Yusuf Azis
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 63 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PEMBUATAN TAHU PUTIH DI KELURAHAN GUNTUNG PAYUNG KECAMATAN LANDASAN ULIN KOTA BANJARBARU (Studi Kasus Pabrik “Tahu Anyar”) Natalia Wulandari; Yusuf Azis; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i2.615

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pemesanan bahan baku yang ekonomis per kali pesan (Economic Order Quantity), kelayakan (Revenue Cost Ratio) dan titik impas (Break Even Point) usaha pembuatan tahu putih, serta proses pemasaran tahu putih. Metode studi kasus merupakan sebagai pedoman dalam mengumpulkan data dengan menyeluruh, yaitu di Pabrik “Tahu Anyar” Kelurahan Guntung Payung Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah pemesanan sebanyak 68.100 kg selama 1 tahun terakhir degan pemesanan bahan baku kedelai yang optimal (EOQ) adalah sebesar 5.652 kg/ kali pesan dengan frekuensi pembelian sebanyak 12 kali pesan/tahun, sehingga diperoleh penghematan biaya persediaan sebesar Rp 163.875/kali pesan atau Rp 1.966.500/tahun dengan pemesanan bahan baku sebanyak 276 kg /kali pesan atau 3.312 kg/tahun. Keuntungan yang diper oleh adalah sebesar Rp 248.719.648/tahun dan mencapai titik impas (BEP) pada saat produksi tahu mencapai 6.304 papan atau 3.152 kg dan nilai jumlah penjualan sebesar Rp 157.600.000. Dengan kelayakan secara finansial diperoleh nilai RCR sebesar 1.31 maka RCR > 1. Pemasaran tahu putih melibatkan beberapa pihak diantaranya produsen, pedagang pengecer dan konsumen. Proses pemasaran dilakukan langsung oleh pemilik perusahaan dengan mengantar ke pengecer di pasar antasari dan wilayah Kota Banjarmasin serta ke konsumen di sekitar Kota Banjarbaru.Kata kunci: persediaan, biaya, titik impas, kelayakan usaha, pemasaran, industri.
Analisis Faktor Produksi Usahatani Selada Sistem Hidroponik pada Komunitas Petani Hidroponik Kalimantan Selatan Lalan Suprila; Yusuf Azis; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10316

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis bagaimana penyelenggaraan usahatani selada sistem hidroponik pada KOPHIKALSEL, menganalisis faktor-faktor produksi yang berpengaruh dalam budidaya usahatani selada sistem hidroponik yaitu lahan, modal usaha, tenaga kerja, benih dan nutrisi. mengetahui masalah yang dihadapi petani dalam usahatani selada sistem hidroponik di KOPHIKALSEL. Penelitian ini dilaksanakan di Komunitas Petani Hidroponik Kalimantan Selatan (KOPHIKALSEL) cabang Banjarmasin dan Banjarbaru dengan jumlah responden sebanyak 44 petani yang diambil dengan metode sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan usahatani selada yang dalam satu kali musim tanam selama 40-50 hari ialah mencakup persiapan lahan, penyemaian benih, penanaman, perawatan dan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta panen dan pascapanen. Pengaruh penggunaan faktor produksi yang digunakan meliputi lahan, modal usaha, tenaga kerja, benih dan nutrisi menyumbang 82 % . Secara simultan pada tingkat kepercayaan 95% lahan, modal, tenaga kerja, benih dan nutrisi secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhada pproduksi sayur selada hidroponik. Secara parsial pada tingkat kepercayaan 95% lahan dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi selada sistem hidroponik sedangkan modal, benih dan nutrisi tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi selada sistem hidroponik. Permasalahan yang dihadapi petani dalam melakukan usahatani meliputi ketersediaan benih yang tidak selalu ada, pemadaman listrik yang mengakibatkan tanaman rusak atau mati dan Kurangnya pasokan selada yang berkelanjutan.
Analisis Finansial Industri Jamur Tiram (Oyster Mushroom) (Studi Kasus pada CV. Banjar Jaya Mushroom Banjarbaru) Taufiqurrahman Taufiqurrahman; Muzdalifah Muzdalifah; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.6042

Abstract

Komoditas hortikultura dipandang sebagai sumber pertumbuhan yang potensial untuk dikembangkan dalam sistem agribisnis karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke hulu maupun ke hilir. Salah satu produk hortikultura yang cukup menjanjikan adalah jamur. CV. Banjar Jaya Mushroom (BJM) merupakan salah satu industri yang mampu memproduksi baglog, bibit dan jamur, serta merupakan salah satu industri yang berkembang hingga saat ini yang berada di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan industri jamur tiram, mengetahui biaya, penerimaan dan keuntungan serta kontribusi usaha yang terbesar, dan mengetahui bagaimana sensitivitas harga terhadap jumlah output jamur yang dihasilkan dari industri jamur tiram BJM. Pemilihan tempat ini dilakukan dengan sengaja, dengan pertimbangan industri ini merupakan salah satu sentra produksi jamur tiram yang cukup besar di Banjarbaru. Waktu penelitian 5 bulan atau satu periode yaitu pada bulan Agustus-Desember 2019. CV. Industri Banjar Jaya Mushroom merupakan usaha yang sangat kompleks, dimana usahanya terdiri dari pembuatan baglog jamur untuk media tumbuh jamur tiram, pembuatan bibit jamur tiram serta pembudidayaan jamur tiram juga. Tahun 2015 telah memulai memproduksi media baglog dan bibit jamur untuk diperjual belikan secara komersil hingga sekarang. Bentuk usaha ini adalah usaha perseorangan dengan modal sendiri. Usahanya mampu bertahan dan terus mengalami peningkatan volume produksi usaha ini dikelola dengan cukup baik sehingga relative mampu bersaing dalam di pasar, terutama untuk daerah Kota Banjarbaru. Total biaya sebesar Rp 594.771.114 total penerimaan sebesar 1.061.825.000 sehingga hasil keuntungan keseluruhan sebesar Rp 467.053.886. Dari analisis sensitivitas didapatkan bahwa industri ini hanya mampu bertahan jika terjadi penurunan harga jamur tiram sampai 90%. Namun, tidak menutup kemungkinan jika industri mengalami penurunan produksi atau pun harga dan jamur tiram dipasaran yang sangat drastis maka akan mengalami kerugian
Analisis Efisiensi Teknis Usahatani Padi Sawah Pasang Surut Varietas Lokal di Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala Hatimatul Husna; Yusuf Azis; Muhammad Fauzi
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1317

Abstract

Abstrak. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki lahan pasang surut cukup luas dan sebagian besarnya di Kabupaten Barito Kuala. Pemanfaatan lahan pasang surut berpotensi cukup besar dalam mengembangkan pertanian terutama untuk padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi teknis petani padi sawah pasang surut di Kecamatan Barambai berdasarkan tahun 2018 menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA), untuk menganalisis pengaruh karakteristik responden terhadap efisiensi teknis di Kecamatan Barambai menggunakan Tobit Regression, untuk menganalisis keuntungan petani padi sawah pasang surut di Kecamatan Barambai tahun 2018. Penelitian ini dilakukan di tiga desa di Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala yang ditentukan secara purposive dengan memilih 60 petani sampel. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 4 petani yang efisien dengan nilai rata-rata tingkat efisiensi 0,893. Dari 4 karakteristik petani sampel, ada 3 karakteristik yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis yaitu usia berpengaruh negatif, lama pendidikan formal dan jumlah tanggungan anggota rumah tangga berpengaruh positif. Sedangkan untuk lama pengalaman berusahatani tidak berpengaruh. Penerimaan petani sampel adalah Rp 13.609.917/usahatani atau Rp 15.869420/hektar. Sedangkan pendapatan yang diperoleh Rp 11.411.300/usahatani atau Rp 13.305.792/hektar sehingga keuntungan Rp 7.172.502/usahatani atau Rp 8.363.262/hektar. Kata kunci: efisiensi teknis, Data Envelopment Analysis, model Tobit Regression
Analisis Usahatani Dan Pemasaran Nanas di Desa Mekarsari Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala Riantoni Riantoni; Abdurrahman Abdurrahman; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9482

Abstract

Komoditas nanas di Kecamatan Mekarsari berkembang cukup baik jenis nanas yang dibudidayakan di Kecamatan Mekarsari yaitu nanas tamban. Dari segi budidayanya dan segi permintaan nanas tamban sangat tepat dan dapat berkembang dengan baik. Menganalisis usahatani diperlukan sebagai alat pemeriksan usahatani yaitu agar mengetahui sampai dimana keberhasikan yang telah dicapai selama usaha bahwa pekerjaan berlangsung. Tujuan Penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi penyelenggaraan usahatani nanas Tamban di Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala. 2) Mengetahui Berapa biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan yang diterima oleh petani nanas Tamban di Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala. 3) Mengetahui tingkat kelayakan usahatani nanas Tamban di Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala. 4) Mengetahui gambaran umum pemasaran nanas Tamban di Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menggunakan data primer data sekunder. Data primer dengan wawancara menggunakan kuisioner. Data sekunder diambil dari studi pustaka kelembagaan dan instansi terkait. Analisis data menggunakan analisis deskriptif berdasarkan survey dan pengamatan yang dilakukan dan perhitungan biaya, pendapatan dan keuntungan usahatani nanas tamban di Desa Mekarsari Kecamatan Mekarsari Kabupaten Barito Kuala. Hasil penelitian menunjukkan rata - rata total biaya yang dikeluarkan dalam 1 periode tanam (33 bulan) adalah sebesar Rp 66.099.783,-. Rata-rata total penerimaan yang diperoleh adalah sebesar Rp 162.594.000,-. Pendapatan rata-rata yang diperoleh adalah sebesar Rp.203.753.118,- dan Keuntungan rata-rata yang diperoleh adalah sebesar Rp 96.496.317. Tingkat kelayakan Usahatani Nanas di Kecamatan Mekarsari dapat dilihat dari nilai Revenue Cost Ratio (RCR). Nilai RCR yang didapat adalah sebesar 2,45. Dengan nilai RCR >1 maka Usahatani Nanas di Kecamatan Mekarsari merupakan jenis usaha yang layak. Metode pemasaran yang dilakukan para petani responden adalah dengan cara melakukan pemanenan saat terdapat permintaan oleh para pengepul buah. Para pengepul buah kemudian membeli nanas perbijinya dengan harga dan kriteria yang sudah disepakati sebelumnya. Kemudian para pengepul akan memasarkan nanas ke Banjarmasin, Banjarbaru, dan kota sekitarnya.
Analysing of financial literacy among self-owned oil palm farmers in the tidal land environment of Barito Kuala Regency, South Kalimantan Azis, Yusuf; Hartoni, Hartoni; Shafriani, Karimal Arum; Gogoi, Jeemoni
Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE) Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jase.v5i2.22952

Abstract

This study aims to assess the level of financial literacy and examine the influencing factors among independent oil palm smallholders operating in the tidal land areas of Barito Kuala Regency, South Kalimantan, Indonesia. Despite the region's significant agricultural potential, particularly in oil palm cultivation, local farmers often face financial vulnerability due to limited financial knowledge. Using a sample of 100 respondents selected through simple random sampling across Wanaraya, Tamban, and Barambai Districts, the study evaluates financial literacy based on the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) framework and applies binary logistic regression to identify key determinants. The Wald test analysis confirms that income, formal education, proximity to financial institutions, and individual risk preferences significantly influence financial literacy among the respondents. Specifically, higher income and more years of formal education are associated with increased likelihood of being financially literate. A shorter distance to financial institutions also positively affects literacy, suggesting that physical access to financial services supports better financial understanding. Additionally, individuals with higher risk preferences tend to have greater financial literacy, potentially due to increased engagement with financial decision-making. Conversely, age was found to have no significant effect, which confirms that financial literacy is not inherently tied to a person’s age or life stage. Instead, it is determined by exposure to financial knowledge, access to resources, and engagement with financial practices, factors that vary regardless of age. While the study is limited by its regional scope and sample size, it offers critical insights for policymakers and stakeholders in promoting targeted financial education programs for rural agricultural communities. The findings emphasize the need for accessible, context-specific financial literacy initiatives to enhance the economic resilience of smallholder farmers in underdeveloped regions.
Efisiensi teknis usahatani padi sawah pasang surut varietas lokal di Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala: pendekatan Dea Husna, Hatimatul; Azis, Yusuf; Fauzi, Muhammad
Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE) Vol. 1 No. 2 (2020): Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jase.v1i2.9121

Abstract

Provinsi Kalimantan Selatan memiliki lahan pasang surut cukup luas dan sebagian besarnya di Kabupaten Barito Kuala.Pemanfaatan lahan pasang surut berpotensi cukup besar dalam mengembangkan pertanian terutama untuk padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi teknis petani padi sawah pasang surut di Kecamatan Barambai menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA), untuk menganalisis pengaruh karakteristik responden terhadap efisiensi teknis di Kecamatan Barambai menggunakan Tobit Regression, untuk menganalisis keuntungan petani padi sawah pasang surut di Kecamatan Barambai. Penelitian ini dilakukan di tiga desa di Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala yang ditentukan secara purposive dengan memilih 60 petani sampel. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 4 petani yang efisien dengan nilai rata-rata tingkat efisiensi 0,893. Dari 4 karakteristik petani sampel, ada 3 karakteristik yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis yaitu usia berpengaruh negatif, lama pendidikan formal dan jumlah tanggungan anggota rumah tangga berpengaruh positif. Sedangkan untuk lama pengalaman berusahatani tidak berpengaruh. Penerimaan petani adalah Rp 13.609.917/usahatani atau Rp 15.869.420/hektar. Sedangkan pendapatan yang diperoleh Rp 11.411.300/usahatani atau Rp 13.305.792/hektar sehingga keuntungan Rp 7.172.502/usahatani atau Rp 8.363.262/hektar.
Efisiensi Pemasaran Cabai Rawit Hiyung Di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin-Kalimantan Selatan Azis, Yusuf; Rahmawati, Emy; Kurniawan, A.Yousuf
Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE) Vol. 2 No. 1 (2021): Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jase.v2i1.13035

Abstract

The purpose of this study is to determine the marketing of Hiyung cayenne pepper, calculate the share price, cost, margin, and profit earned by producers/farmers and each marketing agency, and examine the level of marketing efficiency of Hiyung cayenne pepper. This study took place in the Tapin Tengah Subdistrict of the Tapin Regency of South Kalimantan Province. The Snowball Sampling approach was used to pick merchant responses. Primary and secondary data are both required. The findings revealed that Hiyung's cayenne pepper marketing channel is divided into two sections: Channel IA (Farmers – Collector Traders – Retailers at the Keraton Market – Consumers), Channel B (Farmers – Collecting Traders – Retailers at Binuang Market – Consumers), and Channel II (Farmers at the Binuang Market – Consumers). - Wholesalers – Collecting Merchants). The greatest marketing cost is Rp. 2,834,39/kg in channel II, and the lowest cost is Rp. 1,967,80 in channel IA with the marketing area in the Keraton market. In channel II, the highest margin is Rp.13,500,00./kg. Meanwhile, the smallest margin, Rp. 4,000.00/kg, is found in channel IA at the Keraton Market Retailer level. The highest marketing profit in channel II is Rp. 17,678.00/kg, whereas the highest profit is Rp. 7,999,46 in channel IA in the Keraton Market area. Channel IA Pasar Keraton has the highest percentage of farmers at 77.44 percent, while channel II has the lowest percentage of farmers at 62.59 percent. The largest profit share for wholesalers is 37.00 percent in channel II, while the lowest is 22.56 percent in channel 1 in the Keraton Market region. The most efficient marketing channel is channel IA, which serves the Keraton market. Its economic efficiency is superior to that of channels IB and II, and its technical efficiency is superior to that of the Keraton market. This translates to lower distribution costs and more acceptability by major institutions.
Efisiensi Pemasaran Sapi Potong di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan Azis, Yusuf; Husin, Ibnu
Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE) Vol. 2 No. 1 (2021): Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jase.v2i1.13036

Abstract

Takisung District is one of the centers for beef cattle in Tanah Laut Regency. In creating an efficient and profitable marketing system for both farmers and consumers, farmers must choose short marketing channels. This study aims to identify the shape of the beef cattle marketing channel, determine the costs, benefits, margins, and farmer's share, and the marketing efficiency received by beef cattle producers. This research was conducted in Takisung District, Tanah Laut Regency. The sample villages were chosen deliberately, namely the three villages with the highest number of farmers (Source Makmur Village, Takisung Village, and Gunung Makmur Village). The sample of farmer respondents in each village was chosen randomly in proportion, with a total sample of 30 farmers. To select local traders and cutting traders, the snowball sampling method was used. The study was conducted from March to May 2020. The results showed that there were 4 forms of beef cattle marketing channels, namely Channel I (breeders – consumers), Channel II (breeders – slaughterers-consumers), Channel III (breeders – local traders – consumers), and Channel IV (breeders – local traders – slaughterers – consumers). Furthermore, costs, profits, margins, and farmer's share per head of cattle as well as marketing efficiency for each marketing channel, namely channel 1 with costs, profits, and marketing margins of Rp.0 and farmer's share get 100% results. Channel 2 with a cost of Rp. 570,000, a profit of Rp. 4,950,000 and a margin of Rp. 5,520,000 and a farmer's share with a yield of 73.74%. Furthermore, channel 3 with a cost of Rp.243,000, a profit of Rp.457,000, and a margin of Rp.700,000, and farmer's share obtained a yield of 95.39%. Finally, channel 4 with a cost of Rp. 1,766,000, a profit of Rp. 5,124,000 and a margin of Rp. 5,920,000 and farmer's share getting 71.84% results. Economically, beef cattle marketing can be said to be relatively efficient in all marketing channels. The most efficient marketing channels are channel 1 and channel 3.
PERSEPSI MAHASISWA AGRIBISNIS TERHADAP MINAT PEKERJAAN DI SEKTOR PERTANIAN Leni Anggriani; Nina Budiwati; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12283

Abstract

Persepsi Mahasiswa Agribisnis terhadap minat pekerjaan di sektor pertanian akan menentukan jumlah mahasiswa yang tertarik dan ingin melanjutkan pekerjaan pada sektor pertanian. dengan hubungan yang erat Persepsi Mahasiswa persepsi dan minat Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi dan menganalisis persepsi Mahasiswa Agribisnis angkatan 2020 Faperta ULM terhadap pekerjaan di sektor pertanian. (2) Mengidentifikasi dan menganalisis minat Mahasiswa Agribisnis angkatan 2020 Faperta ULM terhadap pekerjaan di sektor pertanian. (3) Menganalisis hubungan antara persepsi Mahasiswa Agribisnis angkatan 2020 Faperta ULM terhadap pekerjaan di sektor pertanian. Mahasiswa Agribisnis terhadap minat pekerjaan di sektor pertanian, semakin baik persepsi mahasiswa terhadap pekerjaan disektor pertanian maka semakin tertarik Mahasiswa untuk bekerja di sektor pertanian tersebut. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Februari 2023 sampai Juli 2023. Untuk metode pengambilan sampel digunakan Simple Random Sampling yaitu sebanyak 30 orang responden. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode desktiptif dalam menjawab tujuan pertama dan kedua menggunakan skala likert dengan bantuan skor, sedangkan untuk menjawab tujuan ketiga menggunakan Analisis Korelasi Rank Spearman. Hasil dari penelitian ini persepsi Mahasiswa Agribisnis Angkatan 2020 Faperta ULM terhadap pekerjaan di sektor pertanian dengan skor sebesar 87,78% dengan kategori baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi mereka terhadap pekerjaan di sektor pertanian baik karena sektor pertanian merupakan pekerjaan yang menjanjikan. Minat Mahasiswa Mahasiswa Agribisnis Angkatan 2020 Faperta ULM terhadap pekerjaan di sektor pertanian dengan skor sebesar 80,39% dengan kategori tertarik, sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka tertarik untuk bekerja di sektor pertanian karena sektor pertanian memiliki lapangan pekerjaan yang luas. Hubungan antara persepsi terhadap minat pekerjaan di sektor pertanian menunjukkan skor sbesar 0,69 dimana hal ini termasuk dalam kategori hubungan yang erat, semakin baik persepsi Mahasiswa Agribisnis terhadap pekerjaan di sektor pertanian maka semakin tertarik mahasiswa untuk bekerja di sektor pertanian.
Co-Authors A.Yousuf Kurniawan Abdurrahman Abdurrahman Adrias Mashruri Akhmad R. Saidy Akhmad Raja Shaufi Andi Artika Gizdajudan Annisa Rahmawati Artahnan Aid Athaillah Mursyid Ayubbi Syalehuddin Bastiah Bastiah Bella Friska Wawoh Dewi Hayati Ningsih Djoko Santoso Dony Adam Dwi Septiana Eka Radiah Eka Tunggal Dewi Emy Rahmawati Emy Rahmawati Emy Rahmawati Ervinna Febri Widyasari Fathurrazie Shadiq Feronika Pangaribuan Ferrianta, Yudi Firman Yunizar Fuja Lesnani Gogoi, Jeemoni Hairi Firmansyah Hairin Fajeri Hamzan Wadi Hartoni Hartoni Hatimatul Husna Hatimatul Husna Husin, Ibnu Husna, Hatimatul Husnul Khatimah Ibnu Husin Ilham Hadi Purwanto Irma Irma Kamiliah Wilda Kurniawan, A.Yousuf Lalan Suprila Leni Anggriani Luki Anjardiani Mariani Mariani Masyhudah Rosni Mega Indah Sephia Mellyanti Mellyanti Mira Yulianti Muhammad Fahmi Muhammad Fauzi Muhammad Febri Abimanyu Muhammad Husaini Muhammad Isfan Wahyudi Muhammad Supian Muzdalifah Muzdalifah Naily Zulfia Natalia Wulandari Nida Musyarrofah MZ Nina Budiwati Nisa, Ana Fauziyatun Noor Fauziah Noorhalimah Noorhalimah Nor Zainap Nur Cholis Nur Raisatur Rasyidah Nurmelati Septiana Nurul Jannah Rabiatul Utami Raeno Rahmat Koestanto Riantoni Riantoni Rifiana Rifiana Riska Nur Hasma Rizka Anggun Sulistya Ningrum Rizki Puteri Mahyudin Rizky Gunawan Rospanen Rajagukguk Rusmiarsi Rusmiarsi Sadik Ikhsan Salahudin Salahudin Shafriani, Karimal Arum Sri Riyani Suhan Sukma Sari Syifa, Noor Taisirul Husna Taufiqurrahman Taufiqurrahman Udiansyah Udiansyah, Udiansyah Umi Salawati Usamah Hanafie Yanti, Nuri Dewi Yetti Indriyani Zuraida Titin Mariana