Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Predatorism and Cannibalism of Fish Betutu (Oxyeleotris marmorata Blkr.) In Lake Tondano, Minahasa regency, North Sulawesi Rama Presley Kambey; Rose O.S.E. Mantiri; Markus T. Lasut
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23217

Abstract

Aims of this study is to determine the ability of marble goby to prey other fish and other marble goby in Tondano Lake. This research was conducted in August 2017 to December 2017. Measure of aquarium used as container is 120 cm x 40 cm x 40 cm which was divided into 2 parts, equipped with a camera in addition to observe the reaction of predation on marble goby. To know the predation behaviour of marble goby, using sample size is <15 cm and> 15 cm, and the prey fish is used was silver barb (Puntius javanicus) size is 10 cm - 20 cm. To determine the cannibal behaviour is used marble goby size is <15 cm and> 20 cm, and prey another marble goby size is 10-20 cm. The results showed the fastest predatorism reaction of marble goby attack silver barb occurred is 6 minutes after treatment, and the fastest cannibalism reaction of marble goby occurred after 45 minutes.Keywords: Betutu, Lake Tondano, Cannibalism, Predation, Predatorism. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ikan betutu dalam memangsa ikan lain dan sesama ikan betutu di Danau Tondano. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2017 sampai Desember 2017. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 120 cm x 40 cm x 40 cm yang dibagi menjadi 2 bagian dengan menggunakan sekat, dilengkapi dengan kamera untuk mengamati reaksi pemangsaan ikan betutu. Untuk mengetahui sifat predator ikan betutu digunakan sampel berukuran <15 cm dan >15 cm, dan mangsa yang digunakan adalah ikan tawes (Puntius javanicus) yang berukuran 10 cm - 20 cm. Untuk mengetahui sifat kanibal ikan betutu digunakan ikan betutu berukuran <15 cm dan >20 cm, dan mangsa ikan betutu berukuran 10-20 cm. Hasil penelitian menunjukkan reaksi tercepat predatorisme ikan betutu terhadap ikan tawes terjadi setelah 6 menit setelah perlakuan, dan reaksi tercepat kanibalisme ikan betutu terjadi setelah 45 menit.Kata kunci: Betutu, Danau Tondano, Kanibalisme, Pemangsaan, Predatorisme
In Vitro Culture of Seaweed Kappaphycus alvarezii under Different Formulation of Growth Stimulating Substances and Culture Media Mega D. Dalero; Grevo S. Gerung; Edwin L.A. Ngangi; Lawrence J.L. Lumingas; Markus T. Lasut
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23375

Abstract

This study aims at obtaining a sustainably superior seed stock following the characteristics of the parent plant, determining the best formulation of the growth stimulating substance. In general, cytokinin and auxin combination was used, but this study also added with the combination of cytokinin and giberelin and cytokinin and abscisic acid (AA).Parameters measured were bud length, number of buds, and survival rate. Bacterial Vibrio sp test was also done as a cause of the explant mortality. Results showed that the longest bud was recorded in treatment C (S+A 1:2.5) cultured in a jar, 1.343 mm long, 38% of survival, while the highest number of buds was found in treatment B (S+A 1 : 2) 8.86. The shortest bud was recorded in treatment J (S + AA 1:2.5) cultured in a jar, 0.093 mm long, 2.64 buds, 10% of survival, while the explant cultured in the bottle had a length of 0.051 mm long, 1.50 buds, 4% of survival. As conclusion, the best growth stimulating substance was found in the treatment C for the bud length and the survival rate, while the best number of bud was recorded in the treatment B. The best culture tank was topless bottle (aerated). In vitro culture could also use S + G formulation. The explant mortality was caused by Vibrio charchariae. The use of S + AA formulation had lower growth than that of control treatment.Keywords :in vitro, growth stimulating substance, culture media, Kappaphycus alvarezii, Vibrio charchariae ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh benih unggul secara berkelanjutan yang mengikuti karakteristik dari tanaman induk, menentukan formulasi terbaik dari substansi pertumbuhan merangsang. Secara umum, kombinasi sitokinin dan auksin digunakan, tetapi penelitian ini juga menambahkankombinasi sitokinin, giberelin, sitokinin dan asam absisat (AA). Parameter yang diukur adalah panjang tunas, jumlah tunas, dan tingkat kelangsungan hidup. Bakteri Vibrio Uji sp juga dilakukan sebagai penyebab kematian eksplan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas terpanjang terdapat pada perlakuan C (S + A 1: 2,5)  kultur dalam toples, 1,343 mm, 38% hidup, sementara jumlah tertinggi tunas ditemukan pada perlakuan B (S + A 1: 2) 8.86 . Jumlah tunas paling sedikit terdapat pada perlakuan J (S + AA 1: 2,5) yang dikultur dalam toples, 0,093 mm, 2,64 tunas, 10% hidup, sedangkan eksplan yang dikultur dalam botol memiliki panjang 0.051 mm, 1. 50 tunas , 4% bertahan hidup. Sebagai kesimpulan, pertumbuhan terbaik merangsang zat ditemukan dalam perlakuan C untuk panjang tunas dan tingkat kelangsungan hidup, sementara jumlah tunas terbanyak ditemukan pada perlakuan B. Penggunaan wadah budaya terbaik adalah topless yang diaerasi. Kultur in vitro juga dapat menggunakan formulasi S + G. Kematian eksplan disebabkan oleh Vibrio charchariae . Penggunaan formulasi S + AA memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari pada pengobatan kontrol .Kata kunci : in vitro, zat perangsang tumbuh, media kultur, Kappaphycus alvarezii, Vibrio charchariae
Geographic Information System Applications for BeachTourism Area Determination in Bitung City J. Ch. Kumaat; Markus T. Lasut; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14968

Abstract

This research was conducted with the aim to determine the suitability of beach tourism area in Bitung city by using Geographic Information System application. This information is necessary to support the provision of geospatial information the beach, so the tourist management in research into more optimum location. Suitability Analysis Zone (spatial) analysis of the suitability of the area is done by using Geographic Information System (GIS), a computer-based geospatial information system involving Arc GIS software 10.1. Based on analysis of the suitability of the area spatially, shows that, for beach tourism area in the area of research, can be divided into 4 (four) classes, namely: (1) land suitability classes by category S1 (Very appropriate) with an area of 376.76 ha (5.87%); (2) land suitability classes with category S2 (Subject) with an area of 262.97 ha (4:10%) (3) land suitability classes with category S3 (In accordance marginal) with an area of 640.48 ha (9.99%) and (4) land suitability classes categories N (Not available) with an area of 5133.79 ha (80.04%) Keywords: Suitability, Area, Zone, Beach   Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan kesesuaian kawasan wisata pantai di Kota Bitung dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis. Informasi ini sangat diperlukan untuk mendukung penyediaan informasi geospasial pantai, sehingga pengelolaan wisata di lokasi penelitian menjadi lebih optimum.  Analisis Kesesuaian Kawasan (Spasial) Analisis kesesuaian kawasan dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), yaitu sistem informasi geospasial berbasis komputer dengan melibatkan perangkat lunak Arc GIS 10.1. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian kawasan secara spasial, diperoleh bahwa untuk kawasan wisata pantai pada daerah penelitian, dapat dibagi menjadi 4 (empat) kelas, yaitu: (1) kelas kesesuaian lahan dengan kategori S1 (Sangat Sesuai) dengan areal seluas 376.76 ha (5.87%); (2) kelas kesesuaian lahan dengan kategori S2 (Sesuai) dengan areal seluas 262.97 ha (4.10 %) (3) kelas kesesuaian lahan dengan kategori S3 (Sesuai Marginal) dengan areal seluas 640.48 ha (9.99%) dan (4) kelas kesesuaian lahan dengan kategori N (Tidak Sesuai) dengan areal seluas 5133.79 ha (80.04%)
A study on management of mangrove and the knowledge of local community in Bahoi of West Likupang Subdistrict of North Minahasa District Vonne Lumenta; Stephanus V. Mandagi; Markus T. Lasut
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14970

Abstract

A study on community based mangrove management was conducted in Bahoi of North Minahasa District of North Sulawesi Province of Indonesia. This aims of the study were to examine the management of mangrove including community involvement in the whole processes as well as the institutional settings; to examine knowledge and atitute of the community of Bahoi toward the management processes; to find out its impacts to the community and marine ecosystems.   Methods used in this study were interviews and surveys. For the former, all key persons involving in the management including representative of government were interviewed. With the latter, 30 community members or around 10% of total population were randomly selected and requested to fill in questionnaries containing multiple choices questions to meet the objectives of the study. This study revealed that the management of mangrove has been projects driven activities since year 2000. Yet communities were partly involved in the management including during the establishment of organization and village Ordinance, the survey shows that only 30% of respondents actively involved. That is why 63% of respondent argue that the management processes is lacking and 23% recon that it should be improved. Moreover, 100% of respondents claim that they strongly support conservation of mangrove and other coastal resources; 90% of the respondent answer that cultural background (Sangiran ethnicity) drives their attitude about preserving the coastal resources. In terms of implication of the management mangrove and other coastal resources in Bahoi, they argue that it has resulted in improvement of income and a healthy mangrove ecosystem. Keywords: Mangrove, Management, Bahoi     Abstract Penelitian ini tentang pengelolaan mangrove berbasis masyarakat telah dilakukan di Desa Bahoi di Kabupaten Minahasa Utara Propinsi Sulawesi Utara Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses dan dinamika pengelolaan mangrove berbasis masyarakat khususnya tentang keterlibatan masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan terutama pengetahuan dan sikap masyarakat, serta dampak pengelolaan terhadap masyarakat dan ekosistem pesisir lainnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara (interview) dan survei. Wawanara telah dilakukan terhadap semua tokoh kunci yang terlibat dan mempengaruhi pengelolaan, sedangkan untuk survei dengan menggunakan kuisioner, sejumlah 30 responden atau sekitar 10% dari jumlah penduduk telah dipilih secara random bersedia memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pilihan berganda (multiple choises). Penelitian ini mengdapatkan bahwa pengelolaan mangrove di Desa Bahoi didorong oleh proyek pemerintah sejak tahun 2000. Namun masyarakat belum seluruhnya dalam proses pengelolaan mangrove termasuk dalam pembuatan lembaga dan Peraturan Desa tentang pengelolaan sumberdaya pesisir. Makanya 63% responden mengakui kalau pengelolaan yang ada kurang baik dan 23 % menyarankan perlu perbaikan. Selanjutnya 100% menyatakan mendukung sepenuhnya usaha konservasi mangrove dan sumberdaya pesisir lain. 90 % dari mereka percaya bahwa factor budaya Sangir yang mendorong sikap mereka untuk menjaga lingkungan pesisir. Mengenai dampak pengelolaan ekosistem mangrove, masyarakat dan pemerintah menjawab bahwa telah membantu meningkatkan pendapatan atau ekonomi masyarakat dan ekosistem mangrove semakin sehat. Kata kunci: Mangrove, Managemen, Bahoi
Predation Intensity in Mangrove Ecosystem in Marine Protected Area, North Sulawesi Tabita S.H. Suyoto; Farnis B. Boneka; Nego E. Bataragoa; Sebastian C. A. Ferse; Lawrence J. L. Lumingas; Markus T. Lasut; Deiske A. Sumila; Edwin L. A. Ngangi
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.24415

Abstract

This study aims to get an overview of the intensity of predation on mangrove ecosystem in five marine protected areas (MPA), namely Tumbak, Basaan, Blongko, Bahoi and Tambun. The research method was carried out by installing Squidpops bait within one hour and calculating the number of lost bait during the exposure of baits in high tide. Fish species that migrate in the mangrove area are obtained through visual census; Mega Bentos is recorded.  The result of this study indicates the intensity of predation in the mangrove ecosystem in the five North Sulawesi DPLs are varied in each location, which has the possibility of being influenced by local condition, predatory fish population, the level of disturbance at observation, method and level of preference for the bait provided.Keywords: Predation, Predator, Mangrove, Fish Community, Squidpops ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran intensitas predasi pada ekosistem mangrove di lima daerah perlindungan laut (DPL), yaitu Tumbak, Basaan, Blongko, Bahoi dan Tambun. Metode penelitian dilakukan dengan pemasangan umpan Squidpops dalam waktu 1 jam dan menghitung jumlah umpan yang hilang selama umpan terpapar pada saat air pasang. Jenis ikan yang bermigrasi di daerah mangrove diperoleh melalui sensus visual; mega bentos dicatat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan intensitas predasi di ekosistem mangrove pada 5 DPL Sulawesi Utara bervariasi pada tiap lokasi yang memiliki kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi lokal, populasi ikan predator, tingkat gangguan saat pengamatan, metode dan tingkat kesukaan pada umpan yang disediakan.Kata Kunci: Predasi, Predator-Mangsa, Mangrove, Komunitas Ikan, Squidpops
Zoochemical Analysis and Antibacterial Potential of Starfish, Linckia laevigata Extract Mengko, Christian; Lintang, Rosita A.J; Losung, Fitje; Angkouw, Esther Dellayani; Lasut, Markus T.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.48927

Abstract

Starfish is one of the marine biota that produces bioactive compounds and has biological activity. The aims of this study were to determine the content of bioactive compounds and to test the antibacterial activity of the extract of the starfish Linckia laevigata against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. Determination of the content of bioactive compounds was carried out by qualitative zoochemical analysis while the antibacterial test used the disc diffusion method. The results showed that the extract of the starfish L. laevigata has bioactive compounds from the alkaloid, triterpenoid, tannin, flavonoid, phenolic, and saponin groups. Inhibitory activity against S. aureus and E.coli based on the inhibition zone formed showed that L. laevigata starfish extract produced low antibacterial activity Keywords : Starfish (Linckia laevigata), Zoochemistry, Antibacterial, Disc diffusion Abstrak Bintang laut merupakan salah satu biota laut yang memproduksi senyawa bioaktif dan memiliki aktivitas biologis.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan senyawa bioaktif dan melakukan pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak bintang laut Linckia laevigata terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penentuan kandungan senyawa bioaktif dilakukan dengan analisis zookimia kualitatif sedangkan pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak bintang laut L. laevigata memiliki senyawa bioaktif dari golongan alkaloid, triterpenoid, tanin, flavonoid, fenolik, dan saponin. Aktivitas penghambatan terhadap S. aureus dan E.coli berdasarkan zona hambat yang terbentuk menunjukkan bahwa ekstrak bintang laut L. laevigata menghasilkan aktivitas antibakteri yang rendah Kata kunci :Bintang Laut Linckia laevigata, Zookimia, Antibakteri, Difusi cakram.
Study of the existence of algae, diversity of species, density, and distribution patterns in Meras waters Kalalembang, Delarosa; Kumampung, Deislie R. H.; Angkouw, Esther D.; Lintang, Rosita A. J.; Lasut, Markus T.; Darwisito, Suria
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.52979

Abstract

This study aims to determine macroalgae species and analyze the index of diversity, density, dominance, and distribution patterns around the waters of Meras Village, Bunaken District, Manado. This research was carried out for 4 months starting from July – October 2023. Macroalgae sampling performed during the day was observed using the tides app to view the tides. The method used is the line transect method with the Quadrant sampling technique used to obtain data. When sampling at the research site, a total of 3 transects of 50 m were made, which were drawn perpendicular to the coastline. The distance between the transects is 25 m the distance between the quadrants is 5 m with the size of the Quadrant used to retrieve data is 1 x 1 m². The results of this study as a whole obtained 23 macroalgae species distributed in 3 divisions, namely Chlorophyta, Phaeophyta, and Rhodophyta. In the Chlorophyta Division, 8 species were obtained, then the Phaeophyta Division obtained 6 species, while the Rhodophyta Division obtained 9 species. In macroalgae data obtained in this study ranged from diversity index (H’) as a whole of transect 1 H’ = 2,537, transect 2 H’ = 2,269, while for transect 3 H’ = 1,980. Species density and relative density from transect 1 to transect 3 obtained the highest density is Padina australis. Dominance (C) overall value in transect 1 C = 0.098, transect 2 C = 0.113, while in transect 3 C = 0.153. The distribution pattern of macroalgae species in transect 1 was categorized as random, while transects 2 and 3 were categorized as clustered. Keywords: Macroalgae, Diversity, Density, Dominance, Dispersal Patterns. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies makroalga apa saja dan menganalisis indeks keanekaragaman, kepadatan, dominansi, dan pola penyebarannya di sekitar perairan Kelurahan Meras, Kecamatan Bunaken, Manado. Penelitian ini dilaksanakan 4 bulan mulai dari bulan Juli – Oktober 2023. Pengambilan sampel makroalga dilakukan pada siang hari diamati dengan menggunakan aplikasi tides untuk melihat pasang surut. Metode yang digunakan adalah metode garis transek (line transect) dengan teknik sampling kuadran modifikasi yang digunakan untuk memperoleh data. Saat pengambilan sampel di lokasi penelitian dibuat sebanyak 3 transek sepanjang 50 m yang ditarik tegak lurus dari garis pantai. Jarak antar transek 25 m dengan jarak antara kuadran yaitu 5 m dengan ukuran kuadran yang dipakai untuk mengambil data yaitu 1 x 1 m². Hasil pada penelitian ini secara keseluruhan diperoleh 23 spesies makroalga yang terdistribusi pada 3 divisi yaitu Chlorophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta. Pada divisi Chlorophyta diperoleh 8 spesies, kemudian divisi Phaeophyta diperoleh 6 spesies, sedangkan divisi Rhodophyta diperoleh 9 spesies. Pada data makroalga yang didapatkan di penelitian ini mulai dari indeks keanekaragaman (H’) secara keseluruhan dari Transek 1 H’ = 2.537, Transek 2 H’ = 2.269, sedangkan untuk Transek 3 H’ = 1.980. Kepadatan spesies dan kepadatan relatif dari Transek 1 hingga sampai Transek 3 diperoleh kepadatan tertinggi adalah Padina australis. Dominansi (C) secara keseluruhan nilai di Transek 1 C = 0.098, Transek 2 C = 0.113, sedangkan di Transek 3 nilai C = 0.153. Pola penyebaran spesies makroalga di transek 1 dikategorikan acak, sedangkan pada transek 2 dan 3 dikategorikan mengelompok. Kata kunci: Makroalga, Keanekaragaman, Kepadatan, Dominansi, Pola Penyebaran.
Mollusks attached to natural mangrove roots and silvofisheries in Nabire Papua: to what extent are they different Maitindom, Frits A; Mamangkey, Gustaf; Boneka, Farnis B. Boneka; Lasut, Markus T.; Mantiri, Rose O. S. E.; Bara, Robert. A.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.57758

Abstract

The research aim on natural mangrove forests and silvofishery is to determine the community structure of attached invertebrates to silvofishery and natural mangrove ecosystems. I was comparing the community structure of attached invertebrates in mangrove silvofishery and natural mangrove ecosystems. Sampling was done by dredging the mangrove root skin, the collected samples were then sieved using a sieve with a mesh size of 1.0 mm using salted water and then put into sample bottles and preserved using 70% alcohol solution, then the samples were identified in the laboratory. The chemical physical parameters at both locations are within the normal range in the development of mangrove-attaching invertebrates. The two study sites contained 4 families (Potamididae, Littorinidae, and Muricidae) 7 species of which 3 species were in natural mangroves Littoraria scabra (Linnaeus, 1758), Nerita planospira (Anton, 1838), and Terebralia palustris (Linnaeus, 1767) compared to mangroves In Silvofishery there are 4 species of Chicoreus capicinus (Lamarck, 1822), Cerithidea quadrata (G. B. Sowerby II, 1866), Nerita picea (Recluz, 1841), and Cerithidea obtuse (Lamarck, 1822). The density of the mangrove-attaching anvertebtata in the mangrove forest of Sylvofishery was the highest, namely L. scabra (0.14 ind/m2 ) and the lowest was T. palustris (0.01 ind/m 2 ) Attachment invertebrate diversity at both study sites was in a low condition, and high dominance and uniformity. Keywords: Biofouling, artificial and Silvofishery, Nabire Abstrak Tujuan dari penelitian yang dilakukan pada hutan mangrove alami dan Silvofishery adalah Mengetahui struktur komunitas moluska pada ekosistem mangrove silvofishery dan mangrove alami. Membandingkan struktur komunitas moluska pada ekosistem mangrove silvofishery dan mangrove alami. Pengambilan sampel dengan mengkeruk kulit akar mangrove, sampel yang telah terkumpul kemudian dimasukan kedalam botol sampel dan diawetkan menggunakan larutan alkohol 70%, kemudian sampel diidentifikasi di Laboratorium. Parameter fisik kimia pada kedua lokasi dapat dikatakan dalam range yang normal dalam perkembangan moluska mangrove. Kedua lokasi penelitian terdapat 4 family (Potamididae, Littorinidae, dan Muricidae) 7 spesies dimana 3 spesies pada mangrove alami (Littoraria scabra (Linnaeus, 1758), Nerita planospira (Anton, 1838), dan Terebralia palustris (Linnaeus, 1767) sedangkan pada mangrove Silvofishery terdapat 4 spesies Chicoreus capicinus (Lamarck, 1822), Cerithidea quadrata (G. B. Sowerby II, 1866), Nerita picea (Recluz, 1841), dan Cerithidea obtuse (Lamarck, 1822). Kepadatan moluska mangrove pada hutan mangrove Sylvofishery tertinggi yaitu L. scabra (0,14 ind/m2 ) dan terendah yaitu T. palustris (0,01 ind/m 2 ) Keanekaragaman moluska pada kedua lokasi penelitian barada pada kondisi rendah, dan dominansi tinggi dan seragaman. Kata kunci: Moluska, Mangrove Alami dan Silvofishery, Nabire
Co-Authors Adianse Tarigan Adnan S. Wantasen Adnan Wantasen Alen N. Narasiang Alfret Luasunaung Angkouw, Esther D. Angkouw, Esther Dellayani Bara, Robert. A. Bessie, Donny Mercys Boneka, Farnis B. Boneka Cyska Lumenta Darmono, Oktaviano P. Deiske A. Sumila Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deysi Tampongangoy Deysy M. Puansalaing Eddy Mantjoro Edwin D Ngangi Edwin L. A. Ngangi Edwin L.A. Ngangi Emil Reppie Farnis B. Boneka Feni S. Mnsen, Feni S. Fitje Losung Grevo S. Gerung Gustaf Mamangkey Henneke Pangkey Henneke Pangkey Henry E. Lasut, Henry E. Indri Manembu Inneke F. M Rumengan J. Ch. Kumaat Janny D. Kusen Johnny Budiman Joshian N.W. Schaduw Kalalembang, Delarosa Kalebos, Roosa C. Kamagi, Jongky W.A. Karwur, Denny B.A Kawung, Nikita Kumampung, Deislie R. H. Lano, Inayati H.G.M Lawrence J. L. Lumingas Lawrence J.L Lumingas Lawrence J.L. Lumingas Lindon R Pane Lintang, Rosita A.J Lintang, Rosita AJ Mahale, Moch Machtino A Maitindom, Frits A Makapedua, Daisy M. Malinggas, Christin R.M Mamonto, Rofenly Mamuaja, Jane M. Mandagi, Stephanus V. Mantiri, Desy M. H Manumpil, Abraham W Manumpil, Silvana Maramis, Regina U. Maramis, Regina Urai Mega D. Dalero Mengko, Christian Najib Hi Talib Natalie D Rumampuk Natalie Rumampuk, Natalie Nego E. Bataragoa Nickson J. Kawung, Nickson J. Nikson J. Kawung Pane, Lindon R. Paulus, James Rama Presley Kambey Ramli A. Ismail, Ramli A. Reiny A. Tumbol Roike Iwan Montolalu Rompas, Margresye D. Rompas, Rizald Rompas, Rizald M Rondonuwu, Synthia I Ronoko, Stephen R Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Rose O.S.E. Mantiri Rumampuk, Natalie D.C S. Berhimpon Sandra Tilaar Sarif Hidayat, Sarif Sebastian C. A. Ferse Siegfried Berhimpon Sipriana S Tumembouw Sri Yuningsih Noor Stephanus V Mandagi Stephanus V. Mandagi Suawa, Youdy R Sulthana Samad Suria Darwisito, Suria Suzanne L Undap Tabita S.H. Suyoto Trine Sumampouw Undap, Suzanne J Veibe Warouw Vonne Lumenta Wilmy E Pelle Yundari, Yundari Zebblon, Passion Ch.