Claim Missing Document
Check
Articles

Komodifikasi Bahasa Lokal Sebagai Simulakra: Studi Kasus Pojok Kampung JTV Didik Hariyanto; Ferry Adhi Dharma; Fara Putri Amalia
ETTISAL : Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2025): Ettisal : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pola konsumsi media akibat disrupsi digital telah menyebabkan banyak media konvensional mengalami krisis eksistensi. Di tengah fenomena ini, Jawa Pos Televisi (JTV) Surabaya mempertahankan eksistensinya sebagai media lokal melalui strategi simbolik, yaitu komodifikasi bahasa lokal Suroboyoan dalam program Pojok Kampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bahasa lokal diposisikan sebagai simulacra dalam proses produksi berita dan bagaimana komodifikasi terjadi dalam ruang redaksi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis perspektif Jean Baudrillard, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap produser, presenter, dan audiens program. Hasil menunjukkan bahwa bahasa Suroboyoan telah kehilangan referensi aslinya dan menjadi bentuk representasi hiperrealitas, praktik ini membentuk realitas simbolik dalam ruang redaksi yang sesuai dengan konsep simulacra dan simulasi dari Jean Baudrillard yang berfungsi sebagai strategi membentuk persepsi dan mempertahankan keterikatan audiens lokal. Strategi ini membuktikan bahwa simbol budaya lokal dapat direkonstruksi sebagai alat resistensi media terhadap hegemoni digital. Temuan ini menunjukkan bahwa media lokal tidak hanya memproduksi informasi, tetapi juga membentuk persepsi melalui konstruksi simbolik bahasa.
Diskursus Normalisasi Homoseksualitas di Era New Media dalam Film Pendek “PRIA” Ferry Adhi Dharma; Didik Hariyanto; Novia Ayu Hafidah
Jurnal SASAK : Desain Visual dan Komunikasi Vol. 8 No. 1 (2026): SASAK (In Press)
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/sasak.v8i1.6228

Abstract

Digitalisasi media memberi ruang pada konten-konten bermuatan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, Intersex, Aseksual, dan lainnya (LGBTQIA+) hadir secara terang-terangan di berbagai platform media baru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses normalisasi homoseksualitas di media baru melaluifilm pendek “PRIA” yang ditayangkan di platform YouTube. Metode yang digunakan adalah kualitatif, yang dielaborasi dengan analisis semiotika Roland Barthes dan konsep kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film pendek “PRIA” tidak menyajikan nilai homoseksualitas secara eksplisit atau konfrontatif, melainkan melalui narasi yang tenang dan kaya akan nuansa emosional yang mendalam. Gaya penyajian ini memungkinkan penonton secara bertahap menerima keberadaan homoseksual, meskipun secara tidak langsung mulai menggoyahkan nilai-nilai budaya yang sudah mapan tanpa memicu resistensi yang keras. Kebaruan kajian ini terletak pada upaya penerapan kerangka konsep kekerasan simbolik pada lanskap media baru, yang mana perlawanan terhadap kekerasan simbolik di masa kini tidak lagi mengandalkan konfrontasi terbuka, tetapi melalui normalisasi afektif: cerita-cerita yang membangkitkan empati dan ikatan emosional, serta mudah menyebar luas di berbagai platform digital. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial serta pola konsumsi tontonan netizen telah menjadi wujud doxa masa kini, yang secara tak kasatmata mereproduksi tandingan dominasi simbolik tentang gender.
Inovasi Strategi Promosi Kesehatan untuk Masyarakat Desa Lemujut melalui Pemeriksaan Gratis dan Jalan Sehat Nabila Insyira Natasya; Yuni Anggraeni; Dhani Hildan Dwi Putra; Hilmy Arrozaqu; Abdul Yudha Fahrezha; Adam Hadiansyah; Nabila Agra Febrianti; Ahmad Rifki Multazam Al Faiz; Walid Azis Syarif; Sukma Tria Yashinta; Ira Safiratul Ulum; Sanniyah Aabidah Febriani; Akmal Zain; Bagus Aris Prasojo; Febryna Laili Maurinca; Ferry Adhi Dharma
Jurnal Pengabdian Cendekia Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Cendekia
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/jpc.v2i1.83

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi tantangan kesehatan utama di masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Lemujut yang kesadaran akan upaya kesehatan preventifnya masih rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan dan dampak pemeriksaan kesehatan gratis yang dipadukan dengan acara jalan sehat sebagai strategi preventif KKN-T 24 UMSIDA dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan pendekatan partisipatif, melibatkan warga, kader kesehatan, dan mahasiswa pada tahapan identifikasi masalah, perumusan solusi, pelaksanaan, serta evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dokumentasi, dan pemeriksaan kesehatan (tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat). Hasil menunjukkan 25,1% peserta mengalami hipertensi, 28% diabetes, 75% kadar kolesterol tinggi, dan 52% hiperurisemia. Temuan ini mengindikasikan tingginya prevalensi faktor risiko PTM di masyarakat, yang utamanya disebabkan oleh pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup sedentari. Program ini terbukti efektif tidak hanya dalam memberikan deteksi dini kondisi kesehatan, tetapi juga dalam mengedukasi warga mengenai pentingnya perubahan gaya hidup sehat. Kegiatan ini berkontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran kesehatan warga Desa Lemujut serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3.
Adaptasi Pagelaran Wayang di Era Digital: Ngamen Online Ki Yohan Susilo di Youtube Shaffira Bella Shakinah; Ferry Adhi Dharma
Academic Journal of Da'wa and Communication Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ajdc.v6i2.12981

Abstract

This study aims to analyze the forms of adaptation in wayang performances as an effort to preserve culture and increase participation of the younger generation. The research method used was a qualitative approach, with data collected through interviews, observations of the “Online Busking” practice carried out by Ki Yohan Susilo via the “Langgeng Budaya” channel on YouTube, and a review of relevant literature. The findings of this study indicate that the use of digital media opens new opportunities for wayang to reach a wider audience without being bound by a specific space and time. The interaction pattern between the puppeteer and the audience has also shifted, as viewers can provide direct responses through available interactive features. Interestingly, some of the audience members are young people who previously had less involvement with wayang. This indicates that, to some extent, technology can help maintain the continuity of traditions without eliminating their fundamental values.
Analisis Implementasi Model Pentahelix sebagai Strategi Kolaboratif dalam Pengembangan Wisata Religi Dumai Islamic Center, Pemerintah Kota Dumai, Provinsi Riau Siti Inne Mentari; Ferry Adhi Dharma
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 2 (2025): August
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i2.3318

Abstract

This study aims to analyze the communication strategy of the Dumai City Government in developing the Dumai Islamic Center (DIC) as a religious tourism destination. Using qualitative methods with non-participant observation techniques, in-depth interviews, and documentation, data were analyzed through the SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) approach. The results of the study indicate that the communication strategy utilizes print, electronic, and digital media and involves content creators to increase the visibility of DIC. The strength of this strategy lies in the attractiveness of DIC's architecture and extensive use of media, while its weaknesses are budget limitations and minimal involvement of academics. Opportunities arise from stakeholder involvement through activities such as bonsai exhibitions and bird singing competitions, while threats come from bureaucratic instability and competition from similar destinations. The final results of this study indicate that the application of the Pentahelix model through synergy between government, business, community, academics, and media is a strategic solution to ensure the sustainability of DIC's promotion and development as a leading religious tourism destination in Dumai City.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi Pemerintah Kota Dumai dalam mengembangkan Dumai Islamic Center (DIC) sebagai destinasi wisata religi. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi non-partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, data dianalisis melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi memanfaatkan media cetak, elektronik, dan digital serta melibatkan content creator untuk meningkatkan visibilitas DIC. Kekuatan strategi ini terletak pada daya tarik arsitektur DIC dan penggunaan media yang luas, sedangkan kelemahannya adalah keterbatasan anggaran dan minimnya keterlibatan akademisi. Peluang muncul dari keterlibatan pemangku kepentingan melalui kegiatan seperti pameran bonsai dan lomba kicau burung, sementara ancaman datang dari ketidakstabilan birokrasi dan persaingan destinasi serupa. Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Pentahelix melalui sinergi antara pemerintah, bisnis, komunitas, akademisi, dan media menjadi solusi strategis untuk memastikan keberlanjutan promosi dan pengembangan DIC sebagai destinasi wisata religi unggulan di Kota Dumai.
The Hyperreality of Identity Politics on Social Media Didik Hariyanto; Ferry Adhi Dharma; Ishak Yussof; Fajar Muharram
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 8 No. 1. June (2024): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v8i1.28356

Abstract

Religious-based identity political content is widespread on social media, raising voter polarization and social conflict. This research revealed the religious commodification of political buzzers for political identity and the hyperreality created on social media to attack their political opponents with identity politics. It used a qualitative commodification perspective by Jean Baudrillard. The data source was identity political content produced by buzzers from 03 October 2022 to 03 May 2023 or since the NasDem Party declared Anies Baswedan a presidential candidate. The results suggested that political buzzers coordinatedly use religion as a political commodity to build hatred through the Kadrun hashtag. In the 2019 elections, this hashtag successfully created a radical stigma among groups supporting Prabowo-Sandi and is now used to attack Anies supporters. Besides, the hyperreality created by the buzzers is the symbolization of Arab Islam to label Anies and his supporters, and indigenous Islam to describe cultural Islamic groups or native Indonesian Islam. Through social media, Arab Islam is simulated as a group full of conflict and supporting the caliphate while indigenous Islam is a peace-loving and nationalist group, which leads to widespread social disintegration, not only among Muslims in the country but also sentiment among Arab descendants in Indonesia. The impact of extreme identity politics can encourage radicalization and violence, especially when there are narratives that manipulate feelings of injustice or threats to the identity of certain groups.
Mengkritik Pemerintah Melalui Video Klip Lagu Negri Ngeri Karya Band Marjinal Mohammad Fadel Atmadiansyah; Ferry Adhi Dharma
Indonesian Journal of Public Administration Review Vol. 3 No. 3 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/par.v3i3.5939

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna kritik sosial yang terkandung dalam lirik dan visual musik punk Indonesia, khususnya lagu Negri Ngeri karya Band Marjinal serta lagu Bayar Bayar Bayar karya Sukatani, menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian berfokus pada pengungkapan representamen, objek, dan interpretant yang membentuk pesan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, korupsi, represi aparat, kemiskinan, penggusuran, serta berbagai persoalan struktural yang dialami masyarakat marjinal di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Peirce. Data diperoleh melalui analisis lirik lagu, visual video musik, dokumentasi, dan studi pustaka yang kemudian dianalisis menggunakan model triadik Peirce yang meliputi ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik-lirik seperti “bayar polisi”, “mau gusur rumah”, dan “negeri ngeri” berfungsi sebagai tanda yang merepresentasikan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penggusuran paksa, dan ketimpangan sosial. Sementara itu, visual seperti tumpukan sampah, pekerja dengan laptop di lingkungan kumuh, serta konsumsi junk food di tempat pembuangan sampah memperkuat kritik terhadap modernitas semu, konsumerisme, kerusakan lingkungan, dan marginalisasi masyarakat kecil. Analisis menunjukkan bahwa semiotika Peirce mampu menjelaskan proses pembentukan makna secara lebih komprehensif melalui hubungan antara representamen, objek, dan interpretant sehingga menghasilkan kesadaran kolektif mengenai perlunya perubahan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa musik punk tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi kritis dan alat perlawanan sosial yang efektif dalam menyuarakan aspirasi kelompok marjinal di Indonesia.
Kontra-Narasi Simbolik Krisis Legitimasi Polri: Konstruksi Personal Branding Humanis Aipda Purnomo pada Akun TikTok @purnomobelajarbaik_ Arrasyidin Daffatyar Tatah Bayu Erlangga; Ferry Adhi Dharma
Indonesian Social Science Review Vol. 4 No. 2 (2026): September in-press
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/issr.v4i2.426

Abstract

This study aims to analyze the construction of Aipda Purnomo's humanistic personal branding on the TikTok account @purnomobelajarbaik_. The account, which accumulated 3.3 million followers as of January 20, 2026, serves as a symbolic counter-narrative strategy in responding to the legitimacy crisis of the Indonesian National Police (Polri). Grounded in the personal branding framework of Montoya & Vandehey, this research employs an interpretative qualitative approach utilizing qualitative content analysis on three pinned posts prioritized by Purnomo. The findings indicate that Aipda Purnomo's personal branding is consistently built upon eight primary personal branding elements: specialization, leadership, personality, distinctiveness, visibility, personal–professional identity unity, persistence, and goodwill. The main findings demonstrate that personal branding practices based on humanistic values, tangible actions, and reflective narratives effectively serve as a symbolic counter-narrative against the negative institutional image of the police in the digital sphere. This research contributes to the literature on public sector personal branding by illustrating that the personal branding of state apparatuses functions not merely as an individual self-presentation strategy, but also as a communication mechanism capable of restoring public trust amid institutional legitimacy crises. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi personal branding humanis Aipda Purnomo melalui akun TikTok @purnomobelajarbaik_. Akun yang telah memiliki 3,3 juta followers per 20 Januari 2026 ini dimanfaatkan sebagai strategi kontra-narasi simbolik dalam merespons krisis legitimasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Berangkat dari perspektif personal branding Montoya & Vandehey, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan metode analisis isi kualitatif terhadap tiga unggahan yang disorot (pinned content) karena dianggap penting oleh Purnomo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding Aipda Purnomo dibangun secara konsisten melalui delapan elemen utama personal branding, yaitu spesialisasi, kepemimpinan simbolik, kepribadian, keunikan, visibilitas, kesatuan identitas personal–profesional, keteguhan pesan, dan pembentukan nama baik (goodwill). Temuan utama penelitian ini memperlihatkan bahwa praktik personal branding berbasis nilai kemanusiaan, tindakan nyata, dan narasi reflektif mampu berfungsi sebagai kontra-narasi simbolik terhadap citra negatif institusi kepolisian di ruang digital. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian personal branding sektor publik dengan menunjukkan bahwa personal branding aparat negara tidak hanya berfungsi sebagai strategi pencitraan individual, tetapi juga sebagai mekanisme komunikasi yang berpotensi memulihkan kepercayaan publik dalam situasi krisis legitimasi institusional.
Co-Authors Abdul Yudha Fahrezha Abida Al Aliyah Adam Hadiansyah Afnizar Maulana Asiddiq Ahmad Rifki Multazam Al Faiz Akmal Zain Al’Azmi, Moch Neezarth Amalia, Fara Putri Andre Astana Putra ARDIANSYAH, SYAHRUL Arrasyidin Daffatyar Tatah Bayu Erlangga Athallah, Moch. Ahdan Bagus Aris Prasojo Cindy Taurusta Damayanti, Erlina Novita Daud, Normadiah Dhani Hildan Dwi Putra Didik Hariyanto Didik Hariyanto Djarot Meidi Budi Utomo Fajar Muharram Fajar Muharram Fakhrulloh, Ahmad Naufal Fara Putri Amalia Farida Rahmawati Febryna Laili Maurinca Firdaus, Muhammad Allan Ghiffari Amrul Ramadhan Hendra Sukmana Hilmy Arrozaqu Ira Safiratul Ulum Ishak Yussof Izar, Sokhibul Joko Susilo Kara Thania Ratti Liestianingsih Dwi Dayanti M Yusach Ryadh Rasyid Maulana Muqarrabin Maulana, Muhammad Rizky Moch Bima Syaputra Winardi Moch Ifan Fadilah Fadilah Mohammad Fadel Atmadiansyah Muchammad Jiddan Azhar Muhamad Bagas Mahaputra Muhammad Abror Muhammad Abror Muhammad Chabibur Rohman Muhammad Nauval At Thaariq Muhammad Rafii Muhammad Randi Fauzi Muhammad Rivai Muhammad Triza Rinnuddin Muhammad Yani Muhammad Yani, Muhammad Nabila Agra Febrianti Nabila Insyira Natasya Nikmah Suryandari Noor Achmad Rizky Ardhyansyah Novia Ariyanti Novia Ayu Hafidah Nur Ana Nuril Lutvi Azizah Perdana, Wahyu Ilham Pramesti, Sonia Indah Pratama, Mohammad Afi Priyo Wahyu Setiyo Aji Puspitasari Putri Pambayun Rositah, Nila Dwi Noor Sahrul Ali Sandi Sanniyah Aabidah Febriani Sa’diah, Anisa’ Fadilatus Shaffira Bella Shakinah Siti Inne Mentari Sukma Tria Yashinta Susanto, Adi Imron Syahputri, Alvina Dwi Toetik Koesbardiati Totok Wahyu Abadi Uddin, Adam Amir Vini Rahmawati Walid Azis Syarif Yuni Anggraeni Yussof, Ishak