p-Index From 2021 - 2026
6.662
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Verbal and Nonverbal Communication Used by Teachers in Providing Positive Reinforcement in EFL Classes at SMP N 1 Mengwi ., I Nengah Pasek Budiartika; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.554 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15060

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menganalisis bentuk komunikasi verbal guru ketika memberikan penguatan positif pada kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing di SMP N 1 Mengwi, (2) mendeskripsikan dan menganalisis komunikasi nonverbal guru ketika memberikan penguatan positif pada kelas kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing di SMP N 1 Mengwi, (3) mengetahui persepsi siswa terhadap komunikasi verbal dan nonverbal guru ketika memberikan penguatan positif pada kelas kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing di SMP N 1 Mengwi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah dua guru bahasa Inggris dan 140 siswa di kelas 8A, 8B, 7K, dan 7L kelas di SMP N 1 Mengwi. Data penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan beberapa instrumen, yaitu peneliti, lembar observasi, perekam video, dan angket. Hasil penelitan ini menunjukan bahwa (1) bentuk komunikasi verbal guru ketika memberikan penguatan positif adalah bentuk tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif; (2) bentuk komunikasi nonverbal guru ketika memberikan penguatan positif adalah kinesik, haptik, dan proksemik; dan (3) persepsi siswa terhadap komunikasi verbal dan nonverbal guru ketika memberikan penguatan positif adalah siswa merasa termotivasi, percaya diri, nyaman, dan semangat. Selain itu, siswa senang dan suka ketika guru menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal dalam memberikan penguatan positif. Kata Kunci : bahasa Inggris sebagai bahasa asing, penguatan positif, komunikasi verbal, dan komunikasi nonverbal This study aimed at (1) describing and analyzing the forms of verbal communication used by teachers in providing positive reinforcement in EFL classes at SMP N 1 Mengwi, (2) describing and analyzing the forms of nonverbal communication used by teachers in providing positive reinforcement in EFL classes at SMP N 1 Mengwi, (3) identifying the students’ perception toward verbal and nonverbal communication used by teachers in providing positive reinforcement in EFL classes at SMP N 1 Mengwi. This study was a descriptive qualitative research design. The subjects of this study were two English teachers and 140 students at 8A, 8B, 7K, and 7L class at SMP N 1 Mengwi. The data of this study were collected by using several instruments, namely the researcher, observation sheet, video recorder, and questionnaire. The result of this study showed that (1) the forms of verbal communication used by the teachers in providing positive reinforcement were declarative, interrogative, and imperative; (2) the forms of nonverbal communication used by the teachers in providing positive reinforcement were kinesics, haptic, and proxemics; (3) the students’ perception toward verbal and nonverbal communication used by the teachers in providing positive reinforcement were they felt motivated, confident, comfortable, and enthusiastic. Besides that, they were pleased and they liked when the teachers used verbal and nonverbal communication in providing positive reinforcement.keyword : English as a Foreign Language (EFL), nonverbal communication, positive reinforcement, and verbal communication
AN ANALYSIS OF THE MYTH OF CONVENIENCE ON THREE TRAVELOKA ADVERTISEMENTS ., I Ketut Restu Cahyadiarta; ., Dr. Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd, M.Hu; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.695 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi mitos kenyamanan yang ditemukan dalam tiga iklan Traveloka yang berjudul “Mudik Tapi Rumah Penuh, Traveloka Dulu”, “Susahnya Cari Tiket Mudik, Traveloka Dulu”, “Liburan Harus Tertunda, Untung Pakai Traveloka” melalui analisis tekstual dengan menggunakan pendekatan teori mitologi Roland Barthes. Penelitian ini juga berfokus pada beberapa aspek, yakni aspek sinemathography dan mise-en-schene yang mendukung konsep mitos kenyamanan dalam iklan Traveloka. Dari data hasil penelitian, ditemukan bahwa mitos kenyamanan pada tiga iklan traveloka disampaikan melalui tiga konsep, yakni kenyamanan dalam kemudahan aksessibilitas, kenyamanan yang dalam penghematan uang, serta kenyamanan dalam memberikan pelayanan yang reliabel. Terdapat lima kategori kenyamanan terkait kemudahan aksessibilitas yang diperlihatkan dalam iklan Traveloka, diantaranya akses tanpa batasan jarak, akses tanpa batasan waktu, akses layanan tatap muka yang mudah untuk dipahami, dan pelayanan terpadu satu tempat. Penghematan uang disignifikasikan tanpa ada biaya pembatalan, harga murah untuk daerah tujuan yang populer, pemesanan dengan ‘harga spesial’ setiap hari, dan harga jujur tanpa biaya tambahan. Mitos pelayanan yang reliabel, ditunjukkan melalui transaksi yang terjamin keamanannya dan fitur baru yang bernama “easy reschedule”. Kemudahan aksesibilitas dengan harga yang terjangkau, serta adanya fitur yang memanjakan konsumen berhasil melahirkan nilai baru yakni meningkatnya kepercayaan masyarakat dalam melakukan transaksi online untuk memudahkan aktivitas sehari-hari.Kata Kunci : iklan televisi, mitos kenyamanan, teori mithologi Roland Barthes. This study was aimed to investigate convenience myth signified in three Traveloka advertisements entitled “Mudik Tapi Rumah Penuh, Traveloka Dulu”, “Susahnya Cari Tiket Mudik, Traveloka Dulu”, “Liburan Harus Tertunda, Untung Pakai Traveloka” through textual analysis by using Roland Barthes’ theory of mythology. This study also focused to dicover the other aspects in the form of chinemathography and mise-en-schene which were supported the convenience myth in Traveloka advertisement. From the data, it found that the convenience myth of three Traveloka advertisements could be divided into three aspects, that were convenience in ease of access, convenience in money saving, and convenience in reliable service. In convenience ease of access, it could be divided into five chategories, that are no space boundary, no time boundary, user friendly interface, and one stop transaction. In convenience of money saving, it signified without any cancelation fee, low price for popular destination, ‘special deals’ book for less any day, and honest price without service fee. The myth of reliable service showed through a secure transaction guarantee and a new “easy reschedule” feature. The ease accessibility with an affordable price, supported with features that pampered the costumer has succeed in creating a new value to increase public trust in conducting online transaction on daily activity. keyword : myth of convenience, Roland Barthes’ theory of mythology, television’s advertisement.
ENGLISH LANGUAGE EDUCATION IN JAPAN Agustini, Dewa Ayu Eka
Prasi: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajarannya Vol 7, No 13 (2012): Periode Januari-Juni 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.879 KB) | DOI: 10.23887/prasi.v7i13.430

Abstract

Jepang merupakan salah satu negara maju di kawasan Asia yang sangat menjaga budaya dan tradisi.Hal ini menyebabkan orang-orang Jepang menjadi fanatik terhadap penggunaan bahasa ibu mereka dalamberinteraksi. Namun seiring dengan perkembangan globalisasi, Jepang moderen merasa perlu untuk mengembangkankemampuan dalam berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Untuk itu, bahasa Inggris yangsudah diakui sebagai bahasa pergaulan utama di kancah internasional menjadi salah satu prioritas dalam kurikulumpembelajaran bahasa asing di Jepang dan menariknya Bahasa Inggris selalu menjadi pilihan favorituntuk dipelajari dari tingkat sekolah dasar sampai universitas di Jepang. Perkembangan metode pendidikanbahasa Inggris di Jepang juga cukup signifikan; dimulai dari mengadaptasi metode grammar-focused teachingsampai communicative language teaching. Selain itu, berbagai program dilaksanakan untuk mendukungpeningkatan pengajaran Bahasa Inggris.Kata-kata kunci: Pendidikan Bahasa Inggris, Jepang
an analysis of instructional material and the types of strategies that used for reading 2 course in english education department ., I Wayan Edi Gunawan; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.5457

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis relevansi bahan ajar dan jenis strategi pengajaran yang digunakan untuk Membaca 2 kursus dalam bahasa Inggris Departemen Pendidikan. Subyek penelitian ini adalah siswa yang telah diambil Membaca 2 kursus dan dosen yang telah mengajar Reading 2Course dalam bahasa Inggris Departemen Pendidikan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang memanfaatkan checklist dan kuesioner. Data yang dikumpulkan dari para juri ahli 'checklist, serta kuesioner dosen dan checklist, dan juga siswa diskusi kuesioner dan focus group. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Temuan penelitian menunjukkan relevansi Bahan Ajar dan Reading 2 silabus dikatakan "Sedikit relevan" untuk digunakan sebagai sumber belajar bahasa Inggris Departemen Pendidikan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa semua ahli memilih lebih dari 46% dari kriteria yang telah dicapai. Strategi pengajaran yang sering digunakan di Reading 2 saja wereDiscussion dan Instruksi Langsung. Hasil kuesioner dan diskusi kelompok terfokus dengan siswa dari 9 kelas yang berbeda menunjukkan fokus yang berbeda dari tujuan pembelajaran yang diperoleh oleh siswa dari setiap kelas karena perbedaan materi pembelajaran yang diberikan oleh dosen. Penggunaan strategi pengajaran yang juga tidak memenuhi kriteria pelajar dewasa ini gagal untuk mendorong motivasi siswa belajar. Kata Kunci : Kata kunci: keterampilan membaca, pembaca menengah, bahan ajar, bahan relevansi, dan strategi pengajaran. ABSTRACT This study was a descriptive qualitative research which aimed to analyze the relevance of instructional materials and the type of teaching strategies used for Reading 2 course in English Education Department. The purpose was to describe the relevance of the syllabus and instructional materials, as well as the quality of these learning materials, and to find out the students perception of Reading 2 course. The subjects of this research were the students who have taken Reading 2 course and the lecturer who have taught Reading 2 Course in English Education Department. This research was a descriptive qualitative research which was utilizing checklist and questionnaire. The data collected from the expert judges’ checklist, as well as lecturer questionnaire and checklist, and also students’ questionnaire and focus group discussion. The data obtained were descriptively analyzed. The finding of the research showed the relevance of Instructional Materials and the Reading 2 syllabus was said “Slightly Relevant” to be used as learning resource for English Education Department students. It showed that all experts choose more than 46% of criteria which had been reached. The teaching strategies that used frequently in Reading 2 course wasDirect Instruction. The questionnaire result and the focus group discussion with the students from 9 different classes showed different focus of learning objectives acquired by the students of each classes due to the differences of the learning material provided by the lecturer. The use of teaching strategies which also did not meet the criteria of adult learners was failed to encourage students’ motivation of learning. keyword : Keywords: reading skill, intermediate reader, instructional materials, relevance materials, and teaching strategies.
THE CULTURAL EXPERIENCES OF THE ENGLISH TEACHER VOLUNTEERS IN BUMI SEHAT’S YOUTH CENTER UBUD ., Gusti Ngurah Nyoman Ariana; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengalaman budaya yang dialami oleh sukarelawan guru bahasa Inggris dan gejala syok budaya yang dihadapi oleh sukarelawan guru bahasa Inggris di Bumi Sehat’s Youth Center. Peneliti menggunakan metode fenomenologis dan pendekatan kualitatif untuk mengetahui jawaban permasalahan dari penelitian ini. Data diambil dari tiga sukarelawan guru bahasa Inggris melalui wawancara dan kuesioner. Analisis tersebut menunjukkan bahwa ada sepuluh pengalaman budaya yang dialami oleh sukarelawan guru bahasa Inggris di Bumi Sehat’s Youth Center. Relawan guru bahasa Inggris mengalami pengalaman budaya yang mengacu pada kejutan budaya (fisik, kognitif atau perilaku) saat mereka masuk dalam budaya atau lingkungan baru yang dimana lingkungan mereka berbeda dengan kota asal mereka. Kesepuluh pengalaman budaya yang dialami oleh sukarelawan guru bahasa Inggris adalah makanan yang berbeda, dua masalah orang Bali, lingkungan, transportasi, perbedaan budaya, masalah tidur, depresi, laju kehidupan, dan iklim. Di sisi lain, relawan guru bahasa Inggris mengalami gejala syok budaya dalam dua minggu pertama. Semua relawan guru bahasa Inggris merasa rindu rumah dan salah satu dari mereka jatuh sakit.Kata Kunci : pengalaman berbudaya, syok budaya The study aimed at investigating the cultural experiences that experienced by English teacher volunteers and the symptoms of culture shock faced by English teacher volunteers in Bumi Sehat’s Youth Center. The researcher used phenomenological method and qualitative approach in finding out the answer of the problems of the study. The data were taken from three English teacher volunteers through interview and questionnaire. The analysis reveals that there are ten cultural experiences that the English teacher volunteers experienced in Bumi Sehat’s Youth Center. The English teacher volunteers experienced the cultural experiences that refers to culture shock (physical, cognitive or behavior) when they were entering in a new culture or environment where was different with their home town. Those ten cultural experiences that experienced by English teacher volunteers are different food, two Balinese people problems, environment, transportation, cultural differences, sleep problem, depression, pace of life, and climate. On the other hand, English teacher volunteers were faced symptom of culture shock in first two week. All of the English teacher volunteers were felt homesick and one of them get sick.keyword : cultural experience, culture shock
Analysis of Learning Higher Order Thinking Skill (HOTS) Toward English Subject Warmadewi, Putu Sri; Agustini, Dewa Ayu Eka; Wedhanti, Nyoman Karina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains dan Humaniora Vol 3, No 2 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.522 KB) | DOI: 10.23887/jppsh.v3i2.21278

Abstract

In line with the 21st century learning of education, 2013 Curriculum (k-13) highlights the development of critical thinking, problem analyzing, problem solving, decision making, and creating something new. It requires teachers to use the new paradigm in designing the lesson plan as well as the assessment, which indicate Higher Order Thinking Skill (HOTS). However, the implementation does not work properly as planned. Therefore this research aimed to analyze the implementation of Higher Order Thinking Skill (HOTS) in terms of designing the content of lesson plans and assessments at SMA Negeri 2 Banjar. This was a qualitative research employing a document study design. The subject of this study was the English teacher in SMA Negeri 2 Banjar. The data were collected qualitatively through observation, documentation and interview. The results showed that Higher Order Thinking Skill (HOTS) was not expressed in the whole of the lesson plan and the assessment, it was covered in several parts of the lesson plan as well as the assessment. The results has the implication for the English teacher to develop the implementation of Higher Order Thinking (HOT) in the content of the lesson plan and assessment holistically.
The Effect of Debate Technique towards Eleventh Grade Students’ Speaking Competency Widiawati, Putu Shela; Ratminingsih, Ni Made; Agustini, Dewa Ayu Eka
Journal of Education Research and Evaluation Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : LPPM Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.296 KB) | DOI: 10.23887/jere.v4i3.26989

Abstract

Among the four pivotal skills, speaking signifies part of the most essential skill because its role primarily serves as a means of communication. Speaking is an interactive process of developing, creating, constructing and delivering meaning with goal of information exchanges between speaker and hearer. some students still faced some problems to communicate in English. Many students did not show their readiness in speaking English spontaneously.  This study aimed at investigating the significant effect of debate technique on students’ speaking competency, this quasi-experimental research employed 70 student participants from two social science classes, who were randomly assigned to the experimental condition and to the control condition. The instruments used for collecting the data were performance of speaking test and rubric for students’ speaking assessment. The data were analysed by using descriptive and inferential analyses. The result of this study shows that the mean score of experimental group is 79.79, while the mean score of control group is 75.25. The result of t test shows that the value of Sig. (2-tailed) is .000, which indicates a significant mean different. Therefore, this study concludes that debate technique affects students’ speaking competency. In addition to it, the contribution to the teaching of speaking as well as implications for future research are also discussed.
THE USE OF PIDGIN ENGLISH UTTERED BY TOURISM POLICE AT LOVINA TOURISM AREA ., Luh Winda Cipta Pratiwi; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk, makna, dan fungsi bahasa dari bahasa Inggris pidgin yang diucapkan oleh polisi pariwisata ketika berkomunikasi dengan turis berbahasa Inggris Penelitian ini dilaksanakan di kawasan wisata Lovina dan tiga polisi pariwisata dipilih sebagai subyek penelitian ini berdasarakan beberapa kriteria. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif dan rancangan yang digunakan adalah studi kasus. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa ada beberapa penyimpangan terhadap bentuk-bentuk bahasa Inggris pidgin yang diucapkan oleh polisi pariwisata dalam hal tata bahasa, pengucapan, sintaksis, dan kosakata. Di samping itu, hasil lain dari analisis data menunjukkan bahwa makna dari bahasa Inggris pidgin yang diucapkan oleh polisi pariwisata di kawasan wisata Lovina ambigu karena kesalahan penggunaan kosa kata oleh polisi pariwisata. Sementara itu, ada beberapa fungsi bahasa yang digunakan oleh polisi pariwisata ketika berinteraksi dengan turis berbahasa Inggris seperti memberikan salam, menanyakan informasi, menanyakan pendapat, menyatakan pujian, memberikan informasi, arah, pendapat, menawarkan bantuan, memberikan pujian, salam perpisahan, dan mengucapkan terimakasih.Kata Kunci : Bahasa Inggris Pidgin, Bentuk, Fungsi Bahasa, Makna, Polisi Pariwisata This study aimed at analyzing the forms, meanings, and language functions of pidgin English uttered by tourism police when communicating to English-speaking tourists. This study was conducted at Lovina tourism area and three tourism police were chosen as the subjects of this study based on a set of criteria. This study employed descriptive qualitative approach and the design used was case study method. The results of the data analysis showed that there were several deviations in the forms of pidgin English uttered by the tourism police in terms of grammar, pronunciation, syntax, and vocabulary. On the other hand, another result of the data analysis indicated that the meaning of pidgin English uttered by the tourism police at Lovina tourism area was ambiguous because of the use of incorrect vocabulary by the tourism police. Meanwhile, there were several language functions used by the tourism police when interacting with the English-speaking tourists namely greeting, asking information, asking opinion, giving information, giving direction, giving opinion, offering a favor, praising, leave-taking, and thanking.keyword : Form, Language Function, Meaning, Pidgin English, Tourism police
THE PHONOLOGICAL AND LEXICAL CHANGES FROM LEMUKIH DIALECT TO GALUNGAN DIALECT ., I Made Dedi Kurniawan; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11183

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan fonologi dan leksikal dari dialek Lemukih ke dialect Galungan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Terdapat tiga informan yang dipilih di Desa Lemukih dan Desa Galungan. Satu informan ditentukan sebagai informan utama dan dua informant lainnya ditentukan sebagai informan tambahan. Data yang dikumpulkan berdasarkan empat teknik diantaranya: Peneliti, observasi, rekaman, dan daftar kata (wordlist). Terdapat 462 kata di Budasi wordlist dan 208 kata Swadesh wordlist yang di peroleh sebagai data penelitian. Hasil dari data analisis menunjukkan bahwa terdapat sembilan kata yang dikategorikan sebagai penghilangan phoneme di awal kata (aphaeresis), 11 kata yang dikategorikan sebagai penghilangan phoneme di tengah kata ( syncope), enam kata yang dikategorikan sebagai penghilangan phoneme di akhir kata (apocope) dan enam kata dikategorikan sebagai penghilangan dua silabel dalam kata (haplology). Perubahan leksikal yang terjadi dari dialek Lemukih ke dialect Galungan diantaranya : 15 kata dikategorikan sebagai peminjaman kata dari bahasa Indonesia (borrowing words), delapan kata termasuk dalam kategori penghilangan kata and kompresi kata yang terdiri dari empat kata dikategorikan sebagai blend dan empat kata termasuk abbreviation. Kata Kunci : Dialek, Perubahan Fonologi, Perubahan Leksikal. This study aimed at describing the phonological and lexical changes from Lemukih to Galungan dialect. This research was a descriptive qualitative research. There were three informants selected in each dialect. In this case, one important sample was determined as the main informant and the other two were determined as the secondary informant. The obtained data were collected based on four techniques, namely: the researcher, observation, recording, and wordlist. There were 462 words in Budasi and 208 words in Swadesh wordlists that were obtained as the data of the study. The result of the data analysis showed that there were nine words were categorized as deletion of the phoneme in the beginning of the word (aphaeresis), 11 words were categorized as deletion of the phoneme in the middle of word (syncope), six words were categorized as deletion of the phoneme in the final of the word (apocope) and six words were categorized as haplology. The lexical changes occur from Lemukih and Galungan dialect categorized as follows: 15 words belonging to loan or borrowing words, eight words belong to loss words, and compression which included four words belonging to word mixes and four words belonging to initials. keyword : Dialect, Phonological changes, Lexical changes
MULTIMODAL COMMUNICATION ANALYSIS: THE HIGHER-LEVEL ACTIONS OF WAITERS AND WAITRESSES AT THREE RESTAURANTS IN TABANAN Nugraha, Rama Urif Sukma; Myartawan, I Putu Ngurah Wage; Agustini, Dewa Ayu Eka
International Journal of Language and Literature Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijll.v4i4.32097

Abstract

This study aimed to analyze the multimodal communication of waiters and waitresses at three restaurants in Tabanan, Bali Province, in applying higher-level actions in serving foreign guests and investigating the functions of the higher-level actions of waiters and waitresses in serving the foreign guests. This study used theories proposed by Fishman (1972) cited in Suandi & Indriani (2016) on functions of using verbal and nonverbal communication, Krees and Van Leewuen 2006) on multimodal communication, and Norris (2004) on higher-level actions. The subjects of this study were four waiters and two waitresses who were working at three different restaurants in Tabanan regency. The results of this study showed that in each conversation, there were many sequences of higher-level actions used by waiters or waitresses to serve the foreign guests. The waiters and waitresses used a sequence of modes alternately or simultaneously in their higher-level actions, depending on the situation. The functions of waiters or waitresses’ higher-level actions in serving foreign guests made their messages clearer to foreign guests, and this made the waiters or waitresses’ messages more believable to the foreign guests.
Co-Authors ., Anak Agung Istri Sri Wirapatni ., Anak Agung Istri Sri Wirapatni ., Gede Ari Suyasna Putra ., Gede Ari Suyasna Putra ., Gusti Bagus Semara Putra ., Gusti Bagus Semara Putra ., Gusti Komang Sukerti ., Gusti Komang Sukerti ., Gusti Ngurah Nyoman Ariana ., I Gusti Putu Eka Suputra Mahardika ., I Gusti Putu Eka Suputra Mahardika ., I Kadek Gunarsa ., I Kadek Gunarsa ., I Ketut Restu Cahyadiarta ., I Made Dedi Kurniawan ., I Nengah Pasek Budiartika ., I Wayan Bagastana ., Iffatul Muslimah ., Iffatul Muslimah ., Kadek Prajinggo Patrya ., Kadek Prajinggo Patrya ., Kadek Vera Mia Asitari ., Kadek Vera Mia Asitari ., KADEK WAHYUTRIYUNI ., KADEK WAHYUTRIYUNI ., Kadek Windayanti ., Komang Savitri Putri ., Komang Savitri Putri ., Luh Ririn Sukma Dewi ., Luh Ririn Sukma Dewi ., Luh Winda Cipta Pratiwi ., M. Mas Gustrini Dewi ., Md Arini Purnamasari ., Md Arini Purnamasari ., Ni Kadek Warmasari ., Ni Kadek Winda Arianti ., Ni Kadek Winda Arianti ., Ni Luh Putu Wida a ., Ni Luh Putu Wida a ., Ni Made Arisani ., Ni Made Arisani ., Ni Made Dwi Darmetri ., Ni Putu Astri Pradnyandari ., Ni Putu Astri Pradnyandari ., Nurlita Habibah ., Nurlita Habibah ., Pande Ayu Cintya Ningrum ., Pande Ayu Cintya Ningrum ., Pande Nyoman Ita Wulandari ., Pande Nyoman Ita Wulandari ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha ., Prof. Dr.I Ketut Seken, M.A. ., Prof. Dr.I Ketut Seken, M.A. ., PUTU NARITA SARI ., PUTU NARITA SARI ., Putu Nopa ., Putu Nopa Adi Krisna Juniarta Agus Yogi Pranata ., Agus Yogi Pranata Aprilia Purnama Sari Ariyani, Luh Tu Artini, Ni Nyoman Asari, Rahayu Kusuma Widya Astawa, Made Candrika Widya Cahya Kusuma Negara Cahyani, Ni Luh Wiwin Damayanti, Made Regina Miranda Desak Gede Devi Pratami Dewa Komang Tantra Dewa Putu Ramendra Dewi, Luh Lingga Drs. Asril Marjohan,MA . Drs.Gede Batan,MA . Eka Anastasia Wijaya Elly Herliyani Febrin, Sabrina Fitri Adji Rarasati ., Fitri Adji Rarasati Gina Wulandari . Gusti Ayu Putu Diah Permata Sari ., Gusti Ayu Putu Diah Permata Sari Gusti Made, Jyotika Handayani, Made Ari Juli I Gede Bagus Wisnu Bayu Temaja I Gede Budasi I Gede Budasi I Gede Guna Parmanto ., I Gede Guna Parmanto I Gusti Agung Yoga Andika I Gusti Ayu Dwi Parwiti ., I Gusti Ayu Dwi Parwiti I Gusti Ayu Purnamawati I Gusti Made Gari Mahardika . I Ketut Agus Widhi Yoga Nugraha . I Made Mas Indra ., I Made Mas Indra I Nyoman Adi Jaya Putra I Nyoman Pasek Hadisaputra I Putu Ngurah Wage Myartawan I Putu Ngurah Wage Myartwan I Putu Sujana . I Wayan Adi Wiweka . I Wayan Edi Gunawan . I Wayan Landrawan I Wayan Suarnajaya I.G.A. Lokita Purnamika Utami Ida Ayu Ratsitha Dewi ., Ida Ayu Ratsitha Dewi Juliani, Made Dian Julio Saputra, Made Kade Yogi Wirawan ., Kade Yogi Wirawan Kadek Dian Sri Pratiwi . Kadek Sonia Piscayanti Komang Febrinayanti Dantes Komang Yudi Sulistiani . Krisna, Putu Adi Luh Diah Surya Adnyani Luh Putu Artini Luh Putu Artini Luh Putu Ayu Novita Dewi ., Luh Putu Ayu Novita Dewi Luh Simariani M.L.S ., Dr.Sudirman, M.L.S M.Pd ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd Made Arya Putri Agung Indhira . Made Metha Suadnyani ., Made Metha Suadnyani Made Yunita Parmawati . Mahanjendra, Pande Gede Baba Maharani, Dewa Ayu Asti Maharani, Made Diva Maria Yuliana Geofany Mas Arya Suwardana . Muhamad Nur Huda Ni Ketut Ayu Wiranti Ni Ketut Sari Adnyani Ni Komang Arie Suwastini Ni Komang Suciati Ni Luh Anggun Wisma Yanthi . Ni Luh Putu Eka Sulistia Dewi Ni Made Ari Wiryastini ., Ni Made Ari Wiryastini Ni Made Ratminingsih Ni Made Yudi Harsini . Ni Nyoman Ana Yulia Putri Ni Nyoman Manik Puspita . Ni Putu Ana Agusthini . Ni Putu Astiti Pratiwi Ni Putu Ria Tirana Surastiani . Ni Putu Wahyuni Ni Putu Yeni Andriyani . Ni Wayan Monik Rismadewi Ni Wayan Novita Yuliantari . Nugraha, Rama Urif Sukma Nyoman Karina Wedhanti Pande Made Dharma Sanjaya Pebri Ariati Ni Putu . Pradana, Wayan Radita Yuda Pradnyana, I Ketut Putra Pradnyani, Pande Eka Putri Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha . Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA . Prof. Dr.I Ketut Seken,MA . Putu Adi Krisna Juniarta Putu Eka Dambayana Suputra Putu Kerti Nitiasih Putu Novi Permata Sari . Rasidi, Sulaiman Rewa, Gde Arys Bayu Sabrina Febrin Saitri, I Gusti Ayu Ditha Saputra, I Nyoman Pasek Hadi Sari, Aprilia Purnama Sasmitha, Ketut Aya Setiawan, I Nengah Adi Sitangsu, Ni Luh Manik Santi Devi Sukma, I Made Gunawan Adi Sumadi, Gde Dody Supariani, Ni Ketut Lilis Ayu Swandewi, Komang Sri Trisnayanti, Ni Luh Putu Devi Utami, I. G. A. Lokita Purnamika Wahyudi, Shafa Warmadewi, Putu Sri Widiawati, Putu Shela Wulandari, Putu Indah Yasa, Gede Amerta