Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pengaruh Utang Luar Negeri Sektor Swasta dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terhadap PDB Sektor Industri di Indonesia Tahun 2015–2024 Riza Yuliana; Muhammad Syafri
JURNAL ILMIAH EKONOMI, MANAJEMEN, BISNIS DAN AKUNTANSI Vol. 3 No. 3 (2026): MEI
Publisher : CV. KAMPUSA AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jemba.v3i3.2280

Abstract

Penelitian ini mengkaji keterkaitan antara pembiayaan eksternal yang berasal dari utang luar negeri pada sektor swasta serta investasi yang bersumber dari dalam negeri melalui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terhadap dinamika Produk Domestik Bruto (PDB) sektor industri di Indonesia. Seluruh analisis didasarkan pada data sekunder berbentuk deret waktu (time series) yang mencakup periode 2015 hingga 2024, dengan pengumpulan data dari BPS dan Bank Indonesia. Kajian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif yang diolah melalui model regresi linier berganda, setelah sebelumnya dilakukan pengujian terhadap asumsi-asumsi klasik untuk memastikan validitas estimasi model yang digunakan. Temuan empiris menunjukkan bahwa variabel utang luar negeri sektor swasta tidak menunjukkan kontribusi yang berarti terhadap perubahan PDB sektor industri. Sebaliknya, variabel PMDN memperlihatkan hubungan yang bersifat positif serta memiliki signifikansi statistik terhadap peningkatan output sektor industri. Ketika dianalisis secara simultan, kedua variabel tersebut tetap memberikan pengaruh terhadap variasi PDB sektor industri, meskipun dengan kontribusi yang berbeda. Nilai koefisien determinasi yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa model penelitian mampu menjelaskan proporsi variasi PDB dalam tingkat yang cukup besar. Secara keseluruhan, hasil kajian ini menegaskan bahwa peran investasi domestik lebih dominan dibandingkan dengan pembiayaan eksternal dalam mendukung ekspansi sektor industri di Indonesia. Dengan demikian, penguatan arus PMDN menjadi aspek penting dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Health Services for Marginalized Groups: A Sociological Study on Construction Workers in Paccerakkang, Makassar City Alim, Andi; Adam, Arlin; Minarti, Asriani; Adhyatma. A; Muhammad Syafri; Abdul Gafur; Riswan Marsal
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 5 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i5.8977

Abstract

Introduction: This study aims to gain an in-depth understanding of the experiences of construction workers in accessing health services in Paccerakkang Subdistrict, Biringkanaya District, Makassar City. As part of the informal sector workforce, construction workers face various health risks as well as structural limitations in obtaining adequate health services. This study adopts a health sociology perspective to examine how social, economic, and public policy factors influence access to health services among informal workers. Methods: This study employed a qualitative approach with a phenomenological design. The research participants consisted of six construction workers selected purposively based on the criteria of being aged 18–60 years, actively working as construction workers, and having experience in accessing health services within the past year. Data were collected through in-depth interviews, participant observation in the workers’ work and residential environments, and documentation to strengthen the empirical context of the study. Data analysis was conducted using thematic analysis through processes of data reduction, categorisation, and meaning-making to identify patterns of experience and the participants’ interpretations of access to health services. Results: The findings indicate that construction workers perceive health services not only as a means of medical treatment but also as a form of social protection that helps maintain work productivity and family well-being. The main barriers to accessing health services include economic constraints, unstable income, long working hours, and the lack of occupational safety facilities. Some participants also highlighted complicated administrative procedures and high treatment costs, although in general they did not experience discrimination from health professionals. To overcome these barriers, construction workers developed adaptive strategies such as utilising formal health services and traditional treatment, maintaining health through healthy lifestyles, and relying on social support from family members and co-workers. Conclusion: This study concludes that the experiences of construction workers in accessing health services are shaped by the interaction of economic, social, occupational, and health policy factors. Therefore, stronger synergy between government institutions, health service providers, and worker communities is required to create a health service system that is more equitable, inclusive, and responsive to the needs of informal sector workers in urban settings.
Determinan Pertumbuhan Ekonomi di Berbagai Wilayah di Indonesia: Pendekatan Data Panel dan Analisis Jalur ananda_ainahs Mutiara Saing; Abd. Rahim; Muhammad Syafri; Abdul Rajab; Sri Astuty
JDEP (Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan) Vol. 9 No. 2 (2026): JDEP (Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan)
Publisher : UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jdep.v9i2.1099

Abstract

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator utama dalam menilai keberhasilan pembangunan suatuwilayah. Namun, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih menunjukkan disparitas antar wilayah yangdipengaruhi oleh berbagai faktor struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruhdesentralisasi fiskal dan ketimpangan wilayah terhadap pertumbuhan ekonomi dengan IndeksPembangunan Manusia (IPM) sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan data panel dari limaprovinsi di Indonesia yaitu DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, danPapua selama periode 2015–2024. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel dan analisisjalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal berpengaruh positifterhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan ketimpangan wilayah berpengaruh negatif. Namun, IPM tidakmampu memediasi hubungan tersebut secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatankapasitas fiskal daerah belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kualitas pembangunan manusia yangberdampak pada pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih terintegrasiantara pengelolaan fiskal dan pembangunan sumber daya manusia.