Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Konseling Dalam Proses Pembinaan Kepribadian Anak Binaan Akmal Nur Fauzy; Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10144108

Abstract

The Special Child Development Institute is not only a place for children who are serving criminal periods. However, children will be given coaching so that they can change into better humans and be useful for society in the future. The role of counseling in the Special Child Development Institute is very important and helps in providing personality development programs for children. Counseling will help with the problems your child faces and the needs he needs to change into a better human being. This research method uses content analysis of various journals or scientific papers related to problems in research. The purpose of this study is to find out the importance of the role of counseling in the process of coaching child prisoners. The punishment for a person who violates the law is the loss of independence. This is not easy to deal with, especially for children. The existence of counseling helps children to adapt to the new environment in prison and is able to provide encouragement to serve their criminal period. Counselors can be a bridge for children in expressing their problems by using a variety of good communication.
Residivisme dan Sistem Pemasyarakatan di Indonesia Mochamad Afrizal Azka; Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10116253

Abstract

Residivisme menjadi salah satu permasalahan yang tak kunjung berhenti dihadapi pemasyarakatan di Indonesia. Segala upaya terbaik selalu diusahakan dan diberikan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memerangi residivis. Ada beberapa hal yang menjadi faktor faktor yang menyebabkan residivisme ini terjadi, seperti lingkungan masyarakat dan juga dampak dari Prisonisasi. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian hukum normatif, yang berfokus pada pemeriksaan dan analisis terhadap hukum sebagai norma, aturan, prinsip, serta doktrin atau teori hukum, guna menjawab permasalahan hukum yang sedang dikaji. Pendekatan penelitian yang diterapkan mencakup pendekatan perundang-undangan yang meliputi aturan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyebab-penyebab individu melakukan kejahatan berulang tersebut meliputi bagaimana hasil yang diperoleh sangat sesuai dengan keinginan subjek, melakukan kejahatan tersebut dikarenakan niat dan tanggungan pekerjaan. Bebas dari Lapas para mantan narapidana masih mendapatkan stigma masyarakat yang menganggap mantan narapidana sebagai individu yang berbahaya jika kembali ke masyarakat, ketiga subjek memiliki motivasi ketika melakukan tindak kejahatannya. Motivasi tersebut berbeda-beda dari tiap subjek, Subjek melakukan tindak kejahatan repetitif dikarenakan subjek sudah ahli, ketagihan dan kebiasaan. Motivasi kejahatan repetitif tersebut dilakukan subjek karena adanya keinginan atau usaha untuk mencari uang dengan cepat dengan waktu yang singkat, hal ini yang disebut sebagai mentalitas instan.
Pembinaan Narapidana Gangguan Kejiwaan Pada Lapas Kelas II A Magelang Zada Aryaguna; Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10082639

Abstract

The development of prisoners has become an obligation carried out in a correctional institution. All correctional inmates should receive this training while serving their sentence in prison. As stated in Law No.12/1995 concerning Correctional Institutions and Government Regulation no. 99 of 2012 concerning the Second Amendment to Government Regulation Number 32 of 1999 concerning Requirements and Procedures for Implementing the Rights of Correctional Inmates, however, it does not explain how to provide guidance for an Inmate who experiences mental disorders. Therefore, it is a big homework for correctional officers, especially prisons, in providing treatment, especially in terms of guidance for prisoners who experience mental disorders. This research aims to determine the treatment and guidance of prisoners who experience mental disorders. This research also reveals that there is no definite policy for ODGJ prisoners to get reduced sentences and early release with consideration of treatment. However, in the Class II A Magelang Penitentiary, full efforts have been made to treat prisoners who experience mental disorders by seeking routine treatment in collaboration with the local mental hospital for efforts to cure prisoners and this is proven by the existence of a prisoner who has recovered from mental disorders thanks to the presence of Efforts are being made by prisons involving mental hospitals so that the treatment and care given is appropriate.
Masa Depan Pemasyarakatan: Inovasi dan Transformasi Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Narapidana Marliyoda Aji Pangestu; Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10113193

Abstract

The future of corrections offers the potential for significant innovation and transformation in efforts to improve the quality of life for inmates. With technological developments and a more holistic approach to rehabilitation, correctional systems can become more effective in preparing prisoners for reintegration into society. Innovations in education, job training, mental health, and substance rehabilitation programs are key to ensuring that inmates have a better chance of success after release. A transformation in prison culture and management that focuses more on recovery rather than punishment can help reduce recidivism rates. Therefore, the future of correctional institutions must be based on the principles of rehabilitation and reintegration, with an emphasis on real efforts to improve the quality of life of prisoners for their welfare and that of society as a whole.
Dampak Positif Hubungan Antara Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas) Terhadap Kesuksesan Pemulihan dan Reintegrasi Klien Pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas II Karanagsem I Kadek Wijata; Ali Muhammad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 10 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10079435

Abstract

Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan atau POKMAS LIPAS merupakan kumpulan mitra yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelaksanaan sistem Pemasyarakatan dan bersedia untuk turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pembimbingan kepada klien pemasyarakatan dalam mencapai tujuan sistem pemasyarakatan yaitu reintegrasi sosial. Penelitian ini memiliki tiga rumusan masalah yaitu Bagaimana peran Pokmas Lipas dalam proses pembimbingan klien pemasyarakatan, dampak positif dari hubungan Pokmas Lipas terhadap klien pemasyarakatan dan apa saja hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pokmas Lipas dalam proses pembimbingan klien pemasyarakatan, dampak positirf hubungan Pokmas Lipas serta apa saja hambatan yang dihadapi. manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai bagaimana upaya dalam pemberian pembimbingan terhadap klien pemasyarakatan melalui POKMAS LIPAS. metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. adapun hasil penelitian yang penulis temukan adalah dalam proses pembimbingan klien pemasyarakatan, Bapas Kelas II Karangasem bekerjasama dengan beberapa pokmas yang diantaranya Yayasan Dua Hati Bali, Yayasan Mercy Indonesia, Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (LBH APIK BALI), Yayasan Aswini Kembar, Kelompok Ikan Sari Nadi Subak Baru, dan dampak positif dari Pokmas Lipas adalah mencegah terjadinya residivisme, mengmbalikan klien pemasyarakatan senagai manusia seutuhnya, memiliki skil dan ketrampilan tinggi, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, sehinga dapat menjadi warga negara yang baik mampu berperan aktif dalam pembangunan di masyarakat dan bertangung jawab. Adapun hambatan dalam pelaksanaannya pelaksanaannya adalah Kurang antusiasnya klien Pemasyarakatan dalam mengikuti pembimbingan, luasnya wilayah kerja Bapas Kelas II Karangasem, dan keterbatasan anggaran.
HUBUNGAN FAMILY SUPPORT DAN SELF COMPASSION DENGAN DEPRESI NARAPIDANA KASUS NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA RANTAUPRAPAT Handrian Perindu Hari Lubis; Ali Muhammad
Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa) Vol. 1 No. 9 (2023): Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa)
Publisher : CV SWA Anugerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.8765/krepa.v1i9.651

Abstract

Kasus depresi di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) seringkali terjadi pada narapidana di indonesia. Kondisi Lapas sangat berbeda dengan kondisi masyarakat karena ketaatan yang ketat terhadap penjaga dan aturan, narapidana memiliki ruang gerak yang sangat terbatas. Dalam kondisi ini narapidana membutuhkan motivasi internal maupun external untuk menjalani kehidupannya di Lembaga Pemasyarakatan. Dalam penelitian ini akan membahas tentang hubungan family support dan self compassion dengan depresi pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Rantauprapat Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional. Sampel dalam penelitian ini adalah 136 narapidana di Lapas Kelas IIA RantaiPrapat dengan teknik non probabilita Purposive kriteria sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuisioner. Berdasarkan hasil uji korelasi terdapat hasil nilai signifikansi antara variabel family support dengan variabel depresi yaitu 0,07 dan nilai Pearson Correlation ke arah negatif sebesar 0.229. Dan nilai signifikansi antara variabel self compassion dengan variabel depresi yaitu 0,011 dan nilai Pearson Correlation ke arah negatif sebesar 0.216. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi family support maka semakin rendah depresi pada narapidana dan semakin tinggi self compassion maka semakin rendah juga depresi pada narapidana.
PEMASYARAKATAN : EFEKTIFITAS SISTEM PEMBINAAN NARAPIDANA DALAM UPAYA MENCEGAH PERILAKU RESIDIVIS PADA LEMBAGA PEMASYARAKATAN Rijalil Akhyar Syarif; Ali Muhammad
Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa) Vol. 1 No. 9 (2023): Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa)
Publisher : CV SWA Anugerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.8765/krepa.v1i9.789

Abstract

Artikel ini menjelaskan mengenai berbagai aspek yang memengaruhi efektivitas sistem pembinaan narapidana dalam mengurangi perilaku residivis. Hal ini mencakup program pembinaan, peran pendidikan, dukungan masyarakat, pelatihan keterampilan, serta upaya-upaya penelitian dan inovasi dalam memahami faktor-faktor yang mendorong perilaku residivis. Semua ini bertujuan untuk menciptakan sistem pembinaan narapidana yang lebih efektif dan dapat berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang lebih aman dan lebih baik. Artikel ini telah menguak efektivitas sistem pembinaan narapidana dalam upaya memberikan dasar bagi perbaikan kebijakan dan praktik pembinaan narapidana, dengan tujuan akhir untuk mengurangi perilaku residivis di lembaga pemasyarakatan dan meningkatkan keselamatan masyarakat.
Budaya Penegakan Hukum Pada Kepolisian Dalam Penanganan Kasus Pidana Purnomo Adi Nugroho; Ali Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 1, No 4 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10081193

Abstract

This research was conducted to find out about the legal culture in the police institution in handling criminal cases. Law is a regulation in the form of norms and sanctions, written and unwritten, which is made with the aim of regulating human life to maintain order and security and prevent crime. Culture is the overall attitude and pattern of behavior and knowledge which is a habit that is inherited and owned by certain individuals or groups. Legal culture is one of the important aspects that must be considered by law enforcement officers in carrying out law enforcement, a culture consisting of values and attitudes that can affect the way the law works. By paying attention to and reviewing the weaknesses that exist in this aspect of legal culture, it is hoped that in the future law enforcement officers can change paradigms and perspectives, not only individually but also institutionally in order to create progressive law so that law enforcement can achieve the desired goals. is to create a just and prosperous society.
Peran Pembimbing Kemasyarakatan dalam Meningkatkan Self-Control Klien Pemasyarakatan di Bapas Kelas I Yogyakarta Rigar Satria Elha Ramadhan; Ali Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 1, No 4 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10092022

Abstract

Self-control is an individual's ability to direct, manage, regulate, and direct themselves in a positive direction. In general, people with high self-control are able to refrain from actions that go against the norms and regulations enforced in society. Inmates who have just been released from a correctional facility become correctional clients of the correctional facility. Correctional Centers are tasked with providing supervision and guidance through community counselors. One of those counseling is for helping prison inmates gain acceptance into society and strengthen their self-control to avoid criminal cases again.
Optimalisasi Layanan Kesehatan Mental Bagi Narapidana di Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru Geri Maulana Fahreza; Ali Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 1, No 4 (2023): November
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10113150

Abstract

Mental health is an important component at every stage of human life, from childhood, adolescence, to adulthood. It is often stated that mental conditions in childhood can affect a person's psychological development into adulthood. Therefore, it is essential for a person to have a healthy mind from an early age. With a healthy mind, an individual can experience various benefits in life, such as: being more capable of coping with stress and life pressures, being physically healthy, establishing good relationships with others, contributing to society, working productively, and being aware of one's potential. Moreover, mental and physical health are closely linked. A person with a mental disorder, particularly depression, can increase the risk of various physical problems in the future, such as strokes, type 2 diabetes, and heart disease. Conversely, chronic physical conditions can also increase the risk of mental disorders in a person. Therefore, maintaining both mental and physical health is crucial to prevent various diseases.
Co-Authors Adam Fikhri Widiyatama Nugroho Adhi Gineung Pratidina Aditya Rangga Suryadi Agnes Roulina Mutiara Sari Agung Ginanjar Agung Risaldo Agung Tri Sakti Ahlamia Andini Ahmad Jumantoro Akbar Fitrian Akbar Fitrian Akhmad Abddurasyid Akmal Nur Fauzy Aldy Dwi Aryanto Alvionita Damayanti Anak Agung Gede Sugianthara Ananda Saputra Ayom Prayoga Ayu Inka Pratiwi Ayu Made Diah Pramesti Bayu Anggoro Krisnapati Bayu Tri Wahyudi Benny Syahputra Damanik Binsar Parulian Rajagukguk Bintang Wisnu Prameswara Budi Priyatmono Cahyoko Edi Cahyoko Edi T Cahyoko Edi Tendo Cahyoko Edo Tando Christian Diza Saputra Desta Ayu Valentin Dianing Pakarti Dicky Ilham Zannara Dila Sisfani Dimas Gilang Setyawan Dimas Jaya Zakiri Dimas Mukthar Dita Ayu Wulandari Dwi Irfandi Rusli Dwie Shafa Fabira Fajar Aji Riyanto Farhan Anwarrul Anam Farhan Rajwaa Alya Mas’ud Faza Adhi Pramana Feby Kurnia Rapanca Gumay Geri Maulana Fahreza Grace Tresya Sibuea Hamzah, Imaduddin Handrian Perindu Hari Lubis Helgi Dini Hergiman Putri Hermansyah Hermansyah Herry Butar Butar Herry F Butar Butar Herry Fernandes Butar Butar Holida Hotman Husnul Khatimah I Kadek Wijata Igo Pebri Asah Saputra Ikhlasul Amal Imaduddin Ilham Jaya Pratama Iman Santoso Irja Tri Arfai Irwan Arif Rachmanto Laila Nurul Indria Lusi Hertina M. Bachrudin Mufti M. Fajar Adjie Wibowo M.Novansya Affif Bahri Maharidho Deel Ziko Maki Zaenudin S Marliyoda Aji Pangestu Maskur Hidayat Maulana Fatah Putrayanda Michael Millendiannuary Rahardjo Mico Jeje Saputra Miftahhusifa Sausan Aza Alattas Mochamad Afrizal Azka Mohamad Ridho Pijar Gemilang Muhammad Aji Dimas Pangestu Muhammad Alfarel Muhammad Ghifari Satya Zaky Muhammad Irfan Hidayat Mukhtar Abdul Latif Nabilah Novianti Naufal Amirulloh Mirfai Ni Nyoman Fitria Widiasmita Ni Putu Diah Meitha Sari Ni Putu Pratigrahita Pratiwi Nia Ananda Yusriani Niken Rachmawati Obi Noverianda Panji Sulistio Purnomo Adi Nugroho Putri Laura Arzethy Rachmayanthy, Rachmayanthy Rama Fatahillah Yulianto Reki Akbal Amaludin Rigar Satria Elha Ramadhan Rijalil Akhyar Syarif Rismanto Agustian Damanik Rizal Fuad Herlambang Rizki Ariansyah Rizki Ramad Saputra Sabrina Alfi Arysa Salmaa Sekar Anami Salmaa Salman Al Farizy Sujono Salsabila, Unik Hanifah Samatohu Zega Santa Veronika Sirait Siti Nurrahmayanti Sunu Ariasmara Syafri Hari Susanto Syahrun Alfiqri Syawalahudin Yoga Pratama Tashya Trianindya Umar Anwar Violita Citra Kusuma Dewi Willdhan Anggoro Putro Yuan Nicola Audicrist Tambunan Yuan Nicola Audicrist Tambunan Yunike Annisa Nurulita Zada Aryaguna