Articles
Exhaust Valve Leakage Analysis on Main Engine at KM. Tonasa Lines XV
Paulina M Latuheru;
Driaskoro Budi Sidharta
IWJ : Inland Waterways Journal Vol. 5 No. 1 (2023): Inland Waterways Journal (IWJ:April)
Publisher : Politeknik Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The exhaust valve is one of the components on the main engine that functions to close and open the flow of exhaust gas from the combustion chamber or liner, both in four-stroke and two-stroke diesel engines. The research was carried out for ±10 months on the Tonasa Line XV ship. The purpose of this study was to determine the cause of the exhaust valve leak. Primary data were obtained directly through interviews with related parties. Secondary data is obtained from data collection institutions and published to the data user community, in this study in the form of journals in e-journals. The results obtained from research identification show that first: the occurrence of spindle and seat valve wear due to a lack of maintenance systems, second: excess working hours of exhaust valves, third: clogged cooling water system. The identification of the research found that the cause of the exhaust valve leak was due to worn spindle and seat valves, excess working hours and blockage of the cooling water path. The ways that can be done to avoid damage are by grinding the spindle and seat valve, maintenance according to working hours, and cleaning the cooling water.
PENTINGNYA ALAT KESELAMATAN OPERATOR KAPAL IKAN KABUPATEN BANYUASIN DI PROVINSI SUMATERA SELATAN
Bambang Setiawan;
Surnata Surnata;
Paulina Latuheru
Journal Of Khairun Community Services Vol 3, No 2 (2023): Journal of Khairun Community Services
Publisher : Universitas Khairun
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33387/jkc.v3i2.6310
Alat keselamatan  operator kapal ikan adalah sebagai bentuk upaya untuk mencegah atau meminimalisir resiko kecelakan bagi nelayan dan sebagai wujud nyata dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kesadaran yang rendah dan didukung dengan harga peralatan keselamatan yang dirasa cukup mahal membuat para penguna pelayaran kurang memenuhi kebutuhan keselamatan di Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan, kurang peduli terhadap pentingnya alat keselamatan di dalam pelayaran. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang keselamatan berlayar bagi para pengguna kapal ikan di kabupaten Banyuasin. Pemberian pengetahuan serta bantuan peralatan keselamatan bagi para peserta penyuluhan ini bermaksud agar terjadi peningkatan kemampuan, sikap dan kesadaran para pelayanan diperairan sungai. tentang pentingnya keselamatan serta mengenal teknik penyelamatan diri saat terjadi kecelakaan pada saat berlayar. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode pelatihan dengan ceramah dan diskusi antara narasumber dan peserta dengan materi fokus pada keselamatan pelayaran. Hasil kegiatan ini, diharapkan mampu menunjukkan adanya peningkatan kesadaran peserta akan pentingnya keselamatan pelayaran dan pemahaman teknik penyelamatan diri saat terjadi kecelakaan.
PENTINGNYA ALAT KESELAMATAN OPERATOR KAPAL SUNGAI DI KOTA PALEMBANG
Elfita Agustini;
Novi Tri Susanto;
Vita Permata Sari;
Febriansyah;
Noor Sulistiyono;
Surnata;
Paulina M. Latuheru
Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa) Vol. 2 No. 4 (2024): Kreativitas Pada Pengabdian Masyarakat (Krepa)
Publisher : CV SWA Anugerah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.8765/krepa.v2i4.2154
Penyuluhan keselamatan pelayaran bagi operator kapal sungai adalah sebagai bentuk upaya sosialisasi untuk memberi materi tentang keselamatan dan mencegah atau meminimalisir resiko kecelakan bagi operator kapal dan sebagai wujud nyata dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kesadaran yang rendah dan didukung dengan harga peralatan keselamatan yang dirasa cukup mahal membuat para penguna pelayaran kurang memenuhi kebutuhan keselamatan di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang keselamatan berlayar bagi para operator kapal sungai di Kota Palembang. Pemberian pengetahuan serta bantuan peralatan keselamatan bagi para peserta penyuluhan ini bermaksud agar terjadi peningkatan kemampuan, sikap dan kesadaran para pelayanan diperairan sungai. tentang pentingnya keselamatan serta mengenal teknik penyelamatan diri saat terjadi kecelakaan pada saat berlayar. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode pelatihan dengan ceramah dan diskusi antara narasumber dan peserta dengan materi fokus pada keselamatan pelayaran. Hasil kegiatan ini, diharapkan mampu menunjukkan adanya peningkatan kesadaran peserta akan pentingnya keselamatan pelayaran dan pemahaman teknik penyelamatan diri saat terjadi kecelakaan.
Tinjauan Pelayanan Olah Gerak Kapal Dalam Sistem Indonesian Port Integration System (Inaportnet) Di Kantor Syahbandar Dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Palembang
Sutrisno, Slamet Prasetyo;
Mutiara Latuheru, Paulina;
Diani, Oktrianti;
Pusriansyah, Ferdinand;
Khairani, Muhammad;
Febriansyah, Febriansyah;
Nurullah, Sarifa
IWJ : Inland Waterways Journal Vol. 6 No. 1 (2024): Inland Waterways Journal (IWJ:April)
Publisher : Politeknik Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54249/iwj.v6i1.211
Dalam hal pelayanan jasa sebagai suatu proses kegiatan di area Pelabuhan, seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli yang memiliki peranan yang cukup vital pada Pelabuhan. Salah satu pelayanan yang terdapat di seksi ini yaitu pelayanan dalam penerbitan Surat Persetujuan Olah Gerak Kapal. Pada saat ini diketahui bahwa masih terdapat kendala dalam hal penerbitan SPOG dengan sistem Inaportnet. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Metode observasi adalah cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung secara cermat dan sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi. Metode observasi dengan cara mengamati dan melakukan pengambilan dokumen secara langsung mengenai kondisi di KSOP Kelas II Palembang. Berdasarkan dari analisis tersebut didapatkan kesimpulan bahwa penerapan penggunaan Inaportnet di KSOP Kelas II Palembang belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat kendala dalam pelayanan yang dilakukan. Kendala tersebut berupa agen yang belum paham penggunaan Inaportnet, kendala internet kendala dalam penetapan pandu yang sering tidak muncul pada sistem Inaportnet tersebut. Terkait hal tersebut penyelenggara kantor melakukan upaya dengan menyediakan dan menambah akses internet, melakukan kegiatan sosialisasi, menyediakan layanan pengaduan dan melakukan koordinasi langsung dengan menciptakan forum diskusi berupa grup WhatsApp dengan instansi terkait permaslahan tersebut.
Studi Standar Pelayanan Minimal Angkutan Penyeberangan pada KMP. Swarna Kartika
Cahyadi, Tri;
Tjahjono, Agus;
Latuheru, Paulina;
Gemilang, Murina
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/transla.v25i1.2295
Angkutan penyeberangan sangat dibutuhkan sebagai penyedia sarana transportasi antar pulau. Pelabuhan penyeberangan menyediakan sarana keterjangkauan antar pulau tersebut. Pelabuhan Taipa di Sulawesi Tengah telah terhubung dengan Pelabuhan Kariangu (Kalimatan Timur). Rute perintis tersebut telah disediakan oleh pemerintah melalui keberadaan pelabuhan penyeberangan, sedangkan kapalnya disediakan oleh perusahaan swasta dengan dukungan dari pemerintah melalui skema kewajiban pelayanan publik. Terdapat kapal penyeberangan yaitu KMP. Swarna Kartika yang melayari rute tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan survei terhadap kapal tersebut. Sampel dipilih dengan random sampling. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pelayanan angkutan penyeberangan di kapal KMP. Swarna Kartika dan menganalisis aspek yang harus ditingkatkan pada pelayanan penumpang, pemuatan kendaraan, dan pengoperasian kapal. Hasil penelitian ini adalah tingkat kesesuaian pelayanan penumpang di KMP. Swarna Kartika mencapai 47,36%, kesesuaian pelayanan pemuatan kendaraan sebesar 57,14%, dan tingkat kesesuaian pada pelayanan operasional kapal sebesar 75%. Tingkat kesesuaian tertinggi ada pada operasional kapal, diikuti oleh pelayanan pemuatan kendaraan. Adapun kesesuaian yang paling rendah adalah pelayanan terhadap penumpang. Tingkat pelayanan kurang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) angkutan penyeberangan sehingga kapal tersebut belum memenuhi kesesuaian dengan peraturan yang berlaku. Terdapat indikator yang perlu diperbaiki agar SPM angkutan penyeberangan terpenuhi yaitu aspek pelayanan penumpang, pemuatan kendaraan, dan pelayanan operasional kapal.
EVALUASI TATA CARA PEMUATAN KENDARAAN DIATAS KAPAL PENYEBERANGAN PADA LINTASAN BIRA - PAMATATA PROVINSI SULAWESI SELATAN
Febriansyah, Febriansyah;
Paulina M. Latuheru;
Vita Permata Sari;
Novi Tri Susanto;
M. Royhan
Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 5 (2024): Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : CV SWA Anugerah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.3785/kohesi.v2i5.2151
Pelabuhan Penyeberangan Bira dikelola dan diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan yang dibina oleh UPTD ASDP Bira dan pada sarananya dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) cabang Selayar. Penyeberangan Bira ini memiliki 5 kapal yang beroperasi yang masing – masing kapal melayani satu lintasan pada lintasan Bira – Pamatata. lintas komersil yang membutuhkan jarak tempuh 18 mil laut yang dilayani oleh 2 unit kapal yaitu kapal KMP. Balibo dan KMP. Bontoharu penyeberangan dengan waktu tempuh ± 2 jam, Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 115 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Pengangkutan Kendaraan Di atas Kapal, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 30 Tahun 2016 Tentang Kewajiban Pengikatan Kendaraan Pada Kapal Angkutan Penyeberangan. Jarak antara sisi kendaraan dan jarak antara muka dan belakang yang dimuat di KMP Balibo dan KMP Bontoharu kurang dari 30 cm, jarak kendaraan terhadap dinding kapal kurang dari 60 cm dan jumlah petugas lashing yang ideal pada setiap kapal membutuhkan 2 - 3 petugas khusus untuk melakukan pengikatan kendaraan sehingga keselamatan kendaraan di atas kapal
Responsibility of Sea Transportation Services
Mutiara Latuheru, Paulina;
Priambudi, Miko;
Victoria, Ong Argo
IWTJ : International Water Transport Journal Vol. 2 No. 2 (2020): International Water Transport Journal (IWTJ: October)
Publisher : Politeknik Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54249/iwtj.v2i2.196
This study aims to determine the responsibility of the transporter due to seaworthiness and to determine the implementation of the responsibility relationship between the carrier and the passenger who does not pay the ticket. This research is empirical with data collection techniques carried out through interviews with parties related to the research topic. In addition, the author also conducts library research through data and books related to the research topic. Furthermore, the data obtained were analyzed qualitatively which was then presented descriptively. The results of this research are: 1) the ship provided by the carrier must meet safety requirements (seaworthy). Ship safety requirements are determined through ship classification in order to determine the designation and route of certain ships, The number of passengers must be in accordance with the capacity of the ship's cargo, and the ship's crew who have met the requirements stipulated in the law, as well as ship equipment that is in accordance with the applicable laws and standard operating procedures. 2.) Based on the internal regulations of PT. Pelayaran Indonesia (PELNI) has several actions that can be taken for passengers who do not have tickets or illegal passengers such as being dropped off at the nearest port, ordered to pay or have their luggage confiscated, being employed to the port of destination, and put in a ship's cell.
Evaluation of Pontoon Facilities in supporting safe transportation
febriansyah, Febriansyah;
Kadarsah, Edi;
Latuheru, Paulina Mutiara
IWJ : Inland Waterways Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Inland Waterways Journal (IWJ:Oktober)
Publisher : Politeknik Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The pontoon pier, which was built in 1984, originally functioned as a place to dock for speedboats. However, since 2017, the pier has been used to berth for larger ships. Unfortunately, the supporting facilities for the pontoon pier, such as fenders and bolders, have not been replaced, which could potentially cause damage to the pier. The analysis used quantitative methods by conducting surveys and direct observation in the field. Based on the results of the analysis, it is necessary to increase the type of fender to a cylindrical fender with dimensions of 300 mm x 150 mm or Type A Fender with the KAF 200 H type of 12 fenders and the addition of Bolders on the front pier to 4 for safety transport.
Review of Supporting Facilities for Intermodal Integration at Tanjung Kalian Ferry Port, Bangka Belitung Islands Province
Rahmita, Destria;
Firzatullah, Raden Muhamad;
Latuheru, Paulina Mutiara;
Amanda, Monica;
Zufar, Muhammad
IWTJ : International Water Transport Journal Vol. 5 No. 2 (2023): International Water Transport Journal (IWTJ: October)
Publisher : Politeknik Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tanjung Kalian Ferry Port has 14 ferry boats and 2 Damri buses at the port. Ferries docking at the port with Damri buses result in intermodal integration in supporting transportation services. However, there are several problems in this integration, such as the lack of waiting areas for service users, unavailable information on fares and schedules, and the need for special lanes for buses. This study aims to determine the condition of supporting facilities for intermodal integration and the fulfillment of these facilities. This study uses observation and documentation methods, it was found that currently the supporting facilities for integration are still inadequate. There are no waiting areas available, information on fares and schedules is not yet available, and the sidewalks at the port are inadequate for pedestrians. Therefore, it is recommended to plan the construction of a bus stop with a size of 23m x 7m, add information boards inside the bus stop and post 2, improve the sidewalks inside and in front of the port (each with a width of 1.52 meters and 1.54 meters), and add no parking signs at the pedestrian exit.
Evaluasi Standar Pelayanan Minimal Penumpang KM.Dharma Ferry II Pada Lintasan Semarang-Ketapang Pelabuhan Tanjung Emas Provinsi Jawa Tengah
Yulianto, Andri;
Latuheru, Paulina M;
Ardiansyah, M Rakheen
IWTJ : International Water Transport Journal Vol. 6 No. 1 (2024): International Water Transport Journal (IWTJ: April)
Publisher : Politeknik Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Evaluasi Standar Pelayanan Minimal Penumpang merupakan hal yang sangat penting dilaksanakan guna menunjang kepastian dalam memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat pengguna jasa angkutan penyeberangan yang aman, nyaman, tertib dan lancar serta sesuai dengan daya jangkau masyarakat .Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Standar Pelayanan Minimal Penumpang di atas Kapal KMP Dharma Ferry 2 Penelitian ini adalah Penelitian kuantitatif bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian pelayanan angkutan penyeberangan dan untuk mengetahui aspek apa saja yang harus di tingkatkan pada pelayanan penumpang,pemuatan kendaraan dan pengoperasian kapal agar sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia nomor 62 Tahun 2019 Berdasarkan hasil penelitian tingkat kesesuaian pada pelayanan penumpang 63,1%,pelayanan pemuatan kendaraan 71,4% dan pelayanan operasional kapal 75%,sehingga pelayanan KMP.Dharma Ferry 2 tidak memenuhi Standar Pelayanan Minimal. Aspek yang harus ditingkatkan agar memenuhi Standar Pelayanan Minimal yaitu:(1)Keamanan,kemudahan,kesetaraan pada pelayanan penumpang kemudahan akses penumpang pada pelayanan pemuatan dan (3) Keteraturan jadwal operasional kapal