Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI KEAMANAN DALAM PENGGUNAAN OBAT SIRUP BAGI KADER PUSKESMAS ALIANYANG DI KOTA PONTIANAK Rizkifani, Shoma; Nurbaeti, Siti Nani; Wahdaningsih, Sri; Ropiqa, Meri; Indriyani, Risa; Agustriangga, Muhammad Rafly
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.19282

Abstract

ABSTRAKCemaran etilen glikol pada obat sirup disinyalir sebagai salah satu penyebab gangguan ginjal akut yang berujung kematian pada anak. Gangguan ginjal akut progresif atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney) merupakan gangguan yang gempar dibicarakan sebab menewaskan seratus lebih anak di Indonesia. Gangguan ginjal akut yang menyebabkan kematian tersebut diduga kuat terjadi karena adanya kandungan senyawa ethyleme glycol (EG), diethylene glycol (DEG) dan ethylene glycol butyl ether (EGBE) pada obat sirup. BPOM mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, menjadi konsumen cerdas, dan memperoleh obat melalui sarana resmi, yaitu di apotek, toko obat berizin, puskesmas atau rumah sakit terdekat. Masalah tersebut tidak saja dipandang sebagai masalah kesehatan, tetapi telah menjadi tanggung jawab bersama diantaranya dari institusi pendidikan seperti Fakultas Kedokteran. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertujuan untuk membekali kader Puskesmas Alianyang dengan informasi, edukasi dan keterampilan terkait informasi penggunaan obat sirup yang aman. Dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya adalah perancangan metode edukasi, pembuatan media edukasi penggunaan obat sirup yang aman, dan pemberian pre-test, post-tes. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman kader dengan indikator nilai rata-rata pre-test adalah 56,67 dan nilai rata-rata post-test adalah 58,75. Kesimpulannya trerjadi peningkatan pemahaman kader Puskesmas Alianyang Kata Kunci: sirup; edukasi; puskesmas; kemanan ABSTRACTEthylene glycol contamination in drug syrup is suspected as one of the causes of acute kidney failure which leads to death in children. Atypical Progressive Acute Kidney Disorder (Atypical Progressive Acute Kidney) is a disorder that is being talked about because it kills more than one hundred children in Indonesia. The acute kidney disorder that caused the death is strongly suspected to have occurred because of the compounds ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG) and ethylene glycol butyl ether (EGBE) in the syrup. BPOM urges the public to be more vigilant, to be smart consumers, and to obtain medicines through official means, namely at pharmacies, licensed drugstores, health centers or the nearest hospital. This problem is not only seen as a health problem, but has become a shared responsibility, including from educational institutions such as the Faculty of Medicine. Community Service Activities (PKM) aim to equip Alianyang Health Center cadres with information, education and skills related to information on the safe use of syrup drugs. In carrying out this PKM activity, it consists of several activities including designing educational methods, making educational media on the safe use of syrup drugs, and administering pre-test, post-test. The results showed an increase in understanding of cadres with an indicator of the average pre-test score of 56.67 and the average post-test score of 58.75. In conclusion, there has been an increase in the understanding of Alianyang Health Center cadres. Keywords: syrup; education; public health center
Standarisasi dan Uji Aktivitas Penangkapan Radikal Bebas Fraksi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Wahdaningsih, Sri; Najini, Robby
Journal of Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.20860

Abstract

Penangkapan radikal bebas memiliki peran utama dalam melindungi sel dari radikal bebas yang berbahaya. Penelitian terus dikembangkan untuk menemukan sumber penangkapan radikal bebas alami, hal ini dikarenakan penangkapan radikal bebas alami memiliki toksisitas yang rendah. Tanaman ketapang merupakan salah satu contoh tanaman yang memiliki sifat penangkapan radikal bebas. Penelitian menunjukkan bahwa daun ketapang mengandung berbagai komponen, termasuk alkaloid, terpenoid, tanin, saponin, dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa efektif fraksi n-heksan, etil asetat dan metanol daun ketapang sebagai penangkapan radikal bebas. Nilai IC50 penangkapan radikal bebas dari  daun ketapang digunakan untuk mengevaluasi aktivitas penangkapan radikal bebas. Pelarut yang digunakan dalam fraksinasi meliputi metanol, n-heksana, dan etil asetat. Setelah memastikan data fraksinasi konsisten (kadar air dan susut pengeringan), teknik DPPH digunakan untuk menguji aktivitas penangkapan radikal bebas. Sebanyak tiga fraksi digunakan dalam penelitian ini yaitu n-heksan (6,38% air, 5% susut pengeringan, dan nilai IC50 sebesar 163,47 µg/ml), etil asetat (1,14% air, 1,76% susut pengeringan, dan nilai IC50 sebesar 15,5 µg/ml), dan metanol (3,14% air, 5,67% susut pengeringan, dan nilai IC50 sebesar 15,72 µg/ml). Etil asetat dan metanol menunjukkan tingkat aktivitas penangkapan radikal bebas yang sangat kuat, dan semua fraksi daun ketapang memenuhi kriteria kadar air dan susut pengeringan. Kata Kunci: Fraksinasi, Fitokimia, DPPH, Antioksidan, IC50 Free radical scavenging plays a key role in protecting cells from harmful free radicals. Research continues to explore natural sources of free radical scavenging, as natural free radical scavenging agents have low toxicity. The ketapang plant is one example of a plant with free radical scavenging properties. Research shows that ketapang leaves contain various components, including alkaloids, terpenoids, tannins, saponins, and flavonoids. The purpose of this study was to determine the effectiveness of n-hexane, ethyl acetate, and methanol fractions of ketapang leaves as free radical scavenging agents. The IC50 value of free radical scavenging from the percentage of ketapang leaves was used to evaluate free radical scavenging activity. The solvents used in the fractionation included methanol, n-hexane, and ethyl acetate. After ensuring consistent fractionation data (water content and drying loss), the DPPH technique was used to test free radical scavenging activity. A total of three fractions were used in this study, namely n-hexane (6.38% water, 5% drying loss, and IC50 value of 163.47 µg/ml), ethyl acetate (1.14% water, 1.76% drying loss, and IC50 value of 15.5 µg/ml), and methanol (3.14% water, 5.67% drying loss, and IC50 value of 15.72 µg/ml). Ethyl acetate and methanol showed very strong levels of free radical scavenging activity, and all ketapang leaf fractions met the criteria for water content and drying loss.
PENGARUH METODE MASERASI DAN METODE SOXHLETASI TERHADAP KADAR FENOLIK TOTAL DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN NANGKA (Artocarpus heterophyllus L.) Robby Najini; Sri Wahdaningsih
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 3 No. 1 (2024): JURNAL FARMASI IKIFA VOL.3 NO.1 APRIL TAHUN 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jackfruit (Artocarpus heterophyllus L.) is a plant native to Southeast Asia that can grow in tropical climates such as Indonesia. Jackfruit leaves contain various secondary metabolite compounds, including phenols which can have antioxidant activity. The extraction method of a plant can affect the amount of compounds in the extract. This study aims to compare the maceration and soxhletation extraction methods on the antioxidant activity and total phenolic content of jackfruit leaves. Next, these two types of extracts will be tested for antioxidant activity using the DPPH method and then the total phenolic content will be determined using the Folin Ciocalteu method. The results of measuring the total phenolic content in the ethanol extract of jackfruit leaves using the maceration method were 0.004528 mg GAE/g while the ethanol extract of jackfruit leaves using the soxhletation method was 0.004252 mg GAE/g. The antioxidant value was measured based on the lC50 value obtained from the maceration method of 336.59 µg/mL and the soxhletation method obtained an lC50 value of 354.31 µg/mL.
Edukasi tentang deteksi dini kunci selamatkan penderita tuberkulosis di desa Sungai Kakap Sri Wahdaningsih; Shoma Rizkifani; Meri Ropica; Muhammad Rafly Agustriangga; Risa Indriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25969

Abstract

AbstrakPenyakit Tuberkulosis (TBC) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Global TB Report 2023, Indonesia masih menempati posisi kedua setelah India dan diikuti oleh China di posisi ketiga dengan kasus sebanyak 1.060.000. TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang umum seperti penyakit lainnya sehingga orang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda dan gejala TBC pada tubuh. Pengobatan TBC dilakukan setiap hari dan dalam jangka waktu yang relatif lama, yaitu 6 bulan yang menjadikan hal tersebut merupakan salah satu tantangan dalam pengobatan TBC. Hal ini dibuktikan dengan angka keberhasilan pengobatan TBC pada tahun 2022 yang baru mencapai 74% sedangkan targetnya adalah 90% angka keberhasilan pengobatan. Kunci keberhasilan pengobatan TBC adalah 3T, yaitu Tepat Waktu (disiplin dalam meminum obat sesuai waktu yang telah ditentukan), Tepat Cara (minum obat sekaligus, atau jika satu-persatu maka jarak waktu diminumnya tidak lebih dari 2 jam), dan Tepat Dosis (sesuai dosis yang dianjurkan dokter). Oleh karena itu, penting untuk membekali kader tersebut dengan informasi, dan edukasi terkait terkait deteksi dini pasien tuberkulosis. Kegiatan PKM ini dilaksanakan di Desa Sungai Kakap pada tanggal 13 Juni 2024 dan melibatkan kader PKK sebanyak 29 peserta. Rangkaian dari kegiatan ini diantaranya yaitu perancangan metode edukasi dan pembuatan media edukasi, pemberian pre-test, peningkatan pengetahuan tentang deteksi dini tentang tuberkulosis, post-test serta evaluasi pelaksanaan kegiatan dan tingkat pemahaman para kader. Hasil nilai pre-test dan post-test dari kader Desa Sungai Kakap terdapat kenaikan rata-rata skor sebesar 32,42. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan pemahaman terkait deteksi dini pasien tuberkulosis. Kata kunci: sungai kakap; edukasi; tuberculosis; deteksi dini. Abstract Tuberculosis (TB) is still a public health problem in Indonesia. Based on the Global TB Report 2023, Indonesia is still in second place after India and followed by China in third place with 1,060,000 cases. TB is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis with symptoms that are common like other diseases so people can be infected without realizing it. Therefore, it is important to recognize the signs and symptoms of TB in the body. TB treatment is carried out every day and for a relatively long period of time, namely 6 months, which makes it one of the challenges in TB treatment. This is evidenced by the TB treatment success rate in 2022 which only reached 74% while the target is 90% treatment success rate. The key to successful TB treatment is the 3Ts, namely the Right Time (discipline in taking medicine according to a predetermined time), the Right Way (taking medicine at once, or if one by one then the time interval for taking it is no more than 2 hours), and the Right Dose (according to the dose recommended by the doctor). Therefore, it is important to equip these cadres with information and education related to early detection of tuberculosis patients. This PKM activity was carried out in Sungai Kakap Village on June 13, 2024 and involved 29 PKK cadres. The series of activities include designing educational methods and making educational media, giving pre-test, increasing knowledge about early detection of tuberculosis, post-test and evaluating the implementation of activities and the level of understanding of cadres. The results of the pre-test and post-test scores of Desa Sungai Kakap PKK cadres showed an increase in the average score of 32.42. This shows that there is an increase in understanding related to early detection of tuberculosis patients. Keywords: sungai kakap; education; tuberculosis; early detection.
Edukasi makanan bergizi dan manfaat kacang hijau sebagai contoh makanan bergizi di SDN 09 Pontianak Timur Sri Wahdaningsih; Nadhiirah Nadhiirah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21676

Abstract

Abstrak Anak-anak merupakan kelompok rentan terhadap ketidakseimbangan gizi, membutuhkan pemahaman tentang pentingnya aspek gizi dalam pilihan makanan sehari-hari. Kegiatan edukasi makanan bergizi dilakukan di SDN 09 Pontianak Timur untuk meningkatkan pemahaman siswa/i kelas 5 terhadap makanan bergizi. Hasil pretest menunjukkan pemahaman siswa yang rendah 41,19, tetapi melalui sosialisasi, pemberian contoh bubur kacang hijau, dan penyampaian materi menggunakan media power point, terjadi peningkatan signifikan. Berdasarkan hasil posttest menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman siswa sebesar 17,86% menjadi 59,76 mencerminkan efektivitas kegiatan edukasi. Evaluasi ini penting untuk memastikan siswa/i dapat menerapkan pengetahuan gizi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan edukasi makanan bergizi dapat menjadi langkah efektif dalam membentuk pemahaman positif terkait gizi pada anak-anak. Kata kunci: Edukasi makanan bergizi; kacang hijau; SDN 09 Pontianak Timur Abstract Children are a group vulnerable to nutritional imbalances, requiring an understanding of the importance of nutritional aspects in daily food choices. Nutritious food education activities were carried out at SDN 09 East Pontianak to increase grade 5 students' understanding of nutritious food. The pretest results showed low understanding (41.19), but through socialization, providing examples of green bean porridge, and delivering material using power point media, there was a significant increase. The posttest showed an increase in the average to 59.76, reflecting the effectiveness of educational activities. This evaluation is important to ensure students can apply nutritional knowledge in everyday life. Thus, nutritional food education activities can be an effective step in forming a positive understanding regarding nutrition in children. Keywords: education on nutritious food; mung beans; SDN 09 East Pontianak
Edukasi pemanfaatan tanaman obat tradisional dalam rangka self-medication Shoma Rizkifani; Sri Wahdaningsih; Robby Najini; Meri Ropiqa; Alifa Rapaella Fadia Tito Putri; Ayu Aulia Uly Fahmi; Samuel Crishanzen Chang
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 1 (2025): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i1.28929

Abstract

AbstrakSelf-medication atau pengobatan mandiri merupakan praktik umum di kalangan pelajar, namun pemanfaatan obat tradisional masih terbatas akibat kurangnya edukasi terkait manfaat dan penggunaannya. Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas dan pengetahuan tradisional yang melimpah, yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber obat tradisional. Meskipun regulasi terkait obat tradisional di Indonesia sudah baik, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaannya dalam pengobatan mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMK Kesehatan mengenai manfaat, jenis, dan penggunaan tanaman obat tradisional dalam praktik self-medication. Metode yang digunakan meliputi pre-test, edukasi melalui presentasi, video, flyer, diskusi, dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa. Hasil pre-test menunjukkan distribusi nilai dengan skor tertinggi 90 dan terendah 50, sedangkan hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan dengan skor tertinggi mencapai 100. Rata-rata skor pre-test adalah 70,4 dan rata-rata skor post-test meningkat menjadi 96,8; mencerminkan peningkatan pengetahuan sebesar 27,4%. Evaluasi kegiatan menunjukkan kepuasan tinggi dari peserta terkait metode penyampaian dan relevansi materi. Hasil menunjukkan bahwa edukasi tentang tanaman obat tradisional efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa dan diharapkan dapat mendorong praktik self-medication yang bijak dan bertanggung jawab di kalangan siswa SMK Kesehatan. Kata kunci: pengobatan mandiri; obat tradisional; edukasi; pelajar; SMK AbstractSelf-medication is a common practice among students, but the utilization of traditional medicine is still limited due to lack of education regarding its benefits and uses. Indonesia has an abundance of biodiversity and traditional knowledge, which has great potential to be developed as a source of traditional medicine. Although regulations related to traditional medicine in Indonesia are good, further research is needed to ensure the effectiveness and safety of its use in self-medication. This study aims to improve the knowledge of vocational health students regarding the benefits, types, and uses of traditional medicinal plants in self-medication practices. The methods used include pre-test, education through presentations, videos, flyers, discussions, and post-test to measure the improvement of students' understanding. The pre-test results showed a distribution of values with the highest score of 90 and the lowest score of 50, while the post-test results showed significant improvement with the highest score reaching 100. The average pre-test score was 70.4 and the average post-test score increased to 96.8, reflecting a 27.4% increase in knowledge. Evaluation of the activity showed high satisfaction from participants regarding the delivery method and relevance of the material. The results show that education about traditional medicinal plants is effective in improving students' knowledge and is expected to encourage wise and responsible self-medication practices among vocational health students. Keywords: self-medication; traditional medicine; education; students; vocational schools
Peningkatan pengetahuan siswa SMK Bina Dharma tentang manfaat teh nutrasetika kulit buah naga merah sebagai alternatif dalam mengatasi penyakit kronis Najini, Robby; Rizkifani, Shoma; Wahdaningsih, Sri; Fahmi, Ayu Aulia Uly; Chang, Samuel Crishanzen
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.36677

Abstract

AbstrakProgram Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa SMK Bina Dharma Pontianak mengenai pemanfaatan teh nutrasetika dari kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai alternatif pencegahan penyakit kronis dan degeneratif. Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan hiperlipidemia berkaitan dengan pola hidup tidak sehat, sementara pemahaman remaja tentang pangan fungsional dan nutrasetika masih terbatas. Kegiatan dilakukan secara edukatif melalui pendekatan saintifik populer tanpa praktik langsung. Metode pelaksanaan meliputi persiapan, seleksi peserta, pengembangan media edukatif (slide, video, flyer), pelaksanaan edukasi, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Sebanyak 53 siswa mengikuti kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan distribusi nilai setelah edukasi, ditandai tidak adanya peserta dengan nilai 0 pada posttest. Mayoritas peserta memperoleh nilai 80 sebanyak 21 orang, nilai 60 sebanyak 12 orang, nilai 40 sebanyak 10 orang, nilai 20 sebanyak 6 orang, serta peningkatan jumlah peserta yang memperoleh nilai 100 menjadi 4 orang. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Program ini memperkuat literasi kesehatan berbasis potensi lokal serta mendorong siswa menjadi agen penyebaran informasi kesehatan di lingkungan sekitarnya. Kata kunci: nutrasetika; kulit buah naga; literasi kesehatan; penyakit degeneratif; edukasi siswa. AbstractThis Community Service Program aimed to improve students’ knowledge at SMK Bina Dharma Pontianak regarding the utilization of nutraceutical tea made from red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus) as an alternative for preventing chronic and degenerative diseases. Non-communicable diseases such as diabetes, hypertension, and hyperlipidemia are closely related to unhealthy lifestyles, while adolescents’ understanding of functional foods and nutraceuticals remains limited. The activity was conducted through an educational approach using popular scientific methods without hands-on practice. Implementation stages included preparation, participant selection, development of educational media (slides, videos, and flyers), educational delivery, and evaluation using pretest and posttest assessments. A total of 53 students participated. Evaluation results showed an improvement in score distribution after the educational intervention, indicated by the absence of students scoring 0 in the posttest. Most participants achieved a score of 80 (21 students), followed by scores of 60 (12 students), 40 (10 students), and 20 (6 students), with the number of students scoring 100 increasing to four. These findings indicate enhanced student understanding of the material presented. This program strengthens health literacy based on local potential and encourages students to become health information disseminators in their communities. Keywords: nutraceuticals; dragon fruit peel; health literacy; degenerative diseases; student education.
Hylocereus polyrhizus Fruit Peel Extract as a Hepatoprotective Agent: Histopathological Profile Study in Rattus norvegicus Agustriangga, Muhammad Rafly; Wahdaningsih, Sri; Rizkifani, Shoma
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol. 23 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mf.v23i1.29928

Abstract

Paracetamol overdose is a major cause of acute liver failure, necessitating the search for effective natural antidotes. The peel of Red Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) is an abundant agro-waste product rich in betacyanins and flavonoids, yet its potential as a sustainable hepatoprotective agent remains underexplored. This study aimed to valorize this waste product by evaluating the hepatoprotective activity of H. polyrhizus peel extract against paracetamol-induced liver injury in Wistar rats. Twenty-five male Wistar rats were divided into five groups: Negative Control, Positive Control (Paracetamol-induced), and three treatment groups pretreated with the extract (100, 200, and 300 mg/kg BW) for 7 days. Liver injury was assessed quantitatively based on necrosis, ballooning degeneration, and steatosis scores. The Positive Control group exhibited severe hepatocellular damage (p<0.05). However, pretreatment with the extract significantly attenuated this damage in a dose-dependent manner. The dose of 200 mg/kg BW demonstrated superior efficacy, restoring hepatic architecture to a state statistically comparable to the healthy control (p>0.05). The study confirms that H. polyrhizus peel extract effectively mitigates paracetamol toxicity, with 200 mg/kg identified as the optimal dose. This research contributes to the pharmaceutical field by providing scientific evidence for repurposing fruit peel waste as a potent, cost-effective, and eco-friendly source of hepatoprotective compounds.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Agustia Damayanti Agustia Damayanti Agustia Damayanti Agustia Damayanti, Agustia Agustriangga, Muhammad Rafly Alifa Rapaella Fadia Tito Putri Andres Andres Anggie Cahyadi Anis Marselia Annafiatuzakiah Annafiatuzakiah Ardini, Citra Asri Adyttia Asri Adyttia Asri Adyttia Asri Adyttia, Asri Ayu Aulia Uly Fahmi Chang, Samuel Crishanzen Dian Novita Sari Diana Natalia Dina Pratiwi, Dina Eka Kartika Untari Eka Kartika Untari Erna Prawita Setyowati Erna Prawita Setyowati Erna Prawita Setyowati Ernawati Ernawati F. Nour Aulia Mustari F. Nour Aulia Mustari, F. Nour Aulia Fahmi, Ayu Aulia Uly Fajar Nugraha Faujiah, Nurul Goneril, Aldo Hadi Kurniawan Hafidzah Ramadhaniyah Al Idrus Hainun A Hestiva, Hestiva Imania, Imania Indriyani, Risa Isnindar Isnindar Iswahyudi Iswahyudi Iswahyudi Iswahyudi Kamil, Insan Kristina Lusty Tohomi Liberti, Oktaviona Winda Liza Pratiwi M Rafly Agustriangga Melda Mery Andiriyani Meri Ropica Muhammad Rafly Agustriangga Nadhiirah Nadhiirah Nadilla Nadilla Nadilla, Nadilla Najini, Robby Nera Umilia Purwanti Nera Umilia Purwanti, Nera Umilia Norwahidah Norwahidah Novi Riyani Nurmainah Nurmainah Nurul Hanifah Rafika Sari Rafika Sari Retno Murwanti Risa Indriyani Robby Najini Robby Najini Robiyanto, Robiyanto Ropiqa, Meri Rupiani, Aprias Samudra, Nizam Elang Samuel Crishanzen Chang Setio Jatmiko Shoma Rizkifani Siti Nani Nurbaeti Sri Amalia Sri Amalia Sri Amalia, Sri Subagus Wahyuono Subagus Wahyuono Subagus Wahyuono Subagus Wahyuono Sugeng Riyanto Syaazaratul Qamelia Innas Uray Cindy Hafinur Utari, Eka Kartika Vanny Ade Rahmasari Wijaya, Anisa William Rinaldi Wintari Taurina Wirna Maya Sari Wirna Maya Sari Wirna Maya Sari Wirna Maya Sari, Wirna Maya Yunita Fauziah Yunita Fauziah, Yunita