p-Index From 2021 - 2026
9.106
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

URGENSI PENGEMBANGAN MODEL BELAJAR SEJARAH BERBASIS ECO-HISTOURISM DALAM RANGKA OPTIMALISASI POTENSI LINGKUNGAN DAN SEJARAH DI WILAYAH AMSTIRDAM Lutfiah Ayundasari
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.134 KB)

Abstract

Abad 21 menghadirkan tantangan dan perubahan sangat cepat yang harus direspon oleh berbagai bidang kehidupan, salah satunya bidang pendidikan. Kegiatan pembelajaran di sekolah tidak hanya berpusat pada kognitif dan afektif tapi juga psikomotor dalam arti sesungguhnya. Pembelajaran di sekolah harus relevan dengan perkembangan jaman agar siswa dapat menghadapi tantangan dan perubahan yang demikian cepat di abad 21. Penelitian ini membahas tentang pentingnya pengembangan model belajar sejarah berbasis lingkungan dan sejarah di wilayah Amstirdam dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai kantong tenaga kerja Indonesia dengan tingkat perceraian yang tinggi. Padahal wilayah ini memiliki potensi lingkungan dan sejarah yang layak untuk dioptimalkan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut harus dimulai dari langkah kecil dilingkungan sekolah agar siswa memiliki kepekaan dan kesadaran tentang potensi lingkungan mereka. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan sebuah model pembelajaran yang disebut sebagai eco-histourism.The 21st century presents pervasive challenges and changes that must be responded to by various aspects of human life, including education. Learning activities in schools are not only centered on cognitive and affective but also psychomotor in the real sense. Learning in schools must be relevant to the development of the era so that students can face challenges and changes that are so rapid in the 21st century. This study discusses the importance of developing an environment and historical history learning model in the Amstirdam region using a qualitative research approach. So far, the region is known as a source of Indonesian workers with high divorce rates. Even though this region has the potential of the environment and history that is feasible to be optimized in order to improve the welfare of the community. In order to realize this, it must be started from a small step in the school environment so that students have sensitivity and awareness about the potential of their environment. Therefore, researchers recommend a learning model called eco-histourism. In theory this model combines the concepts of historical learning and eco-tourism.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v13i12019p1
URGENSI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS POTENSI LOKAL BAHARI UNTUK MENUMBUHKAN MINAT WIRAUSAHA DI PESISIR SELATAN KABUPATEN MALANG Lutfiah Ayundasari
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.45 KB)

Abstract

Kulturasi Agama dan Budaya dalam Struktur Pemerintahan Kerajaan Balanipa Abad 17 - 18 Lutfiah Ayundasari; Muh. Farrel Islam
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 6, No 1 (2021): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v6i1.4471

Abstract

In the pre-Islamic era in the archipelago, a traditional state had existed with its distinctive and varied system of government. In balanipa kingdom as one of the superior kingdoms in the confederation of Pitu Ulunna Salu and Pitu Babana Binanga, developed a governmental structure based on the social state of its people. Post-penetration of Islamic culture, balanipa kingdom accommodates Islam in its governance structure by giving a special position to ulama in the efforts to enforce Islamic sharia. The purpose of this research is to describe the transformation of the governance structure of the Kingdom of Balanipa XVII – XVIII Century. This research relies on the use of credible primary and secondary data with historical methods. The results of this study show that Islam is accommodated in the governance structure of the Kingdom of Balanipa through a position in a customary structure called Kali. In this position, Kali acts as an enforcer of Islamic law.
PENGEMBANGAN KAJIAN SEJARAH TEMATIK SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR SEJARAH TINGKAT MENENGAH ATAS DI BLITAR Ari Sapto; Lutfiah Ayundasari; Ronal Ridhoi; Mochamad Nurfahrul Lukmanul Khakim
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol. 2, No. 1, April 2019
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.013 KB) | DOI: 10.17977/um032v0i0p13-18

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada guru sejarah di Blitar dalam rangka pengembangan bahan ajar sjarah tematik dengan materi sejarah lokal Blitar. Metode pengembangan yang dilakukan meliputi analisis kebutuhan, pelaksanaan workshop, dan pendampingan pengembangan bahan ajar. Mitra yang terlibat dalam kegiatan ini adalah guru-guru sejarah di Blitar yang tertarik dalam pengembangan bahan ajar sejarah tematik. Hasil dari kegiatan ini adalah kumpulan tulisan dari kelompok guru yang dikombinasikan dengan artikel pemateri workshop untuk dipublikasikan dalam bentuk e-book  sebagai bahan ajar sejarah tematik di Blitar.
Tradisi Palang Pintu masyarakat Betawi dalam konteks budaya Islam Riyan Anugerah Wibowo; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.319 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i1p38-44

Abstract

Writing this article aims to find out about the tradition of the Palang Pintu Mayarakat Betawi community in the context of Islamic culture. The method used is descriptive qualitative research. Many people in Indonesia already know about various traditions that are spread in various regions. One such tradition is the doorstop which comes from the Betawi tradition. The doorstop has become a mandatory tradition in Betawi community grooming events. The Betawi community is a society that upholds the value of diversity and equality of both local and foreign people without distinguishing the ethnicity and culture from which they come. Palang Pintu is a Betawi culture in one of the traditional wedding processions and over time it is used for weddings and welcoming guests. Islamic values ​​contained in it make this tradition have elements of Islamic culture which until now is still a tradition for some Betawi people based on the description above, the author takes the formulas: 1) Explaining the Background of the Cross Door Tradition, 2) Explaining the Process of Implementing the Cross Tradition door, 3) explain the traditional values ​​of the doorstop. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui tentang tradisi Palang pintu Mayarakat Betawi dalam konteks budaya Islam.metode yang digunakan adalah penelitian Kualitatif deskriptif. Banyak orang di Indonesia sudah tahu tentang berbagai tradisi yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satu tradisi tersebut adalah Palang pintu yang berasal dari adat Betawi. Palang pintu menjadi suatu tradisi yang wajib dalam acara mantenan masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi adalah masyarakat yang dimana menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kesamaan sesama etnis baik lokal maupun mancanegara tanpa membedakan suku dan budaya dari mana mereka berasal Palang Pintu adalah suatu kebudayaan khas Betawi dalam salah satu prosesi adat pernikahan dan pada seiringnya waktu digunakan untuk pernikahan dan penyambutan tamu. Nilai-nilai islami yang terkandung di dalamnya menjadikan tradisi tersebut memiliki unsur kebudayaan islam yang sampai saat ini masih menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat betawi. Berdasarkan uraian diatas, penulis mengambil rumusan: 1) Menjelaskan Latar belakang Tradisi Palang Pintu, 2) Menjelaskan Proses Pelaksanaan Tradisi Palang pintu, 3) Menjelaskan Nilai-Nilai Tradisi Palang pintu.
Pembaharuan pendidikan Islam di Turki Usmani pada masa pemerintahan Sultan Mahmud tahun 1784-1839 M Vivi Levia Polyta K; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.309 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i1p54-60

Abstract

The Ottoman Empire was a fairly well-known kingdom, the Ottoman Turks did not prioritize education as much as political and military issues. During his reign of approximately seven centuries, the Ottoman Turks did not too many experts in knowledge. However, starting with the leadership of Sultan Mahmud, he began to think about the development of the world of education by making several reforms in various lines, ranging from curriculum to educational institutions. Kerajaan Turki Usmani merupakan kerajaan yang cukup tersohor, Turki Usmadi tidak terlalu mementingkan pendidikan dibanding dengan masalah politik dan militer. Selama berkuasa kurang lebih tujuh abad, turki usmani tidak telalu banyak melahirkan ahli pengetahuan. Namun mulai dengan dipimpinnya sultan Mahmud, beliau mulai memikirkan mengenai perkembangan dunia pendidikan dengan melakukan beberapa pembaharuan di berbagai lini, mulai dari kurikulum hingga lembaga pendidikan.
Penaklukan Konstantinopel tahun 1543: Upaya Turki Utsmani menyebarkan agama dan membentuk kebudayaan Islam di Eropa Yolan Sadewa Aditya Kusuma; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.308 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i1p61-68

Abstract

Muhammad Al-Fatih, the 22-year-old leader of the Ottoman Empire, has learned a lot from the failure of his predecessors in trying to conquer Constantinople, so that when he came to power in 1451 AD Muhammad Al-Fatih immediately set his sights and was serious about conquering Constantinople, until he was conquered in 1453 AD. So that Islam successfully spread to Constantinople, Islam which has entered Constantinople over time will have an impact on local culture which was previously European Roman style, when Constantinople was conquered and Islam entered its culture Identical to the Ottoman Turkish Islamic culture. It is proven by Muhammad Al-Fatih that he immediately changed the magnificent Aya Shofia church to be converted into a mosque and changed the name of the city to Islam Bul which means Islamic city. Muhammad Al-Fatih yang berusia 22 tahun pemimpin Kekhalifanan Turki Utsmani telah banyak belajar dari kegagalan para pendahulunya dalam usaha menaklukkan Konstantinopel, sehingga ketika berkuasa pada tahun 1451 Masehi Muhammad Al-Fatih langsung mengarahkan pandangannya dan bersungguhsungguh untuk menaklukan Konstantinopel, hingga berhasil ditaklukkan pada tahun 1453 Masehi. Sehingga Agama Islam berhasil tersebarke Konstantinopel, Agama Islam yang telah masuk didalam Konstantinopel berjalannya waktu akan berdampak pada kebudayaan setempat yang sebelumnya bergaya Romawi eropa, ketika Konstantinopel ditaklukan dan Islam masuk kebudayaannya Identik dengan kebudayaan Islam Turki Utsmani. Dibuktikan dengan Muhammad Al-Fatih langsung mengubah gereja megah Aya Shofia untuk dialihfungsikan menjadi masjid dan mengganti nama kota menjadi Islam Bul yang bearti kota Islam.
Kesultanan Banjar: Peranan dalam persebaran Islam di Kalimantan (abad XVI M - XIX M) Alfrida Dyah Miranti; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.196 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i2p227-237

Abstract

Several theories and hypotheses suggest that Islam entered the archipelago around the VII century AD or XIII AD. Thus, the entry of Islam led to the emergence of Islamic kingdoms or often known as the Sultanate. In Kalimantan, there is an Islamic kingdom, namely the Banjar Sultanate. The Demak Sultanate influenced the process of developing Islam in the Banjar Sultanate. After getting the influence of Islam, the Banjar Sultanate government made efforts to Islamize several areas where the people were not yet Muslim with the help of local scholars. Since the arrival of the scholars in Kalimantan, the process of spreading Islam began to develop rapidly. On this basis, the purpose of the preparation of this article is to determine the process of Islamization in the Banjar Sultanate from the XVI M to XIX M centuries. The methods used are historical and qualitative methods, namely in the form of Library Research. This article contains about the condition of Banjar before the entry of Islam, the process of spreading Islam, and the ulama who played a role in the process of spreading Islam in the Banjar Sultanate. Beberapa teori dan hipotesa yang menganggap bahwa Islam memasuki wilayah Nusantara sekitar abad ke VII M atau XIII M. Sehingga, masuknya Islam menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam atau yang sering dikenal dengan Kesultanan. Di Kalimantan terdapat kerajaan Islam yaitu Kesultanan Banjar. Proses perkembangan agama Islam di Kesultanan Banjar dipengaruhi oleh Kesultanan Demak. Setelah mendapatkan pengaruh Islam maka pemerintah Kesultanan Banjar melakukan upaya Islamisasi dibeberapa wilayah yang masyarakatnya belum beragama Islam dengan dibantu oleh ulama setempat. Sejak kedatangan para ulama di Kalimantan, proses penyebaran agama Islam mulai berkembang pesat. Atas dasar tersebut maka tujuan dari penyusunan artikel ini adalah untuk mengetahui proses Islamisasi pada Kesultanan Banjar dari abad XVI M hingga XIX M. Metode yang digunakan adalah metode history dan kualitatif yaitu berupa Library Research. Artikel ini berisikan tentang kondisi Banjar sebelum masuknya Islam, proses penyebaran agama Islam, dan ulama yang berperan dalam proses penyebaran agama Islam di Kesultanan Banjar.
Islam Kejawen: Lahirnya akulturasi Islam dengan budaya Jawa di Yogyakarta Uskuri Lailal Munna; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.002 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i3p317-325

Abstract

Islam entered Nusantara through several routes, including trade, marriage, education, preaching, etc. Java itself is one of the regions in the archipelago where Islam is spreading. Before getting to know Islam, Javanese people had previously embraced animism and dynamism, Hinduism-Buddhism, and then entered Islam, which in the process of spreading Islam made people's lives begin to change for the better. Islam can be accepted by the Javanese people, but even though they have changed their beliefs to embrace Islam, in fact various kinds of cultures and traditions from their previous ancestors are still firmly held and carried out by the Javanese people. The conditions that occurred in the Javanese people made them feel like living by adhering to two religions, where the teachings of their ancestors and the teachings of Islam were brought together and created a new acculturation. This cultural mixing between Islam and the native culture of the Javanese people is known as Islam Kejawen, which was born in Java, one of which is Yogyakarta, Central Java. Islam masuk ke Nusantara melalui beberapa jalur, di antaranya perdagangan, pernikahan, pendidikan, dakwah, dll. Jawa sendiri menjadi salah satu wilayah di Nusantara yang menjadi lokasi persebaran Islam. Sebelum mengenal agama Islam, masyarakat Jawa sebelumnya telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, Hindu-Buddha, dan kemudian masuklah agama Islam, dimana pada proses menyebarnya Islam tersebut yang menjadikan kehidupan masyarakatnya mulai berubah ke arah yang lebih baik. Agama Islam dapat diterima oleh masyarakat Jawa, namun meskipun telah merubah kepercayaan mereka untuk menganut agama Islam, nyatanya berbagai macam kebudayaan serta tradisi dari para leluhur terdahulu masih dipegang teguh dan dilaksanakan oleh masyarakat Jawa. Kondisi yang terjadi pada masyarakat Jawa tersebut membuat mereka seperti hidup dengan menganut dua agama, dimana ajaran-ajaran dari para leluhur serta ajaran agama Islam dipertemukan dan menciptakan akulturasi baru. Percampuran budaya antara agama Islam dengan kebudayaan asli masyarakat Jawa itulah yang disebut sebagai Islam Kejawen, yang lahir di Jawa, salah satunya yaitu di Yogyakarta, Jawa Tengah.
Strategi Diponegoro dalam menggerakkan semangat jihad masyarakat Islam di Jawa Nukman Nukman; Lutfiah Ayundasari
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.969 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i3p368-378

Abstract

One of the wars that was enough to make the Netherlands Indies Government change its war strategy and tactics to deal with resistance in Java, the Diponegoro War or often known as the Java War. This war involved almost all of the Land of Java, especially Central Java and East Java. The Participation of many Javanese people can’t be separated from the role of Prince Diponegoro in winning the hegemony over the Javanese people, especially people who embrance Islam resulting in a war within five years. The method used in this research is library research. The result of this research is that prince Diponegoro conveyed his ideas, ideas and knowledge to the public through the Islamic community, especially from the students, to call for the spirit of Jihad fi Sabilillah. The war banner he carried was also based on Islamic laws and wanted to establish an Islamic state (Balad al Islam). Salah satu perang yang cukup membuat pemerintah Hindia Belanda merubah strategi dan taktik untuk menghadapi perlawanan di Jawa, Perang Diponegoro atau sering dikenal dengan Perang Jawa. Perang ini melibatkan hampir seluruh Tanah Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ikut andilnya masyarakat Jawa yang banyak tidak lepas dari peran Pangeran Diponegoro dalam memenangkan Hegemoni atas masyarakat Jawa, terutama masyarakat yang memeluk agama Islam sehingga mengakibatkan perang dalam kurun waktu lima tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research. Hasil dari penelitian ini adalah pangeran Diponegoro menyampaikan sebuah gagasan, ide dan pengetahuannya kepada masyarakat melalui komunitas Islam, terutama dari kalangan santri untuk menyerukan semangat Jihad fi Sabilillah. Panji perang yang diusungnya pun juga berlandaskan pada hukum-hukum Islam dan ingin mendirikann suatu negara Islam (Balad al Islam).
Co-Authors Abdul Fattah Aditya Nugroho Widiadi Agustin, Maya Luthfia Aji, Dinas Bayu Akhmad Arif Musadad Alfrida Dyah Miranti Amelia Febriyanti Amirah Nisrina Mumtaz Amirudin Mahmud, M. Jihan Ananda Putri Salsa Bella Ananda, Labuda Shofiya Anib Fakul Mas Ulfa Aprilita Faradina Suyatno Ari Sapto Ashari, Gedhe Blasius Suprapta, Blasius Cahyani, Vinda Regita Catur Pamungkas, Slamet Deny Yudo Wahyudi Devi Putri Angelina Dewi, Edna Sari Kusuma Didit Ditya Fritambiradi Dzikri, Adam Maulana Fadhilla Ainuraziza Ramadhanti Fastrana Arya Syah Musyaffa Febri Kevin Aditya Febri Rachmad Arifian Febriani, Shovi Wiranata Ginanjar Rahmat, Kukuh Gita Lorensia Dannari Grace Leksana Hadi, Achmad Faisol Hadi, Wenny Nova Octavia Hana Khoerul Ngizzah Indah Wahyu Puji Utami, Indah Wahyu Ismail Lutfi Isna Roikhatul Janah Jagad, Moh. Alief Bias Joko Sayono Khairunnisaa, Ana Khakim, Moch Nurfahrul Lukmanul Kristina Jala Gita Lailatul Fitriyah Laili, Vita Sabrina Azda Maria Ulfa Moh. Aldiansyah Prayogo Muh. Farrel Islam Muhammad Farhan Mulyangga, Dani Nafi'ah, Ulfatun Nerry Supanji Ningtiyas, Lintang Ayu Nukman Nukman Nur Azizah, Ardila Nur Habibi, Muhammad Aqib Nur Hafida, Mellina Rahayu, Indah Ramadhani, Muhammad Hanif Ridhoi, Ronald Riski Pratama Ada Riyan Anugerah Wibowo Rori Amelya Rumpaka Salsabila, Helminia Sari, Rovita Satrya Paramanandana Setia, Nanda Slamet Sujud Purnawan Jati, Slamet Sujud Purnawan Sulistyo, Wahyu Djoko Sya'fa Nabila Kurnia Wahyuda Syamsu Dluha, Mohamad Wildan Uskuri Lailal Munna Utari, Shela Dwi Vivi Levia Polyta K Wati, Linda Tiya Wulandari, Selvi Yolan Sadewa Aditya Kusuma Yuliati - Yusuf Bakti Nugraha Zahrotul Firdaus Zainul Hasan