Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Kemampuan Literasi Sains Siswa Kelas IV SD Melalui Model Pembelajaran Out Door Study dengan Children Learning In Science Hayani, Maulida; Fatmawati; Nazaruddin, Ilham
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/fgt3rr91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kemampuan literasi sains siswa kelas IV sekolah dasar melalui penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS). Penelitian dilakukan di SD Swasta PAB 29 Manunggal dengan sampel 25 siswa kelompok Outdoor Study (kelompok A) dan 29 siswa kelompok CLIS (kelompok B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata posttest kelompok Outdoor Study adalah 83,33, sedangkan kelompok CLIS 75,51, dengan selisih sebesar 7,81 poin. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi guru IPA SD untuk mempertimbangkan penggunaan model Outdoor Study dalam meningkatkan literasi sains siswa. Literasi sains merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki siswa untuk memahami konsep sains serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada kenyataannya kemampuan literasi sains siswa sekolah dasar masih tergolong rendah, sehingga diperlukan model pembelajaran yang inovatif dan efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dengan bentuk nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV di salah satu sekolah dasar, yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran CLIS, sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan literasi sains yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan hasil antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan literasi sains siswa yang menggunakan model pembelajaran CLIS dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Siswa pada kelas eksperimen memiliki peningkatan kemampuan literasi sains yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran CLIS efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi sains siswa sekolah dasar. Model pembelajaran CLIS dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di sekolah dasar.
Penguatan Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter: Sosialisasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di Desa Mekar Sawit Yusrizal Yusrizal; Fatmawati Fatmawati; Agung Arjuna; Miftahul Jannah; Maulidina Hakmi; Anisa Ihwani
Kreasi: Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Juli
Publisher : BALE LITERASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kreasi.v6i2.4171

Abstract

Pembentukan karakter anak memerlukan keterlibatan aktif orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Desa Mekar Sawit masih menghadapi permasalahan berupa rendahnya pendampingan orang tua dalam membiasakan perilaku positif anak, terutama kedisiplinan waktu, kebiasaan belajar, pola hidup sehat, dan pengendalian penggunaan gawai. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat peran orang tua dalam pembentukan karakter anak melalui sosialisasi Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif yang melibatkan tim pengabdian, sekolah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, orang tua, dan anak. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi masalah, perencanaan program, sosialisasi, penyuluhan, simulasi pembiasaan, pendampingan, serta evaluasi dan monitoring melalui wawancara dan daftar ceklis kebiasaan harian. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan kesadaran orang tua terhadap perannya sebagai teladan dan pendamping utama dalam pembentukan karakter anak. Orang tua mulai menerapkan pembatasan penggunaan gawai, mengatur waktu tidur, serta membiasakan kegiatan belajar dan ibadah bersama anak. Anak juga menunjukkan perubahan positif berupa peningkatan kedisiplinan, semangat belajar, kepatuhan beribadah, pola hidup sehat, dan kepedulian sosial. Konsistensi dalam membiasakan bangun pagi dan tidur lebih awal masih menjadi tantangan bagi sebagian keluarga. Kegiatan sosialisasi ini mampu memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sehingga berkontribusi terhadap pembentukan karakter anak yang religius, disiplin, sehat, dan bertanggung jawab.
PENGARUH METODE BELAJAR BERSAMA ALAM TERHADAP KESADARAAN LINGKUNGAN DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRISTIS SISWA SD Fatmawati Fatmawati; Angie Trivana; Arief Amdani; Ira Ira; Yusrizal Yusrizal; Indah Syasmita
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 2 (2026): Vol. 6 No. 2 Edisi Mei 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i2.4734

Abstract

Keterampilan berpikir kritis dan kesadaran lingkungan adalah keterampilan krusial yang harus digunakan sejak awal untuk menghadapi meningkatnya kerusakan alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak metode pengajaran Bersama Alam terhadap kemampuan berpikir kritis dan kesadaran lingkungan siswa di SDN 026407 Binjai Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pustaka survei, dan penggunaan instrumen pre-test dan post-test. Pengujian homogenitas, dalam analisis data menggunakan perangkat lunak SPSS, uji normalitas dan uji hipotesis dilakukan menggunakan Uji T Sampel Independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data memiliki distribusi normal dan homogen. Tingkat signifikansi hipotesis adalah 0,047, yang sedikit kurang dari 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima, artinya terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil rata-rata pembelajaran tentang lingkungan dan kemampuan berpikir kritis siswa. Metode belajar bersama alam lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan mengasah logika berpikir siswa, serta menjadi alternatif pembelajaran yang efektif dalam mempersiapkan siswa menjadi generasi yang berwawasan terhadap lingkungan dan terampil dalam menyelesaikan masalah secara tepat.
PERAN GURU DALAM MENANAMKAN NILAI TANGGUNG JAWAB PADA SISWA DI SEKOLAH DASAR Suriati Dalimunte; Fatmawati Fatmawati; Tumiyem Tumiyem
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 2 (2026): Vol. 6 No. 2 Edisi Mei 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i2.4735

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam menanamkan nilai tanggung jawab pada siswa kelas VI SD Swasta PAB 25 Mabar Hilir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas guru kelas VI dan siswa kelas VI. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai tanggung jawab melalui lima aspek utama. Aspek tersebut meliputi mendorong kesadaran siswa untuk berpartisipasi aktif, membimbing siswa menyelesaikan tugas dan kewajiban, mengarahkan siswa menerima konsekuensi dari tindakan yang dilakukan, meningkatkan keaktifan dalam kegiatan pembelajaran, serta menjaga fokus dan konsistensi belajar siswa. Guru menanamkan nilai tanggung jawab melalui pemberian kesempatan bertanya, motivasi, penjelasan tugas yang jelas, pemantauan tugas, pemberian konsekuensi yang mendidik, pembagian peran dalam kelompok, serta penguatan positif. Meskipun demikian, masih ditemukan siswa yang pasif, kurang fokus, dan perlu diingatkan dalam menyelesaikan tugas. Dengan demikian, penanaman nilai tanggung jawab perlu dilakukan secara konsisten melalui pembiasaan, keteladanan, pengawasan, dan kerja sama antara guru, sekolah, serta orang tua.
Inovasi Pembelajaran Bahasa: Metode Storytelling Berbasis Media Visual untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Yusrizal Yusrizal; Fatmawati Fatmawati; Hadijah Nst; Tia Wulandari; M. Arif
AS-SABIQUN Vol 8 No 3 (2026): MEI
Publisher : Pendidikan Islam Anak Usia Dini STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36088/assabiqun.v8i3.6122

Abstract

Low speaking ability remains a problem that is often found among lower-grade elementary school students, so more engaging and participatory learning methods are needed to improve this skill. This study aims to analyze the impact of the illustrated storytelling method on students’ speaking skills. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design, involving 30 second-grade students of SD Swasta Al-Washliyah Km. 6 who were divided into two groups, namely 15 students in the experimental group taught using the illustrated storytelling method and 15 students in the control group taught using the lecture method. Data were collected through observation and speaking skills tests, and were then analyzed through tests of normality, homogeneity, and hypothesis testing using the independent sample t-test and paired sample t-test at a significance level of 0.05. The results showed that the storytelling method based on visual media had a significant effect on improving students’ speaking ability. This was indicated by the results of the independent sample t-test with a significance value of 0.035 (Sig. < 0.05) and the results of the paired sample t-test in the experimental class with a significance value of 0.011 (Sig. < 0.05), which indicate a significant improvement in students’ speaking ability before and after the implementation of the method. These findings show that the illustrated storytelling method can be an effective learning alternative for improving students’ speaking skills, particularly in Indonesian language learning in the lower grades of elementary school.
Malay Local Wisdom-Based Ethnopedagogy Integrated with the Seven Habits of Great Indonesian Children: Associations with Civic Character and Social Literacy among Elementary Students Yusrizal Yusrizal; Samsidar Tanjung; Yunus Abidin; Fatmawati Fatmawati; Fira Astika Wanhar
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 4 (2026): August
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i4.1958

Abstract

Culturally grounded instruction may strengthen civic character and social literacy by connecting learning with students’ cultural experiences. However, limited evidence has examined Deli Malay local wisdom integrated with the Seven Habits of Great Indonesian Children Movement (G7KAIH) compared with an active value-based approach. This study examined differences in civic character and social literacy between Ethnopedagogy-G7KAIH and Value Clarification Technique (VCT) conditions. A quantitative pretest-posttest control-group design with intact-class random assignment was conducted in two elementary schools in Medan, Indonesia. The sample included 73 fifth-grade students: 38 in the Ethnopedagogy-G7KAIH group and 35 in the VCT group. Data were collected using a civic character questionnaire and social literacy test and analyzed using MANCOVA with pretest scores as covariates. A significant multivariate difference was observed, Pillai’s Trace = .301, F(2, 68) = 14.658, p < .001, partial η² = .301. Adjusted mean differences favored Ethnopedagogy-G7KAIH by 15.94 points for civic character and 12.78 points for social literacy. Because students were nested within only two intact classes, the findings represent sample-specific differences between instructional conditions rather than definitive causal effects. Replication with multiple classes and schools is needed to establish broader effectiveness.
Peran Media Sosial Dalam Membentuk Karakter Siswa di SD Imtaq Generasi Mandiri Muhammad Raihan; Yusrizal; Fatmawati
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.1215

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran media sosial dalam membentuk karakter siswa di SD IT IMTAQ Generasi Mandiri. Perkembangan media sosial, khususnya YouTube dan TikTok, memberikan peluang bagi siswa untuk memperoleh berbagai informasi dan konten edukatif yang dapat memengaruhi perkembangan karakter. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Subjek penelitian terdiri atas guru, kepala sekolah, dan siswa kelas III SD IT IMTAQ Generasi Mandiri. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan, wawancara terstruktur, dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran dalam pembentukan karakter siswa, terutama melalui konten yang positif, edukatif, dan memberikan teladan perilaku baik. Konten yang memuat nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, toleransi, kemandirian, kepercayaan diri, dan sopan santun dapat mendorong siswa untuk meniru serta menerapkan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial juga dapat menginspirasi siswa untuk melakukan tindakan sosial dan membantu sesama. Namun, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol juga berpotensi memberikan dampak negatif, seperti ketergantungan, kurangnya fokus, dan pengaruh terhadap perkembangan emosional serta moral siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa media sosial berperan dalam membentuk karakter siswa, baik melalui penyebaran konten positif dan edukatif, pemberian teladan perilaku baik, maupun dorongan untuk melakukan tindakan sosial dan amal. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan, bimbingan, dan pendampingan yang berkelanjutan dari guru, orang tua, dan sekolah agar penggunaan media sosial dapat diarahkan pada konten yang bermanfaat serta mampu mendukung pembentukan karakter siswa secara optimal.
Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis IPAS terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar Dina Syalbillah Nst; Fatmawati; Syahrina Anisa Pulungan
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.1222

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran abad ke-21 yang perlu dikembangkan sejak sekolah dasar. Namun, pembelajaran IPAS masih sering menggunakan bahan ajar yang belum sepenuhnya memfasilitasi aktivitas pengamatan, analisis, dan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis IPAS pada materi perubahan wujud benda serta mengetahui tingkat kelayakan, kepraktisan, dan keefektifannya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas III sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D yang terdiri atas tahap define, design, develop, dan disseminate. Subjek penelitian adalah 21 siswa kelas III SDN 056012 Suka Jadi. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar validasi ahli, angket respons siswa, serta tes pretest-posttest. Data dianalisis melalui persentase kelayakan, kepraktisan, dan uji peningkatan menggunakan N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD yang dikembangkan memperoleh validasi ahli materi sebesar 96,9% dengan kategori sangat layak, validasi ahli bahasa sebesar 95,8% dengan kategori sangat layak, dan validasi ahli desain/media sebesar 78,6% dengan kategori layak. Respons siswa terhadap LKPD memperoleh persentase 100% dengan kategori sangat praktis. Selain itu, kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan dari rata-rata pretest 50,50 menjadi posttest 85,25 dengan nilai N-gain sebesar 0,71 kategori tinggi. Dengan demikian, LKPD berbasis IPAS yang dikembangkan layak, praktis, dan efektif digunakan sebagai bahan ajar untuk mendukung peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar.
Eksplorasi Perkembangan Rasa Percaya Diri Siswa Kelas V SD Al Munadi dalam Kegiatan Presentasi di Depan Kelas Nabilah Marwah; Ahmad Calam; Fatmawati
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.1224

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan rasa percaya diri siswa kelas V SD Al-Munadi dalam kegiatan presentasi di depan kelas. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas lima siswa yang dipilih dari 32 siswa kelas V serta satu guru kelas sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa percaya diri siswa berkembang secara bertahap dan berbeda pada setiap siswa. Perkembangan terlihat dari meningkatnya keberanian untuk tampil, kemampuan berbicara dengan lebih jelas, sikap yang lebih tenang ketika melakukan kesalahan, kontak mata, sikap tubuh, dan keaktifan dalam pembelajaran. Kegiatan presentasi yang dilakukan secara berulang membantu siswa menjadi lebih terbiasa berbicara di depan kelas. Faktor pendukung perkembangan rasa percaya diri meliputi motivasi guru, apresiasi teman, penguasaan materi, serta suasana kelas yang aman. Adapun faktor penghambatnya berupa rasa malu, takut salah, kurangnya persiapan, dan kekhawatiran terhadap respons teman. Guru berperan sebagai motivator, pembimbing, dan fasilitator melalui pemberian arahan, pendampingan, serta penguatan positif. Dengan demikian, kegiatan presentasi memberikan dampak positif terhadap perkembangan rasa percaya diri siswa kelas V SD Al-Munadi.
Analisis Kesulitan Berhitung Siswa Pada Materi KPK dan FPB di Kelas IV SD IT Nurussobri M. Arif Abdillah; Fatmawati; Indah Syasmita
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 3 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i3.1225

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan berhitung siswa pada materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan tersebut pada siswa kelas IV SD IT Nurussobri. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian terdiri atas satu kepala sekolah, dua guru kelas IV, dan tiga puluh siswa kelas IV, sedangkan dua siswa dipilih sebagai informan utama dalam wawancara mendalam. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar KPK dan FPB, membedakan penggunaan kedua konsep pada soal cerita, mengikuti langkah penyelesaian soal secara sistematis, serta melakukan operasi perkalian, pembagian, dan faktorisasi prima dengan tepat. Kesalahan dalam perhitungan juga dipengaruhi oleh rendahnya ketelitian ketika mengerjakan soal. Faktor penyebab kesulitan berhitung berasal dari faktor internal berupa lemahnya penguasaan operasi dasar, rendahnya motivasi belajar, kurangnya rasa percaya diri, dan ketelitian yang belum optimal, serta faktor eksternal berupa metode pembelajaran yang masih didominasi penjelasan guru, keterbatasan media pembelajaran, dan variasi dukungan orang tua di rumah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penguatan pemahaman konsep melalui penggunaan media konkret, latihan yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua diperlukan untuk meningkatkan kemampuan berhitung siswa pada materi KPK dan FPB.