Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : LOKABASA

TRADISI NGAYUN DI KECAMATAN RAWAMERTA KABUPATEN KARAWANG (Kajian Struktural-Semiotik) SUGIANA, UUS; KOSWARA, DEDI; HAERUDIN, DINGDING
LOKABASA Vol 5, No 1 (2014): Vol.5 No. 1 April 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i1.3166

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh: (1) adanya kebudayaan asing yang menggeser kebudayaan Sunda; (2) Tradisi Ngayun merupakan salah satu tradisi yang unik dan memiliki nilai-nilai yang luhur; (3) Tradisi Ngayun berkaitan dengan ajaran agama Islam; (4) Tradisi Ngayun berkaitan dengan awal mula kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Penelitian ini mendeskripsikan: (1) Struktur lahir Tradisi Ngayun; (2) Struktur batin Tradisi Ngayun; dan (3) Unsur semiotik (ikon, indeks, dan simbol) dalam Tradisi Ngayun. Sumber data dalam penelitian ini adalah tradisi ngayun yang berasal dari tiga desa, yaitu Desa Sukaraja, Desa Pasirawi, dan Desa Purwamekar. This study was motivated by (1) the presence of foreign culture that pushes Sundanese culture to the periphery; (2) Ngayun Tradition as one of the unique traditions and with sublime values; (3) Ngayun tradition associated with the teachings of Islam; (4) Ngayun tradition associated with the beginning of life; (5) The lack of studies regarding Ngayun tradition. This study is aimed at describing: (1) outer structure of Ngayun tradition;(2) inner structure of Ngayun tradition; and (3) elements of semiotics (icon, index, and symbol) in Ngayun tradition. The data used in this study derived from the tradition of Ngayun in three villages, Sukaraja Village, Pasirawi Village, and Purwamekar Village.
MULTIMEDIA CAPABILITIES TO INCREASE WRITE GUGURITAN (A quasi-experimental study of Class X IBB SMAN 1 Nagreg 2015/2016) Nurhuda, Trifalah; Haerudin, Dingding; Nurjanah, Nunuy
LOKABASA Vol 7, No 2 (2016): Vol. 7, No. 2, Oktober 2016
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v7i2.9174

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendéskripsikan (1) gambaran mengenai guguritan yang diilustrasikan dalam bentuk multimedia pembelajaran; dan (2) meningkatkan kemampuan menulis dalam pelajaran guguritan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kuasi eksperimen dengan menggunakan desain “Single Group Time Series Design”. Sumber data dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa yang diambil dari satu kelas yakni kelas X IBB SMA Negeri 1 Nagreg, Kabupaten Bandung. Tehnik yang digunakan adalah tehnik tes. Adapun instrumen yang digunakan adalah lembar tes menulis guguritan. Penelitian ini menerangkan bahwa (1) kemampuan menulis siswa terhadap guguritan sebelum menggunakan multimedia mendapatkan hasil dengan skor rata-rata 67.17; (2) kemampuan menulis siswa terhadap guguritan setelah menggunakan multimedia pembelajaran mendapatkan hasil dengan skor rata-rata 87.45, dan ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan menulis guguritan siswa kelas X IBB SMA Negeri Nagreg sebelum dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran berdasarkan hasil thitung (30.34) ttabel (2.68). Hal ini menunjukan bahwa hipotesis kerja (ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak. Dengan demikian multimedia dapat meningkatkan menulis guguritan siswa kelas X IBB SMA Negeri 1 Nagreg.ABSTRACTThis study aimed to describe (1) a description of the guguritan illustrated in the form of multimedia learning; and (2) improve the ability to write in guguritan lesson. The method used in this study is a quasi-experimental study design using the "Single Group Time Series Design". Sources of data in this study were 40 students drawn from the class of the class X SMA Negeri 1 Nagreg IBB, Bandung regency. The technique used is the technique of tests. The instruments used were a test sheet write guguritan. This study explains that (1) the ability of the student's writing to guguritan before using multimedia get results with an average score of 67.17; (2) the ability of the student's writing against guguritan after using multimedia learning get of results with an average score of 87.45, and there is a significant difference between the ability to write guguritan class X IBB SMA Nagreg before and after using multimedia learning based on the results tcount (30.34) ttabel (2.68). This shows that the working hypothesis (Ha) is accepted and the null hypothesis (Ho) is rejected. Thus multimedia can enhance writing guguritan of class X IBB SMA Negeri 1 Nagreg.
METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUPUH DI SMK PASUNDAN 3 BANDUNG TAHUN AJARAN 2013/2014 Fatimah, Seni Baetuli; Haerudin, Dingding; Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15957

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta yang menunjukan bahwa minat dan kemampuan siswa dalam memahami isi teks pupuh masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa membaca pemahaman pupuh sebelum dan sesudah menggunakan metode sosiodrama, dan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya. Metode yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes. Adapun instrumen yang digunakan yaitu berupa lembar tes. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) kemampuan siswa dalam memahami isi teks pupuh meningkat dari 64,66% menjadi 83,33% dengan perbedaan uji gain 18,66% (2) adanya perbedaan uji gain menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan sebelum dan sesudah menggunakan metode sosiodrama (3) hasil uji hipotesis diperoleh thitung ttabel yaitutitung (7,14) ttabel (2,46), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kerja (Ha) diterima dan hipotesis kerja (Ho) ditolak. Dengan demikian, metode sosiodrama bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca pemahaman pupuh serta dapat menjadi salah satu alternatife dalam teknik pembelajaran.AbstractThis researchwas conducted by the fact which shows that students interest and ability in understanding pupuh text content are still low. This study is aimed to find out students ability in pupuh reading comprehension before and after use sociodrama method, and to discover the difference between both of them. The method used is quasi experimental method with data collection technique using test technique. While, the instrument used is test sheets. According to the result, it can be concluded that (1) the students ability in understanding pupuh text content increases from 64.66% into 83.33% with the difference of gain test 18.66% (2) the difference of gain test shows that there is a significant difference between the ability before and after using sociodrama method (3) hypothesis test result was obtained t-value t-table (7.14) (2.46), it indicates that working hypothesis (Ha) is accepted and working hypothesis (Ho) is rejected. Thus, sociodrama method can be used to increase students ability in pupuh reading comprehension and also can be an alternative in learning technique.
TRADISI NYAWÉR PANGANTÉN SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASAN BUDAYA SUNDA DI SMA Sulistian, Andri Tri; Koswara, Dedi; Haerudin, Dingding
LOKABASA Vol 8, No 2 (2017): Vol. 8, No. 2, Oktober 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i2.11174

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya perhatian dan pengetahuan masyarakat terhadap kearifan budaya lokal yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah tradisi nyawér pangantén yang dilaksanakan dalam upacara perkawinan adat Sunda. Berdasar pada latar belakang, penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan struktur dan fungsi tradisi nyawér pangantén, 2) mendeskripsikan nilai etnopedagogik yang terdapat dalam tradisi nyawér pangantén, dan 3) mendeskripsikan tradisi nyawér pangantén bisa menjadi alternatif bahan ajar bahasan budaya Sunda di SMA. Metode yang digunakan yaitu deskriptif dalam penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu mencakup data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Data sekunder diperoleh dari telaah pustaka dan perekaman serta pendokumentasian. Penelitian ini dikaji dengan kajian struktur tradisi lisan, etnopedagogik, serta hasil bahasannya digunakan menjadi bahan ajar di SMA. Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa tradisi nyawér pangantén mempunyai aspék teks, ko-teks, dan konteks yang sangat penting. Selain itu, dalam tradisi nyawér pangantén juga terdapat moral manusia kepada Tuhan, kepada pribadinya, kepada manusia lainnya, kepada alam, terhadap waktu, dan dalam mencapai kepuasan lahir dan batin. Serta hasil analisis dalam pembahasan tradisi nyawér pangantén dapat digunakan sebagai bahan ajar bahasan budaya Sunda di SMA.NYAWÉR PANGANTÉN TRADITION AS A TEACHING-LEARNING MATERIAL OF SUNDANESE CULTURE IN SENIOR HIGH SCHOOL Abstract This research is motivated by low attention and knowledge of society to local culture wisdom that exists in everyday life. One of them is nyawér pangantén tradition which is performed in a marriage ceremony of Sundanese customs. Based on the background, this study aims 1) to describe the structure and function of nyawér pangantén tradition, 2) to describe the ethnopedagogic values contained in nyawér pangantén tradition, and 3) to describe nyawér pangantén tradition that can become an alternative to Sundanese culture learning in senior high school. The method used is descriptive in qualitative research. The data sources in this study include primary data and secondary data. Primary data was obtained from the interview and observation. Secondary data was taken from literature review, records, and documentation. This study was examined by using the study of oral tradition structure, etnopedagogic. The results of the discussion used as teaching materials in senior high school. From the results of data analysis, it can be concluded that nyawér pangantén tradition has very important text aspect, co-text, and context. Moreover, in nyawér pangantén tradition there is also the moral value of man to God, to his personality, to other human beings, to nature, to time, and in achieving physical and spiritual satisfaction. In addition, the results of the analysis in the discussion of nyawér pangantén tradition can be used as a teaching material of Sundanese culture learning in senior high school.
Sikap Bahasa Penyiar AKTV Terhadap Bahasa Sunda Fitri, Eneng Nuraeni; Haerudin, Dingding; Solehudin, Oleh
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25192

Abstract

”Basa téh cicirén bangsa, leungit basana ilang bangsana”. This proverb explains that language is the national identity if the language is lost the people will also disappear. The function of the language itself is a tool for communication. In line with that, the Sundanese people should maintain their language. As has been done by AKTV which provides programming in Sundanese. Efforts to maintain language are closely related to language attitudes. This research is motivated by the importance of Sundanese language skills in the broadcaster AKTV. This study aims to find out how the attitude of AKTV announcer language towards Sundanese and what factors influence it. To achieve this, a qualitative descriptive method is used. The technique used is observation and questionnaire techniques. Data sources were obtained from the broadcaster AKTV. The instruments used include recording equipment, cameras, and questionnaire guidelines. Where the data from this study will be described using the theories of Garvin and Mathiot. The results of this study are 1) the language loyalty of broadcasters AKTV towards Sundanese is 81.1%; 2) the pride of the language announcer AKTV to Sundanese is 59.1%; 3) awareness of the language norms of AKTV announcers towards Sundanese is 61.1%, and; 4) factors that influence the attitude of AKTV broadcasters' language. Thus it can be concluded that the broadcaster AKTV has a positive language attitude towards Sundanese. AbstrakBasa  téh  cicirén  bangsa, leungit basana ilang bangsana. Peribahasa tersebut menjelaskan bahwa bahasa adalah jati diri bangsa, jika hilang bahasanya hilang juga bangsanya. Fungsi dari bahasa sendiri adalah alat untuk komunikasi. Sejalan dengan hal itu, sudah seharusnya masyarakat Sunda mempertahankan bahasanya. Seperti  yang  telah  dilakukan  oleh  AKTV  yang  menyediakan  program  acara dengan pengantar bahasa Sunda. Upaya mempertahankan bahasa erat kaitannya dengan sikap bahasa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan berbahasa Sunda pada penyiar AKTV. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap bahasa penyiar AKTV terhadap bahasa Sunda dan faktor apa saja yang memepengaruhinya. Untuk mencapai hal itu, digunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan adalah teknik observasi dan angket. Sumber data diperoleh dari penyiar AKTV. Instrumen yang digunakan meliputi alat rekam, kamera, dan pedoman angket. Data penelitian ini dideskripsikan menggunakan  teori  Garvin  dan  Mathiot.  Hasil  dari  penelitian  ini  yaitu  1) kesetiaan berbahasa penyiar AKTV terhadap bahasa Sunda sejumlah 81.1%; 2) kebanggaan berbahasa penyiar AKTV terhadap bahasa Sunda sejumlah 59.1%; 3) kesadaran  norma  berbahasa  penyiar  AKTV  terhadap  bahasa  Sunda  sejumlah 61.1%; dan 4) faktor yang mempengaruhi sikap bahasa penyiar AKTV. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyiar AKTV memiliki sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Sunda.
Relevansi Isi Buku Teks Bahasa Sunda dengan Kurikulum Tingkat Daerah Muatan Lokal 2013 Revisi 2017 Alawiyah, Hana Rabiatul; Haerudin, Dingding; Nugraha, Haris Santosa
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.34137

Abstract

Abstrak: Latar belakang dari penelitian ini yaitu penemuan peneliti terhadap masih adanya ketidaksesuaian isi antara buku teks dan kurikulum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan relevansi isi buku teks Rancage Diajar Basa Sunda (RDBS) tingkat SMA/SMK/MA/MAK dengan KIKD, yang terdiri dari relevansi pokok bahasan, struktur materi, dan kedalaman materi. Metode yang digunakan untuk penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik ceklis. Sumber data dari penelitian ini adalah buku teks RDBS tingkat SMA/SMK/MA/MAK dengan 22 bab; kelas sepuluh 8 bab, kelas sebelas 8 bab, dan kelas dua belas 6 bab. Hasil dari penelitian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut: pertama, pokok bahasan di semua kelas pada umumnya relevan dan termasuk dalam kategori baik, untuk kelas sepuluh 87.5%, kelas sebelas 96.9%, dan kelas dua belas 95.8%. Kedua, struktur materi di semua kelas masuk dalam kategori cukup, yaitu kelas sepuluh 75%, kelas sebelas 71.8%, dan kelas dua belas 62.5%. Ketiga, kedalaman materi di kelas sepuluh dan sebelas masuk dalam kategori cukup, yaitu masing-masing 68.75%, dan di kelas dua belas masuk dalam kategori kurang 58.3%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa relevansi isi buku teks RDBS tingkat SMA/SMK/MA/MAK berkenaan dengan pokok bahasan masuk kategori sangat baik (93.1%), struktur materi masuk kategori cukup (70.5%), dan kedalaman materi masuk kategori cukup (65.9%).Kata Kunci: buku teks, KIKD, RDBS, relevansi isi Abstract: The background of this study is the researcher's discovery of the discrepancy between the content of the textbook and the curriculum. The purpose of this study is to analyze and describe the relevance of Rancage Diajar Basa Sunda (RDBS) textbooks at the senior high school level with KIKD, which consists of the relevance of the subject, the structure of the material, and the depth of the material. The method used for this research is descriptive qualitative method using checklist techniques. The data source of this research is the RDBS textbook for senior high school with 22 chapters; tenth grade 8 chapters, class eleven 8 chapters, and class twelve 6 chapters. The results of this study describe; first, the relevance of the subject matter in all classes, included in the very good category, with percentages in tenth grade 87.5%, eleventh grade 96.9%, and twelfth grade 95.8%. Second, the structure of the material in all classes falls into the sufficient category, with percentages in class ten 75%, class eleven 71.8%, and class twelve 62.5%. Third, the depth of material in grades ten and eleven falls into the sufficient category, with the same percentage of 68.75%, and in the twelfth grade included in the less category, with a percentage of 58.3%. Based on the results of the study, it can be concluded that the relevance of the content of RDBS textbooks at the senior high school level in terms of the relevance of the subject is in the very good category, with a percentage of 93.1%, in the material structure is in the sufficient category, with a percentage of 70.5%, and in the depth of material enough category, with a percentage of 65.9%.Keywords: textbooks, KIKD, RDBS, content relevance
CHARACTER EDUCATION VALUES IN HAJAT SASIH CEREMONY Haerudin, Dingding; Manullang, Tryastuti Irawati Belliny; Maulana, Farid Rizqi
LOKABASA Vol 12, No 2 (2021): Vol. 12 No. 2, Oktober 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i2.40303

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to describe the values of character education found in Hajat Sasih ceremony in  Kampung Naga, Jawa Barat, Indonesia. The method used in this study is a qualitative method with a descriptive analytical approach. The data collected through observation, interviews, and literature study on the procession from its preparation (tatahar), implementation to closure. The results of the study show that the advancement of the world and the growth of increasingly modern technology have not had much influence on the lives of people in Kampung Naga. At Hajat Sasih ceremony the attributes of character education are found including being religious as shown on the purpose of the ceremony itself as an expression of gratitude to the God and ask for the protection, being discipline which shown on their obedience in performing the ceremony six times a year and follow the rules in its implementation, having patriotism, having reverence, building and maintaining friendship, sustaining the environment, developing social care, and showing responsibility. These characters can also be found among the people of Kampung Naga in their daily lives. As part of an attempt to retain culture and grow characters, parents reiterate the narratives to the younger communities. 
Media Wayang Golek Fabel Untuk Meningkatkan Kemampuan Mendongeng Malik Fajar; Dingding Haerudin; Haris Santosa Nugraha
LOKABASA Vol 13, No 1 (2022): April 2022
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v13i1.49849

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi perlunya media pembelajaran inovatif dan kreatif agar bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran bahasa Sunda salahsatunya mendongeng. Karena adanya pandemic COVID-19, proses pembelajaran kali ini harus melalui PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) di luar lingkungan sekolah. Wayang golek fabel sebagai sebuah media inovatif dan kreatif dapat dijadikan media pembelajaran yang mampu meningkatkan proses pembelajaran bhasa Sunda khususnya kemampuan mendongeng siswa sebelum, dan sesudah menggunakan media wayang golek fabel. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain One Group pre-test dan post-test. Teknik yang digunakan yaitu tes kemampuan mendongeng dengan sumber datanya siswa kelas VII-7 SMP Negeri 11 Depok Tahun Ajaran 2020/2021. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) kemampuan mendongeng siswa sebelum menggunakan media wayang golek fabel berkategori sedang, dengan rata-rata nilai 53,92, (2) kemampuan mendongeng siswa sesudah menggunakan media wayang golek fabel berkategori baik, dengan rata-rata nilai 70,4, (3) ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan mendongeng siswa sebelum dan sesudah menggunakan media wayang golek fabel. Berdasarkan hasil penelitian ini, bisa disimpulkan bahwa media wayang golek fabel bisa meningkatkna kemampuan mendongeng siswa di kelas VII-7 SMP Negeri 11 Depik Tahun Ajaran 2020/2021  
Analisis Rumusan Soal HOTS dalam Buku Ajar Gapura Basa Kelas VII Edisi Revisi Dini Novianti Rinal Diani; Dingding Haerudin
LOKABASA Vol 13, No 2 (2022): Vol. 13 No. 2, Oktober 2022
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v13i2.49505

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rumusan soal yang bermuatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam buku ajar yang berjudul “Gapura Basa” Kelas VII kurikulum 2013 edisi revisi. Analisis didasarkan pada kriteria bahan ajar bermuatan keterampilan berpikir tingkat tinggi di sekolah menengah. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sumber data dalam penelitian adalah buku ajar yang berjudul “Gapura Basa” Kelas VII kurikulum 2013 edisi revisi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dalam buku ajar “Gapura Basa” Kelas VII, dari total 211 soal terdapat 102 soal bermuatan LOTS (48%) dan 109 soal bermuatan HOTS (52%), yang berarti bahwa muatan HOTS lebih tinggi daripada muatan LOTS. Persentase muatan HOTS pada level kognitif analisis (C-4) 46%, evaluasi (C-5) 4%, dan kreasi (C-6) 3%. Hal ini menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan dalam buku ajar “Gapura Basa” Kelas VII didominasi kategori analisis (C-4). Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian membuktikan bahwa buku ajar “Gapura Basa” Kelas VII yang mengacu kepada kurikulum 2013 edisi revisi telah memfasilitasi pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.