p-Index From 2021 - 2026
6.662
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

THE PHONOLOGICAL AND LEXICAL CHANGES FROM LEMUKIH DIALECT TO GALUNGAN DIALECT ., I Made Dedi Kurniawan; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11183

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan fonologi dan leksikal dari dialek Lemukih ke dialect Galungan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Terdapat tiga informan yang dipilih di Desa Lemukih dan Desa Galungan. Satu informan ditentukan sebagai informan utama dan dua informant lainnya ditentukan sebagai informan tambahan. Data yang dikumpulkan berdasarkan empat teknik diantaranya: Peneliti, observasi, rekaman, dan daftar kata (wordlist). Terdapat 462 kata di Budasi wordlist dan 208 kata Swadesh wordlist yang di peroleh sebagai data penelitian. Hasil dari data analisis menunjukkan bahwa terdapat sembilan kata yang dikategorikan sebagai penghilangan phoneme di awal kata (aphaeresis), 11 kata yang dikategorikan sebagai penghilangan phoneme di tengah kata ( syncope), enam kata yang dikategorikan sebagai penghilangan phoneme di akhir kata (apocope) dan enam kata dikategorikan sebagai penghilangan dua silabel dalam kata (haplology). Perubahan leksikal yang terjadi dari dialek Lemukih ke dialect Galungan diantaranya : 15 kata dikategorikan sebagai peminjaman kata dari bahasa Indonesia (borrowing words), delapan kata termasuk dalam kategori penghilangan kata and kompresi kata yang terdiri dari empat kata dikategorikan sebagai blend dan empat kata termasuk abbreviation. Kata Kunci : Dialek, Perubahan Fonologi, Perubahan Leksikal. This study aimed at describing the phonological and lexical changes from Lemukih to Galungan dialect. This research was a descriptive qualitative research. There were three informants selected in each dialect. In this case, one important sample was determined as the main informant and the other two were determined as the secondary informant. The obtained data were collected based on four techniques, namely: the researcher, observation, recording, and wordlist. There were 462 words in Budasi and 208 words in Swadesh wordlists that were obtained as the data of the study. The result of the data analysis showed that there were nine words were categorized as deletion of the phoneme in the beginning of the word (aphaeresis), 11 words were categorized as deletion of the phoneme in the middle of word (syncope), six words were categorized as deletion of the phoneme in the final of the word (apocope) and six words were categorized as haplology. The lexical changes occur from Lemukih and Galungan dialect categorized as follows: 15 words belonging to loan or borrowing words, eight words belong to loss words, and compression which included four words belonging to word mixes and four words belonging to initials. keyword : Dialect, Phonological changes, Lexical changes
CULTURAL TRANSITION OF AUSTRALIAN EXPATRIATE TEACHERS IN YOUTH CENTER UBUD ., I Wayan Bagastana; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11254

Abstract

Abtrak Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi syok budaya yang dialami oleh guru Australia, faktor yang menyebabkan terjadinya syok budaya dan bagaimana cara mereka untuk beradaptasi dalam budaya baru di Youth Center Ubud Bali. Peneliti ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah tiga orang guru Australia yang tinggal di Youth Center Ubud Bali. Data dari penelitian ini diambil dengan menggunakan wawancara yang terstruktur dari tiga orang guru Australia di Youth Center Ubud Bali. Data kualitatif ditranskripsi dan dianalisis secara deskripsi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada tiga puluh enam syok budaya yang dialami oleh guru Australia di Youth Center Ubud Bali. Ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya syok budaya yaitu perbedaan budaya, Bahasa dan pengalaman social. Lebih lanjut, ada tiga cara yang dilakukan oleh guru Australia di dalam proses beradaptasi di lingkukan budaya baru seperti; melakukan komunikasi, berteman, dan menghargai budaya lokal. Data dari observasi dan wawancara menunjukkan bahwa guru Australia mengalami permasalahan di dalam menyesuaikan diri dengan budaya baru di Ubud Bali. Kata Kunci : Kata kunci: peralihan budaya, syok budaya, guru asing Abstract This study aimed at investigating the culture shock phenomena experienced by Australian expatriate teachers, the factors which cause the culture shock, and how they adapt to new culture in Youth Center Ubud Bali. This present study was a case study with qualitative research design. The subjects of this study were three Australian expatriate teachers who work as teacher Youth Center Ubud Bali. The data of the study were collected by using structure interview from three Australian expatriate teachers who teaches in Youth Center Ubud Bali. The qualitative data were transcribed and analyzed descriptively. The result of the study show that there were thirty-six culture shock phenomena of Australian expatriate teachers in Youth Center Ubud Bali. There were three factors which cause culture shock, such as cultural differences, languages difficulties, and social differences. Moreover, there were three ways of Australian expatriate teachers use in the process of adapting new culture such as doing communication, making friends, and respect the local culture. The data from observation and interview show that the Australian expatriate teachers experienced problems in adapting new culture in Ubud Bali. keyword : Key words: cultural transition, culture shock, expatriate teachers
AN ANALYSIS OF POLITENESS STRATEGIES THAT USED BY STUDENT TEACHERS IN EFL TEACHING AND LEARNING PROCESS AT SMP NEGERI 2 SAWAN ., Anak Agung Istri Sri Wirapatni; ., Prof. Dr.I Ketut Seken, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12050

Abstract

Penelitian ini menyoroti realisasi dari strategi kesantunan yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson (1987). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi tipe strategi kesantunan yang digunakan oleh mahasiswa praktikan, (2) menemukan alasan dibalik penggunaan strategi kesantunan oleh mahasiswa praktikan, dan (3) mendeskripsikan fungsi pedagogi dari strategi kesantunan dalam kegiatan proses belajar dan mengajar. Penelitian ini menggunakan model kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan realisasi dari strategi kesantunan di kelas mengajar. Subjek dari penelitian ini adalah tiga mahasiswa praktikan yang mengajar bahasa Inggris untuk kelas tujuh di SMP Negeri 2 Sawan. Peneliti merupakan instrument utama dalam penelitian ini yang mengumpulkan data melalui perekaman proses belajar dan mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang diadakan oleh mahasiswa praktikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat strategi kesantunan yang digunakan oleh mahasiswa praktikan. Strategi kesantunan tersebut meliputi bald on record, positive politeness, negative politeness, dan off record. Alasan dari pengaplikasian strategi kesantunan ialah untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan terlepas dari tekanan, dan memfasilitasi peran autoritatif seorang guru yang membuat siswa lebih taat terhadap intruksi yang diberikan. Fungsi pedagogi dari strategi kesantunan diklasifikasikan ke dalam empat pengendalian kelas yang dikemukakan oleh Jiang (2010) yaitu academic instructions, motivation, evaluation, dan classroom management. Mahasiswa praktikan cenderung menggunakan bald on record dan positive politeness dalam memberikan instruksi akademik, positive politeness dan negative politeness untuk memotivasi siswa, positive politeness saat melakukan evaluasi, dan bald on record dalam pengelolaan kelas.Kata Kunci : Mahasiswa praktikan, proses belajar dan mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, strategi kesantunan This study highlighted the realization of politeness strategies which was proposed by Brown and Levinson (1987). This study aimed to (1) identify the type of politeness strategies used by student teachers, (2) find out the reasons behind the use of politeness strategies by student teachers, and (3) describe pedagogical functions did the politeness strategies used to serve in the teaching and learning activity. This study used descriptive qualitative research design to describe the realization of politeness strategies in classroom teaching. The subjects of this study were three student teachers who taught English for seven graders at SMP Negeri 2 Sawan. The researcher was the main instrument in this study that collected the data by recording the EFL teaching and learning process that were conducted by student teachers. The result of this study showed that there were four politeness strategies that were used by student teachers. Those were bald on record, positive politeness, negative politeness, and off record. The reasons of applying politeness strategies were to create a fun learning environment which was less of pressure, and facilitating the authoritative role of a teacher which made students more obedient to the instructions. The pedagogical function of politeness strategies were classified into four different classroom controls which was proposed by Jiang (2010) those were academic instructions, motivation, evaluation, and classroom management. The student teachers tended to use bald on record and positive politeness in academic instruction, positive politeness and negative politeness in motivating the students, positive politeness in doing evaluation, and bald on record for classroom management.keyword : EFL teaching and learning process, politeness strategies, student teachers
CULTURE SHOCK EXPERIENCED BY DUTCH TOURISTS IN KALIBUKBUK VILLAGE ., Gede Ari Suyasna Putra; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12053

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti fenonema gegar budaya yang dialami oleh turis Belanda dan bagaimana cara mereka mengatasi gegar budaya mereka di Desa Kalibukbuk. Peneliti membatasi pada penelitian gegar budaya yang berhubungan dengan komunikasi lisan dan komunikasi tidak lisan. Penelitian sekarang ini adalah sebuah studi kasus dengan desain penelitian kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah tiga turis Belanda yang tinggal di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan wawancara yang terstruktur dan tidak struktur dari tiga turis Belanda di Desa Kalibukbuk. Instrumen utama dari penelitian ini adalah peneliti sendiri, pedoman wawancara, perekam suara dan catatan. Teori dari Pederson yang digunakan didalam menganalisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada sepuluh fenomena gegar budaya didalam komunikasi lisan dan sepuluh didalam komunikasi tidak lisan. Dari semua gegar budaya, sebagian besar turis Belanda mengalami gegar budaya tentang transportasi. Selain itu, ada empat cara dari turis Belanda untuk mengatasi gegar budaya seperti meminta orang lokal untuk menjelaskan, mencoba untuk melakukan hal yang sama, berpikir solusi dengan cara mereka dan menghormati perbedaan budaya. Data dari observasi dan wawancara menyatakan masalah dari turis Belanda didalam meniru budaya baru di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Kata Kunci : gegar budaya, komunikasi tidak lisan, komunikasi lisan This study aimed at investigating the culture shock phenomena experienced by Dutch tourists and how the way they overcome their culture shock in Kalibukbuk village. The researcher limited on investigating the culture shock that related with verbal communication and non-verbal communication. This present study was a case study with qualitative research design. The subjects of this research were three Dutch tourists who stay in Kalibukbuk village, Buleleng regency, Bali. The researcher collected the data based on semi structure interview and semi unstructured interview from three Dutch tourists in Kalibukbuk village. The main instrument of this study was the researcher itself, interview guide, voice recorder and note. Pederson’s theory that used in analyzes the data. The result of this research shows that there were ten culture shock phenomena in verbal communication and ten in non-verbal communication. From all the culture shock, the most Dutch tourists experienced culture shock about transportation. Moreover, there were four ways of Dutch tourists to overcome the culture shock such as asked the local people to explain, tried to do the same thing, thought the solution their own and respect the difference culture. The data from observation and interview reveals the Dutch tourists’ problems in copying the new culture in Kalibukbuk village, Buleleng regency, Bali. keyword : culture shock, non-verbal communication, verbal communication
THE USE OF PIDGIN ENGLISH UTTERED BY TOURISM POLICE AT LOVINA TOURISM AREA ., Luh Winda Cipta Pratiwi; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk, makna, dan fungsi bahasa dari bahasa Inggris pidgin yang diucapkan oleh polisi pariwisata ketika berkomunikasi dengan turis berbahasa Inggris Penelitian ini dilaksanakan di kawasan wisata Lovina dan tiga polisi pariwisata dipilih sebagai subyek penelitian ini berdasarakan beberapa kriteria. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif dan rancangan yang digunakan adalah studi kasus. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa ada beberapa penyimpangan terhadap bentuk-bentuk bahasa Inggris pidgin yang diucapkan oleh polisi pariwisata dalam hal tata bahasa, pengucapan, sintaksis, dan kosakata. Di samping itu, hasil lain dari analisis data menunjukkan bahwa makna dari bahasa Inggris pidgin yang diucapkan oleh polisi pariwisata di kawasan wisata Lovina ambigu karena kesalahan penggunaan kosa kata oleh polisi pariwisata. Sementara itu, ada beberapa fungsi bahasa yang digunakan oleh polisi pariwisata ketika berinteraksi dengan turis berbahasa Inggris seperti memberikan salam, menanyakan informasi, menanyakan pendapat, menyatakan pujian, memberikan informasi, arah, pendapat, menawarkan bantuan, memberikan pujian, salam perpisahan, dan mengucapkan terimakasih.Kata Kunci : Bahasa Inggris Pidgin, Bentuk, Fungsi Bahasa, Makna, Polisi Pariwisata This study aimed at analyzing the forms, meanings, and language functions of pidgin English uttered by tourism police when communicating to English-speaking tourists. This study was conducted at Lovina tourism area and three tourism police were chosen as the subjects of this study based on a set of criteria. This study employed descriptive qualitative approach and the design used was case study method. The results of the data analysis showed that there were several deviations in the forms of pidgin English uttered by the tourism police in terms of grammar, pronunciation, syntax, and vocabulary. On the other hand, another result of the data analysis indicated that the meaning of pidgin English uttered by the tourism police at Lovina tourism area was ambiguous because of the use of incorrect vocabulary by the tourism police. Meanwhile, there were several language functions used by the tourism police when interacting with the English-speaking tourists namely greeting, asking information, asking opinion, giving information, giving direction, giving opinion, offering a favor, praising, leave-taking, and thanking.keyword : Form, Language Function, Meaning, Pidgin English, Tourism police
THE CULTURAL EXPERIENCES OF THE ENGLISH TEACHER VOLUNTEERS IN BUMI SEHAT’S YOUTH CENTER UBUD ., Gusti Ngurah Nyoman Ariana; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengalaman budaya yang dialami oleh sukarelawan guru bahasa Inggris dan gejala syok budaya yang dihadapi oleh sukarelawan guru bahasa Inggris di Bumi Sehat’s Youth Center. Peneliti menggunakan metode fenomenologis dan pendekatan kualitatif untuk mengetahui jawaban permasalahan dari penelitian ini. Data diambil dari tiga sukarelawan guru bahasa Inggris melalui wawancara dan kuesioner. Analisis tersebut menunjukkan bahwa ada sepuluh pengalaman budaya yang dialami oleh sukarelawan guru bahasa Inggris di Bumi Sehat’s Youth Center. Relawan guru bahasa Inggris mengalami pengalaman budaya yang mengacu pada kejutan budaya (fisik, kognitif atau perilaku) saat mereka masuk dalam budaya atau lingkungan baru yang dimana lingkungan mereka berbeda dengan kota asal mereka. Kesepuluh pengalaman budaya yang dialami oleh sukarelawan guru bahasa Inggris adalah makanan yang berbeda, dua masalah orang Bali, lingkungan, transportasi, perbedaan budaya, masalah tidur, depresi, laju kehidupan, dan iklim. Di sisi lain, relawan guru bahasa Inggris mengalami gejala syok budaya dalam dua minggu pertama. Semua relawan guru bahasa Inggris merasa rindu rumah dan salah satu dari mereka jatuh sakit.Kata Kunci : pengalaman berbudaya, syok budaya The study aimed at investigating the cultural experiences that experienced by English teacher volunteers and the symptoms of culture shock faced by English teacher volunteers in Bumi Sehat’s Youth Center. The researcher used phenomenological method and qualitative approach in finding out the answer of the problems of the study. The data were taken from three English teacher volunteers through interview and questionnaire. The analysis reveals that there are ten cultural experiences that the English teacher volunteers experienced in Bumi Sehat’s Youth Center. The English teacher volunteers experienced the cultural experiences that refers to culture shock (physical, cognitive or behavior) when they were entering in a new culture or environment where was different with their home town. Those ten cultural experiences that experienced by English teacher volunteers are different food, two Balinese people problems, environment, transportation, cultural differences, sleep problem, depression, pace of life, and climate. On the other hand, English teacher volunteers were faced symptom of culture shock in first two week. All of the English teacher volunteers were felt homesick and one of them get sick.keyword : cultural experience, culture shock
The Phonological System of Balinese Language of Tajun Dialect: A Descriptive Qualitative Study ., Kadek Vera Mia Asitari; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12231

Abstract

Penelitian ini dirancang dalam bentuk kualitatif deskriptif yang mendeskripsikan Sistem Fonologi yang dimiliki oleh masyarakat Bali di Tajun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jumlah fonem yang ada di Dialek Tajun dan distribusinya. Penelitian ini difokuskan hanya pada fonem segmental pada Tajun Dialek. Tiga informan dari Tajun Dialek dipilih berdasarkan standar persyaratan dan kriteria yang telah ditentukan. Data dikumpulkan menggunakan tiga daftar kata yaitu: daftar kata Swadesh, Nothofer, dan Holle. Data yang diperoleh dianalisis dan ditampilkan secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tajun Dialek memiliki 56 fonem Dan tidaksemua fonem memiliki distribusi yang lengkap (posisi awal, tengah, dan akhir). Fonem yang ditemukan dapat diklasifikasikan menjadi: enam vokal; /ʌ/, /i/, /u/, /ɛ/, /ɔ/, dan /ə/, Sembilanbelas konsonan; /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /ʔ/, /k/, / l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y /, /ŋ/, dan /ñ/,tujuhbelas konsonan kluster; /kl/, /bl/, /ml/, /tl/, /cl/, /ñl/, /pl/, /gl/, /ŋl/, /kr/, /pr/, /ŋr/, /tr/, /jr/, /mr/, /gr/, dan /br/, Sembilan diftong; /ʌʊ/, /ʌɛ/, /ɪʌ/, /ʌɪ/, /ɪʊ/, /ʊʌ/, /ʌɒ/, /ɒʌ, dan /ɛʌ/, / dan, 5 geminates; /ʌʌ/, /ɪɪ/, /ʊʊ/, /ɒɒ/, and /əə/.Kata Kunci : fonem, kualitatif deskriptif, logat Tajun, system fonologi This study was designed in form of descriptive qualitative that describes Tajun Balinese phonological system. This study aimed at describing the number of phonemes in Tajun Dialect and theirs distribution. This study focused only on the segmental phonemes of the dialect. Three informants of Tajun Dialect were chosen based on the standard requirement and criteria. The obtained data were collected based on three word lists, namely: Swadesh’, Nothofer’s, and Holle’s and the obtained data were analyzed and displayed descriptively. As the result of this study, it shows that Tajun Dialect has 56 phonemes. Not all of those phonemes have complete distribution (initial, middle, final position). The phonemes could be classified into: six vowels; /ʌ/, /ɪ/, /u/, /ɛ/, /ɔ/, and /ə/, nineteen consonants; /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ŋ/, and /ñ/, seventeen consonant clusters; /kl/, /bl/, /ml/, /tl/, /cl/, /ñl/, /pl/, /gl/, /ŋl/, /kr/, /pr/, /ŋr/, /tr/, /jr/, /mr/, /gr/, and /br/, nine diphthongs; /ʌʊ/, /ʌɛ/, /ɪʌ/, /ʌɪ/, /ɪʊ/, /ʊʌ/, /ʌɒ/, /ɒʌ, and /ɛʌ/, and five geminates; /ʌʌ/, /ɪɪ/, /ʊʊ/, /ɒɒ/, and /əə/. keyword : descriptive qualitative, phoneme, phonological system, Tajun dialect
Politeness Strategies Used by the Second-Grade Students at SDN 1 Pemaron ., Pande Ayu Cintya Ningrum; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe-tipe maksim kesopanan yang digunakan dan mendeskripsikan penggunaan maksim kesopanan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam tipe maksim kesopanan yang di gunkan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Selanjutnya, tipe maksim kesopanan yang paling sering di gunakan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron adalah maksim pemufakatan/kecocokan dimana muncul sebanyak 53 kali (35%). Tipe yang kedua adalah maksim kesederhanaan yang muncul sebanyak 40 kali (27%). Tipe maksim yang ketiga adalah maksim kesimpatian yang muncul sebanyak 19 kali (13%). Tipe maksim yang keempat adalah maksim kedermawanan yang muncul sebanyak 18 kali (12%). Tipe maksim yang kelima adalah maksim kebijaksanaan yang muncul sebanyak 12 kali (8%). Tipe maksim yang terakhir adalah maksim penghargaan yang muncul sebanyak 8 kali (5%). Maksim tersebut digunakan untuk memaksimalkan persetujuan dengan lawan bicaranya terlebih dahulu sebelum mengungkapkan perasaan atau opini mereka, menunjukkan rasa rendah hati ketika mereka berbuat kesalahan atau tidak bisa melakukan sesuatu yang di minta, menunjukkan rasa peduli dan simpati, menunjukkan keramahan mereka, untuk membuat teman mereka diam ketika mereka membuat kesalahan atau masalah, dan untuk memuji temannya sebelum mereka meminta bantuan. Kata Kunci : Maksim Kesopanan, Siswa-siswi kelas dua, Strategi Kesopanan. This study aimed at identifying types of politeness maxim use and describe the use of politeness maxim by the second-grade students in SDN 1 Pemaron. This study is descriptive qualitative research. The results of this study reveals that there are six types of politeness maxim used by second-grade students in SDN 1 Pemaron. Then the most frequently used type of politeness maxim by second-grade students in SDN 1 Pemaron was agreement maxim which occurred 53 times (35%). The second type was modesty maxim which occurred 40 times (27%). The third type was sympathy maxim which occurred 19 times (13%). The fourth type was generosity maxim which occurred 18 times (12%). The fifth type was tact maxim which occurred 12 times (8%). The last type was approbation maxim which occurred 8 times (5%). Those maxims use for maximize the agreement between the interlocutor first before revealed their feeling or opinion, dispraise themselves when they make a mistake or cannot do something that have been told, show their care and sympathy, show their friendliness, to make their friends keep silent when they made a mistake or problem and to praise their friends before asked for a help.keyword : Politeness Maxims, Politeness Strategies, Second-grade Students.
A Study of Morphological Processes of Balinese Dialect Spoken by Klumpu Villagers ., M. Mas Gustrini Dewi; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses morfologi pada dialek bahasa Bali yang digunakan oleh masyarakat desa Klumpu (BDK) di Nusa Penida, kabupaten Klungkung, provinsi Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek di penelitian ini adalah pembicara asli dari dialek bahasa Bali di desa Klumpu. Subjek tersebut dibagi menjadi tiga area, yaitu lingkungan keluarga, tetangga, dan pertemanan. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi, wawancara, rekaman, dan elisitasi untuk mencapai kejenuhan data. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menerapkan prosedur analisis data dari Miles dan Huberman (1994). Yang menjadi objek pada penelitian ini adalah proses morofologi itu sendiri yang mana terdiri dari infleksi, derivasi, afiksasi, pengulangan, kliping, blending, komponding, dan back formation. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat empat jenis prefiks infleksi: {me-}, {nge-}, {ng-}, {ny-} dan empat jenis sufiks infleksi: {-e}, {-an}, {-in}. Terdapat dua jenis prefiks derivasi: {me-} dan {ny-} dan dua jenis sufiks derivasi: {-te} dan {-an}. Terdapat lima jenis prefiks afiksasi {a-}, {me-}, {pe-}, {ng-}, {ny-}, satu jenis infiks afiksasi {-h-}, dan empat jenis sufiks afiksasi {-an}, {-ang}, {-ne}, dan {-e}. Ditemukan dua jenis reduplikasi yaitu reduplikasi dengan dan tanpa afiks. Terdapat empat jenis kata yang mengalami proses kliping. Ditemukan tiga kelas kata yang mengalami proses blending. Ditemukan pula bahwa terdapat satu kelas kata yang mengalami proses komponding yaitu kelas kata benda. Tidak ditemukannya kata-kata yang mengalami proses back formation dalam BDK. Kata kunci: dialek Klumpu, proses morfologi, infleksi, derivasi, afiksasi, reduplikasi, kliping, blending, kompon, back formasi Kata Kunci : afiksasi, back formasi, blending, derivasi, dialek Klumpu, infleksi, kliping, komponding, proses morfologi, reduplikasi. This study aimed at describing morphological processes of Balinese dialect of Klumpu villagers (BDK) in Nusa Penida, Klungkung regency, Bali province. This research was a qualitative descriptive study. Subjects of this study was the native speakers of the BDK. The subjects were divided into three areas namely family, neighbor, and friendship area. The data were collected by conducting observation, interview, recording, and eliciting technique for saturation. The obtained data were analyzed by using the procedure of data analysis suggested by Miles and Huberman, (1994). The object of this study was morphological processes of BDK that consisted of inflection, derivation, affixation, repetition, clipping, blending, compounding and back formation. The results of this research show that there were four kinds of inflectional prefixes: {me-}, {nge-}, {ng-}, {ny-} and four kinds of inflectional suffixes: {-e}, {-an}, and {-in} in BDK. There were two kinds of derivational prefixes: {me-} and {ny-} and two kinds of derivational suffixes: {-te} and {-an}. There were five kinds of prefixes of affixation: {a-}, {me-}, {pe-}, {ng-}, and {ny-}. One kind of infix of affixation: {-h-} and there were four kinds of suffixes of affixation: {-an}, {-ang}, {-ne}, and {-e}. There were two kinds of reduplication namely reduplication with and without any affixes. There were four kinds of word classes that underwent clipping process. There were three word classes that underwent blending process. There was one word class that underwent compounding process namely nouns. There was no any back formation word found in BDK. keyword : affixation, back formation, blending, clipping, compounding, derivation, inflection, Klumpu dialect, morphological processes, reduplication
A STUDY OF MORPHOLOGICAL PROCESSES ON BALINESE DIALECT OF KEDISAN ., Ni Kadek Winda Arianti; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13346

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses morfologi dialek Bahasa Bali di Kedisan yang meliputi afiksasi, kata majemuk, pengulangan kata, pemotongan kata, dan kata pinjaman. Penelitian ini didesain dalam bentuk penelitian deskripsi. Penelitian ini mengunakan tiga ranah dalam mengumpulkan data yang meliputi ranah keluarga, ranah tetangga, dan ranah pertemanan. Data didapatkan dengan menggunakan empat tehnik yang meliputi observasi, interview, rekaman, dan elisitasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat enam proses morfologi dalam dialect Bahasa Bali yang diucapkan oleh penduduk di Kedisan Kelod. Morfologi proses meliputi afixasi, kata majemuk, pengulangan kata, pemotongan kata, dan kata pinjaman. Penelitian ini menemukan tiga proses afiksasi meliputi awalan, akhiran, awalan – akhiran. Affiksasi ini mengalami dua proses yakni proses derivasi dan proses infleksi. Terdapat 3 awalan derivasi me-}, {a-}, dan {ng-}, dua akhiran derivasi {-ang} dan{-in}, dan awalan – akhiran derivasi {pe-an}. Disamping itu juga, terdapat empat awalan infleksi {me-}, {ke-}, {N-}, dan{ng-}, empat akhiran infleksi {-ne}, {-e}, {-ang}, dan {-an}, dan satu awalan – akhiran infleksi {ke-an}. Penelitian ini juga menemukan dua jenis pengulangan kata yaitu pengulangan kata persis dan pengulangan kata ablaunt. Disamping itu, ditemukan juga kata majemuk, pemotongan kata, dan kata pinjaman.Kata Kunci : Proses morfologi, afiksasi, kata majemuk, pengulangan kata, pemotongan kata, dan kata pinjaman. This study aimed at analyzing a morphological process on Balinese dialect of Kedisan which covered affixation, compounding, reduplication, clipping, and borrowing. The subjects of this study was Kedisan villagers especially in Banjar Kedisan Kelod. This study is a descriptive qualitative research. In this case, three domains are used in collecting the data which covered family domain, neighbor domain, and friendship domain. The obtained data were collected based on four techniques, namely observation, interviewing, recording, and elicitation. The results of this study show that there were five kinds of morphological process on Balinese Dialect of Kedisan. The morphological processes are affixation, compounding, reduplication, clipping, and borrowing. There were three kinds of affixation found in Balinese dialect of Kedisan. Those are prefixes, suffixes, and circumfixes. These affixes have two roles called derivational affixes and inflectional affixes. There were three derivational prefixes {me-}, {a-}, and {ng-}, two derivational suffix {-ang} and{-in}, and one derivational circumfix {pe-an}. In addition, there were four inflectional prefixes {me-}, {ke-}, {N-}, and {ng-}, four inflectional suffixes {-ne}, {-e}, {-ang}, and {-an}, and one inflectional circumfix {ke-an}. Reduplication includes exact reduplication and ablaut reduplication. There are some words found as compound word, clipping, and borrowing. Key words: Morphological process, affixation, compounding, reduplication, clipping, borrowing keyword : Morphological process, affixation, compounding, reduplication, clipping, borrowing
Co-Authors ., Anak Agung Istri Sri Wirapatni ., Anak Agung Istri Sri Wirapatni ., Gede Ari Suyasna Putra ., Gede Ari Suyasna Putra ., Gusti Bagus Semara Putra ., Gusti Bagus Semara Putra ., Gusti Komang Sukerti ., Gusti Komang Sukerti ., Gusti Ngurah Nyoman Ariana ., I Gusti Putu Eka Suputra Mahardika ., I Gusti Putu Eka Suputra Mahardika ., I Kadek Gunarsa ., I Kadek Gunarsa ., I Ketut Restu Cahyadiarta ., I Made Dedi Kurniawan ., I Nengah Pasek Budiartika ., I Wayan Bagastana ., Iffatul Muslimah ., Iffatul Muslimah ., Kadek Prajinggo Patrya ., Kadek Prajinggo Patrya ., Kadek Vera Mia Asitari ., Kadek Vera Mia Asitari ., KADEK WAHYUTRIYUNI ., KADEK WAHYUTRIYUNI ., Kadek Windayanti ., Komang Savitri Putri ., Komang Savitri Putri ., Luh Ririn Sukma Dewi ., Luh Ririn Sukma Dewi ., Luh Winda Cipta Pratiwi ., M. Mas Gustrini Dewi ., Md Arini Purnamasari ., Md Arini Purnamasari ., Ni Kadek Warmasari ., Ni Kadek Winda Arianti ., Ni Kadek Winda Arianti ., Ni Luh Putu Wida a ., Ni Luh Putu Wida a ., Ni Made Arisani ., Ni Made Arisani ., Ni Made Dwi Darmetri ., Ni Putu Astri Pradnyandari ., Ni Putu Astri Pradnyandari ., Nurlita Habibah ., Nurlita Habibah ., Pande Ayu Cintya Ningrum ., Pande Ayu Cintya Ningrum ., Pande Nyoman Ita Wulandari ., Pande Nyoman Ita Wulandari ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha ., Prof. Dr.I Ketut Seken, M.A. ., Prof. Dr.I Ketut Seken, M.A. ., PUTU NARITA SARI ., PUTU NARITA SARI ., Putu Nopa ., Putu Nopa Adi Krisna Juniarta Agus Yogi Pranata ., Agus Yogi Pranata Aprilia Purnama Sari Ariyani, Luh Tu Artini, Ni Nyoman Asari, Rahayu Kusuma Widya Astawa, Made Candrika Widya Cahya Kusuma Negara Cahyani, Ni Luh Wiwin Damayanti, Made Regina Miranda Desak Gede Devi Pratami Dewa Komang Tantra Dewa Putu Ramendra Dewi, Luh Lingga Drs. Asril Marjohan,MA . Drs.Gede Batan,MA . Eka Anastasia Wijaya Elly Herliyani Febrin, Sabrina Fitri Adji Rarasati ., Fitri Adji Rarasati Gina Wulandari . Gusti Ayu Putu Diah Permata Sari ., Gusti Ayu Putu Diah Permata Sari Gusti Made, Jyotika Handayani, Made Ari Juli I Gede Bagus Wisnu Bayu Temaja I Gede Budasi I Gede Budasi I Gede Guna Parmanto ., I Gede Guna Parmanto I Gusti Agung Yoga Andika I Gusti Ayu Dwi Parwiti ., I Gusti Ayu Dwi Parwiti I Gusti Ayu Purnamawati I Gusti Made Gari Mahardika . I Ketut Agus Widhi Yoga Nugraha . I Made Mas Indra ., I Made Mas Indra I Nyoman Adi Jaya Putra I Nyoman Pasek Hadisaputra I Putu Ngurah Wage Myartawan I Putu Ngurah Wage Myartwan I Putu Sujana . I Wayan Adi Wiweka . I Wayan Edi Gunawan . I Wayan Landrawan I Wayan Suarnajaya I.G.A. Lokita Purnamika Utami Ida Ayu Ratsitha Dewi ., Ida Ayu Ratsitha Dewi Juliani, Made Dian Julio Saputra, Made Kade Yogi Wirawan ., Kade Yogi Wirawan Kadek Dian Sri Pratiwi . Kadek Sonia Piscayanti Komang Febrinayanti Dantes Komang Yudi Sulistiani . Krisna, Putu Adi Luh Diah Surya Adnyani Luh Putu Artini Luh Putu Artini Luh Putu Ayu Novita Dewi ., Luh Putu Ayu Novita Dewi Luh Simariani M.L.S ., Dr.Sudirman, M.L.S M.Pd ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd Made Arya Putri Agung Indhira . Made Metha Suadnyani ., Made Metha Suadnyani Made Yunita Parmawati . Mahanjendra, Pande Gede Baba Maharani, Dewa Ayu Asti Maharani, Made Diva Maria Yuliana Geofany Mas Arya Suwardana . Muhamad Nur Huda Ni Ketut Ayu Wiranti Ni Ketut Sari Adnyani Ni Komang Arie Suwastini Ni Komang Suciati Ni Luh Anggun Wisma Yanthi . Ni Luh Putu Eka Sulistia Dewi Ni Made Ari Wiryastini ., Ni Made Ari Wiryastini Ni Made Ratminingsih Ni Made Yudi Harsini . Ni Nyoman Ana Yulia Putri Ni Nyoman Manik Puspita . Ni Putu Ana Agusthini . Ni Putu Astiti Pratiwi Ni Putu Ria Tirana Surastiani . Ni Putu Wahyuni Ni Putu Yeni Andriyani . Ni Wayan Monik Rismadewi Ni Wayan Novita Yuliantari . Nugraha, Rama Urif Sukma Nyoman Karina Wedhanti Pande Made Dharma Sanjaya Pebri Ariati Ni Putu . Pradana, Wayan Radita Yuda Pradnyana, I Ketut Putra Pradnyani, Pande Eka Putri Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha . Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA . Prof. Dr.I Ketut Seken,MA . Putu Adi Krisna Juniarta Putu Eka Dambayana Suputra Putu Kerti Nitiasih Putu Novi Permata Sari . Rasidi, Sulaiman Rewa, Gde Arys Bayu Sabrina Febrin Saitri, I Gusti Ayu Ditha Saputra, I Nyoman Pasek Hadi Sari, Aprilia Purnama Sasmitha, Ketut Aya Setiawan, I Nengah Adi Sitangsu, Ni Luh Manik Santi Devi Sukma, I Made Gunawan Adi Sumadi, Gde Dody Supariani, Ni Ketut Lilis Ayu Swandewi, Komang Sri Trisnayanti, Ni Luh Putu Devi Utami, I. G. A. Lokita Purnamika Wahyudi, Shafa Warmadewi, Putu Sri Widiawati, Putu Shela Wulandari, Putu Indah Yasa, Gede Amerta