Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KUDZU TROPIKA (Pueraria phaseoloides Benth.) N. G. K Roni; N.M. Witariadi; N.N Candraasih K.; N. W Siti
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 3 No 1
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.397 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2013.v03.i01.p04

Abstract

Phosphorus (P) is one of the essential nutrients for plants that availability is strongly influenced by soil pH. In acid soils, most of the P is given will form insoluble compounds and is not available to plants. Phosphate solubilizing bacteria is a soil microorganism that can improve the provision ofP in acid soils. The study aimed to determine the effect of Phosphate solubilizing bacteria on the productivity of tropical kudzu was conducted using a completely randomized design with four treatments ie without isolate (I0), standard isolate (I1), isolate B.80.1649-1 (I2) and isolate B.80.1649-8 (I3), each treatment was repeated four times. The results showed that both isolates were isolated and selection were able to increase the length of the plants, number of leaves, shoot dry weight, root dry weight, shoot P content,  N uptake, P uptake, and production of crude protein of tropical kudzu (Pueraria phaseoloides Benth.). The ability of isolates B.80.1649-1 higher than isolates B.80.1649-8, and comparable with standard isolate.
PRODUKSI DAN KARAKTERISTIK KACANG PINTO YANG DIBERI PUPUK KANDANG SAPI DAN MIKORIZA Roni N.G.K.; N.N.C. Kusumawati; N.M. Witariadi; S.A. Lindawati; N.W. Siti
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 6 No 2 (2017): Pastura Vol. 6 No. 2 Tahun 2017
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.617 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2017.v06.i02.p11

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui produksi dan karakteristik kacang pinto (Arachis pintoi) yang diberi pupuk kandang sapi dan mikoriza serta kombinasinya dilakukan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola factorial dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang sapi (tanpa,10 ton/ha, 20 ton/ha dan 30 ton/ha). Faktor kedua adalah dosis mikoriza yaitu (tanpa, 10 g/pot, 20 g/pot dan 30 g/pot), dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengaruh nyata (P<0,05) interaksi antara pupuk kandang sapi dan mikoriza pada peubah kolonisasi akar. Perlakuan pupuk kandang sapi berpengaruh nyata (P<0,05) pada peubah berat kering batang, berat kering daun, berat kering akar, berat kering tajuk, dan jumlah bintil akar. Perlakuan mikoriza berpengaruh nyata (P<0,05) pada peubah kolonisasi akar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi antara perlakuan pupuk hayati mikoriza dengan pupuk kandang sapi berpengaruh pada peubah kolonisasi akar, perlakuan pupuk kandang sapi dosis 20 ton/ha meningkatkan berat kering daun, batang, tajuk, akar dan jumlah bintil akar sama dengan dosis 30 ton/ha, dan perlakuan pupuk hayati mikoriza dosis 20 g/pot menghasilkan kolonisasi akar paling tinggi. Kata kunci: Pupuk kandang sapi, mikoriza, kacang pinto (Arachis pintoi)
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK BACILLUS SUBTILIS STRAIN BR2CL DAN BACILLUS SP. STRAIN BT3CL MELALU AIR MINUM TERHADAP ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG TEPUNG KULIT KECAMBAH KACANG HIJAU Bongi F.; N.W. Siti; D.P.M.A Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 9 No 2 (2021): Vol. 9 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik campuran Bacillus sp. strain BT3CL dan Bacillus subtilis strain BR2CL melalui air minum terhadap organoleptik itik bali yang diberi ransum mengandung tepung kulit kecambah kacang hijau. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu A (itik tanpa diberi probiotik melalui air minum); B (itik yang diberi probiotik campuran Bacillus sp. strain BT3CL dan Bacillus subtilis strain BR2CL melalui air minum sebanyak 2,5 ml ); C (itik yang diberi probiotik campuran Bacillus subtilis strain BR2CL dan Bacillus subtilis strain BR2CL melalui air minum sebanyak 5 ml). Variabel yang diamati meliputi warna, aroma, citarasa, tekstur, dan penerimaan keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik campuran Bacillus sp. strain BT3CL dan Bacillus subtilis strain BR2CL tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap organoleptik daging itik bali. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian probiotik campuran Bacillus subtilis strain BR2CL dan Bacillus sp. strain BT3CL melalui air minum pada perlakuan 5 ml/ekor/hari, tidak berpengaruh terhadap mutu organoleptik daging itik bali betina. Kata kunci: organoleptik, probiotik, daging itik.
PENGARUH RANSUM YANG MENGANDUNG AMPAS TAHU DIFERMENTASI DENGAN KHAMIR Saccharomyces sp.TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER UMUR 6 MINGGU Sari N.M.L.P; I G.N.G Bidura; N W. Siti
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.365 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ransum yang mengandung ampas tahu yang difermentasi dengan Saccharomyces sp. sebagai sumber probiotik terhadap komposisi fisik karkas broiler umur 6 minggu.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan enam kali ulangan. Ketiga perlakuan tersebut adalah : ayam yang diberi ransum tanpa ampas tahu terfermentasi oleh khamir Saccharomyces sp. kontrol (A), ayam yang diberi ransum dengan penambahan 5% ampas tahu yang difermentasi oleh khamir Saccharomyces sp.(B) dan Ayam yang diberi ransum dengan penambahan 10% ampas tahu difermentasi oleh khamir Saccharomyces sp. (C). Variabel yang diamati adalah persentase daging karkas, persentase tulang karkas, persentase lemak subkutan termasuk kulit, dan konsumsi lisin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung ampas tahu difermentasi dengan khamir Saccrharomyces sp. sebagai sumber probiotik di level 5% - 10% dalam ransum nyata (P<0,05) dapat meningkatkan daging karkas dan konsumsi lisin bandingkan dengan kontrol (A). Persentase tulang  menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan kontrol (A), persentase lemak subkutan termasuk kulit menunjukan hasil berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi di bandingkan kontrol (A), dan penggunaan ampas tahu difermentasi khamir Saccharomyces sp.pada level 5%-10% dalam ransum dapat meningkatkan konsumsi asam amino lisin. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberian ransum yang mengandung ampas tahu difermentasi dengan kultur Saccharomyces sp. pada level 5% - 10% dapat meningkatkan persentase daging karkas, konsumsi lisin dan menurunkan persentase lemak subkutan termasuk kulit, namun belum berpengaruh terhadap persentase tulang karkas ayam broiler umur 6 minggu.
PENGARUH ADITIF JUS DAUN PEPAYA YANG DIFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP OFFAL EKSTERNAL AYAM KAMPUNG Hariyuda I G.P.A.; Siti N W.; Ardika I N.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 3 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.224 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berat offal eksternal ayam kampung yang diberi ransum mengandung jus daun pepaya yang difermentasi. Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 80 ekor ayam kampung unsexing umur empat  minggu dengan berat badan awal 104,99±34,70 g. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat kelompok sebagai ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Keempat perlakuan tersebut adalah: A = 70% ransum komersial + 30% dedak jagung sebagai kontrol, B = ransum A + 8% jus daun pepaya yang difermentasi, C = ransum A + 12% jus daun pepaya yang difermentasi, dan D = ransum A + 16% jus daun pepaya yang difermentasi. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah berat kepala, bulu, darah dan kaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat kepala, bulu dan darah cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya level jus daun pepaya yang difermentasi namun secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05). Berat kaki pada perlakuan D nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan kontrol. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian 16% dari jus daun pepaya yang difermentsi dapat meningkat berat kaki ayam kampung.
PENGARUH BIOSUPLEMEN ISI RUMEN SAPI BALI PADA RANSUM TERHADAP BERAT DAN KOMPOSISI FISIK KARKAS ITIK BALI JANTAN SUHENDRA I P. N. D.; G. A. M. KRISTINA DEWI; N W. SITI
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 2 (2015): E-Journal Peternakan Tropika Vol 3 No 2
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.682 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh biosuplemen isi rumen sapi bali terhadap berat dan kompisisi fisik karkas itik bali jantan yang diberi ransum non konvensional. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan, dimana pada setiap ulangan digunakan 5 ekor itik yang mempunyai berat badan awal 152,00-152,87g, sehingga jumlah itik yang digunakan adalah 75 ekor. Kelima perlakuan tersebut adalah perlakuan RSP0 (100% ransum basal tanpa biosuplemen mengandung isi rumen sapi bali sebagai kontrol), RSP20 (95% ransum basal dengan 5% biosuplemen mengandung isi rumen sapi bali 20%), RSP40 (95% ransum basal dengan 5% biosuplemen mengandung isi rumen sapi bali 40%), RSP60 (95% ransum basal dengan 5% biosuplemen menganung isi rumen sapi bali 60%), dan RSP80 (95% ransum basal dengan 5% biosuplemen mengandung isi rumen sapi bali 80%). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah berat potong, berat karkas, persentase karkas, berat daging karkas, berat tulang karkas, dan berat kulit termasuk lemak karkas. Hasil penelitian menunjukan berat potong, berat daging karkas, dan berat kulit termasuk lemak karkas pada kelima perlakuan berbeda tidak nyata (P>0,05). Berat karkas perlakuan RSP20 dan RSP40 nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada perlakuan RSP0. Perlakuan RSP60 berbeda tidak nyata (P>0,05) lebih tinggi daripada perlakuan RSP0 dan Perlakuan RSP80 nyata lebih rendah (P<0,05) daripada perlakuan RSP0. Persentase karkas perlakuan RSP20, RSP40, dan RSP60 berbeda tidak nyata (P>0,05) lebih tinggi daripada perlakuan RSP0 dan perlakuan RSP80 berbeda tidak nyata (P>0,05) lebih rendah dari pada perlakuan RSP0. Berat tulang karkas perlakuan RSP20, RSP40, dan RSP60 nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada perlakuan RSP0 dan perlakuan RSP80 berbeda tidak nyata (P>0,05) lebih tinggi daripada perlakuan RSP0. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ransum non konvensional disuplementasi dengan  5% biosuplemen isi rumen sapi bali 20% (RSP20) dan 40% (RSP40) dapat meningkatkan berat dan komposisi fisik karkas itik bali jantan umur 8 minggu.
BERAT POTONG DAN BAGIAN OFFAL EXTERNAL ITIK BALI JANTAN YANG DIBERI PAKAN KOMERSIAL DISUBSTITUSI POLLAR DAN ADITIF ”DUCK MIX” Agus Putu Wiradhana; Ni Wayan Siti; I Nyoman Tirta Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Volume 1 No. 1 Tahun 2013
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.195 KB) | DOI: 10.24843/EJPT.2013.v01.i01.p02

Abstract

This study to determine the effect of substitution and addition pollard duck mix in the commercial ration, the weight cut and the external offal of ducks Bali age of ten weeks. Ducks fed 100% commercial as treatment A (control), ducks fed commercial pollard 85% + 15% + 0.3% duck mix as treatment B, ducks fed a commercial 70% + 30% + pollard "Duck Mix "0.3% as treatment C, and the ducks are fed a commercial 55% + 45% + pollard" Duck Mix '0.3% as treatment D. The results weight cut duck who gives 100% commercial ration as control 1558.60 tail, whereas treatment B, C, D has a 2.09% cut weight, 5.09%, 5.08% was not significant (P> 0, 05) lower than the control. Heavy duck head on the perpetrator A 5.30%, while B 5.28% C 2.45% D 2.45%, 1.70% D unreal, lower than the control. Heavy neck duck on treatment A 8,, 09% while B 4.57%, C 10.26%, 0.37% D unreal, higher than the control. Heavy duck leg on treatment A 2.49%, 6.83%, while B, C 10.04% D 12.45% is not real, lower than the control. Treatment duck feather weight at a 6.71%, while 6.71% B, while B 0.60%, 7.30% and D is not significantly higher and 1.04% C handles not significant lower than the control. Based on the results of the study concluded that administration pollard 15%, 30% and 45% as a substitute as feed additives commercial with "Duck Mix" produce weight cut and the external offal Bali male ducks were not different from control. Key words : Weight Cut, Ducks, Offal External, Pollard, Ration
POTONGAN KARKAS KOMERSIAL ITIK BALI BETINA UMUR 26 MINGGU YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG TEPUNG DAUN PEPAYA FERMENTASI Astika I P. E.; N. W. Siti; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 2 (2018): May - August 2018
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to assess the weight of commercial carcass pieces female bali ducks aged 26 weeks were given feed containing fermented papaya leaf meal, which was held in cages owned by Mr. I Ketut Sunatra located at roadway Bingin Nambe, Kediri, Tabanan, for 14 weeks. The experiment designd used was Completely Randomized Design (CRD) with three treatments, namely treatments P0 (Ration without fermented papaya leaf meal as controls), P1 (Ration contain of 8% fermented papaya leaf meal), and P2 (Ration contain of 16% fermented papaya leaf meal), treatment consists of three replications and each replication using two female bali ducks aged 12 weeks with an average initial weight range of 1286.23 ± 92.88 g. The variables observed were weight and percentage commercial carcasspieces of chest, thigh, drumstick, wings and backs. The results showed that the use of ration containing 8% and 16% fermented papaya leaf meal is statistically not significant (P>0.05) on commercial carcass pieces. The weight of commercial carcass pieceswere increased ondrumstick, wings and backs on the treatment P1, but statistically not significant different (P>0.05). Based on the results of this research, it can be concluded that administration of fermented papaya leaf meal at level of 8% and 16% had no effect on commercial carcass of female bali ducks. Keywords: fermented papaya leaf, femalebali ducks, commercial carcass.
PENGARUH PENGGANTIAN RANSUM KOMERSIAL DENGAN TEPUNG LIMBAH KECAMBAH KACANG HIJAU DIFERMENTASI TERHADAP PENAMPILAN ITIK BALI Witarja N. M. L. E.; N W. Siti; A. A. P. P. Wibawa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 8 No 2 (2020): Vol. 8 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPT.2020.v08.i02.p02

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi terhadap penampilan itik bali jantan umur 0-8 minggu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, tiap perlakuan menggunakan lima ulangan dan setiap ulangan menggunakan tiga ekor itik bali jantan dengan berat badan itik 43,8 ± 0,96 g. Perlakuan yang diberikan yaitu; P0 (ransum komersial 100%), P1 (penggantian 12,5% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi) dan P2 (penggantian 25% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah berat badan awal, konsumsi ransum, konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan dan Feed Convertion Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian 12,5% dan 25% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan dan FCR. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan penggantian sampai 25% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi tidak menurunkan penampilan itik bali jantan. Kata kunci : Itik bali, limbah,kacang hijau, ransum komersial, fermentasi
KANDUNGAN NUTRIEN RANSUM SAPI BALI BERBASIS LIMBAH PERTANIAN YANG DIFERMENTASI DENGAN INOKULAN DARI CAIRAN RUMEN DAN RAYAP (Termites sp) KRISTIANTI N.W.D.; I M. MUDITA; N. W. SITI
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 3 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan teknologi fermentasi ransum dengan inokulan dari cairan rumen dan rayap (Termites sp) terhadap kandungan nutrien ransum sapi bali berbasis limbah pertanian dan untuk mengetahui formula inokulan yang mampu menghasilkan ransum dengan kandungan nutrien yang lebih baik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan,. Perlakuan terdiri atas: ransum tanpa fermentasi (RB0), ransum terfermentasi inokulan mengandung 10% cairan rumen dan 0,3% rayap (RBR1T3), ransum terfermentasi inokulan mengandung 20% cairan rumen dan 0,2% rayap (RBR2T2), ransum terfermentasi inokulan mengandung 20% cairan rumen dan 0,3% rayap (RBR2T3). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), abu, bahan organik (BO), protein kasar (PK), dan serat kasar (SK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan RBR2T2 dan RBR2T3 nyata (P<0,05) memiliki kandungan bahan kering yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan RB0 tetapi berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan RBR1T3. Perlakuan RBR2T3 mempunyai kandungan serat kasar yang nyata (P<0,05) lebih rendah 32,94%, 11,68%, dan 7,94% dari perlakuan RB0, RBR1T3, dan RBR2T2. Perlakuan RBR2T3 nyata (P<0,05) memiliki kandungan protein kasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan RB0 dan RBR1T3, namun berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan perlakuan RBR2T2. Sedangkan terhadap kadar abu dan kadar bahan organik pada ransum, semua perlakuan mempunyai nilai yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fermentasi ransum sapi bali berbasis limbah pertanian menggunakan inokulan dari cairan rumen dan rayap dapat menurunkan kandungan serat kasar serta meningkatkan kandungan protein kasar tetapi tidak mempengaruhi kandungan abu dan bahan organik serta fermentasi ransum dengan inokulan 20% cairan rumen dan 0,3% rayap (RBR2T3) mampu menghasilkan ransum dengan kandungan bahan kering dan serat kasar yang lebih rendah dan kandungan protein kasar lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang lain.
Co-Authors A. A. A. Adinda Savitrie Suamba A. Rastosari A. T. Umiarti A. W. Puger Adnyana I M. P. Agus Putu Wiradhana Anak Agung Putu Putra Wibawa ANGGA D. P., G. B., ANTARI L. Y. S. Apriyanti L. A. S. Ardina Ratna Pramesti Astika I P. E. B. R. T. Putri Basudewa I G. B. Bongi F. Brahmana E. Budi Rahayu Tanama Putri Budiyatmika K. B. Bulkaini (Bulkaini) D. A. WARMADEWI Damanik M. R. DESAK PUTU MAS ARI CANDRAWATI Dewa Putu Indra Pranata Dewi N. M. A. W. Dewi N.K.S Ermawan I G. R. Gunawijaya, Gusti Putu Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi Gusti Putu Gunawijaya Hafifah, Ifa Hariyuda I G.P.A. I D. G. A. Udayana I G. Lanang Oka Cakra I G.P.R. Adi I Gede Suarta I Gusti Nyoman Gde Bidura I Komang Budaarsa I M. Mudita I Made Abra Rahastra I Made Adhika I Made Nuriyasa I N. Ardika I N. Suparta I N. T. ARIANA I NYOMAN ARDIKA I Nyoman Sumerta Miwada I NYOMAN SUTARPA SUTAMA I P. A. Astawa I Putu Andhika Putra Setiawan I. A. P. Utami I. G. M. A. Sucipta I. G. M. Rusdianta I. M. Londra I.B. Sudana I.G.A.N.C. Wiguna I.M. Wirawan I.M.J. Hermawan I.P.R.Y. Pradana I.W.P.Widnyana Ida Bagus Gaga Partama Ismia N. F. J. Hellyward Juniartha I P. Jurnal Pepadu Jusnadiartha I W. K. A. Wiyana K.T.D. Deliana Karisma E. D. KRISTIANTI N.W.D. Laksamana K. Y. P. M Ashari Made Ananta Wirya Mahardika C.B.D.P. Manuaba I B.C. Mario A D. D. Mastur - Milasari K. N Puja N. M. A. K. Dewi N.G.K. Roni N.L.G. Sumardani N.L.G. Sumardani N.M.S. Sukmawati N.N.C. Kusumawati N.W. Suniti N.W.E. Setyawati Nainggolan J. R. Nata I G. A. P. S. Ni Gusti Ketut Roni Ni Luh Ayu Kornita Pratiwi Ni Luh Gede Astariyani Ni Luh Gede Sumardani Ni Luh Putu Sriyani Ni Made Paramita Setyani Ni Made Suci Sukmawati Ni Made Witariadi Ni Nengah Soniari Ni Nyoman Candraasih Kusumawati NI WAYAN SUNITI Ni Wayan Tatik Inggriati Nugroho E. P.E.N. Putri Pangestu A. T. Pradana I G. G. Y. Prasetia D. M. R. Pratama I W. A. Priana I M. O. Purnayasa I K. Putri A. Rusmawan I K. A. Santi N. K. D. D. Sari N.M.L.P Setiawan I P. D. W. Setyawan I P. H. Somadiarsa I K. SONGKAM A. M. N Sri Anggreni Lindawati Suardita I K.G Suarjana I P. Sucahya D.G.I SUHENDRA I P. N. D. Suprianto I K. E. Suranjaya I .Gd Susila I M. D. A. Suwardisayoga I M. D. Tina Handayani Nasution Vicky A. R. Wayan Sayang Yupardhi Wedaswara M. Y. P. Wenata S. WIRA SUSANA I W. Witarja N. M. L. E. Wiyardana I P. G.