenai caraperawatan kulit yang sakit. Kata kunci: fenomena Kobner, plak eritem, psoriasis, psoriasis vulgaris, tes Auzpits, tes tetesan lilin, skuama
Hubungan antara Personal Hygiene dan Status Gizi dengan Infeksi Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri di Natar Harmeida Risa; Efrida Warganegara; Ermin Rachmawati; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi kecacingan di Indonesia relatif tinggi yaitu sebesar 22,6% dengan mayoritas penderita adalah balita dan murid sekolah dasar. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kecacingan adalah personal hygiene yang buruk. Kecacingan dapat menyebabkan status gizi anak menjadi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene dan status gizi dengan infeksi kecacingan pada siswa sekolah dasar negeri di Natar. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SDN di Natar bulan Oktober-November 2015. Subjek penelitian adalah 50 orang siswa kelas 1 sampai kelas 6. Hubungan antara personal hygiene dan status gizi dengan infeksi kecacingan diuji dengan uji statistik Chi-square dengan menggunakan software komputer. Penilaian personal hygiene dilakukan dengan menggunakan kuesioner, penilaian status gizi melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan serta uji laboratorium dengan metode apung untuk penilaian infeksi kecacingan. Dari 50 responden, 62% mengalami infeksi kecacingan dengan jenis Ascaris lumbricoides. Status gizi berdasarkan IMT/U kategori kurus 10%, normal 80%, gemuk 6% dan sangat gemuk 4%. Prevalensi kebersihan kuku 64%, alas kaki 60%, dan cuci tangan 62% kategori tidak baik. Terdapat hubungan antara kebersihan kuku, penggunaan alas kaki, dan kebiasaan cuci tangan dengan infeksi kecacingan dengan masing-masing p value 0,002, 0,009, dan 0,000. Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan infeksi kecacingan dengan p value 0,80. Terdapat hubungan antara personal hygiene dengan infeksi kecacingan namun tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan infeksi kecacingan.Kata Kunci: infeksi kecacingan, personal hygiene, status gizi
Sistem Skoring Baru untuk Menentukan Prognosis Malaria Berat Tresa Ivani Saskia; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium sp. Penyakit ini menyumbang pada banyak kematian di seluruh dunia setiap tahunnya, terutama pada wilayah negara yang memiliki iklim tropis. World Health Organization (WHO) menetapkan Indonesia sebagai salah satu dari 91 negara endemis malaria di dunia pada tahun 2015. Berbagai wilayah Indonesia termasuk dalam wilayah endemis malaria, termasuk provinsi Lampung. Malaria, khususnya malaria falciparum, sering mengalami komplikasi menjadi malaria berat dan berhubungan erat dengan tingginya angka mortalitas. Pasien dengan kondisi seperti ini membutuhkan terapi yang tepat dan perawatan intensif. Namun, tidak semua daerah endemis malaria di Indonesia memiliki fasilitas ruang perawatan intensif yang memadai. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem skoring pada malaria berat untuk memprediksikan prognosis pasien dengan malaria serebral. Dengan skor ini, kita dapat melakukan identifikasi pasien yang akan mendapatkan manfaat dari perawatan intensif sehingga angka harapan hidupnya dapat lebih tinggi. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa sistem skoring yang telah diajukan oleh para ahli yang berasal dari wilayah endemis malaria dari berbagai wilayah di dunia, serta potensi aplikasi klinisnya di Indonesia. Dari beberapa sistem skoring, skoring GCRBS (GCS, Creatinine, Respiratory rate, Bilirubin and Systolic BP) merupakan penilaian yang paling sederhana dan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia dengan fasilitas yang tidak merata.Kata kunci: malaria berat, plasmodium falciparum, prognosis, sistem skoring.
Efek Tanin pada Kulit Buah Semangka (Citrulus lanatus) sebagai Antimalaria Hanna Mutiara; Fahma Azizaturrahmah
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak di dalam sel darah manusia yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp. Angka kejadian malaria yang tinggi menjadikan malaria sebagai salah satu masalah kesehatan di Indonesia maupun di dunia. Gejala malaria adalah demam, sakit kepala, malaise, anoreksia, dengan trias malaria berupa demam periodik, anemia, dan spleenomegali. Pengobatan terhadap malaria yang selama ini diberikan di Indonesia berupa artesunat, dehidroartemisinin, piperakuin, amodiakuin, kina dan klorokuin. Resistensi terhadap obat-obat antimalaria kini telah terjadi di berbagai daerah. Penelitian banyak dilakukan untuk menangani masalah resistensi terhadap antimalaria. Berbagai penelitian menunjukkan kandungan tumbuh-tumbuhan berperan dalam pengobatan malaria. Salah satu tumbuhan sebagai pengobatan malaria adalah semangka yang di dalamnya terkandung tanin. Tanin bekerja pada fase aseksual eritrositer, sehingga dapat menghambat plasmodium dalam menginfeksi eritrosit. Oleh karena itu, terjadi penurunan destruksi eritrosit dan penurunan invasi pada eritrosit baru, sehingga dapat menurunkan jumlah parasitemia.Kata Kunci: antimalaria, semangka, tanin
Seroprevalensi Toxoplasma gondii pada Hewan Ternak Sapi di Kota Bandar Lampung Riska Wulandari; Johns Fatriyadi Suwandi; Hanna Mutiara; Sulinawati Sulinawati; Rizki Hanriko
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksoplasmosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa yaitu Toxoplasma gondii. Penularan Toxoplasma gondii ke manusia dapat melalui dua cara yaitu kongenital dan didapat. Penularan dengan cara didapat merupakan penularan yang tersering yaitu dengan cara termakan kista yang terdapat pada daging sapi yang dimasak tidak matang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi toxoplasmosis pada sapi yang berada di Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan metode serologi aglutinasi yaitu ToMAT dengan menggunakan dua kit yaitu kitmerah dan kit biru. Terdapat 63 sampel yang positif terinfekesi Toxoplasma gondii, dari 63 sampel tersebut 18 diantaranya kemungkinan mengalami infeksi akut. Seroprevalensi Toxoplasma gondii pada hewan ternak sapi diBandar Lampung adalah sebesar 92,65%.Kata kunci: Hewan ternak sapi, Seroprevalensi, Toxoplasmosis, Zoonosis
Hubungan Personal Hygiene terhadap Kejadian Pediculosis Capitis pada Santriwati di Pesantren Jabal An-Nur Al-Islami Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung Nani Indah Hardiyanti; Betta Kurniawan; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pediculosis capitis adalah infeksi kulit atau rambut kepala yang disebabkan oleh infestasi Pediculus humanus var. capitis. Prevalensi penyakit ini cukup tinggi terutama pada anak sekolah dan telah menjadi masalah baik di negara berkembang maupun negara maju. Penyakit ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang berperan adalah personal hygiene. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Metode pengambilan sampeldengan teknik simple random sampling. Besar sampel minimal yang dibutuhkan adalah 62 sampel. Sebanyak 62 santriwati yang memenuhi kriteria penelitian mengisi kuesioner dan dilakukan pemeriksaan. Pada akhir penelitian data kuesioner dianalisis untuk melihat apakah terdapat hubungan antara personal hygiene terhadap kejadian Pediculosis capitis pada santriwati di Pesantren Jabal An-Nur Al-Islami Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung. Hasil penelitian didapatkan pada pretest mayoritas responden memiliki personal hygiene yang baik yaitu 40 responden (71,4 %). Pada posttest mayoritas responden juga memiliki personal hygiene yang baik yaitu pada 50 responden (89,3 %). Dari hasil pemeriksaan pretest didapatkan 27 responden (48,2 %) dan hasil pemeriksaan posttest 25 responden (44,6%) mengalami Pediculosiscapitis. Berdasarkan analisa data didapatkan hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan kejadian Pediculosis capitis. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan personal hygiene dengan kejadian Pediculosis capitis pada santriwati di Pesantren Jabal An-Nur Al-Islami Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung.Kata kunci: Pediculosis capitis, Personal Hygiene, Santriwati
Perbandingan Seroprevalensi Toxoplasma gondii pada Ayam Ras dan Ras di Kota Bandar Lampung Andi Nabila Maharani Insan; Jhons Fatriyadi Suwandi; Rika Lisiswanti; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksoplasmosis merupakan penyakit parasiter yang disebabkan oleh infeksi Toxoplasma gondii. Penularan ke manusia salah satu caranya adalah melalui tertelannya kista jaringan dalam daging mentah atau yang dimasak kurang sempurna. Toksoplasmosis dapat menyerang semua hewan ternak termasuk unggas, salah satunya adalah ayam yang dapat menjadi inang antara. Hal ini menjadi latar belakang untuk mengetahui perbandingan seroprevalensi Toxoplasma gondii pada ayambukan ras dan ayam ras di Kota Bandar Lampung. Jenis penelitian ini adalah penelitian cross sectional yang bersifat analitik dengan pendekatan laboratorik. Sampel penelitian diperoleh dari beberapa tempat pemotongan ayam dengan teknik simple random sampling. Sampel diambil secara acak sampai memenuhi 35 sampel pada ayam bukan ras dan 35 sampel pada ayam ras selama periode penelitian. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode To-MAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seroprevalensi yang positif terinfeksi Toxoplasma gondii pada ayam bukan ras sebesar 94,3% (33 sampel) dan pada ayam ras sebesar 37,1% (13 sampel). Data dianalisis dengan uji Chi-Square dan didapatkan p=0,000. Terdapat perbedaan yang bermakna antara perbandingan seroprevalensi T. gondii pada ayam bukan ras dengan ayam ras di kota Bandar Lampung.Kata kunci: ayam buras, ayam ras, Toxoplasma gondii, seroprevalensi.