Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penetapan Kadar Flavonoid Total Dan Fenol Total Dari Tanaman Pacing Pentul (Costus spicatus) Asep Roni; Intan Sri Mulyati; Dadang Juanda
Indonesian Journal of Herbal Science and Innovation Vol. 1 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Herbal Science and Innovation (IJHerbSI)
Publisher : PT CENDEKIA SCIENCE AND TECHNOLOGY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64673/ijherbsi.v1i2.11

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menstabilkan radikal bebas melalui mekanisme donor elektron, sehingga dapat mencegah terjadinya reaksi berantai yang berpotensi merusak sel, protein, lipid, dan enzim. Pacing pentul (Costus spicatus) adalah tanaman dari genus Costus yang diketahui mengandung flavonoid dan senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan dalam menetralkan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar flavonoid total dan fenol total pada ekstrak daun dan rimpang pacing pentul. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode refluks bertingkat dengan pelarut berbeda tingkat kepolarannya, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol 96%. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan menggunakan pereaksi AlCl₃, sedangkan kadar fenol total ditetapkan menggunakan pereaksi Folin–Ciocalteu. Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 415 nm untuk flavonoid dan 765 nm untuk fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% memiliki kadar flavonoid total tertinggi, baik pada daun (9,049 mg QE/100 mg ekstrak) maupun rimpang (4,424 mg QE/100 mg ekstrak). Kadar fenol total tertinggi juga diperoleh dari ekstrak etanol 96%, masing-masing sebesar 7,984 mg GAE/100 mg ekstrak pada daun dan 3,868 mg GAE/100 mg ekstrak pada rimpang.
Herbal-Based Community Training For Hypertension Prevention Using TENSITEA Vina Juliana Anggraeni; Asep Roni; Siti Saidah Mutmainah; Anne Yuliantini; Deden Indra Dinata
Karya Kesehatan Siwalima Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/kks.v4i2.1687

Abstract

Hypertension remains one of the most prevalent non-communicable diseases worldwide and is increasingly becoming a health burden in Indonesian communities. Limited knowledge about hypertension and the lack of access to preventive strategies contribute to its high incidence in rural areas. This community empowerment program was conducted to improve public understanding of hypertension and to provide practical training on the production of a herbal tea formulation, known as Tensi Tea, using locally available ingredients such as breadfruit leaves, bay leaves, and cinnamon. The activity took place in Mandalawangi Village and involved community members, local health cadres, and students. The program was implemented in several stages, including educational sessions on hypertension prevention, interactive discussions, and hands-on training in harvesting, processing, and packaging herbal ingredients into tea bags. Participants were actively engaged, demonstrated high enthusiasm, and were able to produce the herbal tea product independently by the end of the training. The results showed an increase in community knowledge regarding risk factors and prevention of hypertension, as well as enhanced skills in producing a simple herbal preparation that has the potential to support both health promotion and local economic opportunities. In conclusion, education on hypertension prevention, accompanied by training on herbal tea, is an effective strategy to empower communities. It is recommended that similar programs be expanded to other rural areas and supported by local health services to ensure sustainability.
The UTILIZATION OF MEDICINAL PLANT COLLECTION IN BOGOR BOTANICAL GARDEN FOR WOUND HEALING sakina istiqomah; Asep Roni; Raden Herni Kusriani; Syamsul Hidayat
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3007

Abstract

Medicinal plants play an essential role in human health by treating various diseases, including wound healing. Bogor Botanical Gardens (KRB) serve as a conservation site for numerous medicinal plant species. This study aims to explore the use of medicinal plants in KRB for wound healing activities. Using a qualitative descriptive method, data were collected on plant species with known wound-healing properties. The study identified 65 species with potential, predominantly from the Fabaceae family. Notable examples include Archidendron clypearia, Caesalpinia coriaria, Cassia fistula, Peltophorum pterocarpum, Spatholobus littoralis, and Tamarindus indica, each with specific ethnobotanical uses. Among them, Tamarindus indica was found to be the most effective, capable of closing wounds by the fifth day. Plant parts used in treatment include leaves, bark, stems, sap, and others, commonly applied through compression or topical use. This study highlights the significant potential of KRB’s medicinal plant collection in contributing to traditional and scientific approaches to wound healing.
Literature review on the activity of kepuh plant (Sterculiafoetida L.) as a natural antioxidant Dewi Kurnia; Asep Roni; Kiki Dwi Rahayu
Journal of Agritechnology and Food Processing Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jafp.v4i1.24831

Abstract

Kepuh (Sterculiafoetida L.) is a traditional medicinal plant that is a source of secondary metabolites, also known for its phenolic content as an antioxidant and antibacterial.   The kepuh plant has been scientifically proven to have anti-inflammatory and analgesic activities. The preparation of this literature review aims to provide information on the efficacy of the kepuh plant as an antioxidant. The methods used to test the antioxidant activity of kepuh are DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) and ABTS (2,2-Azinobis-3-ethyl benzhothiazoline-6-sulfonic acid). Antioxidant activity is determined from the IC50 value. Where, the lower the IC50 value, the stronger the antioxidant activity of a sample.  The conclusion from this literature search is that kepuh is a plant that has strong antioxidant activity.
Pemberdayaan Komunitas PILAR SAP melalui Penerepan Pengendalian Mutu Sederhana pada Produk Herbal Rumah Tangga Vina Juliana Anggraeni; Asep Roni; Deden Indra Dinata; Anne Yuliantini; Ilyas Nur Fatahillah
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (PEMAS) Vol. 3 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Ran Edu Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63866/pemas.v3i2.128

Abstract

Produksi minuman herbal rumah tangga di tingkat komunitas terus berkembang sebagai bagian dari pemanfaatan bahan alam lokal dan penerapan gaya hidup sehat. Namun, proses pengolahan produk herbal masih banyak dilakukan secara tradisional tanpa penerapan pengendalian mutu sederhana, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas, keamanan, dan konsistensi produk. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas komunitas PILAR SAP dalam menerapkan pengendalian mutu sederhana pada produk herbal rumah tangga. Metode yang digunakan adalah pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) melalui identifikasi potensi komunitas, penyuluhan, pelatihan praktik, pendampingan, dan evaluasi partisipatif. Kegiatan diikuti oleh 33 peserta yang terdiri atas orang tua dan anggota komunitas Sekolah Alam Purwakarta. Program meliputi pelatihan pembuatan minuman herbal serta penerapan uji pH dan uji organoleptik sebagai bentuk pengendalian mutu sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menjaga mutu, higienitas, dan konsistensi produk herbal rumah tangga. Peserta juga mampu menerapkan analisis sederhana secara mandiri pada produk yang dibuat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penerapan pengendalian mutu sederhana dapat menjadi pendekatan aplikatif dalam pemberdayaan komunitas untuk mendukung pengembangan produk herbal yang lebih aman dan berkualitas.