Claim Missing Document
Check
Articles

Estimation and Mapping Above-Ground Mangrove Carbon Stock Using Sentinel-2 Data Derived Vegetation Indices in Benoa Bay of Bali Province, Indonesia Suardana, A. A. Md. Ananda Putra; Anggraini, Nanin; Nandika, Muhammad Rizki; Aziz, Kholifatul; As-syakur, Abd. Rahman; Ulfa, Azura; Wijaya, Agung Dwi; Prasetio, Wiji; Winarso, Gathot; Dewanti, Ratih
Forest and Society Vol. 7 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/fs.v7i1.22062

Abstract

Carbon dioxide (CO2) is one of the greenhouse gases that causes global warming with the highest concentration in the atmosphere. Mangrove forests can absorb CO2 three times higher than terrestrial forests and tropical rainforests. Moreover, mangrove forests can be a source of Indonesian income in the form of a blue economy, therefore an accurate method is needed to investigates mangrove carbon stock. Utilization of remote sensing data with the results of the above-ground carbon (AGC) detection model of mangrove forests based on multispectral imaging and vegetation index, can be a solution to get fast, cheap, and accurate information related to AGC estimation. This study aimed to investigates the best model for estimating the AGC of mangroves using Sentinel-2 imagery in Benoa Bay, Bali Province. The random forest (RF) method was used to classified the difference between mangrove and non-mangrove with the treatment of several parameters. Furthermore, a semi-empirical approach was used to assessed and map the AGC of mangroves. Allometric equations were used to calculated and produced AGC per species. Moreover, the model was built with linear regression equations for one variable x, and multiple regression equations for more than one x variable. Root Mean Square Error (RMSE) was used to assess the validation of the model results. The results of the mangrove forests area detected in the research location around 1134.92 ha, with an Overall Accuracy (OA) of 0.984 and a kappa coefficient of 0.961. This study highlights that the best model was the combination of IRECI and TRVI vegetation indices (RMSE: 11.09 Mg/ha) for a model based on red edge bands. Meanwhile, the best results from the model that does not use the red edge band were the combination of TRVI and DVI vegetation indices (RMSE: 13.63 Mg/ha). The use of red edge and NIR bands is highly recommended in building the AGC model of mangrove forests because they can increase the accuracy value. Thus, the results of this study are highly recommended in estimating the AGC of mangrove forests, because it has been proven to be able to increase the accuracy value of previous studies using optical images.
Imbangan Energi dan Nitrogen Ternak Domba Lokal yang Diberi Silase Pakan Komplit dengan Aditif Silase yang Berbeda Yanti, Yuli; Wiweka, Toh Jaya; Soegiarto, Salma Rachmanda; Pawestri, Wari; Riyanto, Joko; Dewanti, Ratih; Cahyadi, Muhammad; Wati, Ari Kusuma
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 5 No. 2 (2022): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.581 KB) | DOI: 10.32530/jlah.v5i2.539

Abstract

Pemberian pakan komplit yang mengandung limbah pertanian kepada ternak akan meningkatkan utilitas bahan pakan terutama limbah pertanian. Pengawetan dengan cara silase bisa menjadi solusi saat pakan sulit ditemukan di musim kemarau. Silase yang ditambahkan additif akan meningkatkan kualitas fermentasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh yang ditimbulkan dari pakan silase pakan komplit dengan aditif fermented juice lactic acid bacteria (FJLB) yang berbeda terhadap imbangan energi dan nitrogen ternak domba lokal. Sebanyak 12 ternak domba lokal jantan dengan bobot badan awal 17,67 ± 1,7 kg (umur 12 bulan) disusun dalam rancangan acak lengkap.  Ransum terdiri dari jerami padi, bungkil kedelai, jagung, dedak padi, pollard dan mineral mix yang disilase menjadi pakan komplit selama 3 minggu. Perlakuan dalam penelitian ini antara lain yaitu T1= Silase tanpa aditif FJLB, T2= Silase dengan aditif FJLB dari Pennisetum purpureum, T3= Silase dengan aditif FJLB dari Pennisetum purpupoides, dengan 4 ulangan tiap perlakuan. Analisis data menggunakan uji ANNOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi dan energi tercerna pada T2 lebih rendah dibandingkan dengan control dan T3. Pemberian FJLB memberikan nilai kecernaan energi, energi termetabolisme, dan energi metana yang sama di semua perlakuan. Penambahan aditif FJLB menurunkan konsumsi protein kasar, namun aspek protein kasar tercerna, kecernaan protein kasar, protein kasar termetabolisme, dan allantoin menunjukkan nilai yang sama dengan kontrol. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan penambahan aditif FJLB pada silase pakan komplit masih memberikan deposisi energi dan protein yang sama.
KAJIAN STANDAR CEMARAN MIKROBA DALAM PANGAN DI INDONESIA Pratiwi Yuniarti Martoyo; Ratih Dewanti Hariyadi; Winiati P Rahayu
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v16i2.173

Abstract

Standar cemaran mikroba pada pangan olahan di Indonesia termuat dalam Peraturan Kepala Badan POM tahun 2009 No. HK.00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia Dalam Makanan dan Standar Nasional Indonesia (SNI) komoditas pangan. Dalam implementasinya, terdapat beberapa permasalahan dan kriteria yang tidak dapat dipenuhi karena terlalu ketat dan metode analisis yang tidak tersedia. Kajian ini bertujuan untuk membandingkan pemenuhan standar cemaran mikroba dalam pangan di Indonesia dan beberapa negara lain di dunia terhadap kaidah kriteria mikrobiologi pangan yang dikembangkan Codex serta mengkaji kriteria cemaran mikroba pada pangan prioritas dan memberikan rekomendasi kriteria cemaran mikroba. Pengkajian dilakukan dengan membandingkan dan menganalisis kriteria mikrobiologi Indonesia dengan 10 standar negara lain yaitu Australia dan Selandia Baru, Eropa, Filipina, Malaysia, Canada, Hong Kong, India, Jepang, Singapura dan Afrika Selatan berdasarkan Codex Principles for The Establishment and Application of Microbiological Criteria for Foods (CAC/GL 21-1997) yang sedang dalam proses revisi pada step 5/8. Studi kasus dilakukan pada beberapa jenis pangan prioritas berdasarkan permasalahan dan kriteria. Hasil kajian menunjukkan bahwa Australia dan Selandia Baru, Eropa, Canada dan Filipina telah mengikuti kriteria Codex, sementara Indonesia, Malaysia, Hong Kong, Jepang, Singapura dan Afrika Selatan tidak. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa standar mikrobiologi air minum dalam kemasan, kopi instan dan pangan steril komersial perlu revisi. Untuk tujuan verifikasi proses produksi dan penerimaan lot, direkomendasikan untuk menetapkan satu batas maksimum ALT. Penetapan kriteria mikrobiologi kopi instan tidak relevan, kecuali OTA. Persyaratan bagi pangan proses steril komersial dapat dilakukan dengan pemenuhan kecukupan proses sterilisasi komersial atau uji inkubasi untuk menetapkan mikroba pembusuk.
KAJIAN PEDOMAN DAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN PADA INDUSTRI PANGAN DI INDONESIA Hesty Nur Fadia; Ratih Dewanti Hariyadi; Siti Nurjanah
JURNAL STANDARDISASI Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v23i2.877

Abstract

Kontaminasi mikroorganisme pada produk pangan kerap disebabkan oleh lingkungan pengolahan yang buruk serta proses pengolahan yang tidak higienis. Program Pemantauan Lingkungan (Environmental Monitoring Program) disingkat EMP, merupakan sebuah program yang dirancang untuk memverifikasi implementasi dan efektivitas program sanitasi serta pencegahan kontaminasi bahaya yang berasal dari lingkungan. Di, Indonesia, pedoman penyusunan EMP terdapat dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.03.1.23.12.11.10720 tahun 2011 tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang baik untuk Formula Bayi dan Formula Lanjutan Berbentuk Bubuk. Sementara itu, pedoman EMP untuk jenis pangan lainnya belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh profil dari pedoman EMP, dengan melakukan kajian terhadap 17 pedoman EMP yang diterbitkan oleh Codex, berbagai negara serta asosiasi pangan internasional.  Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dokumen standar operasional EMP yang ada pada industri pengolahan pangan di Indonesia, dengan cara melakukan survei dengan menggunakan kuisioner. Hasil kajian pedoman EMP menunjukkan terdapat  11  komponen yang selalu ditemukan pada setiap pedoman yaitu  (1) penilaian risiko  (2) tujuan EMP (3) mikroorganisme target (4) lokasi pengambilan sampel (5) jenis sampel (6) titik dan jumlah sampel (7) tata cara pengambilan sampel (8) frekuensi pengambilan sampel (9) metode analisis sampel (10) manajemen dan analisis  data (11) tindakan perbaikan untuk hasil di luar batas. Pada penelitian ini 11 komponen tersebut dikategorikan sebagai komponen wajib penyusun pedoman maupun dokumen standar operasional EMP. Berdasarkan hasil survei terhadap industri pangan di Indonesia (n=37), sebanyak 64,.86% (24/37) responden menyatakan dokumen standar operasional EMP yang dimilikinya memuat 11 komponen wajib, serta sebesar 35,13% (13/37) responden menyatakan tidak memuat 11 komponen wajib tersebut.
OPTIMALISASI KELOMPOK WANITA TANI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA MELALUI USAHA PENGOLAHAN IKAN LELE Sari, Ayu Intan; Purnomo, Sutrisno Hadi; Rahayu, Endang Tri; Emawati, Shanti; Dewanti, Ratih
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 3 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v6i3.14293

Abstract

Peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan sangatlah penting. Tidak dapat dipungkiri peran perempuan dalam menjaga kestabilan perekonomian dan kesejahteraan keluarga sangatlah besar. Eksistensi perempuan dapat ditunjukkan dengan keterlibatannya dalam sebuah kelompok, diantaranya kelompok wanita tani (KWT). Di Kota Surakarta terdapat 65 KWT yang masih eksis dan aktiv, diantaranya adalah KWT Ngudi Makmur yang berlokasi di Kelurahan Joglo, Kecamatan Banjarsari. KWT Ngudi Makmur sudah menjalankan kegiatan di sektor pertanian sejak tahun 2018, dan terus berkembang, pada pertengahan tahun 2023 melakukan budidaya ikan lele sebanyak 2000 ekor. Budidaya ikan lele KWT Ngudi Makmur ini sudah disertifikasi oleh Dinas Perikanan Jawa Tengah untuk Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), namun demikian lele yang dihasilkan ketika dijual harganya belum bisa lebih tinggi dari harga lele di pasaran. Kondisi ini memotivasi KWT untuk mengembangkan usaha olahan ikan lele, diantaranya menjadi nugget dan bakso ikan. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan KWT Ngudi Makmur dalam mengembangkan usaha pengolahan ikan lele. Hasil yang telah dicapai telah terlaksana kegiatan pelatihan pengolahan ikan lele menjadi nugget dan bakso, pendampingan pengembangan usaha dengan pemberian hibah alat, pendampingan produksi dan pemasaran sehingga meningkatkan nilai jual ikan lele serta mengoptimalkan peran KWT dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dalam penyediaan pangan bergizi dan pendapatan. Kata kunci : peran, KWT, olahan ikan lele Abstract Women's participation in development is very important. It cannot be denied the role of women in maintaining economic stability and family welfare. The existence of women can be demonstrated by their involvement in a group, including the women's farmer group (KWT). In the city of Surakarta there are 65 KWTs that still exist and are active, including the Ngudi Makmur which is located in Joglo Village, Banjarsari District. KWT Ngudi Makmur has been carrying out activities in the agricultural sector since 2018, and continues to grow, in 2023 cultivating 2000 catfish. KWT Ngudi Makmur's catfish cultivation has been certified by the Central Java Fisheries Service for Good Fish Cultivation Methods (CBIB), however the price of catfish produced when sold cannot be higher than the price of catfish on the market. This condition motivated KWT to develop a catfish processing business, including fish nuggets and meatballs. This community empowerment was carried out with the aim of increasing the knowledge and skills of KWT Ngudi Makmur in developing a catfish processing business. The results that have been achieved include training activities on processing catfish into nuggets and meatballs, business development assistance by providing equipment grants, production and marketing assistance. thereby increasing the selling value of catfish and optimizing the role of KWT in improving family welfare in providing nutritious food and income. Keywords : role, KWT, catfish processing business
Structural Modeling of Knowledge, Attitude, and Prevention Practices of COVID-19 Among Online Food Delivery Services in Greater Jakarta Area, Indonesia Mutaqin, Muhammad Zakki; Dewanti-Hariyadi, Ratih; Nurtama, Budi
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 35 No. 2 (2024): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia bekerjasama dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6066/jtip.2024.35.2.256

Abstract

This study aims to develop a structural model to assess knowledge, attitudes, and COVID-19 preventive practices among food handlers (FH) and food delivery workers (FDW) in Greater Jakarta, Indonesia. Given the region's high population density, the risk of COVID-19 transmission is heightened, making preventive practices essential. Data were collected from 675 respondents using a questionnaire consisting of 36 items. The data were analyzed using partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM). Results revealed that both knowledge (β= 0.959 for FH; β= 0.756 for FDW; p<0.05) and attitude (β= 0.546 for FH; β= 0.410 for FDW; p<0.05) positively impacted COVID-19 preventive practices. Attitude emerged as a crucial predictor, explaining a higher variance in FH prevention practices (R²= 0.346) than in FDW (R²= 0.174). The findings underscore the importance of strengthening attitudes toward preventive measures like hand washing, mask-wearing, and physical distancing, particularly among FDWs, to enhance safe food delivery practices. The structural model and insights provide a valuable framework for developing targeted interventions and strengthening public health preparedness for future pandemics or similar crises.
OPTIMALISASI KELOMPOK WANITA TANI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA MELALUI USAHA PENGOLAHAN IKAN LELE Sari, Ayu Intan; Purnomo, Sutrisno Hadi; Rahayu, Endang Tri; Emawati, Shanti; Dewanti, Ratih
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 3 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan sangatlah penting. Tidak dapat dipungkiri peran perempuan dalam menjaga kestabilan perekonomian dan kesejahteraan keluarga sangatlah besar. Eksistensi perempuan dapat ditunjukkan dengan keterlibatannya dalam sebuah kelompok, diantaranya kelompok wanita tani (KWT). Di Kota Surakarta terdapat 65 KWT yang masih eksis dan aktiv, diantaranya adalah KWT Ngudi Makmur yang berlokasi di Kelurahan Joglo, Kecamatan Banjarsari. KWT Ngudi Makmur sudah menjalankan kegiatan di sektor pertanian sejak tahun 2018, dan terus berkembang, pada pertengahan tahun 2023 melakukan budidaya ikan lele sebanyak 2000 ekor. Budidaya ikan lele KWT Ngudi Makmur ini sudah disertifikasi oleh Dinas Perikanan Jawa Tengah untuk Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), namun demikian lele yang dihasilkan ketika dijual harganya belum bisa lebih tinggi dari harga lele di pasaran. Kondisi ini memotivasi KWT untuk mengembangkan usaha olahan ikan lele, diantaranya menjadi nugget dan bakso ikan. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan KWT Ngudi Makmur dalam mengembangkan usaha pengolahan ikan lele. Hasil yang telah dicapai telah terlaksana kegiatan pelatihan pengolahan ikan lele menjadi nugget dan bakso, pendampingan pengembangan usaha dengan pemberian hibah alat, pendampingan produksi dan pemasaran sehingga meningkatkan nilai jual ikan lele serta mengoptimalkan peran KWT dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dalam penyediaan pangan bergizi dan pendapatan. Kata kunci : peran, KWT, olahan ikan lele Abstract Women's participation in development is very important. It cannot be denied the role of women in maintaining economic stability and family welfare. The existence of women can be demonstrated by their involvement in a group, including the women's farmer group (KWT). In the city of Surakarta there are 65 KWTs that still exist and are active, including the Ngudi Makmur which is located in Joglo Village, Banjarsari District. KWT Ngudi Makmur has been carrying out activities in the agricultural sector since 2018, and continues to grow, in 2023 cultivating 2000 catfish. KWT Ngudi Makmur's catfish cultivation has been certified by the Central Java Fisheries Service for Good Fish Cultivation Methods (CBIB), however the price of catfish produced when sold cannot be higher than the price of catfish on the market. This condition motivated KWT to develop a catfish processing business, including fish nuggets and meatballs. This community empowerment was carried out with the aim of increasing the knowledge and skills of KWT Ngudi Makmur in developing a catfish processing business. The results that have been achieved include training activities on processing catfish into nuggets and meatballs, business development assistance by providing equipment grants, production and marketing assistance. thereby increasing the selling value of catfish and optimizing the role of KWT in improving family welfare in providing nutritious food and income. Keywords : role, KWT, catfish processing business
Strategi Penerapan Budaya Keamanan Pangan pada Rantai Pasok Distribusi di PT XYZ Wilis, Nabila Sekar; Dewanti-Hariyadi, Ratih; Sartika, Ratu Ayu Dewi
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 36 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia bekerjasama dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6066/jtip.2025.36.1.107

Abstract

Food safety culture (FSC) can be defined as how a group or organization of individuals achieve food safety in their thoughts and behaviors. Extending FSC implementation to downstream industries can assure quality and safety in the food supply chain. However, food distributors often lack a thorough understanding of good warehouse practices (GWP) and good distribution practices (GDP), even though both are essential to ensure the quality and safety of food. The inspection report by Indonesian Food and Drug Authority (Badan Pengawas Obat dan Makanan – BPOM) from 2017−2021, more than 30% of distribution facilities did not conform to the standard. This study evaluated employees' perception of FSC, analyze the Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats of FSC implementation, and develop strategies for implementation in a food distribution company (PT XYZ). The research employed quantitative and qualitative methods. The quantitative study involved a questionnaire completed by 350 respondents, revealing that 82.13% of the employees perceived a positive perception of FSC. Meanwhile, the qualitative study included a focus group discussion with 21 informants, that identified key weaknesses and threats to FCS implementation. The Internal Factor Evaluation−External Factor Evaluation (IFE−EFE) analysis identified seven strengths, 11 weaknesses, seven opportunities, eight threats, and nine alternative strategies for the implementation of food safety culture at PT XYZ. The strategy with the highest total attractive score (TAS) of 6.91, based on quantitative strategic planning matrix (QSPM), was the periodic implementation of “Gemba program” to monitor food safety practices.
ANALISIS HUBUNGAN PENUTUP/PENGGUNAAN LAHAN DENGAN TOTAL SUSPENDED MATTER (TSM) KAWASAN PERAIRAN SEGARA ANAKAN MENGGUNAKAN DATA INDERAJA Parwati, Ety; Trisakti, Bambang; Carolita, Ita; Kartika, Tatik; Harini, Sri; Dewanti, Ratih
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 3 No. 1 (2006)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/inderaja.v3i1.3183

Abstract

Segara Anakan and its surrounding which is located in Cilacap Regency Central of Java, is the study area for this research. This region, like other estuaries, has a unique ecosystem which is protected and surrounded by the mangrove forest that can cause very dynamic development. In the upland, there are three big rivers flow; Citanduy, Cibeureum, and Cimeng. The main issue in this region is that the lagoon to become narrowing because of rapid sedimentation process. Landsat MSS, TM, and ETM of the years 1978, 1995, 1998, and 2003 are remote sensing data used in this research. An analysis in term of correlation between landuse/landcover changes and sedimentation was carried out by looking at their changes in the upper land especially along the rivers that have big contribution to the sedimentation in the lagoon. The result shows that there is high relation between landuse/landcover changes in the upper land and sedimentation around the lagoon.
Karakteristik kimia dan aktivitas antioksidan teripang (Holothuria sp.) segar dan olahan secara tradisional di Papua Barat : Chemical characteristics and antioxidant activity of fresh and traditionally processed sea cucumber (Holothuria sp.) in West Papua Dewanti-Hariyadi, Ratih; Hasanah, Uswatun; Nurilmala, Mala; Hanifaturahmah, Fadiyah
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 4 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(4)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i4.51323

Abstract

Teripang (Holothuria sp.) hidup di perairan Indonesia dan tersebar luas di daerah Perairan Papua. Teripang diperdagangkan dan diekspor dalam bentuk kering untuk dikonsumsi karena dipercaya mengandung senyawa bioaktif yang memberikan dampak positif bagi kesehatan. Proses pengolahan dapat memengaruhi karakteristik kimia dan potensi bioaktivitas pada suatu bahan pangan. Informasi mengenai pengaruh pengolahan teripang dari perairan Papua Barat terhadap karakteristik kimia dan aktivitas antioksidannya belum dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kimia dan aktivitas antioksidan teripang segar dan olahannya secara tradisional. Sampel teripang segar disiapkan dengan membuang isi perutnya. Teripang rebus diolah dengan merebus teripang segar di dalam air laut selama 15 menit. Teripang asap yang diperoleh dari nelayan merupakan teripang segar yang telah direbus dalam air laut selama 1,5-2 jam, diasap selama 8 jam, dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama 8 jam. Hasil identifikasi spesies menunjukkan bahwa teripang segar dan rebus yang diperoleh dari perairan Papua Barat adalah Holothuria atra, sementara teripang asap (Holothuria sp.) sulit diidentifikasi secara spesifik. Teripang mengandung kadar air 10-84%, protein 47-55%, lemak 3-4%, dan abu 27-35%. Kadar air, protein, dan lemak teripang mengalami penurunan setelah diberi perlakuan perebusan dan pengasapan; sedangkan kadar abu mengalami peningkatan. Hasil analisis antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa teripang segar memiliki nilai IC50 189,3 mg/L, teripang rebus 58,36 mg/L, dan teripang asap 49,28 mg/L. Proses pengolahan teripang di Papua Barat mampu meningkatkan aktivitas antioksidan.
Co-Authors - Suliantari Abd. Rahman As-syakur Achmad Poernomo Achmad Poernomo Achmad Poernomo Amiroh Amiroh Amiroh Amiroh, Amiroh Arimah Arimah Ayu Intan Sari Aziz, Kholifatul Azura Ulfa, Azura Bambang Trisakti Budi Nurtama C. C. Nurwitri Cahyadi, Muhammad Cynthia Cynthia Cynthia CynthiaCynthia David Yudianto Dedi Fardiaz Ekawati Purwijantiningsih Ekawati Purwijantiningsih, Ekawati Eko Hari Purnomo Endang Tri Rahayu, Endang Tri Ermi Sukasih Estuningsih - Estuningsih - Ety Parwati Fenny Larasati Firman Fajar Perdhana Gathot Winarso, Gathot Gino Nemesio Cepeda Hanifaturahmah, Fadiyah Harsi D. Kusumaningrum Hesty Nur Fadia Istiana (alm.) Istiana Istiana, Istiana (alm.) Ita Carolita, Ita Joko Riyanto Karina Nola Sinamo Komala, Kemal Lendrawati Lendrawati Lilis Nuraida Maggy T. Suhartono Maggy Thenawidjaja Suhartono Mala Nurilmala Muhammad Nur Mutaqin, Muhammad Zakki Nandika, Muhammad Rizki Nanin Anggraini, Nanin nFN Setyadjit Ni Gusti Ayu Made Widyatari Asthiti Ni Made Vina Citanirmala Nugroho Indrotristanto Nur Richana Nur Wulandari Nur Wulandari Nuri Andarwulan Nurwitri, C. C. Oryssa Sathalica Pradianti Pawestri, Wari Prasetio, Wiji Pratiwi Yuniarti Martoyo Pratiwi Yuniarti Martoyo Purwiyatno Hariyadi Rahadina Praba Melati Rahmawati Rahmawati Raini Panjaitan Ramadhani Meutia, Yuliasri Ratu Ayu Dewi Sartika Rika Puspitasari MZ Rinto . Sari, Ratna Nurmalita SEDARNAWATI YASNI Shanti Emawati Siti Nurjanah Siti Nurjanah Soegiarto, Salma Rachmanda Sri Estuningsih Sri Harini Suardana, A. A. Md. Ananda Putra Suci Apsari Pebrianti Sudiyono Sudiyono Sukarno Sukarno Supar, Supar Sutrisno Hadi Purnomo Tatik Kartika, Tatik Tri Isti Rahayu Ulfah Amalia Uswatun Hasanah Vanessa Len Cahya Agustine Wati, Ari Kusuma Wijaya, Agung Dwi Wilis, Nabila Sekar Winiati P Rahayu Winiati P Rahayu Winiati P. Rahayu Winiati Pudji Rahayu Wiweka, Toh Jaya Yati Maryati Yati Maryati Yesica M. R. Sinaga Yesica Marcelina Romauli Sinaga Yuli Yanti Yuliasri Ramadhani Meutia Yusma Yennie Yusma Yennie