Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG TERKAIT DENGAN KONSUMSI BUAH DAN SAYUR PAD A REMAJA DI 4 SMA JAKARTA BARAT Bahria Bahria; Triyanti Triyanti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol 4 No 2 (2010): Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
Publisher : Faculty of Public Health, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24893/jkma.v4i2.70

Abstract

Rendahnya konsumsi buah dan sayur pada remaja dapat berisiko dalam memicu perkembangan penyakit degenerative seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan kanker pada tahapan kehidupan selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi, kesukaan, dan faktor lain dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja di 4 SMA di Jakarta Barat tahun 2009. Desain penelitianyang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel penelitian sebesar 214 orang. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik remaja (jenis kelamin, pengetahuan gizi, kesukaan, dan uangjajan), orang tua (pendidikan, pekeqaan, kebiasaan, dan dukungan dalam mengonsumsibuahdan sayur), dan lingkungan (ketersediaan buah dan sayur di rumah, keterpaparan informasi, dan pengaruh teman sebaya). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebesar 92,1% remaja kurang mengonsumsi buah dan 77,1% kurang mengonsumsi sayur. Faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah, yaitu uangjajan, kebiasaan orang tua mengonsumsi buah, dan ketersediaan buah di rumah sedangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi sayur, yaitu kebiasaan orang tua mengonsumsi sayur, ketersediaan sayur di rumah, dan kesukaan terhadap sayur.
HUBUNGAN IMT, RLPP DAN RIWAYAT DIABETES PADA KELUARGA DENGAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA PNS Hafifatul Auliya Rahmy; Triyanti Triyanti; Ratu Ayu Dewi Sartika
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol 9 No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
Publisher : Faculty of Public Health, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24893/jkma.v9i1.214

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. DM dan komplikasinya menyebabkan sekitar 4% kematian dari seluruh total kematian di dunia dan 3% di Di Indonesia. Skrining melalui pemeriksaan kadar gula darah sangat diperlukan untuk mencegah DM. Penelitian ini bertujuan  mengetahui kadar gula darah dan hubungan indeks massa tubuh, rasio lingkar pinggang pinggul dan riwayat diabetes pada keluarga dengan kadar gula darah. Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional pada PNS di Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan bulan Februari - April 2014. Jumlah sampel berdasarkan hasil perhitungan sampel sebanyak 147 responden yang dipilih secara random. Analisis yang digunakan meliputi analisis univariat dan bivariat (regresi linear sederhana dan ­t test independen). Rata-rata kadar gula darah yang didapatkan adalah 177,52±27,67 mg/dl, rata-rata IMT adalah 23,93±4,20 m/kg2 pada perempuan dan 26,23±4,07 m/kg2 pada laki-laki dan rasio lingkar pinggang pinggul adalah 0,87±0,06 pada perempuan dan 0,90±0,04 pada laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh, rasio lingkar pinggang pinggul dan riwayat diabetes pada keluarga dengan kadar gula darah (p value < 0,05). Pencegahan DM dapat dilakukan dengan skrining khususnya pada kelompok berisiko dengan pemantauan status gizi.
KONSUMSI BUAH-SAYUR PADA SISWA SMA NEGERI 81 JAKARTA [THE CONSUMPTION OF FRUITS AND VEGETABLES AMONG STUDENTS OF SMA NEGERI 81 JAKARTA] Aufa Hanifa; Kusharisupeni Djokosujono; Triyanti Triyanti; Salimar Salimar
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Lack of fruit and vegetable consumption may increase the risk of non-communicable diseases in later life. Consumption of fruits and vegetables in the Indonesian population is still low, especially among adolescents. The study aimed to determine the dominant factor associated with fruit and vegetable consumption among high school students in SMA Negeri 81 Jakarta. This study used a cross-sectional study design and was conducted from March until April 2020, wich consist 143 respondents. Data collection including consumption of fruits and vegetables, gender, preferences, knowledge of fruits and vegetables, parental influence, peer influence, availability of fruits and vegetables at home, consumption of fast food, consumption of SSBs, pocket money, exposure to mass media, and parental education levels were carried out online. Data were analyzed by bivariate analysis with the Chi-Square test and multivariate analysis with multiple logistic regression tests. The results found that 67,1 percent of respondents consumed less fruit and vegetables (<400 grams per day). Bivariate results showed a significant relationship between gender, preference, parental influence, fruit and vegetable availability at home, and mass media exposure with fruit and vegetable consumption. Logistic regression analysis showed that the availability of fruits and vegetables at home was a dominant factor associated with fruit and vegetable consumption (OR = 5,8; CI = 1,7 – 20,3). The availability of fruits and vegetables at home was the dominant factor in the consumption of fruits and vegetables among students of SMA Negeri 81 Jakarta. It is necessary to implement policies that promote and provide easy access to fruits and vegetables through school and home to increase fruit and vegetable intake in adolescents. ABSTRAK Kurang konsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular di kemudian hari. Konsumsi buah dan sayur penduduk Indonesia masih rendah, terutama pada kalangan remaja. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor dominan konsumsi buah dan sayur pada siswa SMA Negeri 81 Jakarta. Desain penelitian cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2020 dengan responden sejumlah 143. Data yang dikumpulkan meliputi konsumsi buah dan sayur, jenis kelamin, preferensi, pengetahuan tentang buah dan sayur, pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, ketersediaan buah dan sayur di rumah, konsumsi fast food, konsumsi SSBs, uang jajan, keterpaparan terhadap media massa, dan tingkat pendidikan orang tua dilakukan secara daring. Data dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan sebanyak 67,1 persen responden kurang mengonsumsi buah dan sayur (<400 gram/hari). Hasil bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, preferensi, pengaruh orang tua, ketersediaan buah dan sayur di rumah, dan keterpaparan terhadap media massa dengan konsumsi buah dan sayur. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur (OR = 5,8; CI = 1,7 – 20,3). Ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan faktor dominan konsumsi buah dan sayur pada siswa SMA Negeri 81 Jakarta. Perlu kebijakan untuk mempromosikan dan memberikan kemudahan akses konsumsi buah dan sayur melalui sekolah dan rumah untuk meningkatkan asupan buah dan sayur pada remaja.
Kepatuhan Membaca Label Informasi Zat Gizi di Kalangan Mahasiswa Zahara, Siti; Triyanti, Triyanti
Kesmas Vol. 4, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan hasil kajian Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), di Indonesia label pangan masih kurang mendapat perhatian dari konsumen. Hanya sekitar 6,7% konsumen yang memperhatikan kelengkapan label produk pangan yang mereka beli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia membaca label informasi zat gizi dan komposisi makanan kemasan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dengan desain potong lintang (cross-sectional) ini dilakukan terhadap 215 responden. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kepatuhan mambaca label informasi zat gizi adalah status pekerjaan ayah (OR = 2,44), sikap kesehatan dan label produk pangan (OR = 2,824), perencana makanan (OR= 2,27), pembelanja makanan (OR= 2,33), dan keterpaparan dengan informasi (OR= 2,171). Variabel yang berhubungan bermakna dengan kepatuhan mambaca label komposisi adalah status pekerjaan ayah (OR= 2,116), pembelanja makanan(OR= 1,906), dan penerimaan harga produk pangan (OR= 0,152). According to the results of the study by National Consumer Protection Institute, food label have been paid less attention from customers in Indonesia where only 6.7% consumers consider about the label. This study aims to know the level compliance to read the nutrition information and composition on food packages and its determinant factors among students in the Faculty of Public Health, University of Indonesia. This cross sectional study was conducted on 215 respondents. Results of the research shows that variables with significant relationship to food label compliance are father’s job status (OR = 2.443), attitudes toward health and food label (OR = 2.824), eating planner (OR= 2.274), food shopper (OR = 2.335), exposure to media (OR= 2.171). Variables that have significant relationship to composition compliance are father’s job status (OR = 2.116), food shopper (OR= 0.036), and acceptance to food price (OR= 0.152).
Asupan Gizi dan Mengantuk pada Mahasiswa Rasmada, Sada; Triyanti, Triyanti; M. Indrawani, Yvonne; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Kesmas Vol. 7, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asupan nutrisi dan energi, status nutrisi, serta aktivitas harian berpengaruh pada kejadian mengantuk yang berpengaruh negatif pada konsentrasi dan produktivitas belajar pada mahasiswa. Kejadian mengantuk berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif yang disebabkan oleh defisiensi zat besi. Seseorang yang mengantuk akan mengalami penurunan aktivitas fisik yang menyebabkan kelebihan berat badan sehingga berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan yang berpengaruh pada kejadian mengantuk di kalangan mahasiswa. Penelitian dengan desain studi cross sectional ini dilakukan terhadap sampel 139 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Proporsi mahasiswa yang hampir mengantuk sekitar 28,80%. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tidur dan masalah kantuk (nilai p = 0,048). Mahasiswa dengan durasi tidur < 8 jam per hari mengalami kejadian mengantuk 0,50 kali lebih besar daripada mahasiswa dengan durasi tidur > 8 jam per hari. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian mengantuk adalah durasi tidur setelah dikontrol dengan asupan protein dan lemak, aktivitas fisik, dan paparan media. Mahasiswa yang sering mengantuk memperlihatkan asupan zat besi rendah sehingga disarankan untuk meningkatkan asupan zat besi yang berasal dari sumber makanan yang mengandung heme. Nutrient and energy intake, nutrition status, and daily activity could give impact for sleepiness problem. Sleepiness related to the decreasing of cognitive ability that caused by iron deficiency. A person who feels sleepy will have a lack of physical activities that lead to overweight and therefore has a higher risk to suffer degenerative diseases such as cardiovascular and diabetes mellitus. This study aimed to analyze dominant factor that can give influence to sleepiness problem among students. The cross sectional research used 139 students of Faculty of Public Health University of Indonesia. The percentage of students who is almost sleepy was 28,80%. This research showed the association between sleep duration and somnolence problem is significant (p value = 0,048). Students with sleep duration < 8 hours a day could be 0,50 times more sleepy than students with sleep duration > 8 hours a day. The dominant factor is sleep duration after controlled by protein and fat intake, physical activity, and media exposure. Students that frequently feels sleepy indicated low iron intake so that suggested to increase the iron intake through consuming heme contained food.
Determinants of the Coexistence Dual Form of Malnutrition in Pairs of Mother and Child Aged 6 – 59 Months in Bogor District 2019 Krismanita, Maulina Dwi; Triyanti, Triyanti; Syafiq, Ahmad; Sudiarti, Trini
Kesmas Vol. 17, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The dual form of malnutrition (DFM) is defined as multiple nutritional problems in the same household and time. This study aimed to determine the related factor to DFM incidence in pairs of mothers and children aged 6–59 months in Bogor District in 2019. This cross-sectional study used secondary data on the Nutrition and Health of Babakan Madang Subdistrict Toddlers in 2019 and Nutrition Intake and Stunting of Children Under-Five in Bogor District, West Java Province, involving a total sample of 274 households. The dependent variable in this study was DFM, while the independent variables were maternal age during pregnancy, maternal height, maternal breastfeeding history, parity, family income, mother's and father's education level. Bivariate analysis involving the Chi-square test and multivariate analysis with multiple logistic regression tests was used in this study. The results revealed that DFM incidence in the Babakan Madang Subdistrict in 2019 was 42%. The determinants of DFM that were significantly related were maternal height (p-value = 0.000), maternal breastfeeding history (p-value = 0.027), and parity (p-value = 0.049). The analysis results showed that the dominant factor in the prevalence of DFM was the maternal height (OR = 2.704; 95% CI = 1.615-4.528). It is recommended to improving nutrition in adolescence, especially in the case of girls in their role as future mothers.
Pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini dengan Perkembangan Kognitif pada Anak Setyaningrum, Sari Rahayu; Triyanti, Triyanti; Indrawani, Yvonne Magdalena
Kesmas Vol. 8, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kognitif merupakan aspek perkembangan yang muncul dan berkembang pesat ketika masa usia dini karena 50% potensi kognitif terbentuk pada empat tahun pertama kehidupan. Perkembangan kognitif berkaitan dengan kualitas hidup manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan perkembangan kognitif. Penelitian dilakukan pada bulan April 2013. Desain penelitian adalah potong lintang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Sampel penelitian adalah 128 anak usia dini 24-72 bulan yang mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) atau pun tidak ikut PAUD di Desa Talagamulya Kabupaten Karawang. Perkembangan kognitif sebagai variabel dependen. Sementara variabel independen adalah karakteristik anak (usia, berat badan lahir, status gizi tingi badan per umur (TB/U), asupan energi, protein, vitamin A, zat besi, zink), karakteristik ibu (usia, pekerjaan, pendidikan, pengetahuan), serta pembelajaran di PAUD. Uji regresi logistik digunakan untuk analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan anak usia dini dengan kognitif baik 61,7%. Uji kai kuadrat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan perkembangan kognitif yaitu asupan vitamin A, asupan zink, pengetahuan ibu, dan pembelajaran di PAUD. Faktor dominan yang berhubungan dengan perkembangan kognitif dalam penelitian ini yaitu pembelajaran di PAUD. Cognitive development was a developmental aspect that was emerged and thrived when the preschool years because 50% of the potential cognitive formed in the first 4 years of life. Cognitive development related to increasing the quality of human resource. The objective of the study was to know dominant factor associated with cognitive development early childhood. The design study was quantitative using cross-sectional study. Sample study were 128 early childhood 24-72 and collected information on April 2013 inTalagamulya Village, Karawang district. Cognitive development as dependent variable, was gathered using questionnaire. Independent variables were children’s characteristics (birth weight, nutrition status/height for age, intake of energy, protein, fe, zinc, vitamin A), mother’s characteristics (age, education, job, knowledge), and participation in early childhood education. The logistic regression was used for analyze data. The results of this study showed early childhood with good cognitive 61.7%. Chi square analysis showed intake of vitamin A, zinc intake, maternal knowledge, and follow early childhood education significant associated with cognitive development. The dominant factor associated with cognitive development was the participation in early childhood education.
Asupan Karbohidrat sebagai Faktor Dominan yang Berhubungan dengan Kadar Gula Darah Puasa Werdani, Aprilya Roza; Triyanti, Triyanti
Kesmas Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kadar gula darah memicu peningkatan produksi hormon insulin yang erat hubungannya dengan diabetes melitus. Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi diabetes melitus di Indonesia meningkat dari 1,1% (2007) menjadi 2,1% (2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kadar gula darah puasa pegawai pemberdayaan masyarakat & keluarga dan pegawai sekretariat daerah Kota Depok. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dan melibatkan 105 sampel. Variabel independen penelitian meliputi karakteristik individu, asupan zat gizi, hipertensi, aktivitas fisik, status gizi dan pengetahuan gizi. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji korelasi dan uji beda dua mean, serta analisis multivariat menggunakan uji regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar gula darah puasa adalah 95,14±10,863 pada keseluruhan responden, sedangkan 94,07±11,55 mg/dl pada perempuan, dan 96,47±9,92 mg/dl pada laki-laki. Diabetes melitus (≥126 mg/dl) ditemukan sebesar 2,9% dan impaired fasting glucose (100-125 mg/dl) sebesar 22,9%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan antara usia, asupan karbohidrat, dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa (p<0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asupan karbohidrat merupakan faktor dominan yang berhubungan kadar gula darah puasa. Increased blood glucose levels lead to excess insulin secretion that is closely associated with diabetes mellitus. Based on Riskesdas, prevalence of diabetes mellitus in Indonesia has increased from 1,1% (2007) to 2,1% (2013). This study was aimed to find dominant factor associated with fasting blood glucose level. Cross sectional design were used to conduct this study and involved 105 samples. Independent variables in this study were individual characteristics, nutrients intake, history of hypertention, physical activities, nutritional status and nutritional knowledge. Bivariate analysis was performed by correlation test and two different test mean. Multivariate analysis was performed by multiple linear regression test. Result showed that the average of employees’ fasting blood glucose level is 95.14±10.863, 94.07 ± 11.55 mg/dL for woman and 96.47 ± 9.92 mg/dl for man. This study found 2.9% employees with diabetes mellitus (³126 mg/dl) and 22.9% employees with impaired fasting glucose (100-125 mg/dl). Result of bivariate analysis showed that associated between age, carbohydrate intake, physical activities with fasting blood glucose level. Result of multivariate analysis showed that carbohydrate intake was a dominant factor related to fasting blood glucose level.
THE RELATIONSHIP BETWEEN LOCAL FOOD-BASED RECOVERY FEEDING AND OTHER FACTORS ON WEIGHT GAIN IN CHILDREN 12-59 MONTHS OF AGE AT PUSKESMAS CIMPAEUN, DEPOK CITY, INDONESIA, IN 2025 Sahara, Ghevira Aulia; Rahmawati, Nurul Dina; Triyanti, Triyanti; Fajrinayanti, Fajrinayanti; Pratiwi, Dessy
Journal of Indonesian Specialized Nutrition Vol. 3 No. 3 (2025): Journal of Indonesian Specialized Nutrition
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63953/jisn.v3i3.56

Abstract

Background: Malnutrition among children aged 12-59 months remains a major challenge in Indonesia, including in Depok City. Local Food-Based Supplementary Feeding (PMT) is one of the government's intervention efforts to improve or recover children's nutritional status. This study aims to determine the relationship between the provision of Local Food-Based Recovery PMT and other factors on toddler weight gain at the Cimpaeun Health Center in Depok City in 2024. Methods: This study used a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 71 toddlers aged 12-59 months who were purposively selected. Data were collected through questionnaires and secondary data from the health center. Results: The results showed that 60.6% of toddlers experienced adequate weight gain after participating in the Local PMT program. There was a significant association between the appropriateness of the provision of local PMT and weight gain (p = 0.027; OR = 4.464; 95% CI: 1.155-17.252), meaning that toddlers who received inadequate local food-based recovery PMT had a 4.464 times greater risk of underweight gain compared to toddlers who received inadequate PMT. There was a significant association between infection and weight gain (p = 0.015). Infected toddlers had a higher tendency to gain weight. Meanwhile, variables such as diet, mother's education, knowledge, parenting, posyandu visits, and PHBS did not show a significant relationship with toddler weight gain. Conclusions: The provision of an appropriate local food-based recovery PMT and the health condition of the child are the factors most associated with under-five weight gain. Other factors such as infection may encourage more attention from parents, which contributes to children's nutritional recovery.
Determinants of stunting among children aged 6–59 months in Banten Province: A cross-sectional analysis of the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (INSS) Arifianti, Dian Isnaini; Sudiarti, Trini; Triyanti, Triyanti; Setiarini, Asih; Djokosujono, Kusharisupeni
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 5, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(5).365-377

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang berdampak jangka panjang. Data SSGI 2021 menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi (24,5%).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita 6-59 bulan menggunakan data SSGI 2021. Variabel independen adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat lahir, panjang lahir, keragaman pangan); faktor ibu (pendidikan ibu, pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban), faktor penyakit infeksi (riwayat ISPA, diare, pneumonia, TBC); faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Analisis menggunakan univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik ganda).Hasil: Proporsi stunting sebesar 22,7%. Determinan stunting balita 6-59 bulan adalah jenis kelamin (AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang lahir (AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347).Kesimpulan: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten dengan faktor dominan yaitu panjang lahir pendek (AOR 2.09). Keluarga bayi dengan panjang lahir pendek, khususnya ibu perlu mendapatkan pendampingan (termasuk program gizi dan kesehatan) dan informasi pencegahan stunting sebagai upaya mengejar ketertinggalan agar bayi panjang lahir pendek dapat tumbuh dan memiliki panjang badan normal pada tahun-tahun berikutnya. Pemantauan kesehatan secara rutin bayi PBL pendek juga dianjurkan.KATA KUNCI: balita; determinan; panjang lahir; stuntingABSTRACTBackground:  Stunting is a growth failure due to chronic malnutrition and recurrent infections long-term impacts. In Banten Province, the prevalence remains high at 24.5%Objectives:  To identify determinants of stunting among toddlers aged 6-59 months in Banten.Methods :  The cross-sectional study analyzed 1.643 toddlers aged 6-59 months using INSS 2021 data. Independent variables included child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity); maternal factors (education, occupation); food insecurity; environmental health factors (latrine ownership), infectious disease (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis); health services (vitamin A, treatment in health facilities). Data were analyzed using univariate, chi-square, and multiple logistic regression.Results: Stunting prevalence was 22.7%. Significant determinants were male gender (AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); low maternal education (AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); short birth length (AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); and food insecurity (AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347).Conclusions:  Stunting remains a public health issue in Banten. The most dominant determinant is short birth length (AOR 2.09). Families of infants with Short Birth Length should receive targeted assistance through nutrition and health programs, education on stunting prevention, and monthly growth monitoring to support catch up growth.KEYWORD: birth length; determinant; stunting; toddler