Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA SEBARAN MPT, KLOROFIL-a DAN PLANKTON TERHADAP TANGKAPAN TERI (Stolephorus spp.) DI PERAIRAN JEPARA Hikmawati, Nurwinda; Hartoko, Agus; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.008 KB)

Abstract

Aktivitas manusia dapat menimbulkan pengaruh terhadap ekosistem. Pengaruh ini salah satunya menimbulkan penurunan kualitas perairan Jepara. Penurunan kualitas perairan dikhawatirkan dapat berdampak pada hasil tangkapan. Sedikitnya hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus spp.) bagan tancap sebagai hasil tangkapan dominan disebabkan antara lain karena turunnya kualitas perairan dan lokasi penancapan bagan tancap kurang sesuai. Oleh karena itu, perkembangan informasi dan geografis diharapkan dapat membantu pengelolaan sumberdaya perikanan, misalnya melalui peta sebaran MPT, klorofil-a, fitoplankton dan zooplankton yang diduga dapat berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial konsentrasi MPT, klorofil-a, fitoplankton, zooplankton dan hasil tangkapan teri; kemudian untuk mengetahui komposisi plankton yang terdapat dalam saluran pencernaan ikan teri serta mengetahui hubungan MPT, klorofil-a, fitoplankton dan zooplankton terhadap hasil tangkapan ikan teri bagan tancap. Metode penelitian secara eksploratif dan metode sampling secara purposive random sampling. Pengambilan sampel air dilakukan di permukaan bersamaan pengambilan sampel plankton secara horizontal dan aktif ditarik menggunakan kapal. Hasil yang diperoleh digunakan sebagai peta sebaran spasial yang menggambarkan kualitas perairan dengan metode Kriging. Uji statistik regresi polinomial dan regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil tangkapan. Hasil yang diperoleh bahwa konsentrasi MPT tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan, dengan konsentrasi 50 – 100 mg/l sehingga cukup bagus bagi perikanan dan dapat menurunkan kualitas bagi perikanan bila konsentrasinya > 81 mg/l. Konsentrasi klorofil-a 0,056 – 0,117 mg/m3 sehingga masih normal dan bagus bagi perikanan, namun tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Fitoplankton dan zooplankton berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri, didukung dengan pencacahan komposisi perut ikan teri bahwa zooplankton persentasenya 93,48 % dan fitoplankton hanya 6,52 %. Human activities influence the ecosystem. For example is water quality degradation in Jepara.The water quality degradation which likely to influence the catch. Less Anchovy (Stolephorus spp.) is dominant catch of bamboo platform liftnet is caused by water quality degradation and location while placing bamboo platform liftnet not appropriate. Therefore, the development of Geographic Information System is expected to help fishery resource management, for instance by providing MPT, chlorophyll-a, phytoplankton and zooplankton distribution maps that could affect anchovy cathes. This study aims to determine the spatial distribution of MPT,chlorophyll-a, phytoplankton, zooplankton and anchovy catches; to determine the composition of plankton found in the alimentary tract of anchovy and to determine the relationship betwen MPT, chlorophyll-a, phytoplankton, zooplankton and anchovy catch from bamboo platform liftnet. Explorative research method and purposive sampling were utilized in this research. Water and plankton sampling were conducted in the same surface horizontally and actively by using boat. The results were used to make spatial  distribution map describing water quality. Polynomial and multiple regression analyses were conducted to discover its effect on the catch. The results indicated that the concentration of MPT was not affect the anchovy catch, the consentration of   50 – 100 mg/l was adequate for fishery and quality of fishery is likely to degrade if the concentration > 81 mg/l. The concentration of chlorophyll-a 0,056 – 0,117 mg/m3 was considered normal and suitable for fishery and it was not negatively impact the catch. Phytoplankton and zooplankton affected the anchovy catch as the enumeration of anchovy stomach composition showed that zooplankton and phytoplankton percentages were 93.48 % and 6.52 % repectively.
TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT DAN STATUS EKOSISTEM ZONA INTI DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Perdana, Ratri Canar; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.91 KB)

Abstract

Zona inti sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Perairan diperuntukan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan, penelitian dan pendidikan dengan tetap mempertahankan perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati yang asli dan khas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status ekosistem zona inti dilihat dari kondisi ekosistem karang, ikan karang dan keberadaan biota khas; mengukur kualitas perairan zona inti ditinjau dari tingkat tropik saprobik perairan; dan mengetahui tingkat pemahaman dan kepedulian masyarakat Kepulauan Seribu mengenai batas dan fungsi ekosistem zona inti di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Metode penelitian ini adalah metode deskriptif yang digunakan untuk membuat gambaran atau deskripsi  suatu keadaan secara objektif. Pengamatan dilakukan pada dua aspek, yaitu aspek ekologi dan sosial.Pengamatan aspek ekologi di 5 stasiun pada zona inti II dan 3 stasiun pada zona inti III, mencakup karang, ikan karang, biota khas dan parameter kualitas air. Pengamatan aspek sosial dilakukan wawancara kepada Petugas BTNKpS dan 40 responden masyarakat. Hasil menunjukkan status ekosistem zona inti masih tergolong baik. Pengamatan di lapangan ditemukan 10 famili karang, 8 famili ikan karang dan 2 biota khas dilindungi yaitu Tridacna sp dan Lambis sp yang sudah sulit ditemukan. Kualitas perairan  juga masih tergolong baik dengan rata-rata nilai SI dan TSI perairan di zona inti II yaitu 0,834 dan 1,592 tergolong dalam oligosaprobik dengan indikasi tercemar ringan atau belum tercemar sedangkan pada zona inti III rata-rata yaitu 0,64 dan 0,72 tergolong dalam β – mesosaprobik dengan indikasi adanya pencemaran ringan sampai sedang. Tingkat pemahaman masyarakat mengenai batas dan fungsi zona inti  yang tergolong paham sebanyak 47,5% lebih sedikit dari jumlah yang tergolong kurang sampai tidak paham yaitu 52,5%. Tingkat kepedulian masyarakat terhadap konservasi di kawasan zona inti yang tergolong peduli sebanyak 53,8% sedikit lebih banyak dari jumlah responden yang tergolong kurang peduli sampai tidak peduli yaitu 46,2%. Core zone as partof  Waters Conservation Area was intended for absolute protection of both habitat and fish populations, research and education purpose and  maintenance the protection of nature and typical biodiversity representation. The purpose of the study were to determine the core zone ecosystem status based on the condition of existing coral ecosystems, coral fishes and the presence of typical biota; to measure waters quality of the nucleus zone reviewed by aquatic trophic saprobic levels; and to determine  level of local community comprehension and participation of the boundaries and function of the nucleus zone at the Seribu Island National Park. The research method was descriptive method to makes a description of a situation objectively. Observation was made on two aspects, that were ecological and social aspects. Observation on the ecological aspects was set in 5 stations at the core zone II and 3 stations at the core zone III, includes corals, coral fishes, typical biota and waters quality parameters. Observation on the social aspect done by interviewing 40 respondens of local community and BTNKpS officers. Results indicate that the status of core zone ecosystem was still relatively good. Field observation was found 10 families of corals, 8 families of coral fishes and 2 typical biota that were Tridacna sp and Lambis sp which were rarely found. The average value of SI and TSI waters in the core zone II was 0.834 and 1.592 categorized in oligosaprobic with indication light polluted or not polluted while in the core zone III the average is 0.64 and 0.72 categorized in β - mesosaprobic with indication mild to moderate polluted. The level of local community comprehension about the boundaries and functions of the corezone was 47,5% understand, less than not understand categorized which was 52,5%. The level of local community awareness of conservation in the core zone was 53,8% aware, more than the not aware categorized which was 46,2%.
SEBARAN SPASIAL DAN KELIMPAHAN JUVENIL UDANG DI PERAIRAN MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK Ferdiansyah, Ferdiansyah; Hartoko, Agus; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.03 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan muara sungai Wulan merupakan wilayah perairan yang sangat penting fungsinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, karena wilayah perairan tersebut dimanfaatkan para nelayan sebagai tempat penangkapan biota perairan seperti udang. Aktifitas tersebut dapat berpengaruh terhadap siklus hidup udang, kelimpahan maupun sebarannya. Oleh karena itu, informasi tentang sebaran spasial dan kelimpahan juvenil udang dapat digunakan sebagai dasar dalam usaha pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di perairan muara sungai Wulan, Demak yang bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis juvenil udang, sebaran spasial kelimpahan juvenil udang dan hubungan faktor fisika-kimia perairan terhadap kelimpahan juvenil udang. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan total kelimpahan juvenil udang berjumlah 584 ind/105m3 terdiri dari 4 genera yang teridentifikasi yaitu Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, dan Cloridopsis. Jenis juvenil yang paling melimpah adalah genus Metapenaeus dengan hasil tangkapan sebanyak 286 ind/105m3. Sebaran kelimpahan juvenil udang yang tertinggi terdapat pada daerah kawasan mangrove yang memiliki kecepatan arus perairan yang lambat dan kedalaman perairan yang tinggi. Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kecepatan arus dan kedalaman perairan berkorelasi dengan kelimpahan juvenil udang. Kata kunci: Muara Sungai, Juvenil Udang, Kelimpahan, Sebaran Spasial ABSTRACT Wulan estuarine is the territorial waters which highly important function in fulfilling the needs of society, because that have been aquatic biota catchment area such as shrimp. Activity can influence the life cycle, the abundance and spreading of shrimp. Therefore, knowing the spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile may provide such information that can be used as a basis for sustainable fisheries resource management efforts. The study is conducted in May to June 2016 in the waters of the Wulan River estuary, Demak aiming to determine the types, spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile. The method used in this study is purposive sampling method. The results show the total of shrimp juvenile abundance amounted to 584 ind/105m3 consists of 4 genera are identified i.e. Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, and Cloridopsis. The most abundant of juvenile type is Metapenaeus genus with catches up to 286 ind/105m3. The spatial distribution shows the highest abundance of shrimp juvenile is in mangroves area. Based on the regression test results shows the flow speed and depth of the waters with the abundance of juvenile shrimp are correlated. Keywords: Estuary, Shrimp Juvenile, Abundance, Spatial Distribution
STRUKTUR SEDIMEN DAN SEBARAN KERANG PISAU (Solen lamarckii) DI PANTAI KEJAWANAN CIREBON JAWA BARAT Umah, Khoerul; Subiyanto, -; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.715 KB)

Abstract

Struktur komunitas biota dipengaruhi oleh faktor ekologis seperti sedimen dasar perairan. Jenis sedimen digunakan sebagai indikasi untuk menentukan pola hidup, ketiadaan dan tipe organisme pada Gastropoda dan Bivalvia. Keragaman tekstur sedimen dasar perairan yang dimiliki Pantai Kejawanan mengakibatkan terjadinya pola distribusi biota yang hidup di pantai tersebut. Salah satu biota di pantai ini adalah kerang pisau.  Penelitian  ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara random sampling. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh struktur sedimen terhadap sebaran kerang pisau di Pantai Kejawanan. Hasil penelitian menunjukan jenis sedimen yang ada di Pantai Kejawanan adalah jenis pasir berlumpur (medium sand) dengan persentase pasir antara 75,23 -  96,04 % dan lumpur antara 3,96 - 22,74 %. Sebaran kerang pisau di Pantai Kejawanan bersifat mengelompok dan hanya ditemukan pada jenis sedimen tertentu. Pada jenis sedimen pasir berlumpur dengan persentase kandungan pasir yang tinggi kepadatan kerang juga tinggi, sedangkan pada persentase kandungan pasir yang rendah kepadatannya rendah.
HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN DENGAN KELIMPAHAN LARVA IKAN DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Saraswati, Saraswati; Hartoko, Agus; Suharti, Sasanti Retno
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.51 KB)

Abstract

ABSTRAKStadia larva merupakan fase awal daur kehidupan bagi ikan. Larva adalah biota perairan yang bersifat planktonik dan termasuk kedalam jenis meroplankton. Ekosistem Padang Lamun di Pulau Pramuka memiliki fungsi ekologis yang cukup penting di wilayah pesisir, dimana ekosistem ini merupakan salah satu daerah asuhan dan daerah mencari makan bagi larva ikan. Adanya perbedaan tingkat kerapatan lamun dan keberadaan makanan dapat memberikan pengaruh terhadap kelimpahan larva ikan. Sehingga hal tersebut menjadi landasan dilakukannya penelitian mengenai Hubungan Kerapatan Lamun Terhadap Kelimpahan Larva Ikan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan larva ikan pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui pengaruh kerapatan lamun terhadap kelimpahan larva ikan. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penentuan titik sampling menggunakan metode purposive sampling. Hasil yang diperoleh adalah pada stasiun I tingkat kerapatan lamun padat (34156 individu/100m2) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 756 individu/200m2 terdiri dari 8 famili. Stasiun II kerapatan sedang (26410 individu/100m2) nilai kelimpahan larva ikan yaitu 579 individu/200m2 terdiri dari 6 famili, dan stasiun III ketapatan jarang (6321 individu/100m2) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 426 individu/200m2 yang terdiri dari 4 famili. Nilai korelasi antara kelimpahan larva ikan dengan kerapatan lamun yaitu sebesar r = 0,772. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kelimpahan dan komposisi famili larva ikan dengan kerapatan lamun. Semakin tinggi nilai kerapatan lamun maka semakin tinggi pula nilai kelimpahan dan komposisi famili larva ikan. Begitu pula semakin rendah nilai kerapatan lamun maka nilai kelimpahan dan komposisi larva ikan juga semakin rendah. Kata Kunci : Kerapatan Lamun; Larva Ikan; Kelimpahan; Pulau Pramuka ABSTRACTLarval stage is the early phase of the life cycle for the fish. The larvae are aquatic biota that are planktonic and included into the type meroplankton. Seagrass ecosystems in Pramuka Island, has important ecological functions in coastal areas, where the ecosystem is one of the nursery ground and feeding ground for fish larvae. The big difference the density of seagrass and the presence of food can influence abundance of fish larvae. Thus, it will be the base for doing this research on The relations between Seagrass Density and Fish Larvae Abundance in Pramuka, Seribu Island Jakarta. This research aims to determine the abundance of fish larvae in different seagrass densities and determine the influence of the seagrass density on the abundance of fish larvae. The method used is survey method in determining the point of sampling using purposive sampling method. The results obtained are at station I the densities in dense seagrass (34156 individuals/100m2) abundance of fish larvae value at 756 individuals/200m2 consisting of eight families. Station II medium density (26410 individuals/100m2) the value of the abundance of fish larvae is 579 individuals/200m2 consisting of 6 families, and station III precision rarely (6321 individuals/100m2) the value of fish larvae abundance at 426 individuals/200m2 consisting of 4 families. The correlation values between the abundance of fish larvae with the density of seagrass in the amount of r = 0,772. Based on the above, we can conclude that there is a close relationship between the abundance and composition of fish larvae families with seagrass density. The higher the density of seagrass, the higher the families abundance and composition of fish larvae. Similarly, the lower the density value then the value of seagrass abundance and composition of fish larvae are also lower. Keywords: Sea Grass Density; Fish Larvae; Abundance; Pramuka Island.
ANALISIS HABITAT DAN PERUBAHAN LUASAN TERUMBU KARANG DI PULAU MENJANGAN BESAR, KEPULAUAN KARIMUNJAWA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT Januardi, Rio; Hartoko, Agus; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.447 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati laut karang tertinggi, diperkirakan luas ekosistem terumbu karang Indonesia mencapai 50.000 km2 yaitu 25 persen dari luas terumbu karang dunia. Penggunaan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mendeteksi terumbu karang bagi negara yang mempunyai wilayah yang sangat luas dan memerlukan waktu yang relatif singkat serta biaya murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kondisi, perubahan luasan dan tingkat akurasi monitoring terumbu karang di Pulau Menjangan Besar menggunakan citra satelit Landsat 8. Penelitian dilaksanakan pada November 2015-Januari 2016 di Pulau Menjangan Besar dan di Laboratorium Marine Geometric Center, Jurusan Perikanan UNDIP. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksploratif untuk mengetahui jenis dan kondisi terumbu karang menggunakan metode Line Intersept Transect dan metode koreksi kolom air atau Lyzenga. Hasil penelitian  menemukan kondisi terumbu karang di Pulau Menjangan Besar masih dalam kondisi baik dengan persentase penutupan karang sebesar 51,6 persen. Jenis terumbu karang yang terdapat di Pulau Menjangan Besar yaitu Acropora sp, Stylopora sp, Porites sp, Favia sp, Heliopora sp, Euphylia sp, Pocilopora sp, Goniopora sp dan Favites sp dengan nilai keaneragaman sebesar 1.28 tergolong sedang/moderat dan nilai dominasi sebesar 0.58. Terumbu karang mengalami penurunan luasan sebesar 7,92 Ha dari tahun 2013-2015. Tingkat akurasi penggunaan citra satelit Landsat 8 yaitu 81,25 persen. Kata kunci :Persentase penutupan karang; Luasan habitat; Menjangan Besar; Penginderaan jauh ABSTRACTThe ocean of Indonesia has the highest biodiversity of Coral Reef, the extent of Indonesian’s coral reefs widely predicted 50.000 km2 which is about 25% of the world’s. The use of remote sensing technology is one the alternatives that is appropriate for the detection of coral reefs for a country that has a very wide area and requires a relatively short time and reasonable cost. This study aimed to determine the type; condition; changes in the area; and the level of monitoring coral reefs accuracy in Menjangan Besar Island used Landsat 8 satellite. The study was conducted on November 2015 until January 2016 in Menjangan Besar Island and the Marine Geometric Center, Fisheries Department at Diponegoro University. This research uses an explorative method to determine the type and condition of coral reefs using line intercept transect method and correction on water column method or Lyzenga. The result of this research is the condition of coral reefs in Menjangan Besar in the good condition with the cover percentage of coral at 51.6%. The species of Coral reefs in Menjangan Besar are identified as Acropora sp, Stylopora sp, Porites sp, Favia sp, Heliopora sp, Euphylia sp, Pocilopora sp, Goniopora sp and Favites sp with the value of diversity about 1.28 classified as moderate and the value of dominance of 0.58. The coral reef area decreased by 7.92 ha of the year 2013 to 2015. The accuracy level used Landsat 8 imagery satellite is 81.25%. This level of accuracy using Landsat 8 satellite imagery is 81.25%. Keywords :Percentages of coral reef cover; Extents habitat; Menjangan Besar; Remote sensing.
ANALISA KLOROFIL-α, NITRAT DAN FOSFAT PADA VEGETASI MANGROVE BERDASARKAN DATA LAPANGAN DAN DATA SATELIT GEOEYE DI PULAU PARANG, KEPULAUAN KARIMUNJAWA Indrawati, Ayuningtyas; Hartoko, Agus; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.263 KB)

Abstract

Pulau Parang memiliki potensi sumberdaya alam vegetasi mangrove. Salah satu peran penting dari pohon mangrove adalah luruhan daun yang gugur (serasah). Sedimen di sekitar vegetasi mangrove kemudian bercampur dengan serasah yang merupakan sumber bahan organik. Unsur hara seperti nitrat dan fosfat yang terdeposit dalam sedimen merupakan unsur esensial bagi mangrove. Metode penelitian adalah eksploratif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Sampel daun mangrove dan sedimen kemudian dianalisa di laboratorium, sehingga didapatkan nilai kandungan klorofil-a, bahan organik, nitrat dan fosfat. Berdasarkan data lapangan dilakukan analisa yang bertujuan melihat hubungan antar variabel. Pengolahan data citra dilakukan di laboratorium MGC, untuk menganalisa klorofil-a berdasarkan data lapangan dan data satelit GeoEye. Hasil penelitian menunjukkan luas vegetasi mangrove pada lokasi penelitian stasiun 1, 2 dan 3 adalah 6,70 ha, 6,54 ha dan 6,36 ha. Jenis mangrove yang ditemukan adalah Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica dan Avicennia marina. Jenis mangrove yang dominan adalah Rhizophora mucronata. Kerapatan vegetasi mangrove tergolong padat. Keanekaragaman jenis tergolong rendah dan keseragaman spesies sedang. Pemodelan algoritma kandungan klorofil-a berdasarkan data lapangan dan data satelit GeoEye bisa menghasilkan persamaan regresi untuk tiap jenis mangrove pada masing-masing stasiun serta terdapat keeratan hubungan antara klorofil-a lapangan dengan klorofil-a algoritma citra GeoEye. Hasil analisa data lapangan menunjukkan terdapat keeratan hubungan antara klorofil-a daun mangrove dengan nitrat, fosfat sedimen dan bahan organik dengan nitrat, fosfat.
Mangrove Carbon Biomass at Kemujan Island, Karimunjawa Nasional Park Indonesia Cahyaningrum, Siska Tri; Hartoko, Agus; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.682 KB)

Abstract

Akumulasi dari gas-gas rumah kaca dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah meningkatkan peran hutan sebagai penyerap karbon melalui sistem pengelolaan yang baik. Ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki fungsi ekologi sebagai penyerap karbon adalah hutan mangrove. Fungsi ekologi tersebut menjadikan hutan mangrove dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar baik pada vegetasi (biomassa) maupun bahan organik lain yang terdapat di hutan. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung biomassa karbon vegetasi mangrove diatas permukaan melalui persamaan alometrik, dan membangun pemodelan algoritma kandungan karbon jenis mangrove pada kawasan berdasarkan teknologi pengindraan jauh menggunakan citra satelit Quickbird. Penelitian menggunakan metode survey lapangan dengan eksploratif, dan pengambilan sampel di kawasan mangrove secara purposive sampling. Pengukuran biomassa tersimpan diatas permukaan dilakukan dengan tidak merusak vegetasi (non destructive sampling) melalui pengukuran diameter batang (DBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 spesies mangrove ditemukan di kawasan mangrove Pulau Kemujan. Total biomassa atas permukaan (batang, cabang, daun) adalah 182.4 ton (setara 91.2 ton C), dengan simpanan karbon terbesar pada bagian batang. Berdasarkan hasil regresi polynomial untuk pemodelan kandungan karbon tiap jenis, didapatkan hasil pemodelan untuk Ceriops tagal dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata dengan algoritma y = 0.001(B2/B3)2 – 0.116(B2/B3)2 + 3.415; Bruguiera cylindrica dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.022(B2/B3) +1.941. The accumulation of greenhouse gases cause climate change. One of the effort to decrease accumulation gas is increasing the role of forests as carbon sinks through good management system. Ecosystems in coastal areas that have ecological function as a carbon sink is a mangrove forest. The ecological functions of mangrove forests can save carbon in large numbers both on the vegetation (biomass) and other organic materials which found in the forest. The purpose of this research to calculate the carbon biomass of mangrove vegetation on the surface through allometric equations, and to build modeling algorithms the carbon content of mangrove species in the region based on remote sensing technology using Quickbird satellite imagery. The research used an exploratory field survey and purposive sampling method in mangrove area. Measurements was performed on the surface of stored biomass without damaging vegetation (non-destructive sampling) through the measurement of trunk diameter (DBH). The results showed that there are 21 mangrove species found in mangrove areas Kemujan Island. Total biomass on the surface (trunk, branches, leaves) is 182.4 ton (91.2 tons C), with the largest carbon storage in the trunk. Based  on the results of polynomial regression for modeling the carbon content of each spesies, the results of modeling algorithm for Ceriops tagal with y = -0.003(B2/B3)2+ 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata with the algorithm y = 0.001(B2/B3 )2 - 0.116 (B2/B3) + 3.415; Bruguiera cylindrica with the algorithm y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum with algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata with the algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.022(B2/B3) +1.941.
ANALISA KERENTANAN PANTAI DAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN PENDEKATAN SIG DI PANTAI KABUPATEN PURWOREJO Biantara, Bagus; Hartoko, Agus; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.703 KB)

Abstract

Pantai di Kabupaten Purworejo memiliki potensi sumberdaya perikanan cukup besar, seperti udang Vanamei dan ikan Sidat. Pantai – pantai ini berkarakteristik berpasir hitam dan bergelombang tinggi. Hal tersebut menjadikan pantai Kabupaten Purworejo memiliki kerentanan yang tinggi terhadap hidrodinamika laut selatan Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai indeks kerentanan pantai, dan kerentana sumberdaya perikanan berupa nilai ekonomis dan keanekaragaman jenis sumberdaya perikanan (ikan Sidat dan udang Vannamei) di pantai Kabupaten Purworejo. Penelitian ini dilakukan pada 2 Februari hingga 28 Oktober 2015 mengggunakan metode analisa kerentanan CVI (CoastalVulnerability Indeks) dan dimodifikasi sesuai dengan lokasi dan objek penelitian. Metode pengambilan data dilakukan pada lokasi pengamatan berjumlah 10 buah titik. Variabel kerentanan pantai yang diamati yaitu geomorfologi, akresi/abrasi, kemiringan pantai, tinggi pasang maksimal, dan tinggi gelombang maksimal. Data yang diperoleh selanjutnya dikaitkan dengan informasi tentang ikan Sidat dan udang Vannamei. Sistem Informasi Geografi digunakan dalam penelitian ini untuk mengobservasi, menganalisa dan mengolah citra untuk mengetahui terjadi abrasi atau akresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pantai Kabupaten Purworejo memiliki nilai CVI dalam kategori tinggi dengan nilai tertinggi 4,7 dan terendah 4,3, dimana variabel dengan bobot yang berpengaruh terbesar adalah variabel tinggi gelombang maksimal. Kerentanan sumberdaya perikanan akibat kerusakan pantai dan muara dapat menyebabkan hilangnya ikan Sidat Anguilla bicolor dengan nilai estimasi produksi elver grade B mencapai Rp. 35.000.000/tahun dan budidaya udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dengan estimasi nilai ekonomi Rp. 315.000.000 /panen/tambak. The Purworejo coastal district has a high potential of fisheries resources, such as Vannamei shrimp culture and Eel. The coastal area characterized by black sand and high sea-waves, that makes it vulnerable as hydrodynamics of the southern Indonesia coast. The study aims to determine the value of coastal vulnerability index and to know the economic value and species diversity of fishery resources at the Purworejo district coastal area. The research was conducted on 2nd February until 28thOctober 2015 using the CVI (Coastal Vulnerability Index) methods that be modified in accordance to the location and research objects. Data were collected at the observation’s sites amounts to 10 spots. The variables of coastal vulnerability are geomorphology, accretion / abrasion, slope of the beach, maximum high tide, and maximum wave height. Data obtained then analyzed with the information of Eel and Vannamei shrimp. Geographic Information System used in the research to observe, analyze and to process the image from the satellite in order to determine the abrasion or accretion. The research shows that the Purworejo district coast has CVI value in high category with the highest value of 4.7 and the lowest value of 4.3; in wich the most influenced variable with the highest wight from other variables is maximum high wave variable. Vulnerability of fisheries resources because of coastal and estuary distruction could vanishing the eel of Anguilla bicolor with estimated production value of Elver in B grade is 35.000.000 IDR/ year and cultivated shrimp of Litopenaeus vannamei with estimated economic value of 315.000.000/harvest / pond.
HUBUNGAN JALUR MIGRASI PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) TERHADAP TINGGI MUKA LAUT, SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-a di PERAIRAN INDONESIA Manurung, Monica Evi Suanty; Hartoko, Agus; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1544.381 KB)

Abstract

Penyu adalah satwa yang terancam kepunahannya. Transmitter dalam pemantauan penyu dapat memberikan data jelajah penyu yang akurat beserta parameter oseanografinya. Metode penelitian ini menggunakan metode deskripsi. Tahapan penelitian meliputi pengambilan data dari satelit NOAA (tinggi muka laut, suhu permukaan laut dan klorofil-a) dan data titik koordinat penyu. Data kemudian diolah dengan menggunakan Er Mapper 7.0. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyu lekang yang telah di pasang transmitter terpantau jalur migrasinya dari Selat Bali, Gilimanuk, Bali Utara,/Situbondo, Selat Madura, Madura Utara dan Selat Makassar. Distribusi tinggi muka laut berdasarkan titik koordinat penyu selama lima bulan (Juni, Juli, Agustus, November dan Desember) 2009 pada 7 lokasi yang berbeda yaitu dengan nilai minimum 44 cm dan maksimum 79 cm, sedangkan distribusi suhu permukan laut dengan nilai minimum 260C dan maksimum 300C, dan untuk distribusi klorofil-a dengan nilai minimum 0.219 mg/m3 dan nilai maksimum 2.77 mg/m3. Korelasi/keeratan hubungan posisi penyu terhadap tinggi muka laut, dengan nilai (r) yaitu 0.873 mempunyai interpretasi atau hubungan yang tinggi. Nilai (r) suhu permukaan laut yaitu 0.78 menunjukkan bahwa interpretasi sedang, dan untuk klorofil-a didapatkan nilai (r) yaitu 0.69, nilai ini menunjukkan bahwa interpretasi sedang.
Co-Authors - Pramonowibowo - Subiyanto - Supriharyono Abdul Ghani Abdul Ghofar Abdul Kohar Mudzakir Agung Wardana Agus Wahyudi Ahmad Fadlan Alfian Zulfikar, Alfian Ambariyanto Ambariyanto Andri Ramdhani Andrian Juniarta, Andrian Angela Merici Dwi Widiyanti Aninditia Sabdaningsih Anindya Wirasatriya Arif Rahman Aris Ismanto Ashari, Asqita Rakhma Ayuningtyas Indrawati Bagus Biantara, Bagus Bambang Sulardiono Boedi Hendrarto Budhi Agung Prasetyo Budianto, Tri Hendrawan Cahyo, Tri Nur Carleone de Prima, Carleone Churun A’in Damopolii, Sharfina Amalia Delianis Pringgenies Delis, Putu Cinthia Dewati Ayu Febrianti Dewi Sartika Diah Ayuningrum, Diah Djoko Suprapto Dwi Mulyasih EDY H.P. MELMAMBESSY Falensia, Talita Safa Febrianto, Sigit Ferdiansyah Ferdiansyah Fofied, Fernanda Gitarini Frida Aprilia Loinenak, Frida Aprilia Frida Purwanti Geertruidha Adelheid Latumeten Haeruddin Haeruddin Hanifati Masturah Haryani, Nisrina Septi Herman Yulianto Herry Boesono I. Kumalasari Indradi Setiyanto Isnawati, Nadiya Khoerul Umah Kitarake, Yopi Sondy Kukuh Prakoso, Kukuh Kurniawan Kurniawan Lahati, Sonny Lazuardhi, Risqi Lestari Lahksmi Widowati Lestari, Abid Lestari, Yumna Maro, Jahved Ferianto Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskanonfola Miladiyah Ahsanul Akhlak, Miladiyah Ahsanul Moh Toriq Abidin, Moh Toriq Monica Evi Suanty Manurung Monica Febrina Silitonga Muhammad Helmi Muhammad Najib Habibie Muhammad Zainuri Mutia Ismi Febrianti Mutia Ismi Febrianti Nabila Fikri Dwi Cahyani Nadhea O. Rahmawati Natalie, Gyorgiana Gilda Niniek Widyorini Nining Sari Ningsih Noky Rizky Samudra, Noky Rizky Nugroho, Restu Wahyu Nugroho, Tiyo Meizi nurul latifah Nurul Latifah Nurwinda Hikmawati Olvi Cristianawati Pinasthi, Laili Salma Pra Luber Agung Wibowo Pramonowibiwo M.Pi. Pratiwi, Galuh Alia Prayogi Prayogi Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Putri, Amanda Nerissa Qadar Hasani Rahayu Sapta S. Sudewi Rahmatuloh, Irzani Hamzah Setya Ralita, Tesya Feby Ratri Canar Perdana Restiana Wisnu Ariyati Richan Fakhrurrizal Rimty Mayuftia Rio Januardi, Rio Romadhony, Muchammad Yusuf Roni Kurniawan Rudy Kurniawan Sahala Hutabarat SARASWATI SARASWATI Sarif, Fina Saffuteri Sasanti Retno Suharti, Sasanti Retno Sembiring, Yoan Teresia Br Sibero, Mada T Simon Giando Sinaga, Simon Giando Siska Tri Cahyaningrum Siswanto Siswanto Siti Rudiyanti Sonny Lahati Sonny Lahati Subiyanto Subiyanto Suradi Wijaya Saputra Suryanti Suryanti - Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syafrudin Syafrudin Urfan Ridha Wijayanti, Amelia Yosafat Donni Haryanto Yullita, Ilma Zulyani Zulyani