Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS GAIRAIGO YANG DIGUNAKAN OLEH MAHASISWA PESERTA PROGRAM SOUTHEAST ASIAN TEACHERS TRAINING COLLEGE COURSE IN JAPAN 2016 PADA KEGIATAN WAWANCARA Larasati, Ayu; Wardhana, Chevy Kusumah; Oesman, Andi Moorad
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 2 (2018): CHI'E: Journal of Japanese Learning and Teaching
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper describes about gairaigo used by Indonesian college student of Southeast Asian Teachers Training College Course In Japan 2016 Program which have been held yearly by The Japan Foundation. One of the activities of this program is interview. On interview activity, the students often used a japanese loanwords called gairaigo. Gairaigo is Japanese loanwords which come from foreign country’s word.  However, the Japanese people who is being interviewed didn’t understood the meaning of gairaigo spoken by the students. Thats because the students didn’t paid attention of the morphological concept of gairaigo itself. Before adapted to a gairaigo, a foreign country’s word have to passed a morphoogical process according to Japanese rules. The gairaigo which got analyzed is gairaigo used for interview on 19thof January 2017. The reason to choose this interview to be the source data is because, on this interview was the very first interview to be done and the gairaigo used on in haven’t been checked or edited bu Japanese people. There’re three process of morphological that occur on gairaigo exist in the data source. They’re compound morphological, abreviation morphological, and basic morphological. The compound morphological is a morphological process to compound two different words become one word. The abreviation morphologica is a morphological process to abreviated some syllabel from word. The basic morphological if a morphological process to syncronized the original word phonology to Japanese phonology.   Abstrak ___________________________________________________________________ Pada tulisan ini akan dijelaskan mengenai gairaigo yang digunakan oleh mahasiswa peserta program Southeast Asian Teachers Training College Course In Japan 2016 yang merupakan program tahunan dari The Japan Foundation. Salah satu kegiatan pada program tersebut ialah kegiatan wawancara (intabyuu). Dalam kegiatan tersebut, seringkali mahasiswa menggunakan gairaigo untuk  memudahkan komunikasi dengan orang Jepang. Gairaigo ialah salah satu jenis kosakata dalam bahasa Jepang yang berasal dari negara asing. Namun, tidak jarang orang Jepang tidak memahami maksud dari kosakata gairaigo tersebut. Hal ini dikarenakan mahasiswa tidak memperhatikan pembentukan gairaigo dari kata yang digunakan. Sebelum menjadi gairaigo, sebuah kata harus mengalami penyesuaian pembentukan kedalam tata aturan bahasa Jepang. Gairaigo yang dianalisis ialah gairaigo yang digunakan pada kegiatan wawancara yang dilaksanakan pada 19 Januari 2017. Alasan penggunaan wawancara ini sebagai sumber data dikarenakan wawancara ini merupakan wawancara pertama yang dilakukan, dan gairaigo yang digunakan belum dikoreksi oleh orang Jepang. Pada analisis data, terdapat tiga jenis pembentukan gairaigo pada kosakata gairaigo yang digunakan mahasiswa. Pembentukan yang dimaksud ialah pembentukan dengan penggabungan (compound), pembentukan dengan pemendekan (abreviasi), dan pembentukan dengan pola dasar. Pembentukan dengan penggabungan ialah pembentukan dengan menggabungkan dua kata menjadi satu frase. Pembentukan dengan pemendekan ialah pembentukan dengan menghilangkan beberapa silabel suatu kata. Pembentukan pola dasar ialah pembentukan dengan menyesuaikan pelafalan kata asli dengan pelafalan bahasa Jepang.
EVALUATION ON GREEN OPEN SPACE AS HEALTH PROMOTER WITH SALUTOGENIC APPROACH: CITY FOREST BSD I AS CASE STUDY Larasati, Ayu; Pakpahan, Rosdiana
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019): December
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6660.547 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.34811

Abstract

Sedentary/passive behavior has increased the risk of non-communicable disease, which incites the need to promote an active lifestyle through outdoor physical activities. However, green open space (GOS) amount and design that focus as health promoter have not yet been sufficient. Therefore, design evaluation is conducted to acknowledge recent issues and potential solutions as design considerations for next GOS that focuses on health. Evaluation of GOS design quality uses design indicators that are extracted from Salutogenic Five Vital Signs to identify and assess design quality at selected GOS as a case study.  The data for this study is gathered through site surveys, two months observations, and user interviews: 25 visitors, two staff, and three entrepreneurs. Evaluation at selected GOS highlights the importance of forest setting as major attractions because it provides comfortable shades of trees. Also, GOS should be located at a strategic point to be easily accessed by different kind of transportation modes and routes. Moreover, legibility is achieved highly by movement network: path and clear main entrance, and permeability are achieved through the selection of more than five meters height of trees that clear the visual obstacles, clear spots of activities (pods), and transparent fences.EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI PROMOTOR KESEHATAN DENGAN PENDEKATAN SALUTOGENIC: TAMAN KOTA BSD I SEBAGAI STUDI KASUSPerilaku sedentary/pasif telah meningkatkan resiko terkena non-communicable disease yang menimbulkan munculnya kebutuhan untuk mendorong aktivitas fisik aktif yang dilakukan di ruang terbuka. Akan tetapi, kuantitas ruang terbuka hijau (RTH) belum memenuhi proporsi minimum 30% dari total luas area dan kualitas desain RTH sebagai promotor aktivitas fisik aktif (kesehatan) belum memiliki referensi desain. Oleh karena itu, evaluasi desain dilakukan untuk mengetahui permasalahan, potensi solusi, dan strategi yang terdapat pada RTH sekarang ini sebagai panduan rancang yang mendorong kegiatan fisik aktif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang dilakukan melalui empat tahap, yaitu: 1. studi pustaka mengenai lima tanda vital salutogenic (diversity, vitality, nature, authenticity, dan legacy) untuk mengidentifikasi parameter evaluasi (kriteria perancangan dan indikator desain), 2. pemilihan objek studi, 3. pengumpulan data melalui survey, observasi dan wawancara, dan 4. identifikasi dan evaluasi kualitas desain RTH. Objek studi terpilih merupakan RTH yang berpotensi memenuhi lima tanda vital salutogenic, yaitu Taman Kota BSD I (TK I), Tangerang Selatan. Hasil evaluasi RTH adalah pentingnya mengintegrasikan unsur alam sebagai setting RTH karena karakteristiknya yang spesifik menjadi daya tarik utama untuk beraktivitas aktif. Selain itu, RTH perlu menyediakan fasilitas lengkap dan pemeliharaannya untuk seluruh kategori usia dan skala aktivitas dari personal hingga komunitas. Secara keseluruhan, RTH perlu mengembangkan program dan strategi implementasi untuk mengembangkan aktivitas edukasi dan preservasi yang melibatkan komunitas secara aktif.
ANALISIS GAIRAIGO YANG DIGUNAKAN OLEH MAHASISWA PESERTA PROGRAM SOUTHEAST ASIAN TEACHERS TRAINING COLLEGE COURSE IN JAPAN 2016 PADA KEGIATAN WAWANCARA Larasati, Ayu; Wardhana, Chevy Kusumah; Oesman, Andi Moorad
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 2 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v6i2.22584

Abstract

This paper describes about gairaigo used by Indonesian college student of Southeast Asian Teachers Training College Course In Japan 2016 Program which have been held yearly by The Japan Foundation. One of the activities of this program is interview. On interview activity, the students often used a japanese loanwords called gairaigo. Gairaigo is Japanese loanwords which come from foreign country’s word. However, the Japanese people who is being interviewed didn’t understood the meaning of gairaigo spoken by the students. Thats because the students didn’t paid attention of the morphological concept of gairaigo itself. Before adapted to a gairaigo, a foreign country’s word have to passed a morphoogical process according to Japanese rules. The gairaigo which got analyzed is gairaigo used for interview on 19thof January 2017. The reason to choose this interview to be the source data is because, on this interview was the very first interview to be done and the gairaigo used on in haven’t been checked or edited bu Japanese people. There’re three process of morphological that occur on gairaigo exist in the data source. They’re compound morphological, abreviation morphological, and basic morphological. The compound morphological is a morphological process to compound two different words become one word. The abreviation morphologica is a morphological process to abreviated some syllabel from word. The basic morphological if a morphological process to syncronized the original word phonology to Japanese phonology. Abstrak ___________________________________________________________________ Pada tulisan ini akan dijelaskan mengenai gairaigo yang digunakan oleh mahasiswa peserta program Southeast Asian Teachers Training College Course In Japan 2016 yang merupakan program tahunan dari The Japan Foundation. Salah satu kegiatan pada program tersebut ialah kegiatan wawancara (intabyuu). Dalam kegiatan tersebut, seringkali mahasiswa menggunakan gairaigo untuk memudahkan komunikasi dengan orang Jepang. Gairaigo ialah salah satu jenis kosakata dalam bahasa Jepang yang berasal dari negara asing. Namun, tidak jarang orang Jepang tidak memahami maksud dari kosakata gairaigo tersebut. Hal ini dikarenakan mahasiswa tidak memperhatikan pembentukan gairaigo dari kata yang digunakan. Sebelum menjadi gairaigo, sebuah kata harus mengalami penyesuaian pembentukan kedalam tata aturan bahasa Jepang. Gairaigo yang dianalisis ialah gairaigo yang digunakan pada kegiatan wawancara yang dilaksanakan pada 19 Januari 2017. Alasan penggunaan wawancara ini sebagai sumber data dikarenakan wawancara ini merupakan wawancara pertama yang dilakukan, dan gairaigo yang digunakan belum dikoreksi oleh orang Jepang. Pada analisis data, terdapat tiga jenis pembentukan gairaigo pada kosakata gairaigo yang digunakan mahasiswa. Pembentukan yang dimaksud ialah pembentukan dengan penggabungan (compound), pembentukan dengan pemendekan (abreviasi), dan pembentukan dengan pola dasar. Pembentukan dengan penggabungan ialah pembentukan dengan menggabungkan dua kata menjadi satu frase. Pembentukan dengan pemendekan ialah pembentukan dengan menghilangkan beberapa silabel suatu kata. Pembentukan pola dasar ialah pembentukan dengan menyesuaikan pelafalan kata asli dengan pelafalan bahasa Jepang.
Pengelolaan Sampah Melalui Pendidikan Kesadaran Bersih Lingkungan Sebagai Strategi Mitigasi Bencana di Desa Seriwe Aftina Rabbani; Annisa Sabrina; Arfaigah; Ayu Larasati; Dita Kusnulyaningsih; Qanita Handayani6
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 5 No 1 (2022): Januari - Maret
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.284 KB) | DOI: 10.29303/jpmpi.v5i1.1286

Abstract

Penumpukan sampah secara terus-menerus akan menyebabkan pencemaran yang akan memberi dampak buruk bagi lingkungan serta kehidupan manusia disekitarnya. Pelaksanaan Sosialisasi Pendidikan Kesadaran sampah diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan agar dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman serta dapat menghindari akan terjadinya kerugian-kerugian akibat lingkungan yang kotor di masa mendatang. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan sosialisasi ini adalah metode penyuluhan, Diskusi dan Aksi Lapangan . Umumnya masyarakat belum memahami cara mengelola sampah dengan baik, namun dengan adanya Sosialisasi tersebut masyarakat lebih memahami alternatif pengelolaan sampah, penyediaan bank sampah, dan pemilahan jenis sampah yang dapat mengurangi dampak bencana yang ditimpulkan karena faktor sampah sehingga masyarakat merespon positif dengan dilaksanakannya kegiatan ini. Sehingga kegiatan ini bermanfaat menambah pengetahuan masyarakat serta membentuk lembaga koordinasi untuk keberlanjutan program Pengelolaan Sampah di Desa Seriwe, Jerowaru Lombok Timur.
Pra Desain Pabrik Poly-L-Lactic Acid dari Tetes Tebu Eriska Wahyu Kusuma; Ayu Larasati; Siti Nurkhamidah; Ali Altway
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.492 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.46997

Abstract

Poly-L-Lactic Acid atau disingkat PLLA merupakan termoplastik biodegradable turunan dari sumber daya terbarukan. Kebutuhan dunia akan plastik yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh plastik. Hal ini membuat PLLA menjadi alternatif pengganti plastik petroleum-based untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Untuk memenuhi kebutuhan bioplastik dalam negeri dan adanya peluang ekspor yang masih terbuka, maka dirancang pabrik PLLA dengan kapasitas 20.000 ton/tahun dengan memanfaatkan limbah tetes tebu yang dihasilkan oleh pabrik gula sebagai bahan baku. Pabrik direncanakan berdiri pada tahun 2020 di Lampung Tengah, Sumatera Selatan.  Proses pembuatan PLLA dilakukan melalui tiga tahap, yakni proses produksi asam laktat, pemurnian asam laktat, dan polimerisasi asam laktat. Tahap produksi asam laktat dilakukan dengan proses fermentasi dengan menggunakan bakteri Lactobacillus delbrueckii subsp. delbrueckii selama 26 jam pada kondisi 42oC, tekanan atmosfir, dan pH 6,9. Tahap pemurnian dilakukan hingga asam laktat mencapai kemurnian 99% dalam kolom distilasi reaktif. Tahap polimerisasi asam laktat dilakukan dengan metode ring-opening-polymerization. Untuk mendirikan pabrik PLLA dari limbah tetes tebu ini diperlukan modal tetap (FCI) sebesar Rp 926.811.877.912,00 dan modal kerja (WCI) sebesar 92.681,187.791,00. Dari perhitungan analisa ekonomi didapatkan nilai Pay Out Time (POT) 5,13 tahun dengan Break Event Point (BEP) sebesar 45,6% dan Internal Rate of Returm (IRR) sebesar 13,19%.
PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN PRODUK PEMUTIH DAN PENCERAH DI KECAMATAN SUKOLILO SURABAYA Khintan Rizky Fadhila; Dwi Rekno Ningrum; Anisah Febrian Rahmawati; Athaya Bella Azzahrya; Dewi Fatima Auzianingrum Muntari; Rini Ayu Agustin; Ayu Larasati; Dyandra Anjani Putri; Azza Maulidia El Java; Siti Sarah; Andreas Bayu Eka Wijayanto; Rahmadi Wahyu Bowolaksono; Firman Wahyudi; Yunita Nita
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Farmasi Komunitas
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.472 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v7i2.21806

Abstract

Konsep cantik di masyarakat salah satunya memiliki kulit putih dengan cara menggunakan produk pemutih dan pencerah kulit. Namun terdapat sejumlah produk pemutih yang mengandung bahan berbahaya. Pemilihan produk pemutih harus diperhatikan dengan baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan penggunaan masyarakat mengenai produk pemutih dan pencerah, serta hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat mengenai produk pemutih dan pencerah. Penelitian dilakukan pada bulan September 2019 menggunakan metode survei, rancangan studi cross sectional dengan teknik purposive random sampling. Responden dalam penelitian adalah wanita berusia 16–35 tahun (n=130). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa produk pemutih dan pencerah yang paling banyak digunakan adalah produk komersil teregistrasi BPOM dengan persentase 69,2% (92 responden). Tingkat pendidikan pengguna produk pemutih dan pencerah tertinggi adalah tingkat sarjana dan pascasarjana yaitu dengan persentase 64,6% (84 responden). Rata-rata skor yang didapatkan dari 130 responden adalah 3,8. Sebanyak 87 responden (67%) memiliki skor di bawah 4,6 yang dikategorikan memiliki pengetahuan rendah mengenai produk pemutih dan pencerah. Uji korelasi Spearman menujukkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan responden mengenai produk pemutih dan pencerah (p=0,016). Responden dalam penelitian memiliki tingkat pengetahuan rendah mengenai produk pemutih dan pencerah serta terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan tentang produk pemutih dan pencerah.
EFEKTIVITAS FERRI KLORIDA (FeCl3)DALAM MENURUNKAN KADAR CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) PADA LIMBAH CAIR LAUNDRY Ayu Larasati; Yusniar Hanani Darundiati; Hanan Lanang Dangiran
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 5, No 5 (2017): SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.437 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v5i5.19170

Abstract

Laundry liquid waste contained high level of COD which can effect on water contamination. Based on the preliminary studies, COD level of liquid waste in Laundry Zone was 1.494 mg/l and 992 mg/l.  This level exceeds standart quality of COD in Laundry liquid waste is 100 mg/l. Therefore, it was necessary to wastewater treatment, one of them with coagulation-flocculation system using ferric chloride coagulant. The purpose of this study was to determined the effectiveness of ferric chloride to reduced COD level in laundry liquid waste. The type of research was true experimental research with pretest-postest with control group design. The sample in this research was part of wastewater from Laundry Zone that taken directly through the washing machine outlet pipe. Total sample for 6 treatment (0,5 gr; 0,7 gr; 0,9 gr; 1,1 gr; 1,3 gr; dan 1,5 gr) with 4 replication was 32 samples. Data analysis used Kruskal Wallis test showed that there was difference average in decreasing COD level of laundry liquid waste with various dose of ferric chloride (p-value = 0,005). The result of Man Whitney test, showed that groups between dose variation that have significant difference in decreasing COD level of laundry liquid waste (p≤0,05) was control group and 0.5 gr treatment group with each other the treatment groups. The average COD after treatment has decreased gradually as more doses of ferric chloride. The largest efficiency was in the dose 1,5 gr with a decrease percentage was 73.79% or decreased COD to 249.75 mg/l.  
ANALISIS PERBEDAAN SEKTOR EKONOMI KREATIF DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA KOTA SURABAYA (SEBELUM DAN SESUDAH PANDEMI COVID-19) Ayu Larasati; Ignatia Martha Hendrati; Kiki Asmara
PARETO : Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik Vol 4 No 1 (2021): Pareto
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH. Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/pareto.v4i1.1863

Abstract

This study aims to see the differences in the creative economy sector and their contribution to the absorption of labor in the city of Surabaya (before and after the Covid-19 pandemic). The analytical method used is descriptive method through a quantitative approach where the research is carried out using quantitative data then processed and analyzed so that conclusions can be drawn. By using linear regression analysis tools with dummy variables and ratio analysis of the level of contribution. The results of this study indicate that the creative economy sector and its contribution to the absorption of labor in the city of Surabaya before and after the Covid-19 pandemic do not have a significant effect.
PENGUASAAN TANAH HAK ULAYAT MASYARAKAT KAMPUNG NAGA DI TASIKMALAYA Oktavianus, Oktavianus; Larasati, Ayu; Marjuki, Arif
Jurnal Pilar Keadilan Vol. 2 No. 1 (2022): Pilar Keadilan
Publisher : Program Magister Ilmu Hukum, STIH Painan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.38 KB) | DOI: 10.59635/jpk.v2i1.255

Abstract

Tanah sebagai tempat hidup dan kehidupan serta kematian manusia. Setiap manusia membutuhkan tanah sebagai tempat tinggal dan mencari kehidupan. Tanah dapat dikuasai secara individual atau bersama-sama dengan anggota masyarakat lainnya yang mempunyai satu ikatan bathin yang sama, untuk dimanfaatkan secara bersama-sama pula. Penguasaan dan pemanfaatan tanah secara komunal masih diakui dan dihormati keberadaannya atau yang lebih dikenal dengan Hak Ulayat. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalam pendekatan yuridis empiris yang bersumber dari data primer sebagai data utama dan data sekunder sebagai data tambahan, dianalisa dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Naga menguasai hak atas tanah secara pribadi dan komunal dan untuk menjamin kepastian hukum pemerintah menerbitkan hak atas tanah untuk masing-masing pemilik tanah, baik secara individual maupun secara komunal.
Analisis Potensi dan Kemajuan dalam Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi Berkelanjutan (SDGs 6) di Indonesia Permata, Cindy; Ayu Larasati; Meira Lalia Ayuningtyas; Azzahra Aulia Kresna Putri; Aurell Valentdava Wahyudi
Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Vol 25 No 01 (2024): PLPB: Jurnal Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, Volume 25 Nom
Publisher : Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/plpb.v25i01.40440

Abstract

The aim of this research is to provide an analysis of how efforts have been made to achieve Sustainable Development Goal number six (SDGs 6), namely Clean Water and Sanitation. The main focus of this research is to assess the implementation of policies and projects related to water and sanitation and understand the impact they will have on society and the environment. This study collects data from government reports and other relevant research. Universal access to clean drinking water, adequate sanitation, efficient water use, and protection of water ecosystems are the main indicators of SDGs 6. The research results show great progress in achieving SDGs 6 in several aspects. Access to clean water has increased and many sanitation projects have been implemented successfully. Challenges remain, especially in achieving sanitation goals in rural areas and in managing water quality. Integrated water resource management and protection of water ecosystems are highlighted in this analysis. The research also underscores the need for international cooperation and community participation in addressing clean water and sanitation challenges. Data limitations and unequal access continue to be important issues that need to be addressed. Therefore, this study recommends increased detailed data collection and capacity building of local communities. By detailing the challenges and potential solutions, this research contributes to a deeper understanding of achieving SDGs 6. The implications of these findings can help civil society in designing more effective policies and projects to achieve clean water and sustainable sanitation.
Co-Authors Abdul Haeba Ramli Adiwibowo, Bugi Satrio Aftina Rabbani Agus Setiadi Ali Altway Aliya Rahayu Andarsisi, Rosiana Andarsisi Andreas Bayu Eka Wijayanto Anisah Febrian Rahmawati Annisa Sabrina Ardino, Zidane Arfaigah Athaya Bella Azzahrya Aurell Valentdava Wahyudi Ayu Nadiyah, Dian Azza Maulidia El Java Azzahra Aulia Kresna Putri Bina Aquari BUDI PRAMONO Chevy Kusumah Wardhana Detya Wiryany Dewi Fatima Auzianingrum Muntari Dina Sudarmika Dita Kusnulyaningsih Dwi Rekno Ningrum Dyandra Anjani Putri Eriska Wahyu Kusuma Firman Wahyudi Gerry Firmansyah Hamid, Fadra Hanan Lanang Dangiran Handrini Ardiyanti Heriyanti Heriyanti Heriyanti, Heriyanti Hery Setiyawan Ignatia Martha Hendrati Juandanilsyah , Juandanilsyah Juandanilsyah, Juandanilsyah Khintan Rizky Fadhila Kiki Asmara Lianda Rachmadany Sinaga Mahadewi, Erlina Puspitaloka Marjuki, Arif Maulana, Salman Meira Lalia Ayuningtyas Mila Karmila Minata, Fika Muh Ilham Muhammad Rifhai Muslih, Muhamad Nabila, Maulina Nani Cahyani Nazilah, Khoirun Nefianto, Tirton Nurcahyani, Widy Nurkhamidah, Siti Nurmawaty, Dwi Oesman, Andi Moorad Oesman, Andi Moorad Oktaviani, Nita Fauziah Oktavianus Oktavianus Pakpahan, Rosdiana Pandyangqa, Nuno Pereira Vidya Permata, Cindy Pratiwi Rahmadhani, Sendy Putra Adnyana, I Wayan Diana Putu Yudi Setiawan Qanita Handayani6 Rachma Indrarini Rahmadi Wahyu Bowolaksono Reza, Heru Kreshna Rini Ayu Agustin Rita Tri Yusnita Rizqi Al-Ali, Muhammad Roring, Franky P. Safiani A. Faaroek Septyani, Dwi Siti Sarah Slamet Tri Wahyudi Sri Redjeki Suci Rahmadhaniasi Putri Suminto Sutinah, Nina Ummanah Ummanah, Ummanah Wahyudi, Ickhsanto Wijaya, Yeny Duriana Yunita Nita Yusniar Hanani Darundiati Zahroh, Nabilla