Claim Missing Document
Check
Articles

AN ANALYSIS OF AFFIXATION IN BALINESE SERAYA DIALECT: DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL PROCESS ., I Gede Novan Giri Prabawa; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3356

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran pada Dialek Bali Seraya (BSD) yang termasuk derivasi dan infleksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Beberapa informan dari BSD dipilih berdasarkan tiga ruang lingkup: keluarga, kekerabatan dan ketetanggaan. Data dikumpulkan berdasarkan tiga tehnik, yaitu: observasi, tehnik perekaman dan tehnik wawancara. Beberapa instrumen digunakan dalam mengumpulkan data, yaitu: peneliti itu sendiri, Swadesh dan Nothofer daftar kata, kamera, alat perekam digital dan tekts wawacara. Ada tiga proses dalam menganalisa data, data reduction, data display dan conclusion drawing. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa ada dua jenis awalan pada BSD: awalan {me-} dan {N-}. Ada tiga jenis akhiran pada BSD: akhiran {-ang}, {-in} dan {-nye}. Awalan dan akhiran pada BSD yang termasuk derivasi adalah awalan {me-} dan {N-} dan akhiran {-ang}, {-in} dan {-nye}. Awalan dan akhiran pada BSD yang termasuk infleksi adalah awalan {N-} dan akhiran {-ang}, {-in} dan {-nye}.Kata Kunci : Morfem Derivasi, Morfem Infleksi, Dialek Bali Seraya The study aimed at describing the prefixes and suffixes in Balinese Seraya Dialect (BSD) which belonged to derivation and inflection process. This research was a descriptive qualitative research. There were some informants of BSD were chosen based on three domain: family, friendship and neighborhood. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview technique. The data were collected by some instruments, those were the researcher himself, Swadesh and Nothofer word lists, digital recorder, camera, and interview guide. There were three processes in analyzing the data, data reduction, data display and conclusion drawing.The results of the study showed that there were two kinds of prefixes in BSD; prefix {me-} and {N-}. There were three kinds of suffixes in BSD; suffix {-ang}, {-in} and, {-nye}. Prefixes and suffixes in BSD which belonged to derivation were prefix {me-}, {N-} and suffix {-ang}, {-in}. Prefixes and suffixes in BSD which belonged to inflection were prefix {N-}and suffix {-ang}, {-in} and, {-nye}.keyword : Derivational Morpheme, Inflectional Morpheme, Balinese Seraya Dialect (BSD)
AN ANALYSIS OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL MORPHEMES OF TENGANAN PEGRINGSINGAN DIALECT ., Ni Nyoman Trisna Utami; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., I Putu Ngurah Wage M, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses derivasi dan infleksi di Dialek Tenganan Pegringsingan (DTP). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dua informan dari Tenganan Pegringsingan telah dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Data dikumpulkan berdasarkan tiga teknik, yaitu: observasi, teknik perekaman dan teknik wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 awalan di DTP; awalan {ma-}, {N-}, dan {a-}. Ada tiga jenis akhiran di DTP; akhiran {-e}, {-ang}, dan {-in}. Awalan dan akhiran di Dialek Tenganan Pegringsingan yang termasuk derivasi adalah awalan {ma-}, {N-}, and and suffix {-ang}, dan {-in}. Awalan dan akhiran di Dialek Tenganan Pegringsingan yang temasuk infleksi adalah awalan {N-}, and {a-} and suffix {-ǝ}, {-ang}, and {-in}.Kata Kunci : derivasi, morfem infleksi, dialek Tenganan Pegringsingan The study aimed at describing derivational and inflectional processes in Tenganan Pegringsingan Dialect (TPD). This research is a kind of linguistics research which is design in descriptive qualitative research. Two informants sample of TPD were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely observation, recording technique and interview (listening and noting) technique. The result of the study showed that there were three kinds of prefixes in Tenganan Pegringsingan Dialect; prefix {ma-}, {N-}, and {a-}. There were three kinds of suffixes in Tenganan Pegringsingan Dialect; suffix {-e}, {-ang}, and {-in}. Prefixes and suffixes in TPD having derivational process were: prefix {ma-}, {n-}, and suffix {-ang}, and {-in}. Prefixes and suffixes in TPD having inflectional process were: prefix {N-}, and {a-} and suffix {-ǝ}, {-ang}, and {-in}.keyword : Derivational, Inflectional, Morpheme and Tenganan Pegringsingan Dialect (TPD)
THE VERB-FORMING AFFIXATION IN SIDETAPA DIALECT OF BALINESE: A MORPHOPHONEMIC ANALYSIS ., Ni Kadek Ariasih; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3367

Abstract

The study aimed at discovering data and information about the number of prefixes and suffixes found in Sidetapa Dialect of Balinese (SDB) having role in constructing verb. This study was designed by using descriptive qualitative approach. The main informant of this study was one family which was chosen based on certain criteria. The data was collected by means of word lists: Swadesh, Nothofer, Holle, and Budasi and sentence list. Some natural speeches produced among family member with their neighbors and friends were also recorded. The obtained data were analyzed descriptively. The result revealed that there were two prefixes having role in constructing verb, namely: prefix {ma- and N-} and three suffixes {-ng, -a, and -na}. All of the prefixes experienced morphophonemic process in certain condition. Prefix {ma-} underwent morphophonemic process in the form of deleting phoneme /a/ in prefix {ma-} itself when it was added into any base which had an initial vowel. And prefix {N-} was indicated by its change into some allomorphs namely: |n-|, |ny-|, |ng-|, |m| when they were attached into a particular base. Meanwhile the suffix experiencing morphophonemic process was suffix {-ang}. Each prefix and suffix had more than one meaning depending on the bases attached into it. The usage of each prefix and suffix was also different. It is expected that this study can be used as a reference for the other researchers that interest in exploring more about SDB, especially the availability of the affixes and their changes. Kata Kunci : prefix, suffix, verb formation, morphophonemic process, Sidetapa Dialect of Balinese Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data dan informasi tentang jumlah awalan dan akhiran yang mempunyai peran untuk membentuk kata kerja dalam dialek Sidetapa. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif. Informan utama dalam penelitian ini yaitu satu keluarga yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan dengan menggunakan daftar kata yang disusun oleh: Swadesh, Nothofer, Holle, and Budasi, daftar kalimat. Beberapa percakapan antara anggota keluarga, anggota keluarga dengan temannya dan juga dengan tetangganya juga direkam. Data yang sudah diperoleh dianalis secara deskriptif. Hail penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua awalan yang memiliki peran untuk membuat kata kerja yaitu awalan {ma- and N-} dan tiga akhiran {-ng, -a, and -na}. Semua awalan tersebut mengalami proses morpofonemik dalam beberapa kondisi tertentu. Awalan {ma-} mengalami proses morpofonemik yang ditandai dengan penghilangan fonem [a] terhadap awalan {ma-} itu sendiri ketika awalan tersebut digabungkan dengan kata dasar yang berinisial vowel. Sedangkan awalan{N-}dicirikan dengan allomorph yang dimilikinya yaitu |n-|, |ny-|, |ng-|, |m| ketika digabungkan dengan kata dasar tertentu. Sedangkan akhiran yang mengalami proses morpofonemik yaitu akhirin {-ang}. Masing-masing awalan maupun akhiran memiliki makna yang bervariasi tergantung dari kata dasar yang dilekatkan. Penggunaanya dari masing-masing awalan maupun akhiran tersebut jga berbeda-beda. Penulis sangat berharap agar penelitian ini bisa dijadikan sebagai acuan bagi peneliti-peneliti lain yang tertarik untuk mengksplor lebih dalam lagi tentang dialek Sidetapa khusunya keberadaan imbuhan-imbuhan dan perubahannya. keyword : awalan, akhiran, pembentukan kata kerja, proses morpofonemik, dialek Sidetapa
AN ANALYSIS OF METAPHOR USED IN THE NEWS ITEMS OF JAKARTA POST NEWSPAPER ., Ni Made Lia Kesumayanti; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., I Putu Ngurah Wage M, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3387

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi jenis-jenis metafora yang digunakan pada teks berita di koran Jakarta Post, (2) mengidentifikasi jenis metafora yang paling banyak digunakan, dan (3) mendeskripsikan bagaimana metafora digunakan di setiap segmen berita di koran Jakarta Post. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah metafora. Subjek penelitian ini adalah empat koran Jakarta Post yang dipilih secara purposive dengan menggunakan teknik snowball. Dalam mengidentifikasi metafora, metode yang digunakan adalah MIP (Metaphor Identification Procedure). Peneliti, catatan, dan checklist digunakan sebagai instrumen dalam proses pengumpulan data. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat enam jenis metafora yang digunakan pada teks berita di koran Jakarta Post yang meliputi (1) structural, (2) orientational, (3) ontological, (4) anthropomorphic, (5) animal, dan (6) synaesthesia mentaphor. Structural metaphor adalah jenis metafora yang paling banyak digunakan. Structural metaphor juga mendominasi di tiap segmen berita yaitu Headlines, Business Headlines, National, Archipelago, City, World, Business, World Business, Sports, Life Lines, People, dan Bali Daily.Kata Kunci : metafora, teks berita, koran Jakarta Post This study aimed to (1) identify the kinds of metaphor used in the news items of the Jakarta Post newspapers, (2) identify which kind of metaphor that is mostly used, and (3) describe how the metaphors are used among the news segments in the Jakarta Post newspapers. This research was a qualitative study. The object of this study was metaphor. The subjects of the study were four Jakarta Post newspapers selected purposively by using snowball technique. In identifying the metaphor, the method used was MIP (Metaphor Identification Procedure). The researcher, notes, and checklists were used as the instruments in the data collection process. The data were analysed descriptively by using Miles and Huberman model. The results of this study showed that there were six kinds of metaphor used in the newspapers studied. They were (1) structural, (2) orientational, (3) ontological, (4) anthropomorphic, (5) animal, and (6) synaesthesia metaphor. Among those metaphors, structural metaphor was mostly used in the news items of the Jakarta Post newspapers. It was also dominantly used in each of the twelve news segments of the newspapers which included Headlines, Business Headlines, National, Archipelago, City, World, Business, World Business, Sports, Life Lines, People, and Bali Daily.keyword : metaphor, news items, Jakarta Post newspaper
THE PHONOLOGICAL SYSTEM OF BALINESE SPOKEN BY BUNUTAN VILLAGERS: A DESCRIPTIVE QUALITATIVE STUDY ., I Gede Tawa Utara Jaya; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jumlah fonem Bahasa Bali yang diucapkan oleh penduduk desa Bunutan (BB). Selain itu, untuk mengetahui proses fonologi yang terjadi pada bahasa itu sendiri. Penelitian sinkronis ini dirancang dengan menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan alat rekaman, daftar kata, dan daftar kalimat. Dua daftar kata yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Swadesh dan Daftar Kata Nothofer. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BB memiliki 31 fonem, yaitu: 6 vokal; /ʌ/, /i/, /u/, /e/, /o/, dan //. 3 Dipthongs; /ʌi/, /iʌ/, dan /ʌԑ/, 1 vokal rangkap; //, 19 Konsonan; /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /ʔ/, /s/, /c/, /j/, /l/, /r/, /h/, /m/, /n/, /ñ/, /ŋ/, /w/, dan /y/, dan 2 gugus konsonan; /kl/ dan /sl/. Tidak semua distribusi fonem terjadi pada tiga posisi (awal, tengah, dan posisi akhir). Ada juga jenis proses fonologi yang ditemukan yaitu proses struktur suku kata meliputi penyisipan konsonan dan penyisipan vokal.Kata Kunci : Sistem fonologi, proses fonologi, Bahasa Bali yang diucapkan oleh Penduduk Desa Bunutan. The study aimed at describing the number of phonemes of Balinese spoken by Bunutan villagers (BB). Also, to find out the phonological process that happened in the language itself. This synchronic study was designed by using a descriptive qualitative research. The data were collected using the recording tools, word lists, and sentence list. Two word lists used in this research namely: Swadesh and Nothofer’s Word Lists. The obtained data were analyzed descriptively. The result of the study shows that BB has 31 phonemes, namely: 6 vowels; /ʌ/, /i/, /u/, /e/, /o/, and //. 3 Dipthongs; /ʌi/, /iʌ/, and /ʌԑ/, 1 geminate vowel; //, 19 Consonants; /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /ʔ/, /s/, /c/, /j/, /l/, /r/, /h/, /m/, /n/, /ñ/, / ŋ/, /w/, and /y/, and 2 Consonant cluster; /kl/ and /sl/. Not all of phonemes distribute in three positions (initial, middle, and final position). There was also found type of phonological process of syllable structure process namely consonant insertion and vowel insertionkeyword : Phonological System, Phonological process, Balinese Spoken by Bunutan Villagers.
Sociolinguistic Study on Code Used among People in Air Kuning Village ., Sri Pithamahayoni; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kode – kode yang digunakan oleh masyarakat di Desa Air Kuning. Kode yang digunakan dianalisis menggunakan teori dari Steinberg, Chaer dan Romaine. Subjek dari penelitian ini adalah masyarakat yang melakukan percakapan berdasarkan tiga domain yaitu, keluarga, tetangga, dan pertemanan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang memberikan gambaran tentang kode – kode yang digunaan oleh tiga domain di Desa Air Kuning. Data dikumpulkan melalui observasi dan interview. Penelitian ini menggunakan observasi partisipasi dimana peneliti menjadi bagian dari penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiga domain yaitu keluarga, tetangga dan pertemanan tidak mempengaruhi kode yang digunakan oleh masyarakat. Peneliti menemukan 96 kode yang digunakan di Desa Air Kuning. Kode – kode itu di kelompokkan menjadi tag question, kata bantu, bahasa sehari – hari, register, dan kata sapaan. Air Kuning mempunyai kata yok sebagai tag question, 3 kata bantu: budi, sa’a, seh, 6 register: ngujur, ngerawe, deldel, katih, nyambeng, kalbok, 12 macam kata sapaan: icang, awak, nyai, beng, cung, cai, nanang, ketuk, mbok, lik, ruang, dan 74 bahasa sehari – hari seperti,barang, pati, nyai, kelambi, tongtongan, kalijepan, sepedaha, gara, incega, wet. Kode – kode tersebut adalah percampuran antara bahasa Bali dan bahasa Bugis yang mereka sebut sebagai bahas kampung. Kata Kunci : penelitian deskriptif, kode, Desa Air Kuning The study aimed at describing the codes used among people in Air Kuning village. The codes used were analyzed by using Steibergs theory, Chaer theory, and Romaine theory. The subjects of this study were people in terms of three domains namely family, neighborhood, and friendship. This study is a descriptive study which gives description of codes used by three domains in Air Kuning village. The data were collected through observation and interview. This study used participative observation. The result of the study shows that three domains: family, neighborhood and friendship do not influence the way people used the codes. The researcher found 96 codes which were used by people in Air Kuning village. Those codes were separated into question tag, register, form of address and daily languages. Air Kuning has the word yok as the question tag, 3 auxiliaries: budi, sa’a, seh, 6 registers: ngujur, ngerawe, deldel, katih, nyambeng, kalbok, 12 kinds of form addresse: icang, awak, nyai, beng, cung, cai, nanang, ketuk, mbok, lik, ruang, and 74 daily languages such as, barang, pati, kelambi, tongtongan, kalijepan, sepedaha, gara, incega, wet. Those codes were the mixed of Balinese language and Bugis language that they called as ‘bahasa kampung’keyword : descriptive study, codes used, Air Kuning village
AFFIXATION IN MELAYA PANTAI DIALECT: A DESCRIPTIVE STUDY OF MORPHOLOGICAL PROCESS ., Laras Wahyurini; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Drs.Gede Batan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3419

Abstract

Penelitian ini mendiskusikan tentang proses morfologi pada imbuhan yang ditemukan pada dialek Melaya Pantai yang berperan membentuk kata dan artinya ketika imbuhan tersebut ditambahkan pada kata dasar tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk menemukan jenis-jenis imbuhan pada dialek Melaya Pantai, (2) mengetahui proses imbuhan membentuk kata, dan (3) menemukan arti kata setelah mendapatkan imbuhan. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara, dan menggunakan beberapa instrumen seperti: peneliti itu sendiri, alat perekam, daftar kata, daftar kalimat, dan panduan wawancara. Subjek pemberi informasi dalam penelitian ini adalah pembicara asli dialek Melaya Pantai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dialek Melaya Pantai memiliki tiga jenis imbuhan. Imbuhan-imbuhan yang ditemukan yaitu: awalan {N-; me-; di-; ber-; ter-; se-}, akhiran {-i; -an; -ken; -nye}, dan imbuhan gabung {N-i; N-ken; ke-an; pe-an; me-i}. Disamping itu ada beberapa proses imbuhan yang ditemukan pada dialek Melaya Pantai yaitu; proses ellipsis, proses derivasional, dan proses infleksional. Dari proses imbuhan pada dialek Melaya Pantai ditemukan bahwa proses-proses tersebut dapat mengubah arti kata setelah mendapatkan imbuhan.Kata Kunci : Proses morpologi, Imbuhan, Dialek Melaya Pantai This research discussed about morphological process of affixation found in Melaya Pantai dialect which has roles in constructing words and their meaning when they were added to certain bases. The purposes of this research were: (1) to find the kinds of affixes in Melaya Pantai dialect, (2) to know the process of affixation constructing the word, and (3) to find the meaning of the word after getting the process of affixation. This research was designed as a descriptive qualitative research. The data were collected through observation and interview process, and it used some instruments such as: the researcher itself, recording tools, word list, sentence list and interview guide. The subjects in this research were the native speakers of Melaya Pantai dialect. The result in this study showed that Melaya Pantai Dialect had three kinds of affixes. Those affixes that were found are: prefix {N-; me-; di-; ber-; ter-; se-}, suffix {-i; -an; -ken; -nye}, and circumstance {N-i; N-ken; ke-an; pe-an; me-i}. Besides that there were some process of affixation found in Melaya Pantai Dialect; they were deletion process, derivational process, and inflectional process. From the process of affixation in Melaya Pantai Dialect it was found that those processes can change the meaning of the words after getting the affixation process.keyword : Morphological process, Affixation, Melaya Pantai dialect
AN ANALYSIS OF THE PHONOLOGICAL SYSTEM OF BALINESE LANGUAGE USED BY THE BALINESE DIASPORA IN MATARAM ., Ni Made Putri Saraswathy; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3448

Abstract

Penelitian ini mendiskusikan tentang Sistem fonologis Bahasa Bali masyarakat Diaspora Bali di Mataram. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk menemukan jumlah fonem, termasuk vokal, diftong, geminal, konsonan, dan gugus konsonan, 2) untuk menyelidiki proses fonologi dalam bahasa tersebut. Desain dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana penelitian ini menjabarkan tentang jumlah fonem dan proses fonologis yang ada di bahasa Bali masyarakat Diaspora Bali di Mataram dalam situasi tertentu. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti, dan instrumen lain yang digunakan adalah alat rekam, daftar kata, dan daftar kalimat. Pada penelitian ini ditemukan bahwaterdapat 30 fonem yang terdiri atas 6 vokal, 2 diftong, 3 geminal, dan 19 konsonan. Sedangkan dari empat proses fonologis menurut teori Schane (1973), hanya ada satu proses fonologis yang di temukan dalam bahasa Bali masyarakat Diaspora di Mataram, yakni proses struktur suku kata; penghilangan konsonan. Kata Kunci : Sistem fonologis, Bahasa Bali, Diaspora, Mataram This study mainly discusses about The Phonological System of Balinese Diaspora language in Mataram. The aims of this study were: 1) To find out the number of phonemes, including the vowels, diphthong, geminate, consonant and consonant cluster, 2) to explore the phonological process within the language itself. The design of this research was descriptive qualitative, in which this study describes the number of phonemes and the phonological process which exist in Balinese Diaspora language in certain situation. The main instrument was the researcher, and the other instruments that are used in this study are recorder and word list. The researcher found that there are 30 phonemes which include 6 vowels, 2 diphthongs, 3 geminates, and 19 consonants. Meanwhile, among the four types of phonological process according to Schane’s theory (1973) there are only one type of phonological process found by the researcher in BDL, that is syllable structure processes; consonant deletion.keyword : Phonological system, Balinese language, Diaspora, Mataram
A DESCRIPTIVE STUDY OF CODE MIXING USED BY PRO 1 AND PRO 2 BROADCASTERS IN RRI RADIO STATIONS ., I Wayan Astu Werdistira; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Ni LP. Eka Sulistia Dewi, S.Pd. M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3463

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis jenis campur kode yang digunakan oleh penyiar radio. (2) menganalisis perbedaan dalam hal campur kode yang digunakan oleh penyiar PRO 1 dan PRO 2 di stasiun radio RRI. (3) menganalisis alasan mengapa penyiar radio menggunakan campur kode dalam percakapannya. Penelitian ini dilakukan di RRI Singaraja, khususnya dalam program 'Goyang Dangdut' di PRO 1 dan program Request Gala 'di PRO 2 RRI Singaraja. Subyek penelitian ini adalah penyiar radio PRO 1 dan PRO 2 RRI Singaraja. Instrumen utama adalah peneliti sendiri, dan kemudian dalam pengumpulan data peneliti menggunakan alat perekam, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini seperti merekam, mewawancara dan mencatat. Ada empat langkah yang dilakukan dalam menganalisis data: menyalin data, mengidentifikasi data, komputasi data, dan penyimpulan data. Hasil analisis menemukan bahwa semua jenis campur kode digunakan oleh penyiar radio PRO 1 dan PRO 2 RRI Singaraja berdasarkan Jendra (2007). Seperti: (1) kode percampuran kedalam terjadi 34.6% pada 'Goyang Dangdut' dan 3.3% terjadi pada 'Request Gala', (2) kode percampuran keluar terjadi 62.1% pada 'Goyang Dangdut' sedangkan 94.9% terjadi pada 'Gala Request ', dan (3) kode percampuran hybrid terjadi 3.2% di' Goyang Dangdut 'dan 1.6% terjadi di' Request Gala '. Ada satu alasan mengapa penyiar RRI PRO 1 menggunakan campur kode: (1) untuk mengungkapkan solidaritas dengan suatu kelompok pada khususnya. Selain itu ada dua alasan mengapa penyiar RRI PRO 2 menggunakan campur kode: (1) untuk membuat pendengar bisa memahami kondisi yang terjadi dan apa yang kita bicarakan, (2) untuk menyampaikan sikap seseorang dengan memvariasikan dalam hal formalitas dalam percakapan mereka.Kata Kunci : Kata kunci: Campur Kode, Penyiar, RRI Singaraja This research aimed at (1) analyzing the type of code mixing used by radio broadcasters. (2) analyzing the difference in terms of code mixing used by PRO 1 and PRO 2 broadcasters in RRI radio station. (3) analyzing the reasons of why radio broadcasters used code mixing in his or her sentences. This study was conducted at RRI Singaraja, particularly in ‘Goyang Dangdut’ program at PRO 1 and ‘Gala Request’ program at PRO 2 RRI Singaraja. The subjects of this study were radio broadcasters of PRO 1 and PRO 2 RRI Singaraja. The main instrument was the researcher himself, and then in gathering data the researcher used tape recorder, observation sheet, and interview guide. The methods used in this research were recording, interviewing and taking note. There were four steps done in analyzing the data: transcribing the data, identifying the data, computing the data, and concluding data. The results of analysis found that all types of code mixing used by radio broadcasters of PRO 1 and PRO 2 RRI Singaraja based on Jendra (2007). Those are: (1) inner code mixing with 34.6% occurred in ‘Goyang Dangdut’ and 3.3% occurred in ‘Gala Request’, (2) outer code mixing with 62.1% occurred in ‘Goyang Dangdut’ whereas 94.9% occurred in ‘Gala Request’, and (3) hybrid code mixing with 3.2% ensued in ‘Goyang Dangdut’ and 1.6% ensued in ‘Gala Request’. There was one reason why RRI PRO 1 broadcasters used code mixing: (1) to express solidarity with a particularly group. Furthermore there were two reasons why RRI PRO 2 broadcasters used code mixing: (1) to make the listener could understand the condition happened and what we are talked about, (2) to convey his/her attitude by means of variation in the level of formality in their speech.keyword : Keywords: Code Mixing, Broadcasters, RRI Singaraja
COMMUNICATION STRATEGIES USED BY SOME SHOPKEEPERS IN GUNUNG KAWI TOURISM OBJECT TO COMMUNICATE WITH FOREIGN TOURISTS ., Ida Bagus Putu Suryadiputra; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 1 No. 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3489

Abstract

The existence of an ancient temple complex called Gunung Kawi in Tampaksiring, Gianyar makes the tourists from many countries visit the place. It encourages the shopkeepers in that area to communicate intensively to the tourists. Sometimes they use communication strategies to help them communicate. This study investigates the types of the communication strategies used by some shopkeepers in Gunung Kawi tourism object in communicating with foreign tourists, the type of communication strategies used most frequently by some shopkeepers and their reasons in applying communication strategies to communicate with foreign tourists. Two main methods used in this study were observation and interview. Five shopkeepers were observed. The findings of this study show that the shopkeepers used eight type of communication strategy namely approximation, circumlocution, clarification request, comprehension check, language switching, paralanguage, topic avoidance, and using pictures or objects. Paralanguage was the communication strategy which was used most frequently. Two main reasons why they applied communication strategies were found. They were to run the communication well and effectively, and to avoid misunderstanding during the communication process.Kata Kunci : Communication Strategies, Shopkeeper Keberadaan kompleks wisata pura Gunung Kawi di Tampaksiring, Gianyar menyebabkan banyaknya kunjungan wisata dari berbagai negara. Hal tersebut menyebabkan para pedagang cinderamata di tempat tersebut terbiasa berkomunikasi dengan para turis asing. Terkadang, mereka menggunakan strategi komunikasi untuk mempermudah komunikasi mereka. Penelitian ini membahas tentang tipe-tipe strategi komunikasi yang digunakan oleh para pedagang di tempat tersebut ketika berkomunikasi dengan turis asing, tipe strategi komunikasi yang paling sering digunakan ketika berkomunikasi dengan turis asing, dan alasan para pedagang tersebut menggunakan strategi komunikasi ketika berkomunikasi dengan turis asing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan interview dimana lima pedagang diobservasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa para pedagang yang diobservasi menggunakan delapan jenis strategi komunikasi yaitu approximation, circumlocution, clarification request, comprehension check, language switching, paralanguage, topic avoidance, and using pictures or objects. Paralanguage adalah tipe strategi komunikasi yang paling sering digunakan. Ada dua alasan utama tentang penggunaan strategi komunikasi yang dikemukakan oleh para pedagang yaitu untuk membuat komunikasi berjalan lancar dan efektif, serta untuk menghindari kesalahpahaman selama komunikasi berlangsung.keyword : Strategi Komunikasi, Pedagang
Co-Authors ., Dewa Gede Rai Bisma Putra ., Dewa Gede Rai Bisma Putra ., Eva Patra Sari ., I Gede Andre Agasi ., I Gede Andre Agasi ., I Kadek Wardita Eka Putra ., I Kadek Wardita Eka Putra ., Kadek Herma Ardianto Giri ., Kadek Herma Ardianto Giri ., Kadek Intan Nirmala Sari ., Kadek Intan Nirmala Sari ., Kadek Praditya Dicky Wijaya ., Kadek Praditya Dicky Wijaya ., Kadek Prajinggo Patrya ., Kadek Prajinggo Patrya ., KETUT ARYATI UTAMI ., KETUT ARYATI UTAMI ., Ketut Asri Primayani ., M. Mas Gustrini Dewi ., Made Arna Jyoti Sistadi ., Made Arna Jyoti Sistadi ., Made Arsana ., Made Eny Andraeni Putri ., Made Sukradana w ., Made Sukradana w ., Ni G. A. Kd Sukma Dwijayanti ., Ni G. A. Kd Sukma Dwijayanti ., Ni Kadek Meina Andriani ., Ni Kadek Meina Andriani ., Ni Kadek Sudiartini ., Ni Kadek Sudiartini ., Ni Kadek Winda Arianti ., Ni Kadek Winda Arianti ., Ni Luh Patma Gita ., Ni Luh Patma Gita ., Ni Made Arisani ., Ni Made Arisani ., Ni Made Sariningsih ., Ni Made Sariningsih ., Ni Nengah Intan Sariningsih ., Ni Nengah Intan Sariningsih ., Ni Nym. Ayu Padmitri ., Ni Putu Stefi Anjani Darmarini ., Ni Putu Stefi Anjani Darmarini ., Ni Putu Wahyuni Sri Rahayu Cahyani ., Ni Putu Wahyuni Sri Rahayu Cahyani ., Ni Wayan Paramita Dewi ., Ni Wayan Paramita Dewi ., Ni Wayan Ria Candra ., Ni Wayan Ria Candra ., Nyoman Suci Triasih ., Pande Ayu Cintya Ningrum ., Pande Ayu Cintya Ningrum ., PUTU DIKA PRATIWI ., PUTU DIKA PRATIWI ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd., M.Pd. ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd., M.Pd. ., Servasius. Tawurutubun ., Servasius. Tawurutubun ., Siti Umayah ., Siti Umayah ., Wayan Septiana Lusiantari ., Wayan Septiana Lusiantari Adnyani, Ni Luh Putu Sri Adnyayanti, Ni Luh Putu Era Alfillail, Nur Anak Agung Gede Yudha Paramartha Anak Agung Sagung Intan Yashira Dewi ., Anak Agung Sagung Intan Yashira Dewi Anasthasia Carmanita Peu Ubu Ari Puspitayani, Desak Made Ariyanthi, Ketut Eni Budhi Astu Okta Widhi Atmi ., Budhi Astu Okta Widhi Atmi Cahyaningsih, Putu Devi Costa, Yuliana Maria Da Dewa Ayu Eka Agustini Dewa Komang Tantra Dewa Putu Ramendra Dewi, Kadek Linda Puspita Dewi, Ni Putu Purnama Drs.Gede Batan,MA . Dwitamayanti, Ni Kadek G.A.P. Suprianti Gede Mahendrayana Gusti Ayu Putu Ari Utami Heni Pujiastuti Hitasthana, Made Satya I Dewa Gede Budi Utama I Gede Budasi I Gede Novan Giri Prabawa . I Gede Oka I GEDE SANDYANA . I Gede Tawa Utara Jaya . I GEDE WAYAN SUPARNA . I Gusti Ayu Megantari ., I Gusti Ayu Megantari I GUSTI NGURAH OCTOVA SEVENTILOFA . I Kadek Supriawan Adinatha ., I Kadek Supriawan Adinatha I Kadek Utama Putra ., I Kadek Utama Putra I Komang Widiasmara I MADE DWI JAYA PRADITYA . I Made Ekki Pramana Supardi . I Nengah Suardhana I Putu Eka Adi Sanjaya ., I Putu Eka Adi Sanjaya I Putu Yoga Laksana I Wayan Astu Werdistira . I Wayan Epri Gunadi I WAYAN PUTRAWAN . I Wayan Sandiyasa . I Wayan Suarnajaya I Wayan Swandana Ida Bagus Manuaba Ida Bagus Putu Suryadiputra . Iga Putu Sukasari ., Iga Putu Sukasari Kadek Dhea Paramitha Amara Putri Kadek Diah Cahya Nita ., Kadek Diah Cahya Nita Kadek Sintya Dewi Kadek Sonia Piscayanti Km Adi Nariyana p ., Km Adi Nariyana p KOMANG AGUS OKA SAPUTRA . Laksana, I Putu Yoga Laras Wahyurini . Luh Diah Surya Adnyani Luh Gd Rahayu Budiarta Luh Gede Eka Wahyuni Luh Made Astiti Partama . LUH MEGA SAFITRI . Luh Putu Artini Luh Sri Damayanti ., Luh Sri Damayanti M.L.S ., Dr.Sudirman, M.L.S M.Pd ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd M.Pd Prof. Dr. I Nyoman Sudiana . M.Pd. ., Made Hery Santoso, S.Pd, M.Pd. Made Dewi Suparwati . Made Erwinda Febriyanti Made Hery Santosa Made Ika Sukmadewi Made Satya Hitasthana Mayori, Winda Muhamad Nur Huda Myartawan, Putu Ngurah Wage N M.G. Purnamasari Ni Kadek Ariasih . Ni Kadek Dinda Saraswati Ni Komang Arie Suwastini Ni Luh Dewi Antari ., Ni Luh Dewi Antari Ni Luh Emy Astuti Ni Luh Sutrisna Diyani Ni Made Dwi Dharmayanti Ni Made Gina Purnamasari ., Ni Made Gina Purnamasari Ni Made Lia Kesumayanti . Ni Made Putri Saraswathy . Ni Made Ratminingsih NI MADE TRIANI . Ni Nyoman Padmadewi Ni Nyoman Trisna Utami . Ni Putu Astiti Pratiwi Ni Putu Era Marsakawati Ni Putu Oktaviana Dewi ., Ni Putu Oktaviana Dewi Ni Wayan Surya Mahayanti Ni Wayan Yuni Lisnayanti ., Ni Wayan Yuni Lisnayanti Nora Idiawati Nyoman Karina Wedhanti Nyudak, Dwi Tahamata Paramarta, I Made Suta Peu Ubu, Anasthasia Carmanita Pramilaga, Ni Made PRATAMA, I PUTU SURYA Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA . Prof. Dr.I Ketut Seken,MA . Purnamasari, N M.G. Putra, Pande Agus Putu Dharma Putri Rahmayanti Putri, Kadek Dhea Paramitha Amara Putri, Ni Kadek Rai Sintia Putu Adi Krisna Juniarta Putu Dika Pratiwi Putu Kerti Nitiasih Putu Ngurah Wage Myartawan Putu Suarcaya PUTU WIWIN SUPANDENI . Ratih Apriliani Rinawati, Ni Kadek Ayu S.Pd. I G A Lokita P Utami . S.Pd. I Putu Ngurah Wage M . S.Pd. M.Pd. Ni LP. Eka Sulistia Dewi . S.Pd. Putu Eka Dambayana S. . Sahrullah Sahrullah Sang Ayu Putu Sriasih Saputra, I Nyoman Pasek Hadi Sastaparamitha, Ni Nyoman Ayu J. Sri Pithamahayoni . Sukmadewi, Made Ika Swandewi, Komang Sri Via Delfia Br Karo Virginiya, Putu Tika