Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Keterampilan Komunikasi Interpersonal dan Konseling oleh Mahasiswa Kebidanan dengan Kepuasan Klien di Bidan Praktik Mandiri Neli Sunarni; Tina Dewi Judistiani; Zahrotur R Hinduan; Hadyana Sukandar; Tita H Madjid
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 2 (2016): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.184 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v3i2.38

Abstract

Keberhasilan komunikasi interpersonal dalam konseling seorang bidan akan diuji bila menghadapi klien sesungguhnya. Kualitas komunikasi interpersonal dan konseling oleh mahasiswa kebidanan belum pernah dievaluasi, oleh karena itu, mahasiswa pada saat melakukan praktik kebidanan dilakukan penilaian keterampilan komunikasi interpersonal dan konseling oleh pembimbing klinik. Keterampilan  komunikasi interpersonal dan konseling merupakan aspek penting dalam pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, karena konseling membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhannya, sehingga klien merasa puas atas pilihan dan pelayanan yang diterimanya. Penelitian observasional potong lintang dilaksanakan di empat lokasi Bidan Praktik Mandiri Kabupaten Ciamis pada bulan Agustus 2015. Subjek penelitian adalah mahasiswa kebidanan tingkat III semester VI yang sudah lulus mata kuliah pelayanan Keluarga Berencana sebanyak 46 orang dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling.  Calon akseptor KB yang datang ke Bidan Praktik Mandiri dinilai apakah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, selanjutnya calon akseptor KB dipilih secara konsekutif sampai tercapai  46 orang. Data diperoleh menggunakan daftar tilik dan kuesioner, dianalisis dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara teknik konseling, perilaku empati dalam konseling yang ditampilkan mahasiswa, perilaku yang mencerminkan etika dalam konseling dengan kepuasan klien dengan nilai p>0,05. Tidak terdapatnya hubungan diduga karena pada saat penilaian hanya dinilai dari kepatuhan melakukan langkah klinik, namun tidak menilai isi atau materi konseling. Menilai empati tidak dinilai oleh klien, butir penilaian empati tidak dibuat secara khusus. Masih terdapatnya bias dalam proses penilaian dan mungkin juga dalam proses seleksi. Simpulan hasil penelitian, tidak terdapat hubungan antara teknik konseling, perilaku empati dalam konseling dan perilaku etika dalam konseling dengan kepuasan klien.
Persepsi Dosen tentang Kemampulaksanaan Evaluasi 360° dan OSCE sebagai Alat Penilaian Keterampilan Komunikasi Mastiur Julianti; Tina Dewi Judistiani; Yuni Susanti Pratiwi; Dany Hilmanto; Farid Husin; Endang Sutedja
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 2 (2016): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.252 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v3i2.14

Abstract

Komunikasi merupakan salah satu standar kompetensi yang harus dikuasai oleh lulusan Prodi Diploma III Kebidanan yang mencakup pengetahuan, keterampilan klinis, dan perilaku. Metode penilaian keterampilan komunikasi mahasiswa yang banyak digunakan adalah Objective Structure Clinical Examination (OSCE). Terdapat alternatif metode penilaian keterampilan komunikasi, yakni metode evaluasi 360°.Mengingat metode evaluasi 360° merupakan alat penilaian yang baru di institusi kesehatan di Indonesia terutama di institusi kebidanan, pengkajian terhadap kemampulaksanaan evaluasi 360° dan OSCE ini perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana kemampulaksanaan evaluasi 360° dan OSCE sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi. Rancangan Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam. Analisis data yang dilakukan dimulai dengan pembuatan catatan lapangan, transkripsi hasil wawancara, reduksi, koding, kategorisasi, tema, dan interpretasi data. Hasil penelitian didapatkan penguji dalam melaksanakan evaluasi 360° adalah orang yang berinteraksi langsung dengan yang dinilai pada saat mahasiswa memberikan asuhan terhadap pasien seperti dosen, CI lapangan, pasien, keluarga pasien, mahasiswa yang dinilai, dan teman mahasiswa yang dinilai, sedangkan penguji OSCE adalah dosen dari pendidikan sesuai dengan bidang keilmuan. Penilaian OSCE dipengaruhi oleh perbedaan jumlah penguji, jumlah mahasiswa, dan jumlah kompetensi yang akan diuji. Durasi untuk mempersiapkan penilaian evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi singkat, tetapi durasi pelaksanaan ujian dengan metode evaluasi 360° independen/tidak terbatas sesuai dengan kasus yang ditemukan, sedangkan waktu untuk mempersiapkan penilaian dengan metode OSCE lama dan waktu pelaksanaan penilaian ditentukan 5−10 menit setiap pojok uji. Dana operasional untuk melaksanakan evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi ekonomis, sedangkan untuk OSCE biayanya mahal. Sarana prasarana untuk melaksanakan evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi minim, sedangkan untuk melaksnakan OSCE banyak. Keberhasilan pelaksanaan sebuah metode penilaian apabila adanya ketersediaan sumber daya, biaya, waktu, dan logistik yang baik.
Hubungan Peringkat Akreditasi Institusi Pendidikan Diploma III Kebidanan dengan Hasil Uji Coba Uji Kompetensi Bidan Periode Juli 2013 Ani Kusumastuti; Tri Hanggono Achmad; Tina Dewi Judistiani; Dany Hilmanto; Anita Deborah Anwar; Sari Puspa Dewi
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 2 (2015): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.844 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v2i2.41

Abstract

Penjaminan mutu institusi pendidikan dilakukan melalui akreditasi institusi, sedangkan kualitas lulusan salah satunya dilakukan melalui uji kompetensi. Peringkat akreditasi yang baik akan menghasilkan uji kompetensi yang baik, namun berdasarkan hasil uji coba uji kompetensi bidan tahun 2012 didapatkan rerata nilai peserta dari institusi terakreditasi B memiliki nilai yang lebih rendah dari institusi yang terakreditasi C. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan nilai berdasarkan peringkat akreditasi dan hubungan peringkat akreditasi dengan nilai uji coba uji kompetensi. Penelitian dilakukan dengan  analitik cross sectional menggunakan seluruh data peserta uji coba uji kompetensi bidan periode Juli 2013 dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Data dianalisis dengan Kruskal-Wallis, Post Hoc Mann Whitney, dan Somers’d. Perbedaan nilai didapatkan pada semua kelompok akreditasi institusi (p<0,001) dengan nilai median (minimal−maksimal) 61,67 (19,44−78,33) akreditasi A, 54,44 (1,11−77,78) akreditasi B, dan 49,44 (2,78−80,00) akreditasi C (p<0,001). Hubungan yang lemah antara peringkat akreditasi institusi pendidikan dengan nilai uji coba uji kompetensi (p<0,001), baik dibandingkan dengan nilai median (r=0,22) maupun nilai batas lulus (r=0,23). Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan nilai uji coba uji kompetensi berdasarkan peringkat akreditasi dan adanya hubungan antara peringkat akreditasi institusi dengan hasil uji coba uji kompetensi bidan. Semakin baik peringkat akreditasi institusi maka semakin baik pula hasil uji coba uji kompetensi yang didapatkan
Association of Maternal Obesity and Pregnancy Outcomes Timoty Krisna Sukoco; Dini Hidayat; Raden Tina Dewi Judistiani
Althea Medical Journal Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v9n2.2632

Abstract

Background: The prevalence of obesity is increasing globally, causing various possible disorders and complications. Maternal and perinatal morbidity and mortality might potentially be affected by maternal obesity. This study aimed to evaluate the association between maternal obesity and pregnancy outcomes.Methods: This retrospective cohort study was part of a larger cohort study performed from July 2016 to July 2017 in West Java, including 223 pregnant women with normal fetuses, who were obese or non-obese pre-pregnancy. Underweight women were excluded. Data on pregnancy outcomes consisting of Caesarean section, preeclampsia, premature rupture of membrane (PROM), preterm birth, post-term birth, small for gestational age (SGA), and large for gestational age (LGA) were collected. The association with maternal obesity was analyzed using the Fisher’s Exact Test to determine the association with a 95% confidence interval, and a p-value <0.05 was considered significant.Results: There was an association between maternal obesity and Caesarean section, with an increased risk in obese mothers compared to non-obese mothers (RR 2.398 CI 1.328-4.329). There was no significant association between maternal obesity and preeclampsia, PROM, preterm birth, post-term birth, SGA, and LGA.Conclusion: Maternal obesity is associated with Caesarean section. A more comprehensive approach is essential for obese pregnant women to ensure the health of both the mother and the infant.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN ANEMIA PADA BALITA Lani Gumilang; Devi Nurlaelasari; Meita Dhamayanti; Rd. Tina Dewi Judistiani; Neneng Martini; Akhmad Yogi Pramatirta
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 7, No 4 (2021): Vol.7 No.4 Oktober 2021
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v7i4.4736

Abstract

Background: Anemia is a condition in which the hemoglobin is below the normal value. According to Riskesdas, anemia in toddlers in 2018 was 38.5%. Many factors cause anemia in toddler, such as gender, birth weight, history of premature birth, history of exclusive breastfeeding, nutritional status and mother's education. Purpose: This study aims to determine the description of the risk factors for the incidence of anemia in toddler.Methods: This study uses secondary data in the form of a cohort with a total sampling of 53 toddler in Cirebon Regency. The analysis used in this research is univariate analysis. Results: In this study, it was shown that Toddler with anemia were seen from risk factors, namely female sex as much as 55.2%. Normal birth weight is 57.4%. Good nutritional status (BB/U) was 55.1% and Toddler short nutritional status (TB/U) were 66.6%. Those who do not have a history of exclusive breastfeeding are 60.8%, and have a history of being premature as much as 60% and with a mother's education not attending school as much as 100%Conclusion: Female gender, Toddler with short nutritional status and a history of premature birth and mothers with low education are more likely to experience anemia than other risk factors. Suggestion It is necessary to provide counseling to parents of toddlers regarding risk factors for the incidence of anemia in toddlers, especially in toddlers with female gender and toddlers experiencing stunting. Keywords: Anemia, Toddler, Risk Factor ABSTRAK Latar belakang: Anemia adalah suatu kondisi di mana hemoglobin berada dibawah nilai normal. Menurut Riskesdas anemia pada balita tahun 2018 yaitu sebesar 38,5%. Banyak faktor yang menyebabkan anemia pada balita, seperti jenis kelamin, berat badan lahir, riwayat prematur, riwayat ASI Eklusif, status gizi dan pendidikan ibu.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian anemia pada balita.Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa kohort dengan total sampling sebanyak 53 balita di Kabupaten Cirebon. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat.Hasil: Dalam penelitian ini menunjukan bahwa balita yang mengalami anemia dilihat dari faktor risiko yaitu jenis kelamin perempuan sebanyak 55,2%. Berat badan lahir normal yaitu 57,4%. Status gizi baik (BB/U) sebanyak 55,1% dan balita status gizi pendek (TB/U) yang mengalami anemia sebanyak 66,6%. Yang tidak memiliki riwayat ASI eklusif sebanyak 60,8%, dan memiliki riwayat prematur sebanyak 60% serta dengan pendidikan ibu tidak sekolah sebanyak 100%Kesimpulan: Jenis kelamin perempuan, balita dengan status gizi pendek dan memiliki riwayat prematur serta ibu yang berpendidikan rendah lebih banyak yang mengalami anemia dibandingkan faktor risiko lainnya.Saran perlu dilakukan penyuluhan pada orang tua balita mengenai faktor risiko kejadian anemia pada balita terutama pada balita dengan jenis kelamin perempuan dan balita yang mengalami stunting. Kata kunci : Anemia, Balita, Faktor Risiko 
Incidence of Respiratory Distress Syndrome and Its Associated Factors among Preterm Neonates: Study from West Java Tertiary Hospital Irman Permana; Raden Tina Dewi Judistiani; Bakhtiar Bakhtiar; Ayu Alia; Tetty Yuniati; Budi Setiabudiawan
The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research Vol 7, No 1 (2022): Vol. 7 (1) May 2022
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.332 KB) | DOI: 10.21157/ijtvbr.v7i1.27043

Abstract

Respiratory distress syndrome (RDS) or hyaline membrane disease is the most frequent cause of respiratory failure and mortality in preterm infants. As a result, many infants are brought to a neonatal intensive care unit (NICU). There may also be other factors that affect the incidence rate of RDS as well. Our research goals are to find out the incidence rate of RDS among three preterm groups and its related factors. In a cross-sectional-descriptive analytical study, newborn data was gathered and assessed by using hospital medical records. One hundred forty-two preterm infants with gestational age ≤ 36 weeks were hospitalized in the NICU. All participants were divided into three groups: extremely preterm ( 28 weeks), very preterm (28 to 32 weeks), and moderate-to-late preterm (32 to 36 weeks). The frequency of RDS and some related factors were compared among three groups. Finally, we analyzed the relationship between variables by SPSS statistics software version 19. The level of significance was considered P 0.05. Respiratory distress syndrome was observed in 64.68% of all participants; RDS is more common in infants within 28-32 weeks of gestation (81%), while infants with 28 weeks of gestation and 33-36 weeks of gestation have lower rates (50% and 52 Our study shows a positive correlation between birthweight and RDS as well as between birthweight and gestational age. (P value: 0.001, 0.003). Infants between 28 to 32 gestational age have a higher risk of RDS. The risk of RDS also increases in low birth weight and male infants.
Incidence of Respiratory Distress Syndrome and Its Associated Factors among Preterm Neonates: Study from West Java Tertiary Hospital Irman Permana; Raden Tina Dewi Judistiani; Bakhtiar Bakhtiar; Ayu Alia; Tetty Yuniati; Budi Setiabudiawan
The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research Vol 7, No 1 (2022): Vol. 7 (1) May 2022
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/ijtvbr.v7i1.27043

Abstract

Respiratory distress syndrome (RDS) or hyaline membrane disease is the most frequent cause of respiratory failure and mortality in preterm infants. As a result, many infants are brought to a neonatal intensive care unit (NICU). There may also be other factors that affect the incidence rate of RDS as well. Our research goals are to find out the incidence rate of RDS among three preterm groups and its related factors. In a cross-sectional-descriptive analytical study, newborn data was gathered and assessed by using hospital medical records. One hundred forty-two preterm infants with gestational age ≤ 36 weeks were hospitalized in the NICU. All participants were divided into three groups: extremely preterm ( 28 weeks), very preterm (28 to 32 weeks), and moderate-to-late preterm (32 to 36 weeks). The frequency of RDS and some related factors were compared among three groups. Finally, we analyzed the relationship between variables by SPSS statistics software version 19. The level of significance was considered P 0.05. Respiratory distress syndrome was observed in 64.68% of all participants; RDS is more common in infants within 28-32 weeks of gestation (81%), while infants with 28 weeks of gestation and 33-36 weeks of gestation have lower rates (50% and 52 Our study shows a positive correlation between birthweight and RDS as well as between birthweight and gestational age. (P value: 0.001, 0.003). Infants between 28 to 32 gestational age have a higher risk of RDS. The risk of RDS also increases in low birth weight and male infants.
Usability assessment using m-Health app usability questionnaire on the iPosyandu application in Central Sulawesi Abdullah, Sakina; Rinawan, Fedri Ruluwedrata; Judistiani, Raden Tina Dewi
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 12, No 4: December 2023
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v12i4.22930

Abstract

The iPosyandu mobile application is one of the android-based smartphone applications that contains information about the growth and development of babies/toddlers and about pregnancy as an effort to reduce maternal mortality rate (MMR). This study's objective is to evaluate the usability of the iPosyandu mobile application and offer modifications to increase its reusability. The study was conducted on 88 pregnant women at the Lere Health Center and Kinovaro Health Center which were divided into 44 people from signaling areas and 44 people from signal-difficult areas using mixed method research with an explanatory sequential design. The m-Health app usability questionnaire (MAUQ) is employed in the quantitative stage, whereas the focus group discussions (FGD) approach is used in the qualitative stage. The calculation of the MAUQ score in this study showed that each statement item contained in 3 variables or aspects in the MAUQ questionnaire got a good score with a total average scale of 6.26 (89.41%) in the signaled area and 6.29 (89.81%) in the signal-difficult area where the score was >4. There are still some barriers to using the program, thus enhancements must be done to increase user comfort.
Maternal Characteristics of Very Low Birth Weight and Extremely Low Birth Weight Incidence Pajajaran, Badar Muhammad; Sumawan, Herman; Judistiani, Raden Tina Dewi; Handono, Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.654

Abstract

Introduction: Low birth weight (LBW) infants have the potential for cognitive deficits, motor delays, cerebral palsy, and other behavioral and psychological problems. Household expenses and health care system costs can be reduced by alleviating the burden of LBW. Currently, there are no available data on the maternal characteristics of very low birth weight (VLBW) and extremely low birth weight (ELBW) incidence in Indonesia.Method: This was a retrospective analytical observational study with a cross-sectional design. The sample in this study included all infants born with a birth weight of <1500 grams at Margono Purwokerto Hospital during 2018-2022. Univariate and bivariate analyses were performed using a significance level of p≤0.05.Results: A total of 65 patients in the ELBW group and 59 patients in the VLBW group were included in this study. Statistical test results showed no significant differences in the characteristics of age, parity, birth weight of the infant, criteria for hypertension during pregnancy, criteria for anemia, comorbidities, hospital treatment, postpartum care, and type of delivery. The variables that differed significantly were anemia (Hb VLBW vs Hb ELBW; 9.06 vs 8.21) and neonatal outcomes.Conclusion: There was no difference between the maternal characteristics of the incidence of very low birth weight and extremely low birth weight, except for anemia. Checking hemoglobin levels in patients with ELBW is essential for providing appropriate treatment.Karakteristik Ibu dengan Bayi Berat Badan Lahir Sangat Rendah dan Kejadian Berat Badan Lahir Sangat RendahAbstrakPendahuluan: Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) berpotensi mengalami defisit kognitif, keterlambatan motorik, Cerebral Palsy, serta permasalahan perilaku dan psikologis lainnya. Pengeluaran rumah tangga dan biaya sistem pelayanan kesehatan dapat dikurangi dengan meringankan beban BBLR. Saat ini belum tersedia data mengenai karakteristik ibu dengan kejadian berat badan lahir sangat rendah (BBLR) dan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) di Indonesia.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik retrospektif dengan desain cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini meliputi seluruh bayi yang lahir dengan berat badan lahir <1500 gram di RS Margono Purwokerto selama tahun 2018-2022. Analisis univariat dan bivariat dilakukan dengan tingkat signifikansi p≤0,05.Hasil:Sebanyak 65 pasien pada kelompok BBLR dan 59 pasien pada kelompok BBLSR dilibatkan dalam penelitian ini. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada karakteristik umur, paritas, berat badan lahir bayi, kriteria hipertensi saat hamil, kriteria anemia, penyakit penyerta, perawatan di rumah sakit, perawatan nifas, dan jenis persalinan. Variabel yang berbeda secara signifikan adalah anemia (Hb BBLSR vs Hb BBLR; 9,06 vs 8,21) dan luaran neonatal.Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan karakteristik ibu terhadap kejadian berat badan lahir sangat rendah dan berat badan lahir sangat rendah, kecuali anemia. Pemeriksaan kadar hemoglobin pada pasien BBLR sangat penting untuk memberikan pengobatan yang tepat.Kata kunci: bayi berat lahir sangat rendah, BBLSR, bayi berat lahir sangat rendah, BBLR
Hubungan faktor maternal dan kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR) Azizah, Nurul; Martini, Neneng; Gumilang, Lani; Dhamayanti, Meita; Judistiani, Raden Tina Dewi
Jurnal Asuhan Kebidanan Vol 5 No 1 (2024): Journal of Midwifery Care
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jmc.v5i1.1368

Abstract

Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, persentase bayi BBLR di Cianjur tahun 2019 mencapai 2,8%, atau 1.143 dari 42.702 bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan faktor maternal dan kejadian BBLR.Metode: Studi cross-sectional analitik menggunakan data sekunder dari rekam medis, melibatkan seluruh ibu yang melahirkan bayi BBLR di RSUD Cimacan antara tahun 2020 hingga 2022, dengan total sampel sebanyak 168 ibu.Hasil: Kejadian BBLR tertinggi terjadi pada tahun 2022 (41,1%), pada kelompok ibu nullipara (48,2%), usia 20-35 tahun (70,8%), memiliki kadar hemoglobin (Hb) ≥ 11 gr/dl (57,7%), status gizi normal (54,8%), dan tidak mengalami preeklamsia (92,9%). Analisis lebih lanjut menunjukkan hubungan signifikan antara usia ibu (p = 0,017), preeklamsia (p = 0,001), kadar Hb (p = 0,001, r = 0,551), dan status gizi ibu (p = 0,042) dengan kejadian BBLR, namun tidak ada hubungan antara paritas ibu (p = 0,347) dan kejadian BBLR.Kesimpulan: Faktor- faktor maternal yang berhubungan dengan kejadian BBLR di RSUD Cimacan periode 2020-2022 adalah usia ibu, preeklamsia, kadar Hb dan status gizi.
Co-Authors Abdullah, Sakina Ahmad Rizal Akhmad Yogi Pramatirta, Akhmad Yogi Amillia Siddiq, Amillia Ani Kusumastuti Anita Deborah Anwar Anita Yuliani Anita Yuliani, Anita Annisa Fauziah Annisa Fauziah, Annisa Aprianti, Wulan Tanti Ari indra Susanti Ari Wibowo Astuti Diah Bestari Ayu Alia Bakhtiar Bakhtiar Benny Hasan Purwara Budi Handono Budi Setiabudiawan Budi Setiabudiawan Budi Setiabudiawan Budi Setiabudiawan Chalid, Maisuri Tadjuddin Dani Setiawan Dany Hilmanto Devi Nurlaelasari Dewi Marhaeni Diah Herawati Dhea Nevira Khairunnisa Dian Nurlaela Dian Tjahyadi Dini Hidayat Dini Saraswati Handayani Effendi, Jusuf Endang Sutedja Fani, Regina Chintya Farid Husin Farid Husin Febriani, Dwi Bahagia Fedri Ruluwedrata Rinawan Firman Fuad Wirakusumah Hadyana Sukandar Heryawan, Iwan Intan Karlina Irman Permana Irna Kurnia Aprillani Johannes Cornelius Mose Jusuf Sulaeman Effendi Khairunnisa, Dhea Nevira Lani Gumilang Linasari, Desy Lulu Eva Rakhmilla, Lulu Eva Madjid, Tita Husnitawati Martini, Neneng Mastiur Julianti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Merry Wijaya Muh. Nasrum Massi Neli Sunarni Neneng Martini Neneng Martini NURUL AZIZAH Nurul Ilma Nurul Ilma, Nurul Oki Suwarsa Pajajaran, Badar Muhammad Puspa Sari Puspa Sari Puspa Sari Puspa Sari, Puspa Rahmiati, Lina Ramdhan, Muhammad Raihan Ranti Febriyani Ratuafni Shafrina Wardani Regina Chintya Fani Reni Ghrahani Ridha Wahyuni, Ridha Rina Masadah Rizki Nadiya Putri Rosalina, Phang Rufaindah, Ervin Sari Puspa Dewi Sefita Aryuti Nirmala Sefty Mariany Samosir Setyorini Irianti Sri Astuti Sri Astuti Sri Astuti Sri Hastuti, Tuti Sri Rahayu Sumawan, Herman Sunjaya, Deni i Kurniad Syahril, Rizalinda Sylvia Rachmayati Tan, Zaki Miftah Nalalindra Tetty Yuniati Tetty Yuniati Tetty Yuniaty Timoty Krisna Sukoco Tita H Madjid Tita Husnitawati Madjid Tri Hanggono Achmad Turyadi Turyadi, Turyadi Tuti Wahmurti Wahyu Nuraisya Wardani, Ratuafni Shafrina Widi Pertiwi Windi Nurdiawan Wiryawan Permadi Wulan Tanti Aprianti Yessika Adelwin Natalia Yuni Susanti Pratiwi Zahrotur R Hinduan