DESAK PUTU MAS ARI CANDRAWATI
Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar

Published : 45 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK BAKTERI SELULOLITIK B-6 MELALUI AIR MINUM TERHADAP KADAR PROTEIN, LEMAK, KOLESTEROL DAN WARNA KUNING TELUR AYAM LOHMANN BROWN UMUR 40-48 MINGGU Dananjaya I. B. P. O.; I G. N. G. Bidura; D. P. M. A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 2 (2018): May - August 2018
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to study the effect of supplemented cellulolytic bacteria B-6 as a probiotic sourches in drinking water on the protein, fat, cholesterol and egg yolk color contents in egg of Lohmann Brown laying hens aged 40-48 week. The research was conducted in Dajan Peken Village, Tabanan, Bali, for three months. The design used in this study was Completely Randomized Design with three treatments and six replications. The treatments were: drinking water without probiotic addition of B-6 Cellulolytic bacteria as control (A), drinking water with probiotics of B-6 Cellulolytic bacteria as much as 0,2% (B), and drinking water with probiotic of B-6 Cellulolytic bacteria with 0,4% (C). The variables observed in this study were egg yolk protein, fat, cholesterol and egg yolk color. The results showed that the egg yolk protein and egg yolk color at treatment of B and C were significantly higher (P<0,05) than those of A treatment, while egg yolk fat and egg yolk cholesterol at treatment of B and C were significantly lower (P<0,05) than those of A treatment. It can be concluded that the supplemented of 0,2% and 0,4% cellulolytics bacteria B-6 as a probiotic sourches in drinking water improvement yolk color and protein content of egg, but decreasing fat and cholesterol content in egg of Lohmann Brown laying hens. Key Words : Cellulolytic Bacteria B-6, Lohmann Brown, Egg yolk
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR DAUN KATUK (Sauropus androgynus) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam) PADA AIR MINUM TERHADAP BERAT POTONG DAN BERAT KARKAS AYAM PEDAGING Kurniawan I K. A.; I G. N. G. Bidura; D. P. M. A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose this study was to assess the provision of 5% water extract of leaves katuk (Sauropus androgynus) and the water extract of leaves of Moringa (Moringa aloivera Lam) in drinking water can increase the weight of beef and broiler chicken carcasses. The design used in this study is completely randomized design (CRD) with three treatments and six replications. These three treatments are chickens given drinking water without the water extract of leaves of Moringa or katuk as control (A), chicken by water extract of leaves katuk 5% through drinking water (B), Chicken by water extract of leaves of Moringa 5% through drinking water (C). The variables measured were: slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, the consumption of protein and lysine consumption. The results showed that pieces of broilers fed extracts of leaves katuk 5% water through drinking water (B) and broilers were given a water extract of leaves of Moringa 5% through drinking water (C), respectively 17,47% and 17,20% were significantly different (P<0.05) higher than the untreated A. chicken carcass weight of broilers were treated (B) and broilers are treated (C), respectively 25,62% and 25,16% were significantly different (P<0.05) than chickens treated A. Percentage of broiler carcasses were treated B and broilers are treated C, respectively 6,95% and 6,79% were significantly different (P<0.05) higher compared to treatment A. protein consumption of broilers were treated B and broilers are treated C, respectively 2,03% and 1,80% were significantly different (P<0.05) higher compared to the treatment of A. and the consumption of lysine broilers were treated B and broilers are treated C, respectively 1,87% and 1,77% were significantly different (P<0.05) higher in comparison with treatment A. Based this study it can be concluded that the provision of 5% of katuk leaves (Sauropus androgynus) and/or Moringa leaves (Moringa aloivera Lam) water extract in drinking water can increase the slaughter weight and carcasses of broiler.
KECERNAAN DAN NILAI NUTRISI DEDAK PADI YANG DIFERMENTASI DENGAN Saccharomyces sp ISOLAT DARI RAGI TAPE Santi N.P.A.A; Bidura IG.N.G; Candrawati D.P.M.A
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.924 KB)

Abstract

Tinggi kandungan serat kasar pada dedak padi berpengaruh pada efiesiensi penggunaan ransum, oleh karena itu pemberian dedak padi pada ransum harus dibatasi. Keterbatasan penggunan dedak padi disebabkan karena tingginya kandungan serat kasar, yang berdampak pada menurunnya kecernaannya.Oleh karena itu ransum yang menggunakan komponen  dedak padi yang cukup tinggi (20-30%) perlu dilakukan rekayasa bioteknologi fermentasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan khamir Saccharomyces spyang diisolasi dari tape sebagai inokulan fermentasi dedak padiuntukmeningkatkannilai nutrisi dan nilai cerna dedak padi. Rancangan yang diamati adalah rancangan Acak Lengkap  (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Ketiga perlakuan tersebut adalah dedak padi tanpa fermentasi (A),dedak padi terfermentasi dengan 0,20% kultur khamir Saccharomyces sp (B),dedak padi terfermentasi dengan 0,40%dan kultur khamir Saccharomyces sp (C). Variabel yang diamati adalah kandungan nutrient yang diamati adalah  bahan kering, bahan organik, protein kasar,dan serat kasar,koefisien cerna yang diamati adalah koefisien cerna bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan serat kasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan kering dan bahan organik dedak padi perlakuan B dan C tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan kontrol (A). Namun kandungan protein kasar dan serat kasar meningkat nyata (P<0,05) dibandingkan di kontrol. Fermentasidedak padi perlakuan B dan C nyata (P<0,05) dapat meningkatkan koefisien cerna bahan kering bahan organik, protein kasar dan serat kasar dedak padi dibandingkan di kontrol (A). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fermentasi dedak padi yang menggunakan kulturkhamir Saccharomyces spyang diisolasi dari ragi tape dapat meningkatkan kandungan protein kasar kasar dan serat kasar serta koefisien cerna bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan koefisien cernaseratkasar dedak padi.
PERFORMANS BURUNG PUYUH UMUR 0 - 4 MINGGU YANG DIBERIKAN LARUTAN KUNYIT (Curcuma domestica Val.) PADA AIR MINUM Padmini N. M. T; G. A. M. K. Dewi; D. P. M. A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 9 No 3 (2021): Vol. 9 No. 3 Tahun 2021
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans burung puyuh umur 0-4 minggu yang diberi larutan kunyit (Curcuma domestica Val.) pada air minum. yang berlangsung selama 4 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan larutan kunyit pada air minum terdiri dari A: tanpa larutan kunyit, B:1% larutan kunyit, dan C: 2% larutan kunyit. Kunyit yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kunyit. Variabel yang diamati meliputi Berat badan awal, berat badan akhir, konsumsi ransum, konsumsi air minum, dan Feed conversion ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 1 - 2 % larutan kunyit (B dan C) pada air minum mampu meningkatkan konsumsi ransum sebesar 6,35% - 16,78% dibandingkan dengan perlakuan A (tanpa larutan kunyit), namun perlakuan tanpa larutan kunyit, 1% dan 2 % (A, B, C) belum mampu meningkatkan konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan menurunkan nilai feed conversion ratio (FCR). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa burung puyuh yang diberikan larutan kunyit (Curcuma domestica Val) sebanyak 1% (B) dan 2% (C) melalui air minum dapat meningkatkan konsumsi ransum, dan belum mampu meningkatkan konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan menurunkan nilai feed conversion ratio (FCR). Kata kunci: burung puyuh, larutan kunyit, performans
KUANTITAS DAN KUALITAS SEMEN SEGAR SAPI BALI DI UPT BIBD BATURITI Witarja N. M. L. E.; I N. Ardika; D. P. M. A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 8 No 1 (2020): Issue 8 No. 1 (2020)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini dilakukan di Balai Inseminasi Buatan Daerah Baturiti. Tujuan studi ini untuk mengetahui kualitas semen segar dan produksi semen beku sapi Balidi UPT BIBD Baturiti. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan produksi semen yang terdiri dari kualitas semen segar dan jumlah straw semen beku dari 9 ekor sapi Bali. Metode yang digunakan adalah teknis survey, wawancara, dan on the job training, dan diperoleh melalui catatan hasil penampungan semen segar pada bangsa sapi bali selama bulan Oktober 2019 di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Baturiti.Variabel yang diamati meliputi volume semen, warna, persentase motilitas individu, konsentrasi spermatozoa, dan jumlah produksi semen beku. Hasil PKM menunjukkan bahwa rataan kualitas semen segar sapi bali di UPT BIBD Baturiti pada bulan Oktober 2019 yang terdiri atas volume semen yaitu 6,01 ml, warna yaitu krem, persentase motilitas individu yaitu 70%, dan konsentrasi spermatozoa yaitu 1.072 juta/ml. Simpulan dari PKM ini bahwa secara umum kualitas dan kuantitas semen segar sapi bali di UPT BIBD Baturiti meliputi volume semen, warna, persentase motilitas individu, konsentrasi spermatozoa sesuai dengan standar. Kata kunci: karakteristik semen, spermatozoa, semen segar, sapi bali pejantan Kata kunci: semen beku, motilitas, konsentrasi, volume semen, sapi bali
PEMBERIAN PROBIOTIK BAKTERI SELULOLITIK B-6 MELALUI AIR MINUM TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM LOHMANN BROWN UMUR 40-48 MINGGU Wedana I G. R.; I G. N. G. Bidura; D. P. M. A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 2 (2018): May - August 2018
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to study the effect of B-6 cellulolytic bacteria probiotic through drinking water on the 40-48 week old Lohmann Brown hen egg production 40-48 weeks old. The research was conducted in Dajan Peken Village, Tabanan, Bali, for three months starting from preparation until report writing. The design used in this study was Completely Randomized Design (RAL) with three treatments and six replications. The treatments were: drinking water without probiotic addition of B-6 cellulolytic bacteria as control (P0), drinking water with probiotics of B-6 cellulolytic bacteria as much as 0.2% (P1), and drinking water with B- 6 probiotic of cellulolytic bacteria with 0.4% (P2). The variables observed in this study were ration consumption, drinking water consumption, egg number, total egg weight, average egg weight and Feed Conversion Ratio (FCR). The results showed that the consumption of rations, drinking water, total eggs, total egg weight and average egg weight at treatment of P1 and P2 were significantly higher (P <0.05) compared with P0 treatment while the FCR has decrease. Based on the results, it can be concluded that the provision of B-6 cellulolytic bacteria as a source of probiotics through drinking water at the level of 0.2% and 0.4% can increase the 40-48 week old Lohmann Brown hen egg production and decrease FCR. Keywords: Probiotics of B-6 Cellulolytic Bacteria, Consumption, Lohmann Brown hen, Egg Production
PERSENTASE DAGING DADA DAN PAHA BROILER YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG AMPAS TAHU TERFERMENTASI DENGAN KHAMIR Saccharomyces sp. SEBAGAI INOKULAN PROBIOTIK Pravita N.P.W.N; I G.N.G. Bidura; D.P.M.A Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji persentase daging dada dan paha broiler yang diberi ampas tahu terfermentasi dengan khamir Saccharomyces sp. sebagai inokulan probiotik.  Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan  dan enam ulangan. Variabel yang diamati adalah berat karkas, komposisi fisik bagian dada, dan komposisi fisik bagian paha atas. Ketiga perlakuan yaitu ayam yang diberi ransum tanpa ampas tahu terfermentasi kultur Saccharomyces sp. sebagai kontrol (A), ayam yang diberi ransum 5% ampas tahu terfermentasi kultur Saccharomyces sp. (B), dan ayam yang diberi ransum 10% ampas tahu terfermentasi kultur Saccharomyces sp. (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ampas tahu terfermentasi kultur Saccharomyces sp. pada level 5% (B) dan 10% (C) pada persentase dada dan daging dada ayam broiler memberikan hasil yang nyata lebih tinggi (P<0,05) dari pada ayam yang mendapat perlakuan ransum tanpa ampas tahu (perlakuan A), tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase tulang dada, lemak subkutan termasuk kulit dada, paha atas, daging paha atas, tulang paha atas dan lemak subkutan termasuk kulit paha atas dibandingkan dengan kontrol (A). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ampas tahu tefermentasi kultur Saccharomyces sp. pada level 5%-10% dalam ransum dapat meningkatkan persentase daging pada recahan dada dan persentase daging dada karkas ayam broiler.
PENGARUH PEMBERIAN SABUN KALSIUM DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMANS ITIK BALI JANTAN Suamba A.A.A.A.S.; I G.N.G Bidura; D.P.M.A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 10 No 2 (2022): Vol. 10 No. 2 Tahun 2022
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sabun kalsium dalam ransum terhadap performans itik bali jantan. Penelitian dilaksanakan selama 42 hari di Jalan Tegal Wangi II Gang Kavling No. 9 Sesetan, Denpasar, Bali. Rancangan yang digunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 6 ulangan. Tiap petak percobaan diisi dengan 4 ekor itik bali jantan berumur 14 hari dengan berat badan rata-rata 178 g ± 20,8. Keempat perlakuan tersebut adalah itik bali jantan yang diberi ransum tanpa sabun kalsium sebagai kontrol (A), ransum dengan pemberian 1% sabun kalsium (B), ransum dengan pemberian 2% sabun kalsium (C), dan ransum dengan pemberian 3% (D). Variabel yang diamati yaitu berat badan awal, konsumsi ransum, berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan Feed Convertion Ratio (FCR). Konsumsi ransum itik bali jantan yang mendapat perlakuan B, C, dan D secara statistik nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan A. Berat badan akhir dan pertambahan berat badan secara statistik nyata (P<0,05) lebih tinggi dari perlakuan A. Feed Convertion Ratio perlakuan B, C, dan D secara statistik nyata (P<0,05) lebih rendah dari perlakuan A. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian sabun kalsium pada itik bali jantam umur 2 – 8 minggu dapat menurunkan konsumsi ransum, meningkatkan bobot badan akhir dan pertambahan berat badan serta Feed Convertion Ratio semakin efisien. Kata Kunci: Itik Bali Jantan, Performans, Sabun kalsium
PENGARUH PEMBERIAN MINYAK KALSIUM DALAM RANSUM KOMERSIAL TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS AYAM BROILER Anggraeni P. A. D.; D. P. M. A. Candrawati; I G. N. G. Bidura
Jurnal Peternakan Tropika Vol 8 No 1 (2020): Issue 8 No. 1 (2020)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to determine the effect of calcium oil administration in commercial rations on the composition of broiler chicken carcasses. This research was carried out for 35 days at the Farm Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Bukit Jimbaran. The design used completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 6 replications. Each plot was filled with 5 7 day-old broiler chickens with homogeneous body weight. The four treatments are chickens fed commercial rations without calcium oil as a control (A), by giving 1% of calcium oil in commercial rations (B), administering 2% of calcium oil in commercial rations (C), and administering 3% of calcium oil in commercial ration (D). The variables observed were carcass weight (g / tail), carcass meat percentage (%), carcass bone percentage (%), and percentage of subcutaneous fat (%). The results showed that carcass weight and bone percentage in chickens that received 1%, 2% and 3% calcium oil were not significantly different (P> 0.05) compared to chickens that did not get calcium oil (control). The percentage of chicken meat treated with calcium oil was significantly higher (P <0.05) compared to control, while the percentage of subcutaneous fat significantly decreased with the addition of calcium oil compared to control. From the results of the study it can be concluded that administration of calcium oil by 1-3% in commercial rations can increase the percentage of meat and reduce the content of subcutaneous fat in broiler chickens. Keywords: calcium oil, broiler meat, subcutaneous fat
KARKAS KELINCI LOKAL (Lepus negricollis) YANG DIBERI RANSUMDENGAN IMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN BERBEDAYANG DIPELIHARA PADA KANDANG UNDERGROUND SHELTER Adhitya R.P; Nuriyasa IM.; Candrawati D.P.M.A
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.974 KB)

Abstract

Penelitian ini telah dilakukan selama 12 minggu, bertujuan untuk mengetahui karkas kelinci yang diberi ransum dengan imbangan energi dan protein dan berbeda. Kelinci yang digunakan adalah kelinci jantan lokal umur 5 minggu sebanyak 20 ekor dengan berat 189,25 ± 1,54 g. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan, tiap perlakuan diulang lima kali dan tiap unit menggunakan satu ekor kelinci. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu imbangan energi protein (R) yang terdiri dari ransum dengan imbangan energi protein 156,88 (R1), imbangan energi protein 154,97 (R2), imbangan energi protein 153,05 (R3) dan imbangan energi protein 151,44 (R4).Variabel yang diamati adalah variabel berat potong, berat karkas, presentase karkas, berat recahan karkas, serta komposisi fisik karkas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ransum R3 menyebabkan berat potong dan berat karkas lebih tinggi (P<0,05) daripada R1, R2 dan R4. Presentase karkas pada ransum R1 lebih rendah (P<0,05) daripada R2, R3 dan R4. Presentase recahan karkas berbeda tidak nyata (P>0,05) diantara perlakuan ransum dengan imbangan energi dan protein berbeda, sedangkan presentase daging yang diberi perlakuan ransum R3 lebih tinggi (P<0,05) daripada R1, R2, dan R4. Presentase tulang pada R3 lebih rendah (P<0,05) daripada R1, R2, dan R4. Presentase lemak pada perlakuan R1, R2, R3 dan R4 memberikan perbedaan tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa ransum dengan energi termetabolis 2603 kkal/kg dan CP 17% dengan imbangan energi protein 153,05 (R3) menghasilkan karkas yang lebih tinggi daripada perlakuan ransum dengan energi termetabolis 2801 kkal/kg dan CP 18,5% dengan imbangan energi protein 151,44 (R4), ransum dengan energi termetabolis 2402 kkal/kg dan CP 15,5% dengan imbangan energi protein 154,97 (R2), ransum dengan energi termetabolis 2201 dan CP 14% dengan imbangan energi protein 156,88 (R1).