Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

REGISTER BAHASA PENJUAL IKAN DI PASAR GUNUNG JAYA KABUPATEN KOLAKA TIMUR Jumriah Jumriah; Andi Saadillah; Siti Nursholehah
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2023): Language and Culture Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v5i2.6054

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan register bahasa dari penjual ikan yang mayoritas bersuku Jawa, namun ketika mereka berinteraksi dengan pembeli dari suku lain mereka terkadang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang sama dengan yang pembeli gunakan. Misalnya ketika pembeli bersuku Bugis dan menggunakan bahasa Bugis maka penjual memakai bahasa yang sama apabila bahasa yang digunakan oleh pembeli juga dikuasai oleh penjual ikan. Namun bahasa yang paling sering digunakan dalam interaksi jual beli adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan register bahasa penjual ikan di pasar Gunung Jayabupaten Kolaka Timur. Metode penelitian yakni penelitian kualitatif dengan sumber data berupa tuturan penjual ikan di pasar Gunung Jaya yang terletak di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Dangia, Kabupaten Kolaka Timur. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik simak, rekam, catat, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan 24 tuturan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk dan fungsi register bahasa penjual ikan di Pasar Gunung Jaya, Kabupaten Kolaka Timur yang terdiri dari dua bentuk register yaitu (1) register selingkung terbatas dan (2) register selingkung terbuka. Register selingkung terbatas terdapat 5 data tuturan dan register selingkung terbuka terdapat 19 data tuturan, dan 4 fungsi register bahasa yaitu (1) 6 data tuturan yang berkaitan dengan fungsi emotif, (2) 10 data tuturan yang berkaitan dengan fungsi referensial, (3) 3 data tuturan yang berkaitan dengan fungsi fatik, dan (4) 5 data tuturan yang berkaitan dengan fungsi konatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa register bahasa yang digunakan oleh penjual ikan sebagai salah satu profesi yang masyarakatnya terdiri dari berbagai latarbelakang suku seperti Jawa, Bugis, Sunda, Tolaki, dan Buton membuat register bahasa di pasar Gunung Jaya Kabupaten Kolaka Timur menjadi bervariasi dan digunakan sesuai dengan penguasaan bahasa antara penutur dan lawan tutur.Kata kunci: Sosiolinguistik, register bahasa, pasar tradisional, penjual ikan
Fakta Cerita dalam Cerita Rakyat Benteng Matulunga di Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan: Story Facts in the Folktale Benteng Matulunga in Siompu District, South Buton Regency Fenda Asriani; Syarifuddin Tundreng; Andi Saadillah; Rudi Karma
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2755

Abstract

Penelitian ini mengkaji fakta cerita dalam cerita rakyat Benteng Matulunga Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, dengan menggunakan pendekatan struktural. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya dokumentasi sastra lisan sebagai bagian dari warisan budaya lokal serta media pewarisan nilai, sejarah, dan identitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur alur, tokoh, dan latar dalam dua versi cerita rakyat Benteng Matulunga. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data berupa tuturan lisan dari informan yang kemudian ditranskripsikan ke dalam bentuk teks tertulis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui simak, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui transkripsi, reduksi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan berdasarkan teori struktur naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua versi cerita menggunakan alur maju dan menampilkan tokoh heroik yang berkaitan dengan perjuangan masyarakat Siompu. Latar cerita berpusat pada wilayah Siompu dan Benteng Matulunga. Implikasinya, cerita rakyat lokal dapat mendukung pelestarian budaya dan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal.
Local Wisdom in Indonesian Language Instruction and Students’ Cultural Literacy: A Qualitative Case Study Wayan Pageyasa; Andi Saadillah; Rudi Karma
Indonesian Technology and Education Journal Vol 4 No 2 (2026): Agustus
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/itej.v4i2.1566

Abstract

Indonesian language instruction has the potential to connect literacy development with students’ cultural identities. However, the integration of local wisdom into classroom instruction is often constrained by limited learning resources and insufficient instructional planning. This study examined how local wisdom was represented in Indonesian language instruction, how teachers and students perceived the value of culturally relevant materials for cultural literacy, and what institutional conditions supported or constrained their integration. A qualitative case study was conducted at SMPN 2 Kolaka, Southeast Sulawesi. The participants comprised one principal, two Indonesian language teachers, and 64 Grade VIII students involved in six observed lessons. Five students were purposively selected for individual interviews. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and document analysis. The data were coded and organized into themes, and the interpretations were strengthened through source and method triangulation. The findings showed that local wisdom had not been systematically integrated into instructional planning or classroom practice. Learning materials were dominated by nationally published textbooks, while locally relevant folklore, traditions, cultural inquiry activities, and community cultural resource persons were used only to a limited extent. The interviewed students were generally more familiar with visible cultural forms than with their underlying meanings, values, and social functions. Teachers considered culturally relevant materials useful for connecting instruction with students’ experiences, but they reported constraints related to preparation time, references, instructional resources, and the absence of structured teaching modules. These findings suggest that strengthening culturally contextualized Indonesian language instruction requires systematic planning, locally relevant materials, collaborative module development, cultural inquiry activities, and sustained institutional support.