Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Evaluasi Kekasaran Permukaan Semen Ionomer Kaca pada Perendaman Susu UHT dan Susu Kedelai Nuroh Arifah; Dhyani Widhianingsih; Deviyanti Pratiwi
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44378

Abstract

Abstract: Glass ionomer cement (GIC) is a restorative material used in child dental care with anti-cariogenic properties and fluoride release. However, this GIC has some disadvantages, such as high solubility due to acid particles that can cause surface roughness. Children at a young age typically drink milk, such as Ultra High Temperature (UHT) milk or soy milk which may affect the restorative material. This study aimed to evaluate the surface roughness of GIC immersed in UHT milk, soy milk, and artificial saliva. This was an experimental laboratory study. Samples were GICs (GC Fuji VII, Japan) in a cylindrical shape with a diameter of 10 mm and a thickness of 2 mm. A total of 18 samples were divided into three groups, one group (n=6) was immersed in UHT milk, and the other two groups were immersed in soy milk and artificial saliva. The samples were tested using a surface roughness tester (Surtronic S-128) that was reviewed before and after immersion. The results showed that the surface roughness value of GIC was increased after being immersed in UHT milk (0.12±0.02), soy milk (0.12±0.06), and artificial saliva (0.06±0.03). The Kruskal Wallis test showed no significant difference in surface roughness of GICs immersed in the three groups. In conclusion, UHT milk and soy milk did not significantly affect the surface roughness of GICs.Keywords: glass ionomer cement; surface roughness; UHT milk; soy milk Abstrak: Semen ionomer kaca (SIK) merupakan bahan restorasi pada perawatan gigi anak yang memiliki sifat antikariogenik dan dapat melepaskan fluoride. SIK memiliki kekurangan yaitu mudah larut akibat paparan asam yang tinggi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kekasaran permu-kaan. Usia anak tidak terlepas dari kebiasaan meminum susu seperti susu Ultra High Temperature (UHT) dan susu kedelai sehingga dapat memengaruhi bahan restorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kekasaran permukaan SIK pada perendaman dalam susu UHT, susu kedelai, dan saliva buatan. Metode penelitian ialah eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan ialah SIK (GC Fuji VII, Japan) berbentuk silindris dengan diameter 10 mm dan tebal 2 mm. Sebanyak 18 buah sampel dibagi menjadi tiga kelompok, setiap kelompok (n=6) direndam dalamsusu UHT, kelompok lain direndam dalam susu kedelai, dan saliva buatan. Kekasaran permukaan diukur dengan surface roughness tester (Surtronic S-128) sebelum dan setelah perendaman. Hasil penelitian mendapatkan peningkatan kekasaran permukaan SIK pada kelompok perendaman susu UHT (0,12±0,02), susu kedelai (0,12±0,06), dan saliva buatan (0,06±0,03). Uji Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan kekasaran permukaan SIK yang bermakna pada ketiga kelompok. Simpulan penelitian ini ialah susu UHT dan susu kedelai tidak menyebabkan kekasaran permukaan SIK yang bermakna.Kata kunci: semen ionomer kaca; kekasaran permukaan; susu UHT; susu kedelai
Evaluasi Perubahan Warna Semen Ionomer Kaca dengan Penambahan Ekstrak Etanol Propolis Trigona spp. Deviyanti Pratiwi; Advita Azalia; Achmad E. Z. Hasan; Florencia L. Kurniawan; Dewi L. Margaretta
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.46928

Abstract

Glass ionomer cement (GIC) is constantly modified to improve its properties and expand its use in dental practice. One of the modifications studied is the addition of ethanolic extract of propolis (EEP), a natural resin material with various pharmacological effects. Modifications made with EEP were found to increase the antibacterial effect of GIC, but this modified material also impacted the physical properties of the cement. This study aimed to evaluate the color change of GIC caused by the addition of EEP. This was a laboratory experimental study. The GIC color was assessed using the VITA Easyshade V spectrophotometer. A total of 20 cylindrical GIC samples measuring 10 mm (diameter) x 2 mm (height) were divided into four groups based on the proportion of EEP added to the GIC liquid, as follows: A, conventional GIC (control); B, GIC modified with EEP at 25% w/w; C, GIC modified with EEP at 30% w/w; and D, GIC modified with EEP at 35% w/w. The color assessment was performed after the samples were immersed in artificial saliva and incubated for 24 hours. The post hoc test between the three experimental groups and the control group showed a significant difference (p<0.05). The ΔE value between the three experimental groups and the control group showed a value greater than 3.3. In conclusion, the addition of EEP in the proportions of 25%, 30%, and 35% resulted in significant color change of GIC. Keywords: glass ionomer cement; ethanolic extract of propolis; Trigona spp.; discoloration   Abstrak: Semen ionomer kaca (SIK) terus dimodifikasi untuk meningkatkan sifat dan memperluas penggunaannya dalam praktik kedokteran gigi; salah satunya ialah penambahan ekstrak etanol propolis (EEP), suatu bahan resin alami yang memiliki berbagai efek farmakologis. Modifikasi dengan EEP dapat meningkatkan efek antibakteri dari SIK, namun bahan modifikasi ini juga berdampak terhadap sifat fisik semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan warna SIK yang disebabkan oleh penambahan EEP Trigona spp. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik. Warna diukur menggunakan spektrofotometer VITA Easyshade V. Sebanyak 20 sampel SIK silinder berukuran 10 mm (diameter) x 2 mm (tinggi) dibagi dalam empat kelompok uji berdasarkan proporsi EEP yang ditambahkan ke cairan SIK: A, SIK konvensional (kontrol); B, SIK modifikasi EEP 25% w/w; C, SIK modifikasi EEP 30% w/w; dan D, SIK modifikasi EEP 35% w/w. Pengukuran warna dilakukan setelah sampel direndam dalam saliva buatan dan diinkubasi selama 24 jam. Uji post hoc antara ketiga kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05). Nilai ΔE antara ketiga kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol menunjukkan nilai yang lebih besar dibandingkan 3,3. Simpulan penelitian ini ialah penambahan EEP dalam proporsi 25%, 30%, dan 35% secara bermakna mengakibatkan perubahan warna SIK. Kata kunci: semen ionomer kaca; ekstrak etanol propolis; Trigona spp.; perubahan warna
Pengaruh suhu air terhadap setting time dari bahan cetak alginat Tansza S. Putri; Deviyanti Pratiwi; Eddy; Rosalina Tjandrawinata; Dewi L. Margaretta; Florencia L. Kurniawan; Octarina
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.47105

Abstract

Abstract: Irreversible hydrocolloid impression materials or alginate is commonly used in dental practice. Its setting time range is 1–4.5 minutes. The setting time is affected by several factors such as water temperature mixed with the alginate powder. There are previous studies evaluated the effect of water temperature on the alginate’s setting time, however, the collected data is still minimal. Therefore, this study aimed to evaluate the effect of water temperature on alginate’s setting time on larger scale. There were total of 423 samples divided into three groups: cold, moderate, and warm temperature of water mixed with alginate; each group consisted of 141 samples. Differences in setting times of the qroups were analyzed with the Kruskal-Wallis test and the Tukey’s HSD. Alginate powder used in this study was the normal-set type. Mixing the alginate powder with water was performed as the factory instruction, and then the mixture was poured into molds and the setting times were measured. The results showed that the setting times of the three groups were significantly different. Group I (cold) had the highest setting time (211 seconds), followed by Group II (room temperature) which was 147 seconds, and Group III (warm) had a setting time of 106 seconds.  In conclusion, water temperature has an effect on setting time, that is, the higher the temperature, the faster the setting time, and vice versa. Keywords: alginate; irreversible hydrocolloid; setting time; water temperature   Abstrak: Bahan cetak hidrokoloid ireversibel atau alginat merupakan bahan umum yang digunakan di praktek kedokteran gigi, dan memiliki setting time antara 1–4,5 menit. Setting time ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya suhu air yang digunakan dalam mencampur bahan cetak tersebut. Terdapat penelitian-penelitian terdahulu yang mengevaluasi efek suhu terhadap setting time, namun data yang dikumpulkan masih minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek suhu terhadap setting time bahan cetak alginat dalam skala besar. Terdapat tiga kelompok penelitian yaitu menggunakan suhu air yang dicampurkan dengan alginat dingin, sedang (suhu ruang), dan hangat. Besar sampel penelitian ini ialah 141 sampel per kelompok, sehingga total sampel ialah 423 sampel. Perbandingan setting time dari tiga kelompok kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Tukey’s HSD untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan bermakna dari kelompok-kelompok tersebut. Bubuk alginat yang digunakan merupakan alginat tipe normal. Pencampuran bubuk alginat dengan air dilakukan sesuai dengan instruksi pabrik. Adonan yang telah diaduk dituang ke dalam cetakan dan dilakukan pengukuran setting time. Hasil penelitian mendapatkan setting time dari ketiga kelompok berbeda secara bermakna. Kelompok I (dingin) memiliki setting time tertinggi yaitu selama 211 detik, diikuti kelompok II (sedang) selama 147 detik, dan kelompok III (hangat) selama 106 detik. Simpulan penelitian ini ialah suhu air memiliki efek terhadap setting time, yaitu semakin tinggi suhu air maka semakin singkat setting time, demikian pula sebaliknya. Kata kunci: alginat; hidrokoloid ireversibel; setting time; suhu air
Co-Authors Abdul Gani Soulisa Abdul Gani Soulisa Abdul Gani Soulissa Achmad E. Z. Hasan Ade Prijanti Dwisaptarini Advita Azalia Akhmad Endang Zainal Hasan Andrian Nova Fitri Andy Wirahadikusumah Anisa, Syafira Annisa Kesumaningrum Annisa Putri Ariyani Arianne Dwimega Ariesanti, Yessy Ariyani, Annisa Putri Armelia Sari Bernard Ongki Iskandar Binartha, Cipthadi Tri Oka Carolina Marpaung, Carolina Caroline Caroline Citra Puspandari Handayaningrum Cokro, Ingrid Aurelia Genacia Dewi Liliany Margaretta, Dewi Liliany Dewi Priandini Dewi Priandini, Dewi Dhyani Widhianingsih Dody Prayitno Eddy Eddy Eddy Eddy, Eddy Elline Elline, Elline Elsa Prahasti, Anastasia Erawati, Jeti Esa Bella Ferry Sandra Fibryanto, Eko Florencia Livia Kurniawan Gabriel Rainheart Genesis Genesis, Gabriel Rainheart Harryanto Wijaya Harryanto Wijaya Helen Cyntya Andany Ingrid Aurelia Genacia Cokro Intan Farizka Iskandar, Mochammad Marshalldanard A. Izah, Nurul Janti Sudiono Jeddy Jeddy Kesumaningrum, Annisa Komariah Komariah Komariah Komariah Komariah Komariah Komariah Komariah Komariah Liliany Margaretta, Dewi Meidianti, Dwi Harini Endah Melaniwati Mikha Sundjojo Najla Nadiah Natanael, Christian Niko Falatehan Nuroh Arifah Octarina Octarina Octarina Prawira, William Putri Rejeki Ratnasari, Dina Ria Puspitawati Richentya Feiby Salim Richentya Feiby Salim Riko Nofrizal Rosalina Tjandrawinata Rosita Stefani Salim, Richentya Feiby Santosa, Didi Nugroho Sari, Armelia Saristi, Salsabila Shafa Sastra Kusuma Widjaya Shafira Prana, Indira Shariff, Khairul Anuar Soulisa, Abdul Gani Sri Ratna Laksmiastuti Sutrisno, Juanita Andriani Syifa Annisa Tanaya, Namyera Tansza Setiana Putri Taufiq Ariwibowo Teguh, Sharren Thomas Aurelius Dharma Tiffany Hartono Tri Erri Astoeti Trijani Suwandi Trisfilha, Pretty Wijaya, Livia Wita Anggraini Yenny Pragustine Yoana Winardi