Claim Missing Document
Check
Articles

Overview of The Risk Factors of Spontaneous Abortus Among Young Pregnancy Woman: A Systemic Review Tan, Zaki Miftah Nalalindra; Irianti, Setyorini; Rakhmilla, Lulu Eva; Ramdhan, Muhammad Raihan; Judistiani, Raden Tina Dewi; Handono, Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.741

Abstract

Objective: To identify the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy women.Methods: We used PubMed and ScienceDirect databases and electronic journals such as the American Journal of Obstetrics and Gynecology and the International Journal of Gynecology and Obstetrics. The articles were screened based on inclusion and exclusion criteria. The keywords used for inclusion were “Risk Factors,” “Abortus,” and “Young Maternal Age.” Next, articles were quality assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist. The extracted data were presented in the table and narrative synthesis.Result: This review has six studies that has identified the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman. The risks were body mass index, maternal habits, infection, coital, and experience of IPV. However, some factors, such as iodine level, are insignificant to spontaneous abortuses. This review also found that infection also had a role in the complications of spontaneous abortus. The limitation of this study was each variable was different in each survey. So, we couldn’t compare each variable to avoid bias from each study.Conclusion: The most affected risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman are an infection, followed by first coital age, IPV, partner controlling behaviour, BMI, and maternal smoking habit.Faktor Risiko Abortus Spontan pada Kehamilan Usia Muda: Systematic ReviewAbstrakTujuan: Mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda.Metode: Kami menggunakan database web-based berupa PubMed dan ScienceDirect dan jurnal elektrik berupa American Journal of Obstetrics and Gynecology dan International Journal of Gynecology. Artikel yang didapatkan akan dilakukan skrining berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kata kunci yang digunakan untuk melakukan inklusi berupa “Faktor Risiko”, “Abortus”, dan “Kehamilan Usia Muda”. Selanjutnya, artikel dilakukan penilaian kualitas menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist. Data yang diekstrak disajikan dalam bentuk dabel dan narasi.Hasil: Sebanyak 6 penelitian yang ditelaah mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda berupa indeks massa tubuh, kebiasaan ibu hamil, infeksi, koitus, dan pengalaman kekerasan oleh pasangan. Namun, kadar iodine dalam tubuh tidak memengaruhi secara signifikan kejadian abortus spontan. Penelitian ini juga menemukan bahwa infeksi juga memiliki peran dalam terjadinya komplikasi pada abortus spontan. Keterbatasan pada penelitian ini adalah tidak ada variable yang sama dari artikel ditelaah. Oleh karena itu perbandingan tidak dapat dilakukan untuk mencegah kemungkinan kecenderungan pada penelitian yang ditelaah.Kesimpulan: Faktor risiko yang paling mempengaruhi abortus spontan pada ibu hamil Ketika usia muda adalah infeksi, diikuti dengan usia pada saat koital pertama, kekerasan dari pasangan, kebiasaan mengontrol pasangan, indeks massa tubuh, dan kebiasaan merokok.Kata Kunci: Abortus Spontan, Faktor Risiko, Kehamilan Usia Muda 
Peningkatan Pengetahuan Tuberkulosis Kehamilan dan Perinatal di Kalangan Tenaga Kesehatan Judistiani, Tina Dewi; Handono, Budi; Sunjaya, Deni i Kurniad; Diah, Dewi Marhaeni; Linasari, Desy; Gumilang, Lani
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v4i1.301

Abstract

Indonesia merupakan negara terbanyak ketiga dengan kasus Tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Penyakit TB masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan pencegahan dan pengendalian untuk menurunkan jumlah kasus TB. Peningkatan kasus TB pada wanita usia reproduktif mengakibatkan naiknya angka TB pada ibu hamil. Ibu hamil dengan infeksi TB dapat meningkatkan risiko kematian dan berat badan lahir rendah. Tenaga kesehatan di rumah sakit memerlukan pengetahuan yang cukup untuk upaya pencegahan penularan dan upaya untuk mendukung Indonesia bebas TB tahun 2050. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan pengetahuan untuk tenaga kesehatan tentang TB pada kehamilan dan penatalaksanaanya. Metode pelaksanaan kegiatan ini dengan melakukan kegiatan webinar lewat aplikasi zoom meeting. Kegiatan webinar dihadiri oleh 562 peserta. Hasil kegiatan dievaluasi menggunakan kuesioner yang dibagikan sebelum dan sesudah pemaparan materi webinar. Rata-rata pengetahuan sebelum webinar sebesar 36,23 dan setelah pemaparan materi webinar oleh para narasumber pengetahuan peserta naik menjadi 80,60. Berdasarkan hasil kuesioner terdapat peningkatan pengetahuan peserta webinar antara sebelum dan sesudah pemaparan materi.
Adolescence Eclampsia and Maternal Mortality within Sociocultural Problem in Indonesia: A Case Report Rosalina, Phang; Nurdiawan, Windi; Judistiani, Raden Tina Dewi; Permadi, Wiryawan; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.697

Abstract

Introduction: Preeclampsia and eclampsia in adolescent pregnancy is closely related, especially in low-middle income countries. It becomes a public health issue not only in the present but also in the future due to potential complications and as a reflection of the social conditions of a country. This case aims to highlight adolescence eclampsia and current sociocultural and economic problem in Indonesia.Case Report: A 15-year-old, 9-months primigravida (G1P0A0), was referred to our center due to eclamptic seizure. Blood pressure was 160/110 mmHg and cervical dilation is 4 cm with adequate pelvic diameter. After 4 hours, cervical dilation progressed to 6 cm but followed by infrequent fetal heartbeat and CTG reveals category III with late deceleration. Emergency C-section was performed and patient admitted to ICU for 5 days afterwards. However, she was deteriorated and passed away.Conclusion: In addition to physiological immaturity, adolescence pregnancies often face sociocultural problems that lead to higher rates of hypertensive disorders of pregnancy in this population. Early recognition and knowledge of risk factors for preeclampsia are essential for good management, and a faster referral system will reduce maternal mortality.Eklamsia pada Remaja dan Kematian Ibu dalam Masalah Sosial Budaya di Indonesia: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan remaja sangat erat kaitannya, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di masa sekarang, tetapi juga di masa depan karena potensi komplikasi dan sebagai cerminan kondisi sosial suatu negara. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti eklamsia pada remaja dalam kaitannya dengan masalah sosial budaya dan ekonomi saat ini di Indonesia.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 15 tahun, primigravida 9 bulan (G1P0A0), dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung karena kejang eklamsia. Tekanan darah 160/110 mmHg dan dilatasi serviks 4cm degan diameter panggul yang memadai. Setelah 4 jam, dilatasi serviks berkembang menjadi 6cm, etapi diikuti oleh detak jantung janin yang jarang dan CTG menunjukkan kategori III dengan deselerasi lambat. Operasi caesar darurat dilakukan dan pasien dirawat di ICU selama 5 hari. Namun, keadaan pasien memburuk dan meninggal dunia. Kesimpulan: Selain imaturitas fisiologis, kehamilan remaja sering menghadapi masalah sosiokultural yang menyebabkan tingginya angka hipertensi kehamilan pada populasi ini. Pengenalan dini dan pengetahuan tentang faktor risiko preeklamsia sangat penting untuk manajemen yang baik, dan sistem rujukan yang lebih cepat akan mengurangi angka kematian ibu.Kata kunci: eklampsia, kehamilan remaja, kematian ibu, masalah sosiokultural
Reduction of Maternal Calponin 1: Evidence to Support Natural Progesterone Superiority to Nifedipine in the Treatment of Uncomplicated Premature Contraction Madjid, Tita Husnitawati; Judistiani, Tina Dewi; Heryawan, Iwan; Effendi, Jusuf
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.661

Abstract

Introduction: Premature contractions precede preterm birth, which is still a challenging subject as it may contribute to neonatal mortality. Treatment is often aimed at providing some time window for lung maturation. This study aims to compare the efficacy of nifedipine versus progesterone in postponing preterm birth and to provide evidence of the biological process by changes in maternal serum calponin 1 level.Method: An oral dose of 20 mg nifedipine given three times daily was compared to a single dose of 400 mg intra-vaginal natural progesterone in a single-blinded, non-randomized controlled trial. Selected subjects were normal, singleton pregnancies between 28 - 34 weeks of gestational age with premature contraction and intact amniotic membrane. The primary outcome was a reduction in the frequency and strength of contraction, and the secondary measure was the adjustment of serum calponin before and after the intervention.Results: This finding was supported by reducing calponin levels in maternal sera. Despite the reduction of frequency and strength of contractions occurring in the nifedipine arm, serum calponin level increased, indicating that the myometrial contractility pathway was not completely deterred.Conclusion: This study revealed that natural progesterone was superior to nifedipine in treating premature contraction. It was also supported by evidence of maternal sera calponin level reduction, indicating disruption of the contraction pathway.Penurunan Serum Calponin 1 Ibu: Bukti yang Mendukung Keunggulan Progesteron Alami dibandingkan Nifedipine dalam Pengobatan Kontraksi Dini Tanpa KomplikasiAbstrakPendahuluan: Kelahiran prematur selalu didahului oleh kontraksi prematur. Hingga saai ini kelahiran prematur masih menjadi topik yang menantang karena dapat berkontribusi pada kematian neonatal. Pengobatan sering bertujuan memberikan waktu untuk pematangan paru-paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas nifedipin versus progesteron dalam menunda kelahiran prematur dan untuk memberikan bukti proses biologis melalui perubahan kadar serum calponin 1 ibu.Metode: Dosis oral 20mg nifedipin yang diberikan tiga kali sehari dibandingkan dengan dosis tunggal 400mg progesteron alami intra-vagina dalam uji coba single-blinded non-randomized controlled. Subjek yang dipilih adalah kehamilan normal, kehamilan tunggal usia kehamilan antara 28 - 34 minggu dengan kontraksi prematur dan selaput ketuban yang utuh. Hasil utama adalah pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi dan ukuran sekunder adalah penyesuaian serum calponin sebelum dan sesudah intervensi.Hasil: Temuan ini didukung oleh penurunan kadar calponin dalam serum ibu. Meskipun terjadi pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi pada lengan nifedipin, kadar serum calponin meningkat yang mungkin mengindikasikan bahwa jalur kontraktilitas miometrium tidak sepenuhnya terhalang.Kesimpulan: Hasilnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa progesteron alami lebih unggul daripada nifedipin dalam pengobatan kontraksi dini. Hal ini juga didukung oleh bukti penurunan kadar serum calponin ibu yang mengindikasikan gangguan pada alur kontraksi.Kata kunci: Calponin 1, Kontraksi dini, Kelahiran prematur, Nifedipine, Progesteron
Intrauterine Transmission of Hepatitis B Cannot Be Ruled Out by A Single Negative Hepatitis B e Antigen (HBeAg) Result among Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) - Positive Pregnant Women Chalid, Maisuri Tadjuddin; Judistiani, Tina Dewi; Syahril, Rizalinda; Masadah, Rina; Febriani, Dwi Bahagia; Wahyuni, Ridha; Turyadi, Turyadi; Massi, Muh Nasrum
The Indonesian Biomedical Journal Vol 16, No 1 (2024)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v16i1.2726

Abstract

BACKGROUND: The risk factors for intrauterine transmission of hepatitis B virus (HBV) in hepatitis B surface antigen (HBsAg)-positive pregnant women are poorly understood. Numerous factors are considered to be involved, including placental barrier, obstetric environment, high viral load, and positivity of hepatitis B e antigen (HBeAg). This study was conducted to investigate the role of placenta barrier, clinical, and viral factors in intrauterine transmission of HBV.METHODS: A cross-sectional study was conducted involving 1,353 pregnant women who underwent HBsAg screening. Eighty-four (6.2%) women were detected as HBsAg positive and were examined for HBsAg level, anti-HBs, anti-HBc, HBeAg/hepatitis B e antibody (anti-HBe) status, and HBV DNA presence in cord blood. Quantitative HBV DNA was analyzed using real-time polymerase chain reaction (PCR).RESULTS: Eighty-four of 1,353 subjects were HBsAg-positive. HBV DNA was positive in 28/84 (33.7%) maternal sera, 19/79 (24.05%) placental specimens, and 9/83 (10.84%) in cord blood. There were significant associations between HBV DNA in maternal serum (p=0.000) and placental tissue (p=0.000) with HBV DNA in the cord blood. No clinical factors were associated with HBV DNA transmission in cord blood. Sixty percent of viral load >5.3 log10 copies/mL were found in the cord blood, of which 43.8% HBeAg positive and 3.1% HBeAg negative.CONCLUSION: Reduced transmission via compartments established the placenta’s barrier function in mother-to-child transmission. A high maternal viral load and positive HBeAg were risk factors for intrauterine transmission, while negative HBeAg still has the possibility of transmission.KEYWORDS: mother-to-child transmission, hepatitis B virus, intrauterine
Co-Authors Abdullah, Sakina Ahmad Rizal Akhmad Yogi Pramatirta, Akhmad Yogi Amillia Siddiq, Amillia Ani Kusumastuti Anita Deborah Anwar Anita Yuliani Anita Yuliani, Anita Annisa Fauziah Annisa Fauziah, Annisa Aprianti, Wulan Tanti Ari indra Susanti Ari Wibowo Astuti Diah Bestari Ayu Alia Bakhtiar Bakhtiar Benny Hasan Purwara Budi Handono Budi Setiabudiawan Budi Setiabudiawan Budi Setiabudiawan Budi Setiabudiawan Chalid, Maisuri Tadjuddin Dani Setiawan Dany Hilmanto Devi Nurlaelasari Dewi Marhaeni Diah Herawati Dhea Nevira Khairunnisa Dian Nurlaela Dian Tjahyadi Dini Hidayat Dini Saraswati Handayani Effendi, Jusuf Endang Sutedja Fani, Regina Chintya Farid Husin Farid Husin Febriani, Dwi Bahagia Fedri Ruluwedrata Rinawan Firman Fuad Wirakusumah Hadyana Sukandar Heryawan, Iwan Intan Karlina Irman Permana Irna Kurnia Aprillani Johannes Cornelius Mose Jusuf Sulaeman Effendi Khairunnisa, Dhea Nevira Lani Gumilang Linasari, Desy Lulu Eva Rakhmilla, Lulu Eva Madjid, Tita Husnitawati Martini, Neneng Mastiur Julianti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Merry Wijaya Muh. Nasrum Massi Neli Sunarni Neneng Martini Neneng Martini NURUL AZIZAH Nurul Ilma Nurul Ilma, Nurul Oki Suwarsa Pajajaran, Badar Muhammad Puspa Sari Puspa Sari Puspa Sari Puspa Sari, Puspa Rahmiati, Lina Ramdhan, Muhammad Raihan Ranti Febriyani Ratuafni Shafrina Wardani Regina Chintya Fani Reni Ghrahani Ridha Wahyuni, Ridha Rina Masadah Rizki Nadiya Putri Rosalina, Phang Rufaindah, Ervin Sari Puspa Dewi Sefita Aryuti Nirmala Sefty Mariany Samosir Setyorini Irianti Sri Astuti Sri Astuti Sri Astuti Sri Hastuti, Tuti Sri Rahayu Sumawan, Herman Sunjaya, Deni i Kurniad Syahril, Rizalinda Sylvia Rachmayati Tan, Zaki Miftah Nalalindra Tetty Yuniati Tetty Yuniati Tetty Yuniaty Timoty Krisna Sukoco Tita H Madjid Tita Husnitawati Madjid Tri Hanggono Achmad Turyadi Turyadi, Turyadi Tuti Wahmurti Wahyu Nuraisya Wardani, Ratuafni Shafrina Widi Pertiwi Windi Nurdiawan Wiryawan Permadi Wulan Tanti Aprianti Yessika Adelwin Natalia Yuni Susanti Pratiwi Zahrotur R Hinduan