Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL- a DAN HASIL TANGKAPAN KAPAL PURSE SEINE YANG DIDARATKAN DI TPI BAJOMULYO JUWANA, PATI Akhlak, Miladiyah Ahsanul; Supriharyono, -; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.875 KB)

Abstract

Sumberdaya perikanan tersebar berdasarkan karakteristik perairan yang berbeda-beda. Faktor fisik yang sering berkaitan dengan pola persebaran sumberdaya perikanan adalah suhu permukaan laut (SPL) yang memiliki hubungan dengan produktivitas periaran (klorofil-a). Saat ini, pengukuran SPL dan klorofil-a sudah dapat dilakukan dengan mudah. Kemudahan tersebut hadir dengan pemakaian penginderaan jarak jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dengan mudah dapat mengetahui dinamika-dinamika oseanografi perairan yang sangat dinamis. Sebagai alternatif Sistem Informasi Geografis berbasis komputer dapat digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang lebih optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran SPL dan klorofil-a serta sebaran lokasi tangkapan di wilayah penangkapan kapal purse seine yang didaratkan di TPI Unit II Bajomulyo Juwana yang meliputi perairan Laut Jawa dan selat Makassar dan mengidentifikasi hubungan antara SPL dan klorofil-a terhadap produksi/ hasil tangkapan ikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplanatif dan metode untuk pengambilan sampel dilakukan metode purposive sampling. Teknik ini digunakan peneliti karena adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran dominan SPL di wilayah perairan Laut Jawa dan Selat Makassar pada musim barat adalah 28⁰C - 30⁰C dan pada musim timur adalah 27⁰C - 30⁰C. Nilai kisaran klorofil-a di perairan tersebut pada musim barat yaitu 0,147 mg/L – 1,581 mg/L dan pada musim timur yaitu 0,093 mg/L – 0,745 mg/L. Lokasi penangkapan kapal purse seine terdapat 33 titik koordinat pada musim barat dengan produksi/ hasil tangkapan sebesar 4.084 ton dan 367 trip serta 40 titik koordinat pada musim timur dengan produksi/ hasil tangkapan sebesar 2.162 ton dan 612 trip Lebih lanjut diperoleh bahwa adanya korelasi antara SPL dengan hasil tangkapan, korelasi yang sama antara klorofil-a dengan hasil tangkapan. Selain itu regresi ganda antara SPL dan klorofil-a teradap produksi/ hasil tangkapan ikan kapal purse seine diperoleh korelasi yang signifikan. Scattered fishery resources based on the characteristics of different water. Physical factors are often associated with the distribution pattern of fisheries resources is sea surface temperature (SST) linked to marine productivity (chlorophyll-a). Measurements of SST and chlorophyll-a can be performed with the use of remote sensing and geographic information system based computer are can be used for the management and utilization of fisheries resources more optimaly. The purpose of these study was to determine the distribution of SST, chlorophyll-a and distribution of purse seine fishing area and fish catch landed in TPI Unit II Bajomulyo Juwana includes Java sea, Makassar Strait and identify the relationship between SST, chlorophyll-a and fish catch. The method of this research are explanatory method and purposive sampling. The technique was used with some considerations. The results showed that the dominant range of SST in Java Sea and Makassar Strait on the west season is 28⁰C-30⁰C and on the east season is 27⁰C-30⁰C. Range value of chlorophyll-a in there on the west season is 0,147 mg/m3 – 1,581 mg/ m3 and on the east season is 0,093 mg/ m3 – 0,745 mg/ m3. Fishing location of purse seine are 33 coordinate points on the west season with the catches of 4.084 tons and 367 trips, then 40 coordinate points on the east season with the catches of 2.162 tons and 612 trips. Moreover it is also resulted that the correlation between SST with fish catch, as well between chlorophyll-a with fish catch. Multiple regression analysis it’s found that SST, Chlorophyll-a and fish catch of purse seine were significanly correlated.
PENILAIAN KERENTANAN HABITAT MANGROVE di KELURAHAN MANGUNHARJO, KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG TERHADAP VARIABEL OSEANOGRAFI BERDASARKAN METODE CVI (COASTAL VULNERABILITY INDEX) Wahyudi, Agus; Hendrarto, Boedi; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.207 KB)

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan atau vegetasi pantai tropis yang hidup di wilayah pesisir yang luas dan terbuka. Hutan mangrove disebut juga sabuk hijau karena mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari hantaman gelombang laut. Habitat mangrove memiliki beberapa sifat atau karakteristik yang khusus diantaranya salinitas, pasang surut, angin, dan substrat yang berlumpur. Kerentanan variabel oseanografi di habitat mangrove dan pembukaan lahan kawasan hutan mangrove menjadi lahan tambak budidaya dan lahan industri menyebabkan kondisi hutan mangrove di Kota Semarang mengalami degradasi atau penurun kondisi habitat mangrove, oleh karena itu perlu dilakukan kajian mengenai seberapa besar kerentanan dari karakteristik habitat mangrove yang mempengaruhi kerentanan habitat mangrove di pesisir Kota Semarang sehingga diketahui tingkat kerentanan di daerah habitat mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan nilai indeks kerentanan habitat mangrove dan mengetahui kondisi kerentanan habitat mangrove di lokasi penelitian berdasarkan variabel salinitas, jenis substrat, dan pasang surut. Penelitian ini menggunakan metode survey dan metode eksploratif sedangkan untuk pengamatan objek menggunakan metode purposive dan perhitungan nilai indeks kerentanan habitat mangrove menggunakan metode CVI (Coastal Vulnerability Index). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan habitat mangrove berdasarkan data pasang surut termasuk dalam kategori kerentanan tinggi dan kerentanan habitat mangrove berdasarkan variabel nilai salinitas termasuk dalam kategori kerentanan rendah, sedangkan untuk kerentanan habitat mangrove berdasarkan variabel jenis substrat termasuk dalam kategori kerentanan sedang. Nilai CVI habitat mangrove yang didapatkan berdasarkan perhitungan yaitu 2.12, hal itu menunjukkan kerentanan habitat mangrove di lokasi penelitian masuk dalam kategori kerentanan rendah.
ANALISA VARIABEL OSEANOGRAFI DATA MODIS TERHADAP SEBARAN TEMPORAL TENGGIRI (Scomberomorus commersoni, Lacépède 1800) DI SEKITAR SELAT KARIMATA Masturah, Hanifati; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.551 KB)

Abstract

Tenggiri merupakan organisme yang bersifat poikiloterm yaitu suhu tubuh ikan sesuai dengan suhu perairan. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif dan pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan adalah data hasil tangkapan Tenggiri, data suhu permukaan laut dan data klorofil-a dari satelit MODIS Januari 2011 – Mei 2013. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di PPN Kejawanan Cirebon dan Laboratorium Inderaja dan SIG Perikanan Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu permukaan laut dan klorofil-a berhubungan cukup erat dengan sebaran temporal Tenggiri. Analisis korelasi ganda menunjukkan bahwa Tenggiri, pada musim barat tahun 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.85, musim barat tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.70 dan pada musim timur 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.80, musim timur tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.86. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Tenggiri tinggi pada musim timur (April-Mei-Juni). Analisis korelasi tunggal dan ganda antara suhu permukaan laut dan klorofil-a dengan hasil tangkapan tenggiri menunjukkan hubungan yang cukup tinggi. Mackerel is one of poikilothermic fish, where their body temperature is affected by its surrounding temperature. The research use explorative method to find the correlation of two or more variables. Sampling method use purposive sampling. Data used in the research are Mackerel catch, sea surface temperature and chlorophyll-a from the MODIS satellite data January 2011- May 2013. This research was held for May-June 2013 in PPN Kejawanan Cirebon and The Laboratory SIG Fishery Department Fisheries Diponegoro University. The research reveals that sea surface temperature and chllorophyl-a good correlation with temporal distribution of Mackerel. Statistic analysis showed that Mackerel, multiple correlation on west season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.85 and in the west season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.70 and in the east season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.80 and the east season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.86. A conclusion from this research that the catch of Mackerel high on east season (April-Mei-Juni), Analysis single and multiple correlation between sea surface temperature and chllorophyl-a with the catch of Mackerel showed the correlation which is quite high.
ANALISA PENGEMBANGAN EKOWISATA WILAYAH KONSERVASI MANGROVE, DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK Abidin, Moh Toriq; Suprapto, Djoko; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.47 KB)

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu potensi utama di Kabupaten Demak. Ekowisata di Desa Bedono mempunyai potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Selain itu, ekowisata ini secara langsung memiliki manfaat pelestarian alam dan lingkungan dan meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Namun kenyataannya, ekowisata ini belum terkelola secara maksimal, sehingga pengembangan kawasan ini sangat perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui objek daya tarik wisatawan, mengetahui sarana pendukung yang dibutuhkan, dan menyusun konsep pengembangan ekowisata. Metode yang digunakan penelitian adalah metode deskriptif studi kasus dan dianalisa dengan metode Objek Daya Tarik Wisata  (ODTW) dan Analisa SWOT. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi untuk melakukan pengamatan terhadap lokasi kawasan, kegiatan dan pelakunya melalui responden terhadap sumberdaya masyarakat, wisatawan dan lembaga. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa potensi wisata Desa Bedono adalah Hutan Mangrove (Dusun Tambaksari dan Dusun Senik), Pantai Morosari dan wisata lain (Makam Apung/Syeh Mudzakir). Berdasarkan hasil dari ODTW nilai tertnggi adalah alam (Pantai dan hutan mangrove) dan minat khusus. Strategi pengembangan ekowisata wilayah konservasi mangrove, Desa Bedono adalah : Mengembangkan konservasi mangrove Desa Bedono menjadi ekowisata, Mengembangkan atraksi sesuai dengan keadaan alam dan view yang menarik di kawasan koservasi mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak dan Meningkatkan kunjungan ke kawasan ekowisata. Tourism is one of the major potential in Demak. Ecotourism in the Bedono village has tourism potential that can be developed. In addition, this ecotourism directly has the benefit of preserving nature and the environment and also can improve the socio-economic conditions of the surrounding community. But in reality, eco-tourism has not been managed optimally, so that the development of this area is very necessary. This research intend to determine the object of tourist attraction, knowing means of support needed, and drafting the mangrove eco-tourism development strategy. The method used in this research is descriptive case studies and analyzed by the method of Travel Attractions Objects (TAO) and SWOT Analysis. This data collected by interviews and observations to make observations on the location of the region, the activities, and the perpetrators through a response to community resources, tourist and agencies. The results obtained indicate that tourism potentials of Bedono Village are mangrove forest (Tambaksari Hamlet and Senik Hamlet), Morosari beach and other tourist (Floating Tomb of Sheikh Mudzakir). Based on the results of TAO highest value is a natural (beaches and mangrove forests) and special interests. Ecotourism development strategy mangrove conservation area, Bedono Village are: Developing a mangrove conservation village of Bedono into ecotourism, Developing natural attractions according to the circumstances and view of interest in mangrove conservation area in the Bedono Village, Sayung, Demak and Increase visits to ecotourism.
SEBARAN SPASIAL CUMI-CUMI (Loligo Spp.) DENGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS AQUA DI SELAT KARIMATA HINGGA LAUT JAWA Prasetyo, Budhi Agung; Hartoko, Agus; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.907 KB)

Abstract

Dengan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar, kegiatan penangkapan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian adalah mengetahui sebaran spasial cumi-cumi per-musim pada tahun 2011 hingga 2012, mengetahui sebaran spasial parameter oseanografi  dan mengetahui korelasi antara parameter oseanografi dengan sebaran spasial cumi-cumi. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit MODIS Aqua dan data sekunder lapangan yaitu data hasil tangkapan cumi-cumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 2011 - 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan II hingga musim barat (September-Desember) dengan nilai rata-rata hasil tangkapan setiap tahun sebesar 88 Ton dan 189 Ton. Sebaran penangkapan cumi-cumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata. Sebaran suhu permukaan laut pada tahun 2011 musim barat lebih tinggi (24,8 - 32,1oC) dibandingkan musim timur  (24,2 - 29,4oC), dan pada tahun 2012 juga musim barat lebih tinggi (20,3 - 33,4oC) dibandingkan musim timur (24,8 - 30,1oC). Sebaran Klorofil-a  tahun 2011 musim timur lebih tinggi (0,282 - 0,459 mg/L) dibandingkan musim barat (0,304 - 0,452 mg/L), dan pada tahun 2012 juga menunjukkan sebaran klorofil-a musim timur lebih tinggi (0,352 - 0,464 mg/L) dibandingkan musim barat (0,273 - 0,458 mg/L). Analisa regresi tunggal menunjukkan nilai koefisien regresi dari distribusi klorofil-a setiap tahun (r = 0,521 - 0,446) masih memiliki hubungan dengan hasil tangkapan cumi-cumi daripada suhu permukaan laut (r = 0.221 - 0,358).  Analisa regresi ganda menunjukkan nilai (r) antara sebaran suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a pada musim timur sebesar r = 0,253 dan pada musim barat sebesar r = 0,416 menunjukkan bahwa musim barat memiliki hubungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hubungan tersebut karena cumi-cumi yang hidup di perairan sekitar Laut Jawa dan sekitarnya tersebar karena pengaruh arus balik musiman dari angin muson yang terjadi di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebaran oseanografi hanya berpengaruh langsung terhadap beberapa spesies cumi-cumi.
ANALISIS HUBUNGAN SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS DAN SUB-SURFACE TEMPERATURE DATA ARGO FLOAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN TUNA DI SAMUDERA HINDIA Latumeten, Geertruidha Adelheid; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.399 KB)

Abstract

Tuna is a large pelagic fish that has three characters. First, most of Tuna were found in upwelling and sea water front area. Second, Tuna have a migratory instinct to locate abundant source of food area. Third, each species of Tuna has sub-surface temperature preference The research used explorative method and the sampling method used purposive sampling. Data used in the research are sea surface temperature, chlorophyll-a from the MODIS satellite data and sub-surface temperature from the ARGO Float data. The result has shown that the highest Tuna catch occurs on the east season except for southern bluefin Tuna which was only caught on the west season. The upwelling phenomenon was detected on the west season and the sea water front phenomenon was detected on the east season.  Analysis of single and multiple correlation between sub surface temperature and Tuna catch has shown high correlation with the coefficient correlation value is above 0.5 for both seasons. Based on the research, yellowfin Tuna has temperature range of 21 – 27 ⁰C in the depth of 80 m – 100 m, bigeye Tuna is 10 – 23 ⁰C in the depth of 150 m, albacore is 11 – 19 ⁰C in the depth of 150 m and southern bluefin Tuna is 12 – 16 ⁰C in the depth of 200 m.
ANALISA SEBARAN TANGKAPAN IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) BERDASARKAN DATA SATELIT SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DI PERAIRAN SELAT BALI Ridha, Urfan; Hartoko, Agus; Muskanonfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.141 KB)

Abstract

Sumberdaya ikan Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan sumberdaya perikanan yang paling dominan dan bernilai ekonomis di Selat Bali, sehingga ikan lemuru paling banyak dieksploitasi oleh nelayan yang bermukim di sekitar Selat Bali. Kegiatan penangkapan lemuru tersebut tidak terlepas dari ketepatan dalam penentuan lokasi penangkapan, yang merupakan salah satu aspek penting bagi usaha perikanan karena berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan. Lokasi ikan pelagis kecil seperti lemuru, sangat ditentukan oleh beberapa kondisi perairan termasuk suhu permukaan laut dan kandungan klorofil-a.Tujuan dari penelitian untuk mengetahui perkembangan hasil tangkapan ikan Lemuru (S. lemuru), sebaran suhu permukaan laut dan klorofil-a, dan mengetahui korelasi dari variabel suhu permukaan laut dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan Lemuru (S. lemuru) di perairan Selat Bali selama tahun 2012.Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit Aqua MODIS, data titik koordinat daerah penangkapan lemuru, jumlah trip, dan hasil tangkapan lemuru selama tahun 2012. Metode penelitian menggunakan metode eksploratif, yaitu untuk mencari tahu suatu kejadian tertentu atau hubungan antara dua atau lebih variabel, dimana variabel tersebut yaitu suhu permukaan laut dan klorofil-a (independent variable), dan hasil tangkapan lemuru (dependent variable).Hasil penelitian menunjukkan bahwa tangkapan lemuru pada musim barat (1.986 ton) lebih besar daripada musim timur (556 ton), tetapi jumlah trip pada musim barat (1.188) lebih rendah daripada musim timur (1.534). Berdasarkan peta koordinat lokasi penangkapan lemuru tahun 2012 dari 5 sampel kapal menunjukkan jumlah lokasi penangkapan lemuru pada musim barat (19 titik) lebih banyak daripada musim timur (13 titik). Sebaran suhu permukaan laut pada musim barat (27o - 30oC) lebih tinggi daripada musim timur (22o - 28oC) dan kandungan klorofil-a  pada musim barat (0,01 - 0,9 mg/L) lebih rendah daripada musim timur (0,09 - 3,9 mg/L).Analisa regresi tunggal antara satu independent variable terhadap satu dependent variable menunjukkan nilai koefisien regresi dari kandungan klorofil-a (r = 0,74 - 0,77) lebih berhubungan erat dengan hasil tangkapan lemuru daripada suhu permukaan laut (r = 0,56 - 0,68). Analisa regresi ganda antara dua independent variable terhadap satu dependent variable menunjukkan nilai koefisien regresi (0,814 - 0,831) yang berarti bahwa terdapat hubungan antara suhu permukaan laut dengan kandungan klorofil-a serta terhadap hasil tangkapan lemuru. Hubungan tersebut yaitu dipengaruhi kuat oleh proses upwelling di perairan Selat bali, karena proses upwelling menyebabkan peningkatan kandungan klorofil-a dan menurunkan suhu permukaan laut.
ANALISA KESESUAIAN LAHAN PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU (Epinephelus sp.) PADA KERAMBA JARING APUNG DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI SIG Ghani, Abdul; Hartoko, Agus; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.097 KB)

Abstract

Ikan kerapu (Epinephelus sp.) merupakan salah satu spesies unggulan dalam pengembangan budidaya laut di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kesesuaian wilayah perairan untuk keramba jaring apung ikan kerapu (Epinephelus sp.) di zona budidaya laut di Pulau Pari berdasarkan parameter fisika dan kimia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yaitu pengumpulan data dan analisis data. Data primer didapatkan secara langsung dengan pengukuran langsung di lapangan, sedangkan data sekunder yang didapatkan kemudian diolah pada citra Landsat 8 sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik. Peta tematik yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk keramba jaring apung. Hasil pengukuran kecepatan arus berkisar antara 3,0 – 4,7 m/s, suhu 29oC – 30oC, salinitas 31,9 – 33,7 ppt, DO 7,0 – 8,1 mg/L, kecerahan 7,5 – 9,0 m, kedalaman 20 – 30 m. Peta Hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah yang tingkat kesesuaian untuk budidaya ikan kerapu berada pada perairan terbuka. Suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya ikan kerapu sistem keramba jaring apung berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Berdasarkan total skor yang digunakan untuk penilaian kesesuaian perairan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu diperoleh tujuh stasiun yaitu stasiun I – stasiun VII termasuk pada kategori S2, sedangkan kedua stasiun lainnya yaitu stasiun VIII dan stasiun IX termasuk dalam kategori S3. Grouper (Epinephelus sp.) is one of the flagship species in marine culture development in Indonesia. This research aimed to analyze the level of suitability waters for floating net cages grouper (Epinephelus sp.) based on parameters of physics, chemistry, and biology waters in mariculture zone in Pari Island. The method of this research used a case study of data collection and data analysis. Primary data were directly obtained by direct measurement in the field, while the secondary data were obtained then processed on Landsat 8 to get a basic model of thematic maps. The thematic maps were obtained then processed to estimate the suitability of water for floating net cages. The measurement results of current velocity is 3.0 – 4.7 m/s, temperature 29oC - 30oC, salinity 31.9 – 33.7 ppt, DO 7.0 - 8.1 mg/L, transparency 7.5 – 9.0 m, depth of 20 – 30 m. The results of the land suitability of marine culture in Pari Island indicated that the level of suitability for grouper is in the open water. A sheltered waters for marine culture area with floating net cage systems are affect the sustainability of farming. All stations are recommended to be used for marine culture of grouper because the areas are not on cruise lines and are included in the corresponding suitability classes. Based on the total score for the assessment of the suitability of waters in Pari Island, Thousand Islands gained seven stations are stations I - VII included in the category of station S2, while the other stations are stations VIII and IX station included in the S3 category.
ANALISA KESESUAIAN PERAIRAN PULAU PARI SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DENGAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sinaga, Simon Giando; Hartoko, Agus; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.866 KB)

Abstract

Tiram mutiara merupakan komoditas ekspor yang penting bagi indonesia karena memiliki nilai jual tinggi. Kegiatan budidaya tidak lepas dari penentuan lokasi yang sesuai bagi organisme yang dikultur, tetapi keyataanya penentuan lokasi masih berdasarkan feeling atau trial error. Hal ini menyebabkan pengembangan budidaya laut tidak berjalan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran variabel oseanografi fisika, kimia dan biologi serta model spasial kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima.) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yaitu pengumpulan data lapangan kemudian analisis data melalui pendekatan spasial. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung ke lapangan, kemudian data yang telah didapatkan diolah pada citra Landsat 8  dengan menggunakan software Er Mapper 7.0 dengan tahapan terdiri dari Plotting titik koordinat, Pemodelan geo-statistik, cropping citra, gridding, overlay, pembuatan layout dan scoring  sehingga dihasilkan suatu model spasial. Peta yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara. Analisa kesesuaian perairan dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan penghitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap daerah yang berpotensi untuk dijadikan kawasan budidaya laut. Peta hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah dengan tingkat kesesuaian berada pada kelas sesuai dan sesuai bersyarat. Daerah kesesuaian berada pada perairan terbuka. suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya tiram mutiara berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang  tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Pearl Oyster is an important export comodity for Indonesia which has a high value. The cultivation activity can not be separated from the election of land suitability for the organism which cultured. The problem of land election is based on the feeling or trial error. It makes the marine cultivation is not running optimally. The aim of this research is surveying the oceanography variable such as physics, chemistry and biology with spatial modelling as a land suitability for land Pearl Oyster (Pinctada maxima.) Cultivation in Pari Islad water, Seribu Island. The method of this research is survey methode which is data accumulation then data analyze by spatial modelling. Data accumulation was got by measuring in that place, then the data processing was did by using Er Mapper 7.0 Software. The stage of data processing was coordinate plotting, geo-statistic  modelling, gridding, overlay, make the layout, and scoring until product spasial modelling. Then the map was processed to presume land suitability value for pearl oyster culvation. The Analyze of land suitability is did by using a suitability matrices. The rating and scoring was based on the effects level of each parameter from the potencial region to be a sea cultivation area. The results map of the land suitability cultivation in Pari Island indicate that the level of suitability region is in suitable and marginally suitable. The suitable are is in the open water. The protect area of a pearl oyster cultivation give an effect for  an cultivation activity. All the station are recommended to make a cultivation area because the areas is not a ship traffic and included  a suitable area.
ANALISA SEBARAN BAGAN TANCAP DAN HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN BANDENGAN, JEPARA, JAWA TENGAH Silitonga, Monica Febrina; Pramonowibowo, -; Hartoko, Agus
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 2: April 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.262 KB)

Abstract

Hasil tangkapan perlu diketahui dalam upaya untuk menentukan jenis ikan yang dominan dari hasil tangkapan bagan tancap, serta hubungannya dengan kondisi oseanografi dalam rangka untuk mengoptimalkan hasil tangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah jenis hasil tangkapan bagan tancap, melihat pengaruh faktor oseanografi yang terdiri dari kecepatan arus, kedalaman perairan, dan jenis substrat dasar perairan terhadap jenis hasil tangkapan, serta mengkaji sebaran bagan tancap di Perairan Bandengan Jepara. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 17 titik sampling. Analis data diproses dengan menggunakan metode deskriptif, metode regresi berganda dengan SPSS, dan pemetaan sebaran dengan satelit citra IKONOS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis hasil tangkapan yang dominan adalah ikan Teri (Stolephorus sp), ikan Petek (Leiognathus sp), dan Cumi-cumi (Loligo sp). Hasil uji SPSS menunjukkan adanya pengaruh antara kedalaman, substrat liat, dan substrat lempung dengan jenis hasil tangkapan sedangkan kecepatan arus tidak berpengaruh terhadap jenis hasil tangkapan. Hasil pemetaan sebaran citra IKONOS menunjukan daerah sekitar perairan Pulau Panjang dan Teluk Sikumbu merupakan daerah potensial penangkapan ikan dengan alat tangkap bagan tancap. It is important to study the catch in order to determine the dominant species from bamboo platform lift nets catch and to study its relationship with the oceanographic condition in order to optimize the catch. The purpose of this research are to identify the number of species caught by bamboo platform lift nets, to know the influence of oceanographic factors consisting of the current speed, the water depth, and the kinds of water basic substrate over the kinds of the catch, and to study the scatter of bamboo platform lift nets. This research uses purposive sampling. The data are analysis by using descriptive method, multiple regression with SPSS program while the mapping of the scatter is conducted by IKONOS image satellite. The result of this research shows dominant species caught by bamboo platform lift nets are Anchovies (Stolephorus sp), Leiognathus sp, and Squids (Loligo sp). The result of SPSS shows that the depth, the clay substrates, and the loam substrates have influence over the kinds of the catch while the current speed does not have an effect over the kinds of the catch. The result of IKONOS image scatter shows that the surrounding areas of Panjang Island and Sikumbu Bay waters are potential area the catch using bamboo platform lift nets.
Co-Authors - Pramonowibowo - Subiyanto - Supriharyono Abdul Ghani Abdul Ghofar Abdul Kohar Mudzakir Agung Wardana Agus Wahyudi Ahmad Fadlan Alfian Zulfikar, Alfian Ambariyanto Ambariyanto Andri Ramdhani Andrian Juniarta, Andrian Angela Merici Dwi Widiyanti Aninditia Sabdaningsih Anindya Wirasatriya Arif Rahman Aris Ismanto Ashari, Asqita Rakhma Ayuningtyas Indrawati Bagus Biantara, Bagus Bambang Sulardiono Boedi Hendrarto Budhi Agung Prasetyo Budianto, Tri Hendrawan Cahyo, Tri Nur Carleone de Prima, Carleone Churun A’in Damopolii, Sharfina Amalia Delianis Pringgenies Delis, Putu Cinthia Dewati Ayu Febrianti Dewi Sartika Diah Ayuningrum, Diah Djoko Suprapto Dwi Mulyasih EDY H.P. MELMAMBESSY Falensia, Talita Safa Febrianto, Sigit Ferdiansyah Ferdiansyah Fofied, Fernanda Gitarini Frida Aprilia Loinenak, Frida Aprilia Frida Purwanti Geertruidha Adelheid Latumeten Haeruddin Haeruddin Hanifati Masturah Haryani, Nisrina Septi Herman Yulianto Herry Boesono I. Kumalasari Indradi Setiyanto Isnawati, Nadiya Khoerul Umah Kitarake, Yopi Sondy Kukuh Prakoso, Kukuh Kurniawan Kurniawan Lahati, Sonny Lazuardhi, Risqi Lestari Lahksmi Widowati Lestari, Abid Lestari, Yumna Maro, Jahved Ferianto Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskanonfola Miladiyah Ahsanul Akhlak, Miladiyah Ahsanul Moh Toriq Abidin, Moh Toriq Monica Evi Suanty Manurung Monica Febrina Silitonga Muhammad Helmi Muhammad Najib Habibie Muhammad Zainuri Mutia Ismi Febrianti Mutia Ismi Febrianti Nabila Fikri Dwi Cahyani Nadhea O. Rahmawati Natalie, Gyorgiana Gilda Niniek Widyorini Nining Sari Ningsih Noky Rizky Samudra, Noky Rizky Nugroho, Restu Wahyu Nugroho, Tiyo Meizi Nurul Latifah nurul latifah Nurwinda Hikmawati Olvi Cristianawati Pinasthi, Laili Salma Pra Luber Agung Wibowo Pramonowibiwo M.Pi. Pratiwi, Galuh Alia Prayogi Prayogi Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Putri, Amanda Nerissa Qadar Hasani Rahayu Sapta S. Sudewi Rahmatuloh, Irzani Hamzah Setya Ralita, Tesya Feby Ratri Canar Perdana Restiana Wisnu Ariyati Richan Fakhrurrizal Rimty Mayuftia Rio Januardi, Rio Romadhony, Muchammad Yusuf Roni Kurniawan Rudy Kurniawan Sahala Hutabarat SARASWATI SARASWATI Sarif, Fina Saffuteri Sasanti Retno Suharti, Sasanti Retno Sembiring, Yoan Teresia Br Sibero, Mada T Simon Giando Sinaga, Simon Giando Siska Tri Cahyaningrum Siswanto Siswanto Siti Rudiyanti Sonny Lahati Sonny Lahati Subiyanto Subiyanto Suradi Wijaya Saputra Suryanti Suryanti - Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syafrudin Syafrudin Urfan Ridha Wijayanti, Amelia Yosafat Donni Haryanto Yullita, Ilma Zulyani Zulyani