p-Index From 2021 - 2026
4.777
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Electrical and Computer Engineering MEDIA PETERNAKAN - Journal of Animal Science and Technology Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Buletin Peternakan Pastura; Journal Of Tropical Forage Science Jurnal Veteriner Jurnal Ilmu Lingkungan JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Jurnal Sain Peternakan Indonesia Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Jurnal Ilmu Ternak Veteriner WARTAZOA Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences Jurnal Ternak Tropika AGRIVITA, Journal of Agricultural Science JITRO (Jurnal Ilmiah dan Teknologi Peternakan Tropis) IJFAC (Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry) Jurnal Pertanian Terpadu Animal Production : Indonesian Journal of Animal Production Buletin Ilmu Makanan Ternak Jurnal Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Journal of Tropical Crop Science Jurnal Medik Veteriner Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences) Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) Jurnal Nutrisi Ternak Tropis (JNT) Indonesian Journal of Electrical Engineering and Computer Science Jurnal Triton Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat AGRIEKSTENSIA Jurnal Kedokteran Hewan Scientific Journal of Informatics Jurnal Agripet
Claim Missing Document
Check
Articles

Performans Reproduksi Sapi Bali Berbasis Agroekosistem Di Pulau Timor Fellyanus Habaora; Asnath Maria Fuah; Luki Abdullah; Rudy Priyanto; Ahmad Yani; Bagus Priyo Purwanto
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.02.7

Abstract

Penelitian berlokasi di Pulau Timor yang dilaksanakan bulan Januari-Desember 2018. Lokasi penelitian dipilih purposive untuk agroekosistem pasture, pertanian, perkebunan, dan hutan. Penentuan responden 5-10% jumlah peternak masing-masing agroekosistem yang memiliki sapi Bali >10 ekor. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan umur berahi dan umur kawin pertama sapi Bali betina agroekosistem pasture 1,3 tahun dan 1,9 tahun; agroekosistem perkebunan 1,3 tahun dan 2 tahun; agroekosistem pertanian 1,4 tahun dan 1,7 tahun; dan agroekosistem hutan adalah 1,4 tahun dan 1,8 tahun. Kemudian umur sapi beranak pertama sapi betina di agroekosistem pertanian 2,8 tahun; agroekosistem pasture dan hutan 2,9 tahun; dan agroekosistem perkebunan 3 tahun. Siklus berahi dan lama berahi sapi betina di agroekosistem pasture 27 hari dan 21,5 jam; agroekosistem hutan 25 hari dan 26,8 jam; agroekosistem pertanian 24 hari dan 28 jam; dan agroekosistem perkebunan 24 hari dan 25,8 jam. Service per conception Sapi di agroekosistem perkebunan 2,2 kali; agroekosistem hutan 2,3 kali; agroekosistem pasture 2,4 kali; dan agroekosistem pertanian 2,6 kali. Periode kebuntingan sapi di agroekosistem perkebunan 9,5 bulan; agroekosistem pertanian 9,4 bulan; agroekosistem pasture 9,3 bulan; dan agroekosistem hutan 9,2 bulan. Calf crop ternak sapi di agroekosistem pasture 62,77%; agroekosistem hutan 54,74%; agroekosistem pertanian 51,41%; dan agroekosistem perkebunan 32,74%. Days open sapi di agroekosistem perkebunan 1,1 tahun; agroekosistem hutan 1 tahun; agroekosistem pertanian 9 bulan; dan agroekosistem pasture 8 bulan. Conception rate sapi di agroekosistem hutan 56%; agroekosistem pertanian 53,4%; agroekosistem pasture 50,3%; dan agroekosistem perkebunan 33,7%. Calving interval sapi di agroekosistem perkebunan 2,8 tahun; agroekosistem pertanian 2,7 tahun; agroekosistem pasture 2,5 tahun; dan agroekosistem hutan 2,4 tahun. Laju peningkatan populasi ternak per tahun di agroekosistem hutan, yaitu 11,19%; agroekosistem pasture 11,06%; agroekosistem pertanian 8,60%; dan agroekosistem perkebunan 7,44%.
Pengaruh Jarak Tanam pada Pertumbuhan Beberapa Varietas Sorgum Hybrid Sebagai Sumber Pakan Hajar Hajar; Luki Abdullah; Didid Diapari
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 2 (2019): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.259 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i2.5857

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan pada beberapa varietas sorgum hybrid, serta menetapkan jarak tanam yang optimal pada tanaman sorgum. Penelitian ini  dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Agrostologi Fakultas Peternakan IPB. Perlakuan dalam penelitian ini disusun secara faktorial (3x2) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan empat ulangan.  Faktor pertama adalah varietas 12FS9006, 13FB7001 dan 12S49001. Faktor kedua adalah  jarak tanam 25x25 cm dan 25x40 cm. Hasil penelitian menunjukan varietas sorgum berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap tinggi tanaman, diameter-2 batang, lebar, panjang dan jumlah daun.  Interaksi antara varietas dan jarak tanam tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan. Demikian dengan jarak tanam tidak memberikan pengaruh nyata. Kesimpulan varietas 12S49001 memiliki pertumbuhan tanaman yang paling tinggi dan  jarak tanam optimun 25x25 cm. Varietas yang unggul ada pada varietas  12S49001 sebaiknya dikembangkan  sebagai pakan ternak.Kata Kunci:  jarak tanam, pertumbuhan, varietas hybrid.ABSTRACTThiese reseach aim was to evaluate growth of hybird sorghum varieties and well as establish the most ideal spacing on sorghum plants. This study was conducted in Agrostology Laboratorium Animal Science Faculty IPB. This study was arranged by 3x2 factorial in block randomized block design (RBD) with six treatments and four replications. The first factor was the varieties 12FS9006, 13FB7001 and 12S49001 varieties. The second factor was spac of 25x25 cm and 25x40 cm. The result showed sorghum varieties was significantly different (P<0,05) on plant height, stem diameter, width, length and number of leaves. Interaction between variety and plant spacing was not significantly on growth, so as plant spacing was not significantly. It concluded the highest growth of sorghum varieties 12S49001 and spac 25x25 cm was the best plan spac for hybrid sorghum.Keywords: hybrid varieties, growth, spacing
Profile of Farmers Based Feed Management and Animal Health of Bali Cattle in Agroecosystem Variation at Timor Island Jefirstson Richset Riwukore; Asnath Maria Fuah; Luki Abdullah; Rudy Priyanto; Ahmad Yani; Bagus Priyo Purwanto; Fellyanus Habaora
Buletin Peternakan Vol 45, No 2 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (2) MAY 2021
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v45i2.49417

Abstract

The research objective was to determine the profile of smallholder farms based on the aspects of feed management and animal health in different agro-ecosystems on Timor Island. The research was carried out for 6 months, from June to December 2018. The research location was determined by purposive sampling, namely (1) pasture agroecosystem in District of Belu, Malaka, and Timor Tengah Utara, (2) agricultural agroecosystem in Kupang Regency and Kupang City, (3) plantation agroecosystems in Kupang Regency, and (4) forest agroecosystems in District of Timor Tengah Selatan. The purposive stratified proportional sampling method was used to determine the number of samples according to the Slovin formula at an error probability of 0.05 (5%) so that the sampling of respondents was 436 people. Types of data used are primary and secondary data with data methods by observation, interviews (questionnaires), and documentation. Descriptive quantitative data analysis described in a narrative manner. The results showed that for the aspect of feed management, feed preservation was only done by some farmers, with the highest to lowest percentage of actors being plantation agroecosystems (12.8%), agriculture, (5.9%), pasture (1.6%) and forest (0%). Whereas in the aspect of livestock health, the highest to lowest vaccination implementers were carried out in agricultural agroecosystems (98.0%) followed by plantations (92.2%), pasture (66.9%) and forests (44.8%).
EVALUASI PENGARUH FAKTOR IKLIM PADA PEMBENTUKAN RANGKUM BUNGA DAN POLONG Indigofera zollingeriana Nur Rochmah Kumalasari; Cathleya Rosadi; Luki Abdullah
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 7 No 2 (2018): Pastura Vol. 7 No. 2 Tahun 2018
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.253 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2018.v07.i02.p10

Abstract

Faktor lingkungan dapat mempengaruhi produktivitas legum baik hijauan maupun bibit Indigofera. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh faktor lingkungan pada pembentukan rangkum bunga dan polong Indigofera. Tanaman Indigofera mulai ditanam pada bulan April 2016 kemudian diamati pertumbuhan bunga dan polong mulai 28 Agustus – 31 Oktober 2016. Tanaman dikelompokkan dengan jarak antar tanaman adalah 1 x 1,5 m; 1,5 x 1,5 m dan 2 x 1,5 m. Parameter yang diukur adalah jumlah rangkum bunga dan jumlah polong. Faktor iklim yang dievaluasi adalah suhu, kelembaban, curah hujan, lama penyinaran, dankecepatanangin rata-rata selama masa penanaman. Data iklimdiambildari data BMKG 2016-2017. Data yang diperoleh dianalisis Analysis of Variance Matrix Unbalanced untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap rangkum bunga dan jumlah polong. Analisis menggunakan software statistik R 3.3.2. Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa faktor lingkungan mempengaruhi yang dapat mempengaruhi pembentukan rangkum bunga Indigofera adalah lama waktu penyinaran matahari, sedangkan pembentukan polong cenderung dipengaruhi kecepatan angin rata-rata. Kata kunci: Indigofera zollingeriana, iklim, rangkum bunga, polong
EFEKTIVITAS VERMIKOMPOS EISENIA FOETIDA SAVIGNY DALAM MEMPERBAIKI TINGKAT PRODUKSI DAN KUALITAS NUTRISI Sorghum bicolor (L.) Moench DAN Centrosema pubescens Benth Asep Tata Permana; Luki Abdullah; Panca Dewi Manuhara Karti; Toto Toharmat; Suwarno Suwarno
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 5 No 1 (2015): Pastura Vol. 5 No. 1 Tahun 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.066 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2015.v05.i01.p08

Abstract

Vermicomspost is an organic product resulted from metabolism process of soil worm like Eisenia foetida Savigny. The experiment was conducted to evaluate the effectivity of vermicompost derived from E. Foetida Savigny in improvement of growth, biomass production and quality of Sorghum bicolor (L.) Moench and Centrosema pubescencs. The results showed that application of vermicompost effectively improved growth, biomass production and N, P, K content of above ground biomass of those experimental plants.Keywords : vermicompost, productivity, quality.
VALUATION OF EISENIA FOETIDA EARTHWORMS AND MULCH APPLICATION ON THE GROWTH AND THE QUALITY OF SORGHUM BICOLOR PLANT IN DRAMAGA LATOSOL SOIL Asep Tata Permana; Luki Abdullah; Panca Dewi M. H. K.; Suwarnao -
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 10 No 1 (2020): Pastura Vol 10 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2020.v10.i01.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian cacing tanah Eisenia foetida dan pemberian mulsapada media tanam terhadap pertumbuhan dan kualitas tanaman Sorghum bicolor. Penelitian dilakukan dirumah kaca Laboratorium Agrostologi, Fakultas Peternakan IPB pada tahun 2017. Rancangan percobaanyang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor, yaitu faktor cacing tanahE. foetida (0 dan 60 cacing.pot-1), serta faktor mulsa (tanpa mulsa, mulsa organik, mulsa anorganik).Semua perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Tanah yang digunakan adalah tanah latosolDramaga yang telah dikeringkan dan diayak dengan ayakan 5 mm. Jumlah tanah yang digunakan adalah5 kg BKU (berat kering udara) tiap pot. Panen Sorghum bicolor dilakukan 60 HST (hari setelah tanam).Pemberian cacing sangat nyata meningkatkan berat kering akar, daun dan tajuk tanaman. Pemberian mulsatidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap semua parameter tanaman. Terdapat interaksi antaracacing dan mulsa terhadap akumulasi N tanaman. Pemberian mulsa organik memberikan peningkatan yangnyata jumlah cacing dibandingkan dengan pemberian mulsa anorganik. Pemberian cacing menunjukkanmanfaat terhadap produktivitas tanaman Sorghum bicolor dimana manfaatnya akan lebih besar apabiladikombinasikan dengan pemberian mulsa organik.Kata kunci: Eisenia foetida, Sorghum bicolor, latosol, mulsa
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS Indigofera sp. SEBAGAI PAKAN HIJAUAN BERKUALITAS TINGGI MELALUI APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR: 1. PRODUKSI HIJAUAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KONDISI TANAH Suharlina Suharlina; Luki Abdullah
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 1 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.368 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2012.v01.i02.p02

Abstract

The food flavor manufacture waste (called Sipramin) have a great potential to used as liquid organic fertilizer due to the nutrition contents that needed by plants. The objectives of this research were to evaluate the effect of sipramin as liquid organic fertilizer on soil condition, re-growth, and herbage productivity of Indigofera sp. For ruminants. This experiment used factorial completely randomized design; the first factor was fertilizer dosages (0, 10, 20 and 40%) and the second factor was fertilization times (30 and 15 days before harvested [dbh]). The observed variables were soil chemical and biological characteristic, re-growth and forage production, and nutritive value of Indigofera sp. for ruminants. The data were analyzed by analysis of variance. The result showed that the soil nitrogen, number of phosphate resolvability bacteria and Rhizobium sp. were significantly different (P<0.05) on 40% fertilizer dosage than the other treatments. The phosphate resolvability bacteria and available phosphate (P available) of 15 dbh were higher than 30 dbh. Sipramin fertilizer of 40% dosage improved C-organic content and carbon to nitrogen (C/N) ratio value of soil, and significantly (P<0.01) increased forage production (leaf and steam). The leaf and steam ratio of 15 dbh were higher than 30 dbh. There were significantly different (P<0.01) on number of root nodule on 40% dosage than others. The addition of 40% sipramin at 15 dbh fertilization time showed the best result to chemical and biological soil characteristic, re-growth, and productivity of Indigofera sp.
Performa Produksi Sapi Bali Berbasis Agroekosistem di Pulau Timor Fellyanus Habaora; Asnath Maria Fuah; Luki Abdullah; Rudy Priyanto; Ahmad Yani; Bagus Priyo Purwanto
Jurnal Veteriner Vol 21 No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.372 KB)

Abstract

Pulau Timor merupakan daerah produksi sapi Bali di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi lahan adalah tipe kering sehingga pembatas utama produktivitas sapi adalah pakan. Manajemen pemeliharaan ternak masih tradisional sehingga input dari peternakan pun rendah. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa agroekosistem memengaruhi produktivitas ternak. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian tentang performans produksi sapi Bali berbasis agroekosistem sejak bulan Januari-Desember 2018. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui performans produksi sapi Bali di empat agroekosistem di Pulau Timor, yaitu agroekosistem padang rumput, pertanian, perkebunan, dan hutan. Lokasi penelitian dipilih secara purposive yang mewakili agroekosistem padang rumput, pertanian, perkebunan, hutan. Penentuan responden adalah 5-10% dari jumlah peternak pada setiap agroekosistem yang memiliki sapi Bali >10 ekor. Responden diwawancarai menggunakan daftar kuisioner yang telah disiapkan. Disamping wawancara, juga dilakukan observasi ke lapangan untuk pengukuran performans produksi sapi Bali. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan performa produksi sapi Bali di agroekosistem padang rumput dan agroekosistem perkebunan lebih baik dibandingkan ternak sapi Bali di agroekosistem pertanian dan hutan pada rentang umur 3,5-3,9 tahun. Ukuran badan terpanjang dihasilkan oleh sapi-sapi yang dipelihara pada agroekosistem hutan, sedangkan ukuran lingkar dada terbesar ditampilkan oleh sapi-sapi yang berada di agroekosistem padang rumput, dan ukuran pundak tertinggi dicapai oleh sapi-sapi yang berada di agroekosistem hutan. Secara umum nilai skor kondisi tubuh (SKT) tubuh sapi Bali pada empat agroekosistem menunjukkan kondisi tubuh yang cukup gemuk sampai dengan gemuk. Dengan demikian performa produksi sapi Bali di Pulau Timor sangat dipengaruhi oleh agroekosistem.
STATUS NUTRISI DAN KINERJA REPRODUKSI INDUKAN SAPI BALI PADA PETERNAKAN RAKYAT DENGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI Zikril Hidayat; Rudy Priyanto; Henny Nuraini; Luki Abdullah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v24n2.2021.p249-259

Abstract

Nutritional status and reproductive performance of Bali cows in smallholder farming integrated system of palm oil-cattle. This study aimed to determine the status of nutritional adequacy and reproductive performance of Bali cows on smallholder farms in an integrated system of oil palm-cattle. The cattle were raised under intensive, semi-intensive and extensive management. The research was conducted from August 2020 to January 2021 in Sungai Selan and Romadon Village, Sungai Selan District, Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province. The material used was 127 Bali cows which were reared under a full intensive management (34 heads), semi-intensive management (48 heads), and extensive management(45 heads). The parameters observed were the daily nutrients consumed, and the reproductiveability, which included by age, body condition score, age at puberty, age at first mating, service per conception, age at first birth, calf birth weight, age of weaning, postpartum lust, and calving interval. Research result showed that the protein consumption of cows reared in an integrated system of oil palm-cattle under semi-intensive and extensive managementdid not fulfill the requirements for pregnancy and lactation. In addition, the extensive management also found to be lacks of Calsium for pregnancy and lactation. Furthermore the intensive rearingmanagementscused delayed age at first mating, increased S/C, increased age at first birth, slightly increased calf birth weight, and reduced calf weaning age. Keywords: Nutritional status, Bali cow,reproductive performance, palm oil-cattle integration system ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kecukupan nutrisi dan kinerja reproduksi induk sapi Bali pada peternakan rakyat melalui sistem integrasi sawit-sapi yang dipelihara dengan pola intensif, semi intensif dan ekstensif.Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2020 sampai dengan Januari 2021 di Kelurahan Sungai Selan dan Desa Romadon Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bahan yang digunakan adalah induk sapi Bali sebanyak 127 ekor yang dipelihara dengan sistem integrasi sawit-sapi dengan pola intensif, semi intensif, dan ekstensif masing-masing sebanyak 34 ekor, 48 ekor, dan 45 ekor. Parameter yang diamati adalah nutrisi pakan harian yang dikonsumsi, dan reproduksi yang meliputi umur, body condition score (BCS), umur pubertas, umur pertama kawin, service per conception (S/C), umur beranak pertama, berat lahir pedet, umur sapih pedet, berahi setelah melahirkan, dan selang beranak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi protein induk sapi Bali yang dipelihara pada sistem integrasi sawit-sapi dengan pola pemeliharaan semi intensif dan ekstensif belum memenuhi kebutuhan untuk kebuntingan dan laktasi. Selain itu pada pola ekstensif menunjukkan kekurangan kalsium (Ca) untuk kebuntingan dan laktasi. Pola pemeliharaan intensif menundaumur pertama kawin, meningkatkan S/C, meningkatkan umur beranak pertama, meningkatkan berat lahir pedet, mempercepat umur sapih pedet. Kata kunci: Status nutrisi, sapi Bali, performan reproduksi, integrasi sawit-sapi
Evaluasi Potensi Keragaman Hijauan Penutup Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Kabupaten Aceh Timur Provinsi Aceh Fachrul Akbar; Nur Rochmah Kumalasari; Luki Abdullah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.163-169

Abstract

Kabupaten Aceh Timur memiliki area perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai 25,997 ha. Namun, analisis terhadap keragaman dan potensi produksi hijauan yang di area perkebunan kelapa sawit belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi keragaman hijauan yang tumbuh di area perkebunan kelapa sawit rakyat Kabupaten Aceh Timur. Penentuan titik plot pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, berdasarkan kriteria umur tanaman sawit yaitu TBM (0-3 Tahun), Muda (4-8 tahun), Remaja (9-14 tahun), Dewasa (15-20 tahun) dan Tua (20-25 tahun). Parameter yang diamati meliputi keragaman, produksi hijauan segar, produksi bahan kering dan kandungan nutrisi hijauan. Spesies yang mendominasi pada area TBM yaitu Asystasia gangetica L, Imperata cylindrica, Oplismenus compositus, Panicum repens dan Paspalum conjugatum dengan INP 14,29. Spesies yang mendominasi pada area tanaman muda yaitu Axonopus compressus, Clidemia hirta dan Drymaria cordata dengan INP 19,64. Spesies yang mendominasi pada area tanaman remaja yaitu Panicum repens, Paspalum conjugatum dan Urochloa reptans L dengan INP 20,41. Spesies yang mendominasi pada area tanaman dewasa yaitu Adiantum hispidulum Sw dan Nephrolepis biserrata dengan INP 20,00. Spesies yang mendominasi pada area tanaman tua yaitu Imperata cylindrica dan Clidemia hirta L dengan INP 33,33. Potensi produksi hijauan mencapai mencapai 13,37 ton ha-1 hijauan segar dan 3,19 ton ha-1 bahan kering. Kandungan protein kasar yang berasal dari hijauan di bawah naungan kelapa sawit berkisar antara 8,55% - 12,84%, sedangkan kandungan serat kasar berkisar antara 17,65% - 24,70%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa keragaman hijauan di bawah naungan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Timur dikategorikan sedang.
Co-Authors . Nurlaha . Supriyanto A Ali Adrial Adrial Adrial Adrial, Adrial Afsitin Joan Tatra Agus Oman Sudrajat Ahmad Darobin Lubis Ahmad Yani ahmad yani Ahmad Yani Amalia, Ghina Tazkia Anisa Rahmawati Solikah Anwar Efendi Harahap Apriadi Pasaribu Arief, Irma Isnafia Arif Hidayad Ashari Armaji, Yone Asep Tata Permana Asep Tata Permana Asnath Maria Fuah, Asnath Maria Astuti DA Astuti DA Asyidiqy, Tantri Azhar, Muhammad Nur Azib Ernawati - Bagus Priyo Purwanto Bayu Nuari Ramadhan Berta Putri Cathleya Rosadi Choirul Badriah D Sopandi D Sopandi D.A. Astuti Dedi Ramdani Desi Purnamasary Banurea Despal Despal DEWI APRI ASTUTI Dewi Ayu Lestari Diana Sawen Didid Diapari Dwi Mulyasih Dwi Mulyasih Edi Erwan Eko Heru Dumadi Enggi Rizki Pratama Erwan, Edi Fachrul Akbar Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fellyanus Habaora Fensa Eka Widjaya Fitra, Deni Guslian Abdul Basir Hajar Hajar Harianti, Fitri Harun Djuned Harwanto Harwanto Henny Nuraini Heri Sukria Herilimiansyah Herilimiansyah I Anas Ida Ayu Putu Sri Widnyani Idat Galih Permana Imas Sukaesih Sitanggang Indra Gumay Yudha Irma Isnafia Arief Irman Hermadi Iwan Herdiawan Iwan Herdiawan Iwan Prihantoro Iwan Prihantoro Jefirstson Richset Riwukore Jefirstson Richset Riwukore Jefirstson Richset Riwukore Kahfi Heryandi Suradiradja Karti PDMH Karti PDMH Kathleya Rosadi Komarsa Gandasasmita Laili Fithri Hidayati Lilis Khotijah Luis Marnisah M A Chozin M Agus Setiadi Mansyur Mansyur Mona Lastri Lani mufti, abdul Muhammad Ridla N R Kumalasari Nahrowi Nahrowi Nazla Iftikhar Niken Ulupi Nur Rochmah Kumalasari Nur Rohmah Kumalasari P.M.D.H Karti, P.M.D.H Panca Dewi M. H. K. Panca Dewi Manu Hara Karti Panca DMH Karti Priskila Sophia Hutapea Rita Mutia Rizal Putra Rizki Eka Puteri Rizki Palupi Rudi Afnan Rudi Priyanto Rudi Priyanto Rudy Priyanto Rustama Saepudin Sadarman Sadarman Salundik Satria Mulyadi Putra, Erlangga Satwika, Prawesa Shelvie Nidya Neyman Sitanggang, Imas S. Somanjaya, Rachmat SRI RAHAYU Suharlina Suharlina Sumiati . . Sumiati Sumiati Sunardi Suradiradja, Kahfi Heryandi Suwardi Suwardi Suwarnao - Suwarno, Suwarno Tenti Rahmawati Tenti Rahmawati, Tenti Tidi Dhalika Toto Toharmat Yayang Lilik Abdul Holik Yohanes Susanto Yuli Retnani Yundari, Yundari Zikril Hidayat