p-Index From 2021 - 2026
9.106
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Dekolonialisasi: Menuju pembebasan materi pembelajaran Sejarah di Indonesia abad 21 Gita Lorensia Dannari; Maria Ulfa; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.502 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i4p425-436

Abstract

To foster a sense of Indonesian youthful nationalism, the materials presented in history learning in schools are always decolonized, as a form of retaliation against colonial historiography which is only seen from a colonial point of view. However, the material taught in learning in schools is also the same, only different from the point of view used. According to the author, this is not the right step to be used in fostering a sense of nationalism in the younger generation, because history must be viewed as neutral, presented as it is, so that there is no mutual revenge in writing history. Therefore, it is necessary to have decolonization in history learning. The purpose of writing this article is to describe the forms of decolonization and their impact on learning history in Indonesia. Based on the impact of writing history that is too Indonesian centric, but does not have a significant impact in cultivating a sense of nationalism for the younger generation, it is necessary to have a decolonialization effort in learning history. The research method used in writing this article is the library method. Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme generasi muda Indonesia, maka materi-materi yang disajikan dalam pembelajaran sejarah di sekolah selalu bersifat dekolonisasi, sebagai bentuk pembalasan terhadap historiografi kolonial yang hanya dilihat dari sudut pandang kolonial. Akan tetapi, materi-materi yang diajarkan dalam pembelajaran di sekolah juga bersifat sama, hanya berbeda pada sudut pandang yang digunakan. Hal tersebut menurut penulis bukanlah langkah yang tepat untuk digunakan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme generasi muda, karena sejarah harus dipandang netral, disajikan apa adanya, sehingga tidak timbul sikap saling balasdendam dalam menulis sejarah. Oleh karena itu, diperlukan adanya dekolonialisasi dalam pembelajaran sejarah. Adapun tujuan penulisan artikel ini, yaitu untuk menguraikan bentuk-bentuk dekolonisasi dan dampaknya dalam pembelajaran sejarah di Indonesia. Berdasarkan pada dampak dari penulisan sejarah yang terlalu Indonesiasentris, tetapi tidak memberikan dampak signifikan dalam penanaman rasa nasionalisme generasi muda maka diperlukan adanya upaya dekolonialisasi dalam pembelajaran sejarah. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu metode kepustakaan.
Akulturasi budaya Tembang Lir-ilir sebagai media dakwah Sunan Kalijaga Rori Amelya Rumpaka; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.124 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i4p470-476

Abstract

Islam is mostly embraced by Indonesians. The majority of Indonesians adhere to the largest religion in the world. Islam entered the archipelago through peaceful channels in accordance with the religious mission, namely rahmatan li al-'ālamīn. Which is Islam as a religion that embraces or protects all people and other things. Likewise with the culture in Indonesia. Indonesian culture has existed since time immemorial. Various cultures passed on from their ancestors to their successors. Indonesia has a variety of cultural features that need to be preserved and maintained. This is what makes Indonesian society thick with culture. Islam entering Indonesian territory is not easy. Because the majority of people still adhere to and are thick with culture. Therefore, the figures who spread the religion of Islam must know the character of Indonesian society. Using the method of acculturating existing cultures in Indonesia with Islamic religious values is the right way to spread Islam. Agama Islam dianut sebagian besar oleh masyarakat Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia menganut agama yang dianut terbesar di dunia ini. Islam masuk ke wilayah Nusantara melalui jalur damai sesuai dengan misi agama yakni rahmatan li al-‘ālamīn. Yang mana Islam sebagai agama yang merangkul atau mengayomi semua umat dan hal lainnya. Begitu pula dengan kebudayaan yang ada di Indonesia. Kebudayaan Indonesia sudah ada sejak dahulu kala. Beragam kebudayaan diwariskan para leluhur kepada penerusnya. Indonesia memiliki beragam corak kebudayaan yang perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Hal tersebut yang menjadikan masyarakat Indonesia kental akan budaya. Agama Islam masuk ke wilayah Indonesia tidak mudah. Dikarenakan mayoritas masyarakat masih menganut dan kental akan budaya. Maka dari itu, para tokoh penyebar agama Islam harus mengetahui karakter masyarakat Indonesia. Menggunakan cara mengakulturasi budaya yang ada di Indonesia dengan nilai-nilai agama Islam merupakan cara yang tepat untuk penyebaran agama Islam.
Sunan Kalijaga dan strategi dakwah melalui Tembang Lir-Ilir Yusuf Bakti Nugraha; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.713 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i4p528-532

Abstract

The problem that this article tries to address is about how the role of Wali Songo, especially in this discussion, is Sunan Kalijaga who uses art as a medium of preaching. In this case he used the song Lir-ilir which has a philosophical meaning in the aspect of religion. Of course this song is not just an artistic entertainment, but the message contained in this song is so deep that it is very suitable to be able to help the propagation of the spread of Islamic teachings. Even so, along with the development of the times, it is feared that this kind of culture and arts could be eroded because of the negative influences that follow from the swift currents of globalization, so that it is so difficult to maintain. Masalah yang coba dituangkan dalam artikel ini yakni tentang bagaimana peranan Wali Songo khususnya pada pembahasan ini adalah Sunan Kalijaga yang menggunakan seni untuk media dakwah. Dalam hal ini beliau menggunakan tembang Lir-ilir yang memiliki makna filosofi dalam aspek agama. Tentunya tembang ini bukan sekedar hiburan seni, melainkan memang pesan yang terkandung dalam tembang ini begitu dalam sehingga begitu cocok untuk bisa membantu dakwah penyebaran ajaran Islam. Meski begitu seiring dengan berkembangnya zaman, dikhawatirkan budaya dan kesenian seperti ini dapat tergerus karena pengaaruh negatif yang ikut dari arus globalisasi yang deras sehingga begitu sulit untuk dipertahankan.
Strategi Sunan Bonang melalui media seni dalam penyebaran dakwah Islam Amelia Febriyanti; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.137 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p688-694

Abstract

The majority of the population in Indonesia is Javanese with distinctive traditions, like other societies which give their own color to the development of patterns of understanding and practice of Islam in this country. The development of Islam in Java cannot be separated from the influence and progress of Wali Sanga. Wali Sanga has a deeper ability in a rational and scientific sense, namely they are newcomers who try to pioneer new teachings and ideologies who are able to carry out precise strategies in finding value gaps between old traditions and beliefs (Hindu-Buddhist). Sunan Bonang is one of the guardians who uses art as a medium in his strategy to spread Islamic preaching. Not only that, the suluk made by Sunan Bonang has educational value to be learned. Mayoritas penduduk di Indonesia adalah orang Jawa dengan tradisi yang khas, seperti masyarakat lainnya yang memberikan warna tersendiri pada perkembangan pola pemahaman dan pengamalan Islam di negeri ini. Perkembangan Islam di Jawa tidak lepas dari pengaruh dan kiprah Wali Songo. Wali Sanga memiliki kemampuan lebih dalam arti yang rasional dan ilmiah yaitu mereka sebagai pendatang yang berusaha merintis sebuah ajaran dan ideologi baru yang mampu melakukan strategi jitu di dalam mencari celah-celah nilai antara tradisi dan keyakinan lama (Hindu-Budha). Sunan Bonang merupakan salah satu wali yang menggunakan seni sebagai media dalam strateginya untuk menyebarkan dakwah Islam. Bukan hanya itu, suluk yang dibuat oleh Sunan Bonang memiliki nilai edukatif yang dapat dipetik.
Sunan Sendang Duwur: Jejak penyebaran Agama Islam di pesisir Kabupaten Lamongan Aprilita Faradina Suyatno; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.502 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p695-702

Abstract

The dissemination of Islamic teachings in the north coastal area of Lamongan Regency to be precise in Sendang Duwur Village, Paciran District is closely related to the figure of Raden Noer Rochmat or known as Sunan Sendang Duwur. In spreading Islam, Sunan Sendang Duwur adopted the method of preaching culturally through acculturation of local culture with the values of Islamic teachings which can still be found from the reliefs of the mosque to the tomb of Sunan Sendang itself and is evidence of the spread of Islam on the coast of Lamongan Regency. His role in spreading Islam is very memorable in the collective memory of the surrounding community and is considered as one of the influential figures in the spread of Islam in Lamongan Regency. The purpose of this study was to find out more about the biography, role, and legacy of Raden Noer Rochmat or Sunan Sendang Duwur in spreading Islamic teachings in Sendang Duwur Village, Paciran District, Lamongan Regency. This study uses a qualitative research method with a historical approach by looking at and examining all aspects of life from Sunan Sendang Duwur ranging from biographies, roles, methods of preaching, to sites that are legacy of Sunan Sendang Duwur as traces of the spread of Islam in Lamongan. Penyebaran ajaran agama Islam di wilayah utara pesisir Kabupaten Lamongan tepatnya di desa Sendang Duwur Kecamatan Paciran erat kaitannya dengan sosok Raden Noer Rochmat atau yang dikenal dengan nama Sunan Sendang Duwur. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Sendang Duwur mengadopsi metode dakwah secara cultural melalui akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai ajaran agama Islam yang masih dapat ditemukan peninggalannya dari mulai dari relief masjid hingga makam Sunan Sendang sendiri dan menjadi bukti penyebaran agama Islam di pesisir Kabupaten Lamongan. Peranannya dalam menyebarkan agama Islam sangat membekas dalam memori kolektif masyarakat sekitar dan dianggap sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Kabupaten Lamongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih lebih lanjut tentang biografi, peranan, dan jejak peninggalan Raden Noer Rochmat atau Sunan Sendang Duwur dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah dengan melihat dan mengkaji seluruh aspek kehidupan dari Sunan Sendang Duwur mulai dari biografi, peranan, metode dakwah, hingga situs-situs yang peninggalan Sunan Sendang Duwur sebagai jejak penyebaran agama Islam di Lamongan.
Upacara Jamasan Pusakan Kanjeng Kyai Upas di Tulungagung dalam perspektif Islam Fastrana Arya Syah Musyaffa; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.53 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p720-725

Abstract

Culture is a thing related to human mind and mind. In anthropological studies, culture is considered to be an abbreviation of culture so there is no difference based on its definition. Culture is a way of life that is formed from many complex elements (religion, politics, customs, language, art, etc.) and develops in a group of people or society. Culture is often considered a legacy from generation to generation and an integral part of human beings so many people tend to consider it genetically inherited. The term culture comes from the basic word culture so that it has a connection of meaning. While Islamic culture is a concept of a culture with the entry of elements smelling of Islam. But many people are mistaken in placing a culture with Islam, so there are various public opinions that can bring down a certain culture. In writing this article, will discuss how the form of local cultural acculturation Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas with Islamic culture. Kebudayaan dan budaya merupakan hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam kajian Antropologi, budaya dianggap merupakan singkatan dari kebudayaan sehingga tidak ada perbedaan berdasarkan definisinya. Budaya merupakan suatu cara hidup yang terbentuk dari banyak unsur yang rumit (agama, politik, adat istiadat, bahasa, seni, dll) dan berkembang pada sebuah kelompok orang atau masyarakat. Budaya sering kali dianggap warisan dari generasi ke generasi dan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Istilah kebudayaan berasal dari kata dasar budaya sehingga memiliki keterkaitan makna. Sedangkan kebudayaan Islam merupakan suatu konsep suatu budaya dengan masuknya unsur-unsur berbau Islam. Namun banyak masyarakat yang keliru dalam menempatkan sebuah budaya dengan Islam, sehingga muncul berbagai opini-opini masyarakat yang dapat menjatuhkan budaya tertentu. Dalam penulisan artikel ini, akan membahas bagaimana bentuk akulturasi budaya lokal Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas dengan kebudayaan Islam.
Kebudayaan Tabuik sebagai upacara adat di Kota Pairaman Sumatra Barat Febri Rachmad Arifian; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.061 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p726-731

Abstract

Culture is the result of the development of human life, and the two things cannot be separated because they are related. The Tabuik culture in Pairaman City, West Sumatra is one of the creations of the development process of human life. Tabuik is a culture that is held every 10th of Muharram, this Tabuik ceremony aims to commemorate the death of the grandson of the Prophet Muhammad S.A.W, namely Hussein bin Ali. This research method is library research with five stages, namely topic selection, source collection, verification, interpretation: analysis and synthesis, then writing. The Tabuik ceremony certainly has a meaning and value that is contained in the ceremony. The meaning of the Tabuik culture itself can be seen from the form of the Tabuik itself, such as the burqa is a symbol of an angel carrying the body of Husein flying, the peak of the tabuik has two meanings, namely as a news carrier and as a protector for all Muslims. The values of the culture are a picture of a combination of custom and religion, so that the values that exist in Tabuik are still not far from religious values. Kebudayaan adalah hasil dari perkembangan hidup manusia, dan kedua hal itu tidak dapat dipisahkan karena saling berhubungan. Kebudayaan Tabuik yang berada pada Kota Pariaman Sumatera Barat adalah salah satu cipataan dari proses perkembangan hidup manusia. Tabuik ialah kebudayaan yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram, upacara Tabuik ini bertujuan untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad S.A.W yaitu Hussein bin Ali. Metode penelitian ini adalah library research dengan lima tahapan yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi: analisis dan sintesis, lalu penulisan. Dalam upacara Tabuik pastinya memiliki sebuah makna dan nilai yang terkandung dalam upacara tersebut. Makna dari kebudayaan Tabuik sendiri dapat dilihat dari bentuk Tabuik itu sendiri seperti burqa adalah simbol dari malaikat yang membawa jasad Husein terbang, puncak tabuik memiliki dua makna yaitu sebagai pembawa berita dan sebagai pelindung bagi seluruh umat islam. Adapun nilai-nilai dari kebudayaan tersebut adalah gambaran perpaduan antara adat dan agama, sehingga nilai-nilai yang ada pada dalam Tabuik masih tidak jauh dalam nilai-nilai agama.
Islam dalam hegemoni Majapahit: Interaksi Majapahit dengan Islam abad ke-13 sampai 15 Masehi Isna Roikhatul Janah; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.157 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p732-740

Abstract

Islam has existed in Indonesia since the time of traditional kingdoms, and the emergence of Islam on the Java island and growing very rapidly occurred at the end of the Hindu Buddhist era, exactly the Majapahit era. We can see the proof of this with the discovery of the ancient Troloyo Islamic Tomb complex in Mojokerto, which is close to the location of the capital city of Majapahit.. The freedom in Majapahit government system caused Islamization well progressed and increased the moslem population, even more in the coast. This cannot be separated from the services of the preachers, especially Syekh Jumadil Kubro and Maulana Malik Ibrahim. Furthermore, one of the queen was a princess came from Campa. Then born a prince from a chineses queen in Majapahit, and he came back to Majapahit to take his throne and change Majapahit to Islamic kingdom by build a kingdom named Kesultanan Demak. Islam sudah ada di Indonesia sejak zaman kerajaan tradisional, dan munculnya Islam di Pulau Jawa serta berkembang sangat pesat terjadi saat akhir zaman Hindu Buddha yaitu zaman Majapahit. Buktinya dapat kita lihat dengan penemuan kompleks Makam Islam kuno Troloyo di Mojokerto, berdekatan dengan lokasi ibukota Majapahit. Bebasnya sistem pemerintahan di Majapahit menyebabkan Islamisasi berjalan lancar dan masyarakat muslim terus bertambah, terutama di daerah pesisir. Ini tidak lepas dari jasa para pendakwah, terutama Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Malik Ibrahim. Selain itu juga istri salah satu raja Majapahit adalah seorang putri dari Negeri Campa. Kemudian lahir Raden Patah dari seorang istri raja yang merupakan seorang Putri Cina, dan ia kembali ke Majapahit demi menuntut takhta dan mengubah Majapahit menjadi kerajaan Islam dengan mendirikan Kesultanan Demak.
Perspektif bagi masyarakat muslim tentang adanya tradisi upacara adat Siraman Gong Kyai Pradah di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur Kristina Jala Gita; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.507 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p741-749

Abstract

The existence of the traditional ceremony of Siraman Gong Kyai Pradah is a traditional ceremony that develops through generations in the community in Sutojayan Subdistrict, Blitar Regency. Carried out annually on the date of Maulud set with the commemoration of Maulid Prophet Muhammad SAW on the 12th of the Rabiul Awal. Therefore, this warning is very strong by the values of Islamic diversity that blend with Javanese culture and customs in Sutojayan Subdistrict. On this matter, often the surrounding community associates the existence of the ceremony of siraman gong kyai pradah with the tradition of Islam-kejawen (kejawaan). Especially in the Muslim community who visit this traditional ceremony, believing the benefits of the former water flush gong which is believed to provide benefits for anyone who consumes it. Adanya Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah adalah suatu upacara adat yang berkembang secara turun temurun di lingkungan masyarakat di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Dilakukan setiap tahun pada penanggalan Maulud yang ditetapkan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal. Oleh karenanya, peringatan ini sangat kental oleh nilai-nilai keagaman Islam yang berbaur dengan budaya dan adat istiadat jawa di Kecamatan Sutojayan. Mengenai hal ini, seringkali masyarakat sekitar mengaitkan dengan adanya Upacara Siraman Gong Kyai Pradah tersebut dengan tradisi Islam-kejawen (kejawaan). Terutama pada masyarakat muslim yang mengunjungi upacara adat ini, mempercayai adanya manfaat dari air bekas siraman gong yang dipercaya memberikan manfaat bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
Penggunaan Tembang Macapat dalam penyebaran Islam di Jawa Fadhilla Ainuraziza Ramadhanti; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 7 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.357 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i7p866-872

Abstract

Islam is developing in Java Island very fast. This was assisted by the presence of walisongo who spread Islam throughout Java to outside Java. Many saints use art as a medium of preaching. One of the media used to spread Islam at that time was by using the macapat song. Macapat songs, which are praise to God, convey teachings about Islam, as well as an invitation to a better life. Therefore in this article the author aims to: 1) explain about the macapat song, 2) explain the various macapat songs and their reasons, 3) explain how the macapat song is used in the spread of Islam in Java. Islam berkembang di Pulau Jawa dengan sangat cepat. Hal ini dibantu dengan adanya para walisongo yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Jawa hingga luar Jawa. Banyak para wali yang menggunakan kesenian sebagai media dakwahnya. Salah satu media yang digunakan untuk menyebarkan Islam saat itu ialah dengan menggunakan tembang macapat. Tembang macapat yang merupakan pujian kepada Tuhan, menyampaikan ajaran-ajaran tentang Islam, serta ajakan untuk ke kehidupan yang lebih baik. Oleh karenya dalam artikel ini penulis bertujua untuk: 1) menjelaskan tentang tembang macapat, 2) menjelaskan macam-macam tembang macapat beserta makanya, 3) menjelaskan bagimana tembang macapat digunakan dalam penyebaran Islam di Jawa.
Co-Authors Abdul Fattah Aditya Nugroho Widiadi Agustin, Maya Luthfia Aji, Dinas Bayu Akhmad Arif Musadad Alfrida Dyah Miranti Amelia Febriyanti Amirah Nisrina Mumtaz Amirudin Mahmud, M. Jihan Ananda Putri Salsa Bella Ananda, Labuda Shofiya Anib Fakul Mas Ulfa Aprilita Faradina Suyatno Ari Sapto Ashari, Gedhe Blasius Suprapta, Blasius Cahyani, Vinda Regita Catur Pamungkas, Slamet Deny Yudo Wahyudi Devi Putri Angelina Dewi, Edna Sari Kusuma Didit Ditya Fritambiradi Dzikri, Adam Maulana Fadhilla Ainuraziza Ramadhanti Fastrana Arya Syah Musyaffa Febri Kevin Aditya Febri Rachmad Arifian Febriani, Shovi Wiranata Ginanjar Rahmat, Kukuh Gita Lorensia Dannari Grace Leksana Hadi, Achmad Faisol Hadi, Wenny Nova Octavia Hana Khoerul Ngizzah Indah Wahyu Puji Utami, Indah Wahyu Ismail Lutfi Isna Roikhatul Janah Jagad, Moh. Alief Bias Joko Sayono Khairunnisaa, Ana Khakim, Moch Nurfahrul Lukmanul Kristina Jala Gita Lailatul Fitriyah Laili, Vita Sabrina Azda Maria Ulfa Moh. Aldiansyah Prayogo Muh. Farrel Islam Muhammad Farhan Mulyangga, Dani Nafi'ah, Ulfatun Nerry Supanji Ningtiyas, Lintang Ayu Nukman Nukman Nur Azizah, Ardila Nur Habibi, Muhammad Aqib Nur Hafida, Mellina Rahayu, Indah Ramadhani, Muhammad Hanif Ridhoi, Ronald Riski Pratama Ada Riyan Anugerah Wibowo Rori Amelya Rumpaka Salsabila, Helminia Sari, Rovita Satrya Paramanandana Setia, Nanda Slamet Sujud Purnawan Jati, Slamet Sujud Purnawan Sulistyo, Wahyu Djoko Sya'fa Nabila Kurnia Wahyuda Syamsu Dluha, Mohamad Wildan Uskuri Lailal Munna Utari, Shela Dwi Vivi Levia Polyta K Wati, Linda Tiya Wulandari, Selvi Yolan Sadewa Aditya Kusuma Yuliati - Yusuf Bakti Nugraha Zahrotul Firdaus Zainul Hasan